Followers

Sunday, June 27, 2010

Dia....

Dia bukan permata yang indah
Dia bukan berlian yang berkilau
Dia bukan matahari yang terang
Dia bukan bulan yang gagah
Dia bukan udara yang sejuk
Dia bukan air yang damai
Dia hanyalah dia
Dia manusia biasa
Dia yang telah memikat hatiku
Dia yang telah membutakan mata hatiku
Dia yang juga membuatku menantikan hari esok
Dia yang membuatku menunggu akan kehadirannya, kelakuannya yang mengejutkan
Dia yang membukakan mataku, bahwa aku pantas disini
Dia yang menganggapku wanita biasa
Dia yang tak pernah membual bahwa aku luar biasa
Dia yang menghapus bening dari sudut mataku
Dia yang terus membangkitkan semangatku
Dia melihatku apa adanya
Dia.....manusia biasa....seperti aku

Monday, June 21, 2010

Our Life, Our Destiny, and the Best for Us :) part 19

***

Shilla yang mendapat SMS dari Ify yang mengajaknya bertemu di taman komplek membuat dia sedikit heran. Tapi ia segera merapikan penmapilanya. Setelah siap, dia pun pergi menuju taman, yang berada tak jauh dari rumahnya.

Shilla duduk di bangku taman. Tangannya diketuk-ketukkan ke bangku taman, dia menggigit bibir wajahnya, lalu sesekali membuang pandangannya ke seluruh penjuru taman. Dia mulai berdiri. Sekarang sudah jam setengah 3. telat setengah jam dari waktu
yang sudah Ify janjikan. Dia mondar-mandir, terlihat dari semua gerak-geriknya
bahwa dia kesal karena lama tapi juga khawatir karena sedari tadi dia mempunyai
firasat yang tidak mengenakkan.

Ify, Iel, Via dan Rio baru saja tiba di taman. Mereka bersembunyi di warung yang berada tak jauh dari taman. Mereka mengawasi Shilla dari jauh, dilihatnya Shilla yang hanya sendirian.

“Riko kemana? Kok belum dateng?”Tanya Via sembari mengintip-ngintip ke arah Shilla yang masih duduk sendirian.

Iel mendekati Via dan ikutan mengintip, diliriknya arloji miliknya, “udah jam 3.45, tapi kok belum dateng yah?”ujar Iel juga tak kalah bingungnya dengan Via.

“Samperin aja deh kalau gitu Shilla nya. Riko payah nih.”ajak Rio lalu mulai keluar dari warung. Ify Iel dan Via hanya mengekor.

Shilla masih mamandangi rerumputan dengan perasaan geram. Tak mengerti apa maksud Ify kali ini. Dia memukul-mukul bangku tangan dengan kepalan tangannya. Berusaha melampiaskan kesalnya. Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara langkah
kaki, dengan segit Shilla menoleh.

“IFY! Lo kemana aja sih? Hampir sejam gue nungguin lo disini!!!!”omel Shilla tak beranjak dari bangkunya. Ify hanya menggigit bibir bawahnya lalu duduk di sebelah Shilla.

“Hem…anu Shilll…….sebenernya…..” Ify gelagapan. Dia menunduk sembari berusaha memikirkan apa alasan yang tepat. Apakah dia harus jujur? Dia menoleh ke arah Via yang berdiri tak jauh dari bangku itu.

“Sebenernya kita punya rencana Shil.”ceplos Via langsung. Iel, Rio, Ify, dan Shilla langsung menoleh ke arah Via sembari mengernyitkan dahi. Tak mengerti. Via berjalan mendekati bangku diikuti Iel dan Rio.
“lo yang jelasin aja Fy, semuanya.”lanjut Via tanpa beban.

“……jadi gitu, eh tahunya Riko gak dateng-dateng.” Ify mengakhiri ceritanya kepada Shilla. Cerita tentang rencana Riko akan menyatakan perasaannya. Pipi Shilla merona ketika mendengar cerita itu.

“Jadi……kemana Riko sekarang??”Tanya Iel akhirnya. Mereka juga pastinya bingung mengaa Riko bisa sebegini pengecutnya, menggagalkan rencana acara penembakan ini.

“Perasaan gue gak enak deh.”ujar Via ragu. Dia takut terjadi apa-apa dengan salah satu sahabatnya itu.

“Gue juga nih.”timpal Rio setuju.

“Mending ke rumahnya aja deh. Gimana?”Tanya Ify lalu semuanya menganguk. Mereka pun berjalan beriringan menuju rumah Riko yang berada lumayan jauh dari taman. Shilla meremas-remas ujung bajunya. Tangannya terkepal. Tak henti-hentinya dia
menggigit bibirnya sendiri.

Akhirnya mereka pun tiba di depan rumah Riko. Sepi. Tak ada tanda-tanda adanya orang. Mereka berfikit paling sedang tidur siang, tetapi gerbangnya di gembok. Iel yang memeriksa gerbang itu hanya mengakat bahu. Sedangkan Ify yang sedari tadi
sudah puluhan kali memecet bell terlihat bingung.

“Kemana sih ini orang sekeluarga?”ujar Rio sedikit kesal lalu mulai menggedor-gedor gerbang.

“Rumah orang woy.” Via memperingati Rio. Rio hanya nyengir.

“Mungkin tiba-tiba ada urusan mendadak kali.”Shilla akhirnya buka suara. Via menolah kearah Shilla.

“Jangan sedih yah Shil, besok kita check lagi ke rumahnya.” Via mendekat ke arah Shilla sembari menegelus pelan punggung Shilla. Shilla tersenyum.

“Nanti gue marahin Shil si Riko gara-gara gak ngasih kabar. Tenang aja.” Kali ini Iel yang menennagkan. Shilla tersenyum, sahabat-sahabatnya begitu memeprhatikannya.

“Yaudah kalo gitu, balik aja yah?”usul Rio yang sebenarnya sudah lelah berdiri tidak jelas di depan rumah Riko. Shilla mengangguk, yang lain pun ikut mengangguk. Mereka pun pulang. Ify pulang
bersama Rio, sedangkan Via bersama Iel.
Sebenanrnya Via sudah menawarkan diri untuk mengantar Shilla, tapi Shilla
menolak dan ingin pulang sendiri.

Ada sedikit kekecewaan dalam benak Shilla. Keraguan atas perasaan yang Riko balas untuknya. Dia masih berfikir kenapa Riko bisa membatalkan rencana ini begitu tiba-tiba? Tanpa memberitahu siapapun. Dia berjalan menuju rumahnya --yang lumayan jauh dari
rumah Riko-- sembari menendang-nendang kerikil di jalanan. Tangannya
memelintir-lintir rambutnya. Matanya berkaca-kaca. Dia menunduk. Tapi dia
berusaha menepis fikiran negative nya terhadap Riko.


***


Iel yang baru tiba di rumahnya langsung menghempaskan tubuhnya di sofa yang terletak di ruang TV rumahnya. Deva yang sedang bermain PS-duduk di karpet- memandang Iel sebentar lalu kembai mengalihkan pandangannya menuju layar Televisi.

“Kenapa kak?”Tanya Deva tanpa mengalihkan pandangannya. Heran melihat kakaknya seperti terlilit hutang.

“Si Riko.”jawab Iel singkat lalu bangkit dari posisinya dan mendudukan tubuhnya.

“Kenaopa kak riko? Bukannya tadi pagi baru ketemu?”jawab Deva cuek.

“Gitu deh , tadi gue janjian sama anak-anak, sama Riko juga, eh dia gak dateng tanpa ngabarin ke kita.”jelas Iel singkat lalu bangun, berjalan menuju meja makan yang tak jauh dari situ untuk mengambil minum.

“Ada urusan mendadak kali, terus HP nya mati.”respond Deva singkat. Iel kembali duduk di tempat asalnya.

“Mungkin.”jawab Iel lalu menidurkan posisinya di sofa, “besok kan lo sekolah, lo tanya Keke dong. Oke?”lanjutnya.

“Oke.” Iel pun lalu meninggalkan Deva di ruang TV, bergegas menuju kamarnya, untuk tidur.


***


Keesokan harinya saat isitirahat di sekolah, Deva langsung menjalankan amanat dari Kakaknya. Dia langsung menemui Keke, yang notabene kelasnya bersebelahan dengan kelasnya.

“Ke…”seru Deva dari ambang pintu ketika melihat Keke sedang berbincang dengan Olivia.

Keke menolah lalu menunjuk dadanya sendiri, Deva mengangguk. Keke berjalan mendekati Deva, “Kenapa Dev? Mau minjem Pr ? atau catetan?”tanya keke yang sepertinya sudah hafal kebiasaan Deva menghampirinya ke kelasnya.

Deva nyengir lalu menggeleng, “gue cuma mau nanya, Kak Riko kenapa? Kata Kak Iel kemaren dia sama temen-temennya ke rumah lo, rumah lo sepi.”jawab Deva seadanya, tidak ingat betul cerita Kakaknya.

Keke menunduk, raut wajahnya berubah, dia mehanan nafas. Sesak jika mengingat Kakaknya, mungkin sekarang temen-temen kak Riko sudah harus tahu kondisi kak Riko…batin Keke gelisah.“bilang ke kaka lo, temuin kak Riko di rumah sakit harapan
kamar nomer 312.”jawab Keke setelah sebelumnya menghembuskan nafas.

Deva membulatkan matanya yang memang sudah bulat, “ada apa?”tanya Deva polos.

Keke sedikit geram, malas memikirkan kondisi kakanya, “udah deh, udah gue kasih tau kan? Masih nanya lagi. Bilangin aja gitu.”jawab Keke lalu pergi meninggalkan Deva, kembali ke tempatnya. Deva hanya menggaruk belakang kupingnya dan berjalan menuju
kelasnya.


To : kak Iel

Kak, kata keke lo disuruh ke rs harapan komer nomer….300 berapa yah gue lupa. Katanya disitu ada kak riko.


From : kak Iel

Hah? Riko knp? Aduh bego! Tanya keke lg kamar nmr brpnya


To : kak Iel

ye gatau ah. Mash untung gw baik mau nanyain. Udah yah gw mau bljr.


Deva memasukan Hp nya ke dalam tas, setelah terdengar bunyi selop si guru, Bu Winda.


***


Setelah mendengar berita dari Deva, Iel langsung memberitahu ke-empat sahabatnya yang lain. Menyuruh mereka untuk datang ke rumahnya. Dia sengaja tak memberitahukan tujuannya. Lebih baik setelah berkumpul, selain irit bicara, agar semua lebih
jelas juga.

“Riko dimana Yel?”tanya Shilla setelah mereka sudah berkumpul di ruang keluarga Iel, nada bicara Shilla sangat khawatir.

Iel meminum jus jeruknya lalu menjawab pertanyaan Shilla, “tadi gue dapet SMS dari Deva, dia kan satu sekolah sama adeknya Riko, kata adeknya Riko sih, itu si keke, Riko ada di rumah sakit harapan kamar nomer 300 berapanya Deva lupa.”jelas
Iel serius. Via dan Rio manggut-manggut,
paham. Shilla masih berfikir sejenak, menepis fikiran-fikiran negative yang
menimpanya. Sedangkan Ify menggigit bibir bawahnya, ‘jangan-jangan kanker dia
kambuh lagi? Aduh bego banget sih gue, lupa kalau dia penyakitan.’ Batin Ify,
masih belum berkonsentrasi.

“Jadi……Riko sakit?”tanya Via berhati-hati.

Rio menyubit pelan lengan Via,”jangan mikir gitu dulu.” Via hanya manyun.

Iel melirik Shilla yang benar-benar khawatir, “bukannya gue negative thinking. Perasaan gue bener-bener gak enak. Dan kalau mungkin dia nengokin keluarganya mungkin di rumah sakit, apa sampe lupa ngasih kabar ke kita? Dan ya…..” Iel
sendiri menggantungi ucapannya. Dilihatnya Shilla yang sudah sangat pias.

“Dari pada nebak-nebak gak jelas, langsung ke rumah sakit aja deh.”timpal Ify setelah berhasil menghilangkan fikiran negative nya.

“Yaudah, pake mobil gue aja. Motor lo ditinggal disini aja Yo, supir lo suruh balik aja Shil.” Iel memberi arahan. Mereka mengangguk lalu berjalan menuju garasi, menuju mobil Iel -mobil keluarga Iel-.

Rio yang duduk disamping tempat Iel menyetir melihat jelas mimik muka dari semuanya bhawa mereka semua sedang panik. Panik memikirkan sahabatnya yang lain. Terutam Shilla dan Ify. Sempat Rio heran dengan Ify yang mendadak lebih diam, tidak ikut bergabung dalam percakapan Via
dan Shilla yang sebenarnya sedang mengalihkan fikiran mereka.

Bau khas rumah sakit sangat menyengat ketika mereka berlima telah sampai di lobby rumah sakit. Mereka langsung menemui meja tempat para receptionist , untuk menanyakan kamar Riko yang sebenarnya.

“Sus, ada pasien yang bernama Riko Anggara?”tanya Iel.

“Sebentar yah..”jawab si suster lalu melai mengecek melalui komputernya, “kamarnya nomer 312.”jawab Suster sembari tersenyum. Mereka semua lalu mengangguk dan megucapkan terima kasih. Saat baru saja mereka akan menaiki lift, menuju kamar
Riko, Shilla mengentikan langkahnya. Via yang sedari tadi menggandeng Shila
merasakan itu.

Via menoleh, “kok berhenti Shil?”tanya Via yang membuat semuanya juga berhenti, mengurungkan niat menaiki lift.

“Gue takut.”jawab Shilla simple.

“Takut kenapa?”

“Gue takut kayak di sinetron-sinetron gitu.” Via dan yang lainnya hanya menggelengkan kepala.

“Lo khawatir sama Riko?”tanya Rio yang sudah berdiri di sebelah Shilla.

Shilla menoleh lalu mengangguk, “tapi nanti jangan ngebahas ini di depan dia yah. Kita bahas tentang sakitnya aja. Oke?”pinta Shilla, rona wajahnya memerah. Semuanya malah terkekeh mendengar pernyataan Shilla.

“Yaelah kira gue kenapa. Santai lah Shil.”timpal Iel yang mendapat pukulan kecil dari Shilla di lengannya. Lalu mereka pun melanjutkan menuju kamar Riko.

Ify sibuk sendiri dengan fikirannya, tangannya masih bergandengan dengan Rio, tetapi fikirannya sedang sibuk sendiri, ‘kalau Riko ngebeberin penyakitnya, apa gue perlu ngebeberin penyakit gue juga?’ kalimat yang berupa pertanyaan itu terus saja melayang layang di otak Ify, meminta
kepastian.

Setelah sampai menemukan kamar bernomerkan 312, dengan berani Iel mengetuk pintu kamar itu. Tak lama sosok waanita paruh baya keluar, Mamahnya Riko.

“Siang Tante,”sapa kelima sahabat Riko itu sembari bergantian bersalaman dengan Mamah Riko. Mamah Riko tersenyum.

“Riko…di dalem tan?”tanya Iel hati-hati. Ahilla menunduk, tangan Via terus mengenggam pergelangan tangan Shilla. Rio merangkul Ify, sedangkan Iel menunggu jawaban dari mamah riko.

Mamah Riko mengangguk,”kalian ini sahabat-sahabat Riko ya? Yang sering Riko certain?”tanya Mamahnya, mereka mengangguk, “Riko di dalem. Lagi koma.”lanjutnya lagi, sembari berusaha tersenyum. Sebenarnya sudah tak mau membahas penyakit
anaknya. Semua sahabatnya disitu tercengang mandengar pernyataan dari Mamah
Riko.

“Riko sakit apa Tan?”tanya Via polos tetapi juga sebuah pertanyaan dalam benak sahabatnya yang lain, kecuali Ify, tentunya.

“Nanti juga Riko cerita ke kalian. Yuk masuk, nunggu di dalem aja. Sekalian tante mau pulang dulu, jadi tante tenang nitipin Riko ke kalian.”jawab mamahnya sembari memasuki ruangan kamar Riko. Iel dan yang lainnya membuntuti lalu duduk di sofa
yang ada disitu. Setelah mereka duduk, Mamah Riko berpamitan untuk pulang dulu
sekaligus menitipkan Riko pada mereka. Mereka mengangguk, karena mereka juga
ingin menjaga sahabatnya itu.

Shilla berjalan mendekati ranjang Riko. Wajah Riko pucat, selang dan beberapa alat medis tertempel di badannya. Koma. Keadannya koma. Diambang hidup dan mati. Shilla duduk di kursi sebelah ranjang Riko. Matanya mulai berkaca-kaca.
Perlahan dia mengelus lembut telapak tangan Riko, air mata jatuh membasahi
tangan Riko. Cepat-cepat dia menghapusnya.

Ify duduk disebelah Rio yang kini tengah merangkulnya. Dia menunduk. Tak tega melihat kondisi Riko. Sesungguhnya penyakit Riko jauh lebih parah dibanding penyakitnya. Dia hanya mampu berdoa pada Tuhan,
agar Riko diberi kejaiban.

Rio merangkul Ify, dia menatap ubin ruangan itu. Sejumlah pertanyaan menggelayuti pikirannya. Pertanyaan tentang apa yang terjadi pada sahabatnya ini? Sakit apa dia? Separah apa? Sejak kapan? Dan, kenapa disembunyikan? Dia hanya mampu menunggu Riko sadar agar semua pertanyaan itu ia
ajukan, dan Riko jawab.

Via berjalan mendekati Shilla, mengelus lembut rambut Shilla. Mengajaknya duduk di sofa satunya lagi. Shilla menurut. Lalu mereka berdua duduk di sofa. Air mata di pipi Shilla belum dihapus. Via menggenggam tangan Shilla, dia mengerti
bagaimana perasaan sahabatnya kini. Terpukul dan tidak percaya akan semuanya.
Via sendiri sangat tidak mempercayai apa yang kini dilihatnya.

Iel duduk, termenung. Tak henti-hentinya memanjatkan doa, meminta kesembuhan akan sahabatnya ini.


***


Sudah 4 jam mereka menunggui Riko. Mamah Riko pun sudah datang kembali ke rumah sakit. Mereka masih berdiaman. Saling memanjatkan doa. Ketika Shilla baru akan menuang minum, untuk dirinya, dia melihat jari-jari Riko bergerak, dia
mendekati ranjang Riko, mengurungka niatnya untuk menuang minum, dia lihat
lebih cermat, memastikan bahwa itu gerakan dari tangan Riko.

“Tan, tangan Riko gerak!”seru shilla kegirangan. Semuanya mendekat ke arah ranjang. Iel langsung memencet bell ruamh sakit.

Tak lama dokter dan para suster pun datang, Iel dan lainnya menunggu diluar kamar Riko, beserta Mamah Riko juga. Dokter dan susternya sedang memeriksa keadaan Riko. Mereka menunggu dengan harap-harap cemas. Ketika pintu kamar Riko
terbuka, Mamah Riko langsung menghampiri dokter itu.

“Bagaimana keadaan anak saya Dok?”tanya Mamahnya panik.

Dokter menghela nafas, berat, lalu sedikit tersenyum, “keadaan Riko membaik, sekarang sudah sadar. Tapi jangan membuat dia banyak beraktifitas.”jelasnya lalu meninggalkan semuanya. Mereka pun masuk ke dalam kamar Riko. Terlihat Riko yang
kini tersenyum, senyum karena teman-temannya datang dan ada untuknya.

Mamah Riko membisikan sesuatu kepada Riko lalu mencium kening Riko dan tersenyum. Riko menatap Mamahnya lalu mengangguk dan juga tersenyum. Tiba-tiba Mamah Riko meningglkan mereka, keluar dari ruangan. Iel menghampiri Riko lalu duduk
disamping ranjang Riko.

“Lo kenapa Ko?”tanya Iel serius, sebenarnya kegembiraan tertanam jelas dari mimik wajahnnya.

Riko menatap Iel lalu tersenyum, “sakit.”jawabnya.

Iel melengos, “sakit apa?”

Riko menatap semua teman-temannya bergantian, yang kini mengelilingi ranjangnya,”gue….kanker….”jawabya terbata-bata. Lalu dia menutup perlahan kelopak matanya. Shilla mengenggam tangan Via, keras. Via dapat merasakan bahwa Shilla
ingin menangis, tetapi ia lampiaskan pada cengkraman itu. Rio
menatap Riko seolah tak percaya, begitu pula Iel, “Ify udah tau kok.”lanjut
Riko lalu menatap Ify, semua langsung menoleh ke arah Ify, Ify mengangguk lalu
tertuduk, “tapi gue yang minta nyembunyiin semuanya” semua lalu kembali menatap
Riko.

“Kok, Ify bisa tau Ko?”tanya Via, lalu menatap Ify, yang masih menunduk, dan Riko bergantian. Ify berikir, “apa harus Riko menceritakan kejadian di rumah sakit itu? Berarti sakit yang gue derita selama ini pun akan terbongkar….”batin Ify,
keringat dingin mulai keluar, dia gelisah.


****

Our Life, Our Destiny, and the Best for Us :) part 18

Akhirnya Via telah meminta Mamah tirinya untuk mendaftarkannya di SMA impiannya. Tetapi Kakaknya lagi-lagi hanya mencemoohnya. Sedangkan Shilla dibuat malu lagi karena Iel, Via, Rio,
dan Ify menggodaanya terus. Menggoda tentang kelanjutan hubungannya dengan
Riko. Akhirnya teman-teman Shilla memutuskan untuk membujuk Riko untuk segera
menyatakan perasaannya. Lain dengan Ify, dia merasa senang karena penyakitnya
kali ini sudah membaik. Pada hari Minggu, pagi-pagi sekali, Deva sudah mengajak
Iel untuk jogging, Iel merencanakan sesuatu dan akan menemui Riko. Bagaimana
kelanjutannya?


***


Iel masih terus mencari-cari rumah Riko bersama Deva. Dia sendiri lupa yang mana rumah Riko. Deva juga terlihat bingung sembari terus melihat-lihat rumah di
komplek itu.

“Lo tau gak rumah Keke yang mana?”Tanya Iel akhirnya tanpa mengalihkan pandang terus mencari-cari.

“Kok ke rumah Keke? Bukannya ke rumah Kak Riko?”Tanya Deva heran lalu menggaruk kepalanya.

“Bego.”ujar Iel santai lalu meneloyor kepala Deva, Deva manyun,”Riko sama Keke kan adik kakak, ya serumahlah.”lanjutnya.

Deva mengangguk, baru paham.”Oh iya hehe. Gue juga gak tau kak. Lupa.”jawab Deva lalu nyengir. Iel tidak menanggapi. Lalu mereka pun terus menelusuri perumahan itu.

“Eh Kak itu Keke.”seru Deva sembari menunjuk seorang gadis yang sedang menemani ibunya membeli sayuran di depan rumah.

“Yakin? Masa emak-emak gitu?”Tanya Iel ragu. Dia mengartikan tunjukkan Deva.

“Yeee….bukan yang pake baju merah. Yang masih pake piyama. Yang lagi megangin bayem.”jelas Deva sambil terus menunjuk-nunjuk. Iel mengangguk.

“Yaudah samperin.” Mereka pun menghampiri Keke. Terlihat Keke yang masih belum sadar dengan kehadiran Deva dan Iel.

“Hello Keke.”sapa Deva manis setelah berdiri di belakang Keke. Keke menoleh lalu menampakan tampang heran.

“Eh Deva?” ujar keke kaget, “ada apa?”

“Gak apa-apa kok. Lagi apa Ke?”Tanya Deva basa basi.

“Nemenin Mamah belanja sayuran.”jawab Keke lalu menaruh bayem yang sedari tadi dia pegang ke gerobak sayur. “Aduh maaf yah Keke belum mandi.”

“Kacang garing….”celetuk Iel cuek. Deva menoleh kearah Kakaknya.

“Eh ada Kak Iel, mau ketemu Kak Riko?”Tanya Keke ramah sembari tersenyum.

“Udah bangun kan Riko nya?”

“Udah Kok Kak, masuk aja.”tawar Keke. Deva dan Iel pun mengangguk.

Belum sempat melangkah,Mamah Keke menghampiri Keke, “ini siapa Ke?”tanyanya.

“Saya Deva tante, temen Keke yang paling ganteng.”ujar Deva narsis lalu bersalaman dengan Mamah Keke. Keke dan Mamahnya hanya tersenyum.

“Saya Iel, kakaknya Deva sekaligus temen Riko tante.”kali ini Iel yang memperkenalkan diri lalu menyalami Mamah Riko.

“Oh iya. Ajak masuk dulu Ke. Mamah masih mau belanja.”ujar Mamah Keke. Keke pun mengangguk lalu berjalan masuk diikuti Deva dan Iel dibelakangnya.

“Bentar ya Kak Iel dipanggil dulu Kak Riko nya.”ucap Keke setelah menyilakan Deva dan Iel duduk. Iel mengangguk sesaat, Keke pun berjalan menuju kamar Riko.

“Kak Riko ada Kak Iel.”ujar Keke dari balik pintu sembari mengetuk.

Riko yang kaget mendengar nama Iel langsung membuka pintu, dia baru saja beres mandi. Rencananya mau khemoterapy.”ngapain?”tanyanya sembari terus mengeringkan rambutnya menggunakan
handuk. Keke hanya angkat bahu lalu meninggalkan Riko. Riko langsung mengikuti
Keke.

“Hey Yel.”sapa Riko lalu duduk di sebelah Iel, “tumben kesini. Ada apa?”Tanyanya. Deva dan Keke sudah larut dengan percakapannya.

“Ngomong di kamar lo bisa kan? Ada bocah ni.”jawab Iel sedikit berbisik. Tetapi Deva masih bisa mendengar, lalu melirik sinis ke arah Iel karena merasa dibilang bocah.

“Yaudah yu.”ajak Riko. Lalu mereka pun bergerak menuju kamar Riko.

“Ada apa emang Yel? Serius amat?”Tanya Riko setelah mereka duduk di kasur Riko.

“Ngga juga sih. Emang lo mau kemana? Pagi-pagi udah mandi. Baru juga setengah 9.”bukannya menjawab pertanyaan Riko, Iel malah balik bertanya.

Riko berfikir sesaat untuk memikirkan alasan, tak mungkin dia jujur kepada iel, “Ya..gue emang rajin kali pagi-pagi mandi.”alibi Riko, untung saja Iel tak begitu mementingkan jawaban Riko,
“jadi ada apa lo kesini Tuan , Iel?”Tanya Riko yang sebenarnya sudah mulai
penasaran. Dia merapatkan duduknya ke Iel.

“Geseran ah ngapain sih deket-deket.”ujar Iel risi lalu mendorong pelan bahu Riko.

“Yeee abis lo lama banget ngomongnya.”jawab Riko sesudah menjauhkan duduknya dari Iel.

“Gimana gimana ama…..itutuhh.”goda Iel lalu merebahkan tubuhnya di ranjang Riko, melirik ke arah Riko dengan senyum jahil.

“Siapa?”Tanya Riko pura-pura gak ngerti. Iel terkekeh.

“Shilla lah, siapa lagi? Emang banyakk? Sok laku lo.”jawab Iel sekaligus meledek. Riko melempar gulingnya ke arah Iel, berhasil Iel tepis.

“Ya gak gimana-gimana.”jawab Riko enteng lalu menidurkan tubuhnya disamping Iel.

“Ah elo Ko suka bohong gitu sama sahabat sendiri. Ceritalah.”bujuk Iel yang masih mengawasi Riko dengan matanya.

“Ya gimana ya Yel, belum tentu juga dia suka sama gue.”curhat Riko pendek. Iel tertawa kecil.

“Lo bego atau sarap sih. Selama ini masa lo pdkt gak dapet respon apa-apa?”Iel mulai kesel, lalu dia mengubah posisinya menjadi duduk dan menghadap ke Riko.

“Ya gue gak mau banyak ngarep juga Yel, takut jatoh.”kata Riko simple tapi nyentuh.

“Shilla tuh nungguin elo tau gak.”Riko yang mendengar itu malah melengos.

“Ngapain cowok kayak gue di tungguin?” Iel menatap sahabatnya itu dengan tatapan -emak-lo-ngidam-apaan-anaknya-bego-amat !!!!!!!!!!

“Ya namanya cinta kan buta Ko, BUTA.”jelas Iel dengan enekanan di kata BUTA.

“Terus sekarang lo mau gue ngapain?”kali ini Riko mulai serius.

“Ya tembak dia lah Ko.”jawab Iel santai.

“Kalo gue ditolak lo mau ngegantiin posisi gue atas betapa malunya gue?”

“Yah Ko, ngga akan deh. Dia aja curhat kali ke gue. Tega lo ngebiarin anak orang nungguin cowok kayak lo lama-lama.”

Akhirnya Riko mengangguk dan berkata dengan pasti, “oke, tunggu tanggal mainnya.” Iel hanya meneloyor Riko. Lalu mereka pun harus berpisah karena Deva sudah minta pulang. Iel dan Deva pun
pulang. Tak lupa mereka pamit dengan Mamahnya Riko. Saat dijalan Deva dan Iel
hanya diam. Berkutat dengan fikirannya sendiri. Deva, tak ada yang harus ia
fikirkan, dia sendiri bingung karena tumben Kaka semata wayangnya ini tidak
mengucapkan sepatah katapun saat ini, ternyata relung Iel sedang membatin,
‘kapan yah gue nembak Via?’. Dia hanya tersenyum, lalu mengusir fikiran itu
jauh-jauh.


***


Suara jeritan terdengar jelas di ruangan itu. Jeritan meronta-ronta. Meminta ampun. Menahan sakit. Jeritan disertai bulir air mata yang perlahan membasahi pipi. Seseorang yang menjerit
hanya mampu berteriak dan menangis, berharap dengan itu rasa sakit perlahan
menghilang. Terkadang dia menjambak-jambak rambutnya sendiri, karena kesal.
Sang Dokter terus melakukan tugasnya tanpa mempedulikan kesakitan pasien itu

Khemoterapy terus berlangsung, kini Riko hanya bisa pasrah. Rasa sakit khemoterapy sangat menguras tenaganya. Belum selesai khemoterapy itu, suaranya sudah habis. Habis
karena sedari tadi sudah menjerit menahan sakit. Riko tergoler, beruntung
khemoterapy sudah selesai. Dokter menatap Riko dengan tatapan meminta maaf.
Maaf karena sebagai dokter inilah kewajibannya, membuat semua orang terlepas
dari penyakitnya, sesuai kemampuannya.

Riko mulai mengumpulkan nyawa. Suster membantu menghapus keringat dan peluhnya. Setelah usai, dia duduk di kursi, dibantu dengan suster lainnya, yang
disediakan dokter tepat di depannya. Kursi untuk para pengunjungnya.

“Penyakit kamu kembali parah.”ucap si Dokter, lirih. Sangat tak tega menyampaikan berita sebegini tragis ke seorang remaja. Riko yang mendengarnya hanya tersenyum, dia sendiri
tak tahu apa yang reaksi yang harus ia keluarkan, mungkin karena terlalu lelah,
dia sendiri lupa bagaimana mengeluarkan berbagai ekspresi. Dokter menghela
nafas, “tapi kamu jangan patah semangat, keajaiban semoga datang padamu. Saya
yakin itu ada.”lanjutnya. memberi semangat. Dokter pun sadar di saat seperti
ini hanya semangat yang pasien butuhkan.

“Makasih dok.”jawab Riko datar. Mimik dan nada suaranya datar. Tanpa ekspresi. Dia menjabat tangan si dokter dengan lemah. Sesungguhnya energinya belum terkumpul, sisa-sisa rasa
sakit masih tertinggal jelas dalam tubuhnya. Si dokter tersenyum, Riko berdiam
sebentar di kursi dokter itu, mengumpulkan tenaganya, lalu meninggalkan ruangan
tersebut. Dia berjalan menuju taman yang masih berada di lingkungan rumah
sakit. Langkahnya gontai. Kakinya lemas. Matanya sudah menyusut, ingin merapat.
Tangannya terombang-ambing, seolah ingin memisahkan dirinya dari tubuh Riko.
Badannya sakit karena khemo dan juga lelah untuk terus brtahan menopang seluru
penyakitnya.

Riko duduk di bangku taman. Sudah sangat sering ia kesini. Dia kesini setiap sehabis khemoterapy, apa lagi berita yang dokter bawa adalah berita yang sangat buruk.
Sama halnya sewaktu dia baru mengetahui terserang penyakit kanker hati. Gadis
kecil menghampirinya, gadis manis berambut ikal, giginya ompong, badannya kecil,
sangat kecil. Tanpa aba-aba dia duduk disamping Riko, Riko tak bereaksi. Dia
masih menatap langit dengan tatapan kosong.

“Kakak kenapa?”Tanya si gadis kecil itu. Dia memandangi wajah Riko yang basah, entah keringat atau air mata.

Riko menatap sesaat gadis itu. Lalu kembali mengalihkan pandangannya menuju langit, “kenapa apanya?”Tanya Riko akhirnya, santai. Dia sendiri sebenarnya masih tak kuat untuk banyak
bergerak, efek khemo masih berlanjut.

“Kakak wajahnya pucet banget, jalan kayak diseret.”komentar si gadis kecil yang masih menatap Riko, “kaka ada masalah? Kakak sakit ya?”tebaknya sok tahu. Lalu dia tersenyum.

“Kamu sendiri ngapain disini?”Bukan menjawab pertanyaan, malah bertanya balik.

“Aku Ourel kak, aku sakit kelainan jantung, jadi aku harus dirawat disini.”jelas Ourel santai, lagi-lagi diiringi senyuman manis khas anak kecil.

Akhirnya Riko menengok dan menatap wajah Ourel, “Aku Riko, aku juga sakit.”jawab Riko, dia mulai tersenyum ditatapnya gadis polos situ. Begitu kecil tapi sangat tegar, tak seperti dirinya,
bentar-bentar sudah mengeluh.

“Kakak sakit apa? Parah juga kayak aku?” Ourel bertanya dengan wajah serius. Seolah ingin Riko menceritakan semua padanya.

Riko tersenyum lalu mengelus lembut ubun-ubun kepala Ourel, “Aku kena kanker hati, udah stadium akhir, dan kesempatan aku hidup sebentar lagi, aku cuma tinggal nunggu Tuhan jemput aku.
Aku harap aku dijemput saat orang-orang yang aku sayangin mengeliligi
aku.”jelas Riko akhirnya.

Ourel mengangguk, seolah dia menjadi seorang gadis yang sudah dewasa, dia mulai menceramahi Riko, “Kakak gak boleh gitu, siapa bilang Kakak tinggal nunggu Tuhan ngejemput Kakak? Kakak
mau? Keajaiban pasti datang ke semua orang yang benar-benar patut
mendapatkannya. Tuhan menyiapkan segala rencananya dengan indah. Semua datang
ketika kita benar-benar gak nyangka kehadiran itu akan datang. Aku juga sakit
kok Kak, aku bahkan udah difonis dokter kalau umurku tinggal 2 bulan lagi, tapi
karena aku masih punya impian dan kepercayaan yang kuat, aku yakin, aku pasti
bisa menghadapi semuanya dengan kuat. Ini semua udah takdir hidup kita, takdir
yang Tuhan berikan untuk kita. Kakak percaya kan kalau takdir itu yang terbaik untuk
kita?” ourel berbicara panjang lebar. Omongannya sangat bijak. Bukan seperti
percakapan dengan gadis berumur 7 tahun ini.

Riko tersenyum dan mengagumi ucapan Ourel tadi. Dia tidak menyangka anak sekecil ini sudah berfikit sebegini dewasanya. Dia kalah total jika dibandingkan dengan bocah
ini, “makasih yah atas semangatnya. Kita sama-sama berjuang untuk hidup.”jawab
Riko lalu mengelus rambut Ourel dengan lembut.

Ourel tersenyum. Senyum yang mengembang, “sama-sama Kak, lain kali ketemu lagi yah disini, tapi Kakak janji harus datang kesini dengan wajah ceria.” Ourel terlihat manja kali ini,
Riko mengangguk dengan senyman tipis, “Ourel pergi dulu ya Kak, udah waktunya
minum obat. Dadah kak Riko.”pamit Ourel lalu berjalan menjauh dari tempat Riko
duduk.

“dia…malaikat kecil yang Tuhan kirim untukku.”batin Riko


***


Riko baru tiba di rumahnya. Dia langsung menghempaskan tubuhnya di ranjangnya. Dia menatapi langit-langit kamarnya dengan senyum yang tergores di wajahnya. Masih
memikirkan ucapan Ourel tadi, malaikat kecil yang penuh semangat menjalani
hidup. Juga malaikat yang membangkitkan semangatnya yang semula runtuh.

Riko bertekad untuk tidak mengeluh lagi untuk masalah ini. Dia yakin, semua akan berjalan dengan sendirinya, dan dengan indah, pastinya. Saat baru saja akan
memeluk guling, ponsel nya berbunyi, bunyi tanda seseorang menelefonnya. Dia
raih ponsel itu yang semula ia simpan di meja sebelah ranjangnya. Ify…..dengan
heran dia mengangkat telefon itu.

“Kenapa Fy?”Tanya Riko bergitu telefon di angkat.

“Hem Ko, kita, maksudnya gue Rio sama Iel udah punya rencana buat lo nembak Shilla, gimana? Mau?”cerocos Ify langsung to
the-point. Dia berbicara tergesa-gesa.

Riko yang mendengarkan ucapan Ify langsung menernyitkan keningnya, berusaha mencerna lebih jauh apa yang baru saja Ify bicarakan, “maksud lo gue nembak Shilla nih?”
kapan?”tanyanya, masih bingung.

“Iyalah, masa nembak Via? Bisa-bisa Iel ngamuk.”jawab Ify sembari melirik Iel. Ya, kini Ify, Iel dan Rio sedang berada di rumah Ify,
merencanakan sesuatu untuk Riko dan Shilla. Iel yang mendengar kalimat terakhir
dari Ify langsung melototi Ify, Ify terkekeh. “gimana? Mau gak?”lanjut Ify.

“Emang kapann? Dimana? Gimana juga?”Tanya Riko lagi, penasaran tingkat tinggi.

“Sekarang kan masih jam 12, nanti jam 2 an, gimana?”jawab Ify.

Riko tersentak mendengar jawaban Ify, “buset, hari ini? Gila lo! Gue belum ada persiapan.”tolak Riko cepat. Wajahnya panik.

“Yaelah nembak doang pake rencana segala. Ayolah Ko, kasian Shilla.”bujuk Ify dengan nada memelas.

Riko menggaruk belakang kupingnya, “Iyadeh, dimana emang?”

“Yeeeeeeeeee thanks Ko.”teriak Ify, senang, Riko menjauhkan speaker ponsel nya, menghindari suara keras Ify itu. Iel dan Rio ikut-ikutan
Toast. “lo dateng jam 2 ke taman komplek lo. Udah semuanya kita yang atur.”

“Iya deh. Udah kan? Gue mau mandi nih.”

“Oke Riko, byeeeee.” Klik. Telfon terputus. Riko menghela nafas. Tak mengerti bagaimana jalan fikiran sahabat-sahabatnya itu. Dia hanya bisa menjalani semua
keputusannya, tanpa berhenti meminta bimbingan dari Yang Kuasa.


***


Ify Rio dan Iel sedang bermusyawarah. Mematangkan rencananya. Mereka mmbicarakan semuanya sambil sesekali mencomot cemilan yang
disediakan oleh Ify.

“Oke, nanti tinggal gue telefon si Shilla biar dateng ke taman juga.”ujar Iel bersemangat. Lalu ia meneguk jus Jeruk yang sedari tadi disediakan oleh Ify.

“Jadi kita cuma nemuin mereka berdua di taman? Gitu aja? Udah? Terus maksud kita ke Riko mau nyiapin semuanya apa?” Rio mulai tak
mengerti. Dia menanyakan semuanya yang membuat dia bingung.

Iel menepuk jidatnya lalu meneloyor kepala Rio, pelan, “Isssshhhh ya emang gitu aja, tapi lo kayak gak tau aja Riko sama Shilla
tuhkan malu tapi mau.”jawab Iel. Kini Rio mengangguk paham.

“Kayaknya ada yang kurang deh…..”kata Ify sambil memandangi semua ruangan tempat ia berada, “Oh iya, kita belum ngasih tau Via.”lanjutnya, lalu buru-buru meraih
ponselnya.

“Gue aja yang ngasih tau.” Iel lalu mengambil ponselnya, Ify menaruh kembali ponselnya.

“Oh iya, lo sendiri kapan ih sama Via?”Tanya Rio akhirnya. Ify mengangguk.

Iel belum menjawab, karena masih sibuk mengetik SMS untuk Via, tak lama setelah dikirim Via membalas hanya dengan jawaban ‘okelah’ . Iel mendongakkan wajahnya,
“kenapa?”tanyanya.

Rio melengos, “lo kapan sama Via?”

“Doain aja.”jawab Iel enteng.


***


Riko sudah siap. Dia telah memakai kaos Converse nya dan memakai celana jeans pendek ripcurl nya. Memakai celana pendek agar terlihat lebih santai. Dia berpamitan
dengan Mamahnya, lalu mulai melaju dengan motornya menuju taman. Rumah Riko
berada di jajaran depan perumahn, sedangkan taman posiinya berada di pojok
perumahan. Menjadikan Rio harus menggunakan motor untuk ke taman, kalau jalan
kaki bisa menghabiskan waktu setengah jam. Lagian, cuaca juga sangat panas.

Kepala Riko mulai sakit, dadanya juga begitu, pandangannya perlahan kabur. Dia mengerjap-kerjapkan kelopak matanya guna mengembalikan penglihatannya.
Terlambat, kerana terlalu sakit dan tak kuat. Kini ia sudah terjatuh dari
motor. Dia tergoler lemah di samping motornya.


***

Our Life, Our Destiny, and the Best for Us :) part 17

Iel mengantar Via pulang dan mematikan tak ada apapun yang terjadi kepada sahabat sekaligus orang yang ia sayangi. Via menikmati ketika Iel sedang memberinya nasihat dan tersenyum lembut padanya. Lain hal nya dengan Riko, khemoteraphy sedikit membuahkan hasil. Sementara Ify dan Rio yang sedang dimabuk cinta pergi ke Bukit Pelangi dan membicarakan tentang kepergian Rio ke Surabaya. Shilla malah sedang galau dengan perasaannya. Dia online twitter malah mendapati dirinya di godai oleh Iel dan Rio yang membuatnya malu di depan Riko. Sementara ketika dia sedang online Y!M dia dibuat berseri-seri oleh Riko. Bagaimana kelanjutannya?
***

Via bangun pagi dan membantu Kak Zahra terlebih dahulu untuk membenahi rumahnya. Menderita sekali tak ada pembantu rumah tangga. jam 5.45 semuanya beres. Dia memastikan bahwa tak ada satu pekerjaan pun yang terlewatkan yang bisa membuat Mamahnya marah. Setelah itu dia mandi dan bergegas berangkat sekolah.
Sehabis sarapan, dia langsung menemui Mamah Indah untuk meminta Mamah Indah mendaftarkan dia ke SMA N 3. Dilihatnya Mamah Indah sedang di dapur, dia kumpulkan seluruh keberaniannya untuk meminta izin kepada mamah Indah.
“Mah.”ucap Via setelah berdiri di sebelah Mamah Indah.
Mamah Indah menoleh kearah Via lalu bertanya, “Apa Vi?”
“Daftarin Via ke SMA 3 yah, sekarang hari ketiga pendaftaran, besok terkahir.”jelas Via, ia menunduk, dia bergemetar.
Mamah Indah menghela nafas, seperti tidak ikhlas barang mendaftarkan anak tirinya itu, “Iya, jam berapa?”
Via mengangkat kepalanya, lega, akhirnya Mamahnya mau mendaftarkannya walau tidak ikhlas, “Jam 10 aja Mamah kesana. Berkas-berkas yang harus Mamah bawa ada di lemari ruang TV yah.”jelas Via sumringah. Mamah Indah mengangguk sembari terus menggoreng telur. “Via berangkat ya.”pamit Via lagi, dia pun berangkat sekolah bersama Pak Joe, tumben mengantar Via karena ayah Via sedang bertugas di luar kota, jadi Pak Joe menganggur.

***

Dikantin sekolah Shilla dan Iel sudah berdua saja. Yang lain memang belum pada datang. Tadi Iel menghampiri Shilla ke kelasnya untuk membicarakan tentang semalam. Awalnya Shilla malas, mungkin hanya akan digodai, tapi karena dipaksa, akhirnya Shilla nurut.
“Lo mau ngomong apaan sih Yel?”Tanya Shilla yang mulai BT, dari tadi mereka diam-diaman saja. Iel makan roti dan Shilla minum susunya yang dia bawa dari rumah.
“Hemmm.”ujar Iel sembari melihat sekeliling, memastikan kantin sepi “lo suka yah sama Riko?”ujarnya sedikit berbisik.
Shilla memukul kecil lengan Iel, “Sotau lo.”tukasnya, munafik.
“Terus yang semalem di twitter?”goda Iel , kini tidak berbisik, pipi Shilla memerah.
“Yaaa……”Shilla tak bisa memberi jawaban. Iel terkekeh.
“Hahahah ngaku aja deh Shil, ngeliat kelakuan lo juga ketauan banget kali.”ledek Iel. Shilla hanya manyun.
“Ih emang ketara banget yah gue suka sama Riko?”Tanya Shilla sembari memegangi pipinya, gak jelas. Secara gak langsung Shilla mengaku dia suka sama Riko.
Iel makin terkekeh, “Santai aja kali Shil kita semua udah pada tau.”jawab Iel yang sudah meredakan tawanya,”Riko nya juga suka kok sama lo.”bisik Iel pelan yang langsung membuat pipi Shilla memerah. Tiba-tiba dari arah belakang Via datang sedikit berlari menuju meja yang ditempati Shilla dan Iel.
“Hey.”sapa Via pada mereka berdua. Iel menjawab sapaan Via, sedangkan Shilla menunduk menghilangkan rona wajahnya.
“Lo kenapa Shil?”tanya Via setelah duduk di depan Iel.
“Riko suka tuh sama dia.”ledek Iel. Shilla memukul lengan Iel, sedikit kencang karena dia kesal. Iel meringis.
Via memandang Iel, -yang-bener-lo-wah-oke-dong . “Serius Yel?”Tanya Via pada Iel, Iel mengangguk mantap sembari melahap sisa rotinya itu, Via kembali memandang Shilla, “Wah bagus dong Shil, nanti gue suruh dia nembak lo deh.”lanjut Via. Shilla malah melotot.
“Ishhh gue malu.”rengek Shilla lalu manyun.
“Gak apa-apa kali Shil, nanti gue bantu, tenang aja.”timpal Iel santai. “betewe semalem lo malu yah diceng-cengin di twitter?”lanjutnya.
“Iyalah bego! Udah tau gue suka sama Riko, sebagai wanita kan gue malu doong Yel.”seru Shilla sedikit geram kepada Iel. Lalu datanglah Rio dan Ify yang langsung duduk diantara mereka.
“Kenapa Shil?”Tanya Ify melihat Via manyun, seperti apa yang tadi ditanyakan Via.
“Riko suka sama dia.”jawab Iel enteng. Ify menandang Shilla dengan mata berbinar.
“Eh ampun Shil ampun yang semalem di twitter.”ujar Rio tiba-tiba.
“Iye iye.”jawab Shilla jutek.
“Jadi rencananya sekarang gimana biar Riko nembak Shilla?”Tanya Rio akhirnya yang mengarah pada pertemuan mereka disini.
“Gampang nanti gue bujuk deh.”usul Ify. Shilla melotot.
“Ify kita tuh cewek masa cewek ngejar-ngejar cowok sih?”protes Shilla. Via, Iel, dan Rio terkekeh mendengar pernyataan Shilla.
“Heh Riko juga kan suka sama lo.”ucap Iel.
“Iya sih . udah santai aja. Mau jadi gak nih?”Rio menyutujui ucapan Iel.
“Shilla manyun, “terserah lah.”
Bell pun berbunyi. Mereka berpencar memasuki kelas. Riko baru saja tiba dan berpapasan dengan Shilla saat baru mau masuk kelas. Dia melempar senyum kearah Shilla, Shilla membalasnya. Ify dan Via yang melihat hanya terkekeh.
“Vi, gimana, jadi daftar Smanti?”Tanya Ify setelah mereka duduk di bangku. Guru pelajaran belum datang.
“Udah kok. Nyokap mau.”jawabnya. Ify menghela nafas. Bersyukur. “Tes nya minggu depan kan?”Tanya Via lagi, Ify mengangguk,”berarti waktu belajar tinggal seminggu?”
“Iya, makanya minggu depan kita libur. Kan udah beres juga. Hari ini aja hari terkahir praktek.”jelas Ify. Via manggut-manggut.
“Bete banget gue seminggu dirumah. Lumutan yang ada.”keluh Shilla yang duduk dibelakang Ify dan Via.
“Kan ada Abang Riko.”goda Via.
Shilla menyubit pelan tangan Via, “apaan sih.”
“Ya kan nanti kalian udah jadian, jadi gak akan sepi deh.”timpal Ify. Percakapan mereka di hentikan karena praktek segera dimulai.

***
Hari ini jadwalnya Ify khemo. Kedua kalinya. Ify Shilla Via Iel Rio dan Riko tak mendapat percakapan ketika pulang sekolah atau istirahat. Mereka tak bekumpul. Saat pulang sekolah Ify hanya mengirimi Rio SMS.
To : Rio ku sayang :D
Nanti gak usah bareng yah pulangnya, jam 3 mau nemenin aku khemo lagi?

From : Rio ku sayang :D
Kamu mau kmn emg? Oke jam 3 aku jmput ya

To : Rio ku sayang :D
Pengen pulang bareng aja sm via dan shilla. Okedeh ^^.

Tak ada SMS balasan. Saat pulang sekolah mereka pun bergegas pulang. Ify Shilla dan Via hanya bercanda-canda ringan. Tak ada yang serius. Mereka menikmati kebersamaan persahabatan mereka ini.

***

Via memasuki rumahnya dengan senyum mengembang. Lega rasanya karena dia sudah daftar di SMA paling favorit di kota ini. SMA yang menjadi bulan-bulanan semua pelajar. Hanya pelajar yang beruntung dan benar-benar pintar yang bisa masuk SMA itu. Via berharap dia salah satunya.
“Assalamualaikum.”useru Via seraya memasuki rumahnya. Mamahnya menjawab salam itu. Papah dan kak Zahra sedang tidak ada. Via mencari Mamahnya, didapati Mamahnya sedang menonton. Via pun mecium punggung tangan Mamahnya itu, “udah ke SMA 3 nya Mah?”Tanya Via memastikan.
Mamahnya mengangguk, “Udah kok, kapan tesnya Vi?”Tanya mamahnya balik, Via tersenyum bahagia karena akhirnya dia diperhatikan untuk urusan sekolah.
“Minggu depan Mah. Masih ada 1 minggu buat belajar. Dan seminggu itu Via libur.”jelas Via. Mamahnya mengangguk lagi, paham. Via bergegas ke kamarnya untuk ganti baju dan sholat, lalu tidur.
Jam 3 Via baru bangun. Dengan enggan dia bangkit dari tempat tidur karena perutnya sudah mengadakan ‘konser’ besar-besaran. Dia masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka lalu dia ke ruang makan. Dilihatnya Mamahnya memasak semur, nafsu makan Via langsung naik, diambilnya nasi sepiring beserta lauknya. Dia makan dengan sangat lahap. Mamahnya yang melihat cara makan Via hanya mengelengkan kepala. “Makan nya pelan-pelan, nanti keselak.”mamahnya memperingati. Via hanya mengacungkan jempol dan melanjutkan makan.
Via duduk di kursi depan TV. Perutnya kini sudah terisi penuh, tiba-tiba Ka Zahra duduk disebelahnya.
“Udah daftar SMA 3?”tanyanya, Via tau Kakanya ini palingan hanya akan merendahkannya.
“Udah kok.”jawab Via santai. Seolah tak mengerti apapun.
“Aduh Vi harusnya lo tuh sadar diri. Gue udah ngingetin lo berulang kali. Otak lo tuh pas-pasan. Percuma juga lo les Primagama *iklan* sama les private. Kalo mampunya segitu ya segitu. Dasarnya otak pas-pasan. Udahlah.”ucapnya enteng. Seolah tak menyadari bahwa ucapannya itu sangat tajam. Via hanya menghela nafas mendengar ucapan sang Kakak.
“Yayayayaaaaaaaa.”jawab Via enteng. Tak mau dia menangis atau melawan ucapan sang Kakak. Terlalu sering sehingga membuatnya lelah. Kak Zahra tak menjawab. Dia bangkit meninggalkan Via dan berjalan menuju kamarnya. Via tersenyum dan melanjutkan menonton.

***

Ify sudah selesai makan. Ozy, adiknya belum pulang sekolah, sedangkan Alvin, sepupunya sudah pindah dari rumahnya (eh maaf yah aku gak pernah nyeritain Alvin). Tak lupa dia meminum obatnya. Dirumah hanya ada dia dan pembantu. Mamah dan Papahnya bekerja. Walau begitu, dia tak pernah kekurangan kaih sayang, toh Mamahnya juga kerja tak lupa waktu, jam 5 beliau sudah ada dirumah, begitu pula dengan Papahnya.
Kini Ify sedang menonton TV, menunggu kehadiran Rio yang akan menjemputnya untuk khemo. Dilihatnya jam di dinding, jam 2.55 . saat itu pula bunyi klakson motor Rio berbunyi. Ify segera bangkit dan membuka pintu, menyambut kedatangan Rio. Rio sudah ada di depan pintu rumah Ify.
“Langsung aja yah. Mamah masih kerja.”jelas Ify seraya tersenyum. Rio mengangguk lalu berjalan menuju motornya diikuti Ify dibelakangnya.
Perjalanan terasa panjang. Mungkin karena tujuannya ke rumah sakit. Ify bergemetar. Takut akan rasa sakit ketika khemoterapy. Akhirnya mereka sampai. Rio menuntun Ify sampai ruangan khemo, sudah ada dokter Danang beserta suster. Mereka tersenyum ketika melihat Rio dan Ify datang. Akhirnya Ify pun menjalani khemo. Tak sesakit kemarin. Karena panyakit Ify sudah membaik sekarang. Memang kringat dan teriakan yang dikeluarkan sama seperti kemarin. Tetapi Dokter dan Ify puas dengan hasilnya.
“Penyakit kamu membaik Fy.”ucap Dokter Danang ketika sudah selesai khemo. Rio dan Ify sudah duduk di kursi yang tersedia di meja Dokter Danang. Rio menggenggam erat tangan Ify, seakan meringankan beban Ify.
“Kesempatan saya untuk sembuh apa besar?”Tanya Ify, Dokter Danang tersenyum.
“Besar, besar sekali. Karena semangat kamu yang juga besar.”terangnya. Ify dan Rio saling berpandangan. Senyum mereka merekah.
“Terimakasih dok.”ucap Rio masih dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Sang dokter mengangguk.
Ify dan Rio pun pulang. Perjalanan pulang kali ini lebih terasa ringan karena pernyataan Dokter Danang. Mereka pulang dengan senyum yang melekuk di wajah karena penyakit Ify yang membaik.

***

Minggu yang cerah mebuat Iel malas untuk membuka mata. Dia masih terus menggulung tubuhnya bersama selimutnya yang membuat badannya terjaga. Deva sudah menggedor-gedor pintu kamarnya untuk mengajaknya jogging. Tetapi Iel tetap saja tertidur, akhirnya Deva mengeluarkan seluruh tenaganya untuk berteriak.
“KAK IEEEEEEEEEEL! LO MATI APA GIMANA DI DALEM? BANGUN WOY BANGUN KITA JOGGING JANGAN MOLOR AJA LO. BANGUUUUUUUUUUUUUN!” Deva berteriak sambil terus menggedor pintu kamar Iel. Teriakannya mampu membuat seisi rumah kaget karenanya. Iel sendiri langsung melepaskan selimutnya yang sedari tadi masih ia peluk dan langsung membuka pintu, menghampiri Deva.
“Lo kenapa sih Dev? Gak bisa liat kakak lo seneng apa?”Tanya Iel sewot yang masih mengucek-ngucekkan matanya. Belum sempat Deva menjawab Mamah mereka sudah mengomel.
“Devaaaaaaaaaaa! Pagi-pagi udah teriak-teriak. Uang jajan kamu Mamah potong yah.”ancam Mamahnya dari bawah tangga yang juga teriak.
Deva meringis, “Mamah juga teriak-teriak. Deva bilangin uang belanjanya dikurangin loh sama Papah.”ancam Deva balik, masih berteriak, *ini rumah apa utan?*
Akhirnya Mamh menghela nafas, “udah jangan teriak-teriak. Mamah mau ngelanjutin tidur.” Si Mamah pun menuju kamarnya.
Iel sudah berhasil mengumpulkan nyawanya.”Ada apa sih Dev?”tanyanya lagi.
“Jogging yu”ajak Deva santai.
Iel melengos, “Hah? Ngga ah. Lo ajak aja si Ray. Gue males.”tolak Iel yang langsung bergegas menuju tempat tidurnya lagi.
“Ayolah Kak, udah jarang kita menemukan kehangatan dari adik kakak. Lagian si Ray sama Kak Cakka lagi ngurusin pesta buat setahunan kak Cakka sama Kak Agni.”jelas Deva yang sudah menyusul Iel, kini ia berdiri di samping ranjang Iel.
“Jogging kemana sih? Gue males ahhhh.”Iel menarik selimutnya dan memejamkan matanya.
Deva menarik selimut Iel, “Ke komplek sebelah Kak, ke komplek temen Kaka juga kan? Ka…..Ka Riko…..”kata Deva. Yang masih terus tarik-tarikan selimut sama Iel.
Iel berfikir sejenak ‘demi melancarkan misi sahabat, gue jogging, nyamperin Rio, bujuk dia deh.’ batin Iel berfikir. Lalu ia melepaskan tarikan kencang selimut itu dan membuat Deva tersungkur.
“Hwaaaaaaaaa sakiiiiiiiiiiiiiiiit.”rintih Deva yang sudah tersungkur di pojok. Iel bangun dan membantu Deva bangun.
“Hehehe ya abis elo pake tarik-tarikan segala.”ucap Iel sembari nyengir. Deva sudah berdiri dan memajukan bibirnya beberapa centi. Iel meneloyor kepala adiknya itu, “Iya deh kita jogging, tapi sama Riko juga yah.”pinta Iel.
Wajah Deva langsung semangat, “Oke kak, gue juga mau nyamper Ke……”ucapannya menggantung. Iel menatapnya curiga.
“Siapa? Ke….Keke maksud lo? Hahahahahaha Keke ade’nya Riko?”tawa Iel meledak. Rona wajah Deva memerah.
“Ishhhh jangan berisik.”ujar Deva sembari menempeleng pelan pipi Iel. “Iya nanti kita samper mereka.”
“Sopan banget lo nempeleng gue.”ringis Iel sembari memegang pipinya, “pantes aja lo niat banget. Yaudah bentar gue ganti baju dulu. Siap-siap.”ujar Iel lalu berlalu menuju kamar mandi.
“Iya gak usah mandi. Biar sama kayak gue.”jawab Deva setelah Iel masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dalam kamar Iel. Iel tidak mengubrisnya. Deva langsung merebahkan badannya di ranjang Iel lalu mengoprek HP Iel yang tergeletak. Dia membuka Message, tak ada yang menarik, semua SMS dari Cakka, Riko, Rio, tidak jauh ‘jangan-jangan Kak Iel maho?’batin Deva seenaknya. Dia menggelengkan kepalanya cepat. Lalu beralih ke fitur Gallery, ada folder bernamakan, ‘DON’T OPEN’ Deva penasaran, lalu dibuka folder itu, ternyata berisi foto seorang gadis. Ada sekitar 20 lebih foto, ‘wuidih cantik bener ni cewek.’batin Deva sembari terus melihat-lihat foto itu. Iel keluar dari kamar mandi dan merebut HP nya.
“Wah buka-buka lo.”ujar Iel. Deva hanya menggaruk kepalanya. “nangkring mulu lo. Buruan jogging. Ntar keburu siang.”lanjut Iel sembari memakai sepatunya. Deva berlalu ke kamarnya dan mengambil sepatunya.
“Yu Kak.”ujar Deva setengah berteriak. Dia sudah berada di depan rumah. Iel yang mendengar teriakan Deva langsung berlari.
“Sip.”
Mereka berdua pun setengah berlari menuju komplek perumahan Riko yang letaknya sekitar 3 KM dari komplek mereka. Lumayan capek lah tapi kalau nggak cape bukan olah raga dong.
“Tadi foto siapa sih Kak?”Tanya Deva usil sambil terus setengah berlari di samping Iel.
Iel melirik sesaat ke arah Deva lalu kembali menatap jalanan, “kenapa? Cantik ya?”
Deva melengos, “bukannya dijawab malah balik nanya.”ujarnya, Iel terkekeh,”Iya kok cantik, kalau dia cewek lo kayaknya gak mungkin deh.”lanjut Deva.
Iel menghentikan larinya lalu membeli minum di warung yang mereka lewati. Deva mengikuti karena ingin tahu reaksi sang Kaka saat dia berkata tadi, Iel meneguk air nya, “Kok gak mungkin?”Tanya Iel lalu melemparkan botol air mineral ke arah Deva.
Dengan segit Deva meraihnya lalu meneguknya, “dia kan cantik, kok mau gitu sama cowok jelek kayak lo? Mending sama gue.”ceplos Deva seenaknya. Dia langsung lari. Iel mengejarnya.
“Kurang ajar lo.”ujar Iel setengah berteriak. Setelah berhasil menyusul Deva dia tarik baju Deva dari belakang. Deva hanya nyengir lalu bergumam “peace kak!”, Iel menoyor kepala adiknya itu.
“Sembarangan lo kalau ngomong.”ujar Iel lagi. Deva hanya nyengir, “terus lo sendiri ngapain sama si Keke? Ada apa-apanya nih.”goda Iel.
Pipi Deva memerah,”ngggaaaa……..ngggg………gak apa-apa kok.”ujar Deva gelagapan. Iel yang tahu akan perubahan rona wajah Deva langsung tertawa.
“Wahahaha suka lo sama si Keke? Wah kecil-kecil udah main lope-lopean.”ledek Iel dengan derai tawanya.
“Yeee enak aja gue masih kecil. Gue sih masih dalam tahap PDKT, lah si Ray aja udah jadian.”jelas Deva. Iel melongo.
“Buset gue di duluin ama tu bocah.”
“Loh? Emang tadi cewek itu bukan cewek lo?”
Iel menggeleng lemah, “bukan.”
Deva tertawa kecil, “tuh kan dia mana mau sama lo.”ledek Deva. Iel lagi-lagi hanya meneloyor kepala Deva.
“Lo tuh Dev Kakak lo lagi kesusahan bukannya dibantu malah diledek.”kata Iel yang berhenti sesaat lalu meneguk minumnya. Mereka sudah berada di depan komplek Riko. Tinggal masuk dan mencari rumah Riko.
“Bantu apa?”Tanya Deva. Kini mereka hanya berjalan, tak lagi setengah lari seperti tadi.
“Ya gitu deh. Namanya Via.”jawab Iel lirih.
“Terus apa masalahnya?”Deva merasa seperti orang lebih tua dari Iel.
“Dia kayak males buat ngebales perasaan gue, padahal dia tau jelas gue suka sama dia.”curhat Iel singkat. Deva menggut-manggut.
“Yaaaah, jangan nyerah juga kali, kan itu masih kayaknya belum sebenarnya. Semangat dong.”ujar Deva sembari tersenyum. Lalu mengangkat tangan kananya.
Iel tersenyum ,”Thanks Dev.”jawabnya.

***

Our Life, Our Destiny, and The Best for Us :) PART 16

Ify menjelaskan kepada Rio tentang penyakitnya. Sementara Riko sangat ingin sekali cepat-cepat menyatakan perasaannya, tapi dia belum siap, ya lagi-lagi hanya karena sebuah penyakit yang ia derita. Alhasil dia mengajak Shilla untuk jalan walau tak berarti. Sementara Via dibuat menangis oleh ibu Tiri nya kerana dimarahi dengan alasan sepele. Akhirnya Via memutuskan untuk main ke rumah Ify beserta Shilla. Sampai pada saat waktunya pulang Via enggan pulang. Alhasil kedua sahabatnya dibuat bingung. Dengan ide yang cemerlang, Ify meminta Iel membujuk Via. Ternyata berhasil jadilah ada sesi dimana Via dan Iel curhat. Sampai akhirnya Iel memberi Via semangat. Bagaimana lanjutannya?

***

Iel pun langsung mengajak Via pulang dan mengantar dia hingga depan rumah. Terlihat rumah yang sangat sepi. Gerbang ditutup tanpa di gembok, hanya sekedar di selot. Via turun dari motor Iel.
“Thanks yah Yel.”ucap Via tersenyum manis setelah turun dari motor Iel.
“Pleasure deh Vi buat lo mah.”jawab Iel sambil tersenyum “Tapi kok rumah lo sepi gini?”Tanya Iel sambil mengintip rumah Via lewat celah pagar. Dia turun dari motornya dan mematikan mesin lalu mencabut kuncinya. Lalu dia membuka gerbang rumah Via. “Kayaknya gak ada orang deh Vi.”
“Masuk dulu coba.”ajak Via sambil berjalan masuk, tiba-tiba langkahnya terhenti, lalu berbalik menghadap Iel yang berjalan di belakangnnya, kontan Iel berhenti mendadak.“gue takut dimarahin Yel.”ucapnya manja.
“Udah gak apa-apa.”jawab Iel dengan tatapan penuh semangat. Via langsung melanjutkan langkahnya.
Diintipnya rumah yang sedari tadi sudah dikira tidak ada orang. Gelap. Sepi. Via masih memencet bell siapa tau lagi pada tidur. Nihil. Tidak ada jawaban.
“Neng Via.”teriak seseorang dari sebrang rumah Via, “tadi Mamah Via nitipin kunci, katanya pergi dulu ke bank.”sahutnya sambil berjalan ke arah Via.
Via mengambil kunci yang disodorkan si Ibu itu, dia penjaga warung sebrang, “Makasih yah bu.”jawabnya,”Mamah dari jam berapa?”
“Sekitar jam 11 an gitu. Semuanya pergi.” Via mengintip HP ya untuk melihat jam, sudah jam setengah 5. orang tuanya belum pulang. Ternyata HP yang dari tadi dia matikan dan baru sekarang dia nyalakan mendatangkan banyak SMS salah satunya dari Mamahnya yang bilang kalau Mamahnya pulang malam, mau ke bank dilanjut ke rumah nenek.
“Makasih yah Bu.”ucap Via, si Ibu itu tersenyum dan meninggalkan Via dan Iel.
“Baguslah nyokap lo gak ada.”ujar Iel tiba-tiba, “jadi dia gak akan tau lo balik telat.” Iel pinter juga!.
“Betul betul betul.”jawab Via sambil menirukan gaya upin ipin.
“Yaudah gue balik yah. Kalau ada apa-apa SMS gue aja.”kata Iel sambil melangkah meninggalkan Via.
Via tersenyum menatap kepergian Iel, “Thanks banget yah Yel.”teriak Via saat Iel baru naik motornya, Iel tersenyum, “buat lo apa sih yang ngga Vi.”batinnya. “Maaf yah Yel gue belum bisa bales perasaan lo sepenuhnya, padahal lo udah baik banget sama gue.”
Via pun membuka pintu rumahnya dan masuk. Ia langsung mengunci pintu dan langsung ke kamar lalu mandi dan solat. Lalu ia menonton TV dan kegiatan-kegiatan tidak penting lainnya. Setengah 8 orang tuanya baru pulang. Via sangat takut untuk membuka pintu. Takut nanti Mamahnya mengungkit masalah tadi pagi. Tapi ia langsung bangkit membukakan pintu saat bell rumahnya berbunyi.
“Maafin mamah yah Vi ninggalin sendirian. Tadi nenek minta ditemenin.”jelas mamahnya sambil berjalan menuju kamar.
“Alhamdulillah, semoga mamah lupa kejadian tadi pagi.”batin Via sembari mengekor Mamahnya masuk ke kamar.”iya mah gak apa-apa.”
Setelah itu Via bercakap dengan sang Mamah mengenai Neneknya.

***

Hari ini jadwalnya Riko buat Khemo, seperti biasa, dia Khemo sendirian, Orang Tua Riko sibuk kerja dan Riko memaklum itu.
“Peningkatannya lumayan bagus.”sahut si Dokter ketika baru beres memeriksa keadaan Riko. “menyebarnya virus sudah lumayan berkurang, tapi masih belum stabil.”lanjutnya.
“Tapi, apa saya bisa sembuh dok?”Tanya Riko dengan penuh harapan.
“Kita berdoa saja.”jawab si dokter misterius, “kita tunggu keajaiban dari Tuhan dan menunggu seseorang mau men transfuse hatinya buat kamu.”
Riko kembali patah semangat, “Tapi dengan khemo bisa memperpanjang umur saya kan?”
“Umur gak ada yang tahu Nak Riko, kita berdoa dan serahkan semuanya kepada Tuhan, saya yakin kalau kami masih terus bersemangat Tuhan masih ingin melihat kamu lebih lama di dunia.”nasihat sang dokter yang menumbuhkan sedikit semangat dihati Riko.
“Terimakasih dok. Saya permisi. Sudah malam.”pamit Riko dengan jawaban dari senyuman dokter.
Riko menyusuri koridor rumah sakit. Dia berjalan pulang menuju rumahnya menggunakan motor nya.


***
Sepulang Shilla dan Via , Ify langsung tiduran, sedikit capek dia rasa karena terlalu banyak beraktifitas, terlebih dia belum minum obat karena takut ditanya macem-macem oleh sahabatnya itu. Dia pun langsung minum obat, lalu dia menselonjorkan kakinya di atas sofa.
Wake up everyone….
HP Ify berbunyi tanda ada SMS.

From : Rio ku sayang :D
Shilla via udah pada balik blm?

Ify langsung cepat membalas sms Rio, beruntung rasa sakit nya sudah mulai menghilang karena dibantu oleh obat.

To : Rio ku sayang :D
Udah, knp?

From : Rio ku sayang :D
Aku jemput ya, kita ke bukit :D

To : Rio ku sayang :D
Oke.

Ify langsung ke kamarnya buat ganti baju dan menyisir rambunya yang acak-acakan. Setelah beres dia izin dulu sama Mamahnya, “jangan terlalu capek, kalo gak sempet makan dirumah makan dijalan.”nasihat si Mamah, Ify ngangguk ngangguk. Baru saja Ify melangkahkan kaki keluar kamar Mamahnya, suara motor Rio terdengar. Lalu disusul dengan bell rumah Ify. Ify langsung membuka pintunya.
“Pamit dulu sama mamah kamu.”ucap Rio. Ify mengangguk. Mereka masuk ke rumah Ify. Mamah Ify lagi ada di ruang TV langsung menoleh ketika tahu Rio datang.
“Tante, Ify saya pinjem dulu yah.”ucap Rio sopan sambil salaman sama Ibunya Ify.
“Iya tante percaya sama kamu. Jagain Ify yah.”Ify hanya tersenyum.
“Kita pergi ya mah.”pamit Ify sambil mengecup kening mamahnya. Ify dan Rio segera keluar dan menaiki motor Rio.
“Mau ngapain ke bukit?”Tanya Ify sedikit berteriak saat mereka sudah berada dijalan.
Rio memperlambat laju motornya, “udah lama gak kesana berdua sama kamu.”jawab Rio. Ify tersenyum. Tak lama mereka sudah sampai dibukit. Rio memarkir motornya dan menggandeng Ify menuju tempat biasa mereka duduki.
“Mau ngapain eh kesini?”Tanya Ify yang mulai gereget karena tidak dikadih alesan logis oleh Rio. Rio hanya menengok ke arahnya sambil senyum lalu kembali menatap pepohonan yang berbaris di depannya.
“Udah lama aja gak kesini.”jawabnya. lagi-lagi alasan itu.
“Ah jangan bertele-tele dong.”Ify manyun dan mulai geram.
“Gak percaya banget sih sama aku.”ujar Rio sambil membaringkan badannya di rumput. Ify ngeliatin Rio yang menatap lurus ke awan.
“Abis kayak ada yang mau kamu sampein ke aku gitu.”jawab Ify sambil ikutan membaringkan badannya disebelah Rio.
“Ya kayaknya sih gak penting-penting amat.”ujarnya akhirnya sambil menoleh ke arah Ify lalu kembali menatap awan. “tinggal 5 minggu aku disini.”
“Terus?”Tanya Ify nantang, sebenernya dia udah tau apa yang akan Rio bicarakan, paling tentang penyakit atau hubungannya.
“Terus terus lagi. Kamu gak sedih aku tinggalin?”Tanya Rio pura-pura kesel. Ify malah cengengesan.
“Ngapain aku sedih?”
“Eh ini anak. Awas yah aku selingkuh baru tau rasa.”ancam rio bercanda sambil mencubit pelan cuping hidung Ify.
“Emang ada yang mau sama kamu selain aku?”Ify ngeyel, dia terus terusan nyindir Rio agar dia gak ngerasa sedih. Rio manyun.
“Gini-gini banyak yang mau sama aku. Aku aja heran kok aku maunya sama kamu.”jawab Rio yang sukses bikin Ify manyun, gantian. Rio tertawa pelan.
“Jahat banget sih.”ujarnya sambil menyubit pelan tangan Rio.
“Yang mulai siapa coba?”
“Hehehe abis aku males aja kalau harus melankolis sama kamu. Kamu pindah ya pindah aja. Toh semuanya udah bulet, kalau kita jodoh ya kita gak akan pisah. Kan semua udah di atur, ini hidup kita dan ini semua takdir kita. Aku juga udah siap kamu tinggal.”jelas Ify panjang lebar.
Rio bangun dan mendudukan posisinya disusul Ify yang juga duduk disebelahnya. “awas yah jangan lupa khemo kalau aku gak ada. Janji yah bakalan bilang ke anak-anak kalau kamu sakit.”ancam Rio. Ify mengangguk mereka pun menghabiskan waktu berdua selama satu jam kedepan dengan obrolan tiada henti. Setelah sadar jam telah menunjukan pukul 18.00 Rio pun mengantar Ify pulang karena takut Ify drop.

***

Via sedang duduk di meja belajarnya. Bingung apa yang harus dikerjakannya. Ujian telah usai, apa yang harus dipelajari? Dia membuka laci mejanya, ada diary nya. Dengan senyuman dia mengambil diary itu. “Udah lama gak nulis, nulis ah.”ucap Via,sendiri. Ia pun mengambi pulpen yang ada di tasnya dan segera membuka lembaran diary yang akan dia tulis. Dia menyalakan lampu meja belajar. Dengan senyum ia menulis diarynya.

Dear Diary.
Apa kabar diaryku? Cup cup cup maaf yah aku udah lama gak nulis. Maklum sibuk nih. Yang pasti sekarang aku mau cerita sama kamu semuanya. Taugak? Masa tadi padi mama indah marah-marah ke aku cuma jarena aku gak nyapu teras sama kamar dia? Rese banget kan? Huhuhuhu tapi aku cukup senang nih soalnya tadi aku curhat sama Iel terus dia ngebiarin aku nangis di dadanya sambil ngusap-ngusap kepala aku gitu. Kayak yang ada di novel atau film-film romantis gitu, ya ampun gak munafik aku seneng banget kalau dia udah ngasih saran ke aku. Bikin perasaan aku tenang. Dan gak tau kenapa aku selalu suka sama nasihat-nasihat dia ke aku. Aku nyaman kalau aku ada di deket dia. Apa artinya aku udah harus gakuin peraaan aku kalau aku emang udah beneran suka sama Iel? Masa sih? Oke aku kagum sama dia, tapi masa aku suka? Hem tapi kayaknya ia deh aku suka sama dia. Hehehe jangan bilang-bilang siapa-siapa loh. Eh tapi bukannya aku udah bilang sama kamu kalau aku emang suka sama dia? Hem jadi gimana yah selama ini aku nutupin rasa suka aku ke dia. Aku takut buat berharap jadi aku selalu ngebantah kalau kenyataan aku suka sama dia. At least aku gak usah ngarep. Tapiii…….serius nih aku sayang sama dia. Mungkin sih tapi tiba-tiba aku pengen dia jadi milik aku. Segini dulu yah di aku capek nih. Doain yah aku mau test smanti nih.
Via menutup diary itu. Karena sudah bingung apa yang akan ia kerjakan, ia memutuskan untuk tidur. Toh jam sudah menunjukan pukul 9.

***

Shilla yang sedang galau dengan perasaannya tiba-tiba terbesit keinginan untuk menghibur diri lewat dunia maya. Langsung lah ia berjalan menuju ruang kerja Ayahnya dan menyalakan laptop ditambah mencolokan modem. Setelah nyala ia buka Mozille Firefox dan Yahoo! Messenger. Berharap ada sesuatu yang istimewa. Dia langsung men sign-in Y!m dan twitter nya. Dilihat followers nya sudah bertambah 50 lebih (#maudong ) dalam waktu seminggu ini. Dilihatnya daftar followers, ada Riko dengan username @anggariko langsung lah men-folbacknya. Dia berkecimbung menikmati twitter.

@sillavg hello twitter !

@stevmario ily my princess @ifyalyssa

@ifyalyssa ilyt :* RT @stevmario ily my princess @ifyalyssa

@angelicaaMP dilema sungguh aku dilemma

@ielstevent hahahaha Rio sama Ify emm cociiit RT @ifyalyssa ilyt :* RT @stevmario ily my princess @ifyalyssa

@shillavg ReTweet !@ielstevent hahahaha Rio sama Ify emm cociiit RT @ifyalyssa ilyt :* RT @stevmario ily my princess @ifyalyssa

@shillavg RT @angelicaaPM dilema sungguh aku dilemma

@stevmario bilang aja lo pada sirik RT @shillavg ReTweet !@ielstevent hahahaha Rio sama Ify emm cociiit RT @ifyalyssa ilyt :*

@ielstevent eh ada @shillavg tumben neng ol ^^, eh dilemma kenapa?

@stevmario RT @ielstevent eh ada @shillavg tumben neng ol ^^, eh dilemma kenapa?

@angelicaaMP eh @shillavg kita sama-sama dilemma yah

@shillavg iyuuuh banget -_- RT @stevmario bilang aja lo pada sirik RT @shillavg ReTweet !@ielstevent hahahaha Rio sama Ify

@shillavg mau tau aja kalian RT @stevmario RT @ielstevent eh ada @shillavg tumben neng ol ^^, eh dilemma kenapa?

@shillavg :) RT@angelicaaMP eh @shillavg kita sama-sama dilemma yah

@anggariko hey semuaaaaaaaaaaa

@ielstevent eh eh ada @anggariko , tumben ol, janjian lagi sama @shillavg (???)

@stevmario BISA JADI! RT @ielstevent eh eh ada @anggariko , tumben ol, janjian lagi sama @shillavg (???)

@ielstevent RT@shillavg iyuuuh banget -_- RT @stevmario bilang aja lo pada sirik RT @shillavg ReTweet !@ielstevent hahahaha Rio sama Ify

@ielstevent kalo lo kayak gitu sama @anggariko baru shilla sirik RT@shillavg iyuuuh banget -_- RT @stevmario bilang aja lo pada

@anggariko sehati kali yah (???) RT @stevmario BISA JADI! RT @ielstevent eh eh ada @anggariko , tumben ol,

@ielstevent ciheee jgn2 shila td dilemma gara2 lo RT @anggariko sehati kali yah (???) RT @stevmario BISA JADI!

@stevmario BETUL cie ada yang mau nyusul gw am ify nih RT @ielstevent ciheee jgn2 shila td dilemma gara2 lo RT @anggariko sehati kali yah (???)

@anggariko amiiiin (?) doa kalian menyertaiku (?) RT @stevmario BETUL cie ada yang mau nyusul gw am ify nih RT @ielstevent

@ielstevent udah dong ko tancap gas! Jgn biarin dia nunggu lama2 RT @anggariko amiiiin (?) doa kalian menyertaiku (?) RT @stevmario

@stevmario RT @ielstevent udah dong ko tancap gas! Jgn biarin dia nunggu lama2 RT @anggariko amiiiin (?) doa kalian menyertaiku (?) RT @stevmario

DM to @ielstevent and @stevmario from @shillavg MATILAH KALIAN BESOK!!!!!!!!!!!

@ielstevent eh gue dapet DM dari @shillavg , gawat nih. Mending kabyuuuuuur. Bubye tweepsie :)

@stevmario RT @ielstevent eh gue dapet DM dari @shillavg , gawat nih. Mending kabyuuuuuur. Bubye tweepsie :)

@anggariko ah @ielstevent sama @stevmario malah pada off, ikutan deh gue YM an aja.

Shilla sedikit geram mabaca isi-isi update an dari Iel dan Rio yang nyengcengin dia. Malu karena ada Riko juga disitu. Dibacanya tweet Riko yang mau OL Ym, Shilla mantengin YM nya dan men-log out twitter nya. Memang sudah sehati mungkin, Riko memberi Shilla chat. Shilla yang melihatnya langsung senyam-senyum sendiri. Dia langsung menikmati chat nya dengan Riko (?)

rikoganteng : hey shil :)
shillacantik : hey juga :3
rikoganteng : tadi anak2 ada2 aja tuh di twitter -__-
shillacantik : ia males banget -__-
rikoganteng : gak marah kan shil?
shillacantik : marah buat?
rikoganteng : engg…engga engga
shillacantik : yeee ;p
rikoganteng : belum tidur shil?
shillacantik : belum lahhhhh -_- lo ko?
rikoganteng : sama lah hehe lagi apa?
shillacantik : lagi online aja mantengin laptop bete nihhh lo?
rikoganteng : bete knp? sama ih lagi online aja
shillacantik : ga papa kok hehehehe gak ada pr kan?
rikoganteng : ngga kok, udah makan shil?
shillacantik : belum nih hehe sendirinya?
rikoganteng : kenapa? makan dong nanti sakit :D udah dong
shillacantik : gak nafsu nih
rikoganteng : yaaah
shillacantik : iyadeh nih mau makan abis ini
rikoganteng : okedeh, eh off duluan yah jangan tidur malem2 dan jagan lupa makan :)
shillaantik : emang kenapa ? :)
rikoganteng : nanti sakit loh :) night ya
shillacantik : night too.

rikoganteng is now offline

Shilla pu ikutan off. tak munafik hatinya berbunga-bunga ketika chat dengan Riko ditambah perhatiannya Riko kepadanya. dia keluar kamar sembari senyam-senyum sendiri. Mamah dan Ayah Shilla yang melihat tingkah Shilla sampai kamarnya yang masih aja senyum cuma geleng-geleng kepala. Shilla langsung membaringkan badannya di tempat tidur. ‘indah banget kalau hidup gue gini mulu tiap hari.’ batin Shilla sembari memeluk guling. Di sambarnya Hp yang sedari tadi dia tinggal dikamar. Ternyata ada 3 SMS masuk. Dari Iel, Rio, dan Ify.

From : Iel
Cieee shilla sama riko nih. Eh ampun ampun

From : Rio
Semoga sukses sahabatku. Doaku menyertaimu

From : Ify
Shil besok bawain buku mate lo yah ada yang blm gue catet

Shilla sedikit geram mambaca sms Rio dan Iel tetapi dia juga senang karena kedua sahabat lelakinya tu mendukungnya.

To : Iel ; Rio
Lihat nanti apa yang akan aku lakukan Ha Ha Ha. (eh btw doain aja.)

To : Ify
Siap!

Shilla langsung menonaktifkan HP nya dan kembali menuju ruang makan. Memenuhi amanat Riko, untuk makan. Dengan sigap dia makan. Si Mbo berdecak heran melihat Shilla yang makan dengan wajah berseri (?)
“Non Shilla tumben makan malem, biasanya makan cuma sekali sehari.”celetuk si Mbo yang berdiri di sudut meja makan. Shilla hanya nyengir sembari terus mengunyah makanannya.
“Biasa bi, paling disuruh pacarnya.”ledek MAmahnya yang sudah duduk di sebelah Shilla. Shilla menengok Mamahnya.
“Mamah apaan sih.”ucapnya lalu menyuapkan nasi dengan kesal.
“Tapi gak apa-apa loh Shil kalau pacar kamu bisa bikin anak Mamah gak kurus lagi. Mamah dukung.”jawab si Mamah, Shilla langsung tersenyum.
“Beneran Mah?”Tanya Shilla, wah ketauan ;p
“Ketauan yah pacaran.”ceplos si Ayah, Shilla nyengir. “Ya gak apa-apa pacaran kalau gak ganggu sekolah.”lanjutnya.
“Lagian Shilla belum resmi pacaran tuh.”ujar Shilla setelah meminum air putih. Makannya sudah beres.
“Yaudah Mamah doain biar cepet pacaran.”
“Amiiiiin.”
Karena males untuk terlibat banyak percakapan. Shilla langsung ke kamarnya untuk menonton TV sendiri di kamar.

Monday, June 7, 2010

Diary Sivia season 4 (LAST PART!)

Akhirnya Alvin telah usai membaca seluruh isi Diary Via. Semua curahan hati Via tertuang di dalamnya yang tak jauh membuat Alvin
semakin kehilangan sosok gadis manis itu. Sampai halaman terakhir yang Via isi.
Yang ia isi dengan aliran darah segar yang keluar dari hidungnya menetes
perlahan ke dalam diary tersebut. Bagaimana kelanjutannya?


***


Alvin menyadari air mata telah amat sangat membanjiri matanya dan berjatuhan ke Diary Sivia. Dipeluknya diary itu erat-erat. Seolah dia bisa menemukan kedamaian. Rasa sesal, sedih, marah,
segalanya berkecamuk di dalam batinnya. Dengan enggan dia melangkahkan kaki
keluar kamar. Dia baru sadar sekarang sudah larut malam. Tadi dia masuk kamar
pukul 11 siang. Dia langsung mandi dan berganti baju. Tak ada niat untuk makan.
Dia terlalu lelah karena seharian menangis.
Dia merebahkan badannya lagi. Kondisi badannya sudah lebih segar. Ia
taruh diary Sivia di mejanya. Lama kelamaan dia terjaga dalam tidurnya yang
lelap.


***


Iel melamun di balkon kamarnya. Biasanya dari sini dia bisa melihat Via yang sedang berbalas senyum dengannya. Walau jarak kedua balkon amat jauh, tapi ia masih
selalu bisa melihat senyum gadis itu. Kini yang ia pandang hanya balkon kosong.
Kamar gadis itu pun gelap bertanda sudah tak berpenghuni. Rumah gadis itu pun
sudah sepi, keluarga mereka juga kelelahan. Ditatapnya langit, seolah dilangit
dia akan mendapati Via sedang tersenyum padanya. Yang ia dapat hanya bintang.
Bintang yang amat terang. Ia ingin menjadi bintang, kapanpun dan dimanapun ia
berada akan selalu terang dan menemami semua orang.

Iel meraih HP nya dan melihat walpaper HP nya. Foto ia sedang bersama Via ketika sedang di taman. Ia menahan laju air matanya walau ia sadar air matanya sudah
tak dapat lagi ia bendung. Tapi ia berusaha menahannya, takut-takut gadis itu
mendapati ia sedang menangisi dirinya.


***


Ify tak tahu bagaimana perasaannya sekarang. Sedih. Sesal. Dia merasa bukan sahabat yang baik untuk Via. Pantaskah ia disebut sebagai sahabat jika ia sendiri tak
pernah menyadari keadaan si sahabat? Dia merasa telah gagal menjadi manusia
yang baik. Yang telah Tuhan titipkan seorang sahabat.

“Vi, maafin gue gak pernah ada disaat lo butuh gue. Maafin gue yang secara gak langsung suka ngegagalin rencana lo sama Alvin
buat jalan, tapi demi Tuhan semua itu tanpa gue sengaja Vi. Kenapa lo nggak
marah sama gue? Gue ngerasa bersalah Vi kalau kayak gini, terlebih kenyataan lo
sekarang udah nggak ada. Maafin gue yah Vi gue juga gak ada disaat lo dalam
masa-masa kritis. Disini gue cuma bisa doain yang terbaik buat lo. Makasih
banyak atas selama ini yang lo lakuin buat gue, dan kita semua.”ucap Ify
sembari menatapi fotonya bersama Via.

***


Keesokan harinya Alvin bangun dari tidurnya. Matanya masih sembab. Dia berusaha untuk tidak menangis
lagi hari ini. Dia juga sadar bagaimana keadaan si sahabat jika mendapati
sahabatnya itu sedang menangis. Dia mandi dan bersiap-siap untuk ke rumah Iel.
Dia bertekad untuk memperlihatkan Diary Via kepada Iel dan Ify. Mereka semua
juga berhak tau. Sebelumnya ia memberi tahu Ify dulu agar ke rumah Iel.

Sejam kemudian mereka bertiga sudah berkumpul di balkon rumah Iel. Biasanya mereka juga suka berkumpul, dengan Via pastinya. Wajah mereka berempat sebenarnya
sangat tidak memadai untuk diperlihatkan kehadapan orang-orang karena faktanya
wajah mereka sangat sembab dan kumel.

“Jadi?”ucap Ify membuat suasana hening itu lenyap. Mereka sudah sekitar 15 menit saling berdiaman dan berkutat dengan fikirannya masing-masing. Iel dan
Alvin
memandangi Ify.

Alvin mengeluarkan sebuah buku, Diary Via, dari dalam tas pinggangnya, “Nih.”kata Alvin sembari menyodorkan buku itu. Iel dan Ify saling berpandangan, heran.

“Itu diary Via yang waktu itu gue kasih kan?”Tanya Ify memastikan. Dia ingat betul diary itu. Alvin mengangguk, “Kok bisa sama lo
Vin?”tanyanya lagi.

“Waktu kemarin gue buka laci dia, gue nemuin ini……”jawab Alvin lirih. Dia tertunduk.

Belum sempat Alvin menyelesaikan ucapannya, Iel sudah tau, “lo baca semuanya Vin?”Tanya Iel
sembari menggeleng-gelengkan kepala. Sekali lagi, Alvin mengangguk, “Gila lo….”

“Tapi gue baca surat di depan diary itu.”kelak Alvin
tak mau dituduh macam-macam oleh sahabatnya itu. Dia membuka halaman awal diary
Via dan menemukan surat
itu, “Nih.”ucapnya seraya menyodorkan surat
itu. Iel dan Ify membaca bergantian lalu mengangguk.

“Jadi lo mau kita ikut baca?”Tanya Ify yang sekarang sudah mengerti.

“Iya. Tapi gue mohon, kalian bacanya sendiri-sendiri dan jangan pake emosi.”jelas Alvin, Iel dan Ify mengangguk.

“Gue yang baca duluan yah Fy?”pinta Iel sembari menatap Ify dengan tatapan memohon, Ify mengangguk.

“Satu lagi, jangan marah sama siapapun setelah lo baca diary itu.”ingat Alvin, Iel mengacungkan jempol. Akhirnya mereka pun berpamitan pulang.


***


Entah benar atau tidak keputusan yang telah ia lakukan. Keputusan untuk meminta sahabatnya yang lain terlibat untuk membaca diary Via itu. Ahhhh…… Alvin membanting tubuhnya
ke kasur. Dia malas untuk menangis lagi. Menangisi kepergian Via. Akhirnya
seharian ini dia habiskan untuk menonton film-film yang ia punya.

***


Iel merebahkan tubuhnya di kasur. Bersiap-siap untuk membaca peninggalan terakhir sang kekasih yang sudah damai disana. Dia menarik nafas dalam-dalam, lalu ia
mengubah posisinya yang tadinya tertidur menjadi duduk. Dia menegakkan
duduknya. Belum ia membuka laman pertama diary itu, tangannya sudah bergemetar.
Dia tarik nafas lagi, lalu ia hembuskan perlahan. Dengan yakin ia buka diary
itu dan mulai membaca.

2 jam kemudian Iel sudah selesai membaca diary itu. Diary yang sukses membuat dia menangis. Menangis histeris yang tak pantas dilakukan oleh lelaki sejati. Tapi,
apakah itu masih penting jika keadaan sudah seperti ini? Kini posisi iel sudah
terduduk di lantai. Di sebelah ranjangnya. Dia memeluk lututnya. Wajahnya pucat
pasi matanya tak kalah lembab seperti mata Alvin kemarin. Diary Via kini hanya tergoler
lemah di sebelah Iel. Iel hanya memandangi Diary Via dengan tatapan kosong.
Seandainya dia tahu sedari dulu akan perasaan Via… tapi…. Percuma juga
menyesal. Semua tak akan kembali. Rasa sesal terus menghantui dan yang ada
hanya membuat kita semakin terpuruk. Iel mencoba membuang fikiran negative yang
sempat menghampiri otaknya. Fikiran akan bodohnya dia telah mempercayai Via
untuk menjadi kekasihnya. Begonya dia yang telah menyayangi seorang gadis yang
jelas-jelas tak ada perasaan lebih kepadanya. Padahal sebelumnya dia tahu itu,
tapi dia hapuskan karena dia tak mau berfikiran yang tidak-tidak. Tapi ternyata
apa yang ia kira benar, nyata. Dia juga marah pada Via, mengapa Via tega padanya?
Tega tak membalas perasaannya ini? Tapi semua ia hilangkan, karena semua
tertutup dengan rasa ibanya kepada sang kekasihnya itu.


***

Kali ini giliran Ify. Iel telah mengantarkan sendiri diary ini ke rumahnya. Sama seperti Iel, rasa gemetar melandanya. Dia tepis peasaan itu. Yang ia butuhkan hanya
keberanian untuk membca diary peninggalan itu.

Kali ini butuh waktu 3 jam untuk menamatkan membaca diary itu. Mengapa lebih lama? Tangis Ify lebih dari segala tangis akan diary ini. Rasa sesal karena tak
menjadi sahabat yang baik terus membebani fikirannya. Kini ia hanya memeluk
diary itu dengan mengucapkan beribu-ribu maaf kepada si empunya. Berharap si
empunya mendengar maafnya. Seandainya dia tau perasaan Via terhadap Alvin, apakah rasa sesal ini
akan melandanya? Tidak. Tentu. Jika itu terjadi rasa bahagia yang akan
melandanya tetapi tetap saja, dia akan merasa sakit hati karena orang tersayang
telah dimiliki sahabatnya yang lain.

Ya, itulah perasaan Via saat itu. Ify mengerti. Dia tidak egois. Dia berjanji pada Via untuk selalu menjaga lelaki yang paling Via sayang. Berjanji untuk menjaga Alvin, untuk Via,
selamanya.


***



Setahun telah berlalu. Sekarang ketiga sahabatnya itu telah ikhlas sepenuhnya akan kepergia sahabatnya yang lain. Mereka bertiga juga masih bersahabat dengan
baik. Demi yang telah pergi tentunya. Kini mereka bertiga telah memposisikan
tubuhnya setengah duduk di samping makam sang sahabat. Mereka telah pandai
menahan laju emosinya.

“Vi, apa kabar? Maaf yah kita jarang kesini.”ujar Ify membuka percakapan sembari mengelus nisan yang menuliskan nama si sahabat, Sivia Azizah, “Kita sibuk Vi, sesuai
janji gue ke lo, sampai sekarang gue masih jagain Alvin buat lo Vi.”lanjutnya sembari melirik Alvin, terlihat Alvin
tersenyum ke arahnya, lalu Ify mengembalikan pandangannya ke nisan Via, “gue
juga jagain Iel kok. Kita bertiga masih sahabatan.”

“Vi, gue yakin lo tenang disana. Kita disini sudah ikhlas seutuhnya akan kepergian lo. Baik-baik yah Vi disana. Tuhan pasti udah bilang kan ke lo kalau kita sayang banget sama
lo?”masih Ify yang bersuara. Suara yang semakin lama semakin bergemetar, dia
menangis, menangis kembali setelah lama tak pernah menangisi sahabatnya.

“Via…”kali ini Iel yang sudah mulai bersuara. Dia pandangi makam di depannya ini. “Maaf, aku belum nemuin pengganti kamu. Mungkin kamu terlalu baik buat aku sampai
kiranya aku susah nyari wanita yang sama kayak kamu. Tapi bukan maksud aku buat
membandingi atau pelarian. Aku Cuma mau menuhin permintaan kamu itu. Suatu saat
putri buat aku akan datang. Dan itu yang bakalan jagain aku kan? Doain aku yah Vi supaya aku selalu
terjaga.”ucap Iel. Dia tersenyum. Tak ada rasa sedikit pun untuk ingin
menangis. Dia sadar, Via tak mau melihatnya menangis saat ini.

“Vi maafin gue buat selama ini. Maaf atas segala sikap gue ke lo. Makasih lo udah jadi sahabat terbaik buat gue dan kita semua. Lo udah ngasih warna terindah di hidup
kita Vi, warna yang gak akan pernah pudar oleh apapun. Maafin atas segala semua
sikap kita ke lo ya Vi. Kita akan selalu ngenang lo dan sayang sama lo.”ujar Alvin bijak yang
sebelumnya telah menyiapkan mental untuk berkata seperti ini.

Setelah berdiaman di sebelah makam Via, dan memanjatkan doa untuk Via, mereka semua sudah bisa kembali tersenyum lega. Lega. Sangat lega telah menengok sahabatnya
itu. Kini mereka pun sedang dalam perjalanan pulang. Dia dalam mobil hanya
suara sunyi yang tercipta. Tak ada kata apapun yang terlontar. Masih sibuk
dengan fikiranya masing-masing. Yang pasti mereka memikirkan satu hal yang
sama, mereka akan selalu bersahabat selamanya. Demi Via. Akan saling
melindungi, melengkapi dan menyayangi. Ini semua demi Via. Sahabat tersayang
mereka..


***


Malam yang pekat membuat ketiga makhluk Tuhan terjaga dalam tidurnya. Tidur yang lelap akan letih yang sedari tadi menerpanya. Kini ketiganya sedang merasakan
keanehan. Keganjalan. Mereka tiba-tiba dikumpulkan di suatu tempat yang sama
sekali tak disangka oleh siapapun. Mereka lalu berdekatan, saling memandang,
mereka juga saling mengangkat bahu. Salah satu dari ketiga makhluk Tuhan itu
mengedarkan pandangnya ke seluruh tempat. Tiba-tiba pandagannya terhenti
setelah memandang seseorang. Seseorang yang berjalan dengan pasti mendekat
menuju kepadanya dan kedua makhluk Tuhan lainnya.

“Hey.”sapa seseorang itu. Kini dia telah berdiri di depan ketiga makhluk Tuhan lainnya.

“Ini….kamu?”Tanya seorang lelaki tak percaya. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya, memastikan ini bukan khayalan.

“Iya Yel, ini aku……”jawab seseorang itu kepada yang bertanya, yang tak lain adalah Iel. Tiba-tiba seseorang itu melangkah menuju bangku yang sudah lengkap beserta mejanya. Pas
untuk 4 orang. Dia duduk disitu, ketiga makhluk Tuhan yang lainnya mengikuti.
Iel duduk disebelah seseorang itu, sedangkan yang lainnya di depannya. “Kaget
yah ada aku disini?”ucap seseorang itu lagi sembari tersenyum. Dia memandang
ketiga yang lainnya dengan penuh kehangatan.

“Kita kangen banget sama lo Vi……”ujar salah satu lagi dari makhluk Tuhan yang laionnya kepada seseorang itu, Via.

“Gue juga kangen banget sama kalian, sama lo apa lagi Fy.”jawab Via seraya menahan haru.

“Vi, maafin gue yaaaaa………”ujar Alvin, makhluk Tuhan yang tersisa, yang baru diketahui namanya. Dia menunduk sembari
menggigit bibir bawahnya, dia gugup, dia senang
tetapi rasa sedih kembali menerpanya.

“Apa yang perlu diminta maafin lagi Vin? Gue udah lupa sama semua kesalahan lo dan kalian.”jawab Via enteng, dia terus menatap Alvin yang belum juga mengangkat wajahnya.

“Maafin kesalahan gue Vi, selalu ngingkarin janji…..”belum selesai Alvin berbicara Via telah memotongnya.

“Gue udah denger semua ini kira-kira 50 kali loh Vin. Udah lah, apa lo gak capek minta maaf terus. Walau kita udah beda dunia gue masih selalu denger dan
ngawasin kalian. Tuhan baik sama gue. Gue juga udah nyampein salam lo ke nyokap
lo.”tutur Via tanpa beban. Dia tersenyum lalu mengangkat wajah Alvin. Dilihatnya mata Alvin
yang sedikit basah, Via tertawa lalu mendorong pelan bahu Alvin yang notabene duduk di depannya.
“Cengeng lo. Cowok juga. Iel aja gak nangis.”lanjut Via lalu melirik ke arah
Iel yang sedang menatap Via heran. Senyum kecut terukir jelas di wajah Iel.

“Berarti lo juga udah denger semua permintaan maaf gue ke lo Vi? Lo juga tau kalau kita semua baca diary lo? Lo maafin gue Vi?”Tanya Ify bertubi-tubi sembari mengepal
tangannya sendiri.

Via mengangguk lalu tersenyum, “Gue tau kalian baca diary gue, gue ngerasa sedikit demi sedikit beban gue sendiri hilang karena setidaknya kalian tau apa isi hati
gue. Malah gue juga harus minta maaf sama lo Fy. apa lagi sama kamu Yel.” Jawab
Via lirih lalu memandang Iel yang lalu mengangguk. Kini Iel tersenyum.”gue udah
pergi. Jangan bikin kepergian gue suatu beban buat kalian karena kalian mikir
gue belum maafin kalian. Jauh sebelum kalian minta maaf gue udah maafin
kalian.”jelas Via panjang lebar. Ify tak lagi kuat membendung rasa harunya pada
Via, perlahan dia menitikan air mata,deras, seakan membuat sungai di pipinya
yang bening. Via menarik tangan Ify pelan, lalu ia genggam, “jangan nangis Fy,
kalian harus kuat yah.”lanjut Via lalu mendelik ke arah Alvin, seperti memberi kode. Alvin menarik pelan kepala Ify, lalu ia
senderkan dibahunya.

“Kamu baik-baik aja kan Vi selama kamu pergi?”Iel akhirnya bersuara. Dia bertanya penuh hati-hati.

Via menoleh kearah Iel lalu melepaskan genggamanannya dari Ify menuju tangan Iel. “Aku bik-baik aja. Tapi aku akan lebih baik-baik aja kalau kamu nemuin
pengganti buat aku.” Bisik Via pelan sembari tersenyum jahil.”Kapan kamu mau
nyari pengganti aku? Kamu ganteng loh Yel. Tapi, maafin aku yah Yel atas semua
perasaan aku ke kamu…” Lanjutnya yang tak lagi berbisik. Iel menggeleng kuat
lalu mengusap lembut rambut Via. Via tersenyum.

“Banyak banget loh Vi yang ngejar-ngejar dia, tapi gak dia tanggepin.”timpal Alvin yang kini sudah bisa menetralkan persaannya. Begitu pula dengan Ify.

Via menoleh pada Alvin, “yang bener? Cerita dong pengalaman kalian selama setahun ini. Walau gue
ngawasin kalian dari atas, gue gak sepenuhnya tau loh. Tapi jangan ngebahas isi
siary gue. Gue gak mau. Yang ada malah acara nangis-nangisan”pinta Via sedikit
bercanda lalu terkekeh pelan.

Lalu mereka pun saling bercerita satu sama lain. Kadang mereka terlibat akan pembicaraan yang serius ketika membicarakan posisi Alvin yang kini ketua Futsal, sedangkan Ify sebagai
wakil ketua OSIS, dan Iel, kapten basket. Mereka juga bersenda gurau jika
sedang membicarakan para guru beserta wanita-wanita tidak jelas yang
mengejar-ngejar Iel. Mereka melepas rindu satu sama lain. Sudah tak ada beban
kali ini.

“Udah lama nih, gue pamit yah. Inget loh, kalian harus saling melindungi. Gak boleh musuhan. Kalau musuhan gue marah! Kalian gak boleh main rahasia-rahasiaan.
Harus saling terbuka dan jujur. Alvin
jagain Ify yang bener, langka tuh cewek. Ify juga jagain Alvin. Iel, buruan yang cari cewek, aku gak
mau kamu dijagain sama Alvin Ify mulu, cari cewek yang bisa jagain kamu. Oke?
Inget loh, kita semua sahabat. Walau gue udah gak ada kita semua masih sahabat kan? Tau kan kalau istilah itu, ‘Sahabat
adalah saudara yang lupa Tuhan beri kepada kita’.?”tutur Via panjang lebar
dengan wajah serius, tetapi senyum tetap bertengger diwajahnya. Ketiganya
mengangguk. Mereka pun saling berpelukan. Ini adalah suatu perpisahan yang amat
berat. Tetapi lebih indah dari pada perpisahan dengan Via yang dulu, yang
sangat tiba-tiba. Mereka sudah bisa menguatkan diri mereka. Via berjalan menjauh
dari meja itu, dan menaiki kuda putih yang mengantarnya dari tempatnya selama
ini. Setelah menaiki kuda putih itu, dia masih terus melambaikan tangan untuk
ketiga sahabat terbaiknya di dunia. Sahabat yang tak pernah digantikan
posisinya. Kini Iel, Ify, dan Alvin
telah terhilang dari beban salama ini.


***


Ketika cinta datang

Datang dan langsung membuyarkan lamunanku

Lamunan akan asa yang mengganjali hati

Ketika itu rasa kikuk menghampiriku

Kikuk akan datangya perasaan yang amat sensitive ini

Perasaan yang teramat sakral

Perasaan yang juga sudah digarisi oleh sang Khalik

Aku tahu, cinta itu indah

Tapi, apa masih bisa dibilang indah jika cinta itu sendiri bertepuk sebelah tangan?

Cinta datang ketika kita tak siap untuk menerima kehadirannya.

Itulah anugerah Tuhan.

Anugrah yang harus kita jaga kesuciannya

Kini aku berfikir….

Mengapa cinta tak harus saling memiliki?

Mengapa? Jika demikian bukankah lebih baik perasaan ini tak usah menhampiri?

Ya ya ya… aku mengerti

Dengan adanya teori itu, bukankah kita belajar untuk ikhlas?

Untuk merelakan orang yang tercinta bahagia dengan pilihannya

Bukankah itu bukti ketulusan cinta?

Munafik.

Munafik sekali aku jika aku ikhlas

Aku tak rela membiarkannya bahagia dengan orang lain selain aku

Walau aku tahu itu munkin yang terbaik untuknya

Itukah cinta?

Dengan kata lain cinta adalah perasaan saling manyakiti?

Rumit. Sangat.

Aku malas ketika mendapati diriku harus berhubungan dengan ‘penyakit’ hati ini.

‘penyakit’ yang pasti melanda semua insan di bumi.

Dan juga ‘penyakit’ yang seketika bisa teramat menyakitkan

Aku tak yakin dapat menjaga anugerah ini dengan baik.

Anugerah yang terlalu berat untuk aku pikul dan terlalu terjal untuk aku lalui.

Anugerah yangsangat indah jika kedua insan saling mencintai

Aku harus lebih banyak belajar dalam teori cinta ini.

Eh…bukan hanya teori tetapi juga prakteknya bahwa cinta tak harus memiliki.

Tapi Hey…..

Bagaimana jika seseorang mencintai orang lain yang jelas orang lain itu mencintai yang lainnya? Paham?

Apakah orang yang ‘dicinta’ harus menerima cinta dari yang ‘mencinta’ ?

Bukankah itu suatu kedustaan atas anugerah ini?

Dengan begitu kita sudah mengotori anugerah yang sakral itu bukan?

Tapi sesaat aku berfikir,

Selama itu bisa membuat orang lain tersenyum mengapa tidak?

Bukankah cinta juga harus rela berkorban?

Rumit, sangat rumit.

Aku lelah menggeluti dunia dan permasalahan akan ‘penyakit’ hati ini.

Terlalu indah…. Tapi, seketika bisa sebegitu……pahit.

Hingga akhirnya aku benci terkena ‘penyakit’ atau sudah layak disebut ‘virus’ ini.

Tapi aku yakin, serumit apapun itu semua sudah ada jalannya

Jalan yang terbaik yang sudah ditetapkan dan digariskan oleh sang khalik.

Jauh sebelum uhan menciptakan semuanya.

Kita hanya menjalani perjalanan ini bukan?

Menjalani sebaik-baiknya tanpa ada rasa sesal nantinya.

Rasa sesal ketika hal itu sudah menghilang, bukankah rasa kehilangan baru terasa jika kita sudah ditinggalkan?

Aku tak mau merasakan pahitnya cinta.

Yang aku harap, cinta yang indah segera menghampiriku.

Diary Sivia season 3

Sivia mencurahkan semua isi hatinya kedalam Diary bersampul ungu itu. Dia juga menuliskan ketika rencananya merayakan hari persahabatannya dengan Alvin yang ke 15 gagal karena Alvin harus menemani Via, dan disaat itu pula Via ambruk pingsan. Untung ada Irsyad yang menolong sampai ahirnya Via dilarikan ke rumah sakit. Via sangat menantikan Alvin untuk menjenguknya, tapi dia tak datang. Tak bisa. Alhasil hanya Iel yang menemaninya di rumah sakit kala itu. Dan lagi-lagi rencana Via dan Alvin untuk jalan bareng gagal. Lagi-lagi karena Ify. Makin geramlah Via terhadap Ify. Tapi tak mungkin ia memendam perasaan seperti itu. Sampai akhirnya dia menangis di taman, seorang pemuda menyanyikannya sebuah lagu, yang tak lain adalah Iel. Iel yang menyayanginya lebih dari sekedar sahabat menghibur Via ketika Via sedang mengalami kegalauan hati. Sampai ketika Iel dan Via akhirnya resmi pacaran. Dan lagi sikap Ilel yang romantis membuat Via melupakan penyakitnya itu. Bagaimana kelanjutannya?

***

22 Juni 2009

Dy maaf aku udah lama ninggalin kamu. Aku sakit lagi Dy. Aku mulai lemes buat jalan. Kadang buat ngebuka mata aja aku uah enggan Dy. Terlalu lemah kondisi aku sekarang ini. Darah udah mulai menetes di halaman kamu. Maaf Dy udah bikin kamu kotor. Maaf yah aku gak bisa jadi ‘majikan’ yang setia curhat sama kamu. Aku ini lagi di rumah sakit Dy. Tadi waktu aku mau mandi aku pingsan gak tau tepatnya kenapa. Dyyyyyyy, aku kangen Alvin :’( . sekarang dia terlalu sibuk sama Ify. Aku sirik Dy aku sirik. Aku sebel sama Ify karena dia udah ngerebut perhatian Alvin ke aku. Tapi……pantaskah aku masih sayang sama dia? Masih mengharapkan kasih semu itu? Padahal jelas-jelas ada Iel yang sayang sama aku. Ya Allah sulit sekali menjalani kenyataan ketika itu tidak sesuai harapan. Aku tau cinta tak harus memiliki, tapi terlalu sulit untuk mempraktekannya. Rasanya ingin menghapuskan istilah itu dan menggantinya bahwa cinta harus saling memiliki. Tapi itu mustahil. Toh kenyataan aku mencintainya tapi aku tak akan pernah memilikinya. Seharusnya aku bersyukur masih ada Iel yang masih tulus padaku. Maafin aku Yel aku belum bisa jadi pacar yang baik buat kamu. Aku gak tau apa yang bakal kamu ucapin waktu kamu tau semua isi hati aku. Seandainya kamu tau, kamu marah, aku siap Yel karena aku tahu aku udah jahat sama kamu. Tapi tenang Yel, aku selalu ngehargain kamu dan sedikit-sedikit aku mulai menanamkan perasaan aku sama kamu. Maaaf bukan aku gak mau nyoba lebih dalam buat sayang sama kamu, tapi apa harus 2 pria yang membuatku sakit jika aku sudah pergi? Cukup Alvin Yel yang bikin aku kadang gak rela buat ninggalin dunia. Kamu ngerti kan maksud aku Yel? Kamu sayang kan Yel sama aku? Tolong jangan paksa aku buat sayang sama kamu! Maaf kalau aku egois, tapi ini masalah hati. Aku takutttttt……..aku memikirkan kalau nanti aku pergi. Hanya itu Yel. Maaf kalau orang itu Alvin bukan kamu. Tapi kamu akan selalu dihati aku Yel, kamu orang yang paling pertama aku ceritakan pada malaikat ketika aku sedang ‘ditanya’ nanti. Udahan Yah dy, mungkin ini laman terpanjang aku. Aku udah pusing banget nih gara-gara darah keluar mulu. Ups sekarang jam….11 Dy, mamah keliatan capek banget gara-gara nungguin aku . untung besok hari minggu. Eh tapi apa alesan aku ke Iel dan yang lainnya? Gimana nanti deh. Udahan yah Dy aku mau tidur, biarin darah ini terus ngalir. See you :*

Alvin menangis. Menangis sejadi-jadinya. Rasa sesal berkecamuk di dalam benaknya. Rasa sesal yang bgitu dalam kini menghantuinya, mengapa ia baru tahu akan perasaan Via saat dia sudah pergi? Jalan hidup memang susah ditebak. Dia merapatkan lembaran diary itu ke pipinya. Seolah diary itu masih menyimpan halusnya tangan Via. Tapi yang dia raba bukan bagian yang bersih, tetapi bagian yang terkena tetesan darah. Sembari mengelus dengan pipi, dia berharap bahwa Via akan berada di sampingnya lagi. Dia lanjutkan membuka laman diary itu yang tinggal 2 lembar itu.

13 July 2009.

Hey Dy, kondisi ku mulai membaik tapi kebanyakan memburuknya. Tapi tapi tapi aku udah mulai kuat kok buat nulis dan gak sering mimisan lagi. Hu obatnya nambah banyak nih padahal gak usah minum obat juga gak apa-apa kali toh umur aku gak akan lama lagi. Iyakan? Eh aku ada kabar seneng nih, hari ini aku 2 bulan loh sama Iel. Tapi kita gak kemana-mana Dy. Kita cuma ke taman buat ngelukis. Tapi itu cukup buat hati aku seneng banget dan ngelupain semuanya. Seperti biasa, Alvin sibuk sama Ify. Tadi aku bercanda-canda sama Iel. Pulang sekolah langsung nyamperin aku ke kelas dan langsung nyulik aku hahaha bawa aku ke taman. Terus kita beli balon, di balon kita corat-coret pake spidol, aku nulis, ‘aku sayang sama Iel dan aku pengen jadi yang terbaik buat semuanya’, Iel langsung meluk aku waktu dia baca itu. Pelukannya hangat. Hangat sekali. Tapi aku ingin merasakan pelukan Alvin. Eeeeeeh mulai ngaco, aku bales meluk dia. Terus dia nulis , ‘aku sayang via dan pengen selalu bikin dia seneng.’ Aku tadi natap mata dia cukup lama. Dari sorot mata aku mencoba mendapat sorotan yang berbeda. Dan itu ada, entah apa, aku merasa tatapannya hangat, berbeda dari biasanya. Tapi ini membuat aku hangat. Spontan aku meluk dia. Gak tau kenapa. Mungkin sadar akan waktu aku gak mau nyia-nyiain waktu yang tinggal dikit lagi ini. Aku ingin selalu sama Iel walau dia bukan orang yang aku sayang. Tapi toh orang yang aku sayang seneng-seneng sama orang yang dia sayang. Orang yang besar orang yang mampu menerima kekalahan bukan? Apalah itu yang pasti aku seneng banget hari ini. Makasih ya Allah udah lumayan lama semenjak masuk rumah sakit aku gak kumat. Karena minum obat teratur kali yah? Tapi baguslah. Eh tadi balonnya kita terbangin. Terus aku sama Iel ketawa ketiwi. Segini dulu yah Dy, eh tulisan aku rada bagusan kan? Walaupun gak sebagus dulu ^^.

Dengan enggan Alvin membaa halaman terakhir ini. Melihat tanggalnya saja membuat Alvin mengumpulkan semua tenaganya. Itu 2 hari yang lalu. Sehari sebelum Via meninggal. Sempat-sempatnya dia menulis? ‘Via………jika ku sadari kau terlalu berarti untuk meninggalkan dunia ini’ batin Alvin.

12 Agutus 2009.

Keadaan aku hari ini udah ngedrop banget. Aku sempet koma selama 2 hari. Saat koma aku hanya menemui bayangan putih yang tak jelas arahnya. Dan hingga aku sadar hanya ada Iel dan Mamah disini. Mereka yang sejak itu menemaniku. Sahabat yang aku nantikan tak ada. Aku ingat! Sebelum koma aku sama Alvin sempet janjian mau jalan ke café coklat. Udah lama banget, apalgi semenjak Alvin jadian, kita gak kesana. Tapi yayayayayayaaaaaaaa Ify ngajak Alvin nemenin dia ke butik buat nyiapin gaun buat nikahan Kakaknya, Kak Shilla. Apa hak aku sih ngelarang? Dari situ aku lari ke taman. Aku bukan pacar yang baik buat Iel, diam-diam aku menangisi lelaki lain. Untung Iel lagi ke Bogor nengokin omanya. Kalau ada disini kan bakalan ketauan aku kalau aku ke taman, nangis lagi. Oh iya, kalau nanti aku udah gak ada, bilangin ke Iel dia harus nyari pengganti aku buat jagain dia yah Dy hehe. Hem Dy sebelumnya aku gak yakin bisa nulis dihalaman kamu di hari-hari berikutnya. Aku rasa ini laman terakhir aku. Makasih yah Dy selama ini mau jadi tempat curhat aku. Maafin kalau aku ada salah. Doain aku yah Dy, aku capek nih capek banget, rasanya buat ngedetakin jantung aja aku terlalu lemah. Doain aku Dy. Maaf nih yah sekali lagi lembaran kamu kotor sama darah sialan ini. Makasih :***************

***

To : Alvin jelek
Jadi ke cafe coklat?

From : Alvin jelek
Jadi dong. Setengah jam lagi lo harus ada di depan rumah gue

To : Alvin jelek
Dimana2 cowo kali yang nyamperin cewe

From : Alvin jelek
Bodo :p. mau gak?

To : Alvin jelek
Iyedeh. Tunggu gue aje

Via senyum-senyum membaca pesan dari Alvin, dia merasa mungkin ini terakhir kalinya dia bisa mengirim sms. Mungkin dia sudah mendapat kode dari Sang Pancipta. Tak mau memikirkan itu terlalu lama, dengan segit dia bersipa-siap. Setelah siap dia langsung pamitan dan ke rumah Alvin. Dia teriak dari pagar rumah Alvin, “alvinnnn!!!!!!!!!!!!!” kebiasaan yang sudah lama ditinggalkan. Terlihat Alvin sudah keren dengan kaos dan celana pendeknya tampak dari pintu rumahnya.
“Aduh Via gak usah teriak-teriak!.”keluh Alvin sembari menghampiri Via.
Via memamerkan deretan giginya, “Udah lama Vin gak teriak kayak gini.”jawabnya enteng.”Udah siap Vin?”lanjutnya.
“Hem sorry Vi.”wajah Alvin langsung berubah ekspresi, “gue mau nganterin Ify, gak apa-apa kan?”
Ingin rasanya Via protes disitu, berteriakmemaki Ify di depan sahabatnya itu. Tapi apa? Via hanya tersenyum yang baru saja Via buat dengan susah payah, “Oh yaudah gak apa-apa, gue ajak Ozy aja.”jawabnya enteng dengan senyuman yang dipaksa.
“Maaf banget yah Vi lain kali sehari full gue buat lo deh.”ujar Alvin, Via meringis, ‘kapan? Umur gue gak lama lagi Vin’ batin Via, dia memalingkan wajahnya.
“Santai aja lagi.”kata Via sembari menepuk pundak Alvin, dia tak berani menatap mata Alvin. “Gue cabut yah, Daaaaaah.”pamit Via yang langsung membalikkan badan untuk berjalan ke arah taman. Dia berjalan dengan tergesa-gesa. Ingin sampai di taman untuk….menangis. setibanya ditaman dia duduk di tempat dia menangis dulu akan perihal yang sama. Dia memeluk lutut dan membenamkan wajahnya. Air mata tak hentinya mengalir membasahi pipi dan menetes perlahan ke rerumputan.
“Ya Allah apa harus begini kalau sahabat kita pacaran? Apa harus sang sahabat yang menjadi korban kecuekan sahabat lainnya? Apa itu masih bisa dianggap sahabat? Aku gak tau berapa lama lagi di dunia, yang aku mau cuma ngabisin satu hari sama Alvin, apa itu gak bisa? Kenapaaaaaaaaaaa? Aku benci!!!!!!!!!!!! Kenapa gak bisa? Apa karena aku sudah punya Iel? Hanya ituuuuuuuuuuuuuu? Aku gak terimaaaaaa………..”Via terus berteriak dalam hati sembari terus menangis. Lama sekali dia menangis, ‘mungkin ini terakhir kalinya gue nangis disini’ batinnya lagi, tak lama pandangannya mulai kabur, darah segar mengalir dari hidungnya. Dia terjatuh dan tersungkur. Dia pingsan. Setengah jam setelah dia pingsan, Tante Ucie, ibunda Ozy lewat taman dan menemukan Via sudah tergeletak tak berdaya. Dia langsung membawa Via ke rumah sakit. Tante Ucie sudah tau mengenai penyakit Via. Setibanya di rumah sakit, Tante Ucie langsung mengabari Mamah Via. Tak lama mereka pun berkumpul dan menunggu dokter keluar dari ruangan. Akhirnya yang dinanti pun keluar dari ruangan.
“Keadaan Via gimana dok?”Tanya Mamahnya setelah dokter keluar dengan nada khawatir.
Dokter menghela nafas, “keadaannya sudah sangat kritis. Kita tinggal menguatkan diri saja dan banyak berdoa kepada Tuhan.”jawab si dokter. Mamah Via langsung menangis di pelukan Tante Ucie.
“Via masih koma dan akan kami pindahkan ke ruangan khusus. Harap keluarga mengurusi administrasi.”lanjut Dokter lalu pergi.
Mamah Via dan Tante Ucie terlihat shock melihat keadaan Via yang belum sadar-sadar juga. Dia koma. Kritis. Sekarat. Mamah Via baru terfikir untuk mengabari pacarnya, Iel. Diraihnya ponselnya dan segera mencari nama Iel di kontaknya. Beruntung dulu dia sempat menyimpan nomer Iel.
“Halo tan ada apa?”Tanya Iel diujung sana, terdengar nada heran.
“Kamu dimana Yel?”Tanya Mamahnya balik.
“Aku baru aja sampe Jakarta, kenapa tan?”
“Via dirawat Yel, keadaannya kritis, kamu bisa kesini?”
“Dimana tan rumah sakit mana?”Tanya Iel panic, dari nada suara tak bisa menyembunyikan bahwa dia benar-benar khawatir.
“Di rumah sakit pelita kamar nomer 309.”
“Iya tan Iel segera kesana.”
Klik. Telfon terputus. Kini Ibu Ucie dan Mamah Via sedang duduk di sofa, menemani Via. Ruangan Via sudah dipindahkan, bukan lagi di ruangan ICU, mereka memandangi Via dengan tatapan nanar. Tak tega melihat gadis yang amat mereka sayangi tergeletak tak berdaya. Mereka iba melihat kondisi Via. Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka, Ozy dan Riko datang, mereka anak Bu Ucie sekaligus sepupu Via begitu melihat kondisi Via, Ozy langsung duduk di sebelah ranjang Via, diraihnya tangan Via, dia genggam tangan yang lemah itu. Dia usap pelan di pipinya.
“Kak Via harus kuat Yah, ada Ozy disini yang siap kakak lukis kapanpun. Ozy kangen kaka. Kaka janji yah sama Ozy buat bangun?”ujarnya lembut. Perlahan air mata mengaliri pipinya. Air mata yang sedari tadi sudah menumpuk di pelupuk matanya. Riko juga menatap Via dengan tatapan memberi semangat, dia tidak menangis walaupun matanya sudah berkaca-kaca. Tak lama Iel pun datang. Dia tak percaya ketika melihat Via terbaring lemah. Ozy menyingkir dan duduk di pangkuan ibunya, Tante Ucie. Iel duduk ditempat yang barusan Ozy tempati. Digenggamnya tangan Via kuat-kuat seolah dia ingin mentransfer seluruh tenaganya untuk Via. Dibelainya rambut Via dengan kelembutan. Ditatapnya Via dengan kehangatan. Tapi itu belum mampu membuat Via tersadar.
“Via sakit apa Tan?”Tanya Iel akhirnya, dia gak percaya kalau Via hanya menderita magh kronis.
Mamah Via menggeleng, seolah meminta Iel untuk tak membuatnya membeberkan penyakit Via, “biar Via yang bilang nanti.”jawabnya.
“Dari kapan Via disini tan?”Tanya Iel lagi.
“Jam 11 Yel.”jawab Mamah Via. Dia lihat jam, sekarang sudah jam 3 . Dia duduk di bangku samping tempat Via tergoler lemah, tanpa melakukan aktifitas yang lainnya. Mamah Via dan Tante Ucie berusaha menguatkan dirinya sendiri. Ozy dan Riko sudah pulang. Mereka tak kuat jika harus berlama-lama melihat sepupu mereka itu. Iel akhirnya tertidur di samping ranjang Via. Tangannya masih mengenggam erat tangan Via. Genggaman yang hangat.
Tante Ucie sudah pulang dari rumah sakit, kini tinggal Iel dan Mamah Via yang ada menemani Via. Belum ada tanda-tanda akan sadarnya Via. Iel terbangun. Diliriknya jam, setengah 10. dia melihat kalender di HP nya, tanggal 10 Agustus. Dia taruh lagi HP nya di meja. 3 hari lagi tepat 3 bulan ia dan Via berpacaran. Masih sebentar memang, tapi kenangan yang tergores terlalu banyak. Tiba-tiba mamah Via terbangun dari tidurnya.
“Nak Iel, lebih baik kamu pulang dulu. Kasian kamu baru pulang dari Bogor langsung kesini.”ucap Mamah Via dengan senyuman lalu mendudukan posisinya yang asalnya terbaring.
Iel mengangguk, “Iel pulang dulu yah Tan, besok pagi Iel langsung kesini kok. Ada yang mau tante titipin biar besok Iel bawain?”jawabnya. sangat enggan untuk meninggalkan Via barang 5 menit.
“Ngga usah. Udah tante titipin ke Tante Ucie.”jawab Mamah Via.
“Iel pulang dulu yah Tan, kalau ada apa-apa langsung hubungin Iel.”pamit Iel setelah mencium punggung tangan Mamah Via. Mamah Via mengangguk, Iel meninggalkan ruangan.
Iel membawa mobil dengan keadaan rapuh. Tak tega melihat kekasihnya tergeletak tak berdaya. Ingin rasanya mengganti posisi dengan gadis itu. Terlalu baik gadis itu untuk mengalami hal setragis ini. Mengapa takdir Tuhan terlalu kejam?
Keesokan harinya sekitar jam 9 Iel sudah berangkat menuju rumah sakit. Mamah dan Papah Iel sudah mengetahui kedaan Via. Mereka hanya bisa terus mendoakan Via yang terbaik. Setibanya di kamar Via, dilihatnya Mamah Via yang baru keluar dari kamar mandi. Wajahnya sudah lumayan segar, tapi lembabnya mata masih menempel di wajahnya. Iel bersalaman dengan Mamahnya Via.
“Tante sarapan dulu ya Yel di kantin, kamu udah sarapan? Mau sekalian tante beliin?”ujar Mamah Via sembari mengambil dompet di lemari.
“Iel udah sarapan tante dirumah. makasih”jawab Iel manis lalu melangkahkan kaki untuk duduk di sebelah ranjang Via.
“Tante nitip Via yah Yel.”pamit Mamahnya lalu pergi meninggalkan rungan.
Diraihnya tangan Via yang masih tergeletak lemah tak beraya. Dia usap lembut pipi Via. Dia rindu akan senyuman Via yang mempunyai lesung itu. Ia rindu suara, celotehan, dan keluhan Via. Dia rindu candaan Via. Tak terasa ia menitikan air mata. Walau tak deras. Yah, dia pria. Takutnya Via sadar dan melihat lelaki itu menangis. Dia menguatkan dirinya walaupun hatinya sendiri sudah meronta, tak kuat menahan lebih dalam lagi. Dia baru ingat akan sosok sahabat mereka yang lain. Diraihnya Hp lalu ia segera mencari kontak , “Alvin Jonathan” dia tekan tombol berwarna hijau lalu menunggu nada diangkat.
“Kenapa Yel?”Tanya Alvin yang sepertinya baru bangun tidur.
“Lo dimana Vin?”Tanya Iel balik. Tak menjawab pertanyaan Alvin.
“Dirumah. Kenapa?”jawabnya enteng.
“Lo tau Via dirawat?”Tanya Iel lagi, Alvin menegakkan badannya, “dia koma Vin.”lanjut Iel, nadanya lirih.
Alvin tercengang, dia tak mampu mengucap apa-apa lagi, “dari kapan?”
“Udah 23 jam.”jawab Iel, nadanya lemah. “Lo gak kesini buat nengok sahabat lo ini?”
Alvin bimbang, inikah yang namanya sahabat? Ketika sang sahabat jatuh sakit ia malah bersenang-senang? “Gue mau nemenin Ify ke pesta temennya Yel.”jawab Alvin merasa bersalah. ‘maafin gue Vi gue bukan sahabat yang baik.’
“Lo gak mau nengokin sahabat lo dari kecil ini Vin?”
“Sorry Yel gue ada janji sama Ify, ada lo yang bisa jagain dia. Maaf.”
“Tapi gue harap sebagai sahabat yang baik lo nengokin dia.”
“Gue janji gue bakalan nengokin dia.”janji Avin. Tanpa menjawab Iel langsung menutup telfonnya. Ingin marah rasanya mendengar jawaban Alvin tadi. Dia lebih mementingkan sang pacar daripada sahabat. Karena sebenarnya dia tahu….Via sangat menginginkan kehadiran Alvin saat ini. Ya, Iel sedikit tahu perasaan Via.
Sudah jam 5 sore. Iel masih setia menunggui Via. Mamah Via ijin pulang dulu untuk membenahi pakaian-pakaian Via. Iel tak bosan-bosannya hanya duduk disamping Via sembari mengelus-ngelus rambut, pipi dan tangan Via. Tak tahu apa yang harus dia ungkapkan untuk mengeluaran semua gurat kesedihan dan emosinya.
“Vi, kamu janji yah sama Aku kamu bakalan kembali bangun? Kamu bakalan ngelukis bareng sama aku? Kamu bakalan nasehatin aku? Kamu bakalan nyuruh aku makan kalau aku lagi males? Kamu bakalan nasehatin aku kalau aku lagi marah sama orang tua aku? Kamu mau kan Vi ngelakuin itu lagi? Bangun dong Vi, kasih aku satu senyuman dan bila perlu sebanyak-banyaknya yang kamu mampu. Jangan tinggalin aku. Kita bersama baru sebentar Vi. Aku pengen ngabisin banya waktu lagi sama kamu. 2 hari lagi kita 3 bulanan loh Vi. Aku nyanyiin lagi kmu lagu. Mau dimana? Di taman? Di café? Dimaa aja terserah kamu asal kamu janji kamu bakalan bertahan buat aku, buat semuanya. Kamu gak kasian sama Mamah kamu yang udah nangis itu Vi? Aku sayang sama kamu.”Iel akhirnya melontarkan kata-kata yang berkecamuk dia dalam otakya. Walau belum semuanya. Ia tak tahu harus berkata apalagi. Digenggamnya tangan Via kuat-kuat. Tak mau sedikit pun melewatkan denyut nadi Via.
Mamah Via sudah kembali ke rumah sakit. Iel pulang karena sudah pukul 7 dan dia juga harus beristirahat. Seperti kemarin, dia janji untuk kembali pada pagi hari di hari esok. Mamah Via tau apa yang sangat Via butuhkan. Dia membawakan Via diary nya. Diary yang tak pernah dibuka oleh siapapun selain dirinya. Mamah Via tau betapa besar arti diary itu karena diam-diam ia suka mengintip jika Via menulis diary itu sembari menangis, tersenyum.
Terbenam keraguan pada hati Iel, ragu akan kesembuhan Via. Dia sendiri tak tahu mengapa itu ada di benaknya. Apakah karena dia berfikir realistis? Mungkin dia harus lebih menguatkan diri. Sudah 47 jam Via tak sadar. Iel sekarang masih saja setia menunggui Via. Tak akan pernah rela kehilangan sedikit pun gerakan Via saat ini. Mamah Via pun iba melihat Iel yang sangat menyayangi gadisnya itu tak tahu apa-apa mengenai penyakit Via, yang ia tahu Via hanya koma. Hanya itu. Tanpa alasan yang pasti, ‘Vi, kamu bangun yah. Setidaknya kamu jelasin dulu sama semuanya apa yang terjadi sama kamu.’pesan mamahnya dalam hati sembari menatap Via dari sofa yang ia duduki.
Tiba-tiba Hp Iel yang di silent itu bergetar.
From : Alvin Jonathan
Gmn Via?

Sedikit emosi membaca pesan Alvin itu.
To : Alvin Jonathan
Masih koma . lo gak mau ksn?

From : Alvin Jonathan
Gue masih punya janji sama Ify, nanti malem gue kesana deh.

To : Alvin Jonathan
Emg Ify gak tau keadaan Via gmn?

From : Alvin Jonathan
Tau, tp gmana? Kita sibuk

Iel tak menjawab pesan dari Alvin. Setega itu kah sang sahabat yang dibilang sahabat sejati itu? Iel tertidur di sebelah Via. Tiba-tiba tangan Via bergerak, Iel langsung sadar karena sedari tadi dia mengeggam kuat tangan Via. Dengan sigap dia memencet bell rumah sakit. Tak lama dokter datang dan memeriksa keadaan Via. Mamah Via dan Iel menunggu cemas diluar kamar. Malam Via sadar, jam 8. untung masih ada dokter. Dengan sepenuh harapan mereka menunggu kabar baik itu datang.
“Kedaan Via mulai membaik. Sekarang dia sudah sadar. Tapi jangan membuat dia melakukan banyak gerakan.”ucap si dokter setelah keluar dari ruangan. Mamah Via dan Iel mengangguk dokter beserta para suster meninggalkan mereka dan mereka pun segera masuk ke dalam kamar.
“Ma…..mah…..I….el…..”ucap Via terbata-bata. Mamah Via mendekati Via dan mengelus lembut rambut Via. Iel tahu ini bagian terpenting untuk seorang ibu dan anak.
“Via, kamu harus bertahan yah?”ucap mamahnya sembari mengelus rambut Via. Via hanya tersenyum. Senyum yang mereka rindukan.
“Via gak janji Mah, Via capek.”jawabnya. suaranya sudah mulai stabil. Mamah Via mengeluarkan air mata. Iel mendekati ranjang Via.
“Kamu tahan yah Vi, demi kita semua yang sayang sama kamu.”pinta Iel dengan senyuman tulusnya walaupun sebenarnya ingin rasanya dia menangis seperti Mamah Via.
“Makasih ya Yel, aku tau kok kamu yang udah nungguin aku koma. Makasih banget. Maaf kalau waktu kita cuma sebentar.”ujar Via. Iel tak mampu menahan air matanya. Via melirik mamahnya yang masih mengeluarkan air mata. “Mamah jangan nangis ya, demi Via mah.”Mamah Via mengagguk. Via menghapus air mata Mamahnya dengan ujung telunjuknya.
“Mamah ke mushola dulu yah.”pamit mamahnya yang langsung bangkit pergi. Dia ke musola untuk mengucap syukur pada Allah atas kesadaran gadisnya itu. Dan meminta Allah untuk tidak mengambil putrinya secepat itu.
“Vi, kamu sakit apa?”Tanya Iel akhirnya, lalu dia duduk di samping ranjang Via.
“Aku kanker Yel kanker otak.”jawab Via enteng sembari terkekeh. Iel tercengang. “Alvin mana?”tanyanya ketika menyadari tidak adanya kehadiran Alvin.
“Alvin lagi sama Ify, mau aku suruh kesini?”Tanya Iel gesit sembari meraih HP nya yang ia simpan di kantung celananya.
Via menggeleng, “Gak usah. Mereka kan lagi seneng-seneng. Masa karena aku mereka malah ikutan kesusahan?”jawabnya lagi. Iel tersenyum miris. “Alvin sama Ify udah nengokin aku?”lanjutnya. Iel tak tega untuk melakukan ini, Iel menggeleng lemah. Via ingin menangis tapi buru-buru dia tahan dan langsung tersenyum.
“Aku suruh mereka kesini yah?”pinta Iel lagi.
“Gak usah. Asal ada kamu disini aku seneng kok. Maafin aku yah Yel buat selama ini. Makasih juga buat kehadiran kamu yang selalu ngebangkitin aku. Bilangin sama Alvin dan Ify maafin aku dan makasih buat semuanya” Iel tersenyum lagi. Ia senang akhirnya bisa mendapati suara merdu Via itu. Tapi ada sedikit keganjalan saat Via mengucapkan itu semua. “kamu tidur yah. Kamu pasti capek.”pinta Via. Iel menggeleng, “Aku mau nemenin kamu.”jawabnya. Via sedikit manyun, “nanti kamu sakit lagi terus gak bisa nemenin aku. Kamu tidur yah istirahat, aku gak mau karena aku sakit malah ngerugiin orang.” Akhirnya Iel mengangguk dan segera menidurkan kepalanya di sofa sebelah ranjang Via. Memang sudah sangat lelah tubuh Iel saat itu. Lelah batin dan lelah fisik. Akhirnya tak kurang dari 5 menit dia sudah tertidur pulas. Via menitikaan air mata ketika menatap wajah Iel yang sedang tidur itu, “maafin aku yah yel belum bisa jadi yang terbaik.”gumamnya dalam hati.
Keesokan harinya Iel bangun dan segera duduk di kursi sebelah ranjang ia. Terlihat Mamah Via maih tertidur di sofa satunya lagi. Mamah Via mengenggam diary Via, diary yang Via titipkan semalam setelah ia menulis untuk terakhir kalinya. Diary yang ingin Via tunjukan kepada sahabat-sahabatnya itu. Diary yang ia pesankan kepada Mamahnya untuk langsung ditaruh di laci mejanya. Via juga masih tidur. Tapi Iel melihat wajah Via sangat pucat. Tangannya dingin, terasa kaku. Tiba-tiba Mamah Via bangun dan segera menaruh Diary Via kedalam tas nya. Mamah Via tersenyum kepada Iel.
“Tante kok badan Via kaku?”Tanya Iel polos. Mamah Via langsung memencet bell rumah sakit. Dokter segera datang bersama para suster. Mamah Via dan Iel menunggu diluar.
“Via udah pergi.”ucap si dokter, lemas. Tak tega mengabarkan ini kepada saudara si korban. Mamah Via mengeluarkan air mata yang amat deras, lalu langsung masuk ke kamar Via dan mencium kening sang gadisnya yang sudah tiada itu. Iel tak mampu melakukan apapun. Dia lari ke taman rumah sakit. Tak ingin dia melihat wajah Via yang sudah di tutupi kain putih itu. Dia menangis sejadi-jadinya di taman itu. Dia membenamkan wajah di kedua lututnya yang ia peluk dengan tanganya. Masih belum bisa menerima kenyataan. Tepat 3 bulan ia dan Via pacaran yang terjadi Via malah meninggalkannya untuk selamanya. Tercetus keinginan untuk memaki sang pencipta. Mengapa Ia setega ini? Iel meringkuk. Menahan pedih atas kehilangan sang kekasih dan juga sang sahabat yang selama ini ia kenal sebagai gadis yang kuat, yang ceria, yang tak pernah mengeluh. Akhirnya ia mengangkat wajahnya. Diusapnya air mata yang menggenangi pipi dan kelopak matanya. Ia lupa akan satu hal, lupa memberi kabar kepada sahabatnya yang lain. Segera ia meraih Hp yang ditaruh disaku celananya.
“Vin….”ucapnya setelah sang objek mengangkat telfon dengan nada bergetar. Belum mampu mengatakan semua ini.
“Ada apa Yel?”Tanya si objek yang mulai panik karena nada si penelepon penuh kegelisahan.
“Via pergi………”jawab Iel tegas tetapi terdengar lirih . Alvin terbujur kaku di sebrang sana. Tak mampu mengatakan apa-apa lagi.
“Dimana Yel…”Tanya Alvin, lemah. Nyawanya sudah hilang sapruh. Hilang karena terlalu sedih mendengar semuanya.
“Rumah sakit pelita.”jawab Iel segit.
“Yel……serius?”Tanya Alvin memastikan. Ia belum mampu menerima kenyataan sebegini pahitnya.
“Ngapain gue bercanda mengenai hal ini Vin? Gue serius!”Iel mulai emosi. Ia sendiri masih terlalu lemah untuk mendengar berita ini apa lagi harus memberi tahu kepada yang lainnya. Alvin tak dapat berkata apa-pa. Hp yang semula ia genggam sudah terjatuh. Ia sendiri pun merosot ke lantai. Virus penyesalan sedang menerpanya. Membuat ia semakin merasa bukan seorang sahabat yang baik. “Maafin gue Vi gue gak bisa jadi sahabat yang baik. Gue gak ada disaat lo lagi lemah.”ujarnya sendiri yang berharap bahwa si Almarhumah akan mendengarnya. Tanpa banyak basa-basi dia segera ke mobil, melajukannya menuju rumah sakit.
Iel dengan gontai kembali ke ruangan Via. Sudah ada Ozy, Riko, Papah Via, Mamah Via, dan Tante Ucie mengelilingi tempat Via tertidur. Mereka sedang menatapi gadis itu. Saat Iel memasuki ruangan seketika semua yang mengelilingi ranjang Via menjauh, seolah mengerti arti Via untuk Iel. Iel mendekati ranjang Via. Ia buka kain putih yang menutup seluruh tubuh Via. Air mata terjatuh tepat ke pipi Via. Mengalir. Iel mengusap air matanya itu. Dingin. Pipi Via sangat dingin. Dia mengecup kening Via dengan air mata yang membanjiri kelopaknya. Ia genggam tangan Via dan dia cium pungung tangannya. Ia tersenyum pada Via, berharap apa yang ia saksikan hanyalah sebuah adegan sinetron. Tak kuat berlama-lama, ia segera menutup kain putih itu untuk menutupi wajah Via. Ia segera keluar ruangan dan duduk di kursi.
Alvin lari tergopoh-gopoh mencari kamar Via. Dilihatnya dari jauh seorang pria sedang menunduk, tanpa babibu dia menghampiri pria itu.
“Via dimana?”Tanya Alvin, wajahnya pucat pasi.
“Di dalem Vin.”jawab Iel tanpa menatap Alvin. Alvin segera memasuki ruangan itu, sekali lagi, orang-orang menyingkir saat datangnya Alvin. Alvin membuka kain putih yang menutupi sahabatnya itu. Air mata mengalir lagi, tak mampu ia tahan. Kedua kalinya ia mengalami kehilangan. Ibunya dan sahabatnya. Diraihnya tangan Via yang sudah tak berdaya, dia genggam sekuat tenaga untuk meluapkan rasa sesalnya.
“Maafin gue Vi. Gue bukan sahabat yang baik buat lo. Gue bukan sahabat sejati buat lo. Gue gak ada disaat lo butuh gue. Gue gak mentingin lo. Gue lebih mentingin pacar gue dibanding sahabat gue yang jelas-jelas selalu ada buat gue kapanpun gue butuh. Gue tau keadaan lo kritis tapi gue gak nengokin lo sampe akhirnya gue gak bisa ngeliat senyum lo buat terakhir kalinya. Sedangkan semua perlakuan lo ke gue? Semua sangat cukup Vi. Lo yang bikin gue bangkit saat nyokap gue pergi, lo yang nenagin gue kalau gue berantem sama bokap. Lo selalu ada disaat gue butuh lo biarin itu tengah malem. Maaf gue belum nepatin semua janji gue ke lo. Vi, kenapa harus secepat ini? Gue masih pengen ketawa bareng lo, bercanda, ngobrol, jalan, main, nyanyi, nonton kartun bareng lo. Gue belum siap kehilangan lo Vi. Kenapa semua berlalu begitu cepat sampai akhirnya rasa sesal menyelimuti gue? Gue belum nepatin janji gue buat nemenin lo seharian. Belum Vi. Maafin gue selama ini yah Vi, gue udah ngecewain lo. Makasih banyak udah bikin hidup gue lebih berwarna. Mungkin nanti lo bakal ketemu nyokap gue di surga. Titip salam buat dia Vi.”tutur Alvin panjang lebar. Air mata mengalir deras di pipinya. Ozy, Riko, Tante Ucie, Papah Via, dan Mamah Via yang ada disitu terduduk lemah di sofa. Mereka semua menangis. Mamah Via sudah tak berdaya. Apalagi ketika mereka melihat pesan terakhir dari sang sahabat. Dikecupnya kening Via oleh Alvin.
Alvin dan Iel keluar. Ke taman depan rumah Iel. Ify sedang di Bandung, jadi dia tak bisa menemani mereka saat ini. Ify juga merasa kehilangan sahabatnya itu. Iel dan Alvin terdiam. Bingung. Besok adalah pemakaman sahabatnya itu. Mereka tak tahu apakah mereka kuat mendatangi prosesi itu? Mereka tersenyum menatap langit-langit. Sepertinya Via sedang melarang mereka untuk menangis dari langit sana.
“Vin, kita yang kuat yah.”ujar Iel akhirnya sambil tetap memandang langit. Meyemangati dirinya dan Alvin. Padahal hatinya pun masih galau.
“Iya Yel, gue tau Via bakalan lebih sedih kalau tau kita malah nangisin dia.”jawab Alvin lalu menoleh ke arah iel.
Iel menoleh juga ke arah Alvin dan tersenyum, “untuk sahabat kita. Kita akan selalu kuat. Hadapi dunia dengan senyuman.”teriak mereka berdua. Mereka lalu tertawa untuk melampiaskan semuanya. Melampiaskan segala amarah yang tertanam di benak. Kini Via bisa tenang karena melihat 2 sahabat yang paling berarti itu tidak lagi terpuruk akan kepergiannya.