Followers

Monday, November 15, 2010

Aku Tak Pernah Tahu

Finished : Sunday, November 14th 2010. 10:44 a.m

Warning : read this story just would waste your time. So, close this page and read another story. Thankyou!

*

Aku tak pernah tahu, kasih
Mengapa rasa ini masih begitu terasa telak di ulu hatiku
Sesungguhnya, aku pun tak mau

*

Sambil menggigit bibir, aku memutuskan untuk tetap duduk di café ini. Tak peduli apa pandangan orang tentang apa yang sedang aku lakukan saat ini. Aku menyesap pelan hot chocolate yang sudah dingin. Karena sudah 2 jam aku biarkan begitu saja, baru sekarang ini aku menyentuhnya.
Tepat. Coklat bisa membuat perasaanku lebih baik. Lebih tenang. Walau perasaan ini belum menghilang. Karena aku belum berteriak atau sekedar menangis.
Aku merogoh tasku, mengambil dompet dan menaruh uang selembar berwarna hijau dan selembar berwarna ungu. Cukup untuk membayar hot chocolate itu. Sambil menutup wajah menggunakan majalah Girlfriend, aku keluar dari café itu. Ternyata aku tak sanggup lebih lama lagi berada disitu. Melihatmu bersama seorang gadis.

*

Sambil memainkan busa bersama sepupuku, aku berusaha menghilangkan perasaan ini. Aku ingin seperti anak kecil, tanpa beban dalam hidupnya. Tidak mengerti sesuatu yang berarti. Yang ia tahu, ia sangat menyayangi kedua orang tuanya. Bukan seperti aku, terjerembab dalam lubang yang menyesakkan. Yang aku yakin, anak kecil manapun tak akan mengalami ini.
“Kak Shilla kenapa?” Tanya Acha, sepupuku itu. Aku duduk di bangku taman belakang rumahku, tersenyum kepadanya. Acha duduk di sampingku. Memperhatikan wajahku dengan wajah penuh kebingungan.
“Gak apa-apa, sayang.” Jawabku, mengecup pipi keponakanku yang baru berumur 3 tahun itu. Tiba-tiba saja Acha memelukku, sedikit membuatku bingung.
“Kata Bunda, kita gak boleh cemberut, nanti jelek.” Aku terkekeh pelan. Acha melepaskan pelukannya. “kayak Acha dong, senyum.” Acha langsung memamerkan deretan gigi mungilnya. Aku mengacak pelan poninya. Pantas saja banyak orang yang mengatakan, anak kecil bentuk lain dari seorang malaikat.
“Iya Kak Shilla senyum nih. Lagian, Kak Shilla emang gak apa-apa.” Kataku, seraya tersenyum seraya mencubit gemas pipinya. Acha meringis.
“Yuk main lagi sama Acha.” Ajak Acha, menarik lengan bajuku. Membuatku mau tidak mau bangkit dari dudukku.
Selanjutnya aku menikmati waktu ini bersama Acha. Berusaha melepaskan penat itu. Setidaknya, kumohon, penat itu jangan datang saat ini. Aku sedang tidak ingin memikirkan ini. Sebenarnya, aku tidak ingin pernah untuk memikirkan ini kapanpun.

*

Aku tak pernah tahu, kasih
Mengapa engkau masih menjadi peringkat nomor satu dalam otakku
Sesungguhnya, aku pun muak dengan itu

*

Jemariku berhenti men-scroll mouse macbook-ku. Walau aku ada dalam keadaan duduk, jika sudah begini, aku tak akan mampu untuk menopang tubuhku sendiri. Dengan rasa penasaran dan kebodohanku, aku terus mengintip semuanya. Membuka lembar demi lembar page yang ada dalam profile facebook-mu. Ingin tahu, segala tentangmu. Walau aku sendiri, sebenarnya sudah tahu 90% -karena setiap hari aku selalu mengintip profilemu.
“Harus yah?” kataku, tidak sadar. Ucapan yang sudah berada di pangkal lidahku. Aku langsung menutup mac-ku. Tak peduli bahwa mac itu dengan susah kubeli, karena menggunakan uang tabunganku sendiri.
Aku menyenderkan tubuhku ke kepala tempat tidur. Memeluk lututku. Rasanya ingin menangis, tapi untuk apa? Kau tak akan mengetahuinya. Lagi pula, jika kau mengetahuinya, aku yakin, kau tak akan peduli. Dan, aku, kan, buka siapa-siapa.
Jadi, aku hanya diam. Membisu. Ditemani kegelapan dalam kamarku ini. Hanya lampu tidur di meja belajar yang aku nyalakan. Terus menyendiri. Tanpa kusadari, aku malah melakukan hal yang semakin membuatku mengingat kau. Tuh, kan, semua tentang kita, yang ku simpan rapat-rapat dalam kotak kenangan kita tiba-tiba saja terbuka. Menerbangkan setiap kenangan yang ada di dalamnya. Membuatku semakin ingin untuk menikmati masa lalu.

^^

Saat itu, aku baru saja akan menemui temanku yang satu sekolah denganmu. Menunggu temanku. Dengan santai, aku mulai menyendokkan Tiramissu andalan café ini. Café yang berada di sebrang sekolah kalian, dengan temanku itu maksudnya. Aku memilih duduk di sisi kanan pintu masuk, agar jika temanku datang, dia dengan mudah akan menemuiku.
“Gak lama, kan?” tiba-tiba saja, Zahra, temanku itu, sudah duduk di kursi depanku. Aku mengangguk.
“Yaa….15 menit lah.” Jawabku, lalu menyendokkan lagi tiramissu-ku itu.
“Hehe , maaf ya. Lagian, les mulai masih setengah jam lagi, kok. Gue juga mau makan dulu.” Kata Zahra, sambil terkekeh, mengelus perutnya.
Tepat saat itu, ketika mataku sedang memperhatikan teman-teman sekolahmu yang berhamburan keluar, mataku langsung menangkap sosok dirimu. Sosok yang tinggi, dengan kulit hitam manis, dan yang pertama kali membuatku tertarik adalah senyummu. Senyum yang khas diciptakan dari hati.
“Ngeliat siapa, sih?” Tanya Zahra, membalikkan badannya, mengikuti arah mataku melihat. Aku mulai sadar, lalu menunduk.
“Hahahaha. Kenapa Shil? Lo suka?” kata Zahra, menatapku dengan air muka yang penasaran.
“Emang siapa?” kataku, berharap yang dimaksudkan Zahra bukan kau.
“Riko, kan? Yang tinggi, item manis. Iya, kan? yang lagi duduk di pos satpam?” Tepat! Aku hanya mengangguk lemah, malu, masih menunduk. Meyembunyikan rona wajahku yang memerah. Zahra terkekeh.
“Dia Riko, temen sekelas gue. Kita satu tempat les kali. Tapi dia emang di lantai 3, sih. Jadi ya emang jarang ngeliat.” Tanpa kuminta, Zahra mulai membeberkan hal-hal kecil tentangmu. Aku mulai berani menatap wajah Zahra.
“Udah punya cewek?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirku, tak ku kontrol sedikitpun. Aku langsung menutup mulutku menggunakan tangan kananku.
Zahra semakin terkekeh. Dia mengedipkan sebelah matanya, berusaha menggodaku. “Belum Shil belum… hahaha…beneran suka? Nanti di tempat les gue kenalin deh. Hahaha.”
Aku hanya memanyunkan bibirku. Emang iya, ya, aku langsung menyukaimu saat itu juga? “Udah sana lo cepet pesen makan. Nanti telat lesnya.” Kataku. Mengusir Zahra. Dari pada dia lebih lama lagi menggodaku. Zahra pun berlalu, walau derai tawa masih mengiringinya.

^^

Kesejukan hembusan angin dari AC sangat terasa begitu nikmat ketika aku dan Zahra baru saja memasuki gedung tempat les kami. Setelah sebelumnya kami berusaha menembus teriknya matahari yang begitu terasa sampai ke ubun-ubun. Aku langsung duduk di ruang tamu gedung itu. Zahra duduk di sampingku. Mengatur nafas kami yang tersenggal-senggal. Karena tadi, kami berlari dari perempatan menuju gedung ini.
“Lagian, ngapain lari-lari.” Kata Kak Winda, salah satu pengajar di tempat les ini. Kami memang sudah akrab. Kak Winda duduk di sebelah Zahra, dia baru saja mengambil minum dari pantry, -terlihat di tangannya dia mengenggam gelas penuh berisi air es.
“Aku kira telat, kak.” Jawabku, lalu melirik jam tangan di pergelangan lengan kiriku. Ternyata masih 10 menit lagi, ke waktu dimana les akan dimulai.
“Mending langsung ke ruangan, gih. Dari pada disini. Kayak apaan tau tepar gitu. Kalau di kelas kan bebas, tuh.” Kata kak Winda. Benar. Tidak enak juga di ruang tamu seperti ini. Tidak seperti biasa, banyak yang datang.
Aku dan Zahra pun naik menuju lantai 2, dimana ruang kelas kami les berada. Ternyata semua sudah datang. Ada Irva, Kiki, dan Dayat disana. Lengkap. Memang, satu kelas hanya diisi 5 murid saja. Aku duduk di tempat andalanku dengan Zahra, di bangku paling depan. Posisi duduk menentukan prestasi.
“Ke kantin dulu, yuk. Beli Aqua.” Ajak Zahra. Sebenarnya aku malas, melihatnya menatapku dengan tatapan memohon, akhirnya aku mengangguk. Menuju lantai 1 lagi, ke kantin yang berada dekat musshola.
Tiba-tiba saja langkahku sedikit enggan untuk dilanjutkan, ketika tiba-tiba aku melihat kau sedang membeli minuman bersoda di kantin. Aku hanya menunduk. Tiba-tiba Zahra menyenggol lengan kiriku. Aku memelototinya.
“Riko.” Sapa Zahra padamu. Aku memilih-milih permen yang berada di toples, di atas etalase, berusaha mengalihkan pikiran.
“Hei Ra.” Balasmu. Dari sudut mataku sembunyi-sembunyi aku mengintipmu.
“Eh lo ruang berapa, sih? Lantai 3, kan?” Tanya Zahra lagi, seolah aku tidak ada disitu.
Aku berdeham keras, “Bang, minta plastik dong buat permen.” Kataku sedikit keras. Abang penjaga kantin langsung memasukkan permen pilihanku ke plastik kecil. Zahra mendelik ke arahku.
“Eh kenalin Ko, ini temen gue, Shilla. Anak Citra Mandiri.” Zahra mengenalkanku padamu. Membuatku mau tak mau harus menatap wajahmu yang tenang itu. Kau tersenyum, lalu mengajakku berjabat.
“Riko.” Katamu, aku menjabat tanganmu. Tak berani bicara. Hanya mengangguk seraya tersenyum.
“Duluan ya, Ra, Shil.” Katamu, setelah temanmu, yang baru selesai keluar dari musholla menyenggol bahumu. Zahra melambaikan tangannya, aku hanya mengangguk.
“Cieeee………udah kenalan, kan? hahahaha.” Ujar Zahra, menggodaku. Tanpa terasa pipiku mulai menghangat. Aku menghentakkan kaki, kesal tapi senang.
“Cepetan beli aqua. Keburu pak Duta masuk kelas.” Kataku, mengerucutkan bibir. Zahra hanya terkekeh, lalu buru-buru membeli aqua. Dia lalu merangkulku, merayuku agar tidak kesal terus menerus. Aku tidak menggubrisnya, malah seharusnya aku yang berterimakasih pada Zahra karena telah mengenalkan kita.

*

Pedih. Batinku terkoyak saat mengingat peristiwa itu.
Bisakah aku mengulangnya?
Bisakah aku kembali pada waktu itu, dan memperbaiki semuanya?
Tak pernah terpikir olehku bahwa akhirnya kita akan seperti ini. Demi Tuhan, aku lebih memilih untuk tidak mengenal kau sama sekali. Aku lebih memilih peristiwa itu tidak pernah terjadi dalam hidupku. Dari pada terjadi, malah akan menyunut ulu hatiku. Mengiris perlahan batinku.
Aku memejamkan mata, berusaha meredam rasa sesak yang semakin menjalari dadaku. Tuhan, aku mohon, hapus segala tentangnya di otakku. Jangan pernah sekalipun aku mengingat itu. Aku lelah Tuhan….

^^

Semenjak kejadian di kantin tempat les kita itu, tanpa ku sangka, Zahra memberiku kabar gembira. Perasaanku kepadamu tidak bertepuk sebelah tangan. Aku ingat, kata Zahra, dengan malu-malu kau mengakui pada Zahra bahwa kau tertarik padaku. Bahwa kau ingin lebih dekat denganku. Saat itu aku hanya dapat tersenyum malu.
Aku ingat, itu tanggal 28 Oktober, pertama kali kau mengirimiku pesan singkat. Pesan yang bahkan, sampai sekarang masih ada di dalam kotak masukku. Tak berniat sedikitpun aku untuk menjual ponselku itu, apa lagi menghapus pesan darimu.

From : +628777xxxxxxx
Halo, ini shilla ya? Haha ini gue riko. Temen Zahra. Inget kan? maaf ganggu.

Memang kelihatannya sedikit norak, tapi percaya deh, pesan itu bagaikan pesan terindah sepanjang abad ini. Mungkin bagiku memang seperti itu. Saat itu sambil bertelepon ria bersama Zahra aku mulai membalas pesan singkatmu. Aku ingat, kata Zahra, aku harus menjaga ‘image’ ku. Sedikit jual mahal. Dan itu cukup membuatku geli. Karena itu adalah pertama kali aku melakukan yang namanya pendekatan.
Hari itu, aku berpesan ria denganmu sampai larut malam. Walau tak ada yang serius, senyum masih terukir saat aku mulai terlelap.

^^

Sekitar sudah 2 minggu, kita hampir setiap hari berpesan ria. Pesanmu selalu ada di urutan pertama dalam kotak masukkku di pagi hari. Hanya sekedar mengucapkan, “Pagi… have a nice day shilla(: “. Tapi, apakah kau tau? Pesan yang merupakan bagian dari kenangan itu perlahan mulai menjadi sebuah benang yang saling tersambung, menjadi panjang. Dan semakin panjang kenangan itu tersimpan, semakin panjang pula benang yang ada. Dan menghasilkan gulungan benang. Gulungan kenangan kita. Kumpulan semuanya.

*
Aku tak pernah tahu, kasih
Mengapa ingatanku masih dengan baik menyimpan semuanya
Sungguh, aku benar-benar ingin me-re-start ulang otakku ini. Memoriku ini.

^^

Aku selalu mengingat, tanpa disadari kita selalu menghindar jika berada di tempat les. Malu-malu untuk bertemu. Padahal dalam hati, gejolak untuk bertatapan itu sangat membara. Sampai akhirnya, saat kita sudah menginjakkan minggu ketiga dalam proses pendekatan, kau baru berani menyamparku ke dalam ruang lesku. Mengajakku untuk mengantarkanku pulang menggunakan motormu.
Awalnya, aku sangat heran dan tegang, untuk apa kau mendatangiku. Tapi melihat kau, -yang sepertinya,- (sok) tenang, aku pun mulai ikutan (sok) tenang. Di ambang pintu ruang lesku, saat istirahat kau mulai bicara, “Shil, pulang bareng yuk.”
Aku yang saat itu hanya mampu menunduk, memandangi ujung sepatu kedsku, tanpa sadar langsung menatapmu. Mebelalakkan mata. Aku rasa itu hal yang sangat memalukan.
Kau menggaruk tengkuk, “Kalau gak mau juga gak apa-apa.” Katamu kikuk.
Aku menggigit bibir, menyilangkan kedua jari tengah dan telunjukku. Menyembunyikan rasa gugupku. “Ehm… gak ngerepotin pulang bareng kamu?”
“Enggak kok, makanya tadi aku nawarin. Mau?”
Aku hanya mengangguk sambil mengulum senyum. Dapat kulihat binar-binar kesenangan terpancar dari bola matamu. “Ehm, yaudah nanti aku tunggu di parkiran aja, ya?” ujarmu, aku mengangguk lagi. “Aku ke kelas ya. Udah mau masuk.” Tanpa memberikan kesempatan padaku untuk berbicara, kau langsung berbalik badan, berjalan menuju tangga. Meniti tangga, naik ke lantai 3. Saat itu, aku mendengar sayup sayup suara kegembiraan, “YES PULANG BARENG!” dan aku yakini itu adalah suaramu. Aku hanya terkekeh. Aku sendiri saat itu tak bisa menyembunyikan perasaan senangku.

*
Ak tak perah tahu, kasih
Mengapa sampai sekarang aku belum bisa berpaling darimu
Aku sendiri ingin tidak terus menerus berkutat dengan apa yang berhubungan denganmu

^^

Tidak munafik, semakin lama aku dan kau menjalani hubungan seperti ini, bahkan semakin dekat, aku memiliki harapan yang cukup tinggi. Berharap…kita…akan menjalani ….ehm maksudku… terikat dalam suatu… hubungan istimewa. Bukankah itu tujuan dari pendekatan pada umumnya? Salahkah aku berharap seperti itu? Apakah itu hanya akan menjadi hayalan semuku? Jika itu hanya hayalan semu, apa tujuan kita untuk menjalin ‘pendekatan’ ini? Ini sudah minggu ke-5, lho!
Saat aku terbangun dari tidurku di minggu pagi -sebenarnya tak bisa dibilang pagi juga, aku bangun pukul 9-, seperti biasa, kau selalu menjadi peringkat pertama pengisi pesan di kotak masukku. Aku sudah tahu, bahkan sudah sangat hafal ketika getaran halus itu membangunkanku.

From : R.A (:
Pagiiiii(: pasti baru bangun. Iyakan? Apal kan aku? Hebat kaaaan? Huuu dasar mentang-mentang minggu bangunnya siang. Have a nice day ya bytheway(((((:

Aku hanya tersenyum, padahal aku sendiri belum begitu kuat untuk mengenggam penuh ponselku itu. Kau bahkan sudah hafal jadwalku bangun tidur dan waktuku tidur. Aku menggeliat, untuk meregangkan otot-otoku. Setelah pandanganku cukup jelas dan tenaga ku sudah mulai sanggup untuk mengenggam penuh ponselku, aku menarikan jempolku diatas keypad ponselku.

To : R.A (:
Iya aja deh biar cepet d; heheheh abisan kan semalem begadang gara-gara teleponan sama kamu. Gimana sih? Huuuuuuu!!!! Have a nice day juga rikoooooo :D

Aku tersenyum, mendekap ponselku ke dada. Mengingat semalam, pertama kalinya kita bertelepon, dan itu berlangsung selama 3 jam. Semalam, aku merasa seperti anak muda sesungguhnya, merasakan malam minggu yang indah. Waktu 3 jam itu tidak kita hiraukan, seakan kita terjebak dalam dimensi waktu. Bahkan kita berharap bahwa kita terjebak disana. Agar waktu tidak terus berputar.

From : R.A (:
OOOHHHH…ngerti nih, sekarang mulai tengil, nyalahin aku nihhhh? Hehe gakding canda. Lagian kamu emang tiap minggu bangun siang woooo!!! Hehehehe. Ehm, nanti siang mau aku jemput gak? Ke puncak yuk!!!!

Aku sedikit membelalakan mata. Memang, ini bukan pertama kalinya kau mengajakku jalan. Mungkin…ini ke 5 kalinya. Tetapi, biasanya, kita hanya jalan ke mall. Tapi ini? Ke puncak? Yakin? Yang pasti, menggunakan motor andalanmu itu, kan?

To : R.A (:
Puncaaaakkkkkk????? Gaksalah?????!!! Km gakakan nyulik aku kan? akumah ayok aja. Tapi nanti kamu pamit ke ortu akunya yaaa :D

From R.A (:
Emang tampang aku ada tampang kriminal yaaa? Lagian ngapain aku nyulik kamu? Kamu kali wooo yang mau aku culik d; Iyaaa tenang. Biasanya jg gitu kannn? Jam 11 aku jemput. Okeee? Mandi buruan!!!!!

^^
Sambil tergesa-gesa aku meraih sweaterku yang tersampir di ujung ranjangku. Kau sudah berada di depan rumahku, bahkan mungkin sekarang kau sedang berbincang dengan Ibuku. Aku telat, gara-gara, tadi, saat kau meminta aku untuk segera mandi, aku malah melanjutkan tidur. Jadilah seperti ini.
“Shiiiil, Riko nih nungguin.” Kata Ibu, berteriak dari bawah. Aku yang sedang menyisir rambut dengan buru-buru, menambah kecepatanku lagi. Setelah dirasa cukup rapi, aku langsung keluar kamar, menuju lantai 1.
“Maaf nunggu lama.” Kataku seraya nyengir. Aku masih berdiri di tepi sofa yang di duduki Ibu. Kau duduk di sofa di hadapannya.
“Emang mau kemana kalian? Ke mall?” tebak Ibu, aku melirik kau dengan gelisah.
Dengan santai kau menjawab. “Riko mau bawa Shilla ke puncak tante, boleh, kan? Riko bawa mobil, kok. Nanti maghrib pasti udah nyampe sini lagi.” Tuturmu tenang.
Ibu yang awalnya membelalakan mata, kembali tenang dengan penjelasanmu. Hubunganmu dan ibu memang sudah cukup dekat, karena minggu lalu, saat kau akan menjemputku untuk jalan ke mall, kau harus dibuat menunggu olehku selama 45 menit, dan selama itu kau berbincang dengan ibu. Aku ikut mengurut dada. “Iya gak apa-apa. Hati-hati ya.”
“Yaudah, kita pamit ya Tante.” Katamu, setelah berdiri dari dudukmu. Ibu ikut berdiri. Kau mencium punggung tangan Ibuku, berpamitan, aku pun sama. Sambil beriringan, kita berjalan menuju picanto hitam metallic yang kau bawa -entah milik siapa.

^^

Sambil duduk menyender di bawah pohon yang rindang, aku dan kau menikmati awan yang terus berarak. Kita sudah tiba di puncak. Sepanjang perjalanan tadi, yang kita lakukan hanya bernyanyi. Ikut menyenandungkan lirik lagu yang terputar. Tadi juga di perjalanan kita menyimpang ke sebuah rumah makan padang, kita belum mengisi perut sama sekali.
Entah mengapa, sekarang aku mulai merasakan tidak enaknya tidak mempunyai ‘status’. Seperti apa yang kita jalani. Bukannya aku menuntut, tapi, aku pun memerlukan sebuah kepastian. Aku mengerti, jika sanya kau belum siap, tapi, sampai kapan? Apa aku yang terlalu berharap, sehingga selama ini kita hanya bermain, tanpa memerlukan sebuah akhir? Hanya sebuah harapan kosong?
Aku menghela nafas, merasakan paru-paruku mulai dipenuhi berbagai pertanyan. Sesak, sakit. Perlahan aku mulai memejamkan mata, menahan bening hangat yang sudah menggantung di sudut mataku. Kumohon, jangan saat ini.
“Shil, kenapa?” tanyamu, melirik ke arahku melalui sudut matamu.
Aku menggeleng kecil, mengulas senyuman di wajahku.” Kenapa apanya? Enggak kok.”
“Bener?” tanyamu lagi. Seolah kau mengetahui segalanya. Dan yang aku harap, kau benar-benar tahu semuanya. Mengenai perasaanku. Kau mulai menatapku lebih dalam, berusaha menemukan kejujuran dari kedua bola beningku.
“Iyaaaaa…..kenapa coba emangnya?” kataku, kembali mengulas senyuman. Yang aku harap, tidak terlihat aneh.
“Yaudah dehhh……” ucapmu. Kembali memandangi awan yang terus berarak. Entah kemana tujuan yang akan ia capai. Seperti aku, entah apa yang akan aku temukan nantinya, aku tidak tahu. Semoga secepatnya aku akan menemukan kepastian itu.
Hening
Kita asik menikmati udara puncak yang sejuk. Melupakan sejenak kebisingan kota. Saat keheningan itu tercipta, tak ada yang lain yang ada di otakku selain memikirkan kita berdua. Entahlah, mungkin memang aku harus pasrah saja, dan membiarkan semuanya tanpa ada yang di paksakan. Biarkan mengalir. Yang penting, aku sudah kuat untuk menerima segala resikonya. Ya, kuharap aku kuat.
“Shil, jangan pernah berhenti ya… aku gak mau semuanya berakhir.” Ucapmu. Pandanganmu menerawang, lurus. Bahkan aku tak yakin kau mengatakan itu di dalam kesadaranmu.
“Aku juga gak mau semua berakhir….” Sahutku lirih. Nyaris berbisik. Dapat kulihat kau tersenyum. Lalu kau merangkulku. Pertama kali kau melakukan ini padaku. Hangat mejalari dadaku. Ombak mulai menyapu pantai hatiku. Aku menaruh kepalaku di bahumu.
“Shill…..maaf yaaa….” Entah untuk apa kau meminta maaf. Aku hanya mengangguk. Apa mungkin untuk itu?
Hari itu, sampai pukul 5 sore, tanpa disadari kita mulai meluapkan segala perasaan yang ada di dada. Mengakuinya. Tak ada lagi kebohongan yang tersembunyi. Semua terbuka. Terucap tanpa adanya kecanggungan. Tapi, tetap saja, tidak membuahkan suatu kepastian. Karena status kita masih belum jelas. Sampai kapan harus seperti ini?

*
Aku tak pernah tahu, kasih
Mengapa aku masih menaruh harapan padamu
Mengapa aku masih merasa semua akan kembali
Padahal, aku tahu, itu tidak mungkin

*

Aku meraih ponselku, membuka multimedia yang terdapat disana. Memutar sebuah lagu, yang makin membuatku terjebak dalam dimensi masa lalu.

Terlambatku menyusuri jalan ini
Tersesat di saat kau menjauh
Terlambatku mengartikan cintamu
Kusadari setelah kau pergi
Berat hati menerima kehilanganmu
Tegarkan aku saat kau memilih dirinya

Rasa sesal itu kembali mengguncang batinku saat mengingat kelakuan bodohku. Demi Tuhan, aku menyesal. Mengapa semua yang sudah terjalin harus pecah hanya karena ucapan itu? Apa ucapan itu sebegitu menyesakkan?
Saat itu, ada anak baru di tempat les kita. Namanya Sion. Dia satu kelas denganku, menggantikan Dayat yang sudah tidak lagi les. Hubunganku dengan Sion memang paling dekat diantara semuanya, karena kesukaan kita yang sama, menyukai salah satu band papan atas mancanegara. Aku merasa satu pemikiran dengannya. Dan entah sadar atau tidak, aku pernah berseru, “Ahhh! Gue suka sama Sion nih. Gue nyaman sama dia.”
Saat itu, aku berada di perpustakan tempat les. Bersama Zahra. Itu sudah minggu ke 8 kita menjalin hubungan tanpa status.
“Lah terus Riko gimana?” Tanya Zahra bingung, menatap heran ke arahku. Tidak lagi sibuk dengan majalah yang sedari tadi menghipnotis pikirannya.
“Tau ah pusing mikirin dia. Ada Sion deh yang baru” kataku, seraya cengengesan. Zahra hanya menggelengkan kepala mendengar ucapanku.
Tanpa aku sadari, ternyata saat itu kau sedang berdiri di ambang pintu perpustakaan. Perpustakaan yang tidak begitu luas, dan hening, membuat kau langsung menangkap ucapanku. Aku berbicara seperti itu karena aku pikir….mungkin akan percuma jika aku terus meunggumu. Walau aku sudah mengetahui isi hatimu, tetap saja, aku merasa seperti di permainkan.
Semenjak itu, tak ada lagi kau yang selalu menjadi peringkat nomor 1 di kotak masuk ponselku, tak ada kau yang selalu meneleponku setiap malam. Tak ada kau yang menyapaku setiap kita bertemu. Tak ada lagi kau…. Kau menjauh. Melupakan segalannya. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita.

Pergi cinta
Lupakanlah aku cinta
Kurelakan dia
Ada di pelukmu
Pergi cinta hapus bayanganmku cinta
Bahagiakan dia
Cinta
Sampai akhir waktu engkau bersamanya

Aku masih ingat, 2 minggu sudah kita seperti orang tidak pernah kenal. Zahra yang mengetahui semuanya, -karena Zahra yang mengatakan padaku bahwa kau mendengar semuanya saat di perpustakaan- hanya mampu menenangkan batinku. Mengerti sakit yang menderu ulu hatiku.
Saat itu, aku tidak pernah lagi, mungkin lebih tepatnya berusaha untuk tidak pernah lagi memikirkanmu. Walau rasa menyesal masih terasa telak di hatiku saat itu. Tapi apalah arti rasa menyesal, jika semua sudah terjadi? Akan percuma jika aku menjelaskan padamu. Aku bukan ingin kembali dekat padamu, aku hanya ingin kita bisa berteman. Itu saja.
3 minggu setelah kita menjauh, yang aku dengar kau baru saja meresmikan hubunganmu dengan teman sekolahmu, Ify. Kau tahu tidak? Semalaman aku menangis. Secepat itukah? Memang sangat tidak sebanding dengan seberapa lama kita menjalani pendekatan.
Lama kelamaan aku mulai terbiasa. Bukankah aku sudah pernah memikirkan segala resiko yang mungkin akan terjadi? Tapi sayang, aku tidak pernah memikirkan resiko jika ini semua yang akan terjadi. Tak penah terpikir bahwa semua akan berakhir seperti ini. Bukan akhir yang indah, yang diam-diam selalu aku bayangkan jika aku hendak memejamkan mata untuk terlelap. Bukan akhir seperti itu. Tragis.
Mungkin ini memang yang terbaik.

*

Aku teersadar, lagu tadi sudah terputar 20 kali melalui ponselku. Aku mengeratkan pelukanku ke lutut. Membenamkan wajah. Tak ada lagi butiran bening yang mengalir di pipiku. Mungkin sudah habis, karena lebih dari 1 jam yang aku lakukan hanya menangis.
Entah sampai kapan aku harus seperti ini. Yang membuat rasa enek mulai menjadi, kau baru saja meresmikan hubunganmu dengan kekasih barumu. Tepat hari ini. Tanggal ini. Apakah kau tau? Ini tanggal 28 Oktober, tepat 3 tahun, saat kita mulai membuat sebuah benang kenangan. Sampai akhirnya terhenti dengan kisah tragis itu. Apa harus ditanggal ini?
Mungkin bukan rasa sayang atau cinta yang masih ada. Hanya sebuah rasa obsesi. Mengerti, kan? Obsesi untuk sekedar memilikimu. Aku tahu aku egois. Aku tahu. Tapi jika kau berada di posisiku, apa yang akan kau rasakan? Kau akan tenggelam dalam rasa obsesi itu, tidak?

*

Kasih, aku ingin terlepas dari semua tentangmu
Melupakan hal terkecil tentangmu
Aku lelah terus menerus seperti ini
Aku ingin seperti kamu, melupakan segalanya dengan mudah
Maaf, aku disini masih masih berharap
Semua akan kembali
Masih berharap
Kita akan kembali seperti masa lalu
Kembali melanjutkan menggulung benang kenangan itu
Maaf, doakan aku untuk bisa secepat mungkin terlepas dari segala tentangmu.

*

Kriiiiik……….. siapa suruh baca? Kan udah di ingetin gak boleh baca d; maaf yang ngebingungin flashbacknya. Seinget aku kalau tanda ^^ mulai masuk flashback, kalau * kembali ke saat ini. Ini cerita teraneh yang pernah aku bikin. Gakjelas. Wong ini aku bikin waktu lagi pekan ulangan. Jadi ngalor ngidul. Maap aje ye kalau ngebuang waktu. Sekali lagi, kan udah di ingetin di awal. Komentarnya donggg-_____-“

Peaceloveandgaul
@dhitals

No comments:

Post a Comment