Followers

Thursday, July 15, 2010

Our Life, Our Destiny, and the Best for Us :) part 23.

Cicitan burung sudah mulai berbunyi, nyaring. Menyambut terbitnya sang Matahari yang gagah, yang akan menemani aktifitas seluruh umat. Semua orang pasti berharap, hari ini akan lebih baik dari hari kemarin. Ini adalah hari yang dinanti oleh Ify dan Via, karena hari ini adalah pengumuman kelolosan test mereka. Awalnya mereka sempat ragu, karena mereka pesimis untuk mendapat keberhasilan. Tapi, mereka berusaha untuk se optimis mungkin.
Via menggeliat di atas tempat tidurnya. Diraihnya ponsel yang tergeletak di meja sebelah ranjangnya, sekedar melihat jam, sudah jam 6…gumamnya dalam hati. Pelan-pelan dia mendudukan posisi tubuhnya. Lalu sedikit memuta-mutar lehernya, melemaskan. Dengan lunglai, dia berjalan keluar kamar, menuju kamar mandi. Untuk sikat gigi dan mengambil wudhu, menjalankan sholat subuh.
Via baru saja selesai melipat mukenanya. Telah selesai menunaikan seruan dari Tuhan. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya sebentar, lalu mulai melangkah keluar dari Musholla yang letaknya berada di pojok lantai atas rumahnya, menuju lantai bawah. Menemui Mamah Tirinya. Baru saja dia menginjakkan kakinya di anak tangga paling bawah, Mamahnya melewat, sepertinya menuju dapur. Dengan cepat Via mencegatnya.
“Mah…” serunya, nadanya cukup keras. Mamahnya kontan menghentikan langkahnya dan menatap Via.
“Kenapa Vi? Tumben udah keluar kamar. Mau ke sekolah? kan sekarang sabtu. Bukannya libur?” tanya Mamahnya bertubi-tubi, heran. Alisnya sedikit terangkat.
Via berjalan agar lebih dekat dengan Mamahnya, kini ia sudah berdiri di samping Mamahnya, “Hari ini ke SMA tiga yah, ngambil pengumuman test. Sama orang tua.” jawab Via, raut wajahnya sedikit memohon.
Mamahnya sedikit menghela nafas, berat, “jam berapa?”
“Jam 8 Mah.”
“Yaudah. Sekarang masih jam 6 lewat ini.” kata Mamahnya, akhirnya setuju. Tidak biasanya. Mungkin Mamah tirinya itu sudah benar-benar ingin Via menjadi tanggung jawabnya, tidak lagi terbagi dua untuk Mamah kandungnya. Sedikit kejam memang. Tapi maksudnya bukan untuk memisahkan, hanya untuk lebih bertanggung jawab. Sampai saat ini Via masih di bebasi bertemu untuk Mamahnya.
Via mengangguk lalu tersenyum , “Makasih Mah.” ujarnya lalu meninggalkan Mamahnya, yang juga melanjutkan langkahnya menuju dapur. Via berjalan menuju ruang TV, dimana Kak Zahra sedang berduduk santai disitu, seraya terus-menerus memencet tombol remote, mengubah-ubah saluran TV.
“Jangan gossip ah.” kata Via setelah berhasil melandaskan (?) pantatnya di tempat kosong sebelah kak Zahra duduk, di sofa yang sama.
“Mau apa? Berita? Udah deh ini aja, si Ariel masuk penjara.” Jawab Kak Zahra lalu menaruh -lebih tepatnya menyembunyikan- remote di sebelah pantatnya, hampir di duduki. Karena di tahu, Via lebih suka menonton berita atau kartun dibanding gossip.
Via melengos, kesal. Lalu pasrah menonton apa yang disuguhkann acara TV di depannya kini.
“Eh NEM lo berapa?” tanya Kak Zahra, tanpa mengalihkan pandangannya dari TV -yang sedang asik membahas masalah Ariel-.
“37 koma-an.” jawab Via sedikit malas. Malas mendengar respon dari kakaknya.
“Murni hasil lo? Matematika lo berapa?” tuh kan, betul saja dugaan Via, kakaknya mencemoohnya.
“Iyalah. Masa lo yang ngerjain? Mate 9,6 . kenapa?” tanyanya, nadanya sedikit sinis.
Kak Zahra sedikit tidak percaya, terlihat dari ekspresinya yang sedikit memasang wajah sinis, “serius? Tumben lo pinter.” komentarnya, pedas. Via berdecak, sedikit menghentakkan kakinya pelan ke lantai. “Pengumuman test SMA 3 kapan?” lanjut kak Zahra.
“hari ini.lo jaga rumah yah sama si bibi berdua. Mamah nemenin gue.” jawab Via seadanya. Dia lalu bangkit dan berjalan menuju dapur.
“jangan nangis yah kalau hasilnya bener kata dugaan gue.” seru kak Zahra, yang masih duduk di sofa, kepada Via yang tidak menghiraukannya. Via berusaha tidak menanggapi. Dia lalu mulai membuat segelas susu, untuknya.

***

Via yengah berdiri di koridor SMA 3, sendiri. Orang tua para peserta test sedang diberi sedikit penjelasan mengenai system penerimaan murid. Menjelaskan kepada mereka bahwa peserta yang lolos benar-benar siswa yang unggul dan yang gagal pun tidak sedikit. Bisa berbanding 1 : 4, yang diterima dengan yang di tolak. Di maksudkan agar orang tua tidak memarahi atau merendahkan anaknya jika anaknya itu tidak lolos dalam test.
Penyuluhan pun usai. Kini semuanya, beserta para orang tua atau wali, tengah mengantri, di lokernya masing-masing. Berdsarkan nomer peserta. Via merasakan keringat dingin mulai mengucur, bergemetar. Tegang. Dia hanya menunduk. Akhirnya tiba lah bagian Via untuk menerima Surat Pengumuman itu.
Kini di tangan Via telah terdapat surat pengumuman itu. Tidak bohong, bagaikan gempa, tangan dan surat yang beramplop berwarna coklat itupun ikutan bergetar.
“Via, gimana? Keterima gak?” seru seseorang yang baru saja menghampiri Via.
Via menoleh lalu tersenyum ,”belum gue buka Va, takut.”
“Buka dong.” kata Irva seraya tersenyum.
Via menatap Mamahnya yang ada di hadapannya, yang tengah diam saja, “mah, bukain nih. Via takut.” ujar Via seraya menyodorkan surat itu. Mamah Via pun menerimanya, “lo keterima Va?” tanya Via seraya menoleh ke arah Irva.
Air muka Irva berubah sendu, bibirnya ia lengkungkan ke bawah, “Engga Vi, kurang 0,5 huhuhuh.” ujarnya, sedih.
Reflek Via memeluk Irva, menenangkannya “Sabar yah Va, bukan jodoh lo kali. Masih ada sekolah lain.” katanya, seraya melepaskan pelukannya.
“Iya thanks yah. Eh buka dong tante.” jawab Irva sembari menoleh ke arah Mamah tirinya Via.
Mamah tirinya Via yang sedari tadi terus berdiam ahirnya perlahan membuka amplop itu. Jantung Via sudah berdetak hebat. Darahnya berdesir kencang. Dia menutup matanya dengan jemarinya. Tak sanggup melihat atau membaca apa yang tertulis dalam surat itu.
Mamah tirinya Via membukanya, perlahan. Agar lebih menegangkan. Setelah terbuka, dia menarik kertas di dalam amplop itu, membukanya. Hingga benar-benar terbuka. Matanya sedikit ia besarkan, untuk memastikan apa yang ia baca tidak salah, “Alhamdulillah Vi keterima.” serunya seraya memeluk Via.
Via yang sedari tadi masih menutup matanya akhirnya melepaskan jermarinya dan balas memeluk mamahnya. Perasaannya sangat senang. Tidak percaya bahwa kata-kata yang sangat ia impikan akhirnya terdengar. “AAAAAH AKHIRNYA MAH!!!!!” seru Via yang masih memeluk Mamahnya.
“Selamat yah, kamu bisa nunjukin ke Mamah kalau kamu bisa.” ujar Mamahnya seraya melepaskan pelukannya. Via mengangguk lalu tersenyum.
“Gue keterima Irvaaaaaaaa!!!” seru Via, girang, lalu memeluk Irva yang masih berdiri di sisinya.
“Selamat yah Vi….gue tau lo pasti bisa.” Irva mengelus rambut Via perlahan. Ikut merasakan kesenangan salah satu teman terbaiknya.

***

Ify tengah duduk di bangku yang berada di sisi koridor SMAN 1. bukan hanya Ify yang duduk disitu. Semua peserta test SMAN1 juga tengah duduk disitu. Menunggu para orang tua mengakhiri penyuluhan yang lalu akan di bagikan amplop berisikan surat pengumuman. Ify terus menerus meremas tangan Gita, teman sekelasnya yang juga mengikuti test di SMA ini. Tidak jauh dengan Via, jantungnya berdetak cepat.
“Gitaa…gue takut gak keterima.” seru Ify , tertahan. Seraya menatap Gita yang duduk di sisi kanannya.
“Gue juga Fy, pengen nangis.” timpal Gita yang tanpa menoleh ke arah Ify.
“kalau gak keterima gimana dong?” kata Ify, yang sedikit pesimis.
“Optimis dulu ah.” kata Gita, tak mau memikirkan yang membuat mentalnya down. Ify hanya menagngguk.

***

Ify kini tengah memegang amplop itu. amplop yang seolah berisikan takdir hidupnya. Dia mendudukan tubuhnya di bangku yang berada di sisi lapangan SMAN1. dia menghembuskan nafasnya, kencang. Tangannya bergemetar.
“Maah aja deh yang buka.” kata Ify, mengangsurkan amplop itu kepada Mamahnya yang duduk di samping kirinya.
“Ye kamu. Buka ginian doang gak berani.” Jawab mamahnya, menerima amplop itu dan membukanya perlahan.
“Ih… ify takut.” kata Ify, nadanya sedikit manja.
Mamah Ify tidak menanggapi. Dia membuka dan membaca amplop itu. Ify sedikt berharap bahwa ekspresi Mamahnya itu mengatakan sesuatu kegemberiaan. Dan benar saja, tepat saat itu, Mamah Ify memeluk Ify.
“keterima Fy Alhamdulillah.” Katanya, mengucap syukur.
Ify sedikit merasakan sesak di dadanya. Perasaannya sedikit tidak percaya. Tapi ternyata itulah kenyataan. Tanpa disadari dia menitikan air mata, terharu. Dan membalas erat pelukan Mamahnya.
“Iya Mah Alhamdulillah akhirnya Ify bisa bikin mamah bangga sama Ify.”
“Mamah bangga sama kamu Fy…..” ujar Mamah Ify, seraya melepaskan pelukannya dari Ify. Mereka berdua tersenyum. Mengembang. Tak henti-hentinya mengucapkan syulur.

***

Rasa bahagia itu menyelimuti mereka berdua. Ke-empat sahabatnya yang lain pun ikut merasakan kebahagian yang mereka rasakan. Bukan hanya hal itu mereka senang, juga karena Riko akan segera sembuh dari penyakitnya. Bertambah sudah kegembiraan yang semakin membuncah di hati mereka.
Hari ini adalah jadwalnya Ify khemo. Seperti biasa, dengan setia Rio menemaninya khemoteraphy. Ify dan Rio kini tengah melangkah di koridor rumah sakit. Berjalan menuju ruang khemoteraphy. rasa gemetar menyerang Ify. Dia menggenggam erat lengan Rio, perlahan mengurangi rasa gemetarnya.
Khemoteraphy yang berlangsung selama 90 menit itu terasa sangat lama. Tak jarang Ify meronta-ronta, menahan sakit. Rio sendiri tidak tega melihat pacarnya kesakitan seperti itu. dengan setia, dia menghapus peluh yang mengaliri pelipis Ify.
Suster membantu Ify mendudukan posisinya yang semula berbaring. Walau khemoteraphy sudah selesai sekitar 15 menit yang lalu, tubuhnya masih merasakan sakit itu. pegal-pegal pun menyerang persendian Ify. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya. Perlahan Ify memijat pelipisnya menggunakan jarinya sendiri. Rio, yang berdiri di sebelah ranjang dimana Ify duduk memijit pelan bahu Ify.
“Ify……penyakit kamu sudah semakin membaik. Jika begini, kamu bisa melakukan operasi untuk benar-benar menyembuhkan penyakit kamu. Rumah sakit ini bisa melakukan operasi ini, dokter yang di menangani pun di datangkan langsung dari German, kamu mau ikut operasi itu?” tutur si Dokter, kala itu Ify dan Rio sudah duduk di hadapan Dokter.
Ify sendiri masih sedikit pusing. Samar-samar dia mendengarkan penjelasan dokter Danang. Yang pasti, dia yakin, bahwa dokter mengatakan bahwa dia akan segera sembuh, “Dokter yakin saya bisa sembuh?” tanya ify. Jemarinya masih memijat pelipisnya sendiri.
Dokter Danang mengangguk, “InsyaAllah kamu sembuh.”
Ify dan Rio berpandangan. Rasa senang, pastinya, menyelimuti perasaannya. Bukan hanya Riko, kini Ify pun akan segera sembuh dari penyakitnya.
“Kalau kamu mau mengikuti operasinya, silahkan orang tua kamu menemui saya besok.” tambah Dokter Danang.
Ify menatap Dokter Danang lalu mengangguk. Bibirnya menyunggingkan senyum. “terimakasih Dok.” kata Ify.
Kali ini Dokter danang yang mengangguk dan tersenyum. Dia juga turut bahagia atas kebahagian pasiennya.

Our Life, Our Destiny, and the Best for Us :) part 22

***


Riko tengah berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Tetapi dia tidak sendirian sepeerti biasanya. Kini, Shilla berada di sebelahnya, berjalan beriringan. Yak! Semenjak Riko dan Shilla
pacaran, Shilla selalu memaksa untuk menemani Riko khemoterapy, tapi selalu
Riko tolak. Gak tega kalau nanti Shilla malah nangis ngeliat Riko teriak-teriak
kesakitan pas khemo. Lagian, gengsi dong, Riko kan suka nangis kalau habis khemo gara-gara
sakit. Nanti Shilla liat, dibilang apa dia? Akhirnya setelah memaksa Riko, Riko
luluh juga, Shilla ikut menemani Riko untuk khemoterapy.

Riko dan Shilla telah duduk berdampingan di kursi yang disediakan di ruangan Dokter yang biasa menangani Riko, (namanya siapa ting? Gue lupa.). Riko berusaha sesantai mungkin.
Sedangkan Shilla, sedikit merinding, pertama kalinya masuk ke ruangan seperti
ini.

“Dok, kenalin ini Shilla, pacar saya hehe.”ujar Riko mengenalkan Shilla kepada dokter, karena si dokter sepertinya heran dengan kehadiran Shilla, tumben Riko khemo ditemenin..fikirnya. Riko dan
Shilla tampak malu-malu. Shilla tersenyum kepada dokter itu. Dokter pun balas
tersenyum seraya mengangguk.

“Riko, saya punya kabar baik buat kamu.”kata Dokter itu seraya menatap Riko, senyum mengembang terukir di wajah Dokter, membuat Shilla dan Riko penasaran.”Tadinya mau saya beritahu lewat
telefon, tapi berhubung kamu ada jadwal khemoterapy sekarang, ya sekalian saya
kasih tau langsung saja.”jelas Dokter itu.

“Apa Dok? Terus kok dari tadi khemo nya gak mulai?” Riko mulai heran. Rasa penasaran menggelayuti fikirannya. Habis, biasanya dia dateng langsung diajak khemo, lah ini, di ajak ngobrol
dulu.

“Saya rasa ini memang sudah keberuntungan untuk kamu. Ada yang bersedia donorin hati nya untuk kamu.” Akhirnya dokter itu menyebutkan hal
ini. Hal yang telah lama Riko tunggu ucapannya dari Dokter. Hal yang terlalu
mustahil untuk Riko agar terkabul. Tetapi sekarang… ah, senang sekali.

Shilla dan Riko saling berpandangan. Heran. Memastikan bahwa mereka berdua tidak salah dengar. Tiba-tiba Riko tersenyum, menatap Dokter itu lalu bertanya sekali lagi, “ada yang mau donorin
hati untuk saya dok?”, memastikan.

Dokter itu pun mengangguk dan tersenyum. Ikut merasakan kebahagiaan si pasien, “Iya Riko. Kamu akan segera sembuh.”katanya. meyakinnkan Riko.

Shilla menutup mulutnya, dengan tangan kanannya, yang terbuka saking girangnya. Matanya berbinar. Senang sekali. Tuhan memang adil. Dia belum bisa berkata apapun untuk mengungkapkan
kesenangannya.

Riko sendiri tak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Dia tertawa, bukan tersenyum. Dia merasa kini dialah orang yang paling bahagia seantero dunia, “siapa dok yang ngedonorrinnya?”tanya Riko
akhirnya, setelah dia meredam perasaan bahagianya. Dia juga ingin tahu,
siapakah dermawan itu.

“Ada pasien rumah sakit ini, namnya Septian. Dia sakit, parah. Jantungnya bocor (ada kan penyakit beginian? Soalnya almarhumah guru SD saya meninggal karena jantungnya
bocor D’: ), dia sudah sangat kritis. Dibantu hidup dengan alat medis, jika
alat medis dicopot, dia pun akan pergi. Sebelum dia kritis, dia bilang, dia
ingin menyumbangkan organ tubuhnya yang masih berguna untuk yang membutuhkan.
Waktu saya check hati dia sama hati kamu, ternyata cocok. Dan baru satu jam
yang lalu…..dia…..pergi.”jelas Dokter itu lagi, panjang lebar. Sedikit sedih
ketika harus mengingat pasiennya itu. Riko dan Shilla sendiri tersentak
mendegarnya. Tetapi rasa senang tertanam jelas dihati mereka. Kini Riko akan
segera sembuh dari penyakit laknatnya.

“Memang kapan Riko bisa operasi dok?”tanya Shilla akhirnya setelah dari tadi diam. Riko melirik Shilla lalu tersenyum.

Dokter itu megalihkan pandangannya dari Riko menuju Shilla, “2 hari lagi juga sudah bisa.”sahut Dokter itu.

“Sekarang saya jadi gak usah khemo dok?” Riko bertanya. Habis dari tadi khemo tidak juga dimulai.

Dokter itu menggeleng, “kamu istirahat saja dulu. Karena kondisi pasien yang mau operasi harus benar-benar tenang dan fit. Jangan lupa kabarin orang tua kamu yah.”

Riko mengangguk, paham. “Bisa saya bertemu dengan keluarga Septian?”tanyanya, “saya mau mengucapkan terimakasih.”lanjutnya.

“Beruntung mereka masih berada di rumah sakit karena jenazah septian masih harus ditangani. Mungkin mereka masih berada di paviliun mawar bernomor 412.”kata si Dokter itu.

“Terima kasih dok atas berita bahagianya. Saya mau bertemu keluarga Septian dulu.”ujar Riko yang dijawab oleh anggukan dan senyuman dari dokter itu. Riko pun bangun dari duduknya, di ikuti
Shilla. Dia manggandeng tangan Shilla, berjalan menuju pavuliun mawar yang
gedungnya bersebelahan dengan gedung dimana Riko berada sekarang.

“Selamat yah Ko.”kata Shilla lalu menoleh sebentar ke arah Riko, yang berjalan beriringan bersamanya.

“Iya Shil, aku juga gak nyangka ada orang yang baik banget. Aku berharap semoga Septian diberi tempat yang terbaik sama Tuhan.”ucap Riko, tulus.

Senang sekali perasaan Riko saat ini. Tak tahu harus mengucapkan apa untuk bisa mendeskripsikan perasaannya saat ini. Inilah yang selama sisa hidupnya ia tunggu. Seseorang yang mau mendonorkan
hatinya untuk Riko. Kini itu terwujud. Bukan lagi harapan belaka. Harapan yang
selalu Riko nanti-nanti. Dia sendiri bingung, bagaimana menjelaskan kepada orang
tuanya. Terlalu bersemangat dan senang.

Shilla mengenggam tangan Riko seraya terus berjalan di paviliun mawar. Kini mereka tengah menusuri tangga menuju lantai 3. dimana kamar Septian berada. Dia sendiri sangat senang. Akhirnya Riko
akan terbebas dari penyakit laknat itu.

Riko mengetuk pintu kamar bernomor 412 itu. Kamar dimana keluarga Septian sedang menunggu penanganan Septian. Baru 3 kali pintu diketuk, wanita paruh baya keluar. Lingkaran hitam mengelilingi
matanya. Matanya sembab. Habis menangis.Tampaknya dia juga sangat kelelahan.
Wanita itu memandang Riko heran.

“Maaf Bu, saya Riko ini Shilla. Apa benar ini em…..kamar Septian?”ucap Riko seraya tersenyum, sopan. Shilla mengikuti.

Ibu itu mengerutkan dahinya, “Iya ini kamar Septian. Kalian siapa? Kalian bukan temennya kan?”tanyanya.

“Saya memang bukan temen Septian Bu. Saya orang yang akan septian donorkan hatinya. Saya penerima hati Septian.”jelas Riko. Mereka masih berdiri di ambang pintu kamar Septian.

“Duduk dulu yah disitu, biar ngobrolnya enakan.”ajak Ibu itu seraya menunjuk jejeran kursi yang terdapat di depan kamar rawat inap. Shilla dan Riko mengangguk lalu berjalan dan duduk
disitu, mengikuti Ibu itu. “Oh, jadi kamu pasiennya Dokter Ganang (pis Nang
nama lo gue jadiin dokter!) ?”tanya ibu itu setelah berhasil duduk di bangku
sebelah Riko.

Riko mengangguk, “Iya Bu, apa keluarga sudah setuju kalau Septian mendonorkan hatinya untuk saya?”katanya berhati-hati. Takutnya Septian mendonorkan organ tubuhnya tanpa di ijinkan oleh
orang tua.

“Saya pribadi sebenarnya gak setuju. Tapi sebelum Septian kritis dan akhirnya pergi, dia memang ngomong sama saya. Dan ya…saya mengijinkannya.”jawabnya. air mukanya berubah sendu. Teringat
kembali akan buah hatinya itu.

“Ibu yang tabah yah. Tuhan gak mungkin ngasih cobaan ke umatnya di luar batas kemampuannya. Ini takdir bu, ini yang terbaik untuk kita. Tuhan pasti mencatat semua amal baik yang Septian
lakukan. Dia pasti berada di tempat yang sangat baik disana.” Kali ini shilla
yang duduk di sebelah Riko mengeluarkan kata-kata diplomatisnya. Dia tersenyum
ke arah Ibu itu. Dia mengerti bagaimana kacaunya perasaan Ibu itu. Karena
mereka sama-sama wanita.

Ibu itu mencoba tersenyum. Bening dari sudut matanya perlahan menyeruak keluar. Cepat-cepat dia menghapusnya, “saya sudah tabah. Saya ikhlas. Saya juga gak tega kalau ngeliat Septian
terus-terusan sakit. Emang begini kali baiknya buat dia.”katanya seraya terus
menerus menghapus air matanya sendiri, yang kini mengaliri pipinya.

“Tuhan pasti punya rencana indah kok Bu, hanya raganya Bu yang pergi, hatinya akan selalu ada di hati kita. Apa lagi hatinya kan
akan didonorin ke saya Bu.”timpal Riko, sedikit bercanda. Agar suasana tidak
terlalu menyedihkan. Ibu itu tersenyum lalu mengangguk. “Saya mau berterima
kasih sama ibu. Makasih banget nanti diijinin operasi pendonoran hati Bu.
Perlakuan Septian gak akan pernah saya lupa seumur hidup”lanjutnya. Lalu Shilla
dan Riko pun berpamitan setelah berulang kali mengucapkan terima kasih.

Riko mengjak Shilla ke taman yang berada di belakang rumah sakit. Awalnya Shilla bingung mau ngapain, Riko hanya menjawab, “mau ketemu malaikat kecil.” . dibuat heran lah Shilla oleh Riko.
Rupanya Riko teringat oleh malikat kecilnya itu.

Riko dan Shilla duduk di bangku taman. Bangku yang menjadi saksi bisu pertemuan singkat antara Riko dan malaikat kecilnya. Riko teringat janjinya pada Ourel untuk kembali kesini
dengan wajah ceria. Ourel lah yang membangkitkan semangatnya. Dan kini Riko
ingin membagi kabar gembira itu kepada Ourel.

Riko celingkukan mencari Ourel yang tak juga tampak. Sedangkan taman ini sudah penuh dengan pasien lainnya. Sudah hampir setengah jam mereka duduk disitu, dengan diam. Shilla sendiri heran
ngapain sih Riko malah diem aja disini? Celingukan gak jelas. Mana malaikatnya?....desis
Shilla dalam hati. Sedikit kesal.

Akhirnya Riko menghampiri suster yang sedang mengajak anak kecil bermain, anak kecil yang juga pasien rumah sakit itu. Shilla hanya diam ditempat, membiarkan Riko pergi.

“Sus, saya mau nanya. Pasien yang namanya Ourel kemana yah? Yang anak kecil itu. Apa udah sembuh?”tanya Riko setelah berdiri di depan suster yang tengah memangku anak lelaki di bangku taman.

Suster itu mendongak dan menatap Riko, “kamu siapanya Ourel?”tanya suster itu. Mimik mukanya berubah heran dan sedikit was-was.

“Saya..temennya. waktu itu dia menghampiri saya dan kita ngobrol dikit.”jawab Riko seadanya.

“Ourel…..dia sudah meninggal 4 hari yang lalu……” suster itu menunduk. Sedih mengingat Ourel. Gadis yang sangat ceria, pasien kesayangan suster disini.

Anak lelaki itu pun ikut manangis “ourel….ourel…Iyan kangen…”desisnya lalu mulai menangis. Suster itu memeluknya. Bagaimana tidak? Selama mereka dirawat disini mereka selalu bermain bersama.

Riko terpaku. Mulutnya menganga. Hari ini dia mendengar 2 kali berita duka. Dia lalu mengucapkan maaf dan terima kasih kepada suster itu lalu kembali ke bangkunya. Bangku dimana Shilla kini tengah mendumel
sendirian.

“Kamu tuh yah ninggalin aku sendirian. Mana malaikatnya?”pekik shilla ketika Riko baru saja kembali dan duduk disebelahnya.

“Malaikatnya udah pergi…..”jawab riko seraya menatap Shilla. Lalu dia menunduk. Tuhan, rancanamu memang tak bisa ditebak. Baru satu kali pertemuannya dengan Ourel, kenapa Ourel harus segera
pergi? Baru saja dia akan membagi ceritanya, kepada sosok yang sempat
membangkitkan semangatnya.

Shilla menatap Riko dengan panuh tanya, kemudian dia mengeryitkan keningnya, “hah? Maksudnya Ko?”tanyanya, nadanya sangat heran.

Riko mengangkat wajahnya lalu mulai menatap Shilla, dia menarik nafasnya lalu menghembuskannya pelan , “………, gitu deh….waktu aku tanya suster katanya dia…udah…pergi….” Riko baru saja
menceritakan pertemuan singkatnya dengan Ourel kepada Shilla. Lalu dia kembali
menundukan kepalanya lagi.

Shilla manggut-manggut. Mengerti. Dia pun ikutan kaget ketika ternyata Ourel pergi secepat itu. “Yah namanya takdir tuhan Ko, sekarang kamu semangat dong. Katanya dia malaikat kecil kamu.
Tunjukin ke dia, kalau kamu masih berjuang hidup disini. Dia pasti ngeliat kamu
kok dari sana.”ujar
Shilla seraya tersenyum dan menunjuk langit. Membangkitkan semangat Riko.

“Waktu itu kita janji, berdua, sama-sama berjuang untuk gidup. Tapi ternyata, dia pergi duluan. Belum sempet aku menuhin permintaannya, permintaan dia buat balik lagi kesini dengan wajah
ceria.”desis Riko, lirih. Dia sudah mulai balas menatap Shilla.

“Kalau sekarang kamu kayak gitu, nanti yang ada dia sedih ngeliat kamu kayak gitu.”

“Iya Shil, semoga dia bisa ikut seneng yah dari atas sana, senang karena akhirnya aku bisa terbebas dari penyait laknat ini.”jawab Riko
lalu tersenyum. Dia berdoa, semoga Ourel diberi tempat yang terbaik disisi
Tuhan. Anak kecil itutelah memberinya sebuah pelajaran berharga. Dia akan tetap
menjadi malaikat kecil Riko.


***

Our Life, Our Destiny, and the Best for Us :) part 21

***


Semua test SMA telah diikuti dengan baik oleh Via dan Ify walaupun mereka memendam perasaan pesimis. Mereka kurang yakin akan berhasil lolos dalam test seleksi
ini. Padahal, mereka juga sudah menguatkan diri’mereka untuk selalu optimis.
‘usaha gue juga kurang, jadi gak mustahil kalau gue gak lolos.’ Itulah yang Via
dan Ify ucapkan jika mereka berusaha untuk optimis. Sekarang, sepertinya mereka
hanya menunggu suatu keajaiban, keajaiban akan lolosnya mereka dalam test ini.

Hubungan Shilla dan Riko pun telah diketahui oleh semua sahabatnya. Mereka sedikit tidak percaya ketika Riko menceritakan ucapan Shilla saat dia menembaknya, ucapan
yang sangat diplomatis. Shilla sangat menikmati kehadiran Riko di sampingnya
kini. Dia tak perlu memendam perasaannya lagi akan rasa sayangnya kepada Riko,
sekarang semua bisa tercurahkan tanpa adanya rasa malu. Riko sendiri beruntung
memilih Shilla untuk menjadi pacarnya, Shilla yang sangat dewasa, yang mengerti
dan tidak pernah mengungkit tentang penyakit Riko dengan hubungannya. Tapi juga
Shilla yang sangat memperhatikan kondisi Riko.

Ify masih terus khemoterapy 2 kali dalam seminggu. Setiap kali khemo, Rio selalu bersedia menemani dan mengantarnya. Khemoterapy yang dilakukan semakin kesini semakin berdampak efeknya. Kondisi
Ify semakin membaik, virus mulai bekurang dan daya sebarnya melemah. Itu
membuat Ify sangat senang, karena kesempatannya untuk sembuh total semakin
besar. Rio juga tak kalah senangnya setiap
dokter membawa kabar baik setelah selesai khemo.

Jum’at ini keadaan semua sekolah sangat riuh. Tak hanya di kota ini, tapi diseluruh Negara ini. Bagaimana tidak, hari ini adalah hari pengumuman kelulusan semua murid SMP satu
Indonesia.
Pagi-pagi semua murid di negeri ini mungkin berbondong-bondong pergi ke tukang
Koran, membeli Koran, untuk melihat apakah nomer peserta ujiannya terdaftar
dalam murid yang lulus. Sebagian dari mereka langsung bersorak, senang ketika
mereka dinyatakan lulus. Tapi tak sedikit juga yang harus menelan pill pahit,
ketika mereka dinyatakan tidak lulus dan harus mengulang. Tak hanya kelulusan,
mereka juga akan dibagikan amplop yang berisikan NEM mereka.

Pagi ini, Via, Iel, Rio, Ify, Riko dan Shilla tersenyum. Mengembang. Ingin berteriak rasanya ketika mereka dinyatakan lulus.
Lulus dengan hasil yang sangat murni. Mereka juga mengetahuinya dari Koran kota. Cepat-cepat mereka
mandi dan bergegas menuju sekolah, untuk menerima hasil nilai ujian mereka. Tak
sabar rasanya untuk mengetahui jumlah ke-empat nilai itu.

Semua murid telah berbaris rapih di lapangan. Mendengar sang kepala sekolah berpidato. Padahal mereka tidak benar-benar mendengarkan. Sebagina mendumel,
‘banyak bacot nih, langsung aja nape bagiin nem nya…’ ada juga yang masih belum
siap menerima NEM mereka. Yang pasti, jantung mereka semua berdetak tidak
karuan.

Ify dan Via yang berbaris bersebelah saling berpegangan tangan, saling meremas tangan. Sedikit melampiaskan rasa gemeterannya. Wajah mereka pucat. Sedangkan
Shilla kini tengah mencubit-cubit pelan lengan Riko, yang baris disebelahnya.
Begitulah cara Shilla melampiaskan rasa gemetarnya. Riko hanya pasrah lengannya
dicubiti Shilla pelan, toh tidak sakit. Sedangkan Iel dan Rio
yang berbaris jauh dari barisan Shilla Riko Ify Via, hanya menunduk. Sama,
bergemetar.

Ke enam sahabat itu kini tengah berkumpul di kantin. Senyum penuh kegembiraan terukir jelas di wajah mereka. Senyum penuh kemenangan. Mereka tak
henti-hentinya mengucap syukur kepada Yanga Maha Kuasa. Mereka juga berulang
kali melihat hasil NEM mereka, takut-takut bahwa mereka salah lihat. Atau malah
nilai itu berubah angkanya.

Via mendapatkan NEM 37,45 dengan nilai tertinggi 9,60 pada mata pelajaran Matematika, pelajaran yang selalu mendapat cemoohan akan kemampuannya oleh Kak
Zahra . Sekarang dia bisa membuktikan pada Kakaknya bahwa dia bisa. Ify
mendapat NEM 38,20, dengan nilai IPA yang sempurna. Shilla mendapat NEM 37,00
dengan nilai tertinggi pada Bahasa Inggris, nilainya 9,8 . entah jodoh atau
bukan, NEM Riko, Rio, dan Iel sama. Tak ada
beda sedikit pun. 36,8. hanya saja nilai permata pelajaran mereka berbeda-beda.
Gabriel mendapat nilai sempurna di pelajaran Bahasa Inggris. Sedangkan Rio dan
Riko sekali lagi sejodoh, IPA mereka menempati nilai teringgi, 9,75.

“Bagus….”gumam Iel pelan , dia masih saja melihat kertas yang bertuliskan nilai-nilanya.

“Banget!”timpal Via yang duduk di sebelahnya. Saking senangnya, Via sampai menciumi kertas itu.

“Ahhh Bahasa Inggris gue nyaris 10.”desis Shilla, yang juga duduk disebelah Iel, sedikit kesal dengan nilaninya yang nyaris sempurna itu.

Riko yang duduk di depannya menatapnya lembut, “Udah, yang penting memuaskan.” ujarnya. lalu Shilla pun mengangguk.

“Ah masa gue sama nya 2 sih sama si Riko, amit-amit lagi kalau sejodoh.”dumel Rio seraya menunjuk-nunjuk nilanya yang sama dengan Riko.

“Ye emang gue mau? Najis amit deh.”timpal Riko seraya meneloyor pelan kepada Rio yang duduk di sebelahnya.

“Gue rasa gue gak peduliin ni nilai.”ujar Ify enteng lalu memasukkan kertasnya ke dalam amplop semula. Semua langsung menatap Ify, seolah ingin memakan Ify.

“Etdah, nilai lo bagus banget Fy, masa iya kagak peduli?”komentar Riko sedikit geram seraya menunjuk-nunjuk amplop yang dipegang Ify.

“Nih tukeran nilainya sama gue yuk Fy.”ajak Iel, konyol, seraya menyodorkan hasil NEMnya.

“Ah masalahnya mau segede apapun NEM gue gak ngarus buat masuk SMA 1.” rengeknya, segelas es jeruk dihadapannya ia aduk-aduk menggunakan sedotan.

“Tawakal Fy tawakal.” Shilla berusaha memperingatkan Ify, menabahkan.

Ify menatap Shilla lalu tersenyum walau sedikit dipaksakan, “iya Shil.”

“Pada balik deh yuk, gak sabar nunjukin NEM gue ke nyokap gue.”ajak Riko akhirnya. Semuanya lalu mengangguk mantap.

“Yah……gue balik sendiri deh.”seru Via dengan nada pura-pura kesal, sebelum ia dan yang lainnya bangun dari duduknya.

“Eh…..Ko, aku balik bareng Via aja yah.”tiba-tiba Shilla seperti menyadari bahwa perkataan Via menyindirnya.

“Hah ngga Shill gak usah. Udah lo sama Riko aja. Gue gak apa-apa.”jawab Via, tak enak hati dengan ucapannya barusan.

“Udah lo sama Riko, Via sama Iel. Beres.”celetuk Rio tiba-tiba. Nadanya sangat cuek.

“Ngga, gue balik sendiri aja.”tolak Via yang sebenarnya pipinya sedikit memerah karena sadar teman-temannya berusaha menjodoh-jodohkannya (lagi) dengan Iel.

Iel menoleh ke arah Via yang duduk di sebelahnya, “udah bareng gue aja Vi, lumayan kan ngirit ongkos.”ujarnya enteng. Padahal dia sendiri sedang berusaha mengontrol detak
jantungnya.

“Tuh kan Iel aja mau.”ceplos Rio lagi. Riko dan Shilla
terkekeh. Ify menyenggol-nyenggol kaki Via dari bawah meja.

Via merasa mati kutu dan risih dengan senggolan-senggolan kaki Ify, “Ye..gue mau juga kan
bukan apa-apa. Lumayan ngirit ongkos.”belanya.

“Bodo amat mau ngirit ongkos mau pdkt, ayodah balik sekarang.”ajak Riko lagi akhirnya lalu beranjak bangun. Via dan Iel merasakan pipinya memerah atas ucapan Riko
tadi. Akhirnya mereka berjalan beriringan menuju motor para lelaki itu di
parkirkan.

Riko dan Shilla yang paling pertama meninggalkan sekolah, kemudian Ify dengan Rio disusul Iel dan Via yang sebelumnya telah mengadakan cekcok mulut tentang
alasan mengapa Via mau saja Iel antar pulang. Ada rasa dilemma yang tertanam dihati Via
saat sedang dijalan, menuju rumahnya. Ia fikir sudah saatnya dia memastikan
perasaannya kini. Perasaan yang selama 9 bulan belakangan ini ia endapkan dan
pelan-pelan berusaha untuk menghilangkannya. Kini perasaan itu kembali
menyeruak dalam sukmanya.


***


Via menghempaskan secara kasar tubuhnya ke atas ranjang. Setelah sebelumnya dia tersenyum tidak jelas saat Iel mengajaknya untuk nonton di Mall, sore ini…….


“Thanks yah Yel tebengannya dan pengiritan ongkos gue.”ujar Via setelah turun dari motor Iel dan kini ia telah berdiri di samping Iel.

“Sama-sama Vi, tapi betewe, itu helm lepas dulu bisa kali.” Iel sedikit terkekeh ketika melihat Via yang masih mengenakan helm.

Via memegangi kepalanya, mengecek apakah ia masih memakai helm. Tiba-tiba Via nyengir, “eh sorry.”lalu cepat-cepat dia membuka helm itu dan diberikan
kepada Iel.

“Hem Vi…..” Iel menggantungkan ucapannya setelah berhasil menggantungkan helm yang barusan Via berikan ke pengait yang ada di motornya.

“Ya?” Via menjawab dengan alis terangkat sebelah.

“Nanti sore nonton yuk, gue pengen nonton fil nih, udah lama gak nonton.”ajak Iel tiba-tiba. Nadanya sangat cepat, Via sendiri masih tidak yakin bahwa apa yang
ia dengar itu benar.

“Nonton? Jam berapa?”tanya Via sekaligus memastikan. Hatinya degdeg-an tidak karuan. Tak tahu Via yang terlalu melebih-lebihkan atau memang begitu. Baru saja tadi dalam
perjalanan dia berfikir untuk menetapkan perasaannya, kini Iel kembali mengetuk
pintu hatinya. Seolah menyadarkan Via bahwa Iel tengah menantinya.

“Iya, jam 3 an gue jemput. Mau gak Vi?”nada suara Iel melemah. Seolah pasrah jika Via menolaknya. Dari pancaran matanya sangat tersirat bahwa dia sangat mengharapkan
Via.

“Boleh Yel. Gue tunggu yah.”jawab Via akhirnya. Dia lalu sedikit melukiskan senyuman di wajahnya.

“Thanks yah Vi…”

“Buat?” Via sedikit mengerutkan dahinya ketika mendengar Iel berterima kasih padanya. Harusnya dia yang berterima kasih pada Iel karena diajak nonton. Eh, atau emang
Iel yang yang harus makasih?

Iel sedikit kelabakan, dia menunduk sesaat lalu menatap Via lagi yang masih berdiri di sampingnya, “Mau gue ajak jalan.”katanya, sedikit demi sedikit rona pipinya
bersemu merah.

Via sendiri langsung salah tingkah, pipinya telah berhasil dengan sukses memerah, dia berusaha mencerna otaknya untuk mengolah kata yang lebih oke, untuk
mengembalikan kondisi menjadi santai, “Santai lah Yel, oke lah. Cuma nonton doang
kan?”ujarnya.

Sedikit teriris hati Iel ketika mendengar Via mengucapkan ‘Cuma nonton doang kan?’ , seolah itu belum cukup menunjukkan pada Via bahwa Iel memperlakukannya lebih, “Iya kok
Vi.”katanya akhirnya seraya sedikit terkekeh, “Eh gue balik yah. Inget, jam 3
harus udah siap.”

Via mengangkat jempolnya lalu berkata , “oke” . seketika motor Iel meluncur dari hadapan Via. Via lalu melangkahkan kaki untuk memasuki ruahnya.


Via masih terus menerus berguling-guling di atas tempat tidurnya dengan keadaan tangan memeluk guling kesayangannya. Dia belum sempat mengganti bajunya. Kini
ia masih berfikir, ajakan Iel tadi hanya sekedar ajakan atau genjatannya untuk
mendekatinya. Ah….Via menyesal karena terlalu mentup hatinya untuk masalah
sepeti ini terlalu lama. Kini ia seperti anak umur 11 tahun yang baru mengalami
cinta monyet yang betul-betul monyet di jaman SD. Setelah setahun kepergian
Cakka dari hidupnya, atau sudah hampir 10 bulan, Via tidak pernah mau mengurusi
masalah hatinya. Dia ingin fokus dalam sekolah dulu, walaupun ia tahu, ada Iel yang
menantinya semenjak 9 bulan lalu.

Via berfikir bahwa ini adalah salah satu genjatan Iel untuk mendekatinya, tapi dia sendiri tak mau banyak berharap kalau kalau perkiraannya salah dan ternyata ini
hanya ajakan biasa dari Iel. Akhirnya Via memilih mengalihkan fikirannya. Dia
lupa akan sesuatu. Dia meraih tas yang ia gantung di sudut tempat tidur, lalu
merogoh isinya, mencari sesutu yang tak lain adalah hasil ujiannya. Secepat
kilat ia bangun dan berlari menuju lantai bawah.

“Maaaaaaaaaaaaaaah.” Via berteriak seraya berlari menuju lantai bawah.

“Kenapa Vi? Jangan teriak-teriak gitu.” Mamahnya yang ternyata sedang duduk di ruang TV, yang ada di dekat tangga, sangat terganggu dengan teriaka Via yang sangat
kencang.

Via nyengir lalu duduk berjalan mendekati Mamahnya dan duduk di sebelah Mamahnya, “ini NEM Via.”ucapnya seraya menyodorkan amplop yang telah dibuka sebelumnya.

Mamah Via menerimanya lalu membuka isinya dan membaca tulisan yang ada di kertas itu. Perlahan ia mengangguk dan kembali memasukkan kertas itu kedalam amplopnya
,”Asli nih murni hasil kamu?”ujar Mamahnya. Nadanya menyindir. Lalu ia menaruh
amplop itu ke dalam laci meja di depan sofa tersebut.

“Asli lah. murni. Terus kalau gak murni itu hasil siapa?” Via merasa tersinggung dengan ucapan Mamah tirinya itu.

“Ya Mamah kira dapet contekan gitu”kata Mamahnya masih dengan nada menyindir. “Nanti Mamah aja yang ngasih tau Mamah kamu soal ini.”lanjutnya lagi. Via baru
sadar kalau dia belum memberikan kabar lagi untuk Mamahnya. Dia hanya
mengangguk lalu bergegas menuju kamarnya.

Via kembali berguling-guling di atas tempat tidurnya. Kini senyum tengah merekah di bibirnya. Syarafnya selalu berusaha menarik ujung-ujung bibirnya untuk
membentuk sebuah lengkungan. Via sendiri masih keheranan apa gerangan yang
membuatnya seperti ini. Lelah berguling-guling, dia meraih iPod yang ia taruh
di laci meja sebelah ranjangnya. Tanpa melihat playlist, dia langsung menekan
tombol play. Ternyata yang terputar adalah potongan lagu sebelumnya, yang belum
usai Via dengar.


Dia…..seperti apa yang slalu ku nantikan….ku inginkan

Dia….melihatku apa adanya…seakan ku sempurna..

Tanpa bual kata … kau curi hatiku

Dia tunjukan dengan tulus cintanya..

Terasa berbeda saat bersamanya, aku jatuh cinta….

Dia…..seperti apa yang slalu ku nantikan….ku inginkan

Dia….melihatku apa adany…seakan ku sempurna..

Dia bukakan pintu hatiku yang tlah lama tak bisa….

Ku percayakan cinta hingga dia disini…

Memberi cintaku harapan….


Via mendesah pelan lalu mencopotkan headsetnya, “etdah ni lagu, kaga ada lagu lain apa yah.”ujarnya sendiri. Sepertinya Via sangat menyadari bahwa lirk lagu tadi sepadan dengan hatinya. Dengan cepat dia
melihat-lihat isi playlist iPodnya, yang sesunggunya sudah lama sekali tidak di
update.

“Kucing garong…jablay….cinta terlarang…belahan jiwa…cinta mati….makhluk tuhan paling sexy…. Etdah, ini iPod gue bekas di pake ama siapa sih? Begini amat lagunya….” desahnya
lagi sambil terus menelusuri daftar lagu , “pantes aja, ini folder udah lama.
Ganti ah.”katanya lagi, masih berbicara sendiri dengan keadaan tangan memenceti
tombol-tombol sampai akhirnya dia memilih mendengarkan lagu ini…



Via membanting kasar iPodnya. Rasa-rasanya semua lagu serasi dengan perasaannya. Kini ia mencoba memejamkan matanya. Mencoba tidur sejenak. Toh sekarang masih
jam 12. masih 3 jam untuk Iel datang ke rumahnya.

Sivia menggeliat di atas ranjangnya. Matanya sedikit menyipit karena sorot lampu kamar yang membuatnya sedikit silau. Dia merogoh Hp yang ia simpan rapih di
meja sebelah ranjangnya.

“WAAAAAAAAAAAAAAA JAM 3” jeritnya ketika melihat jam di HP nya bertuliskan, ’14.59’ ,”Mampus ini gimana ini.”ujarnya lagi. Tanpa banyak bicara, dia langsung mengambil handuk
yang tergantung di belakang pintu kamarnya dan berlari ke kamar mandi yang
bersebelahan dengan kamarnya.

“Vi……ada temen kamu tuh yang cowok. Yang sodaranya Cakka itu”kata Mamahnya seraya mengetuk pintu kamar mandi. Mamahnya tahu karena sebelumnya Iel pernah mampir
ke rumah Via.

“Suruh tunggu Mah.”jawab Via lalu buru-buru melanjutkan mandinya. Setelah beres, Via langsung mengeringkan tubuhnya dan membalut badannya menggunakan handuk. Toh
kamar mandi sama kamarnya kan
sebelahan. Ketika membuka pintu dia sedikit kaget karena mendapati Mamahnya
masih berdiri di situ. “Loh, Mamah ngapain disini? Mau pipis? Kamar mandi bawah
emang kenapa?”tanyanya heran.

Mamah Via tidak mengubris pertanyaan Via, dia langsung melipat kedua tangannya di dada, “dia siapa Vi? Kok deket banget sama kamu?”tanya Mamahnya menyelidiki.

Via kaget, dia belum memikirkan secara matang apa akibat jika Iel datang lagi ke rumahnya, , “Anu Mah, dia temen biasa Via kok. Gak ada apa-apa. Beneran.” Via
berusaha meyakinkan Mamahnya. Tangannya memainkan ujung handuknya.

Mamahnya memegang kuat kedua pundak Via dengan tangannya, dia menatap anak tirinya itu dalam-dalam lalu tersenyum ,”Ngga apa-apa kok, Mamah ngerti. Sekarang kamu udah
mau SMA, tapi pesen Mamah ati-ati yah sama cowo, takutnya kamu malah kayak
Zahra yang diputusin sama Kiki nangisnya kejer-kejer. Ampe puasa satu
bulan.”katanya panjang lebar lalu melepaskan peganganya di pundak Via.

Via menatap Mamah Tirinya itu tidak percaya. Baru kali ini Via diperlakukan seperti ini. Via tersenyum ,”Makasih ya Mah, sekarang Via mau siap-siap dulu, Gak
apa-apakan Via jalan sama Iel?”ujarnya lalu tersenyum jahil

Mamahnya mengangguk lalu menjawil dagu Via pelan, “Boleh kok, sukses yah nge date nya. Kayaknya dia suka tuh sama kamu.” Mamah Via pun langsung meninggalkan Via yang
masih berdiri di ambang pintu. Berjalan menuruni tangga.

Via kini sudah siap. Dia sedikit berlari ketika menuruni tangga rumahnya. Sesaat dia mencari sepatunya di rak sepatu yang berada di bawah tangga, setelah
menemukan sepatu sendal yang cocok untuk warna baju yang ia kenakan, Via langsung
berlari menuju ruang tamu. Dimana Iel berada.

“Maaf Yel nunggu lama. Gue ketiduran hehe.”ujar Via seraya duduk di sofa depan Iel duduk, lalu memakai sepatu sendalnya.

Iel meneguk sirup cocopandan yang tadi di sajikan oleh Mamah Via lalu menjawab, “Bulukan nih gue nunggu lo. Kan
gua tadi bilang, jangan telat.” Iel sedikit bercanda, lalu tersenyum jahil
ketika mendapati Via sedikit manyun, “Udah jangan manyun. Jelek lo. Pamitan aja
langsung sama nyokap lo.”lanjutnya lagi. Via mengangguk dan berdiri. Lalu
melihat ke taman yang berada di depan rumahnya, Mamahnya sedang mengurusi
tanaman. Via pun berjalan mendahului Iel keluar dari rumahnya. Iel mengekor.

“Tante, Via nya saya bawa dulu yah..”pamit Iel sopan yang hanya dijawab anggukan Mamah Via lalu tersenyum dan melanjutkan meneliti bonsainya.

“Via berangkat Mah.”ucap Via, kali ini dia yang pamitan, tanpa menghampiri Mamahnya. Malas, Mamahnya berada di tengah taman, berarti dia harus menginjak tanah dulu,
bisa membuat sepatu sendalnya kotor. Via langsung mengajak Iel untuk segera
pergi.

***

Iel telah memegang 2 tiket menonton film Karate Kids. Mereka akan duduk di kursi

D4 dan D5. Iel yang membayar menontonnya. Awalnya Via menolak, berusaha menghalangi niat Iel untuk membayarinya. Tidak enak dan takut dikira cewek matre. Tapi Iel tetap bersikukuh untuk membayari Via,
‘sekali-kali nraktir’ ujarnya enteng. Malas berdebat terlalu lama, akhirnya Via
mengalah dan balas mentraktir Popcorn beserta minumnya. Iel akhirnya tidak
menolak.

Via dan Iel kini tengah duduk di kursi di dalam studio 3. Dimana film Karate Kids akan segera diputar. Via duduk di kursi nya, dia mengubah sebentar profile HP
nya menjadi ‘silent’. Iel sendiri memilih mematikan HP nya. Tak lama film pun
segera dimulai.

Jantung Iel berpacu cepat, aliran darahnya mulai teraduk tidak teratur. Keringat dingin mulai keluar dari telapak tangannya. Dia berusaha menikmati film bergenre
komedi di depannya ini. Tapi gagal. Rasa sesak kini menerpanya. Mengapa
perasaan ini muncul lagi? Bukankah sudah ia tanam dalam-dalam perasaannya ini?
Entahlah, yang pasti dia merasakan sensasi yang berbeda. Ketika dia duduk
berdua, bersampingan dengan Via. Melihat secara jelas apa yang dilakukan Via,
walaupun tidak ada lampu yang menerangi tetapi sepertinya kontak batin sangat
terjalin. Dia sendiri sirik, mengapa Via bisa sangat menikmati film ini? Sedari
tadi, tak hentinya dia tertawa, apakah dia benar-benar tak mempunyai perasaan
seperti dirinya? Apa memang dia saja yang terlalu berlebihan? Apa Via masih
tidak juga sadar bahwa dia mengajak Via nonton adalah langkah awal untuk pdkt?
Apa Iel yang terlalu cepat mengambil langkah?

Via melahap popcorn yang sedari tadi dia peluk rapat-rapat. Dia sangat menikmati film yang sekarang sedang di suguhkan di hadapkannya. Film yang sangat seru,
kocak, lucu, tetapi menyentuh ini membuatnya sejenak lupa dengan perasaan dan
fikiran yang tadi siang sempat menghampirinya. Eh…tunggu….perasaan tentang
seseorang yang kini duduk di bangku sebelahnya. Via merogoh HP nya yang ia
taruh di dalam tas kecilnya, melihat jam. Jam di HP itu menuliskan sekarang
masih jam 4.15. baru setengah jam dari film dimulai. Tapi mengapa rasanya
sangat lama? Via melirik ke arah Iel yang duduk di sebelah kanannya. Popcorn
nya masih utuh, tapi minumnya sudah habis. Via lalu mulai mengamati Iel.

“Yel….”bisik Via pelan, tepat dikuping Iel.

Iel sedikit terlonjak, hampir saja dia menjerit, dia menatap yang kini malah nyengir seraya menatapnya , “apaan?”tanya Iel, sedikit geram, padahal dia bukan
kaget atau kesal karena diganggu menonton, tapi karena sedari tadi memikirkan
Via.

“Lo kenapa sih? Popcorn lo utuh? Terus ini film kan lucu, kok lo dari tadi nontonnya serius banget.”ujar Via, suaranya sangat kecil. Hanya Iel yang mampu mendengarnya.
Lalu ia menyeruput Ice Lemon Tea yang tadi dia beli, dan ia taruh dia ujung
tangan kursi itu.

Mata Iel jelalatan mencari popcorn nya sendiri, ternyata masih tersimpan rapih di tempat penyimpanan makanan, di ujung tangan kursi, lalu dia mulai merauk
popcornnya , “kenapa emang? Nih gue makan….”katanya, mencoba santai seraya
memasuk-masukkan satu persatu popcorn kedalam mulutnya.

“Tapi dari tadi lo gak ketawa, dari tadi aja gue ngakak nonton ini film. Lo kenapa yel? Sakit?” nada suara Via masih sangat kecil. Sadar bahwa ini adalah bioskop.
Lalu dia menempelkan punggung tangannya ke kening Iel, mengecek kondisi Iel.

Iel sedikit melting saat tangan Via menempel di dahinya, beruntung gelap, mau semerah apapaun rona wajahnya tak akan terlihat. Setelah Via melepaskan
tangannya dari keningnya, Iel menjawab , “ngga kok gak apa-apa. Lanjutin
nontonnya.”

Via hanya mengangguk. Meraih kembali popcornnya yang tadi dia taruh sebentar di ujung tangan kursi. Rasa itu kembali menyergapnya. Percis seperti apa yang tadi
Iel rasakan. Dadanya sesak. Perasaannya digelayuti berbagai pertanyaan,
pertanyaan yang sebenarnya masih terlalu ragu untuk dia jawab secara mantap.
Via menghela nafasnya, berat. Kembali menfokuskan dirinya kepada film komedi di
depannya.

Satu jam kemudian film itu selesai. Via menggeliat sebentar di atas kursinya, sementara Iel yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya. Akhirnya mereka
beruda pun keluar dari studio itu. Iel sendiri sangat tidak menikmati film itu,
walau sesekali dia ikut tertawa, jika orang lain tertawa, tentunya.

“Mau kemana lagi Yel?”tanya Via setelah mereka berada di depan pintu bioskop.

Iel melihat jam yang melingkar di lengan kirinya, “jam 5 lebih, mau makan dulu?”tawarnya.

Via menggeleng lalu memegangi perutnya, “gue kenyang, minum coca cola satu kaleng, lemon tea satu gelas, popcorn satu bungkus.”ujarnya polos, Iel terkekeh, “tapi
kalau lo mau makan ayo aja gue temenin.”lanjutnya cepat. Takutnya pria
dihadapannya ini sangat lapar, dan mengurungkan niatnya ketika wanita yang ia
ajak menolak.

“Gue juga gak laper. Muter-muter aja yuk. Liat-liat, siapa tau ada yang bagus. Sekalian anterin gue pilihin kado buat sepupu gue, Bastian.”ujar Iel yang di
jawab oleh anggukan dari Via. Iel mulai melangkahkan kakinya, disertai Via yang
berjalan di sampingnya. Mereka berjalan memutari lantai tersebut, tanpa
mengucapkan sepatah katapun. Akhirnya Iel mengajak Via duduk di kursi yang
berada di tapi Mall itu.

“Vi, tadi itu nyokap tiri lo kan?”tanya Iel sedikit berhati-hati, ketika mereka sudah duduk berdampingan.

“Iya, kenapa emang Yel?”ujar Via santai, lalu membenarkan posisi tas nya.

“Ya gak apa-apa, tapi kayaknya baik deh.”

“Baik sih baik…tapi ya…..gitu deh.”kata Via seraya mengangkat bahu.

Iel merasa dia salah membawa topik obrolannya dengan Via, “ya selama dia baik sama lo, gak usah dimasukin hati lah Vi.”ujarnya.

“Iya sih.”kata Via sedikit malas.

Iel kini menatap Via lalu tersenyum ,”kalau lo butuh temen cerita, gue siap dengerin curhatan lo.”ucap Iel sepenuh hati.

Via balas menatap Iel, lalu tersenyum ,”Thanks yah Yel.”ujarnya. Iel mengangguk.

“Sama-sama Vi. Eh betewe, pengumuman test kapan?” Iel memulai topik barunya.

“Hari sabtu nih Yel, gue gemeteran. Takutnya gagal, puas deh Kakak gue ngatain gue.”jawabnya lalu tersenyum pahit.

Iel merasa kembali salah memilih topik obrolannya, “ya berdoa aja semoga masuk. Nyokap kandung lo sendiri gimana? Bokap lo?”tanyanya. menginginkan Via untuk
bercerita kepadanya. Ia sendiri kangen saat-saat Via curhat padanya.

“Gitu aja sih Yel. Nyokap masih selalu sms setiap hari nanya kabar gue gitu, tapi gak bertindak jauh, takutnya malah salah paham nyokap tiri guenya. Bokap…dia masih
di luar kota.”cerita
Via seadanya. Dia sendiri jadi kangen sama Mamahnya. Terakhir ketemu waktu
rapat sekolah itu. Mamah tirinya sebenarnya sudah tidak terlalu mau Mamah
kandung Via mencampuri urusan Via.

Iel mengangguk , “yang sabar yah Vi nikmatin aja semuanya.” Via mengangguk dan tersenyum ,”anter gue ke toko itu yuk. Beli kado buat sepupu gue.”lanjutnya seraya menunjuk salah
satu toko yang berada tak jauh dari tempat mereka duduk. Via mengangguk. Iel
berdiri dan diikuti Via.

Via melihat-lihat isi toko itu. Yang dominan berisikan barang untuk lelaki tapi tak sedikit barang untuk perempuan juga. Iel mencuil pelan bahu Via yang sedang
melihat-lihat robot-robottan cowok. Via menoleh.

“Gue kasih ini oke ga?”tanya Iel seraya megangsurkan robot berbentuk superman.

“Emang dia umur berapa?”tanya Via yang kini meneliti robot yang Iel pegang.

“4 tahun gitu deh…..”

“Dia sukanya apa?”

“Gue gak tau, gue gak deket ama dia, hehe.” Iel nyengir. Via melengos.

“Yaudah kasih ini aja atau gak mobil-mobillan, netral, semua anak cowok suka, eh tapi jangan mobil deh, ini aja, lucu.”kata Via. Iel mengangguk lalu berjalan menuju
kasir, Via mengekorinya.

“Adiknya Mas? Sedikit mirip sih.”ceplos sang pramuniaga lalu mengecek barang yang akan Iel beli melalui komputernya.

“Hah? Adek? Bukan mba! Temen!”ujar Iel dengan keadaan alis bertaut. Via terkekeh.

“Oh bukan. Berarti jodoh. Kan kata orang dulu kalau yang mirip tapi gak ada ikatan darah berarti jodoh” kata
pramuniaga itu yang masih mengecek kode barang yang dibeli Iel. Pipi Via dan
Iel sedikit memerah.

“Itu kan dulu, beda ama sekarang Iye gak Vi?”kata Iel seraya mengeluarkan uang untuk membayar robot itu lalu kembali memasukan dompetnya ke saku belakang celananya. Via hanya mengangguk.

Pramuniaga itu hanya tersenyum lalu menoyodorkan Iel sekantung plastik berisikan robot yang dibelinya tadi. Iel menerimanya lalu tersenyum, mengucapkan terimakasih, dan mengajak Via keluar.

“Mau kemana lagi?”tanya Via ketika mereka sedang berjalan di Mall itu, tanpa tujuan.

“Gue sih terserah lo.”jawab Iel enteng.

“Kan lo yang ngajak jalan, gimana sih.”gerutu Via, bercanda.

Iel melirik ke arah Via lalu mengacak poninya, Via cemberut lalu merapikan poninya. “minum dulu yuk di café coklat.”ajak Iel seraya menunjuk café yang lumayan
ramai pengunjung. Via mengangguk lalu berjalan diiringi Iel disebelahnya menuju
cafe itu.

Café yang dibalut cat berwarna abu-abu dan kursi-kursi tempat pengunjung yang berwarna biru laut itu tampak nyaman. Letaknya
yang berada di lantai 6 (kapan mall di bogor ampe lantai 6 yak -___- ) Mall itu
membuat pemandangan café itu menarik. Via dan Iel memilih duduk di pojok café,
dekat kaca agar bisa melihat langsung ke luar, pemandangan.

Setelah dipastikan mereka berdua duduk, waitress pun mengahmpiri. Via hanya memesan Chocolate Float, sedangkan Iel memesan milkshake strowberry yang ditambahkan
ice cream coklat di atasnya.

“Gue gak nyangka deh Riko bisa nembak Shilla.”ujar Iel, memecah keheningan antara dirinya dan Via.

Via menatap Iel lalu menangguk ,”Iya, gue juga awalnya takut Riko minder setelah kita tau mengenai penyakitnya.”sahut Via seraya memain-mainkan sendok yang
tergoler di meja dihadapannya.

“Gue juga mikir gitu. Salut deh gue ama Shilla. Dewasa fikirannya.” Iel menambahkan, seraya menyenderkan tubuhnya ke punggung kursi.

“Shilla sih emang paling dewasa di antara kita bertiga.”ujar Via yang sudah berhenti memainkan sendok. Dia hanya menatap Iel dengan tatapan tiada arti.

“Lo juga dewasa kali Vi.”kata Iel santai.

Via sedikit GR dibilang dewasa, eh…emang dibilang dewasa pujian ya? Fikirnya….”Hah gue dewasa? Childish gini masih cengeng.”jawabnya berusaha sebiasa mungkin.

“Cengeng kenapa?”tanya Iel penasaran, nadanya tidak sesantai tadi.

Via mengetuk-ngetukkan jarinya ke atas meja, “Ya cengeng kalau ada masalah, nyokap gue kakak gue…yaaaaaa…….”jawabnya. tak tahu harus meneruskan kalimatnya dengan
apa lagi. Karena sebetulnya dia bukan type cewek yang cengeng.

“Kata Cakka lo gak cengeng, malah lo lebih suka mendem semuanya. Terbukti kan kaya lo selalu pura-pura gak ada apa-apa di depan semuanya. Eh…tiba-tiba curhat deh ke gue
ampe nangis. Dan itu kayaknya lo jarang banget nangis sampai akhirnya lo
ngeluarin semuanya dalam satu waktu.”cerocos Iel panjang lebar. Sesuai dengan
yang ia tahu. Bagaimana Via dimatanya.

Via tertegun, dia menundukan kepalanya. Memainkan jarinya. Sebetulnya perkataan Iel memang benar. Dia jarang menangis. Karena menurutnya menangis tak akan
menyelesaikan masalaha. Dia lebih memilh untuk memendam perasannya. Akhirnya
dengan berani dia kembali mengangkat wajahnya, “Kok Cakka? Emang dia cerita apa
aja ke lo?”tanyanya, sedikit mengalihkan pembicaraan, yang memang sebenarnya
membuatnya aneh, mengapa Iel membawa nama Cakka?

“Ya…Cakka suka cerita aja waktu dia masih jadian sama lo. Katanya lo gak pernah nangis. Kalau udah kelewat kesel baru nangis. Tapi bukan nangis karena sedih.”jawab Iel
seadanya. Berusaha untuk jujur. Walaupun sebenarnya hatinya ketar-ketir.
Sesungguhnya, dialah yang suka meminta Cakka untuk menceritakan tentang Via,
“lo kenapa sih Vi gak suka nangis kayak cewe kebanyakan?’

Via berhenti menganggukan kepalanya, mengerti ucapan Iel barusan. Kemudian dia langsung mengangkat bahunya, menjawab pertanyaan Iel, “males aja gue nangis.
Gak akan nyelesaian masalah. Dan gue emang bukan cewek dikit-dikit nangis.
Mending sekaligus. Hehehehe.”katanya diselingi cengirannya.

“Bener juga sih. Tapi sekalinya nangis ituloh. Kejer banget. Gue aja ampe kaget.” Kata Iel, mengingat kejadian saat Via menariknya dari rumah Ify da menyuruhnya
langsung ke taman.

Via mengangkat jarinya dan membentuk tanda ‘peace’. “Udah ah gak usah ngomongin gue. Tadi kan
ngomongin Shilla sama Riko.”ucap Via, mengalihkan pembicaraan. Tiba-tiba
waitress datang dan menaruh pesanan mereka di hadapan mereka. Setelah
mengucapkan terima kasih, waitress itu pergi.

Iel mengaduk pelan Milkshake stroberry nya, “Males ah ngomongin mereka. Bikin envy aja mereka pacaran.”ceplos Iel, lalu pelan-pelan menghirup milkshake nya.

Via yang baru saja menyerudup Chocolate Float nya sedikit terkekeh mendengar ucapan Iel, “ya pacaran lah Yel.”sahutnya.

“Yah, ceweknya aja gak mau sama gue. Malah gak nyadar kali gue suka sama dia.”kata Iel setelah menyendokkan ice cream coklat diatas milkshakenya ke dalam
mulutnya. Ia sendiri tidak sadar dengan ucapannya. Jantungnya meulai berdetak tidak
karuan, darahnya berdesir cepat. Salah ngomong.

Via sendiri merasa bahwa ucapan Iel tadi dimaksudkan untuk dirinya. Pipinya sedikit memerah, malu. Ada
rasa bersalah di dalam dadanya. Dia menunduk seraya terus menyeruput ChocFloat
nya. Berusaha memikirkan apa yang harus ia jawab atas pertanyaa Iel. Dan,
mengapa jantungnya seperi berdetak 2km/detik? Apakah sebenarnya dia juga suka
kepada Iel?

Iel sendiri kikuk dengan keadaan seperti ini. Dia yang terakhir bicara. Dan Via tidak menyahut itu. Dia mengaduk-aduk milkshake nya. Menyibukkan dirinya.
Mengalihkan fikirannya. Keringat dingin perlahan mengucur dari telapak
tangannya. Suasana mereka dingin. Gara-gara salah ngomong nih…batin Iel
merutuki dirinya sendiri.

Akhirnya Via mengangkat wajahnya dan tersenyum, mencoba mengucapkan sesuatu yang sedari tadi dia rangkai habis-habisan. Agar tidak menimbulkan kekauan lagi , “Ah masa
sih Yel. Kali aja tuh cewek juga suka sama lo. Malu kali ceweknya. Hahahah eh
betewe, abis ini pulang yah.”sahutnya. ah…kok ngomong gitu? Itu sih gue
banget….fikir Via lalu menggigit bibir bawahnya.

Pipi Iel sedikit memerah. GeeR dengan ucapan Via tadi. Via sadar kali yah tadi itu omongan gue tentang dia? Terus dia jawab lagi secara langsung tentang dia ke
gue? Batinnya terus bertanya-tanya tanpa satupun ada yang terjawab. “Ya kali
aja yah Vi. Oke. Ini gue udah abis milkshake nya.”katanya lalu. Mulai
mengalihkan pembicaraan.

Via mengangguk. “gue juga udah abis nih.”katanya. Iel lalu emanggil waitress dan meminta bill. Via sempat memaksa untuk membayar minumannya sendiri. Tetapi Iel
terus menerus membayarkannya. Seperti kejadian di bioskop tadi. Akhirnya Via
mengalah. Mereka pun jalan beriringan menuju tempat Iel memarkirkan motornya.


***

Our Life, Our Destiny, and the Best for Us :) part 20

***


“Ya gitulah.”jawab Riko santai. Tak mungkin ia menceritakan semuanya “Waktu itu gue ketemu Ify disini, dia lagi nengok sodaranya, dan…dia liat gue keluar dari ruang khemo…ya gitu…”lanjutnya.
. Lalu ia kembali menatap Ify yang kini tersenyum.

“Stadium berapa Ko?”tanya Riko kini.

“Akhir.”

“Terus lo kenapa bisa disini? Kumat tiba-tiba? Gimana ceritanya?”Rio membujuk Riko untuk menceritakan semuanya. Riko mengangguk.

Riko menceritakan semuanya sampai akhirnya dia jatuh, tdia tidak menceritakan bagaimana dia bisa sampai dirumah sakit. Karena dia sediri tidak mengetahuinya. Sebenarnya ketika Riko terjatuh, Keke baru saja
pulang dari rumah Aren yang bertetanggan dengan Shilla, dan menemukan Riko
sudah tergeletak. Jadilah Keke langsung menghubungi Mamahnya dan membawa Riko
ke rumah sakit. Tapi, Riko tidak menceritakan bahwa rencananya adalah untuk
menembak Shilla. Semuanya mengangguk, mengerti.

“Lo khemo kan Ko?”Iel kini yang bertanya.

“Iyalah. Kalau kagak gue udah mati dari kemaren kali.”

“Hussh!” Via memperingati Riko agar tidak bicara sembarangan, Riko lalu nyengir.

“Umur….lo………”Rio mengataknnya dengan sangat berhati-hati, Ify yang ada disebelah Ify meninju pelan lengan Rio.

Riko terkekeh, “umur gue? Kata dokter sih ni kanker udah parah dan tinggal nunggu kalau kalau ada yang mau donorin, tapi jaman begini, mana ada sih orang yang rela gitu aja ngedonorin hatinya buat
gue?”jelas Riko. Pedih hatinya saat menjelaskan ini semua. Dia sadar, cepat
atau lambat sahabat-sahabatnya juga harus tau. Riko melirik sekilas ke arah
Shilla yang sedari tadi berdiri di sebelah ranjangnya, menunduk, menahan bening
dari sudut matanya.

“Yah umur kan udah ada yang ngatur Ko, santai aja lah. lo masih punya kita yang selalu ada dan nerima lo apa adanya.”timpal Iel seraya tersenyum dan disetujui oleh
semuanya melalui anggukan kecil.

Riko mengangguk dan tersenyum ke arah Iel, “thanks Yel semangatnya.”

Iel mengangguk,”ini gunanya sahabat.”

Riko tersenyum lalu menoleh ke arah Shilla, “Shil, kok dari tadi diem aja? Nunduk mulu gak pegel?”ujar Riko yang membuat Shilla gelagapan. Ify, Rio, Iel, dan Via hanya
tersenyum melihat Shilla yang sedikit melting.

Shilla mengangkat wajahnya dan berusaha mengukir senyum di wajahnya, “Ah engga ko, gimana keadaan lo? Mendingan?” nada Shilla sedikit bergemetar, mungkin masih sedikit kaget dengan sapaan Riko.

“Alhamdulillah udah lumayan lah.”jawab Riko “eh ya, kalian pada tau dari mana gue disini?”tanyanya lalu menatap wajah teman-temannya satu persatu.

“Si Deva gue suruh nanya ke Keke, terus Keke bilang ke Deva kalau lo disini. Jadi….kita kesini sekalian ngejenguk lo lah.” Iel menjelaskan sejujurnya kepada Riko. Riko mengangguk mengerti.

Semuanya pun larut dalam obrolah. Ada candaan di setiap percakapan. Shilla sudah bisa mengendalikan emosinya dan bersikap biasa saja kepada Riko seolah ‘rencana penembakan gagal’ itu hanyalah angin lalu. Rio pun sahut menyahut ketika mereka sedang bercanda. Ify
pun menghela nafas karena rahasianya tidak terbongkar secepat Riko. Via dan Iel
pun ikut terlarut dalam obrolah sahabat-sahabatnya itu.


***


Hari berjalan dengan cepat secepat angin yang berhembus dari Australia menuju Indonesia
(nah loh? Emang iya? Maaf kalau gue sotoy) . Riko telah pulih dari kedaannya
dan kini ia sudah bisa melakukan kegiatan sehari-harinya. Ify dan Via sibuk
mempersiapkan diri karena esok mereka akan test RSBI SMA. Mereka membaca ulang
semua materi yang guru-guru pernah ajarkan kepada mereka selama ini. Berharap
apa yang mereka pelajari akan keluar dalam soal test.

Karena Ify dan Via test SMA, otomatis mereka tidak masuk sekolah. Ahasil ke-empat sahabatnya yang lain pun memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Bukan bolos, karena mereka pun sudah bebas untuk ke sekolah.
Lagian, mereka pun memperhatikan kondisi Riko yang baru pulang dari rumah
sakit.

Akhirnya Via dan Ify pun selesai test RSBI SMA. Ada rasa pesimis yang tertanam dalam diri mereka setelah mendapati soal-soal test yang…ew….sama sekali berbeda dari apa yang mereka perkirakan. Ify dan Via hanya menunggu
keajaiban. Keajaiban akan jawaban mereka yang hitung kancing adalah jawaban
yang benar.

Test SMA terlaksana mulai dari hari Senin hingga Rabu. Rencananya Ify dan Via akan kembali bersekolah pada hari Kamis ini. Tapi setelah menghubungi sahabatnya yang lain, mereka sama-sama malas untuk
berangkat sekolah. Karena di sekolah pun mereka tidak akan belajar, sekedar
berkumpul. Via sebenarnya sedikit bosan, itu artinya dia akan diam di rumah
selama 4 hari ke depan hingga hari Senin tiba. Dan dia juga harus siap mental jikalau
Kakaknya mulai mengata-ngatainya lagi.


***


Hari senin pun tiba. Ke-enam sahabat itu telah sepakat untuk datang ke sekolah. sejujurnya mereka rindu karena telah satu Minggu tidak bertemu. Kecuali Rio, karena dia masih suka mengantar Ify untuk
khemoterapy.

Jam 8 mereka sudah sampai dan berkumpul di kantin. Keadaan sekolah luamayan ramai karena anak kelas 7 dan 8 tidak libur, mereka masih belajar seperi biasa. Anak kelas 9 pun banyak yang datang, untuk sekedar
bertemu teman yang lainnya. Ify asik mengunyah rotinya, Rio yang duduk
disebelah ify sibuk memainkan BB nya, Shilla duduk berhadapan dengan Riko
mengobrol enteng, Via sendiri sibuk memakan nasi goreng yang adi dia bawa dari
rumah, sedangkan Iel yang duduk di apit oleh Shilla dan Via hanya diam.

“Ah bete, pada sibuk sendiri.”celetuk Iel di tengah kesunyian. Via sedikit tersedak karena ucapan Iel yang mengagetkannya, lalu ia maninju pelan lengan Iel, Iel hanya tekekeh. Riko dan Shilla menoleh
kearah Iel lalu terkekeh, sedangkan Ify dan Rio
kompak angkat bahu.

“Bakar nih sekolah, rame dah.”ujar Rio jayus yang disambut dengan toyoran manis ala Riko (?).

“Lagian nih pada sibuk sendiri, dari tadi gue cengo……aja.”timpal Iel, kesal.

“Eh kalian yang pada test SMA begimana soalnye? Bisa kaga?” akhirnya Riko memulai suatu topik percakapan.

Via memegangi kepalanya sendiri, seolah tak ingin membahas itu lagi, “Wah Ko, jangan bikin gue inget itu lagi.”katanya lalu menutup tempat bekalnya yang isinya sudah habis.

“Gue apa lagi……gigit jari deh gue.”timpal Ify santai setelah menelan rotinya.

“Emang susah yah?”tanya Shilla polos.

Via dan Ify kompakan menjawab, “susah banget!!!!!!”

“Optimis dong.”sahut Rio sedikit memberi semangat, lalu mulai membuka ciki nya.

“Gimana mau optimis, jujur nih, usaha gue buat masuk SMA itu dikit baget, jadi kalau gagal juga normal.”kata Via santai, Ify mengangguk.

“Percaya gak percaya gue ngerjain soal IPA sampe nangis.”tambah ify.

“Gila! Lebay banget lo.”komentar Iel pada Ify lalu terkekeh. Ify menjulurkan lidah.

“Emang bener Yel, sumpedah!”

“Tawakal ajalah Fy, iyaga?”ujar Via.

“Kalau gak masuk berarti bukan jodohnya, kalau masuk ya emang jodoh kalian.”sahut Shilla diplomatis yang dijawab oleh acungan jempol kelima sahabatnya yang lain.

Mereka pun melanjutkan obrolan ringan mereka layaknya saabat-sahabat lainnya. Tak ada pembicaraan yang serius, semua diselingi dengan tawa mereka yang renyah.


***


Dari sepulang sekolah tadi, Shilla tak sabar ingin cepat-cepat jam 4. menyesal karena tadi di sekolah hanya sampai jam 11. harusnya tadi di sekolah yang lama, kalau kumpul kan waktu gak kerasa, lah kalau gini?
Sendirian, nunggu sejam berasa nunggu sehari….dumel Shilla dalam hati ketika
dia sedang membaca-baca majalahnya di ruang Tv . Sebenarnya jam 4 ini dia akan
jalan bersama Riko. Entah ada angin apa, dan memang sudah lumayan lama Riko
tidak mengajak Shilla jalan. Tadi sekitar jam setengah 1 Shilla dikirimi SMS
oleh Riko yang mengajaknya main di Timezone seperti kala itu. Tanpa pikir
panjang, Shilla meng-iya-kan ajakan Riko.

Shilla memtar-mutar Channel TV nya. Berusaha menemukan acara yang bagus. Tapi gagal. Acara yang disajikan oleh televisi tak jauh hanya kasus Ariel-Luna-Cuta Tari. Etdah……bosen gue nonton mereka bertiga
mulu yang nongol….batin Shilla. Akhirnya Shilla pun memutuskan untuk tidur
barang satujam, toh sekarang masih jam 1, dan Riko akan menjemputnya jam 4.

Shilla baru bangun dari tidur siangnya yang sangat nyenyak, lalu menggeliat di atas sofa ruang Tv nya. Mamahnya yang berada di meja makan, melihat kelakuan Shilla hanya menggeleng-gelengkan kepala lalu
masuk ke dalam kamarnya. Shilla mengerjap-ngerjapkan matanya. Sinar lampu cukup
membuatnya silau. Diliriknya jam yang tepat berada di dinding hadapannya, jam
3…. Shilla berusaha mengumpulkan nyawa. Dia mendudukan tubuhnya lalu meraih HP
nya yang tergoler di meja depan sofa. Hanya ada SMS dari operator….lama lama
gue pacarin nih operator, tiap hari sms mulu….

Shilla sudah selesai mandi, dan bersiap-siap. Kini ia tingggal memakai sepatu flat nya yang berwarna coklat. Sekarang sudah jam 4 kurang 5 menit. Tadi, jam setengah 4, Riko mengiriminya SMS lag, sekedar
mengingatkan bahwa jam 4 ia akan menjemputnya. Kini Shilla sedang duduk di
ruang Tv, memakai sepatunya. Tak lama kemudian, bunyi mesin motor Riko
berbunyi, Shilla ingat betul bunyi mesin itu. Bergantian dengan itu, bunyi bell
ruamh kini yang berbunyi. Cepat-cepat Via membukakan pintu, walaupun keadannya
masih memakai sepatu sebelah.

“Eh Riko.”sapa Shilla pura-pura kaget dengan kehadiran Riko setelah dia membuka lebar pintu rumahnya.

“Udah siap kan Shil?”kata Riko lalu tersenyum, “Eh itu, lo kok Cuma pake sepatu sebelah?”lanjutnya setelah melihat keadaan kaki Shilla.

Shilla mengintip kakinya lalu tersenyum ke arah Riko, “hehe tadi buru-buru bukain pintu, kirain orang penting.”jawab Shilla asal, “masuk dulu Ko”katanya lagi yang diiringi anggukan kecil dari Riko.
Shilla mempersilahkan Riko untuk duduk di ruang tamunya, sedangkan ia sendiri
melanjutnka memakai sepatu dan mencangklong asal tas tangannya.

“Izin dulu sama nyokap lo.”kata Riko setelah Shilla beres dan menghampirinya.

Shilla mengangguk lalu berjalan menuju kamar Mamahnya. Tak lama ia datang bersama Mamahnya, Mamahnya tersenyum melihat kedatangan Riko , “Riko yah?”sapa Mamah Shilla ramah.

Riko mendekati Mamah Silla lalu bersalaman dengannya, “Iya tante. Shilla nya saya pinjem dulu yah.”ujar Riko sopan seraya tersenyum.

“Iya…ati-ati yah…pulangnya jangan sampe lecet yah…”jawab Mamahnya diseligi candaan. Riko mengangguk. Shilla dan Riko pun akhirnya pamitan.

Tempat bermain Timezone seakan menjadi saksi bisu dimana derai tawa dari sepasang insan muda itu. Mereka sangat menikmati hari itu. Candaan selalu terlontar dari mulut mereka. Permainan tak mereka mainkan
secara serius, hanya untuk hiburan. Shilla dan Riko sangat menikmati keadaan
seperti ini. Menyenangkan. Melupakan segala beban yang ada. Mereka bersama-sama
bermain.

Setelah 3 jam bermain di timezone, Shilla dan Riko kelelahan. Shilla juga mengingtakan untuk selalu menjaga keadannya. Riko akhirnya mengajak Shilla mengakhiri bermainnya dan melanjutkan untuk makan di
café yang cukup cozy di mall itu. Shilla hanya menurut. Tanpa Riko sadari,
ketika ia dan Shla akan menuju ke sebuah café, tangan Riko menarik pergelangan
Shilla.

“Ehm…tangan gue Ko.”ujar Shilla,sedikit malu, ketika dia dan Riko akan duduk di café itu.

Riko melepaskan genggamannya dari tangan Shilla dengan cepat lalu menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, “sorry Shil, gak sengaja.”ujarnya.

“Santai lah.”jawab Shilla setelah berhasil duduk di hadapan Riko, seraya tersenym. Lalu waitress pun menghampiri mereka, mereka pun memesan beberapa makanan dan minuman. Selagi menunggu pesanan, mereka hanya
berdiaman, sampai akhirnya mereka memakan pesanan mereka, Riko baru bersuara

“Shil.”desis Riko pelan setelah berhasil menelan lembut steak tenderloin nya.

Shilla mengangkat wajah lalu menghirup Jus Jeruknya, “kenapa Ko?”

Riko meminum pelan Lemon tea nya, berusaha mengumpulkan tenaga, “lo…gak ngerasa aneh gitu…jala sama cowok lemah kayak gue? Cowok penyakitan….”tanyanya berhati hati sembari mengernyitkan keningnya.

Shilla mengunyah dan menelan beef burger terakhirnya dengan cepat, “ngapain haru aneh Ko?”ujarnya lalu meminum lagi Jus Jeruknya.

“Ya…gue kan cuma cowok lemah gitu. Penyakitan…umur gue gak lama lagi….”kata Riko berusaha santai saat mengucapkan itu padahal sebenarnya hatinya miris sendiri
mengucapkan hal itu.

“Stop Ko Stop! Gue gak mau ngebahas umur lo atau penyakit lo. Menurut gue ini emang udah takdirnya, dan ya…mau gak percaya segimanapun tapi tetep ini yang terjadi…sebagai sahabat yang baik gue bukan
type pemilih sahabat yang pas gue tau lo penyakitan gue ninggalin lo…dan
disitulah dimana persahabatan kita diuji. Gue yakin, dalam kondisi lo yang kaya
gini yang lo butuhin support dari orang-orang terdekat lo, Cuma mereka yang
bisa ngebangkitin semangat lo, dan salah satu dari mereka itu gue Ko. Gue
terima semuanya Ko.”ucap Shilla panjang lebar. Mengungkapkan segalanya yang ada
di benaknya untuk Riko. Untuk sahabatnya,yang paling ia sayangi.

Riko terhenyak mendengar ucapan Shilla yang sangat bijak, sesaat ia menunduk lalu menatap Shilla dalam-dalam, “itu kalau posisi lo sebagai sahabat? Apa lo mau kalau posisi lo lebih dari sahabat?” entah benar
atau tidak kondisi atau caranya, Riko hanya mengeluarkan ucapan yang terlintas
di otaknya. Ia harap ucapannya membuat Shilla mengerti sehingga ia tidak perlu
memutar-mutar otak untuk menemukan kata yang lebih ‘oke’.

“Maksud lo…..posisi yang lebih dari sahabat….?”tanya Shilla. Sesungguhnya dia masih tidak percaya dengan ucapan Riko tadi. Dia hanya tak ingin salah tanggap, maka dari itu ia menanyakan
langsung kepada Riko.

Riko menghela nafas “lo mau gak jadi cewek gue?”ujar Riko spontan yang membuat jantung Shilla berdebar tidak karuan. Bukan hanya Shilla, Riko pun begitu, darah mereka seolah teraduk, bukan mengalir, membuat perasaan
mereka tidak karuan, “hem gue sadar seharusnya gue gak boleh punya perasaan
lebih ke lo, kalau mengingat masalah penyakit dan umur gue ini..tapi ini
anugrahh dari Tuhan buat gue, dan gue cuma pengen jujur tentang perasaan gue,
gue gak maksain buat lo nerima gue, Karena gue tau diri dalam kondisi gue
seperti ini..lo tau lah….”

“Gue mau jadi cewek lo.”kata Shilla cepat, memotong ucapan Riko tadi. Pipinya bersemu merah. Dia hanya mampu menunduk, menyembunyikan rona merah di wajahnya. Jantungnya berdetak hebat, keringat
dingin perlahan mengucur di telapak tangannya.

Riko menegakkan duduknya yang sedari tadi bersender pada punggung kursi, dia menatap Shilla di depannya yang sedang tertunduk ,”hah? Mau Shil? Gak salah denger? Kamu mau nerima aku dalam kondisi
aku yak kayak gini?”katanya. nadanya terlalu bersemangat tetapi sedikit ragu.

Shilla mengangkat wajahnya, menatap Riko, lalu mengangguk sekilas, tanpa berbicara apapun. Senyum berkembang terulas di awajahnya.

Rio sedikit mengambil nafas lalu ia hembuskan perlahan, “tapi aku takut ngecewain kamu…aku takut tiba-tiba ninggalin kamu, takutnya saat itu kamu lagi butuh aku.”ujarnya pelan, tetapi
matanya masih menatap mata Sihlla yang bening.

Shilla tersenyuh ketika benar-benar mendapatkan tetapan yang mata dalam dari seorang Riko, seseorang yang selama ini ia beri perasaan lebih, Shilla menikmati sejenak kehangatan tatapan itu, lalu menjawab
, “aku gak mau mikirin itu, itu gimana nanti, yang aku mau sekarang ngejalanin
yang udah ada. Semua udah ada jalannya Ko, dan semua itu yang terbaik. Kamu
percaya kan?”lagi-lagi
ucapan Shilla sangatlah bijak dan membuat Riko semakin mengagumi wanita di
depannya ini. Wanita yang kini sepenuhnya telah memiliki hatinya, dan wanita
yang juga ia miliki hatinya.


***

Setitik Kehadirannya

Pagi yang cerah ini disambut oleh burung-burung dengan kicauan nadanya yang merdu. Aktifitas di kota ini pun berjalan dengan lancar seperti biasa. Ada satu anak manusia yang memulai aktifitas barunya mulai hari ini. Senyum merekah terukir jelas di wajahnya yang ayu. Dengan semangat, dia melangkahkan kaki keluar rumah, menuju tempat baru yang mulai hari ini akan ia habiskan selama setengah hari, dari hari Senin hingga Jum’at pastinya, diantar oleh sopir andalannya .
Keadaan jalan raya yang mulai ramai, ditambah suara mesinnya yang menderu, membuat anak manusia a.k.a gadis itu seperti keheranan. Ia sangat senang melihat keadaan ramai seperti itu. Juga pengemis-pengemis yang mulai meminta-minta, mengetuk kaca-kaca kendaraan yang tengah berhenti atahu terjebak macet, sekedar meminta sepeser atahu dua peser,membuat gadis itu bergitu iba. Dirogohnya saku bajunya, ia memberikan uang selembaran Rp. 5000,- kepada pengemis itu seraya tersenyum. Si pengemis tak hentinya mengucapkan terimakasih dan di jawab dengan anggukan kecil gadis itu. Sopirnya tersenyum melihat kelakuan majikan kecilnya.
Akhirnya dia pun sampai ditempat tujuannya, si sopir sebenarnya sudah menawarakan diri untuk mengantarnya masuk, tapi dia menolak dan menyuruh sopirnya pulang. Alhasil kini dia sendiri menyusuri koridor, mencari ruangan yang sedari tadi dia ingat-ingat, ruangan yang disampaikan oleh Bundanya tadi di rumah. Setelah menempuh satu lorong koridor, akhirnya ruangan itupun ketemu. Dia mengetuk perlahan pintu ruangan itu, setelah ada suara menyahut memberi perintah masuk, dia masuk dan duduk di kursi berhadapan dengan orang yang tadi memberi perintah ‘masuk’.
“Kamu murid baru itu yah?” tanya orang itu, tepatnya ibu-ibu paruh baya yang terlihat sangat ramah. Namanya Bu Ira.
“Iya bu.” jawab gadis itu, lalu tersenyum.
“Baik. Sekarang mari ibu antar kamu ke kelas kamu. Bell masuk 5 menit lagi.” tutur Bu Ira manis lalu beranjak dari kursinya menuju luar ruangan. Gadis itu mengekor di belakang, sampai langkah Bu Ira berhenti di suatu kelas. Bu Ira memasuki kelas itu, setelah sebelumnya menoleh pada anak itu, memberi isyarat untuk ikut masuk. Anak-anak dalam kelas itu seketika langsung kembali ke tempat duduknya masing-masing, tertib.
“Pagi anak-anak.” seru Bu Ira dari depan kelas yang dijawab dengan kooran anak-anak. Gadis yang sedari tadi mengekor itu berdiri disebelah Bu Ira dengan keadaan kepala ditundukan. “Hari ini kalian mendapatkan teman baru.” lanjutnya lalu menoleh ke arah gadis disebelahnya, gadis itu mengangkat wajah dan tersenyum, “silahkan perkenalkan diri kamu, nak.”
“Nama saya Sivia Azizah, cukup panggil saya Via. Mohon bantuannya.” ternyata nama gadis itu Via, dengan lantang dan penuh percaya diri dia memperkenalkan namanya. Ibu Ira tersenyum lalu mengangguk.
“Sekarang kamu duduk dengan Ify yah, disitu.” perintah Bu Ira, menunjuk bangku disebelah gadis berdagu lancip itu, Via menganngguk lalu melangkahkan kaki menuju tempatnya. Setelah memastikan Via berhasil duduk, Ibu Ira pun pergi.
“Hey.” sapa Ify ramah setelah Via duduk disebelahnya.
Via mengangkat wajahnya dan melihat wajah Ify, “Hey.”
“Nama gue Alyssa, tapi cukup panggil gue Ify.” Ify mengulurkan tangannya, memperkenalkan diri.
Via menjabat tangan Ify ramah, “Via.”jawabnya.
“Lo pindahan dari mana?” tanya Ify.
“Hah?” Via seperti gelagapan ditanyai itu, Ify mengernyitkan dahinya, “Oh, gue dari dulu home schooling, baru kali ini gue sekolah di sekolah umum.” jelas Via tanpa terbata. Ify mengangguk. Tak lama bell berbunyi, tapi guru jam pertama kelas mereka dinyatakan tidak hadir karena ada urusan, alhasil mereka hanya diberikan tugas sederhana.
Saat jam isitirahat, Via di ajak oleh Ify menuju kafetaria. Dia pun tak menolak ajakan Ify. Dia penasaran bagaimana kondisi dan suasana kafetaria pada sekolah umumnya. Selama perjalanan menuju kafetaria, semua mata menuju padanya, sadar akan dirinya adalah orang baru dilingkungan ini. Tak ingin dibilang orang baru yang ‘tidak sopan’ , dia menyunggingkan senyum kepada semua yang menatapnya. Ify tidak menghiraukan itu.
“Mau makan apa Vi?” tanya Ify setelah mereka mendapatkan meja di kafetaria ini. Letakya dekat tukang bakso andalan sekolah.
“Samain sama lo aja deh Fy.” jawab Via lalu mengamati setiap aktifitas di kafetaria ini. Ify beranjak menuju tukang bakso dan berbincang sebentar, setelah itu dia kembali ke tempatnya bersama Via. Via masih tersenyum melihat kafetaria yang ramai ini, pemandangan barunya.
“Lo kenapa?” tanya Ify, ganjil akan kelakuan Via yang sepertinya senang melihat kondisi seperti ini.
Via menoleh ke arah Ify, “ini pertama kalinya gue ke kafetaria.” jawabnya polos.
Ify tersenyum sedikit, lalu terbahak, Via menatapnya heran, “Wahahahaha gue kira kenapa. Iya iya gue inget, sebelumnya lo kan home schooling.” seru Ify setelah berhasil meredam tawanya. Via mengangguk pasti, “tapi lo jangan ngeliatin kayak gitu, bisa dianggep norak.” lanjut Ify.
Via menurut dan tidak lagi menatapi seluruh pengunjung kafetaria. Tak lama bakso pesanan pun datang, Ify dan Via dengan semangat memakannya. Saat sedang menikmati suapan bakso terakhirnya, matanya tersangkut satu pemandangan. Via melihat satu lelaki yang membuatnya tidak berkedip. Aha! Via baru ingat, lelaki itu yang duduk di dekat mejanya, sekelas dengannya. Diam-diam Via tersenyum. Si lelaki itu bersama ketiga temannya duduk di meja sebelah tempat Via berada. Sadar seseorang yang sedari tadi Via perhatikan tak suka dengan tatapan Via, Via kembali konsen dengan baksonya.
“Hey Fy.” sapa salah satu dari ketiga teman si lelaki itu dari mejanya.
Ify mendongak lalu tersenyum, “Hey Yo.”
“Itu siapa?” tanya seseorang yang barusan menyapa Ify, namanya Rio.
Ify menoleh ke arah Via lalu kembali menatap Rio, “Ini Via murid baru di kelas gue sama Kiki.” Ternyata si lelaki itu bernama Kiki, batin Via senang. Lalu Via mengangkat wajahnya dan melempar senyum kepada empat pria yang duduk di sebelah tempatnya.
“Hey.” sapa Rio ramah sambil melambaikan tangannya, ”gue Rio, ini Kiki, ini Iel dan ini Alvin.” Rio memperkenalkan semua temannya sembari menunjuk satu-satu.
Via mengangguk lagi, “Hey, gue Via.”

***

Matahari seakan menyambut bangunnya gadis manis ini. Via. Tak ada rasa malas sedikit pun seperti kebanyakan pelajar lainnya untuk berangkat sekolah. Apalagi untuk memulai pelajaran. Dia sudah menyiapkan semuanya matang-matang. Buku pelajaran yang kemarin Sion , sang Ketua Kelas, berikan sudah ia masukan ke dalam tas berdasarkan mata pelajaran yang Ify beri tahu kemarin.
Via duduk di meja makan bersama kedua orang tuanya. Dia anak tunggal dari salah satu keluarga sangat berada. Dengan semangat dia mengambil beberapa potong roti kemudian dia oleskan dengan selai cokelat, kesukaannya.
“Gimana sekolahnya Vi?” tanya Ayahnya, lalu meminum teh yang sengaja disiapkan untuknya.
Via baru saja melahap gigitan pertama rotinya, “seru banget Yah.” jawab Via, isi mulutnya masih penuh dengan roti yang baru setengahnya ia kunyah.
“Telen dulu rotinya, baru makan.” Bunda Via memperingati anaknya itu sembari mengolesi roti miliknya dengan selai stroberry.
Via menelan rotinya lalu meneguk susunya, “seru banget. Seneng banget deh aku punya banyak temen. Apa lagi suasana kafetaria. Rame banget!” tutur Via semangat 45. bunda dah Ayah Via hanya geleng-geleng kepala mendengar celotehan anaknya itu. Sebenarnya, baru kali ini Via sebegitu semangatnya untuk bangun pagi.
“Sekarang kamu abisin dulu sarapannya. Baru berangkat yah. Santai aja.” ucap Bundanya yang sedang menikmati sarapannya. Via hanya mengangguk seraya terus melahap rotinya. Tak lama kemudian rotinya pun habis, segelas susu untuknya pun ludes diminum
“Via berangkat yah.” pamit Via lalu menyalami kedua orang tuanya. Orang tuanya hanya bisa tersenyum.

***

“Tap ta tap……” desis Via setiap kakinya melangkah di lantai koridor. Dia berjalan santai menyusuri koridor sekolah menuju kelasnya. Sesampainya di depan kelas, perlahan dia menyembulkan kepalanya, melihat kondisi kelas. Ditemukannya Ify yang sudah duduk disitu seraya memakan rotinya. Tanpa fikir panjang, Via pun menghampiri Ify.
“Hey Vi…..” sapa Ify setelah Via duduk di bangku sebelahnya.
“Hey.” jawab Via lalu membenarkan posisi duduknya agar bisa mengobrol lebih enak dengan Ify.
Ify menggigit rotinya, mengunyah, lalu menelannya, “Lo kayaknya niat banget yah ke sekolah?” tanyanya.
“Loh? Bukannya kalau sekolah harus niat?” kata Via dengan keadaan dahi berkerut, heran.
“Ya……gue yakin cuma 10% murid yang bener-bener niat sekolah buat belajar, termasuk lo. Yang lainnya paling cuma buat main atau ketemu temen-temen.” jelas Ify santai, lalu melahap potongan roti terakhirnya. Sebentar dia mengusap telapak tangannya ke rok seragamnya.
“Sekolah tuh buat belajar , bukan buat ngumpul.” elak Via.
“Well…emang sebelumnya lo belum pernah sekolah di sekolah umum? Selalu home schooling, gitu?” Ify bertanya, lebih tepatnya menyelidiki.
Via mengangguk, “Iya.” jawabnya santai, “kenapa emang? Emang aneh yah gue selalu home schooling?” lanjutnya, bingung.
“Emang kenapa lo gak sekolah di sekolah umum? Orang tua lo gak ngebiarin lo kelayapan, gitu? Terus kok baru sekarang lo sekolah di sekolah umum?”
Via sedikit gelagapan, pertanyaan Ify membuat dadanya sedikit sesak. Dia menggigit bibir bawahnya, lalu menunduk, berusaha memikirkan jawaban dari pertanyaan Ify. Pelan-pelan dia mengangkat wajahnya , “Gue juga gak tahu Fy, yang pasti bokap gue over protective dan…gue gak tahu apa penyebabnya, ini pun gue dapet maksa buat sekolah di sekolahan umum.” ujarnya, berusaha santai. Tapi nada gugup masih sedikit menempel.
Ify tidak menanggapi lebih. Hanya sekedar mengangguk. Tak lama bell masuk pun berbunyi. Mereka semua memulai pelajaran. Via sedikit tertolong karena Ify tidak lagi menanyakannya hal yang macam-macam lagi.

***

Via berjalan sendirian di koridor sekolah. koridor yang berada di sisi lapangan basket. Ify sedang ada rapat OSIS, jabatannya memang sekertaris OSIS. Karena Via belum mempunyai teman lainnya, jadilah Via kini hanya sendirian. Dia sendiri tidak ada niatan untuk makan di kafetaria
Via mulai duduk di bangku yang terletak di pinggiran koridor. Bangku yang juga menghadap lapangan. Via menyenderkan kepalanya ke tembok yang berada di sisi bangku itu. Dia sedang mengamati para lelaki yang sedang bermain basket. Ada Rio, Iel, Kiki, dan satu lagi yang tidak Via tahu namanya, melihatnya saja baru kali ini. Alvin, teman mereka tidak ikut, karena jabatannya sebagai ketua OSIS membuatnya harus mengurusi rapat seperti Ify.
Satu. Hanya satu yang Via benar-benar perhatikan. Sosoknya yang lebih pendiam dari teman-temannya, membuat Via tertarik. Terlebih mereka juga sekelas. Kiki. Sosok itu yang membuat Via pertama kalinya merasakan jatuh cinta. Entahlah, apakah ini jatuh cinta atau bukan, yang pasti Via merasakan energi yang berbeda jika melihat senyuman dari sosok Kiki.
“DOR!!!!!!!!!!” seseorang menepuk kasar pundak Via dari belakang, mengangetkan. Via sedikit terlonjak lalu berbalik, melihat pelaku. Si pelaku hanya terkekeh. Via sedikit manyun , “Hehe sorry deh Vi, lagian lo serius banget ngeliatin yang main basket. Liatin siapa sih? Rio? Aduh dia punya gue yah! Hem….Iel? boleh Vi dia single, Riko? Dia udah punyanya Shilla…apa…Kiki…wah jangan…..” ceroscos seseorang itu, yang tak lain adalah Ify, yang kini sudah duduk di samping Via.
Via tersenyum lalu menatap Ify ketika mendengar nama Kiki di sebut, “kenapa jangan Kiki?” tanyanya polos, bibirnya sudah tidak lagi membentuk sebuah lengkungan.
“Hah? Jangan bilang lo suka sama Kiki!!!!!!!! Dia pacarnya Zahra, anak penyumbang dana terbesar di sekolah ini. Wah….gak ada yang berani sama dia.” jawab Ify, panik, menatap Via.
“Loh….suka-suka gue dong suka sama siapa aja.” kata Via lagi, masih santai. Seraya mengangkat kedua bahunya.
Ify melengos lalu menepuk pelan pundak Via, “cari aman Vi, lo anak baru disini, jangan bikin masalah.” ucap Ify, memperingati. Via tidak mengubris. Dia kembali menikmati permain 5 lelaki, yang sudah di tambah Alvin, bermain basket. Keren. Terutama Kiki…batin Via

***

“Silahkan kalian isi, nanti siang langsung dikumpulkan ke ruang OSIS sendiri-sendiri saja.” Seru seorang guru, Pak Duta. Mengakhiri pemberitahuannya. Pak Duta, guru yang berperawakan kurus itupun kembali melanjutkan pelajarannya. Selang beberapa menit, bell yang terasa seperti alunan musik di surga itu pun berbunyi. Tanda isitirahat.
“Baiklah anak-anak. Sampai disini materi yang kita pelajari hari ini. Sampai jumpa minggu depan.” Seru Pak Duta lagi. Lalu ia pun merapikan barang-barangnya dan pergi meninggalkan kelas.
“Vi, lo mau ikut ekskul apa?” tanya Ify, saat dia dan Via mengisi formulir yang tadi di bagikan oleh Pak Duta. Formulir tentang ekskul apa saja yang akan diikuti oleh murid di sekolah ini.
“Basket.” jawab Via, tanpa menoleh ke arah Ify. Dia terus mengisi formuir itu.
“Jangan bilang lo ikut basket karena ada Kiki?” kata Ify, setengah berbisik. Takut ada yang mendengar. Ify pun hanya tiggal memberi titik pada kalimat terakhir yang ia tulis.
Via menoleh, lalu tersenyum, “itu tahu.” jawabnya enteng. Lalu merapikan pulpen dan buku-bukunya yang sedikit berantakan di atas meja.
Ify berdecak, “lo suka sama Kiki? Serius? Aduh Vi, please deh gak usah nyari masalah. Apa lagi sama Zahra.” ucap Ify, gemas, mengingatkan Via.
“Udah deh santai aja. Lo sendiri ekskul apa?”
“Gue vocal sama cheers.” jawab ify, menatap Via. “Lo cuma ikutan satu ekskul aja?”
Via mengangguk, “emang harus 2?” tanyanya.
“Enggak sih. Yaudah yuk ke kafetaria. Gue laper.” ajak Ify kemudian. Via pun mengangguk. Setelah menaruh formulir itu di laci meja, karena akan mengumpulkannya sepulang sekolah, mereka pun beriringan jalan menuju kafetaria.

***

Hari-hari berjalan seperti biasa. Tidak terasa lebih lama atau lebih cepat. Via terus mengikuti latihan ekskul basket yang dilaksankan setiap hari Kamis dan Sabtu. Walaupun terkadang dia harus berhadapan dengan Zahra, ketua ekskul basket putri. Karena diam-diam, ketika sedang latihan, tidak jarang Via mencuri-curi pandang untuk menatap Kiki. Dan itu membuat Zahra sedikit geram. Kiki sangat merasakan itu, tapi dia berusaha sebiasa mungkin.
Via sendiri terkadang jika di kelas selalu mengajak Kiki bicara, walaupun Kiki tidak menanggap lebih. Via bisa dibilang terlalu menunjukan perasaannya kepada Kiki. Pernah suatu hari Via memberi Kiki sebuah gelang. Tapi naas, Kiki menolaknya mentah-mentah. Tapi itu tidak menyurutkan tekad Via. Dia masih selalu mengajak Kiki bicara dan kadang dia suka mengirimi Kiki pesan -yang dia dapat nomornya melalui teman sekelas lainnya- melalui ponselnya

***

“Heh, lo Sivia kan?” tanya seseorang yang tiba-tiba sudah ada di hadapan Via sekarang. Di kafetaria.
Via menggangguk lalu menegadah wajahnya. Posisinya yang duduk dan lawan bicaranya yang berdiri membuat dia sedikit harus mengangkat wajahnya, “Iya, kenapa? Lo siapa?” kata Via santai.
Ify yang di sebelah Via hanya mampu menutup mukanya sendiri. Berdoa tidak jelas, berharap tidak terjadi apa-apa antara Zahra dan Via. Tidak sedikit pengunjung kafetaria yang menengok ke arah meja dimana adanya Via dan Zahra.
“Gue Zahra. Pacar Kiki.” Jawab Zahra, lancang, seraya mendekatkan wajahnya ke hadapan Via.
“Oh….iya….ada apa lo nyamperin gue?” ujar Via, masih santai. Dia lalu mendirikan posisinya yang semula duduk. Agar dengan mudah bertatapan dengan Zahra.
“Gue ingetin yah, Kiki itu cowok gue. Jadi gak usah sok kegenitan sama cowok orang. Pake sms-sms tiap malem lagi. Nyadar dong, Kiki juga ga pernah ngeladenin lo!!!” sungut Zahra, tajam. Seraya menunjuk-nunjuk wajah Via dengan telunjuk tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya berkacak pinggang. Kafetaria menjadi sunyi. Seolah tidak mau ketinggalan adu mulut kedua wanita ini. Ify hanya diam, berharap Kiki atau siapapun datang. Menghentikan semuanya.
“Suka-suka gue dong. Mau gue cium Kiki nya juga gak apa-apa kali. Toh dia bukan punya lo kan? Lo tuh cuma pacarnya, bukan pemiliknya. Gak lebih . oke? Dan lo gak bisa ngatur gue seenak lo!!!” Via membalas ucapan Zahra tidak kalah emosi. Memang kesannya seperti tidak tahu diri, Via pun mengetahui itu.
“Lo tuh yah! Punya harga diri gak sih?? Sekali lagi gue ingetin, jangan pernah ganggu Kiki. Oke??” kata Zahra, yang langsung ngeloyor pergi, tanpa memedulikan para pengunjung kafetaria yang seolah seperti wartawan, ingin menanyakan banyak hal mengenai hal ini.
“Lo gila yah?” komentar Ify, setelah Via kembali duduk di sebelahnya.
Via menoleh kearah Ify lalu mengerutkan dahinya, “gue ? gila? Atas dasar apa lo ngatain gue gila?”
“Yaiyalah. Omongan lo semua tadi tuh salah besar. Ya jelas lah Zahra marah kalau lo ngedeketin Kiki kayak gitu. Zahra kan pacarnya, gimana kalau lo ada di posisi Zahra? Gak mungkin kan lo rela Kiki di deketin sama cewek lain? Apa lagi tadi lo bilang apa? Lo mau cium Kiki juga gak masalah? Ya masalah lah. posisi Zahra sebagai cewek Kiki ya sama dengan orang ketiga yang milikin Kiki, setelah orang tuanya.” jelas Ify panjang lebar. Yang ia harap ucapannya sama sekali tidak menyinggung Via. Ify menggigit bibir bawahnya, takut salah ngomong.
Mau tidak mau Via mengakui ucapan Ify benar secara telak. Dan dialah yang berada di posisi salah. Tapi Via mempunyai alasan tersendiri mengapa ia melakukan ini. Akhirnya Via pun hanya menoleh dan tersenyum ke arah Ify. Kembali ke kelas, berjalan dengan gontai.

***

4 bulan bersekolah di SMA Mandiri membuat Via sedikit puas. Akhirnya dia mengetahui bagaimana rasanya memiliki banyak teman, makan di kafetaria, hangout bersama, berlatih ekskul, dan yang lainnya, yang memang biasa dilakukan pelajar di sekolah umum. Dia menikmati masa-masa ini, yang menurutnya suatu bagian terindah dalam hidupnya.
Bulan ini akan diadakan pertandingan basket antar sekolah di kota ini. SMA Mandiri pun turut serta dalam tournament ini. Baik tim putra maupun putri sudah 2 minggu belakangan ini lebih mengkonsentrasikan latihannya. Bahkan intensitas latihan pun ditambah. Guna mendapat hasil yang memuaskan dalam tuornament. Via yang sudah menjadi tim inti, merasa sangat senang, karena akhirnya dia akan merasakan bagaimana mengikuti tournament seperti ini. Dengan giat dia selalu mengikuti latihan.
Zahra yang awalnya sempat kesal karena Via masuk dalam tim inti, harus menghilangkan sementara rasa bencinya terhadap gadis itu. Pasalnya, sampai detik ini Via masih selalu mengirimi Kiki pesan atau sekedar mengajak bicara. Seperti yang lalu-lalu. Seolah ancaman Via di kafetaria beberapa minggu silam itu hanyalah angin lalu.
Pernah suatu hari Via memberi Kiki sebatang coklat, yang ia beri pita berwarna merah hati. Via memberikannya sehabis latihan basket. Alhasil Zahra melihatnya. Ingin rasanya saat itu juga Zahra memakan mentah-mentah atau sekedar menampar Via, tapi Kiki menenangkannnya, dan langsung membuang coklat itu saat itu juga. Zahra tersenyum puas, sedangkan Via malah memungut kembali coklat itu dan memberikannya kepada Iel, Alvin, dan Rio.
Bukan hanya Zahra, teman-teman sekelas Via pun tidak menyukai Via. karena Via terlalu cari muka di hadapan guru. Pernah waktu itu, hampir semua anak-anak dikelasnya lupa mengerjakan PR. Akhirnya mereka pun bersama-sama menyalin PR kepada temannya yang sudah mengerjakan PR. Dan memang entah apa yang membuat Via setega tu, dia mengadukan itu kepada guru tersebut. Jadilah teman-teman sekelas Via diberi hukuman, kecuali Kiki,Ify, dan dia tentunya, karena memang dasarnya mereka tidak pernah mencontekan atau menyontek PR. Dan itu bukan hanya sekali, berulang kali.
Ada yang pernah memarahi ia masalah ini, dengan santainya Via menjawab, “lo tahu gak PR itu apa? Pekerjaan rumah! Kerjain di rumah dong bukan di sekolah. emang lo ngapain aja dirumah? Males banget sih.” Dan akhirnya, secara bersamaan seluruh teman sekelasnya memusuhinya.
Hari ini adalah final dari tournament basket. Tim dari SMA Mandiri sendiri akhirnya sampai menuju final. Tidak sia-sia mereka melakukan latihan yang ekstra keras. Iel yang merupakan kapten basket lelaki sendiri memang paling jago untuk mengatur posisi pemain. Zahra pun begitu. Walaupun dia suka menjadi malas jika menemui Via di dalam timnya, yang mau tidak mau harus bekerja sama dengannya bila sudah berada di dalam lapangan.
Tim basket putri sudah berhasil mengalahkan SMA Mulia. Berarti dengan bergitu tim putri SMA Mandiri menjadi pemenang telak tournament ini. Tinggal para lelakinya. Dan kini para lelaki sedang mempertaruhkan piala tournament ini. Skor sedari tadi masih berkejar-kejaran, hanya beda 4 atau 6 point. Terkadang SMA Mandiri yang unggul tapi kadang juga SMA Budi Luhur yang unggul.
Secara tiba-tiba seorang pemain yang sedang asik mendribel bola terjatuh. Kakinya keseleo, tapi keadaannya pun langsung terbaring, menahan pingsan. Bodohnya, Via yang sedang menonton basket dari sisi lapangan langsung masuk ke areal permainan dan menolong si kapten basket SMA Budi Luhur, yang bernama Cakka itu. Dan itu membuat semua orang yang berada di dalam stadium menatapnya dengan heran. Bagaimana tidak? Via malah membantu musuh utama sekolahnya sendiri. Musuh. Utama. Sekolahnya. Sendiri. Oke. Kurang sinting apa dia? Jelas-jelas dia tahu bahawa Cakka adalah musuh sekolahnya, dan dia pun adalah tim inti dari tim basket putri. Mengapa dia melakukan hal konyol, yang melebihi batas konyol ini?
Seisi stadium hening melihat apa yang ada di sisi lapangan. Entah kagum, geram atau heran. Para lelaki yang semula sedang bermain basket pun terdiam. Ehm..tepatnya diam di tempat. Tidak mengerti.
“ADUH! PANGGILIN MEDIS DONG! NIH IDUNG CAKKA KELUAR DARAH TERUS!!!!” Via tiba-tiba berteriak, memecah keheningan. Dia membantu Cakka mengelap darah segar menggunakan cardigannya, yang terus mengucur.
Para pelatih yang juga ikut kaget melihat apa yang mereka sasikan pun ikut tersadar dengan teriakan Via. cepat-cepat mereka memanggil tim medis dan segera menggotong Cakka hingga ke tempat perawatan untuk yang mengalami kecelakaan yang berada dibelakang stadium.
“Sudah sudah. Ayo kita lanjutkan!” seru wasit setelah Cakka dipastikan telah diamankan. Wasit pun meniupkan peluit. Permainan pun dilanjutkan, walaupun terasa kurang tanpa kehadiran Cakka. karena Cakka adalah salah satu pemain yang sangat tidak diragukan keahliannya.
Sebenarnya para pemain basket lelaki, dan juga wanitanya, bahkan seluruhnya, masih terbingung-bingung apa maksud dan tujuan Via? apakah dia tidak mengerti CAKKA ITU MUSUH UTAMA SEKOLAHNYA? Oke, mungkin dia belum mengetahui itu, apalagi mengerti. Setidaknya dia tahulah, Cakka adalah lawan sekolahnya. Lawan. Mereka berusaha menghapuskan rasa penasaran itu, kembali menfokuskan fikiran kedalam permainan. Toh besok di sekolah pasti sudah tersebar berita tentang ini, beserta penjelasannya.
Via tengah duduk di samping ranjang dimana Cakka ditidurkan. Cakka sendiri sudah tidak mimisan lagi. Tapi kakinya masih sulit di gerakan dan kepalanya masih pening. Dia terus memijat pelipisnya menggunakan jarinya sendiri. Dia mencoba membangkitkan posisinya, dan menyenderkan tubuhnya ke kepala ranjang.
“Lo siapa?” tanya Cakka, melihat Via dengan heran.
“Gue Via, keadaan lo gimana? Udah enakan?” jawab Via, tersenyum. “Nih minum dulu, dari tadi lo belum minum.” lanjutnya seraya menyodorkan secangkir teh hangat, yang tadi diberikan oleh perawat disini.
“Via? kayaknya gue gak kenal lo deh. Gak mungkin kan efek mimisan gue jadi amnesia?” kata Cakka, terus menerus memijat pelipisnya sendiri. Lalu dia pun mengambil cangkir yang Via sodorkan, meneguknya hingga setengah habis.
Via tersenyum, “Enggak Kok, gue juga baru liat lo. Gue anak SMA Mandiri.”
Cakka sedikit tersedak, mulutnya sedikit ternganga, “serius lo anak Mandiri? Lo ngapain disini? Kita kan lawan.”
“Lawan bukan berarti musuh kan? Masa iya tadi lo jatoh gue gak nyamperin? Tega amat gue? Gue kan yang emang posisinya paling deket sama lo. Tadi kan lo jatoh pas banget di sisi kiri.” jelas Via, enteng. Bibirnya masih membentuk suatu lengkungan.
Cakka menaruh cangkir yang berisikan teh itu ke meja sebelah ranjang yang ia duduki, “tapi… oh Tuhan. Lo gak takut anak-anak sekolah lo jadi gimana gitu ke lo?” katanya, yang masih menatap ke arah Via, yang duduk di samping kanannya.
Via menggeleng, “Aduh. udah deh. Yang penting gue udah nolongin lo kan?”
“Bukan…bukan gitu…gue cuma gak enak aja. Gue sadar banget sekolah kita itu musuh besar dalam hal basket. Dan…..masa lo nolongin musuh lo sendiri? Dan tadi lo bilang apa? Lawan bukan berarti musuh? Tapi kita itu musuh!” Cakka sekali lagi menjelaskan kepada Via, geregetan.
“Diem. Oke. Gue yang bakal nanggung. Kalau lo kenapa-kenapa lo bilang aja ke gue. Samperin gue di Mandiri. Oke? Sekarang gue cabut yah.” Tanpa menunggu jawaban dari Cakka, Via bangun dan segera pergi. Seolah tadi hanyalah percakapan antar teman biasa. Cakka hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya, heran dengan jalan fikiran Via. Dia lalu kembali memijat pelipisnya dan sedikit menggerak-gerakkan kakinya. Beruntung, tak lama seorang perawat datang dan menanganinya.

***
Sepertinya memang benar dugaan Cakka, setelah insiden tournament itu semua murid di SMA Mandiri sepertinya memandang jiji Via. mereka menatap sinis Via jika ia sedang berjalan di koridor sekolah. mereka membicarakan Via saat ia sedang duduk bersama Ify di kafetaria. Mereka menjauhkan Via saat ia berada di dalam kelas. Semua menjauh. Semakin. Sebelum ini saja, Via sudah diajuhi oleh teman sekelasnya. Dan sekarang, satu sekolahpun menjauhinya. Bahkan kabarnya, Zahra mengeluarkan Via dari tim basket. For your info, SMA Mandiri menjadi juara telak di tournament itu.
Hari ini adalah jadwal latihan basket. Sebenarnya sedikit ada yang kurang karena Via tidak ada disini. Biasanya, Via yang memberi mereka minum atau tissue, untuk pemain yang tidak membawa handuk. Tapi sosok itu telah hilang. Walau bagaimanapun, Via telah menyumbang skor dalam tournament yang lalu. Semua perasaan kekurangan atau bisa dibilang kehilangan sosok Via terhapuskan jika mengingat kelakuan Via saat di lapangan itu. Menolong. Musuh. Utama.
“Kiki, apa keputusan mengeluarkan Zahra dari tim basket kita adalah suatu keputusan yang tepat?” tanya Pak Joe, pelatih basket SMA Mandiri. Dia dan Kiki tengah beristirahat dan duduk di bawah pohon yang berada di sisi lapangan.
Kiki tidak menatap pak Joe, pandangannya masih lurus. Menerawang. “Kalau saya lihat dia berbakat dalam bermain bakset. Tapi kelakuannya sudah di atas batas normal.”
Pak Joe kali ini tidak manatap Kiki, dia juga ikut manatap lurus, ikut menerawang. “Tournament kemarin dia menyumbang 14 point, dia yang paling sering ngerebut bola dari lawan.” kata Pak Joe. “Kayaknya kita terlalu melebihkan masalah itu deh.”
Kiki kini menoleh ke arah pak Joe “Bapak mau masukin Via lagi ke tim?” tanyanya. keningnya sedikit berkerut.
Pak Joe balas menatap Kiki. Tersenyum, dia mengangkat kedua bahunya, “Kalau dia di masukin lagi, Bapak takutnya yang lain jadi gak semangat latihan. Bapak dan semua guru memerhatikan, semenjak tournament itu siswa di sekolah menjauhi Via. mungkin kecuali Ify. Bahkan Rio Iel dan Alvin yang asalnya lumayan akrab dengan Via pun sekarang menjaga jarak.” jawab Pak Joe, nadanya datar, tapi penuh kenyataan.
Kiki menghela nafas, kencang. Dia kembali menatap lurus kedepan. Melihat anak-anak wanita yang kini berlatih basket, di pimpin oleh Zahra dan Pak Wawan, pelatihnya. “Kalau saya sih terserah Bapak. Kan Bapak pelatihnya. Kenapa Bapak gak ngomongin ini sama Zahra atau Iel? Saya kan bukan kapten pak.” katanya. sedikit heran. Betul juga. Posisi Kiki kan sama seperti Rio, Riko dan yang lainnya. Hanya pemain inti.
Pak Joe mengerling sesaat, “Bapak denger semuanya. Bapak merhatiin kalau lagi latihan Via sering ngedeketin kamu. Memang bukan cuma kamu yang dia perhatiin, tapi dia memang lebih mendekati kamu. Tatapannya pun beda. Kadang Bapak juga suka ngeliat kalau kamu lagi main dia suka ngeliatin kamu sambil senyum-senum.” jelas Pak Joe lalu terkekeh.
Kiki menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal. “Iya Pak, saya juga bukannya GR, saya juga ngerasa. Memang bukan lebih mendekati. Dia memang mendekati saya. Dia sering ngasih saya coklat, padahal selalu saya tolak. Setiap malem dia mengirimi saya SMS, padahal sudah saya bilang jangan pernah ngirimin saya SMS lagi. Tapi sampai malam tadi pun sama pak. Yang saya heran juga, walaupun banyak yang gak suka sama dia, dia masih selalu bersikap ramah, tidak peduli tanggapan orang lain. Padahal sebenarnya dia juga tahu jelas orang-orang gak suka sama kelakuan dia.” ujar Kiki. Panjang. Sedikit curhat juga. Pandangannya menerawang, perlahan mengingat gadis itu. Gadis yang mempunyai lesung itu.
Pak Joe mengangguk. “Kamu gak tertarik sama dia?” tanya Pak Joe lebih jauh, menoleh ke Kiki sesaat.
Kiki terkekeh. “Dia aneh Pak, gak bia ditebak. Kadang dia suka ngaduin anak-anak sekelas ke guru kalau kita ngerjain PR di kelas, kadang juga dia malah ngasihin PR nya buat dicontek dan gak ngaduin. Bener-bener gak bisa ditebak.” sahut Kiki, masih terus menerawang. Perlahan bibirnya membentuk suatu lengkungan, mengingat sosok Via.
“Tapi dia cantik loh. Cantik banget malah.” timpal Pak Joe sambil tersenyum jahil.
“Menurut saya yang paling cantik tetep Zahra pak.” kata Kiki dengan tegas. Pak Joe hanya terkekeh mendengarnya. Memang sudah sangat sering mereka berdua berbincang seperti ini. Tetapi semenjak latihan-latihan ekstra menghadapi tournament itu, mereka tidak lagi berbagi seperti ini. Lagian, ini pertama kalinya mereka membiacarakan seseorang seperti ini. yang biasanya mereka bicarakan tentang lawan, pemain, atau pelajaran.

***
Detik terus bergerak, jam terus berputar, hari terus berganti, bulan pun terus bergulir. Sudah 2 bulan semenjak kejadian tournament itu. 2 bulan juga Via mendapat perlakuan yang sangat tidak mengenakkan. Sebenarnya Ify sudah malas berteman dengan Via. Tapi mengingat sisi lain dari sosok Via yang juga sangat asik dan baik tidak membuat dia menjauhi Via. Toh dia tidak mendapatkan dampak negative dari statusnya yang menjadi satu-satunya teman Via. Rio pun tidak memperdulikan itu. Dia tidak peduli Ify berteman dengan siapapun, asal tidak mengangguk hubungan mereka. Biar Via dijauhi oleh seluruh murid sekolah, Ify tidak mengalaminya.
“Via! Di panggil Bu Ira” seru Sion, si ketua kelas. Dari depan kelas. Sebenarnya jika Sion memilih, dia lebih memilih memakan kecoak hidup dari pada sekedar memanggil Via. menjijikan, serunya dalam hati jika melihat Via. Via pun terpaksa menyudahi percakapannya dengan Ify.
“Gue dipanggil Bu Ira?” tanya Via memastikan, setelah ia sudah berdiri di hadapan Sion. Sion hanya mengangguk malas. Via pun berjalan sendirian menuju kantor kepala sekolah. koridor sangat sepi, semua sedang ada pelajaran, kelas Via sendiri sedang pelajaran kosong.
“Ibu manggil saya?” kata Via, setelah berdiri di ambang pintu ruang kepala sekolah.
Bu Ira menoleh lalu mengangguk, “sini masuk. Duduk.” katanya seraya tersenyum. Via pun menurut. “Ehm,ibu mau nanya, kamu mau gak ikut olimpiade IPA?” kata Bu Ira, menjelaskan tujuannya memanggil Via.
Via mengernyitkan keningnya, heran. Dia baru satu semester menjadi siswa di sekolah ini, tapi mengapa dia yang di ikutkan olmpiade? “kok saya bu?” tanyanya, polos.
“Saya melihat nilai-nilai kamu saat home schooling dulu dan itu sangat di atas nilai rata-rata. Saya yakin kamu bisa. Apalagi dengar-dengar kamu paling suka menyukai pelajaran IPA kan?” jelas Bu Ira, yang masih tersenyum .”tadinya saya mau pakai Alvin, tapi dia sibuk dengan OSIS.” lanjutnya. “bagaimana? Kamu mau? Lombanya di laksanakan 2 bulan lagi. Saya yakin kamu bisa.”
Via bigung. Harusah dia menolak tawaran yang sebegitu menggiurkan ini? Ini adalah salah satu keinginan Via, mengikuti olimpiade IPA. Akhirnya dengan berani Via tersenyum .”Baik Bu, saya bersedia. Sebisa mungkin saya akan membuat sekolah kita menjadi juara.”
Bu Ira tersenyum puas. “terimakasih Sivia.”

***

Selama 2 bulan belakangan ini, Via semakin giat belajar. Waktu belajarnya di rumah pun bertambah drastis. Di sekolah pun saat isitirahat dia lebih memilih membaca buku di perpustakaan dibanding pergi dengan Ify ke kafetaria. Ify sih tidak masalah. Tidak masalah sama sekali malah. Dengan tidak adanya Via disisinya, Ify bisa gabung dengan Rio. Pasalnya, jika Ify gabung dengan Via, Rio tidak mau bergabung dengan ify. Ya, karena Via.
Setiap minggu pun Via di beri bimbingan dalam memantapkan materi yang dia pelajari. Dia benar-benar bertekad bulat untuk memenangkan olimpiade ini. Ia tidak ingin mengecewakan siapapun. Lagian, ini salah satu jalan untuk meraih salah satu cita-citanya, menjuarai olimpiade ternama.
Hari itu tiba. Hari dimana olimpiade itu dilaksanakan. Olimpiade yang diselenggarakan di Bandung selama 3 hari itu berjalan sukses. Tidak ada yang main belakang. Semua murni. Para peserta pun benar-benar dipilih dengan cermat oleh para juri. Maka yang akan menjadi pemenang dalam olimpiade tingkat provinsi ini pun benar-benar murid yang terbaik.
Bu Ira dan Bu Winda lebih tegang dari pada Via, yang notabene pesertanya sendiri. Memang bukan hanya Via yang di wakilkan dari sekolah. ada juga Angel yang mengikuti matematika. Tapi Angel pun merasakan gemetar yang sangat hebat.
Selain berusaha semaksimal mungkin, mereka semua pun tak lupa berdoa. Untuk diberi kemudahan dan yang terbaik.

***

Sepertinya hari itu hari terindah untuk Via. bukan hanya Via, untuk Bu Ira dan Bu Winda pun begitu. Pasalnya Via telah berhasil memenangkan olimpiade ini. Olimpiade tingkat provinsi ini. Mulanya Via tidak percaya, tetapi setelah 4 kali juri memanggil namanya sebagai pemenang, Via benar-benar yakin, dialah pemenangnya. Rasa gembira membuncah, menyelimuti hatinya. Rasanya dia seperti berada di surga tingkat 9. kerja kerasnya selama 2 bulan belakangan ini benar-benar tidak mengecewakan.
Sayangnya, nasib Angel tidak seberuntung Via, Angel gagal dalam olimpiade ini. Tapi hasilnya tidak terlalu mengecewakan. Dia menjadi juara harapan. Walau tidak menjadi juara umum seperti Via, Angel pun bersyukur. Bu Ira dan Bu Winda sangat bangga terhadap anak didiknya itu. selama pembagian piala dan trophy itu baik Via, Angel dan Bu Ira Bu Winda tidak hentinya tersenyum lebar.

***

Kemana dia? Apakah dia di telan bumi? Apakah dia di culik makhluk luar angkasa? Apa jangan-jangan dia bunuh diri? Oh…dia mati mungkin?
Mungkin bergitulah kasak kusuk yang terdengar hari ini di seluruh penjuru sekolah. Mulai dari gerbang utama hingga ujung kafetaria. Hampir semua membicarakan itu. Ify, yang saat itu baru masuk kembali dari sekolah, setelah izin dari sekolah selama 4 hari untuk pergi ke Bandung menengok Neneknya, datang hanya menatap bingung wajah teman-temannya. Dia menatap heran bangku sebelahnya, masih kosong. Akhirnya dia memilih untuk keluar, menemui Rio. 4 hari tidak bertemu dengan kekasihnya itu membuatnya rindu.
“Ada apa sih Yo? Kok ribut banget?”tanya Ify. Dia, Rio, Iel, Alvin, dan Kiki tengah duduk di bangku yang berada di sisi koridor sekolah. bangku yang menghadap ke lapangan basket.
Rio menoleh, “Kamu belum tahu? Tanya tuh ke si Kiki.” kata Rio seraya menunjuk Kiki, yang duduk di samping kiri Ify, menggunakan dagunya.
Ify yang asalnya menatap ke arah kanan mengalihkan kepalanya ke kiri, untuk menatap Kiki, “ada apa sih Ki?”
Kiki mengangkat bahu , “gak tahu, emang kenapa?”
Iel yang duduk di sebelah kiri Kiki meneloyor kepalanya, “bego! Maksud Ify tuh kenapa keadaan sekolah masih kayak begini. Udah 3 hari juga.” seru Iel. Kiki meringis. Alvin hanya menatap temannya dengan acuh, seraya mendengarkan iPodnya, Rio terkekeh, tangan kirinya terkait di bahu Ify.
“Lah kok nanya ke gue? Ya tanya orang-orang lah.” kata Kiki polos. Tak mau di salahkan. Dulu, Kiki memang bergabung dengan Rio, Alvin dan Iel. Ify juga selalu gabung dengan mereka, tetapi semenjak Ify dekat dengan Via, Kiki jadi sedikit malas dan lebih memilih gabung bersama Zahra atau bila perlu menyendiri di perpustakaan. Tapi setelah Rio, Iel, dan Alvin yang juga agak jarak dengan Via, dia jadi kembali gabung dengan mereka.
“Yah kan orang yang mereka omongin berkaitan dengan elo.” timpal Rio. Ify melongo, tidak mengerti.
“Hah? Via? kok gue?” kata Kiki. Seperti benar-benar tidak tahu.
“Via kenapa?” tanya Ify, kaget mendengar nama Via di bawa-bawa. Masa iya Via yang mereka bicarakan.
“Pada bego nih gue punya temen.” ujar Iel seraya meneloyor lagi kepala Kiki. Kali ini Kiki membalasnya. Mereka berdua sama-sama meringis. Ify memandang kedua lelaki itu gemas. “Jadi, Via tuh kan menang olimpiade, nah waktu kemarin pas upacara buat pengumuman kalau dia menang, sama Angel juga sih. Eh tapi Angel cuma harapan. Eh Via malah gak dateng. Bukan cuma itu aja. Udah 3 hari dia gak sekolah. tanpa keterangan. Guru-guru ke rumahnya pun sepi katanya. Memang banyak kemungkinan sih, tapi yah memang anak sekolah ini aja yang lebay.”
Ify mengangguk, paham. “Terus, Via kemana?”
Kali ini Kiki meneloyor kepala Ify, gemas. “Yo! Lo punya bini bego amat! Ya mana kita tahu. Tuh anak belum dateng.” timpal Kiki geram. Ify balas memukuli lengan Kiki pelan. Rio meneloyor balik Kiki.
“Yah gue kira kan semuanya udah terjawab sekarang.” kata Ify, polos. Bibirnya sedikit di majukan.
“Belum lah. gue juga penasaran dia kemana. Gak ada dia 3 hari di sekolah aja berasa ada yang beda. Gak ada yang sok ramah. Gak ada yang bisa kita ledekin. Hahahaha.” ucap Iel, menerawang, lalu terkekeh.
“Lo naksir sama dia?” tanya Kiki seraya mengerling kepada Iel.
“Ngaco lo.” jawab Iel, mendorong pelan bahu Kiki. Ify dan Rio kompak terkekeh. “Lo emang gak dikirimin SMS sama dia Ki?”
Kiki mengerutkan dhinya, lalu menggeleng pelan. “udah seminggu engga tuh. Biasanya dia yang paling pertama muncul di hp gue tiap pagi dan selalu ngucapin selamat malam ke gue. Zahra aja kalau sms paling cuma ‘gue tidur yah. Bye’ atau ‘udah ah cape’ lah Via? panjang banget.” Kata Kiki seraya menirukan ucapan Zahra, tetapi tatapannya menerawang. Mengingat-ngingat kehadiran Via di hidupnya belakangan ini, yang mau tidak mau Kiki harus mengakui bahwa sedikit-sedikit dia mulai nyaman dengan kehadiran Via. walaupun Via sibuk belajar untuk menghadapi olimpiade itu, setiap minggu dia tidak pernah absent memberi Kiki coklat. Yang walau hasilnya sama, selalu ditolak dan kembali berada di kantong Via.
“Jangan bilang lo lagi Ki yang suka sama dia.” ceplos Iel balas dendam.
“Buset! Ngga! Dihati gue ada Zahra seorang.” jawab Kiki, sedikit munafik. Hah? Munafik? Engga….batin Kiki seraya menggeleng cepat. Ify , Rio, dan Iel ikutan menggelengkan kepala melihat Kiki. Sedangkan Alvin masih asik dengan iPodnya.

***

Sudah 2 bulan Via tidak masuk. Kabarnya dia sakit. Tapi tidak ada yang tahu pasti dia sakit apa. Hanya saja waktu minggu lalu sepucuk surat datang dari tukang pos. Bu Ira yang membacanya. Dia langsung mengumumkan melalui speaker sekolah bahwa Via sakit. Tidak di jelaskan Via sakit apa. Tidak diberi tahu pula Via di rawat dimana.
Jujur, Ify dan Kiki adalah 2 sosok yang sangat merindukan sosok Via. sosok yang diam-diam menajdi bagian hidupnya dengan tingkah anehnya. Yang membuat mereka tersenyum melihat tingkah konyol yang Via buat. Ketika mendengar Via sakit, mereka berdualah yang paling kaget. Apa selama 2 bulan ini Via sakit? Sakit apa? Selama itukah?
Ternyata anak-anak sekolah pun diam-diam merindukan sosok Via. gadis aneh itu yang tidak pernah bisa ditebak. Gadis yang juga menjadi bahan pembicaraan. Tetapi sekarang, gadis itu tidak ada, sakit, tidak tahu sakit apa.
Hari ini, sehabis jam isitirahat ada seorang ibu-ibu menggunakan kerudung yang tiba-tiba mengetuk pintu kelas yang di tempati Ify dan Kiki, beserta Via tentunya. Bu Winda yang tengah menerangkan pelajaran dengan terpaksa harus menoleh.
“Cari siapa Bu?” tanyanya, berjalan menuju ambang pintu.
“Saya mau ketemu Kiki dan Ify, bisa?” jawab Ibu itu. Seluruh siswa mulai saling berbisik. Kasak kusuk. Kiki dan Ify berpandangan, heran namanya disebut. Dengan kompak, mereka angkat bahu.
“Ada apa yah Bu?” tanya Bu Winda, yang juga heran. Pasalnya ibu ini bukan guru di sekolah ini.
“Saya Ibunya Via. nama saya Ibu Mia. Saya ada perlu sama mereka berdua. Kalau boleh, saya mau ijin buat bawa mereka. Gak akan saya apa-apain.” jawab Ibu itu, yang ternyata Ibunya Via, Ibu Mia. Seluruh murid tambah berbisk-bisik. Semakin ribut.
Akhirnya Bu Winda mengagguk seraya tersenyum, “Ify, Kiki, kemasi barang-barang kalian.” seru Bu Winda lantang, masih dari ambang pintu. Menatap Kiki dan Ify bergantian. Ify dan Kiki bingung, tapi akhirnya menurut saja.

***

Ify dan Kiki sama-sama di selimuti perasaan heran. Gemetar. Takutnya ternyata mereka diculik. Tapi bodohnya mereka terus mengikuti langkah kaki Bu Mia, menelusuri lorong rumah sakit. Ify dan Kiki mengangguk paham. Menemui Via.
Ify menutup mulutnya menggunakan tangan kirinya. Kiki membesarkan bola matanya. Mereka berdua sama-sama kaget dengan apa yang mereka lihat sekarang. Via tengah berbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Selang menempel dimana-mana. Di sebelahnya terdapat monitor yang menunjukan detak jantung Via, lemah.
Ify memberanikan diri duduk di samping ranjang Via. tidak tega melihat Via seperti ini. Kiki sendiri malah duduk di sofa. Membenamkan kedua wajahnya kedalam kedua tepak tangannya. Di sebelahnya, Bu Mia tengah duduk, menahan tangisnya. Suara isakan mulai terdengar. Kiki melepaskan kedua tangannya dan dengan kompak bersama Ify menoleh ke arah Bu Mia. Bu Mia hanya tersenyum. Ify menarik bangkunya, untuk duduk di hadapan Bu Mia.
“Bu, Via sakit apa?” tanya Ify langsung. Menatap Bu Mia,wajah Ibu itu sendu. Matanya pun sembab, Ify sendiri sedikit menyesal menanyakan hal ini.
Bu Mia menatap Kiki dan Ify bergantian, mulai melengkungkan senyum dari kedua bibirnya. Dia menarik nafas, menghembuskannya perlahan, “Via terjangkit leukemia. Penyakitnya memang sudah akut. Pertama kali dia tahu umurnya tinggal satu tahun, dia maksa-maksa saya sama ayahnya buat ngijinin dia sekolah. kondisinya memang sudah lemah dari kecil. Makanya kami gak pernah ngijinin dia buat sekolah di sekolah umum. Dia terus maksa kami buat ngijinin dia sekolah di sekolah umum, akhirnya kami leleh. Kami gak tega setiap dia bilang kalau itu permintaan terakhirnya. Dan ternyata memang benar, itu permintaan terkahirnya sampai saat ini. Dia gak pernah minta apa-apa lagi ke kami.”jelas Bu Mia, air mata mulai menganak sungai di pipinya. Mengalir deras. Dia mengusap air matanya, pelan. Kiki dan Ify sangat kaget mendengar berita ini. Sama sekali tidak menyangka. Mereka berdua mengusap pelan punggung Bu Mia. “Tujuan dia sekolah di sekolahan umum buat bikin novel. Cita-citanya emang jadi penulis. Dia selalu ngetik semua pengalamannya di sekolah kedalam project nya itu. makanya dia ngelakuin hal konyol sampai hal yang harus diacungin jempol. Dia pengen ngerasain itu semua. Dia pengen ngerasain jadi anak aneh, bandel, jadi anak teladan. dan ternyata sampai detik ini Via udah ngewujudin semua itu. dia cerita ke saya gimana perlakuan teman-temannya ke dia. Bukan bikin dia marah, dia malah seneng, karena dia bia ngerasain sesuatu yang beda. Terus dia cerita gimana persahabatan dia dengan kamu Fy, gimana dia suka sama Kiki. Dia cerita semua. Gak punya beban sama sakali. Dia malah seneng………” tangisnya makin meledak. Badan Bu Mia bergetar hebat. Di depannya, Ify tak kalah histeris. Bening itu dengan deras mengaliri pipinya. Sedangkan Kiki, terus menahan bening itu, yang sudah berada di sudut matanya.
“Dari tadi pagi Via manggilin nama kalian…. Jadi ibu mutusin buat bawa kalian kesini. Ibu juga pengen kalian tahu mengenai Via yang sebenarnya. Sudah saatnya kalian tahu. Ibu sendiri gak tega Via harus dianggep cewek aneh di sekolah….” lanjut Bu Mia, perlahan dia mulai bisa mengontrol emosinya.
“Maafin saya ya Bu, saya juga udah nyakitin Via secara gak langsung.” kata Kiki, tulus.
Bu Mia menoleh lalu menggeleng, “Via ga pernah cerita kalau ia ngerasa sakit sama semuanya. Dia enjoy. Dia pengen berterima kasih sama semuanya, semua yang bikin hidup dia beda, yang baru, yang udah ngasih dia inspirasi buat bikin novel perdananya. Walaupun tinggal endingnya yang belum dia kerjain. Dia terlanjur sakit dan sampai akhirnya koma. Sampai sekarang dia belum sadar total.”
“Ibu yang sabar yah. Semua pasti ada jalannya Bu, semua pasti yang terbaik. Tuhan gak mungkin ngasih cobaan ke hambanya yang ada di luar batasnya.” kata Kiki diplomatis sembari mengelus punggung Bu Mia. Bu Mia tersenyum dan mengangguk.
“Bun…. Bunda…….” kata Via lirih, yang langsung membuat Kiki, Via dan Bu Mia mendekati ranjangnya. Dengan cepat Ify menekan bell yang barada di atas kepala ranjang Via.
“Kamu udah sadar Vi?” ujar Bu Mia yang tak bisa menyembunyikan kegembiraannya.
“Bun…Kiki….Ify……” gumam Via masih lirih. Bu Mia kembali menitikkan air mata. Sedetik kemudian, dokter beserta para susternya datang, dan menyuruh Ify, Kiki dan Bu Mia menunggu diluar. Karena Via akan segera diperiksa.
Diluar, perasaan mereka semua resah. Tetapi rasa kabahagian akan sadarnya Via pun tertanam jelas. Di kursi, Ify merangkul Bu Mia yang tengah duduk di sampingnya. Sedangkan Kiki berdiri, menyendekan punggungnya di dinding samping pintu kamar Via.

***
Bi Mia mendekati ranjang Via, sendiri. Ify dan Kiki mengerti, mereka duduk di sofa yang ada disitu.
“Bun….ma…afinVia…yah….Via sayang…sa…ma…Bunda…” kata Via, terbata-bata.
Air mata Bu Mia bertambah deras, dia mengecup kening Via, hangat. Tulus. “Bunda sayang sama Via, sayang banget… Via yang kuat yah…bunda udah maafin semua kesalahan Via daru dulu…tanpa Via minta Bunda selalu maafin Via…buah hati Bunda….” ujar Bu Mia seraya mengelus rambut Via, lembut.
“Via cape…cape…Bun…Via gak kuat….”
“Via harus berjuang demi Bunda yah……semuanya udah Bunda certain ke Kiki dan Ify..” ujar Bu Mia seraya tersenyum.
Via mengangguk, “Via mau ngomong Bun sama mereka….” ucap Via, Bu Mia pun mengangguk dan berjalan menuju Kiki dan Ify.
“Ify…. Thanks yah…cu…ma…lo yang seti…a jadi temen..gue…” ujar Via, terbata-bata. Ketika itu Kiki dan Ify sudah berada di sisi ranjang Via, mengelilingi.
“Udah Vi…jangan banyak omong dulu…istirahat. Lo baru aja sadar…” kata Ify, seraya mengelus tangan kanan Via.
“Ngga….gue takut gak ada waktu buat bilang makasih…ke elo.” Ucapan Via kini tidak lagi terbata. Ia sudah mampu menormalkan semuanya, walau dadanya masih sedikit sesak.
“Jangan ngomong gitu Vi…gue yakin lo sembuh. Lo harus berjuang demi kita….” Ify terus mengelus lengan Via, pipinya mulai dialiri oleh bening yang hangat itu. deras.
Via menggeleng, lalu menoleh ke arah Kiki, yang berada di sisi kirinya, “Ki…maafin gue yah….”katanya seraya tersenyum. Manis. Kiki baru menyadari senyuman Via saat seperti ini pun sangatlah manis.
Kiki menggeleng, “gue yang harusnya minta maaf Vi.” jawab Kiki, diiringi dengan sebuah senyuman.
Via menggeleng lagi, pelan. “Maaf gue udah ngeganggu hidup lo. Bunda gue udah cerita semuanya kan?”
Kiki mengangguk lalu tersenum, “lo jangan mikirin ini Vi, gue minta maaf yah sama lo karena kelakuan gue yang secara gak sadar udah nyakitin lo banget.”
Via menitikan air matanya, terharu. Detik-detik kehidupannya akhirnya ada 2 orang teman yang sangat ia sayangi. Via menatap Kiki dan Ify bergantian, “bilangin maaf gue ke semua anak-anak sekolah yah. Maaf gue yang sebsesar-besarnya. Biar gue tenang kalau gue udah pergi…”
“Vi…please jangan ngomong kayak gitu.” kata Ify dengan air matanya.
“Ini kenyataan Fy...”jawab Via, perlahan mengangkat tangan kirinya, menghapus air mata sahabatnya itu. “Gue sayang sama kalian. Sayang banget.” lanjutnya, kembali menatap Kiki dan Ify bergantian.
“Gue juga sayang banget Vi sama lo. Sayang banget…..” sahut Ify yang kini sudah berusaha menghentikan tangisnya. Via menatapnya lalu tersenyum.
“Gue juga…..sayang sama lo Fy.” timpal Kiki, tiba-tiba. Mungkin ini sebuah pengakuan terbesarnya. Jauh di lubuk hatinya, dia memendam rasa itu untuk seorang Via. walaupn rasa sayang untuk seorang teman. Spesial.
Via tersenyum ke dua orang itu, “Thanks. Buat novel yang udah gue bikin…biarin tanpa ending yah……jangan bikin endingnya kayak gue…”
Itulah kata-kata terakhir Via. Sejurus kemudian, monitor yang menunjukan detak jantung Via berubah lurus. Tangan Via langsung lemas. Matanya terpejam. Senyuman kecil terbentuk dari kedua bibirnya. Dia pergi dengan damai.

***

Eh beres. Udah yah. Hahaha maaf kalau ngaco atau jelek. Mungkin ini ada satu scene yang di ambil dari buku stargirl, tapi serius deh, beda kok. Yang lainnya juga beda banget. Ini hanya ide yang muncul tiba-tiba. Proyek dari 2 bulan yang lalu selalu saya tunda dan akhirnya beres juga hehehe. Mohon komentarnya (:

peaceloveandgaul
@dhitals …