Followers

Friday, September 24, 2010

Pelagi Di Malam Hari (new version)

Pelangi di Malam Hari.

Halo! Ini cerpen perdana aku. Aku ambil dari laguna vidi aldiano yang judulnya sama kayak cerpen ini hehe dalem banget lagunya kan? Hehe langsung aja yah dibaca. Monggooooooooo! Maaf kalau jelek sebelumnya.

“Vi, pulang sekolah mau aku jemput gak?” Tanya Rio, lewat telefon, saat Sivia sedang istirahat. Rio adalah pacar Sivia. Mereka baru menjalin hubungan selama 3 bulan, tetapi masa pendekatan mereka terbilang terlalu lama. 6 bulan atau setengah tahun. Mungkin agar perasaan mereka lebih mantap dan menyatu. Rio, Mario Stevano. Anak SMP Citra mandiri. Duduk dikelas 3. Sedangkan Sivia, murid dari SMP Nusa Bangsa.
“Nggak usah Yo, masa kamu harus ke sekolah aku dulu terus pulang?” tolak Sivia halus. Padahal, letak sekolah mereka berdua terbilang cukup dekat.
“Nanti aku emang mau ada perlu dulu ama Gabriel, mau ngomongin basket. Jadi sekalian aja jemput kamu.”
“Yah aku kira kamu beneran mau jemput aku.” kata Sivia, nadanya dibuat-buat seperti orang marah, “yaudah nanti kesini aja.”
“Hehehe. Oke. Udah yah. Dadah.” Rio yang langsung memutuskan sambungan telfon.
Gemuruh suara kantin yang sangat ramai sangat terdengar jelas oleh Sivia, Agni, Ify, dan Gabriel. Ify dan Gabriel berpacaran. Mereka sedang menikmati waktu istirahat sekolah yang sangat sebentar ini.
“Yel, emang sekolah kita sama sekolah Rio mau tanding basket lagi?” Tanya Sivia pada Gabriel, lalu menghirup Jus Alpukatnya yang terakhir.
“Ngga kok.” jawab Gabriel, setelah menghabiskan isi mulutnya yang dipenuhi siomay. ”Cuma nanti bulan depan ada sparing semua sekolah di kota ini jadi sekolah kita kerja sama gitu buat latihan.”
“Oh gitu.” Sivia manggut-manggut, lalu melanjutkan memakan chikinya.

~
Bell pulang sekolah pun berdentang. Anak-anak mulai berkoor, meminta segera dipulangkan kepada guru yang sedang mengajar. Tampaknya guru yang sedang mengajar di kelas Sivia dan Ify tidak dapat di protesi, karena dia malah terus melanjutkan, ‘tanggung’, katanya. Ify dan Sivia tidak sekelas dengan Gabriel dan Agni, tetapi mereka berdua sekelas. Sekitar 5 menit kemudian, guru pengajar pun mengijinkan mereka untuk membereskan buku, bersiap-siap untuk pulang. Sivia dan Ify langsung berjalan ke kantin.
“Halo.” sapa Sivia, setelah berdiri di sisi meja yang sudah ditempati oleh Gabriel, Agni, dan Rio. Rio langsung menggeser tempat duduknya, memberi Sivia celah untuk duduk di sampingnya, Sivia pun duduk.
“Lama amat bubarnya?” Tanya Rio, padahal mereka pun baru berkumpul sekitar 5 menit yang lalu.
“Kenapa? Kangen yah?” kata Sivia, nadanya cukup menggoda. Rio hanya mengacak poni Sivia pelan, mereka sudah tidak bertemu sekitar satu minggu.
“Emang terakhir pelajaran siapa Fy?” Tanya Agni yang sedang asik memakan kacang kulitnya.
“Biasalah Bu Ira.”jawab Ify, lalu ikut memakan kacang kulit milik Agni. Agni melengos, Ify hanya tersenyum kuda.
Mereka pun berbincang cukup lama. Terutama Gabriel Rio dan Agni yang mengobrol seputar basket. Gabriel. kapten basket putra, sedang Agni kapten putrinya. Rio pun kapten di sekolahnya, SMA Citra Madiri. Tak terasa waktu terus berlalu. Kini jam di tangan kiri mereka sudah menunjukkan pukul 3, menjelang sore. Sekolah tidak sepi. Karena ada beberapa ekskul yang masih berlatih. Tetapi mereka memutuska untuk segera ulang, agar tidak terlalu sore. Sesuai janji di awal, Rio mengantar Sivia dengan motor andalannya, ke rumah
“Yo mampir dulu yu.” ajak Sivia setelah turun dari motor Rio. Dia kini tengah berdiri di sisi kiri motor Rio.
“Gimana yah?” kata Rio, berpura-pura mikir, “Boleh deh.” Sivia tersenyum. Rio pun turun dan mengikuti Sivia dari belakang, berjalan memasuki pekarangan rumah Sivia. Rio bersalamn terlebih dahulu dengan Mamahnya Sivia. Mamah Sivia memang sudah mengenal Rio, karena Sivia banyak bercerita tentang hubungan mereka. Mereka lalu ke teras belakang. Bermain laptop Sivia, bernyanyi, berbincang, bercanda. Melepas rindu yang terasa begitu menyesakkan di dada. Ketika jam sudah menunjukkan pukul 5.30, dan langit sudah mulai berwarna ke-oranye-oranye-an, Rio pun berpamitan pulang. Rumah Rio dan Sivia yang memang berada dalam satu komplek, walau berbeda blok -bisa dibilang berjauhan, membuat Rio santai untuk pulang jam berapapun dari rumah Sivia.

~

Matahari sudah nampak gagah. Mulai memasuki cahayanya menuju ruangan kecil. Kamar Sivia. Ini hari Sabtu. Weekend. Karena Sekolah Sivia libur, dia sengaja bermalas-malasan. Bangun siang. Lebih dari pukul 9. sivia terbangun karena mersakan ada sesuatu yang bergetar, ternyata ponselnya yang memang di taruh di sebelah bantalnya. Dia mengucek-ngecek pelan matanya, lalu mulai meraba, mencari ponsel.

From : Alvin Jonathan Sidunata
+62856XXXXXX
Vi, sekarang jalan yu!

Baru saja Sivia membaca nama si pengirim, jantung Sivia mulai berpacu 50 kali lebih cepat. Setelah membaca isi pesan itu, perutnya mulai melilit. Keningnya mengernyit, alisnya bertautan. Perasannya seperti nano-nano. Senang. Bingung. Heran.
Alvin, Alvin Jonathan. Lelaki bertubuh tegap, berkulit putih, mata sipit dan badan yang cukup berisi. Dia adaah salah satu lelaki yang ehm…cukup memiliki ruang khusu di hati Sivia. Alvin yang pertama kali membuat Sivia merasakan deburan ombak yang membasahi hatinya. Yang membuat pipi Sivia memerah setiap Alvin mengajaknya berbicara. Dan yang membuat Sivia berpikir, mungkin inilah cinta pertamanya. Walau hanya sebatas cinta monyet. Mereka kenal di salah satu tempat les khusus bahasa Inggris. Ketika mereka berdua duduk di bangku kelas satu SMP.

To : Alvin Jonathan Sidunata
+62856XXXXXX
Ngapain Vin?

From : Alvin Jonathan Sidunata
+62856XXXXXX
Main aja Vi, gw udah lama gak ketemu lu.

To : Alvin Jonathan Sidunata
+62856XXXXXX
Jam? Ke?

From: Alvin Jonathan Sidunata
+62856XXXXXX
Jam 11 gue jemput yah ke mana aja deh.

“Yaudah deh gak apa-apa. Gue juga kangen sama dia” batin Sivia, liar.

From : Alvin Jonathan Sidunata
+62856XXXXXX

Oke!

Walau matanya masih enggan untuk sepenuhnya terbuka, kepalanya yang masih betah diam di atas bantal, dan tubuhnya yang masih rindu kepada selimut yang menutupinya. Sivia memaksakan semuanya. Dia mulai bangkit, dan berjalan menuju kamar mandi. Walaupun dia berjalan dengan keadaan masih sempoyongan.
Tak cukup waktu satu jam, Sivia sudah terlihat rapih tetapi tetap menunjukkan sisi anggunnya. Dengan dibalut dress bermotif kembang kecil berwarna hijau muda, dan shall berwarna hitam-merah, membuat dia terlihat lebih segar. Setelah memastikan di depan cermin tak ada satupun yang menodai wajahnya, dia keluar dari kamar, menuruni tangga, menuju kamar Mamahnya, untuk berpamitan.
“Mah, Via mau main yah.” Katanya, I depan pintu kamar mamahnya. Mamahnya sedang menyisir rambutnya di depan meja rias.
Mamahnya menoleh, Sivia masuk, duduk di ranjang. “Mau main sama siapa? Udah rapih lagi.”
“Sama… Alvin Mah.” Jawab Sivia, sedikit ragu. “Boleh kan?” Mamah mengernyitkan kening.
“Alvin….temen les kamu itu?” ujar Mamah Sivia. Sivia mengangguk. “Rio tau?” kali ini Sivia menggeleng lemah. Mamah menghela nafas, “yaudah gak apa-apa. Mamah takutnya nanti Rio gimana lagi. Asal kamu jaga perasaan Rio aja.” Lalu, mamah Sivia melanjutkan menyisir rambutnya yang bergelombang, panjang sepinggang.
“Iya mah, Sivia juga tahu kok.”
“Emang di jemput jam berapa?” tanya Mamah, lalu mengerling pada jam yang kecil yang duduk di sudut meja riasnya.
“Setengah jam lagi sihhh……” Mamah Sivia hanya mengangguk.
“Makasih ya Mah….” Kata Sivia dengan nadanya yang manja. Lalu berjalan keluar, menuju ruang TV. Mamahnya hanya menggelengkan kepala. Melihat anak gadisnya yang sedang dalam masa pubertas.
Waktu setengah jam tidak begitu terasa karena Sivia menonton sebuah acara yang cukup menghibur. Dalam hati dia bertanya, mengapa dia sangat niat bertemu dengan Alvin, sampai sudah siap setengah jam sebelumnya. Biasanya, jika ia dan Rio akan jalan saja, Rio selalu dibuat menunggunya, yang terlalu santai dalam bersiap-siap.

“Pasti Alvin.” batin Sivia, ketika suara motor mulai terdengar menderu. Dia keluar rumah, menyembulkan kepalanya ke pintu rumah, “Masuk dulu Vin.” Katanya, melihat Alvin masih duduk di atas motornya. Alvin mengangguk, lalu segera turun dan memasuki pekarangan rumah Sivia. Sivia menyilahkan Alvin masuk, walau sedikit rasa canggung menyelimuti benaknya.
“Mah…ada Alvin.” Kata Sivia, setelah berada di ambang pintu kamar Mamahnya. Mamah mengangguk dan segera keluar, diikuti Sivia di belakangnya.
“Eh Alvin, apa kabar?” tanya mamah, ramah. Sebelumnya, Alvin memang suka main ke rumah Sivia. Tepatnya bukan main, dulu Alvin suka mengantar Sivia ketika pulang les.
“Baik tante.” Kata Alvin, yang duduk di sofa ruang tamu Sivia yang berwarna merah marun. Dia lalu bangkit, untuk bersalaman dengan mamah Sivia.
“Sivia nya aku pinjem dulu yah Tan…” kata Alvin sopan, seraya tersenyum. Hati Sivia sedikit liar melihat senyum Alvin yang sangat dirindukannya.
“Iya, ati-ati yah………”
Lalu, Alvin dan Sivia pun berangkat, setelah sebelumnya Sivia juga berpamitan dengan mamahnya. Dengan menggunakan motor yang sama seperti pertama kali Sivia di bonceng dengan Alvin, mengingatkan Sivia kembali pada masa-masa itu. Entahlah, dia sendiri bingung dengan perasaannya yang seperti ini.
Alvin melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Dadanya berdegup kencang. Degupan yang sangat ia rindukan. Entah mengapa, ini degupan yang hanya akan terjadi jika ia berada di dekat Sivia. Dia tahu, ini sebuah perasaan yang salah, karena seratus persen dia tahu, hati Sivia telah sepenuhnya milik orang lain. Tapi, aa benar hati Sivia tak meberikannya celah sedikit pun? Alvin mulai liar.

~

Di café yang bernuansa klasik, dengan sofa berwarna biru langit dan dindingnya yang di cat berwarna abu-abu muda, membuat kesan simple dan nyaman sangat terasa. Alvin dan Sivia memilih duduk di tempat yang berada di pojok ruangan. Setelah waitress datang, menanyakan menu apa yang akan mereka pesan, suasana canggung menyelimuti mereka. Sivia sibuk memainkan kukunya, sedangkan Alvin hanya mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. Sesekali pandangannya menyapu ruangan.
“Lo tambah cantik Vi.” puji Alvin saat waitress baru saja menaruh pesanan di hadapan mereka. Tanpa di sadari, wajah Sivia merona.
“Emang dari dulu gue cantik kali Vin.” jawab Sivia narsis, berusaha menyembunyikan nada gugupnya. Dalam hati dia berdoa agar suaranya tidak berubah menjadi suara kodok, apalagi menghilang.
“PD banget lo.” Sivia memajukan beberapa centi bibirnya. Alvin tertawa renyah, tawa yang mengundang Sivia untuk ikut tertawa sesaat. Lalu mereka pun menikmati pesanan mereka dengan kebisuan. Hanya dentingan suara piring yang beradu dengan sendok, garpu atau pisau.
“Gimana sekolah lo Vin?” Tanya Sivia ketika baru selesai menghabiskan pesanannya, dia lalu menyeruput minumannya.
“Ya…lumayan seru lah. tapi karena udah kelas 3 jadi lebih cape aja. Banyak pelajaran tambahan.” Jawab Alvin, sekenanya. Sivia manggut-manggut. “Lo juga kan?”
“Iya cape banget….”
“Lo masih les di tempat yang dulu?” kata Alvin, memainkan bibir gelas menggunakan jari telunjuknya.
“Udah nggak. Males. Gak ada waktu juga. lo juga kan?” kata Sivia, memain-mainkan sedotannya, lalu menghirup minumannya lagi.
“Iya…paling nanti udah SMA….” Sivia hanya mengangguk. Kebisuan mulai tercipta kembali. Tak ada yang terlalu berani bertanya lebih banyak. Mereka sama-sama diselimuti kecanggungan. Mungkin karena kenangan-kenangan yang dulu sempat mereka ciptakan. Sivia dan Alvin sendiri berusaha menetralkan perasaan hati masing-masing.
“Cowok lo siapa Vi?” tanya Alvin, dalam hati berharap pertanyaannya tak salah.
“Rio.” Jawab Sivia. “cewek lo siapa?”
Alvin menggeleng lemah, matanya menatap piring-piring kotor yang berada di hadapannya, “gak ada.” Katanya, lalu menghembuskan nafas berat.
“Yaaaah….cari dong Vin. Lo kan ganteng.” Kata Sivia, berusaha menghibur dengan sebuah kenyataan yang ada.
Alvin menatapnya, lalu tersenyum kecut, “cewek yang gue suka aja gak suka sama gue.”
“Kalau jodoh gak kenaman kok Vin. Santai aja….”
“Thanks Vi…” Sivia mengangguk.
Selanjutnya mereka menghabiskan waktu sekitar satu jam, untuk sekedar berbicang. Layaknya sahabat lama yang sudah lama tak berjumpa. Tak ada pembicaraan yang serius. Hanya membicarakan masa lalu, yang membuat hati mereka berdua sedikit membara. Sekitar jam 3, Alvin langsung mengantarkan Sivia pulang ke rumahnya.

***

Rupanya setelah pertemuan mereka di café, hunngan Sivia dan Alvin semakin dekat. Tanpa ada yang mengetahui hal itu. mereka sendiri pun tak tahu, apa maksut dari kedekatakn mereka ini. Apakah hanya kedekatan sahabat, atau…
2 minggu berlalu. Sivia menerima kedatangan Alvin yang mulai memasuki kehidupannya kembali. Dia rindu Alvin. Dalam 2 minggu semua terobati. Rio tak mengetahuinya. Sivia digelayuti perasaan bersalah. Hatinya kalut. Mengapa tiba-tiba tumbuh perasaan yang dulu pernah juga mengisi hati Sivia?
Sivia merasa telah membohongi Rio secara habis-habisan. Walau Rio tak pernah curiga, karena Rio sendiri disibukan dengan berbagai kegiatan di sekolahnya. Tapi apakah Sivia masih bisa disebut pacar yang baik, jika dia sendiri secara pelan-pelan telah menghianati Rio?
Sepertinya terlambat, perasaan antara Alvin dan Sivia sudah benar-benar di luar kontrol yang ada. Alvin secara terang-terangan, sekitar 3 hari yang lalu, mengaku pada Sivia bahwa hatinya masih terbawa pergi oleh Sivia. Masih menyimpan rasa padanya. Sivia tak munafik, dia senang, karena dia sendiri pun mulai merasakan bahwa dia mulai membalas perasaan Alvin. Liar dan salah. Sangat salah.
Hari ini, secara tiba-tiba - bagi Sivia, Alvin menjemputnya menggunakan motor andalan - dengan sejuta kenangan - itu. sivia yang heran, karena Alvin tidak memberitahu sebelumnya, akhirnya mengikuti ajakan Alvin. Tak jauh, Alvin hanya mengajaknya ke taman yang berada di komplek Sivia.
“Ngapain ngajak gue kesini Vin?” Tanya Sivia, saat mereka baru saja tiba di taman. Bukannya menjawab pertanyaan Sivia, Alvin malah terus berjalan menuju sebuah bangku yang berada di bawah pohon yang cukup rindang. Sivia hanya mengikutinya, duduk di bangku, di samping Alvin.
Alvin menghela nafas, menyenderkan tubuhnya ke punggung bangku, “Gue mau jujur,”ucap Alvin menggantung. Entah kenapa baru tiga kata yang teruca dari bibir Alvin, fikiran-fikiran di otak dan hati Sivia mencuat. Menemukan berbagai kemungkinan, hingga kemungkinan terburuk sekalipun, ”sebelumnya lo pasti udah tau dengan sikap gue ke lo kalau gue masih sayang sama lo, tapi gua juga sadar lo udah punya Rio. Rio lebih baik dari gue. Tapi gue kira selama 2 minggu belakangan lo kayak ngasih harapan ke gue.” Kata Alvin datar. Pandangannya lurus berusaha menerawang. Hatinya getir. Berharap ini waktu yang tepat dan semua yang terbaik. Dia sudah menerima semua resikonya. Semua resiko atas kelakuannya selama ini.
Sivia menunduk. Tak mampu menunjukan mukanya pada siapapun. Rasa bersalah kini berada di dasar hatinya. Terus menghantuinya. Otaknya berfikir 1oo kali lebih cepat. Aliran darah sangat terasa desirannya. Perlahan Sivia mengangguk, ikut menatap lurus, “Iya gue tau Vin… maaf.”
“Sorry gue udah lancang masuk ke kehidupan lo yang sekarang. Padahal gue tau jelas, ada Rio, pacar lo, yang jauh lebih baik dibanding gue. Dan, lo udah seneng dengan adanya dia.” Pernyataan Alvin membuat Sivia terenyuh. Dia sendiri sebagai kekasih Rio, seolah melupakan, bahwa Rio lah yang selalu membuatnya bahagia dan tersenyum.
“Ngga kok Vin.” kata Sivia. Alvin menoleh ke arahnya. Sivia tersenyum, melihat kening Alvin yang berkerut. “entah kenapa gue seneng lo masuk ke kehidupan gue lagi. Padahal gue tau jelas, semakin lama kalo di biarin ini semua tuh salah. Terlebih…waktu gue tau…ternyata perasaan yang dulu hadir lagi. Perasaan yang dari dulu berusaha gue hilangin, dan ketika gue udah berhasil, lo muncul lagi. Tapi gue sadar gue punya Rio. Tapi yah kan gue bilang, jodoh gak akan kemana kan?” lanjutnya tegas, seraya menundukkan kepalanya. menahan bening yang mulai terbit dari sudut matanya.
“SEKARANG LO MILIH SIAPA VI?” Tanya seseorang dari belakang. Nadanya tinggi dan, siapapun yang mendengarnya tahu, bahwa emosinya sedang di atas batas normal. Sivia dan Alvin langsung menoleh. Terlebih Sivia, dia sangat hafal suara ini. Rio. Rio yang sedari tadi diam-diam membuntuti mereka berdua. Rio yang sedari tadi hanya mendengarkan, menahan emosi yang kian meletup, sampai akhirnya tidak bisa tertahankan lagi.
“Ri…oooo. Kamu dari kapan……” ucap Sivia terbata, melangkah mendekati Rio yang berdiri sekitar 3 meter dari bangkunya. Alvin diam mematung. Merasa bersalah. Seandainya dia tidak mengajak Sivia kesini. Seharusnya dia mengajak Sivia ke tempat yang jauh. Bahkan jika bisa tempat yang tak berpenghuni. Agar tak ada siapapun yang mendengar bahkan mengetahui. Hanya Tuhan, mereka, dan malaikat.
“Gue dari tadi disini. Gue denger semuanya!” kata Rio, menunjuk-nunjuk Sivia dengan kasar. “Lo tega yah Viiiii……” Bening dari sudut mata Sivia sudah tak tertahankan, mengalir, mengikuti alur. Deras, membasahi pipi. Ingin sekali rio menghapus air mata perinya itu. melihatnya menitikan air mata setetes pun Rio tak tega. Apa lagi seperti ini. Tapi emosi mengalahkan semuanya. Rasa kecewa membuncah dalam benaknya. Tak percaya dengan semua ini. Rio dikhianati.
“Denger pejelasan gue dulu Yo. Sivia gak salah.” kata Alvin, meminta sedikit kelonggaran agar diberi kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Dia bersalah. Dia. Salah.
“Kalian berdua salah.” bentak Rio, memandang Sivia, -yang menunduk di hadapannya, dan Alvin secara bergantian. ,”dan lo Vi, gue kecewa sama lo. Kita putus!”
Rio langsung berlari. Meninggalkan taman. Berharap semua tertinggal dalam jejaknya. Dia masih tidak percaya.
Sivia merosot ke tanah. Darahnya membeku. Tak sanggup untuk menopang tubuhnya sendiri. Kemungkinan terburuk itu terjadi. Alvin membantu Sivia berdiri. Memapah Sivia menuju motor miliknya. Mengantarkannya pulang, setelah sebelumnya dia menghapus rinai air maa yang menganak sungai di pipi lembut Sivia. Sivia diam. Pandangannya kosong. Hatinya kalut. Menyesal.

~

Sivia berantakan. Kemarin, Mamah Sivia sempat marah kepada Alvin, tapi setelah Alvin menjelaskan semuanya, mamah Sivia hanya mengangguk. Berusaha mengerti masalah yang, wajar, dialami oleh para remaja.
Semalaman Sivia menangis. akhirnya Sivia tidak masuk sekolah. mamah Sivia telah membujuk Sivia untuk makan. Takut Sivia terserang sakit. Sivia berulang kali menolak. Dia hanya duduk di sudut ranjangnya, mendekap boneka pemberian Rio, menangis.
Pulang sekolah, Agni dan Ify mejenguk Sivia kerumah. Walaupun mereka berdua pun belum mengetahui secara jelas mengapa Sivia tidak masuk sekolah. Mamah Sivia menijinkan, dan langsung mempersilahkan mereka memasuki kamar Sivia.
“Vi…” ucap Ify di depan pintu kamar Sivia. Agni mengetuk pelan pintunya.
“Masuk.” Terdengar jawaban dari Sivia dengan suara tersendat. Via dan Agni membuka pintu kamar Sivia. Mereka kaget melihat kondisi kamar Sivia dan Sivia sendiri yang sudah sangat bernatakan. Mereka berhambur mendekati Sivia, duduk di samping ranjang Sivia.
“Lo kenapa Vi?” Tanya Agni dengan lembut. Sivia menggeser pelan duduknya, meminta Agni agar duduk di sampingnya. Agni pun duduk di sampingnya. Sivia menyenderkan kepalanya ke bahu Agni. Membiarkan air matanya membasahi bahu Agni.
“Lo cerita yah ke kita?” pinta Ify, yang duduk di hadapan Sivia.
“Gue bego. Gue tolol. Gue ngecewain Rio.” tangis Sivia kembali meledak, Agni mengelus lembut rambutnya, sedangkan Ify mengusap lembut tangannya.
“Coba lo ceritain semuanya.” pinta Ify lagi dengan lembut.
Sivia mengangguk. Dia mengangkat kepalanya dari bahu Agni. Mulai menjelaskan semuanya. Semua yang berawal dari SMS di sabtu siang. Walau nadanya tersenggal dengan isakannya. Kedua sahabatnya berusaha mengerti. Mencari kesimpulan dari semuanya.
“Lo jelasin semuanya sama Rio yah?” usul Agni dengan lembut.
Sivia menggeleng, “Gue salah Ag, gua sayang sama Alvin lagi. Itu salah banget!” kata Sivia membuat pernyataan. Agni dan Ify semakin bingung dengan semuanya.
“Lo tenangin diri lo dulu. Lo minta maaf sama Rio yah?” kata Agni, mengelus pelan pundak Sivia.
“Gue salah kan?” Tanya Sivia, menatap keduanya bergantian, dengan tatapan seolah berkata, ‘jawab jujur dong, gua salah kan?’
Agni menghela nafas berat, “Gue boleh ngomong jujur?” tanyanya, Ify menatapnya tajam. Agni tak menghiraukan.
“Jujur Ag, lo jujur gue bakal lebih enak.” Jawab Sivia, menghapus pipinya yang di keraki oleh sisa-sisa air mata.
Agni menepuk pelan pundak Sivia, “Menurut gue lo salah Vi, lo udah ada yang punya tapi kenapa lo ngeladenin Alvin? Dulu waktu kelas 1 lo tau kan Alvin cuma bilang suka lah sayang lah sama lo tapi apa buktinya? Nihil! Ada Rio yang sayang banget sama lo. Rio yang pujaan di sekolahnya.” tutur Agni jujur. Berusaha setiap kata-kata dari runtutan kalimatnya tak membuat Sivia semakin merasa bersalah atau menyakitit Sivia. Sivia tertegun, dia menundukkan kepala. Menahan air yang mulai di produksi dari balik matanya. ”Lo tau kan lo ngedapetin Rio dengan susah? Kalian sama-sama suah di dapetin! Dan lo tau kan lo cinta pertama Rio setelah Rio trauma atas kematian mantannya, semenjak kematian mantannya cuma lo yang bisa buka hati dia lagi. Kenapa lo kecewain dia Vi?” lanjutnya panjang lebar. Agni menggigit bibir bawahnya. Semoga dia tidak memperburuk keadaan.
Sivia tersenyum ke arah Agni, senyum tulus kepada seorang sahabat sejati. Ify dan Agni heran. “Thanks yah Ag lo udah ngomong jujur dan nyadarin gue.” Ucapnya, ”Mungkin gue emang cewek paling bego di dunia. Gue nyia-nyiain cowok kayak Rio. Gue emang bukan cewek yang pantes buat Rio.”
“Sorry yah Fy.” Kata Agni, mengelus pelan pundak Sivia.
“Sekarang gue baru sadar kalau gue sayangnya cuma sama Rio ! Gue cuma terobsesi sama Avin.” kata Sivia, menunduk.
“Sekarang lo minta maaf yah sama Rio?” kata Ify.
“Nanti yah. Gue belum siap.” jawab Sivia, pandangannya nanar. Ify hanya mengangguk. Tidak tega melihat kondisi sahabatnya.
“Kita pulang dulu yah. Tenangin diri lo.” Kata Agni, pamit. Sivia mengangguk.
“Thanks yah.” Agni dan ify hanya mengacungkan kedua jempol mereka. Lalu mereka berdua melangkah keluar. Untuk pulang.
Sivia masih terdiam. Berusaha mencerna semua perkataan Agni yang secara tepat sangat benar. Walau dia di pojokkan, tapi itulah kenyataan. Sivia menghela nafas, berat. Dadanya terhimpit. Dia berharap semua bisa berakir secara bahagia.

***
Dengan dada yang berdegup kencang, Gabriel tetap memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah Rio. Entah apa yang membuat dadanya berdegup kencang. Yang jelas, tujuannya hanya ingin membantu sahabatnya.
Baru 3 kali Gabriel mengetuk pintu, terdengar sahutan dari dalam. Lalu, selang beberapa detik, nampak Rio yang hanya memakai celana pendeka dan kaos santainya, membukakan pintu.
“Masuk Yel…” kata rio, mempersilahkan. Gabriel pun masuk, mengikuti Rio dari belakang. Lalu Gabriel duduk di sofa yang berada di sisi kiri Rio.
“Yo……” gumam Gabriel. Rio menleh, mengangkat dagu. Dari mimic mukanya saja kita dapat mengetahui betapa tingginya emosi dalam hati Rio. “Lo marah banget sama Sivia?” tanya Gabriel. Berbicara dengan nada yang sangat berhati-hati.
Rio berdecak. Dia menaikkan kedua kakinya ke atas meja. “Lo kesini Cuma buat ngebahas itu? udahlah Yel, gue males.” Katanya, tanpa sedikit pun menatap ke arah Gabriel.
“Seenggaknya lo bisa dengerin penjelasan Sivia dulu, Yo.”
Rio menatap Gabriel. Api di matanya semakin membara, “yel, coba kalau lo ada di posisi gitu? Apa lo gak akan ngelakuin hal yang gue lakuin ke dia juga? lo bakala sama kayak gue kan, Yel?” kata rio. Nadanya tinggi. Gabriel mengangguk, dia memahami betul posisi Rio sekarang.
Tiba-tiba saja, suara dehaman yang cukup keras, berasal dari pintu masuk rumah Rio. Rio dan Gabriel menoleh. Mereka tersentak melihat siapa ternyata yang sedang berdiri.
“Sivia gak salah, gue yang salah.” Katanya, ternyata Alvin. Dia masih tetap berdiri. Selah tak mempunyai rasa bersalah. Padahal diam-dia dalam hati dia berdoa agar desiran darahnya kembali normal.
“Udah deh, percuma lo mau ngebela diri atau ngebela Sivia juga. gue males.” Kata Rio, lalu pergi meninggalkan ruang tamu. Meninggalkan Alvin dan Gabriel. Meninggalkan suasana yang terasa semakin membeku. Gabriel menggaruk tengkuknya, bingung harus bagaimana. Alvin menunduk, tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan untuk menebus semua kesalahan, yang menurutnya akibat dirinya sendiri.
“Biarin Rio sendiri dulu. Lo juga, istirahat.” Kata Gabriel, mendekati Alvin, lalu menepuk-nepuk pundak Alvin seraya tersenyum.
Alvin menoleh dan balas tersenyum, “Thanks ya.” Gabriel hanya mengangguk, lalu melangkah pergi meninggalkan rumah Rio. Alvin menghela nafas, lalu ikut pergi. Fikirannya masih tak menentu. Berkecamuk. Tuhan, ternyata tak semua permasalahan bisa di selesaikan dengan kata maaf dan penjelasan.

***

Badannya panas. Menggigil. Mungkin akibat masalahnya sendiri. Walaupun sakit, fikiran tentang masalahnya itu tak pernah absent, selalu ada di dasar fikirannya. Sivia memijat-mijat keningnya sendiri.. berusaha menghilangkan rasa pening itu. dia menarik selimut, lebih erat. Untuk menghangatkan utubhnya yang terasa kian dingin. Walau begitu, ia masih saja menangis. tentang itu.
Butuh 2 hari, akhirnya Sivia sembuh dan masuk sekolah. walau tak ada gairah dari dalam dirinya, setidaknya lebih baik dari pada menyendiri di kamar. Terus memikirkan masalah itu. Gabriel, Ify, dan AGni menyambut hangat Sivia. Berusaha memberi Sivia kesibukan, agar ia tidak terus memikirkan masalah itu.
“Anter gue ke rumah Rio yuk.” Kata Sivia, saat suara gemuruh kantin berdengung di telinganya.
Agni mengangkat Alis, Gabriel sampai tersedak saat dia minum air, Ify membulatkan bola matanya. Sivia hanya tersenyum perih.
“Mau ngapain lagi…Vi?” tanya Gabriel, setelah menormalkan saluran kerongkongannya.
“Mau minta maaf. Senggaknya gue emang belum minta maaf secara resmi ke dia.” Kaa Sivia. Datar.
Gabriel mengangguk. Agni dan Ify kompak menghela nafas, “Yaudah oke.” Jawab Gabriel. Sivia tersenyum. Berharap ini memang waktu yang tepat. Siap atau tidak, ini harus dilakukan. Dari pada terus mengulur waktu. Memperpanjang masalahnya. Setidaknya, ini bisa lebih cepat. Agar hatinya pun tidak terus dipenuhi rasa menyesal.

***

Gabriel mengetuk pintu rumah Rio. Entah mengapa, hati mereka semua ketar-ketir. Apa lagi Sivia, keringat dingin sudah membasahi pelipisnya. Tak lama, pintu terbuka. Terlihat Rio yang masih memakai seragamnya, tersenyum remeh ketika melihat siapa yang datang.
“Ngapain lagi?” tanya Rio, tanpa mempersilahkan siapapun untuk masuk. Agni memegang kuat bahu Sivia. Sivia sendiri menunduk. Ify menggenggam erat tangan Sivia, ikut merasakan dinginnya tangan Sivia.
“Yo……” kata Gabriel, lemah. Berharap emosi Rio surut, walau hanya 5 menit.
“Aku mau minta maaf Yo…maaf…aku nyesel…….” Kata Sivia masih menunduk. Ucapannya menggantung. Dia menahan bening-bening air mata yang mulai terbit dari sudut matanya.
“Udahlah,percuma lo nyesel gak akan nyelesaian semuanya. Males gue denger kata maaf dari orang kayak lo.” Rio mencak-mencak. Dia langsung menutup pintu rumahnya. Tak memberi siapapun untuk bicara lebih panjang. Sivia terisak. Agni mengelus pundak Sivia.
Gabriel menepuk pelan puncak kepala Sivia, “udah udah. Jangan nangis.” Katanya. Ify tidak tega melihat Sivia.
Sivia prustasi. Ini menjadi beban hidupnya sampai Rio mau memaafkannya. Entah kapan, dia masih berdoa semoga waktu itu ada.
Gabriel, ify dan AGni mengantar Sivia pulang. Mengerti betapa rapuhnya benteng pertahanan Sivia. Betapa menyesalnya dia. Meeka pun ingin sekali membantu, tapi apa daya? Emosi Rio masih saja terus meletup. Tak bisa mengalahkan rasa egonya. Coba saja Rio bisa meredam amarahnya barang 5 menit, mereka yakin, masalah ini akan membaik.

***
Waktu tak pernah berhenti berputar. Jam terus berdetik. Dari detik ke menit lalu ke jam. Berusah menjadi hari. Menyulam hari menjadi sebuah bulan. Walau terasa lama, tapi ini nyata. Tak pernah bisa dihentikan.
5 bulan. Sudah 5 bulan semenjak insiden ‘di teras rumah Rio.’ . Perlahan Sivia mulai bangkit. Meredam semua keterpurukannya. Dia tahu, tak baik berlama-lama berkubang dalam kesedihan. Masih banyak yang mendukung dan sayang padanya.
Walau terkadang masih ada penyesalan yang tak pernah terobati, setidaknya Sivia merasa lebih tenang. Dia sudah meminta maaf kepada Rio. Baik melalui SMS sampai e-mail. Enthalah, dia berharap suatu saat hari Rio akan mencair. Memberikan sedikit ruang di hatinya untuk Sivia. Walau hanya sebatas teman.
Perasaan Sivia kembali teriris. Walau tak sepedih berbulan-bulan yang lalu. Tapi ini cukup membuatnya ingin menangis kencang. Dia mendapat kabar dari temannya yang memang satu sekolah dengan Rio, dia mengatakan, Rio baru saja mendapatkan kekasih baru.
Sivia masih saja sendiri. Masih terbayang-bayang tentang itu, walau tak terlalu sering. Sedangkan Rio, bisa melupakan semuanya dengan mudah, bahkan telah menemukan pengganti Sivia di hatinya. Sivia hanya bisa diam. Menelan ludah. Dan berdoa, itu bisa membuat Rio bahagia, walau tak bersamanya. Tapi, itu sangat menyakitkan.
Alvin sendiri tak bisa berbuat apa-apa. Sivia tidak menyalahkan Alvin. Toh mereka berdua memang bersalah. Tetapi pertemanan mereka tidak putus. Walau tidak dekat, setidaknya mereka masih menganggap teman satu sama lain.


Apa saja yang membuat mu bahagia,
Telah ku lakukan untukmu
Demi mengharapkan cintamu
Kini ku bagai menanti datangnya pelangi di malam hari yang sepi
Ku sadari yang telah ku lakukan
Membuat hatimu terpenjara dan tak kuasa ku membukanya
Walau seluruh dayaku ingin bersamamu
Kunci hatimu patah tak terganti
Cinta tak harus memiliki
Tak harus menyakiti
Cintaku tak harus mati
Oh cinta tak harus bersama
Tak harus menyentuhmu
Membiarkan dirimu dalam bahagia walau tak disampingku
Itu kerulusan cintaku

Sivia yakin, cepat atau lambat, dia akan menemukan kebahagiaan yang abadi. Yang membuatnya bisa benar-benar lupa dengan semua ini.

***

Any comment? Right. aku tahu, disini banyak banget pengulangan kata, yakan? Ada lagi gak? komentarnya dong, selalu ditunggu!!!!!!!!!

Peaceloveandgaul
@dhitals

Seandainya Aku Tahu

Finished : September, 18th 2010. 12.19 p.m

Air mata terus menganak sungai di pipiku. Aku semakin mengencangkan pelukanku ke lututku sendiri. Dengan membenamkan wajah, membuat air mata setetes demi setetes jatuh membasahi pahaku. Badanku semakin bergetar. Perlahan aku mengangkat wajahku. Menyenderkannya ke dinding yang berada tepat dibelakangku. Kuhirup angin malam yang masuk melalui jendela kamar yang sengaja aku buka. Aku menatap langit, memandangi ribuan bintang yang bertaburan di bentangan langit. Sesaat hening. Menikmati aku yang sendiri. Hanya ditemani angin yang perlahan mengusap bahuku. Ditemani bulan yang seolah tersenyum, menguatkanku. Ditemani bintang yang berkelip, menghiburku.
Aku mengangguk mantap. Entahlah, ini sudah keberapa kali aku mengangguk mantap. Tetapi sedari tadi anggukan itu runtuh dengan air mata yang juga ikut terbit. Kali ini aku harus bisa menahan bening itu. Aku harus kuat. Tuhan tak akan suka melihat hambanya menjadi lemah seperti ini. Aku harus tersenyum.
Ingatanku terus berputar. Terus berputar. Memutar kenangan kita. Kenangan terindah yang pernah aku miliki. Kenangan yang membuat hidupku semakin berarti dan berwarna.
Ini yang aku benci. Perpisahan. Mengapa harus ada perpisahan? Mengapa aku tak menyadarinya dari dulu bahwa setiap pertemuan akan berujung pada perpisahan? Mengapa perpisahan harus menghampiriku juga? Mengapa perpisahan harus dihiasi dengan air mata? Mengapa perpisahan begitu menyakitkan? Mengapa perpisahan….tak bisa kuterima dengan ikhlas?

~

Matahari mengintipku mlelalui celah-celah gorden dan jendelaku. Perlahan sinar hangatnya membelai lembut rambutku. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Membuat pandanganku agar lebih jelas. Dengan malas aku bangkit dari tempat tidurku. Berjalan menuju kamar mandi. Semalas apapun aku, tak sampailah hatiku untuk berbolos sekolah.
Tak sampai satu jam, aku sudah duduk manis di meja makan. Semua sudah rapih. Pakaian dan perlengkapanku sudah lengkap. Aku tengah asik mengunyah nasi goreng yang tersaji di depanku. Buatan Mamah. Kesukaanku.
“Besok Gabriel ulang tahun yah?” tanya Kak Kiki, yang duduk di depanku. Aku sedikit kaget. Aku menatapnya seraya mengangguk. Kak Kiki, kakakku satu-satunya, lelaki yang berjarak 2 tahun di atasku. Kini, dia tengah menempuh bangku kuliah, semester 1. Dia mengambil jurusan kedokteran. Cita-citanya ingin menjadi dokter gigi.
“Kok tau?” tanyaku, setelah meminum seteguk air putih, untuk sekedar melancarkan nasi yang berada di kerongkonganku.
“Iyalah. Udah 2 tahun masa iya gue gak apal. Ingatan gue gak seburuk itu juga kaleeee..” jawab Kak Kiki. Setelah mengunyah habis suapan terakhir nasi gorengnya. Aku terkekeh. Mamah dan papah yang melihat hanya tersenyum.
“Kali ini kamu mau ngasih apa Vi buat Gabriel?” tanya Papah, lalu mengelap mulutnya menggunakan serbet.
Aku mengunyah suapan terakhir nasiku, setelah ditelan dengan lanar, aku menjawab, “Ya…kayak biasa Pah…surprise kayaknya. Tapi taun ini kan Gabriel sweetseventeen, sama orang tuanya juga mau di rayain.” Jelasku, membuat sedikit pernyataan. Yang lain -Mamah, Papah, Kak Kiki, mengangguk.
“Terus lo gak ngasih kado, gitu?” tanya Kak Kiki. Keningnya mengernyit.
“Mau sih ngasih, tapi gue gak tau apaan”
“Ah cupu lo jadi cewek.” Kata Kak Kiki, melempar potongan tissue bekasnya ke arahku. Dengan sigap aku menangkapnya. Bibirku maju beberapa centi.
“Sudah. Pagi-pagi juga udah ribut aja.” Kata Papah, menengahi. Kak Kiki menunduk. Aku tersenyum puas. Kak Kiki mencibirku. Tak lama, terdengar suara deru mobil yang sudah sangat kuhafal. Perlahan suara mesin itu menghilang, terdengar suara pintu terbuka. Dalam hitungan detik, suaranya bergantian dengan suara bell rumah yang berbunyi.
“Gabriel dateng tuh.” Kata Kak Kiki.
Aku langsung menyangkutkan tasku di bahu, lalu mencium kening Papah dan Mamah bergantian. Ritualku setiap pagi. Kak Kiki yang melihat hanya menggelengkan kepala. Bilang saja dia sirik. Baru saja aku berbalik, hendak melangkah,ternyata Gabriel sudah berdiri di ujung sudut meja makan. Aku tersenyum. Gabriel berjalan mendekat, menyalami kedua orang tuaku, lalu ber-toast dengan kak Gabriel.
“Pagi Tante, Om…” sapa Gabriel ramah, menyunggingkan senyum andalannya.
“Pagi Yel…sarapan bareng ,yuk.” Mamah menawari. Gabriel menggeleng.
“Nggak usah tan, tadi udah sarapan kok dirumah.” Jawab Gabriel. “Via nya dibawa ke sekolah bareng aku yah Tan, Om….”
“Kamu ini kayak baru pertama kali aja.” Kata papah, diiringi tawa renyahnya. “Hati-hati yah.” Gabriel mengangguk.
“Berangkat yah Mah, Pah….” Kataku. Gabriel tersenyum sekali lagi ke arah orang tuaku. Sikapnya yang ramah dan sedikit dingin membuatnya lebih sepsial dimataku. Aku dan Gabriel pun beriringan berjalan keluar dari rumah. Menuju Picanto hitam metalic milik Gabriel.
Jalanan yang sudah lumayan ramai tidak membuat fikiranku buyar. Aku masih terus memikirkan kado apa yang harus diberikan kepada lelaki berkulit hitam manis dan berperawakan kurus yang duduk disebelahku kini. Mataku memandang lurus ke depan. Aku masih belum mendapatkan ide.
Lagu mengalun pelan pelan dari radio yang sengaja Gabriel nyalakan. Senandungnya tak bisa membuat diriku diam. Ini membuahkan sesuatu untukku. Dalam hitungan detik, aku menghentak-hentakkan kaki, mengikuti beat lagu. Kepalaku mengangguk-ngangguk pelan. Dapat kulihat dari ujung mataku Gabriel menoleh ke arahku, lalu tersenyum. Dia lalu membesarkan volume suara, kami menyenandungkan lagu bersama.

Kan kujalin lagu
Bingkisan kalbuku
Bagi insan dunia
Yang mengagungkan cinta
Betapa nikmatnya
Dicumbu asmara
Bagai embun bagi
Yang menyentuh rerumputan
Cinta akan kuberikan bagi hatimu yang damai
Cintaku gelora asmara
Seindah lembayung senja
Tiada ada yang kuasa
Melebihi indahnya nikmat bercinta

Setiap kata demi kata yang aku nyanyikan, dalam diam aku memanjatkan doa kepada Tuhan. Doa yang cukup sederhana tetapi ini salah satu harapan terbesarku. Aku harap aku bisa bernyanyi seperti ini dengan Gabriel selamanya. Sampai rasa ini habis ditelan jaman.
Kami tertawa nyaring seusai kami berbunyi. Terus begitu jika radio memutar lagu lainnya. Aku menikmati saat-saat ini. Dengannya. Dia melihatku seperti aku yang sempurna. Karena cinta, menyempurnakan semuanya. Walau aku tak sempurna, aku mencintainya secara sempura.

~

Aku duduk di mejaku. Disampingku, Shilla sedang sibuk dengan iPodnya. Mendengarkan lagu dengan mata terpejam. Kepalanya ia rebahkan diatas meja yang beralaskan tangan kirnya. Aku menjawil bahunya. Tampak Shilla yang sangat kaget langsung melepas iPodnya.
“Ah elo, ngagetin aja. Kenapa?” tanya Shilla, setelah menyimpan iPodnya ke dalam tas.
Aku terkekeh, “Besok Gabriel ulangtahun.” Jawabku langsung menuju topik pembicaraan. Shilla mengangguk, “gue bingung mau ngasih apa. Lagian, besok kan sabtu, sekolah libur. Biasanya, kalau ngasih surprise selama 2 tahun kemarin kan gue kerjain dia di sekolah. kalau besok?” jelasku, seraya mengangkat bahu.
Shilla mengangguk lagi, “ke rumahnya aja, tepat jam 12, gimana?” kata Shilla, memberi ide. Ehm…sebenarnya bukan memberi, tetapi meyakinkan ideku.
“Gue juga udah mau mikir kayak gitu. Tapi gue juga bingung mau ngasih kado apa ke dia.” Tambahku lagi. Aku menidurkan kepalaku, persis seperti apa yang tadi pertama Shilla lakukan.
“Yang pasti sih….sesuatu yang beda. Cuma ada satu di dunia ini. Gak ada yang bakalan punya selain dia.” Terang Shilla, dia menatapku.
“Lo anterin gue ke rumahnya yah?” pintaku, sedikit merengek. Lalu membangunkan kepalaku, bersikap manja kepada Shilla dengan memelintir-lintir rambutnya yang tergerai panjang ke depan.
Shilla berdecak, memutar bola matanya, aku sedikit memanyunkan bibirku. Akhirnya Shilla pun mangangguk, “Iya deh iya. Tapi lo jemput gue ke rumah yah.”
Aku mengacungkan jempolku, lalu tersnyum puas, “Eh tapi gue bawa apa aja nih ke rumah dia?”
“Bawa kue aja, kayak biasa. Sama apa kek bunga apa gitu, sama kadonya.” Terang Shilla seraya memainkan tangannya. Sekali lagi, aku mengangguk.

~

Dengan izin dan dukungan dari Mamah, papah, dan Kak Kiki, aku melajukan mobil menuju rumah Shilla. Semua peralatan yang tadi pagi di kelas Shilla sebutkan sudah aku siapkan. Kue yang tadi sepulang sekolah aku dan dibantu Mamah yang membuat, serta kado, yang Shilla bilang harus yang benar-benar spesial. Aku fikir ini sudah cukup spesial, dalam jangka waktu yang cukup singkat ini.
Rumah Shilla yang satu perumahan denganku, hanya berbeda cluster denganku, membutuhkan waktu tak sampai 10 menit untuk sampai di rumahnya. Baru saja aku hendak turun keluar dari mobil, Shilla sudah keluar dari pagar rumahnya, lengkap memakai sweater yang sangat tebal. Dia sedikit berlari ketika akan memasuki mobilku…errr….ralat. mobil Kak Kiki yang aku pinjam dengan sogokan kue bolu.
“Eitsss…awas ada kue enak tuh.” Kataku, menahan Shilla yang hendak menduduki kursi. Kue -yang di tempatkan di sebuat kotak berwarna biru laut- memang aku simpan di kursi depan, agar tidak jatuh.
Shilla tertahan. Dia mengangkat kue itu, duduk, dan memangku kue tersebut. “Bikinan siapa nih?” tanya Shilla, mengintip kue itu dari tutup tempat kue yang transparant.
“Ya kayak biasa, bikinan gue sama nyokap gue.” Jawabku, lalu mulai memasukkan porsneling, dan menginjak pedal gas. Mulai melaju menuju rumah Gabriel yang harus menempuh waktu 15 menit dari perumahanku.
Shilla hanya mengangguk, “nanti gue dikasih kan?” tanyanya. Kulihat wajahnya dari sudut mataku. Wajahnya sudah sangat ingin menimati kue itu. Aku sendiri sudah susah payah menahan nafsu untuk memakan barang satu iris
“Iya nanti kalau Gabriel udah tiup lilin.” Jawabku.
“Oke.”
Lalu aku mulai serius mengendarai mobil di tengahnya malam. Membuat mataku harus sangat berhati-hati. Walau sudah malam, kawasan di Jakarta ini cukup ramai. Lampu-lampu kota menyala benderang. Membuat polusi cahaya, alhasil, bintang-bintang yang sebenarnya hadir menghiasi langit gelap tak nampak sedikit pun. Tertutup oleh cahaya-cahaya dari gedung-gedung bertingkat juga jalanan dan lampu kendaraan.
“Pertama gimana nih Shil?” tanyaku, ketika aku baru saja mengangkat rem tangan. Kami sudah sampai di depan rumah Gabriel. Gelap. Hanya lampu teras dan taman yang menyala.
Shilla berdeham, aku menoleh ke arahnya, tampak dia sedang mengetuk-ngetukkan jarinya ke kening, “Gue yang bawain kue, lo bawa kadonya.” Kata Shilla. Mengemukakan hasil pemikiran singkatnya barusan.
“Kado gue bukan berupa benda besar.” Jawabku. Shilla tampak keheranan, keningnya berkerut, membuat alisnya tampat bertautan.
“Yaudah kalau gitu lo yang bawa kue, gue cuma ngintilin aja dari belakang.” Ujar Shilla lalu terkekeh pelan. Aku melengos. “Lo punya nomor orang tua Gabriel kan?” Aku mengangguk, “udah bilang ke mereka tentang ini?” Sekali lagi, aku mengangguk. ”terus gimana?”
“’Kunci cadangan mereka taro di bawah pot.” Jawabku seadanya. Akhirnya shilla mengacungkan jempolnya, seraya tersenyum. Kami pun turun dari mobil, setelah sebelumnya kue untuk Gabriel berpindah posisi dari tangan Shilla menuju tanganku.

~

“Happy birthday Iel… Happy birthday Iel…” kataku dan Shilla semangat, setelah membuka pintu kamar Gabriel, yang entah kebetulan atau tidak, pintunya tak terkunci. Shilla lalu menyalakan lampu. Tampak Gabriel yang masih tidur, malah menarik wajahnya ke bawah selimut. Mungkin dia fikir dia masih mengigau.
“Happy birthday Iel…. Happy birthday happy birthday… happy birthday Ieeeeeeeel.” Tambahku lagi bersama Shilla. Nada suara kami tinggikan. Seperti anak kecil, tetapi selalu saja senang dan bahagia jika menyanyi lagu ini. Kami berjalan mendekati ranjang Gabriel. Gabriel membuka selimutnya. Matanya masih menyipit. Wajahnya masih khas wajah bantal. Dia mengerjap-ngerjapkan mata,lalu sedikit meregangkan tubuh.
“Cieee yang ulang tahun.” Kata Shilla, terkekeh. Gabriel tersenyum. Lalu mendudukan posisinya.
“Yaampun ngagetin aja ihh……gue kira tadi tuh mimpi ada kalian.” Gabriel mengungkapkan perasannya. Tak bisa ia sembunyikan rasa senangnya, senyum merekah dari bibirnya. “Makasih yah Shil…Vi…” tambah Gabriel. Aku mengangguk, tersenyum, seraya duduk di samping Gabriel. Shilla menarik kursi belajar Gabriel, duduk di hadapan kami.
“Cepet tipu lilinnya. Gue udah ngiler pengen makan tuh kue.” Shilla mencak-mencak. Walaupun bercanda. Gabriel memandangnya sinis.
“Emang lo bakal gue bagi?” katanya. Aku tertawa pelan. Aku suka ketika Shilla dan Gabriel mulai bercanda seperti ini. Apalagi jika ada Cakka, kekasih Shilla. Rasanya kebahagiaanku lengkap.
“Sialan lo. Bukannya makasih.” Sungut Shilla, seraya mengepalkan tangannya ke hadapan Gabriel. Gabriel menangkisnya.
“Santai mba hahaha iya tenang aja kali. Cakka gak ikut?”
Shilla menggeleng, “jam 8 aja dia udah jadi kebo gimana jam segini.” Jawabnya, sedikit menggerutu. Aku dan Gabriel tertawa.
“Udah-udah pegel nih gue megang kue nya mulu.” Kataku lalu. Shilla membantuku melepas kue dari tempatnya. Lalu menempelkan lilin yang berbentuk angka 1 dan 7. Selanjutnya Shilla menyalakan lilin dengan korek yang sedari tadi aku kantongi di saku sweater bermotif bunga punyaku.
“Tiup lilinnya tiup lilinnya..tiup lilinnya sekarang jugaaaa…” kataku dan Shilla ceria. Shilla sampai bertepuk-tepuk tangan kecil.
“Make a wish duluuuuuu……” tambahku, ketika Gabriel sudah siap meniup lilin. Gabriel mengangguk lalu memejamkan matanya. Tampak khusyu. Lalu dia meniup lilin itu.
Setiap lilin yang ditiup aku atau Gabriel mungkin menjadi saksi berapa lamanya kami bersama. Sudah 4 tahun hubungan kami bersama, dan ini ke tiga kalinya aku memberi Gabriel kejutan. Kedamaian ketika aku melihat Gabriel meniup lilin atau ketika aku sendiri yang meniupnya tak akan pernah terganti. Terlebih ketika kami sedang meminta permohonan. Mungkin, satu hal yang kami minta dari dulu hingga kini masih sama.
Malam itu, aku, Gabriel dan Shilla saling bercanda. Menikmati hari seperti tahu-tahun sebelumnya. Mencorat-coret wajah dengan krim yang menghiasi kue. Orang tua Gabriel bahkan sampai terbangun, dan ikut bersama kami menikmati malam itu. memakan kue bersama. Semua menikmati malam ini.

~

Aku menyenderkan kepalaku ke bahu Gabriel, memandang bentangan langit yang terpampang luas di hadapanku. Shilla sudah pulang, diantar oleh Obiet tadi, sepupu Gabriel yang tinggal di rumah Gabriel. Kini, aku dan Gabriel berada di halaman belakang rumah Gabriel. Duduk di rerumputan. Tak peduli rumput yang masih basah akibat air hujan yang baru saja reda sekitar jam 11 tadi.
Dalam hati aku terus berdoa agar bisa terus menikmati malam ini. Kehangatan yang aku rasakan ketika berada di samping Gabriel, semoga dapat kurasakan selamanya. Mungkin ini yang namanya cinta sesungguhnya. Aku takkan pernah mampu kehilangannya.
“Yel….” Kataku, teringat akan sesuatu. Gabriel mgnintipku melalui sudut matanya. Aku mengangkat wajahku, merogoh iPod yang berada di saku sweaterku. “Ini kado dari aku buat kamu” kataku, mulai memasangkan sebelah headset iPod ke telinga kanan Gabriel, lalu menempelkan sebelahnya ke telinga kiriku. Dia tampak kebingungan. Tanpa banyak waktu, aku segera memencet sejumlah tombol. Membuat kado dariku segera terjawab.

Cruising when the sun goes down
Cross the sea
Searching for something inside of me
I would find all the lost pieces
Hardly feel deep in real
I was blinded now I see
Hey hey hey you’re the one
Hey hey hey you’re the one
Hey hey hey I can’t live without you
Take me to your place
Where our hearts belong together
I will follow you
‘cause you’re the reason that I breath
I’ll come running to you
Fill me with your love forever
Promise you one thing
That I would never let you go
‘cause you are my everything
You’re the one, you’re my inspiration……..

Lagu yang sengaja aku buat untuknya. Lagu yang hanya aku buat dalam waktu satu jam. Yang aku masukkan ke dalam iPodku. Yang Kak Kiki iringi dengan gitarnya. Lagu yang mungkin merupakan isi hatiku untuknya. Dia segalanya untukku.
Kami masih duduk berhadap-hadapan. Gabriel nampak tersenyum, tak percaya. Saat lagu selesai, dia langsung mendekapku. Aku balas mendekapnya. Hangat. Hanya aku termukan dalam dekapannya.
“Makasih yah…makasih banget…..” katanya setelah melepas dekapannya. Aku mengangguk, bening dari sudut mataku hampir terbit. Air mata bahagia dan haru.
“Buat kamu….kamu segalanya buat aku….” Jawabku. Menambah keindahan malam ini.
Gabriel mengecup keningku. Lagi-lagi,kedamaiann yang hanya akan aku dapatkan ketika Gabriel mengecup keningku.
“Kamu tuh paling bisa bikin aku seneng kayak gini……” ujarnya, lalu mengacak lembut puncak kepalaku. Air mata bahagiaku leleh, aku tersenyum menatapnya.
“Cengeng, mau seneng mau sedih, nangis mulu.” Gabriel mengusap pipiku, menghapus titik air mata. Aku tersenyum.
“Aku sayang sama kamu Yel….” Kataku, tulus dari dasar hatiku.
“Aku sayang sama kamu lebih dari kamu sayang ke aku….” Balas Gabriel, tepat di telingaku. Dia lalu kembali mendekapku.
Malam itu terus berlanjut. Waktu tak akan pernah berhenti berputar. Terus berjalan, mengikuti putaran arah jarum jam. Biar alam yang menyimpan semua kenangan ini, agar tak pernah terlupakan. Terkenang sampai kapanpun.
Entah mengapa aku merasa malam ini adalah malam paling indah, dibandingkan malam-malam jika aku atau Gabriel berulang tahun lainnya. Ini ulangtahun paling beda dan spesial.

~

Aku terbangun karena seseorang telah menelefon ponselku. Semalam, aku pulang pukul 4 subuh. Errr…oke itu bukan malam. Malam itu, aku da Gabriel terus bercerita, memutar kemali memori-memori kita tentang semuanya yang sudah kami lalui selama satu tahun belakangan. Diiringi seringaian tawa renyah yang hadir dari mulut kami berdua.
“Halo…” kataku, masih belum sepenuhnya sadar ketika mengangkat telefon di ponselku.
“Vi…bisa ke rumah sakit harapan sekarang?” suara Tante Nita, Mamah Gabriel terdengar panik. Aku langsung duduk, kaget.
“Kenapa Tan?” tanyaku, dalam hitungan detik wajahku berubah pucat.
“Gabriel…” Tante Nita menggantungkan kalimatnya. Membuat keringat dingin mulai membasahi pelipisisku.
“Kamu cepetan kesini nanti tante jelasin lebih jelas.” Tambahnya. Aku langsung membanting ponsel, bangkit dan segera bersiap-siap menuju rumah sakit. Aku tidak mandi. Hanya menyikat gigi dan membasuh wajah. Aku tak peduli seburuk apapun penampilanku. Yang aku fikirkan hanya Gabriel sekarang. Gabriel. Gabriel.

~

“Gabriel menderita penyakit kelainan jantung……” kata Tante Nita. Kini aku sudah duduk di bangku yang berada di depan kamar Gabriel. Kak Kiki dan orang tuaku sedang di perjalanan, menyusul. Shilla dan Cakka pun sama. Mereka sama-sama kaget dan panik ketika Tante Nita memberi kabar Gabriel di rumah sakit, dan….koma.
Rahangku mengeras, tulang-tulangku serasa lepas dari sendinya. Darahku memebeku. Mataku susah berkedip. Bahkan nafasku sangat berat. “Tan……dari kapan….?” Tanyaku lirih, mulai meremas tangan Tante Nita.
“Dari kecil dia memang sudah menderita itu. tapi parahnya ketika dia mulai masuk SMA.” Jawab Tante Nita ditengah isakannya yang lalu semakin mengeras. Aku memeluknya. Ikut merasakan perih hatinya.
“Tan…kenapa gak ceria ke Via? saat itu Via udah sama Gabriel, kan?” kataku lirih. Air mataku leleh. Langsung banjir, menganak sungai di pipiku. Dadaku sesak. Semua seperti mimpi buruk. Aku harap ini memang hanya mimpi buruk.
“Iel gak mau sapapun tau…termasuk kamu….” Tante Nita mlepas pelukanku, “ketika di perjalanan menuju rumah sakit, ketika dia belum koma, masih setengah sadar dia bilang sayang banget sama kamu dan gak mau liat kamu nangis karena dia. Begiu pula ke tante…dia juga bilang seperti itu…” tangisku pecah. Semakin keras dan terisak. Tak hanya aku, tante Nita pun histeris. Mungkin perh yang dirasakan seorang Ibu dibanding sakit yang dirasakan oleh sang kekasih beda. Yang, memang berbeda.
“Tante gak mau kehilangan Iel……”
“Via juga gak mau Tan……sampai kapanpun gak akan mau…… sekarang kita sama-sama berdoa ya Tan, semoga Iel bisa sembuh.” Kataku, berusaha menenangkan Tante Nita. Sebenarnya berusaha menenangkanku juga. Tante Nita mengangguk. Kami kembali masuk ke dalam kamar Gabriel, terlihat Obiet yang duduk di samping ranjang Gabriel, tengah menundukan kepala. Sepertinya dia sedang berdo’a dengan khusyu. Aku dan Tante Nita duduk di sofa, lalu terdiam. Hening. Hanya isakan yang terdengar di antara kita.
Shilla, Cakka, Kak Kiki dan orang tuaku baru saja datang. Orang tuaku dan Kak Kiki duduk di sofa yang berada di seberang sofaku, Shilla duduk di sampingku, merangkulku. Berusaha menangkanku yang tak hentinya menitikkan air mata. Cakka duduk di kursi yang berada di sisi kanan Gabriel.
Hidup memang tak pernah bisa ditebak. Baru sekitar 8 jam yang lalu aku masih dalam dekapan Gabriel. Bercanda. Tertawa. Bercerita. Bersenandung. Semuanya. Entahlah apa yang sedang Tuhan rencanakan untukku dan kami semua. Aku masih tidak mengerti, mengapa seperti ini. Membuatku tidak percaya. Tak pernah terlintas dibenakku barang sedetik, bahwa semuanya akan seperti ini.
Aku tak siap kehilangan Gabriel. Doa yang selalu kami panjatkan berdua mungkin hanya sampai sini. Tak sepenuhnya terkabul. Kami tak bisa bersama selamanya. Tapi, aku harap, rasa cinta dan sayang kami akan selalu selamanya. Aku masih berdoa dengan teguh, agar Gabriel sadar dan ini hanya mimpi buruk. Atau juga Gabriel bisa segera sembuh dan seperti biasa lagi.

~

Seandinya aku tahu dari dulu, bahwa semalam, adalah pertemuan kita secara nyata untuk terakhir kalinya, apakah aku masih akan seperti ini? Terus menangis. Tidak menerima sebuah takdir yang tanpa disadari ini adalah bagian hidupku.
Seandinya aku tahu dari dulu, semalam adalah terakhir kalinya kau mendekapku. Mungkin aku takkan pernah rela melepaskan pelukanku. Aku akan terus memelukmu, membiarkan kehangatan yang khas itu menjalari tubuhku. Bila perlu sampai kau akhirnya pun tiada.
Seandinya aku tahu dari dulu, kata-kata manis yang kau bisikkan tepat ditelingaku semalam, yang mampu membuat buku kudukku meremang dan jantungku berpcau lebih cepat. Itu adalah yang terakhir kalinya. Mungkin saat itu aku tak akan pernah berhenti bergumam bahwa aku menyayangi dan mencintaimu lebih dari yang kau tahu. Lebih dari bagaimana aku menyayangi diriku sendiri.
Seandainya aku tahu dari dulu, belaian hangat dari mu, usapan tanganmu yang perlahan mengacak rambut di puncak kepalaku. Itu tak akan pernah ku dapat lagi, aku akan minta kepadamu, agar terus membelaiku, mengusapku. Hingga aku merasa puas. Merasa sudah cukup. Tapi apakah kau tahu? Itu takkan pernah cukup.
Seandainya aku tahu dari dulu, saat kau menghapus air mataku, air mata haruku di taman belakang rumahku, itu adalah yang terakhir kalinya. Aku berjanji akan terus menangis saat itu. Aku suka saat kau menghapus bening dari sudut mataku. Membuatku merasa istimewa.
Tak pernah terlintas dalam benakku bahwa semuanya adalah yang terakhir. Terlebih ketika aku melihatmu dimasukkan kedalam liang lahat. Menyakitkan. Dadaku sesak, bahkan tubuhku meleleh. Tak sanggup menerima kenyataan. Tak sanggup tanpa kehadiranmu disisiku seperti biasanya. Tuhan…. Mengapa begitu memilukan? Bisakah kejadian tadi malam terus aku putar ulang?
Aku memandangi layar iPodku, menekan sebuah tombol yang memutar laguku untukmu semalam.

Cruising when the sun goes down
Cross the sea
Searching for something inside of me
I would find all the lost pieces
Hardly feel deep in real
I was blinded now I see
Hey hey hey you’re the one
Hey hey hey you’re the one
Hey hey hey I can’t live without you
Take me to your place
Where our hearts belong together
I will follow you
‘cause you’re the reason that I breath
I’ll come running to you
Fill me with your love forever
Promise you one thing
That I would never let you go
‘cause you are my everything
You’re the one, you’re my inspiration……..

Aku membiarkan bening itu meleleh. Membanjiri pipiku. membuat mataku sembab dan hampir bengkak. Pandanganku kosong. Menatapi langit siang yang masih terang. Matahari terus menyinari. Tak merasakan duka yang aku rasakan. Aku menyenderkan tubuhku ke sudut jendela. Terdiam. Terus begitu sampai keesokannya.

~

Aneh? Iya aku tahu kok. Ini proyek gagal yang sayang kalau di diemin. Jadi aku bikin seadanya aja. Jangan tanya kenapa kalau cerpen aku selalu endingnya mati. Oke? Tinggalkan komen, kau akan bahagia dunia akhirat.

Peaceloveandgaul
@dhitals gabrielFC 1h1f

Thursday, September 2, 2010

Late

Late

Dalam diam aku terpaku. Hanya mampu berdiri mematung di sudut ruangan. Apakah yang aku lihat ini adalah kenyataan? Bukan sebuah mimpi buruk yang kemudian disaat aku terbangun nanti semua akan baik-baik saja. Aku merosot. Terduduk lemah di sudut yang sama. Ini semua nyata. Tak akan bisa diubah atau sekedar diulang. Ini tidak bisa dihentikan. Waktu terus berjalan. Jam pun terus berputar.
Air mata mulai terbit dari sudut mataku. Ingin menghapusnya, tapi percuma. Akan terus mengalir deras. Aku membiarkannya mengalir hingga menganak sungai di pipiku. Aku memeluk lutuku, membenamkan wajahku. Aku tahu ini bukan tempat yang tepat, tapi masihkah aku harus peduli jika semua sudah seperti ini?
“Shil…..masuk ke dalem. Jangan disini terus. Ayo ganti baju.” Aku mengangkat wajahku, memastikan siapa yang berbicara. Ternyata Kak Gabriel yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapanku seraya mengulurkan tangannya, untuk aku raih. Dia sudah berpakaian lengkap berwarna hitam.
Aku mengusap pipiku, menghapus sisa-sisa air mata yang membasahi. Setelah dipastikan sudah tidak tersisa, aku meraih tangan Kak Gabriel dan berdiri, walau sedikit dalam hatiku belum rela untuk bergerak sedikitpun.
“Gak ada yang perlu di tangisin. Percuma kamu nangis juga, gak akan ngembaliin keadaan.” Nasihat Kak Gabriel, seraya berjalan beriringan bersamaku menuju lantai atas. Lalu dia mengusap puncak kepalaku. Memberiku sedikit kedamaian. Aku mengangguk kecil, lalu mencoba untuk tersenyum. Kak Gabriel tersenyum puas dan merangkulku.

Aku duduk di tempat pertama kali aku menangis. tapi kali ini aku bukan sedang menangis. di kedua tanganku terbuka Buku Yassin. Aku mengaji bersama semua saudaraku. Mulai dari saudara dekat hingga saudara jauh. Semua berkumpul disini. Di sebelahku duduk sepupuku, Sivia. Dia juga sedang mengaji.
Walau dengan isakan, aku terus mengaji. Dan air mata pun terus turun dan membasahi buku itu. Aku masih belum bisa menerima ini. Sivia menggenggam tanganku erat. Sepertinya dia mendengar isakanku. Dia menoleh ke arahku lalu tersenyum dan berkata, “Sabar Shil…stop nangisnya. Sekarang kita ngaji dulu.” Aku mengangguk. Sivia kembali melanjutkan membaca surat Al-Quran itu. Sebelum melanjutkan membaca, aku menyapu pandanganku ke seluruh ruangan. Aku tak menemukan Ibu dan Kak Angel.
“Vi…Ibu sama kak Angel mana?” tanyaku, berbisik.
“Tante Lidya pingsan Shil…tapi ditemenin Kak Angel kok. Kamu disini aja…” jawab Sivia. Aku panik. Ingin ke kamar Ibu dan segera menemaninya. Tapi aku harus disini. Terus berdoa untuk Ayahku. Aku terus mengaji. Meminta agar Tuhan tidak menghukum Ayahku. Agar Tuhan membawa Ayahku ke tempat yang tenang.

Di sudut kamar yang sengaja aku padamkan lampunya, aku memeluk lutut. Bersandar ke jendela, memandangi bintang. Biarlah cahaya bulan dan bintang yang menerangi ruanganku ini. Bintang mulai berkelip. Aku harap satu dari ribuan bintang itu Ayahku. Ayah yang kini sangat aku inginkan kehadirannya.
Disamping kiriku tergoler amplop berwarna coklat yang aku terima saat aku baru pulang sekolah tadi. Jangankan membacanya lebih jelas, memegangnya saja sudah tak ada hasrat. Aku menarik nafas, dan menghembuskannya perlahan. Nafasku mulai tersenggal akibat dada yang semakin terhimpit. Aliran bening ini pun semakin deras. Tuhan, aku lelah. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Aku lupa menguncinya. Lampu kamarkupun menyala, aku menyipitkan mataku, seraya melihat siapa yang masuk. Ternyata Kak Gabriel. Tanpa aba-aba, dia langsung duduk di sisi kiriku. Setelah sebelumnya menyingkirkan amplop coklat itu menjauh.
“Udah dong Shill….jangan nangis.” Katanya seraya menatapku. Perlahan dia mengusap pipiku. menghapus air mataku. Aku mengalihkan pandangan, kembali menuju langit. Percuma, air mata turun kembali.
“Ayah gak akan tenang kalau kamu kayak gini terus…..” kata Kak Gabriel, yang lalu -sepertinya- ikut menatap bintang.
Aku menyenderkan kepalaku dibahunya, badanku bergetar. Kak Gabriel mengusap bahuku, “aku nyesel ka……… aku bukan anak yang baik…” kataku lirih.
“Percuma kamu nyesel, gak akan ngembaliin semuanya. Ini udah jalan hidup kita Shil…”
“Tapi aku bener-bener bukan anak yang baik. Disaat Ayah sakit aku malah keluyuran, balik malem dengan segudang alesan. Padahal itu cuma alesan karena aku males dirumah. Males ikut ngurusin Ayah bareng Ibu! Waktu Ayah minta aku buat nemenin dia, aku malah pura-pura tidur atau ngerjain PR. Atau giliran aku lagi nemenin Ayah cuma sekedar duduk disampingnya, aku ngeluh setengah mati! Aku anak duurhaka ka…..” air mata bertambah deras. Perlahan Kak Gabriel memelukku, membuatku sedikit hangat dan nyaman.
“Aku belum sempet minta maaf ke Ayah…..” lanjutku.
“Tanpa kamu minta Ayah pasti udah maafin kamu kok Shil….” Ucap Kak Gabriel menenangkanku. Perlahan megendurkan pelukannya.
“Disaat-saat terakhir Ayah aja aku gak ada….”
“Udah Shil…stop… Ayah gak akan suka kalau kamu kayak gini terus…” nada suara Kak Gabriel sedikit meninggi. Dia menatapku tajam. Sepertinya di benar-benar tidak suka dengan kelakuanku yang seperti ini. Aku mengalihkan pandanganku menuju langit kembali.
“Kalau Ayah ada disini, aku pengen meluk dia deh Kak, yang erat. Aku pengen dicium Ayah.” Kataku. Tak menghiraukan seluruh ucapan kak Gabriel. Aku masih terlarut dalam keadaan. “Aku belum pernah bilang ke Ayah langsung kalau Aku sayang Ayah. Pasti Ayah semakin ngira aku anak durhaka…….” Aku mengusap pipiku yang benar-benar basah oleh air hangat itu. Perlahan aku menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. “Asal Ayah tau, aku sayang banget sama dia. Sayang banget. Lebih dari siapapun yang sayang sama Ayah. Andai aku dikasih satu kesempatan satu jam aja sama Ayah, aku bakalan meluk Ayah terus, gak akan aku lepasin.”
Kak Gabriel kembali merengkuhku. Aku semakin terisak. Tuhan….. mengapa penyesalan selalu datang terakhir? Mengapa rasa kehilangan benar-benar nyata disaat orang itu sudah benar-benar menghilang? Kenyataan ini begitu pahit untuk dijalani. Apa lagi rencanamu untukku? Kak Gabriel mengusap-usap bahuku. Aku menangis dalam bahunya.
“Kak…..Ayah sayang gak yah sama aku?” tanyaku. Nada bicaraku betul-betul datar. Sebenarnya ini pertanyaan terbesar dalam hidupku.
“Pasti dong Shil….. Ayah sayang sama semua anaknya, keluarganya, temennya, semuanya……” jawab Kak Gabriel, badannya pun ikut bergetar. Aku tahu, pasti ia sedang menahan air matanya. Dia lelaki. Harus tampak kuat. Aku mengangkat kembali kepalaku dari bahunya.
“Tapi Ayah kadang selalu ngekang aku. Terlalu mengekang. Aku juga butuh kebebasan kak….” Aku menunduk. Kembali membiarkan bening air mata mengalir seiring dengan perihku yang semakin menjadi.
“Cuma karena itu kamu beranggapan Ayah gak sayang sama kamu? Itu justru karena Ayah sayang banget Shil sama kamu. Kamu anak bungsu.”
Aku termenung. Tuhan, bertambahlah kadar durhakaku ini. Aku sudah menuduh Ayah yang tidak-tidak.
“Kak, kalau kakak mau nangis keluarin semuanya. Nangis juga ada waktunya kok Kak…” kataku, seraya meliriknya dari sudut mataku. Kak Gabriel menatapku dan tersenyum.
“Aku cuma sedih……belum bisa bikin Ayah bangga sama aku…… aku belum bisa bikin Ayah tersenyum bangga karena aku… dulu aku masih mikir aku masih punya banyak waktu buat bikin Ayah sama ibu bangga, tapi ternyata waktunya salah….” kata Kak Gabriel seiring dengan tumpahnya air matanya. Aku mengenggam erat tangannya. Ikut merasakan pedih yang ada dihatinya. Itu pula yang ada dalam benakku saat ini.
“Kita bikin Ayah bangga sama kita sama-sama yah Ka, kita lakuin untuk Ayah sama Ibu…” kataku berusaha menyemangati Kak Gabriel. Tepatnya menyemangati diriku sendiri juga. Kak Gabriel tersenyum dan mengangguk. Aku mengangkat kepalaku dan kembali memandangan bintang yang cahayanya semakin terang. Berkelip, seolah mengerti asa yang mengganjali hatiku.
Hening
Tak ada suara yang aku atau kak Gabriel ciptakan. Kami kembali terlarut dalam fikiran kami masing-masing, disaksikan oleh malam yang pekat ini.
“Shil, tadi amplop coklat itu isinya apa?” Aku menoleh ke arah ka Gabriel. Aku lupa tentang itu. tiba-tibaaku tersenyum dan segera merangkak untuk mengambil amplop yang tadi Kak Gabriel singkirkan menjauh. Setelah dapat aku langsung menyerahkannya ke kak Gabriel. Dengan tatapan heran, dia menerimanya.
“Buka. Baca.” Suruhku. Senyumku masih sangat lebar. Kak Gabriel mengernyitkan dahi, membuat alisnya bertautan. Dia menuruti perintahku. Perlahan membuka amplop itu -yang sebelumnya sudah aku buka. Kak Gabriel membaca suratnya dengan serius -dapat kubaca dari matannya yang membesar. Dia nampak kaget sepertinya. Setelah tenggelam dari balik surat itu dia langsung tersenyum ke arahku dan memelukku tiba-tiba. Aku kaget. Dadaku sesak karena kak Gabriel memelukku sangat erat.
“Aku bangga sama kamu Shil….” Serunya tertahan. Tak bisa meyembunyikan perasaan bahagia.
Aku terkokoh, pelan-pelan aku memukuli pundak kak Gabriel, “kak, aku sesek nih….” Aku meronta. Kak Gabriel langsung melepas pelukannya. Dia memegangi kedua pundakku dengan senyum yang sangat terukir di wajahnya.
“Tapi semuanya terlambat kak…..” kataku. Tiba-tiba aku teringat oleh waktu. Aku terlalu terlambat. “Ayah keburu gak ada. Aku maunya masih ada ayah yang bakal meluk aku karena bangga.” Aku menunduk. Tuhan, aku kembali mengingatnya. Aku menhahan air mataku. Aku harus kuat. Sudah cukup dari tadi aku menangis.
Kak Gabriel mengangkat wajahku menggunakan telunjuknya. Dia tersenyum ke arahku seraya menggeleng kecil, “Semua gak ada yang terlambat. Dengan gini aja kamu udah bikin Ayah bangga di atas sana. Ayah gak pernah gak ada. Mau kemanapun dia pergi. Dia akan selalu disini.” Kak Gabriel menunjuk dadanya sendiri. Aku mengangguk. Beruntungnya aku mempunyai Kakak sedewasa dan sebaik Kak Gabriel.
“Nanti kakak, Kak Angel sama Ibu harus dateng loh.” Kataku, seraya tersenyum jahil. Perlahan aku mulai memendam perasaan sedihku. Yang seharusnya bisa aku hilangkan perlahan. Aku harus mulai terbiasa dengan semuanya.
“Apa sih yang nggak buat adikku tersayang ini.” Jawab kak Gabriel, mencubit cuping hidungku. Aku memajukan beberapa centi bibirku. Kak Gabriel tertawa renyah. Di malam itu, aku tak lagi memikirkan kesedihanku. Aku dan kak Gabriel sibuk membicarakan mengenai mimpi-mimpi kita. Megenai rencana kita untuk membuat Ayah dan Ibu tersenyum. Dalam hati aku masih berdoa pada Tuhan agar hari ini hanya mimpi buruk.

***

“Shil……ayo berangkat. Nanti telat.” Seru Kak Angel dari luar kamarku. Aku segera mempercepat gerakanku.
“Iya sebentar lagi Kak.” Jawabku seraya menyemprotkan parfum ke beberapa bagian tubuhku. Aku meraih tasku dan mengaitkannya di pundak. Sekali lagi aku mengecek penampilaku, agar tak ada satupun yang kurang. Rasa gugup menyelimutiku. Aku manrik nafas dan menghembuskannya perlahan.
“Tenang Shil….semua bakal baik-baik aja.” Hiburku sendiri. Aku langsung keluar kamar dan berlari menuju halaman depan rumah, untuk memakai sepatuku. Kak Gabriel, ibu, dan kak Angel yang ternyata sudah duduk manis di dalam mobil hanya mendecakkan lidah melihatku -aku dapat melihatnya karena jendela mobil yang terbuka. Aku terkekeh ke arah mereka lalu segera masuk ke dalam mobil setelah selesai memakai sepatu.

***

Dapat kulihat dari luar gedung bahwa suasana di dalam sangat ramai. Kak Gabriel baru saja memarkirkan mobil tak jauh dari pintu masuk gedung. Aku membuka pintu mobil, melangkahkan kakiku untuk turun. Rasa gugup bertengger dalam benakku.
“Tenang Shil……ngapain mesti gugup sih?” kata Kak Angel yang sudah berdiri di sampingku. Rupanya kegugupanku sangat tampak. Aku tersenyum seraya mengangguk.
Dengan menggunakan dress polos berwarna hitam dengan pita di belakangnya dan sepatu hihgheels yang cukup membuat kakiku pegal, aku, Kak Angel, kak Gabriel dan Ibu memasuki gedung itu. kami disambut ramah oleh penjaga tamu. Bahkan beberapa ada yang ehm……sok kenal denganku. Kami langsung mencari tempat duduk. Sudah sangat ramai. Setelah mencari-cari, akhirnya kami mendapat tempat duduk. Di barisan ke 4 dari depan. Lumayan, tidak terlalu belakang.
“Kamu udah menang, ngapain masih gugup sih?” tanya kak Gabriel, yang kini tengah duduk disisi kananku.
Aku menggeleng, “Gak tau, tetep aja gugup. Kalau kakak ada di posisi aku emang kakak gak akan gugup?” aku balik bertanya. Sepertinya ini sedikit menantang.
“Gugup boleh, tapi gak usah sampai pias gitu kali shil…” timpal kak Angel yang duduk di sisi kiriku. Dia terkekeh. Aku tersenyum lalu mengangguk. Perlahan menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Cukup membuatku sedikit lebih tenang.


***

Semua acara penyambutan dan segalanya sudah terlaksana. Kini tinggal penyerahan tanda bukti beserta trophynya. Tak ada rasa gemetar karena sebelumnya kita semua menang sudah diberi tahu apakah kita menang atau tidak. Tapi entah kenapa, walau aku tahu aku menang, aku masih saja bergemetar.
Juara harapan 3,2 dan 1 sudah diumumkan. Kini tinggal juaranya. Aku memejamkan mata. Semoga ini semua kenyataan dan buka sekedar mimpi indah yang saat aku terbangun semua kembali.
“Juara 2, Ashilla Zahrantiara……dengan cerita berjudul ‘Andai Air Dapat Ku Genggam’ ……” seru pembawa acara heboh. Seperti tadi, tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan. Aku menyiapkan diriku untuk segera melangkah maju ke depan. Walau hanya juara 2, kepuasan yang mendalam terukir jelas di hatiku.
“Juara satu dua dan tiga akan mendapatkan kontrak dan uang tunai dari penerbit buku.” Kata pembawa acara, masih heboh. Ketika aku sudah berdiri di atas panggung lengkap sudah memegang piala dan trophynya. Aku tersenyum. Rasa bangga terhadap disi sendiri sangat nyata berada dalam sukmaku.
“Maafin aku pah setiap malem main computer melulu samapi rusak. Bukannya nemenin papah yang lagi sakit. Aku ngerjain ini Pah, ini semua untuk papah.” Batinku, dengan mata terpejam. Air mata menetes. Air mata haru. Aku tersenyum dan buru-buru menghapusnya. Aku melihat ke arah Ibu, matanya berair, sepertinya dia sehabis menangis. Kak Angel dan Kak Gabriel merangkulnya. Aku tersenyum ke arah mereka, mereka membalasnya. Kak Angel mengacungkannya jempolya untukku. Kebahagiaan tiada tara ketika kita mampu membuat orang tua kita tersenyum bangga terhadap kita.

***