Followers

Thursday, December 23, 2010

Hari Ini, Bukan Esok

Finished : December, 23rd 2010. 1:12 p.m
Sequel from : Aku Tak Pernah Tahu you could click this to go to link that story.

Sambil terus mengaduk hot chocolate caramel ku yang masih tersisa satu per tiga bagian, aku masih menunggu. Menopangkan daguku di atas tangan kiriku yang ditumpuk di atas meja cafe ini. Baru 30 menit, tapi terasa begitu lama. Apa karena aku terlalu menunggunya? Atau...aku terlalu bergemetar untuk menghadapinya?
Tepat saat itu, lonceng pertanda pintu cafe dibuka berbunyi. Aku mendongak, memperhatikan siapa yang datang. Akhirnya dia yang ku tunggu datang.
Aku melambaikan tangan ke arahnya, ketika ia memutar bola matanya ke seliling cafe. Tak lama, ia berjalan mendekat dan duduk di kursi di seberangku.
”Mau apa?” katanya dingin, nada suaranya seperti para pebisnis yang tidak mempunyai banyak waktu.
Aku tersenyum mencemooh. ”Santai. Aku bukan penjahat. Aku tidak akan menyakitimu.” kataku lalu terkekeh. Dia berdecak.
”Aku tidak punya banyak waktu, Shilla.” katanya masih dingin.
Aku terkejut dengan reaksinya. Sebegitu dingin kah dia kepadaku? Atau.... aku menegakkan dudukku. Mencoba untuk serius. ”Oke, kalian sudah berapa lama?” Kulihat dia tampak mengerutkan kening. ”Hei, kamu pikir untuk apa kita bertemu selain untuk membicaran orang itu?” lanjutku.
”Oh, 18 bulan.” jawabnya.
Aku berdeham pelan. ”Aku mau ngomong ini, dari hati ke hati. Dari pandangan sesama wanita.” kataku mencoba sepelan mungkin. Harus begitu, jika semua ingin berjalan seperti rencanaku. ”Kamu cewek, kan? Kayak aku? Kita sama-sama wanita, kan?” tanyaku parau.
”Iya.” jawabnya lemah.
Aku kembali menyenderkan punggungku di kursi, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Mencoba menguatkan lidah ini, meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja, jika aku mengucapkan ini semua. ”Kalau kamu juga perempuan kayak aku, aku harap kamu ngerti perasaan aku. Gimana seandainya kamu ada di posisiaku. Gimana capeknya aku dengan semua ini.”
Dia memandangku dengan tidak percaya. Aku kembali tersenyum. ”Aku Shilla. Aku hanya sebagian kisah masa lalu Riko, Nad. Bukan mantan atau temannya. Cukup aku dan Riko yang tahu. Jangan tanya, kenapa aku tahu semua tentang kamu dan Riko, padahal aku sudah tidak pernah berhubungan dengan Riko selama 5 tahun.” lanjutku. Kembali membiarkan Nadya terus mendengarkan kata-kata yang perlahan terlontar dengan sendirinya dari bibirku.
”Kedatangan aku, permintaan aku untuk ketemu sama kamu. Bukan untuk ngerebut Riko. Percaya, aku gak sejahat itu.” aku tersenyum perih di ujung kalimatku. Berdoa, agar hatiku lebih kuat lagi.
”Lalu untuk apa?” tanya Nadya akhirnya. Dapat kulihat bola matanya menyiratkan berjuta pertanyaan yang akan kubeberkan tanpa dia minta.
”Aku cuma wanita biasa. Wanita yang takdirnya hanya bisa untuk menjadi penunggu. Yang gak bisa bertindak ke lawan jenis sesuka hati kita. Aku cukup bahagia kalau dia bahagia, walau bukan sama atau karena aku.”
Aku mulai merasakan dadaku terhimpit. Membuatku sulit untuk mengambil nafas. ”Aku sadar, mungkin dia gak akan sebahagia saat sama kamu, kalau dia sama aku.”
Aku mengangkat cangkir berisi hot chocolate caramelku yang sudah dingin. Menyesap aromanya yang perlahan dapat mengurangi sesak di dadaku. “Aku tahu aku salah, selama 5 tahun aku masih menunggunya. Tanpa pernah bisa untuk melupakannya. Bahkan aku sudah lupa kapan terakhir kali dia tidak hadir dalam setiap mimpiku, kapan dia tidak aku ucapkan dalam untaian doaku.” tepat saat itu, dentingan cangkir beradu dengan tatakannya berbunyi. Nadya memandangku tidak percaya.
“Memang terdengar terlalu aneh, konyol. Tapi percaya, deh, ini memang kenyataan. Dan ini semua aku yang mengalami. Dengan segala rasa lelah yang menimpa aku.” lanjutku, seolah membiarkan Nadya terjebak dalam kebingungannya.
”Aku selalu berharap, aku bisa mengendalikan perasaan ini. Mulai menghapus nama dan segala tentangnya dari ingatanku, dari hati aku.” aku menatap dalam mata Nadya, memaksa Nadya mengerti apa yang aku bicarakan. ”Tapi ternyata gak bisa.”
Aku diam sejenak. Kulihat tangan kiri Nadya terkepal. Apa mungkin dia kesal denganku?
”Kita berdua punya rasa yang sama buat Riko. Menyayanginya. Mencintainya. Entah siapa yang perasaannya lebih besar. Toh, tetap kamu yang Tuhan pilih untuk mendampingi Riko. Dan Riko pun milih kamu, aku terima.” tuturku lagi.
”Mau aku sekangen, sesayang, secinta apapun sama Riko, kamu bakalan tetap nomor satu di hati Riko.” aku kembali tersenyum. Mencoba menguatkan hatiku kembali. Menahan air mata itu agar tidak menyeruak dari sudut mataku.
”Kenapa kamu harus ngomog ini sama aku? Kenapa kamu menceritakan semuanya ke aku?” tanya Nadya, yang aku yakini dengan susah payah ia mengeluarkan suaranya yang tetap saja terdengar serak. Entah mengapa.
”Aku sudah terlalu lemah untuk membagi kisah ini ke siapapun. Bahkan mungkin sahabat-sahabat aku pun udah malas mendengar cerita aku. Dari pada aku cerita ke sahabat aku dengan berjuta air mata, lebih baik langsung aku sampaikan ke kamu. Bukannya lebih bagus?” aku kembali tersenyum, mencoba selembut mungkin.
”Cukup perasaan ini aku simpan dalam hati aku. Aku titip dia, dia cukup baik untuk seorang lelaki di jaman seperti ini. Dia yang masih dan mungkin akan selalu menjadi pengisi hati aku. Disini, aku mendoakan untuk kalian. Agar kalian bahagia. Anggap aku gak pernah ada.”
”Apa kamu benar-benar ikhlas? Kamu sendiri, lho, yang bilang, kita sama-sama wanita. Kalau aku ada di posisi kamu mungkin aku gak akan sesabar kamu. Memang terkesan egois.” kata Nadya pelan seraya membuang pandangannya ke luar cafe melalui jkaca yang ada di sisi kanan kami. Memperhatikan perubahan warna langit menjadi oranye.
”Aku gak mau egois, karena cinta bukan untuk keegoisan. Dan aku percaya, semua harus didasari dengan keikhlasan.” aku tersenyum. Ikut memandang keluar jendela. Merasakan kedamaian yang terpancar dari semburat langit jingga.
”Mau sedalam apapun perasaan aku jika tidak ada keikhlasan di dalamnya, semua akan terasa sia-sia.” lanjutku, kembali menoleh ke arahnya. Tepat saat itu, ia juga menoleh ke arahku. Aku kembali tersenyum. Meminta perhatian kepadanya.
Aku merogoh tasku, mengambil selembar amplop berwarna biru laut. Menyodorkannya ke arah Nadya. Dengan dahi berkerut, Nadya menerima amplop itu. ”Buat Riko. Dari aku. Bukan apa-apa. Bahkan kamu berhak untuk membaca itu.” kataku tenang. Kerutan di dahi Nadya belum menghilang. Aku merasa bersalah. ”Maaf.”
Nadya akhirnya tersenyum maklum seraya menggelengkan kepala. ”Nope. Aku salut sama kamu. Masih ada cewek sesabar kamu di dunia ini. Surat ini akan berada di tangan Riko dengan mulus.”
”Bukan cuma aku, banyak cewek diluar sana yang senasib denganku. Hanya saja, mereka mungkin belum bisa mencoba untuk lebih ikhlas dan berani. Bytheway, thanks a bunch.”
Nadya mengangguk, memasukan surat itu ke dalam tasnya. “Oke, sudah selesai, kan? aku pamit. Terimakasih untuk hari ini. Hari yang gak pernah aku lupain. Goodbye, heroine.” kata Nadya, lalu berdiri. Dan setelah aku mengangguk seraya tersenyum, Nadya berbalik. Meninggalkan cafe ini. Meninggalkan aku yang masih duduk sendiri disini. Menahan setiap getir yang terasa di ulu hati.
Aku tesenyum. Kali ini, tak ada lagi pertahanan, semua air mata itu tumpah di sela senyum kepedihanku. Aku harap, semua yang aku katakan pada Nadya, dapat kulaksanakan dengan baik.

~

Dear Riko.
Lelaki yang masih dan akan selalu menempati ruang khusus di hati aku. Lelaki yang namanya selalu terselip dalam untaian doa yang aku panjatkan. Lelaki yang wajahnya selalu hadir dalam mimpi malamku. Lelaki yang mampu membuat bulu kudukku meremang dan darahku berdesir hebat, juga jantungku yang berpacu tannpa aturan. Lelaki yang menjadi bagian dari kenangan hidupku. Lelaki yang senyumnya selalu aku rindukan. Lelaki yang cintanya masih aku nantikan.
Memang konyol. Aku memang bodoh. Tapi apakah kau tahu? Aku sediri muak dengan semuanya. Aku hanya dapat membiarkan ini semua mengalir apa adanya. Entah kepada siapa aku mengadu, toh semua tak akan berubah. Tuhan sudah memilih jalan takdir untukku seperti ini. Kali ini, aku tinggal ikhlas menjalaninya, dan percaya, bahwa semua memang yang terbaik.
Jangan anggap aku gak ada. Eh...bukankah begitu? Terserah. Aku disini selalu berdoa untuk kamu. Agar siapapun yang sekarang sedang mendampingi kamu, dapat membahagiakan kamu. Agar kamu selalu bahagia disana. Bukan seperti aku. Aku sadar, sebanyak apapun air mata yang keluar, itu takkan merubah semuanya. Jadi, aku lebih mencoba untuk ikhlas. Menoca untuk menerima semuanya.
Sekali lagi, maaf. Aku seperti wanita yang tidak punya harga diri. Bukan itu maksudku, aku hanya ingin mengungkapkan segalanya. Berharap, jalan yang kupilih ini memang yang terbaik. Karena aku sadar, sebanyak apapun air mata yang tumpah, toh ini semua sudah terjadi. Menjadi kepingan kisah masa laluku. Dan kini, aku harus menjunjung masa depanku.
Pernah baca buku Love, Stargirl karangan Jerry Spinelli tidak? Ada kata-kata dari percakapan Betty Lou bersama Stargirl yang sangat aku sukai, ”Ya, nikmati hari ini. Cukup hari ini. Bukan hari kemarin atau hari esok. Jalani setiap momennya. Jangan sia-siakan untuk besok. Tahukah kau apa yang terjadi kalau kau menghabiskan satu momen dengan bertanya-tanya apa yang akan terjadi kelak antara kau dan dia? Kau akan kehilangan hari ini. Hari ini memanggil-manggilmu, mencoba mendapatkan perhatianmu, tapi kau terpaku pada hari esok dan hari ini pun berlalu tetes demi tetes seperti air dalam talang. Besok paginya kau bangun dan hari ini yang kau buang percuma sudah berlalu selamanya. Sudah menjadi hari kemarin. Beberapa momen yang mungkin menyimpan hal-hal menakjubkan untukmu, namun sekarang kau takkan pernah tahu itu.”
Jadi, setelah membaca kalimat itu. Aku memutuskan untuk menjalani segalanya dengan senyuman. Mencoba menikmati setiap hari yang sedang aku jalani. Seberapa berat cobaan yang ada. Aku harus ikhlas.
Setelah ku baca ulang, mengapa menjadi begitu konyol dan mungkin akan membuang-buang waktumu. Tapi, entahlah. Terimakasih telah menyempatkan untuk membaca suartku ini. Sebenarnya aku mengharapkan balasannya. Tapi aku tidak memaksa. Kau mau membacanya pun aku sudah sangat senang dan beribu-ribu terimakasih akan kupanjatkan.

Ashilla.
Wanita bodoh yang masih menyayangimu.

~

Dear Shilla,
Terimakasih engkau masih menyayangiku dengan sepenuh hatimu. Terimakasih masih terus menunggu aku. Terimakasih masih terus menanti aku. Terimakasih masih selalu mendoakan aku.
Aku bangga pernah mengenalmu. Rasa kecewa kepadamu seakan terhapus dengan segala ketulusan yang kau berikan. Aku telah membaca suratmu. Aku sangat tersentuh. Aku tidak menyangka, masih ada wanita sepertimu.
Aku hanya ingin mengatakan, aku tidak sebaik itu. Aku bukan lelaki yang pantas untuk terus kau sayangi. Aku bahkan telah terlalu sering manyakiti hatimu, walau diluar kesadaranku karena aku tak pernah tahu perasaanmu kepadaku sampai saat ini.
Diluar sana, masih banyak lelaki yang lebih baik. Lelaki yang lebih pantas untuk menempati ruang spesial di hatimu. Bukan aku. Kau tahu, kan? Aku dan Nadya sudah bertunangan. Dan dia, akan menjadi pendamping hidupku. Dia yang sepenuhnya menempati ruang hatiku. Tak ada sedikit pun celah yang bisa untuk kau singgahi.
Dan sepertinya, itu sangat tidak setimpal dengan apa yang kau rasakan kepadaku. Buka matamu lebar-lebar. Kau cantik. Baik. Menarik. Tulus. Pintar. Kau wanita karier yang sukses. Apa lagi yang kurang darimu? Mungkin seluruh lelaki -yang belum berpasangan, kecuali dia kurang ajar- akan tertarik padamu. Tolong, lupakan aku.
Bukan aku tak menghargai apa yang kau rasakan kepadaku. Aku sangat berterimakasih. Jalan hidupmu masih panjang. Kau tak mungkin terus termangu menungguku, kan? Hidupmu indah, Shil. Aku tahu itu. Tuhan punya berbagai rencana indah untuk wanita yang mempunyai hati selembut kamu.
Aku tidak memaksa untuk secepatnya. Aku tidak masalah sampai kapan kau akan terus menyayangiku seperti saat ini. Tapi aku harap, akan segera berakhir. Seperti yang aku bilang tadi. Hidup masih panjang.
Kenangan kita. Semua yang kita rajut bersama, cukup kita simpan dalam hati. Dikotak rahasia di sudut hati terdalam. Tanpa boleh dibuka sedikitpun. Mungkin cerita kita bisa kita jadikan dongeng untuk cucu-cucu kita kelak. Kita hanya masa lalu. Dan tak mungkin kembali terjadi. Aku harap kamu mengerti. Aku harap kata-kataku tidak ada yang menyinggung perasaanmu.

Riko
Lelaki di masa lalumu.

~

Aku sesungguhnya tahu apa yang Riko katakan dalam surat itu seratus persen benar. Tapi ternyata tidak semudah itu. Bahkan kata-kata yang aku katakan pada Nadya beberapa bulan lalu harus memerlukan tenaga ekstra untuk benar-benar ikhlas menjalaninya.
Sambil memegang gelas berisi jus jeruk dingin, aku terus menatap kedua mempelai di atas sana. Terus bersalaman dengan para tamu yang datang. Pesta pernikahan Riko dan Nadya berlangsung meriah. Aku menyenderkan punggungku di tembok sudut ruangan gedung. Berusaha menarik nafas dengan segala kendala yang ada. Sambil memejamkan mata, aku berdoa pada Tuhan, agar aku kuat. Agar tak ada air mata kesedihan yang tumpah disaat hari bahagianya. Hari yang menjadi sejarah kisah cintanya. Yang harus aku lakukan hanya satu, ikhlas dan lebih tulus.
”Kepada Mba Ashilla zahrantiara, dimohon untuk melakukan sesi foto bersama kedua mempelai.” suara MC itu bergaung, menyadarkan lamunanku. Seraya mengelap sudut mata, aku berjalan menuju kedua pengantin itu. Setelah sebelumnya menaruh asal gelas yang tadi kupegang. Berusaha dalam hati agar senyum ini benar-benar tulus. Nadya dan Riko menyambutku dengan senyum sumringah. Kami berfoto dengan aku di tengah mereka. Cukup menyenangkan. Seperti yang aku bilang, aku cukup bahagia jika dia bahagia, walau bukan dengan aku. Karena dia belum tentu sebahagia dengannya, jika bersama aku.

*

Galau oh galau. Hidup galau---_____-” kalau ada yang follow twitter aku, pasti taudeh. Kata-katanya yang selasa sore aku tweets. Sebenarnya itu bukan buat cerpen. Cuma selingan. Tapi ya ternyata ide galaunya muncul. Haha. Lagian gak pernah ada niat buat ngelanjutin cerpen Aku Tak Pernah Tahu. Karena kelanjutan kisah ’shilla’ pun belum jelas hihi. Makasih yah udah mau baca. Komentar dan kritik dan saran dan segalanya selalu aku tunggu.

Peaceloveandgaul
@dhitals


Monday, November 15, 2010

Aku Tak Pernah Tahu

Finished : Sunday, November 14th 2010. 10:44 a.m

Warning : read this story just would waste your time. So, close this page and read another story. Thankyou!

*

Aku tak pernah tahu, kasih
Mengapa rasa ini masih begitu terasa telak di ulu hatiku
Sesungguhnya, aku pun tak mau

*

Sambil menggigit bibir, aku memutuskan untuk tetap duduk di café ini. Tak peduli apa pandangan orang tentang apa yang sedang aku lakukan saat ini. Aku menyesap pelan hot chocolate yang sudah dingin. Karena sudah 2 jam aku biarkan begitu saja, baru sekarang ini aku menyentuhnya.
Tepat. Coklat bisa membuat perasaanku lebih baik. Lebih tenang. Walau perasaan ini belum menghilang. Karena aku belum berteriak atau sekedar menangis.
Aku merogoh tasku, mengambil dompet dan menaruh uang selembar berwarna hijau dan selembar berwarna ungu. Cukup untuk membayar hot chocolate itu. Sambil menutup wajah menggunakan majalah Girlfriend, aku keluar dari café itu. Ternyata aku tak sanggup lebih lama lagi berada disitu. Melihatmu bersama seorang gadis.

*

Sambil memainkan busa bersama sepupuku, aku berusaha menghilangkan perasaan ini. Aku ingin seperti anak kecil, tanpa beban dalam hidupnya. Tidak mengerti sesuatu yang berarti. Yang ia tahu, ia sangat menyayangi kedua orang tuanya. Bukan seperti aku, terjerembab dalam lubang yang menyesakkan. Yang aku yakin, anak kecil manapun tak akan mengalami ini.
“Kak Shilla kenapa?” Tanya Acha, sepupuku itu. Aku duduk di bangku taman belakang rumahku, tersenyum kepadanya. Acha duduk di sampingku. Memperhatikan wajahku dengan wajah penuh kebingungan.
“Gak apa-apa, sayang.” Jawabku, mengecup pipi keponakanku yang baru berumur 3 tahun itu. Tiba-tiba saja Acha memelukku, sedikit membuatku bingung.
“Kata Bunda, kita gak boleh cemberut, nanti jelek.” Aku terkekeh pelan. Acha melepaskan pelukannya. “kayak Acha dong, senyum.” Acha langsung memamerkan deretan gigi mungilnya. Aku mengacak pelan poninya. Pantas saja banyak orang yang mengatakan, anak kecil bentuk lain dari seorang malaikat.
“Iya Kak Shilla senyum nih. Lagian, Kak Shilla emang gak apa-apa.” Kataku, seraya tersenyum seraya mencubit gemas pipinya. Acha meringis.
“Yuk main lagi sama Acha.” Ajak Acha, menarik lengan bajuku. Membuatku mau tidak mau bangkit dari dudukku.
Selanjutnya aku menikmati waktu ini bersama Acha. Berusaha melepaskan penat itu. Setidaknya, kumohon, penat itu jangan datang saat ini. Aku sedang tidak ingin memikirkan ini. Sebenarnya, aku tidak ingin pernah untuk memikirkan ini kapanpun.

*

Aku tak pernah tahu, kasih
Mengapa engkau masih menjadi peringkat nomor satu dalam otakku
Sesungguhnya, aku pun muak dengan itu

*

Jemariku berhenti men-scroll mouse macbook-ku. Walau aku ada dalam keadaan duduk, jika sudah begini, aku tak akan mampu untuk menopang tubuhku sendiri. Dengan rasa penasaran dan kebodohanku, aku terus mengintip semuanya. Membuka lembar demi lembar page yang ada dalam profile facebook-mu. Ingin tahu, segala tentangmu. Walau aku sendiri, sebenarnya sudah tahu 90% -karena setiap hari aku selalu mengintip profilemu.
“Harus yah?” kataku, tidak sadar. Ucapan yang sudah berada di pangkal lidahku. Aku langsung menutup mac-ku. Tak peduli bahwa mac itu dengan susah kubeli, karena menggunakan uang tabunganku sendiri.
Aku menyenderkan tubuhku ke kepala tempat tidur. Memeluk lututku. Rasanya ingin menangis, tapi untuk apa? Kau tak akan mengetahuinya. Lagi pula, jika kau mengetahuinya, aku yakin, kau tak akan peduli. Dan, aku, kan, buka siapa-siapa.
Jadi, aku hanya diam. Membisu. Ditemani kegelapan dalam kamarku ini. Hanya lampu tidur di meja belajar yang aku nyalakan. Terus menyendiri. Tanpa kusadari, aku malah melakukan hal yang semakin membuatku mengingat kau. Tuh, kan, semua tentang kita, yang ku simpan rapat-rapat dalam kotak kenangan kita tiba-tiba saja terbuka. Menerbangkan setiap kenangan yang ada di dalamnya. Membuatku semakin ingin untuk menikmati masa lalu.

^^

Saat itu, aku baru saja akan menemui temanku yang satu sekolah denganmu. Menunggu temanku. Dengan santai, aku mulai menyendokkan Tiramissu andalan café ini. Café yang berada di sebrang sekolah kalian, dengan temanku itu maksudnya. Aku memilih duduk di sisi kanan pintu masuk, agar jika temanku datang, dia dengan mudah akan menemuiku.
“Gak lama, kan?” tiba-tiba saja, Zahra, temanku itu, sudah duduk di kursi depanku. Aku mengangguk.
“Yaa….15 menit lah.” Jawabku, lalu menyendokkan lagi tiramissu-ku itu.
“Hehe , maaf ya. Lagian, les mulai masih setengah jam lagi, kok. Gue juga mau makan dulu.” Kata Zahra, sambil terkekeh, mengelus perutnya.
Tepat saat itu, ketika mataku sedang memperhatikan teman-teman sekolahmu yang berhamburan keluar, mataku langsung menangkap sosok dirimu. Sosok yang tinggi, dengan kulit hitam manis, dan yang pertama kali membuatku tertarik adalah senyummu. Senyum yang khas diciptakan dari hati.
“Ngeliat siapa, sih?” Tanya Zahra, membalikkan badannya, mengikuti arah mataku melihat. Aku mulai sadar, lalu menunduk.
“Hahahaha. Kenapa Shil? Lo suka?” kata Zahra, menatapku dengan air muka yang penasaran.
“Emang siapa?” kataku, berharap yang dimaksudkan Zahra bukan kau.
“Riko, kan? Yang tinggi, item manis. Iya, kan? yang lagi duduk di pos satpam?” Tepat! Aku hanya mengangguk lemah, malu, masih menunduk. Meyembunyikan rona wajahku yang memerah. Zahra terkekeh.
“Dia Riko, temen sekelas gue. Kita satu tempat les kali. Tapi dia emang di lantai 3, sih. Jadi ya emang jarang ngeliat.” Tanpa kuminta, Zahra mulai membeberkan hal-hal kecil tentangmu. Aku mulai berani menatap wajah Zahra.
“Udah punya cewek?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirku, tak ku kontrol sedikitpun. Aku langsung menutup mulutku menggunakan tangan kananku.
Zahra semakin terkekeh. Dia mengedipkan sebelah matanya, berusaha menggodaku. “Belum Shil belum… hahaha…beneran suka? Nanti di tempat les gue kenalin deh. Hahaha.”
Aku hanya memanyunkan bibirku. Emang iya, ya, aku langsung menyukaimu saat itu juga? “Udah sana lo cepet pesen makan. Nanti telat lesnya.” Kataku. Mengusir Zahra. Dari pada dia lebih lama lagi menggodaku. Zahra pun berlalu, walau derai tawa masih mengiringinya.

^^

Kesejukan hembusan angin dari AC sangat terasa begitu nikmat ketika aku dan Zahra baru saja memasuki gedung tempat les kami. Setelah sebelumnya kami berusaha menembus teriknya matahari yang begitu terasa sampai ke ubun-ubun. Aku langsung duduk di ruang tamu gedung itu. Zahra duduk di sampingku. Mengatur nafas kami yang tersenggal-senggal. Karena tadi, kami berlari dari perempatan menuju gedung ini.
“Lagian, ngapain lari-lari.” Kata Kak Winda, salah satu pengajar di tempat les ini. Kami memang sudah akrab. Kak Winda duduk di sebelah Zahra, dia baru saja mengambil minum dari pantry, -terlihat di tangannya dia mengenggam gelas penuh berisi air es.
“Aku kira telat, kak.” Jawabku, lalu melirik jam tangan di pergelangan lengan kiriku. Ternyata masih 10 menit lagi, ke waktu dimana les akan dimulai.
“Mending langsung ke ruangan, gih. Dari pada disini. Kayak apaan tau tepar gitu. Kalau di kelas kan bebas, tuh.” Kata kak Winda. Benar. Tidak enak juga di ruang tamu seperti ini. Tidak seperti biasa, banyak yang datang.
Aku dan Zahra pun naik menuju lantai 2, dimana ruang kelas kami les berada. Ternyata semua sudah datang. Ada Irva, Kiki, dan Dayat disana. Lengkap. Memang, satu kelas hanya diisi 5 murid saja. Aku duduk di tempat andalanku dengan Zahra, di bangku paling depan. Posisi duduk menentukan prestasi.
“Ke kantin dulu, yuk. Beli Aqua.” Ajak Zahra. Sebenarnya aku malas, melihatnya menatapku dengan tatapan memohon, akhirnya aku mengangguk. Menuju lantai 1 lagi, ke kantin yang berada dekat musshola.
Tiba-tiba saja langkahku sedikit enggan untuk dilanjutkan, ketika tiba-tiba aku melihat kau sedang membeli minuman bersoda di kantin. Aku hanya menunduk. Tiba-tiba Zahra menyenggol lengan kiriku. Aku memelototinya.
“Riko.” Sapa Zahra padamu. Aku memilih-milih permen yang berada di toples, di atas etalase, berusaha mengalihkan pikiran.
“Hei Ra.” Balasmu. Dari sudut mataku sembunyi-sembunyi aku mengintipmu.
“Eh lo ruang berapa, sih? Lantai 3, kan?” Tanya Zahra lagi, seolah aku tidak ada disitu.
Aku berdeham keras, “Bang, minta plastik dong buat permen.” Kataku sedikit keras. Abang penjaga kantin langsung memasukkan permen pilihanku ke plastik kecil. Zahra mendelik ke arahku.
“Eh kenalin Ko, ini temen gue, Shilla. Anak Citra Mandiri.” Zahra mengenalkanku padamu. Membuatku mau tak mau harus menatap wajahmu yang tenang itu. Kau tersenyum, lalu mengajakku berjabat.
“Riko.” Katamu, aku menjabat tanganmu. Tak berani bicara. Hanya mengangguk seraya tersenyum.
“Duluan ya, Ra, Shil.” Katamu, setelah temanmu, yang baru selesai keluar dari musholla menyenggol bahumu. Zahra melambaikan tangannya, aku hanya mengangguk.
“Cieeee………udah kenalan, kan? hahahaha.” Ujar Zahra, menggodaku. Tanpa terasa pipiku mulai menghangat. Aku menghentakkan kaki, kesal tapi senang.
“Cepetan beli aqua. Keburu pak Duta masuk kelas.” Kataku, mengerucutkan bibir. Zahra hanya terkekeh, lalu buru-buru membeli aqua. Dia lalu merangkulku, merayuku agar tidak kesal terus menerus. Aku tidak menggubrisnya, malah seharusnya aku yang berterimakasih pada Zahra karena telah mengenalkan kita.

*

Pedih. Batinku terkoyak saat mengingat peristiwa itu.
Bisakah aku mengulangnya?
Bisakah aku kembali pada waktu itu, dan memperbaiki semuanya?
Tak pernah terpikir olehku bahwa akhirnya kita akan seperti ini. Demi Tuhan, aku lebih memilih untuk tidak mengenal kau sama sekali. Aku lebih memilih peristiwa itu tidak pernah terjadi dalam hidupku. Dari pada terjadi, malah akan menyunut ulu hatiku. Mengiris perlahan batinku.
Aku memejamkan mata, berusaha meredam rasa sesak yang semakin menjalari dadaku. Tuhan, aku mohon, hapus segala tentangnya di otakku. Jangan pernah sekalipun aku mengingat itu. Aku lelah Tuhan….

^^

Semenjak kejadian di kantin tempat les kita itu, tanpa ku sangka, Zahra memberiku kabar gembira. Perasaanku kepadamu tidak bertepuk sebelah tangan. Aku ingat, kata Zahra, dengan malu-malu kau mengakui pada Zahra bahwa kau tertarik padaku. Bahwa kau ingin lebih dekat denganku. Saat itu aku hanya dapat tersenyum malu.
Aku ingat, itu tanggal 28 Oktober, pertama kali kau mengirimiku pesan singkat. Pesan yang bahkan, sampai sekarang masih ada di dalam kotak masukku. Tak berniat sedikitpun aku untuk menjual ponselku itu, apa lagi menghapus pesan darimu.

From : +628777xxxxxxx
Halo, ini shilla ya? Haha ini gue riko. Temen Zahra. Inget kan? maaf ganggu.

Memang kelihatannya sedikit norak, tapi percaya deh, pesan itu bagaikan pesan terindah sepanjang abad ini. Mungkin bagiku memang seperti itu. Saat itu sambil bertelepon ria bersama Zahra aku mulai membalas pesan singkatmu. Aku ingat, kata Zahra, aku harus menjaga ‘image’ ku. Sedikit jual mahal. Dan itu cukup membuatku geli. Karena itu adalah pertama kali aku melakukan yang namanya pendekatan.
Hari itu, aku berpesan ria denganmu sampai larut malam. Walau tak ada yang serius, senyum masih terukir saat aku mulai terlelap.

^^

Sekitar sudah 2 minggu, kita hampir setiap hari berpesan ria. Pesanmu selalu ada di urutan pertama dalam kotak masukkku di pagi hari. Hanya sekedar mengucapkan, “Pagi… have a nice day shilla(: “. Tapi, apakah kau tau? Pesan yang merupakan bagian dari kenangan itu perlahan mulai menjadi sebuah benang yang saling tersambung, menjadi panjang. Dan semakin panjang kenangan itu tersimpan, semakin panjang pula benang yang ada. Dan menghasilkan gulungan benang. Gulungan kenangan kita. Kumpulan semuanya.

*
Aku tak pernah tahu, kasih
Mengapa ingatanku masih dengan baik menyimpan semuanya
Sungguh, aku benar-benar ingin me-re-start ulang otakku ini. Memoriku ini.

^^

Aku selalu mengingat, tanpa disadari kita selalu menghindar jika berada di tempat les. Malu-malu untuk bertemu. Padahal dalam hati, gejolak untuk bertatapan itu sangat membara. Sampai akhirnya, saat kita sudah menginjakkan minggu ketiga dalam proses pendekatan, kau baru berani menyamparku ke dalam ruang lesku. Mengajakku untuk mengantarkanku pulang menggunakan motormu.
Awalnya, aku sangat heran dan tegang, untuk apa kau mendatangiku. Tapi melihat kau, -yang sepertinya,- (sok) tenang, aku pun mulai ikutan (sok) tenang. Di ambang pintu ruang lesku, saat istirahat kau mulai bicara, “Shil, pulang bareng yuk.”
Aku yang saat itu hanya mampu menunduk, memandangi ujung sepatu kedsku, tanpa sadar langsung menatapmu. Mebelalakkan mata. Aku rasa itu hal yang sangat memalukan.
Kau menggaruk tengkuk, “Kalau gak mau juga gak apa-apa.” Katamu kikuk.
Aku menggigit bibir, menyilangkan kedua jari tengah dan telunjukku. Menyembunyikan rasa gugupku. “Ehm… gak ngerepotin pulang bareng kamu?”
“Enggak kok, makanya tadi aku nawarin. Mau?”
Aku hanya mengangguk sambil mengulum senyum. Dapat kulihat binar-binar kesenangan terpancar dari bola matamu. “Ehm, yaudah nanti aku tunggu di parkiran aja, ya?” ujarmu, aku mengangguk lagi. “Aku ke kelas ya. Udah mau masuk.” Tanpa memberikan kesempatan padaku untuk berbicara, kau langsung berbalik badan, berjalan menuju tangga. Meniti tangga, naik ke lantai 3. Saat itu, aku mendengar sayup sayup suara kegembiraan, “YES PULANG BARENG!” dan aku yakini itu adalah suaramu. Aku hanya terkekeh. Aku sendiri saat itu tak bisa menyembunyikan perasaan senangku.

*
Ak tak perah tahu, kasih
Mengapa sampai sekarang aku belum bisa berpaling darimu
Aku sendiri ingin tidak terus menerus berkutat dengan apa yang berhubungan denganmu

^^

Tidak munafik, semakin lama aku dan kau menjalani hubungan seperti ini, bahkan semakin dekat, aku memiliki harapan yang cukup tinggi. Berharap…kita…akan menjalani ….ehm maksudku… terikat dalam suatu… hubungan istimewa. Bukankah itu tujuan dari pendekatan pada umumnya? Salahkah aku berharap seperti itu? Apakah itu hanya akan menjadi hayalan semuku? Jika itu hanya hayalan semu, apa tujuan kita untuk menjalin ‘pendekatan’ ini? Ini sudah minggu ke-5, lho!
Saat aku terbangun dari tidurku di minggu pagi -sebenarnya tak bisa dibilang pagi juga, aku bangun pukul 9-, seperti biasa, kau selalu menjadi peringkat pertama pengisi pesan di kotak masukku. Aku sudah tahu, bahkan sudah sangat hafal ketika getaran halus itu membangunkanku.

From : R.A (:
Pagiiiii(: pasti baru bangun. Iyakan? Apal kan aku? Hebat kaaaan? Huuu dasar mentang-mentang minggu bangunnya siang. Have a nice day ya bytheway(((((:

Aku hanya tersenyum, padahal aku sendiri belum begitu kuat untuk mengenggam penuh ponselku itu. Kau bahkan sudah hafal jadwalku bangun tidur dan waktuku tidur. Aku menggeliat, untuk meregangkan otot-otoku. Setelah pandanganku cukup jelas dan tenaga ku sudah mulai sanggup untuk mengenggam penuh ponselku, aku menarikan jempolku diatas keypad ponselku.

To : R.A (:
Iya aja deh biar cepet d; heheheh abisan kan semalem begadang gara-gara teleponan sama kamu. Gimana sih? Huuuuuuu!!!! Have a nice day juga rikoooooo :D

Aku tersenyum, mendekap ponselku ke dada. Mengingat semalam, pertama kalinya kita bertelepon, dan itu berlangsung selama 3 jam. Semalam, aku merasa seperti anak muda sesungguhnya, merasakan malam minggu yang indah. Waktu 3 jam itu tidak kita hiraukan, seakan kita terjebak dalam dimensi waktu. Bahkan kita berharap bahwa kita terjebak disana. Agar waktu tidak terus berputar.

From : R.A (:
OOOHHHH…ngerti nih, sekarang mulai tengil, nyalahin aku nihhhh? Hehe gakding canda. Lagian kamu emang tiap minggu bangun siang woooo!!! Hehehehe. Ehm, nanti siang mau aku jemput gak? Ke puncak yuk!!!!

Aku sedikit membelalakan mata. Memang, ini bukan pertama kalinya kau mengajakku jalan. Mungkin…ini ke 5 kalinya. Tetapi, biasanya, kita hanya jalan ke mall. Tapi ini? Ke puncak? Yakin? Yang pasti, menggunakan motor andalanmu itu, kan?

To : R.A (:
Puncaaaakkkkkk????? Gaksalah?????!!! Km gakakan nyulik aku kan? akumah ayok aja. Tapi nanti kamu pamit ke ortu akunya yaaa :D

From R.A (:
Emang tampang aku ada tampang kriminal yaaa? Lagian ngapain aku nyulik kamu? Kamu kali wooo yang mau aku culik d; Iyaaa tenang. Biasanya jg gitu kannn? Jam 11 aku jemput. Okeee? Mandi buruan!!!!!

^^
Sambil tergesa-gesa aku meraih sweaterku yang tersampir di ujung ranjangku. Kau sudah berada di depan rumahku, bahkan mungkin sekarang kau sedang berbincang dengan Ibuku. Aku telat, gara-gara, tadi, saat kau meminta aku untuk segera mandi, aku malah melanjutkan tidur. Jadilah seperti ini.
“Shiiiil, Riko nih nungguin.” Kata Ibu, berteriak dari bawah. Aku yang sedang menyisir rambut dengan buru-buru, menambah kecepatanku lagi. Setelah dirasa cukup rapi, aku langsung keluar kamar, menuju lantai 1.
“Maaf nunggu lama.” Kataku seraya nyengir. Aku masih berdiri di tepi sofa yang di duduki Ibu. Kau duduk di sofa di hadapannya.
“Emang mau kemana kalian? Ke mall?” tebak Ibu, aku melirik kau dengan gelisah.
Dengan santai kau menjawab. “Riko mau bawa Shilla ke puncak tante, boleh, kan? Riko bawa mobil, kok. Nanti maghrib pasti udah nyampe sini lagi.” Tuturmu tenang.
Ibu yang awalnya membelalakan mata, kembali tenang dengan penjelasanmu. Hubunganmu dan ibu memang sudah cukup dekat, karena minggu lalu, saat kau akan menjemputku untuk jalan ke mall, kau harus dibuat menunggu olehku selama 45 menit, dan selama itu kau berbincang dengan ibu. Aku ikut mengurut dada. “Iya gak apa-apa. Hati-hati ya.”
“Yaudah, kita pamit ya Tante.” Katamu, setelah berdiri dari dudukmu. Ibu ikut berdiri. Kau mencium punggung tangan Ibuku, berpamitan, aku pun sama. Sambil beriringan, kita berjalan menuju picanto hitam metallic yang kau bawa -entah milik siapa.

^^

Sambil duduk menyender di bawah pohon yang rindang, aku dan kau menikmati awan yang terus berarak. Kita sudah tiba di puncak. Sepanjang perjalanan tadi, yang kita lakukan hanya bernyanyi. Ikut menyenandungkan lirik lagu yang terputar. Tadi juga di perjalanan kita menyimpang ke sebuah rumah makan padang, kita belum mengisi perut sama sekali.
Entah mengapa, sekarang aku mulai merasakan tidak enaknya tidak mempunyai ‘status’. Seperti apa yang kita jalani. Bukannya aku menuntut, tapi, aku pun memerlukan sebuah kepastian. Aku mengerti, jika sanya kau belum siap, tapi, sampai kapan? Apa aku yang terlalu berharap, sehingga selama ini kita hanya bermain, tanpa memerlukan sebuah akhir? Hanya sebuah harapan kosong?
Aku menghela nafas, merasakan paru-paruku mulai dipenuhi berbagai pertanyan. Sesak, sakit. Perlahan aku mulai memejamkan mata, menahan bening hangat yang sudah menggantung di sudut mataku. Kumohon, jangan saat ini.
“Shil, kenapa?” tanyamu, melirik ke arahku melalui sudut matamu.
Aku menggeleng kecil, mengulas senyuman di wajahku.” Kenapa apanya? Enggak kok.”
“Bener?” tanyamu lagi. Seolah kau mengetahui segalanya. Dan yang aku harap, kau benar-benar tahu semuanya. Mengenai perasaanku. Kau mulai menatapku lebih dalam, berusaha menemukan kejujuran dari kedua bola beningku.
“Iyaaaaa…..kenapa coba emangnya?” kataku, kembali mengulas senyuman. Yang aku harap, tidak terlihat aneh.
“Yaudah dehhh……” ucapmu. Kembali memandangi awan yang terus berarak. Entah kemana tujuan yang akan ia capai. Seperti aku, entah apa yang akan aku temukan nantinya, aku tidak tahu. Semoga secepatnya aku akan menemukan kepastian itu.
Hening
Kita asik menikmati udara puncak yang sejuk. Melupakan sejenak kebisingan kota. Saat keheningan itu tercipta, tak ada yang lain yang ada di otakku selain memikirkan kita berdua. Entahlah, mungkin memang aku harus pasrah saja, dan membiarkan semuanya tanpa ada yang di paksakan. Biarkan mengalir. Yang penting, aku sudah kuat untuk menerima segala resikonya. Ya, kuharap aku kuat.
“Shil, jangan pernah berhenti ya… aku gak mau semuanya berakhir.” Ucapmu. Pandanganmu menerawang, lurus. Bahkan aku tak yakin kau mengatakan itu di dalam kesadaranmu.
“Aku juga gak mau semua berakhir….” Sahutku lirih. Nyaris berbisik. Dapat kulihat kau tersenyum. Lalu kau merangkulku. Pertama kali kau melakukan ini padaku. Hangat mejalari dadaku. Ombak mulai menyapu pantai hatiku. Aku menaruh kepalaku di bahumu.
“Shill…..maaf yaaa….” Entah untuk apa kau meminta maaf. Aku hanya mengangguk. Apa mungkin untuk itu?
Hari itu, sampai pukul 5 sore, tanpa disadari kita mulai meluapkan segala perasaan yang ada di dada. Mengakuinya. Tak ada lagi kebohongan yang tersembunyi. Semua terbuka. Terucap tanpa adanya kecanggungan. Tapi, tetap saja, tidak membuahkan suatu kepastian. Karena status kita masih belum jelas. Sampai kapan harus seperti ini?

*
Aku tak pernah tahu, kasih
Mengapa aku masih menaruh harapan padamu
Mengapa aku masih merasa semua akan kembali
Padahal, aku tahu, itu tidak mungkin

*

Aku meraih ponselku, membuka multimedia yang terdapat disana. Memutar sebuah lagu, yang makin membuatku terjebak dalam dimensi masa lalu.

Terlambatku menyusuri jalan ini
Tersesat di saat kau menjauh
Terlambatku mengartikan cintamu
Kusadari setelah kau pergi
Berat hati menerima kehilanganmu
Tegarkan aku saat kau memilih dirinya

Rasa sesal itu kembali mengguncang batinku saat mengingat kelakuan bodohku. Demi Tuhan, aku menyesal. Mengapa semua yang sudah terjalin harus pecah hanya karena ucapan itu? Apa ucapan itu sebegitu menyesakkan?
Saat itu, ada anak baru di tempat les kita. Namanya Sion. Dia satu kelas denganku, menggantikan Dayat yang sudah tidak lagi les. Hubunganku dengan Sion memang paling dekat diantara semuanya, karena kesukaan kita yang sama, menyukai salah satu band papan atas mancanegara. Aku merasa satu pemikiran dengannya. Dan entah sadar atau tidak, aku pernah berseru, “Ahhh! Gue suka sama Sion nih. Gue nyaman sama dia.”
Saat itu, aku berada di perpustakan tempat les. Bersama Zahra. Itu sudah minggu ke 8 kita menjalin hubungan tanpa status.
“Lah terus Riko gimana?” Tanya Zahra bingung, menatap heran ke arahku. Tidak lagi sibuk dengan majalah yang sedari tadi menghipnotis pikirannya.
“Tau ah pusing mikirin dia. Ada Sion deh yang baru” kataku, seraya cengengesan. Zahra hanya menggelengkan kepala mendengar ucapanku.
Tanpa aku sadari, ternyata saat itu kau sedang berdiri di ambang pintu perpustakaan. Perpustakaan yang tidak begitu luas, dan hening, membuat kau langsung menangkap ucapanku. Aku berbicara seperti itu karena aku pikir….mungkin akan percuma jika aku terus meunggumu. Walau aku sudah mengetahui isi hatimu, tetap saja, aku merasa seperti di permainkan.
Semenjak itu, tak ada lagi kau yang selalu menjadi peringkat nomor 1 di kotak masuk ponselku, tak ada kau yang selalu meneleponku setiap malam. Tak ada kau yang menyapaku setiap kita bertemu. Tak ada lagi kau…. Kau menjauh. Melupakan segalannya. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita.

Pergi cinta
Lupakanlah aku cinta
Kurelakan dia
Ada di pelukmu
Pergi cinta hapus bayanganmku cinta
Bahagiakan dia
Cinta
Sampai akhir waktu engkau bersamanya

Aku masih ingat, 2 minggu sudah kita seperti orang tidak pernah kenal. Zahra yang mengetahui semuanya, -karena Zahra yang mengatakan padaku bahwa kau mendengar semuanya saat di perpustakaan- hanya mampu menenangkan batinku. Mengerti sakit yang menderu ulu hatiku.
Saat itu, aku tidak pernah lagi, mungkin lebih tepatnya berusaha untuk tidak pernah lagi memikirkanmu. Walau rasa menyesal masih terasa telak di hatiku saat itu. Tapi apalah arti rasa menyesal, jika semua sudah terjadi? Akan percuma jika aku menjelaskan padamu. Aku bukan ingin kembali dekat padamu, aku hanya ingin kita bisa berteman. Itu saja.
3 minggu setelah kita menjauh, yang aku dengar kau baru saja meresmikan hubunganmu dengan teman sekolahmu, Ify. Kau tahu tidak? Semalaman aku menangis. Secepat itukah? Memang sangat tidak sebanding dengan seberapa lama kita menjalani pendekatan.
Lama kelamaan aku mulai terbiasa. Bukankah aku sudah pernah memikirkan segala resiko yang mungkin akan terjadi? Tapi sayang, aku tidak pernah memikirkan resiko jika ini semua yang akan terjadi. Tak penah terpikir bahwa semua akan berakhir seperti ini. Bukan akhir yang indah, yang diam-diam selalu aku bayangkan jika aku hendak memejamkan mata untuk terlelap. Bukan akhir seperti itu. Tragis.
Mungkin ini memang yang terbaik.

*

Aku teersadar, lagu tadi sudah terputar 20 kali melalui ponselku. Aku mengeratkan pelukanku ke lutut. Membenamkan wajah. Tak ada lagi butiran bening yang mengalir di pipiku. Mungkin sudah habis, karena lebih dari 1 jam yang aku lakukan hanya menangis.
Entah sampai kapan aku harus seperti ini. Yang membuat rasa enek mulai menjadi, kau baru saja meresmikan hubunganmu dengan kekasih barumu. Tepat hari ini. Tanggal ini. Apakah kau tau? Ini tanggal 28 Oktober, tepat 3 tahun, saat kita mulai membuat sebuah benang kenangan. Sampai akhirnya terhenti dengan kisah tragis itu. Apa harus ditanggal ini?
Mungkin bukan rasa sayang atau cinta yang masih ada. Hanya sebuah rasa obsesi. Mengerti, kan? Obsesi untuk sekedar memilikimu. Aku tahu aku egois. Aku tahu. Tapi jika kau berada di posisiku, apa yang akan kau rasakan? Kau akan tenggelam dalam rasa obsesi itu, tidak?

*

Kasih, aku ingin terlepas dari semua tentangmu
Melupakan hal terkecil tentangmu
Aku lelah terus menerus seperti ini
Aku ingin seperti kamu, melupakan segalanya dengan mudah
Maaf, aku disini masih masih berharap
Semua akan kembali
Masih berharap
Kita akan kembali seperti masa lalu
Kembali melanjutkan menggulung benang kenangan itu
Maaf, doakan aku untuk bisa secepat mungkin terlepas dari segala tentangmu.

*

Kriiiiik……….. siapa suruh baca? Kan udah di ingetin gak boleh baca d; maaf yang ngebingungin flashbacknya. Seinget aku kalau tanda ^^ mulai masuk flashback, kalau * kembali ke saat ini. Ini cerita teraneh yang pernah aku bikin. Gakjelas. Wong ini aku bikin waktu lagi pekan ulangan. Jadi ngalor ngidul. Maap aje ye kalau ngebuang waktu. Sekali lagi, kan udah di ingetin di awal. Komentarnya donggg-_____-“

Peaceloveandgaul
@dhitals

Monday, October 25, 2010

Beda

Finished : October, 24th October 2010, 4:22p.m

Sebenarnya, dalam hati aku ingin terus menyangkal kenyataan itu. Menyangkal fakta yang baru saja aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Aku meninju bangku yang ku duduki dengan kepalan tanganku. Cukup membuat tanganku sakit. Tapi cukup meluapkan rasa emosiku, walau hanya sedikit. Aku menghembuskan nafas secara kasar. Ahhh! Aku mengambil batu dari kolong bangku -yang entah mengapa ternyata banyak sekali batu-batu kecil, dan melemparkannya ke danau yang berada di depanku. Berusaha membuang rasa penat dan sakit itu. Tapi naas, gagal.

Ku ingin bertanya
Sungguhkah kau sayang aku?

Aku kembali duduk di bangku. Percuma, sebanyak apapun aku melempar batu tak akan membuat rasa sakit ini menghilang. Aku menutup wajah menggunakan kedua telapak tanganku. Membiarkan air mataku tumpah di baliknya. Setidaknya dengan begini tak ada yang melihat aku sedang menangis.
Tadi, ngapain sih, kamu berduaan di café sambil suap-suapan gitu? Ngapain sih, kamu mengusap bibir cewek itu? Ngapain sih, kamu ketawa bareng cewek itu? Ngapain sih, kamu mengusap poni cewek itu?
Bukannya itu semua cuma kamu lakuin buat aku? Bukannya cuma aku? Oh…ternyata enggak ya.
Berarti…kau membohongiku. Tadi pagi, waktu aku meminta kau untuk mengantar aku ke toko buku, kau bilang, akan mengantar Kak Zevana ke Supermarket. Ternyata? Memangnya, Kak Zevana bisa berubah wujud, ya? Dan gak jadi ke supermarket, jadinya ke café? Café yang jadi saksi bisu kita berdua? Di tempat favorit kita berdua, lagi.
Aku menggelengkan kepala. Berusaha sekuat tenaga untuk menyangkal semua prasangka buruk tentangmu. Aku berusaha berpikir positif. Kau tak mungkin setega itu, kan, sama aku?

*

“Kamu kok gelisah banget sih?” aku langsung bertanya begitu, ketika kau berulang kali mengecek jam tangan yang melingkar gagah di pergelangan tangan kirimu.
Kau menatapku, lalu menggeleng kecil, “Ah, gak apa-apa.” Elakmu. Lalu kembali menekuni Tiramissu kesukaanmu. Sayang, sekecil apapun kau berbohong padaku, aku tetap bisa mengetahuinya. Membacanya melalui bola matamu yang bening itu.
“Bener?” tanyaku lagi, berharap kali ini kau akan jujur padaku.
Kau kembali menatapku lalu tersenyum kecil. Senyum yang selalu terbawa ke dalam mimpi indahku. “Serius. Ayok lanjutin makannya, macaroni kamu masih banyak, tuh. Katanya, tadi laper.”
“Kenyang.” Sahutku datar. Sedikit kesal. Aku tahu. Tapi aku sangat tidak mau kalau apa yang aku pikirkan memang benar. Bibirku sedikit dikerucutkan.
“Lho, sekarang kamu yang kenapa?” kau balik bertanya kepadaku, menaruh sendok kecil di atas piring tiramissu mu.
Aku menggeleng, “Nggak kok. Udah lanjutin. Aku laper lagi.” Lalu aku memotong asal macaroni ku dengan kesal. Sabar Shil…
Hening
Kau sibuk dengan Hot cappuccino mu, sedangkan aku masih mengunyah macaroniku dengan kesal. Hanya dentingan suara sendok, garpu, atau pisau yang beradu dengan piring atau cangkir yang terdengar. Ah! Ini sudah ke 7 kalinya kau melirik jam tanganmu, semenjak terakhir kali kita berbicara. Kau janjian dengannya?
“Abis dari sini mau kemana?” tanyamu, setelah aku menghirup Jus starwaberry ku sekaligus, sampai habis.
“Terserah. Aku masih kangen sama kamu.” Jawabku, sedikit manja. Kau tersenyum, lalu mengacak pelan poniku. Sudah 2 minggu kita tidak bertemu. Rasanya ada batu besar yang mengganjal di hatiku, dan hanya mampu menghilang ketika aku melihat senyumanmu untukku.
“Aku juga kangen sama kamu.” Balasmu seraya tersenyum. “Ke toko buku, mau? Katanya kemarin mau beli buku? Maaf ya, aku gak jadi nganterin?”
Aku mengangguk malas, tapi tetap tersenyum, setidaknya hari ini bukan untuk beradu mulut dan ego denganmu. Hari ini untuk melepas rindu denganmu.
Lalu, setelah kau memanggil pelayan dan membayar semuanya, kita bangkit dan beriringan berjalan menuju Toko buku yang letaknya berada satu lantai di atas tempat café yang baru saja kita tinggali. Dalam hitungan detik, jemarimu sudah merengkuh jemariku. Membuatku selalu nyaman dan terjaga.

*

“Makasih yah, buat hari ini.” Kataku, setelah turun dari motormu. Kini, aku berdiri di sisi kiri motormu.
Kau membuka helm fullface mu, mengangguk lalu tersenyum, “Aku juga, makasih yah.” Sahutmu, lalu mendekatkan bibirmu ke arah telingaku, membisikkan tiga kata yang selalu membuat darahku berdesir hebat, “Aku sayang kamu.” Lalu kau mengecup pipiku. Aku yakin, sekarang, rona wajahku sudah semerah tomat. Uhm..bahkan semerah cabai. Aku hanya mengangguk canggung. Aku rindu hal ini.
“Aku pulang, ya? Salam buat orang tua kamu sama Kak Kiki sama Mba Sivia .” Pamitmu akhirnya, lalu memakai helm fullface mu kembali. Aku mengangguk, dengan rona wajah yang belum kembali. Kau tersenyum, mulai menyalakan mesin motor kembali. Dalam hitungan detik, motormu sudah tidak nampak. Di hadapanku kini hanya jalanan perumahan yang kosong.

Kadang aku pun meragu
Engkau tampak beda, tak seperti dulu

Sebenarnya tak ada perbedaan yang begitu nyata. Hanya saja, aku merasa setiap kali kau menatapku, dalam bola matamu tak mengandung apapun. Maksudku, bukan tatapan matamu yang mampu mencairkan lapisan es yang membeku di hatiku. Bukan sorotan seperti biasanya yang terpancar dari sana. Aku menarik nafas dalam-dalam. Berdoa dalam hati kalau itu hanya perasaan burukku. Aku lalu berjalan memasuki pekarangan rumahku. Seraya terus menahan air mata yang entah mengapa menyeruak untuk mengaliri pipiku.

*

Aku hanya mampu duduk di sudut café. Menyembunyikan wajahku di balik majalah Girlfriend edisi terbaru. Semoga majalah ini tidak terbalik. Mataku terfokuskan pada 1 titik. 1 meja. Dan 2 manusia. Aku melihat kau. Tepatnya, aku sedang mengintip kau. Kau duduk di sebrang sudut yang berlawanan denganku
Wanita yang duduk di depanmu itu sedang menutup mulutnya, berusaha meredam tawa karena -sepertinya- lelucon yang kau buat. Sementara kau sendiri tertawa lepas. Walau tidak kencang.
Dibalut dress bermotif bunga-bunga kecil berwarna kuning susu, dan selop high heels, sekitar 3 cm, membuat wanita itu tampak manis. Sangat manis. Bahkan, cantik. Rambutnya yang ikal di bawah, ia ikat setengah ke belakang, di jepit menggunakan jepit yang berhiaskan pita berwarna merah.
Penampilannya memang sangat berbanding terbalik denganku. Aku memperhatikan penampilanku, -masih dalam keadaan duduk- aku hanya memakai kemeja, celana jeans, dan sepatu flat.
Sepertinya memang itu yang kau suka darinya. Mungkin karena aku tak berpenampilan seperti dia, kau berpaling dariku?
Selanjutnya, aku mulai melihat kau mengusap ubun-ubun wanita itu. Rasanya saat ini juga aku ingin mendatangi mejamu dan menggebraknya. Aku sangat tidak rela. Panas menjalari dadaku. Titik air mata mulai di produksi oleh mataku. Rasanya sakit sekali. Aku menyesal mengapa aku pergi ke café ini? Menyesal, mengapa aku harus menguntitmu?
Aku membiarkan air mata mengalir di pipiku. meninggalkan jejak-jejaknya. Membawa setiap perih yang semakin aku rasakan. Aku harap air mata itu akan membawa perih itu pergi. Aku yakin, majalah yang sedari tadi ku pegang untuk menutupi wajahku bergetar hebat.
Aku ingin kamu yang menghapus jejak air mata ini……

*

Mungkin waktu, yang tlah mengubah
Kenyataan atau mimpikah diriku dengan
Semua ini meski ku tak berubah
Hanya kau yang menyita sluruh hatiku
Disini…………


“Hari ini kamu kemana?” tanyaku, setelah kita berbincang mengenai sekolah kita masing-masing. Dapat kudengar dari ujung telepon bahwa kau menghela nafas.
“Pergi nganter Iley beli cat air.” Jawabmu. Menjadikan adikmu yang berbakat dalam hal melukis, menjadi kambing hitam. Kali ini aku yang menghela nafas berat.
“Kka…”
“Ya, Shil?” sahutmu. Aku meringkuk di sudut kamar. Tepatnya di belakang pintu kamarku. Memeluk boneka bebek pemberianmu saat bulan lalu, hari jadi kita yang ke 14 bulan.
“Kamu suka gak sama penampilan aku?” kataku, menggigit ujung boneka itu.
“Maksudnya?”
“Ya…gitu. Maksud aku, kamu takutnya selama ini kamu gak suka sama style aku yang santai banget. Takutnya kamu suka sama yang pa….”
“Aku suka kamu. Kamu yang apa adanya.” Putusmu tiba-tiba. Entah mengapa ucapanmu tadi sukses membuat bening hangat menganak sungai di kedua pipiku. Sejak kapan kau suka berbohong kepadaku?
“Kamu nangis?” gawat, sepertinya isakanku terdengar olehmu. Aku menarik nafas dalam-dalam.
“Ah…enggak…a..aku lagi flu.” Jawabku beralasan. Untung masuk akal.
“Jangan bohong sama aku.” Katamu. Kamu yang bohongin aku…
“Nggak kok. Aku emang beneran lagi flu. Cuaca lagi gak enak banget.” Cicitku, seraya mengusap pipiku, menyeka jejak bening hangat disana.
“Udah minum obat? Jaga kesehatan ya, Shil.” Nada suaramu begitu lembut. Sifatmu yang perhatian tak pernah hilang. Membuatku melupakan sejenak tentang masalah di café siang tadi.
“Udah kok. Kamu juga jaga kesehatan ya.” Balasku. Setidaknya aku tidak berbohong. Aku memang sedang terserang gejala flu, dan aku memang sudah minum obat pereda gejala flu.
“Aku kangen kamu.” Lirihmu tiba-tiba. Tatapanku kosong, memikirkan kita. Sekolah kita yang berbeda. Kita yang disibukkan dengan berbagai aktifitas sekolah. Membuat kita terkadang susah untuk bertemu. Apalagi akhir-akhir ini.
“Aku juga kangen kamu.” Balasku. Menggenggam ponselku kuat-kuat. Aku ingin kau berada di sisiku, menjadikan bahumu untuk tempatku melepas rindu kepadamu.
“Besok aku jemput kamu, ya? Besok sabtu, kan? Kita dinner.”
“Oke.” Jawabku bersemangat.
“Sekarang kamu tidur yah. Udah malem.”
“Kamu juga tidur sekarang.”
“Iyaaaa….. aku sayang kamu. Malam Shillaku.”
“Aku juga sayang kamu.. malam juga Ranggaku”

Klik.
Sambungan telepon pun terputus. Aku mendekap ponselku. Berharap ponsel ini akan berubah wujud menjadi kau. Aku merindukan kau yang selalu berkata jujur kepadaku. Aku rindu kau yang membuat malam-malamku dipenuhi oleh deraian tawa. Aku rindu kau.
Terhitung telah 3 minggu kau mulai berubah. Semenjak pertemuan kita yang kurang intensif. Akibat aku yang sibuk dengan jabatanku sebagai sekretaris MPK. Apa semenjak itu kau mulai mengenal gadis itu?
Sampai kapan kau akan terus membohongi aku?

*

Ku tak pernah berfikir
Ada yang lain di hatimu
Tapi bila, begitu adanya
Jangan kau membisu
Ungkapkan padaku

Akhirnya dengan susah payah aku selesai membuat rambut lurusku menjadi ikal. Ikal di bawah apa itu namanya? Keriting gantung? Butuh waktu 2 jam untuk membuat rambutku seperti ini.
Setelah itu, aku mengganti bajuku. Menggunakan dress polos berwarna pink lembut dengan hiasan pita di belakangnya, -yang ku dapat setelah aku mengubek isi lemari Mba Sivia, sepupuku yang tinggal di rumahku.
Aku berputar. Memperhatikan penampilanku yang sangat-sangat berbeda ini. Aku terlihat lebih… anggun. Sebenarnya ini bukan aku sama sekali. Tapi mungkin kau akan lebih suka jika aku seperti ini.
Aku melirik jam tangan Monol yang melingkar manis di pergelangan tangan kiriku. 10 menit lagi dari waktu yang kau sendiri janjikan untuk menjemputku. Aku menyemprotkan parfum ke beberapa bagian tubuhku. Tidak terlalu banyak. Cukup.
Dengan tergesa-gesa aku menuruni tangga, menuju ruang TV, dimana aku telah menyiapkan sepatu high heels -yang lagi-lagi kudapat dari kamar Mba Sivia. Sedikit keteteran saat aku mencoba berjalan menggunakan sepatu itu. Aduh, aku cewek tulen, kan?
Kak Kiki, Mamah, dan Papah hanya menggelengkan kepala melihatku berulang kali terjatuh akibat high heels itu. Demi kau, aku berulang kali terjatuh, agar aku terbiasa memakai sepatu ini. Demi kau.
Aku duduk di sofa depan TV, seraya memutar-mutar channel. Sudah telat 3 jam. Tidak biasanya. Rambutku yang kubuat ikal sudah kembali ke posisinya semula. Lurus. Kau kemana? Aku lelah menunggumu. Sekarang, sudah jam 9.30 malam. Kalau saja hari ini kita jadi dinner, itu adalah dinner bersama kita yang ke 3.
Aku sengaja tidak menghubungimu. Aku ingin tahu, seberapa ingat sih, kau dengan janjimu sendiri? Dulu, kau selalu ingat hal sekecil apapun tentang kita, lho.
Kak Kiki, Mamah, dan Papah sudah masuk ke kamar. Mereka menasihatiku agar aku juga sebaiknya tidur. Setidaknya, agar aku berselimut atau memakai sweater. Mengingat dressku yang tidak ber’lengan’. Aku tidak mempedulikan nasihat mereka. Aku masih terus duduk. Menunggu kau. Aku yakin kau akan datang. Setelat apapun itu.
Hoaaahm… aku menguap tia-tiba. Kantuk menjalariku. Tiba-tiba ponselku berdering. Membuatku sedikit tersentak. Terdengar ringtone yang hanya aku pasang jika kau yang menelepon aku. Dengan malas, tapi perasaan senang tetap terasa nyata, aku mengangkatnya.
“Apa?” kataku langsung. Nadaku datar.
“Aku di depan rumah kamu Shil, mau mencet bell takut ngebangunin orang-orang.” Sahutmu. Aku kaget. Segera saja aku berlari mendekati pintu rumah. Benar saja, aku mengintip melalui gorden, kau berdiri di depan gerbangku.
“Iya aku ke luar.” Kataku yang langsung mematikan dan menaruh ponselku ke meja yang berada di ruang tamu. Membuka pintu rumah, dan berjalan mendekati kau. Aku membuka gerbang, membiarkan kau masuk. Lalu berjalan menuju teras. Kau mengikuti dari belakang. Aku lalu duduk di kursi yang berada di teras.
“Maaf.” Katamu, setelah duduk di kursi sebelahku.
“Maaf buat apa?” tanyaku pura-pura heran. Mataku menatap lurus ke arah pepohonan di halaman rumahku. Cahaya lampu taman membuatnya terang.
“Maaf udah gak nepatin janji aku. Tadi aku ada urusan sama anak-anak band.” Alibi mu. Entah benar atau tidak, aku sudah tidak ingin mendengar alasan apapun. Sebelumnya kau tidak pernah melanggar janjimu.
“Iya gak apa-apa. Ini pertama kalinya, kan, kamu ngelanggar janji? Baru sekali, santai aja.” Kataku, berusaha menyindir. Namun, suaraku perlahan mulai bergetar.
“Maaf.”
“Udah lah gak apa-apa. Aku capek. Mau tidur. Kamu pulang aja. Kamu juga capek, kan?” aku masih menatap lurus ke depan. Membangun pertahanan sekuat-kuatnya agar cairan hangat itu tidak mengalir. Setidaknya untuk saat ini.
“Tapi kok, penampilan kamu berubah jadi…feminim?” tanyamu. Aku yakin kau baru saja memperhatikan penampilanku dari ujung kaki hingga ujung rambut. Bukankah kau menyukai yang seperti ini?
“Ehm…bukan. Maksud aku, biasanya style kamu kan simple, bukan pake dress kayak gini.” Kali ini aku menatapmu. Kulihat kau yang sedang menggaruk tengkukmu.
“Udah lah gak penting. Aku capek. Mau tidur. Kamu pulang. Istirahat.” Sahutku asal lalu berdiri dari kursi dan berjalan ke dalam rumahku. Aku tak sanggup menatapmu lebih lama lagi. Kau mengikutiku berdiri. Sampai saat aku hendak menutup pintu, kau mencegahnya.
“Shil, sekali lagi, maaf. Aku sayang sama kamu. Kamu cantik banget hari ini.” Ucapmu, aku hanya menunduk. Lalu aku langsung kembali menutup pintu. Dengan tangan bergetar, aku berusaha menguncinya.
Tiba-tiba saja aku sudah tidak mampu menopang tubuhku sendiri. Aku merosot. Meringkuk di balik pintu. Dengan memeluk lutut, air mataku turun dengan deras. Mengalir hingga menganak sungai di pipiku. Aku kangen kamu Kka..kangen kamu yang dulu.

*

Mungkin waktu yang tlah mengubah
Kenyataan atau mimpikah diriku dengan
Semua ini meski ku tak berubah
Hanya kau yang menyita sluruh hatiku
Disini…

“Kamu dimana?” tanyaku dari ujung telepon. Dapat kulihat kau berjalan menjauh dari meja yang sedang kau tempati dengan gadis itu. Di balik majalah GoGirl yang aku pegang ini, -kejadianya seperti 2 hari yang lalu. Disudut cafe, menguntitmu- air mata setitik demi setitik mulai mengalir. Akhir-akhir ini aku menjadi begitu lemah. Aku suka caramu membuatku menangis.
“Aku lagi kumpul sama band. Kenapa?” aku menarik nafas, menghembuskannya perlahan. Sejak kapan membohongiku menjadi salah satu hobimu?
“Nanti sore, jam 5, ke rumah aku.,please. Aku tunggu kamu sampai kamu dateng.”
Klik.
Tanpa menunggu jawaban, aku menutup telepon. Kulihat kau memandang heran ke layar ponselmu, lalu kembali duduk di bangkumu yang semula. Memberi alasan yang masuk akal kepada gadis itu.
Dari mejaku, aku hanya berdoa. Agar hubungan kita bisa membaik. Menjadi seperti sedia kala. Setidaknya, jika nanti kita berpisah, aku berharap semua yang terbaik.
Tak perlu aku menghalangi wajahku menggunakan majalah, berjalan keluar dari café, setelah sebelumnya meletakkan selembar uang 20.000 dan selembar uang 10.000. kurasa cukup untuk membayar jus strawberry yang tadi kupesan. Aku tahu, kau tak mungkin mengetahui bahwa ini aku. Karena posisi dudukmu memunggungi pintu masuk café.

*

Ku ingin bertanya
Sungguhkah kau sayang aku?
Kadang aku pun meragu
Engkau tampak beda
Tak seperti dulu…

Aku terus menarikan jemariku di atas gitar kesayanganku ini. Membuat nada-nada untuk sebuah lagu yang sedang mejadi lambang hatiku. Dengan lirih, aku bernyanyi mengiringi nada dari petikan gitar itu.

Mungkin waktu yang tlah mengubah
Kenyataan atau mimpikah diriku dengan
Semua ini meski ku tak berubah
Hanya kau yang menyita sluruh hatiku
Disini…

Aku mengamati tiap tetes air hujan yang mebasahi jendela kamarku. Setiap tetesnya melambangkan air mataku. Sebanyak itu air mata yang ingin aku keluarkan untukmu. Aku melirik jam yang terparkir manis di meja riasku. Tepat di hadapanku. Sudah telat 2 jam. Aku masih menunggumu.

Ku tak pernah berfikir
Ada yang lain di hatimu
Tapi bila begitu adanya
Jangan kau membisu
Ungkapkan padaku….

Tepat saat itu, pintu kamarku terbuka. Dengan enggan aku melihat siapa yang datang. Doaku terkabul. Kau yang datang. Kau yang lalu, langsung duduk di samping kiriku. Aku memalingkan wajah, kembali menatap butiran-butiran air hujan yang mengaliri jendela kamarku.

Mungkin waktu yang tlah mengubah
Kenyataan atau mimpikan dirimu dengan
Semua ini meski ku tak berubah
Hanya kau yang menyita sluruh hatiku
Disini….

Takkan ada yang mampu
Menggantikan satu dirimu…..

Mungkin waktu yang tlah mengubah
Kenyataan atau mimpikan dirimu dengan
Semua ini meski ku tak berubah
Hanya kau yang menyita sluruh hatiku
Disini….

Aku terus bernyanyi. Memetik gitar. Tak menghiraukan kau yang sudah duduk di sampingku. Air mata ini dengan deras sudah menganak sungai.

“Shiiiil…….” Katamu. Lalu merangkulku. Mengecup keningku. gitarku jatuh, aku sudah tidak kuat untuk memegang gitar itu. Kondisiku sudah sangat lemah.
“Maafin aku.. kamu tau semuanya?” aku hanya mengangguk. Berharap kau yang akan jujur padaku. Kau yang akan menceritaan kejadian di café itu. Menceritakan semuanya.
“Aku khilaf Shil…” aku tidak mengindahkan ucapanmu. Aku diam menatap langit yang sudah tidak lagi menangis. Tapi hatiku masih menangis, walau air mata perlahan sudah mulai surut.
“Dia Ify, aku kenal dia udah 3 bulan, aku sama dia pacaran udah 3 minggu.” Rasanya saat itu juga aku ingin menamparmu. Tapi percuma, tak bisa mengeringkan luka ini.
“Aku bakal mutusin dia Shil. Aku lebih sayang sama kamu. Kamu segalanya buat aku.” lalu kau memegang kedua bahuku. Memaksaku untuk menatapmu. Menatap dalam-dalam kedua bola matamu yang bening itu. Sekali lagi, bening itu mengalir dari sudut mataku.
“Maafin aku, udah bikin kamu nangis.” Aku hanya mengangguk lemah. “Aku bakalan mutusin Ify dan jujur ke dia malam ini juga.” sebenarnya, aku tidak tega dengan gadis itu, karena sesungguhnya gadis itu pun tidak bersalah. Ah..tidak tahu juga, sih.
“Kemarin kamu pakai dress dan high heels itu, pengen kayak Ify? Kamu ngeliat aku sama Ify?” aku mengangguk lagi. Dapat kulihat penyesalan terpancar dari bola matamu.
“Gak apa-apa. Seenggaknya sekarang kamu udah jujur ke aku. dan kamu udah menyesali semuanya.” Lalu kau memelukku. Mengecup keningku. Kau kembali membuat bulu kudukku meremang. Aliran darahku berdesir tidak karuan. Jantungku berdetak 1km/detik. Kau telah kembali.
Lalu kau mengambil gitar yang tadi sempat terjatuh, memangkunya. Mulai menarikan jemarimu di atas senar-senarnya. Menciptakan nada yang berirama.

I don’t know how to speak for anyone
But my self you see darling there is nothing I can say
that will save you anyways
I’ll scream loud at the top of my lungs tonight
‘cause you know you will always be my light
Shooting stars could never be this bright
Do you know you always be my light?

Screaming out your name
I’m not used to this
There’s no turning back
There’s no going home

I won’t breathe until you just tell me everything is alright
I am not scared of losing this
I’m afraid of losing you
I’m sorry that this will not end
But can’t find the strenght to speak
‘cause on the calendar of your events, I’m last week
Keep your eyes closed and we’ll make it through another day alive
But if we sit here thinking we are just wasting precious time

So instead of thinking that were dead let’s take apart what we have left
Lay it out in front of us and take the tings that we don’t trust
Screaming out your name
I’m not used to this
There’s no turning back
There’s no going home

I won’t breathe until you just tell me everything is alright
I am not scared of losing this
I’m afraid of losing you
I’m sorry that this will not end
But can’t find the strenght to speak
‘cause on the calendar of your events, I’m last week
I don’t know how to speak for anyone
But my self you see darling there is nothing I can say
that will save you anyways
I won’t breathe until you just tell me everything is alright
I am not scared of losing this
I’m afraid of losing you
I’m sorry that this will not end
But can’t find the strenght to speak
‘cause on the calendar of your events, I’m last week
Darling there’s nothing I can say that’ll save you anyways

Aku tersenyum. Memelukmu. Aku tidak sanggup untuk kehilangan kau. Aku harap, kau pun sama.

*

HOREEEEEEEEEEE!!!!!! Cerpen aku yang paling singkat pembuatannya. Idemuncul saat aku denger lagu Andity - Beda. Alur nya dan konsepnya muncul saat pelajaran seni budaya. Sampai diliatin sama guru. Garagara senyum-senyum sendiri. Aku ketik mulai jam 8 malem sampai setengah 11. dan dilanjutin minggu siang. Beres deh. Cerpen paling singkat dan menurutku paling simple. Cerpen yang aku bikin sambil nangis. Hehehehe. Semoga cerpennya bagus ya. Mohon komentarnya(: ehia itu lagunya I’m Afraid of Losing You nya A Rocket To The Moon.

Peaceloveandgaul
@dhitals

Tuesday, October 12, 2010

Kata yang Tak Sempat Terucap

Finished : October, 7th 2010, 10.49p.m

Sivia menyusuri koridor sekolahnya. Langkahnya terasa ringan. Dia bersemangat sekali karena hari ini hari favoritnya. Selasa. Entah mengapa ini selalu menjadi hari keberuntungannya. Kini, ia sudah duduk di bangku kelas XI. Dalam hati, ia masih terus berusaha menghapus masa-masa kelam saat 2 tahun lalu. Walau terkadang, ingatan itu selalu muncul, dan membuat rasa menyesal dan bersalahnya menyeruak dalam sukma.


Rio. Lelaki itu. Sudah 2 tahun hubungan mereka berdua seperti orang yang tak pernah mengenal satu sama lain. Terakhir, Sivia mendengar kabar bahwa Rio telah pindah ke Manado, tempat asalnya. Membuat hubungannya dengan Keke kandas. Keke tidak bisa menerima jika ia dan Rio harus berhubungan jarak jauh. Kira-kira seperti itulah yang Gabriel ceritakan kepada Sivia.


Mungkin hanya Sivia yang tahu bagaimana masih terjaga perasaannya untuk Rio. Walau ia tau ini hanya sia-sia, dan ia sendiri sangat ingin menghilangkan perasaan ini. Jika takdir berkata lain, apa boleh buat? Mungkin takdir mengatakan bahwa ia harus menyayangi Rio dan terus menunggunya.


Sivia memasuki kelasnya, duduk di bangkunya. Disitu sudah ada Ify, Agni, dan Oik-temannya semenjak masuk SMA.


“Hey.” sapa Sivia pada ketiga teman-temannya. Lalu menaruh tas dan memutar duduknya, menghadap ke belakang agar bisa bertatapan muka dengan Agni dan Oik.


“Hey Vi.” sapa Agni balik.


“Hari ini gak ada PR kan?” Tanya Sivia, memastikan.


“Ada kali Vi.” jawab Ify, dengan muka mengingatkan, “jangan bilang lo lupa. Pr mate Vi mate!” lanjutnya geregetan.


Sivia menepuk jidatnya, ”mana mana gue liat.” Katanya, sibuk mencari buku PR matematikanya.


“Yah elo Vi cepetan, bell bentar lagi.” kata Oik, memukul-mukul pelan meja, memberi semagat pada Sivia, agar cepat-cepat. Sivia heboh. Terus menyalin PR Ify. Saat sedang asik menyalin, tiba-tiba seisi kelas dibuat sepi mendadak karena kedatangan Bu Ira bersama seorang lelaki, yang diyakini adalah murid baru. Agni dan Ify tercekat ketika melihat rupa si Murid baru. Ify menjawil-jawil pelan bahu Sivia. Sivia tidak mengindahkan, dia masih sibuk menyalin PR Matematika. Oik memasang wajah heran.


Oik bertanya pelan kepada Agni ”ada apa sih Ag?”, penasaran.


“Itu…… Rio….mantan Sivia.” jawab Agni, air mukanya sedikit cemas. Sebelumnya Oik memang sudah sering diceritakan tentang Rio oleh Agni, Ify, bahkan Sivia sendiri. Oik mengintip Sivia yang masih menyalin. Oik menggidikkan bahu. Ify geregetan ingin memberi tahu Sivia.


“Anak-anak, kalian dapet temen baru.” kata Bu Ira dari depan kelas. Rio tampak malu-malu.


“Iya buuu.” koor semuanya termasuk Sivia, walau tangannya masih terus menulis.


“Nama saya Mario Stevano Aditya Haling, kalian bisa panggil saya Rio.” Rio memperkenalkan dirinya, lalu tersenyum manis. Senyum andalannya. Senyum yang masih selalu Sivia ingat. Seluruh siswi terpesona dengan senyumannya itu. Para siswa hanya mendecakkan lidah. Sivia mematung. Benarkan nama yang baru saja ia dengar adalah nama Rio? Dengan ragu, Sivia mendongakkan wajahnya dan melihat kedepan. Pulpen yang tadi ia pegang terlepas begitu saja ketika melihat wajah Rio. Sedangkan Rio masih belum menyadari adanya Sivia. Bahwa ia berada dalam satu ruangan dengan Sivia.


“Rio, kamu duduk di pojok sana yah sama Cakka.” perintah Bu Ira, menunjuk kursi kosong di sebelah Cakka, yang terletak di pojok belakang kanan kelas.


“Baik bu.” Rio mengangguk, lalu melangkahkan kaki dan duduk di sebelah Cakka. Setelah dipastikan Rio sudah duduk, Bu Ira kembali meninggalkan kelas.


“Gue Cakka.” kata Cakka ramah, mengulurkan tangannya ke arah Rio, mengajaknya berjabat.


“Gue Rio.” Jawabnya, membalas uluran tangan Cakka.


Sivia yang duduk 3 meja di depan meja Cakka, merasa badannya membeku. Gugup. Wajahnya seketika berubah pias. “Fy, itu…Rio…Rio…gue?” katanya, berbisik pada Ify.


“Iya Vi.” jawab Ify, ikut merasakan kegugupan Sivia. ,”lo dari tadi gue toelin malah diem aja.”


“Gue pindah kelas deh.” Kata Sivia. Raut wajahnya memelas dan takut.


“Santai aja Vi, santai.” kata Ify menenangkan, mengusap-usap bahu Sivia. Sivia berharap bahwa ini hanya mimpi buruk. Tak pernah sekalipun terlintas dalam benaknya untuk berhubungan, ehm bahkan berdekatan lagi dengan Rio. Faktanya, kini jaraknya dengan lelaki itu tak lebih dari 10 meter.






***






Sivia terus menerus memastikan bahwa Rio tidak beranjak dari manapun. Terus bermain basket bersama Cakka, dan anak basket lainnya, di lapangan sana. Dalam hati ia terus berdoa, jika ia hendak ke kantin -seperti sekarang ini-, Rio tak melihat dirinya. Bahkanjika permohonannya akan dikabulkan, ia ingin Rio tak akan pernah mengetahui bahwa mereka saat ini berstatus pelajar dalam satu kelas yang sama.


“Ayo dong Vi…keburu bell masuk nih…” kata Agni, menarik-narik lengan Sivia untuk segera pergi menuju kantin. Sivia tidak berajak. Masi terus duduk seraya mengintip Rio dari jendela kelas. Menatapi setiap buliran keringat yang mengucur deras di pelipisnya.


“Santai kaliii…… Rio gak akan liat lo! Apa kita tinggalin nih?” tambah Oik, yang juga ikut kesal. Terlebih dengan alasan Sivia tidak mau ikut ke kantin.


“Iya deh iya gue ikut.” Kata Sivia akhirnya. Agni dan Oik mengurut dada. Ify langsung merangkul Sivia. Mereka beriringan jalan menyusuri koridor. Menuju kantin yang terletak di sudut kiri sekolah.


Diam-diam, Sivia mengintip Rio melalui sudut matanya. Jujur, dia sangat senang akhirnya dapat menikmati setiap lekukan wajah tampan itu. Sivia kembali menunduk. Menyusuri susunan keramik di lantai koridor. Ify, Agni, dan Oik yang melihat hanya menggelengkan kepala.


Gabriel melambaikan tangannya ketika mengetahui Ify dan yang lainnya baru saja memasuki kantin, dan tidak kebagian tempat duduk. Mereka pun langsung menuju tempat Gabriel. Tempat yang memang menjadi tempat favorit mereka. Di sudut kantin, dekat tukang siomay.


“Lo kenapa Vi?” tanya Gabriel, menumpukkan tubuhnya pada sisi meja. Menemukan Sivia yag duduk di hadapannya dengan wajah pias.


“AAAHHHH! Gak kuat gue ceritanya.” Sivia menutup wajah menggunakan kedua telapak tangannya. Gabriel mendelik ke arah Ify -yang duduk di sisi kanannya- Agni, dan Oik -yang duduk menghimpit Sivia-, berharap menemukan sedikit penjelasan.


“Rio pindah sekolah. Dan ternyata ke sekolah ini. Dan lo tau? Sekelas sama gue dan Sivia.” Jelas Agni, setelah menerima pesanan siomay dari tukang siomay andalan kantin.


Gabriel sedikit tersentak. Kembali menatap Sivia, mengerti bagaimana kalutnya perasaan sahabatnya itu. “Santai aja lah Vi… dia juga mungkin udah lupa sama kejadian itu. dan udah maafin lo.” Kata Gabriel, memainkan sedotannya, lalu menghirup jus jeruknya yang tinggal tersisa satu perempat gelas. Ify yang tengah menikmati bubur ayam hanya mengangguk setuju.


Sivia membuka wajahnya, mencoba untuk tersenyum. Gagal. Miris. “kalau dia juga lupa sama gue gimana?” katanya, kembali mengerucutkan bibirnya. Gabriel menggaruk tengkuk.


“Intinya sekarang lo gak usah mikirin itu deh. Liat nanti aja kedepannya gimana. Jangan jadiin beban ke sekolah dengan adanya dia. Malah jadiin motivasi.” Gabriel lalu kembali menghirup jusnya sampai habis. Agni, Ify dan Oik kompak mengangkat jempol. Sivia mendesah panjang, lalu menganguk kecil. Berharap ucapan Gariel bisa ia laksanakan.


Dalam hati, Sivia berharap bahwa Rio akan mengingatnya dan benar-benar melupakan kejadian masa lalu. Ehm…maksudnya sudah memaafkan Sivia. Dan dia sangat berharap, Rio akan bersikap ramah padanya. Memberi Sivia sedikit harapan kembali. Sivia menelan ludah. Itu tidak mungkin.






***






Dengan enggan Sivia melangkahkan kaki memasuki gerbang sekolah. pandangannya tak jelas arah. Ia sendiri tak mengontrol langkah kakinya. Nyawanya hilang entah kemana. Tidak bersatu dengan raganya. Akibat panik. Karena Rio. Terlalu panik.


Tanpa sadar, saat ia akan memasuki kelasnya, seseorang dari dalam kelas, yang hendak keluar menabrakanya. Membuat Sivia tersadar dan buku paket Kimia dan paket Bahasa Indonesia terjatuh. Belum lagi tali sepatunya juga lepas.


“Sorry-sorry.” kata Sivia, merasa menjadi pihak yang salah, sambil membungkuk, membenarkan tali sepatunya.


“Iya gak apa-apa.” jawab si korban, mebenarkan bajunya akibat tabrakan dengan Sivia.


Sivia berdiri, setelah mengikat tali sepatunya dengan rapih, dan kembali menjinjing kedua buku paketnya. Perlahan dia membenarkan posisi beberapa helai poni yang menutupi matanya. Dilihatnya wajah si korban yang baru saja menegakkan wajah. ‘Mampus RIO!’ batin Sivia, lalu kembali menunduk. Rio tersentak melihat siapa yang ada di hadapannya. Perasaan yang dulu ia endapkan sampai ke dasar tia-tiba menyeruak kembali. Perasaan benci. Rio menatap Sivia dengan tatapan angkuh, lalu berjalan keluar kelas. Meninggalkan Sivia yang terdiam mematung.


Sivia menggigit bibir bawahnya. Tak beranjak satu centi pun dari tempatnya terakhir berdiri. Sedangkan Rio sudah berjalan menjauh. Meninggalkan Sivia dengan luka yang membekas. Air hangat yang di produksi dari mata beningnya sudah siap untuk meluncur. Mengaliri pipi lembutnya.


Sivia menegadah. Menarik nafas dan menghembuskannya secara kasar. Dia lalu melangkah memasuki kelas, menuju bangkunya yang sudah ada Ify disana, tengah asik menyalin PR. Agni dan Oik yang duduk di belakang pun sama.


“Ada PR apa?” tanya Sivia, setelah duduk di bangkunya, dan membanting kasar tasnya. Dia lalu mengintip buku Ify.


“Bahasa Inggris. Lo udah belum?” kata Ify, tanpa menghentikan akifitasnya. Terus menulis dengan serius. Sivia setengah berfikir. Mengingat-ngingat. Dia lalu mengangguk.


“Gue udah.” Katanya. Dia memang telah mengerjakan PR itu semalam. Dengan kerja keras, karena terus menerus bayangan Rio mengusik pikirannya. Ify tidak menggubris.


Hening.


Sivia lalu mengeluarkan iPodnya. Baru saja ia akan menekan tombol untuk memutar lagu, sosok itu melewatinya. Sosok yang diam-diam masih memiliki dan selalu memiliki ruang istimewa di sudut hati Sivia. Sivia hanya mempu menunduk, seraya meremas ujung roknya. Ia benci mengapa ia dan pemuda itu harus terus menerus seperti ini. Ia benci mengapa ia masih menaruh hati pada sosok itu. Ia benci pada Rio karena Rio mebencinya.


Ify menyeleting tempat pensilnya, setelah menaruh pulpen ke dalamnya. Lalu menjawil pelan bahu Irva, mengembalikan buku Irva yang baru saja selesai ia salin. Ify mengusap pelan bahu Sivia. Berusaha mengerti luka yang terasa mengelupas di permukaan hati Sivia. “sabar yah Vi…semua pasti ada waktunya kok. Waktu dimana lo sama dia bakalan damai.” Kata Ify. Semalam Sivia mencurahkan semua perasaannya kepada Ify lewat telefon. Yang membuat Ify sendiri tidak mengerti jalan pikiran Rio, maupun Sivia.


Sivia mengangkat wajahnya. Menatap Ify dan mengangguk pelan. Berusaha mengulas senyum, tapi naas, gagal. Terdapat titik bening di sudut matanya. Cepat-cepat Sivia menyekanya. Tidak ingin sedikitpun buliran itu menelusuri pipinya untuk saat ini. Dan ia harap, untuk hari ini.


“ Lama kelamaan semua bakalan kayak biasa kok. Jangan jadiin ini beban, My sweetest friend.” Timpal Agni dari belakang. Sivia tidak menoleh. Haya mengangguk pelan. Karena ia tahu, jika menoleh ke belakang, ia akan melihat sosok itu. Dan ia tidak mau untuk melihatnya. Walaupun sebagian besar di hatinya sudah tidak sanggup menahan kerinduannya terhadap Rio. Ia ingin menatap setiap lekukan wajahnya dan menikmati setiap aura yang Rio pancarkan.






***






Sivia mengaduk-aduk jus jerukya menggunakan sedotan. Tak ada niat sedikitpun untuk menghirupnya. Dagunya ia topang menggunakan tangan kirinya yang kokoh. Bibirnya sedikit mengerucut. Ify, Gabriel, Agni, dan Oik yang ada disitu hanya mengangkat bahu. Tidak tahu harus berbuat apa untuk mengembalikan keceriaan Sivia, yang baru menghilang 2 hari tapi begitu terasa. Sivia terus melamun. Terus tenggelam. Tak peduli dengan gemuruh suara katin yang membuat kuping pengang.


“Vi…udahlah jangan di pikirin.” Kata Gabriel yang duduk di sisi kirinya. Sivia tiak mengindahkan ucapan itu. terus tenggelam dalam pikiran kosongnya. Gabriel mendengus pelan, kembali menikmati bubur ayamnya.


“Lo mau minta maaf lagi sama Rio? Biar, ya mungkin, semua bakalan lebih baik?” usul Agni tiba-iba. Yang walau, bukan suatu usul yang indah. Oik yang duduk di sisi kanannya mencubit pelan lengannya. Sedangkan Ify yang duduk di hadapannya menginjak pelan kakinya. Agni meringis.


“Gue gak tau. Gue benci. Gue kesel. Gue gak sukaaaaaa!” seru Sivia tiba-tiba. Mungkin ingin berteriak, tapi nafasnya tercekat. Lalu yang tercipta hanya suaranya yang lirih.


Gabriel merangkul Sivia, sahabatnya semenjak masuk SMP, “Vi, lo jangan gini lah. kalau kayak gini, Rio ngerasa dia hebat karena dia udah ngancurin lo secara gak langsung. Lo harus bangkit. Jangan di mau anggep lemah. Lo harus bersikap kayak dia bersikap ke elo. Oke? Dan…jangan pernah mintaa maaf!!!!!” Gabriel lalu mengusap pelan ubun-ubun Sivia. Ikut prihatin dengan sahabatnya itu.


Sivia menegakkan wajahnya, lalu perlahan menghirup jus jeruknya. “GUE HARUS BISAA!” katanya dengan nada penuh semangat. Lalu mengukir senyumnya. Senyum yang diam-siam selalu Rio ingat, dan kini, Rio rindukan. Dalam hati, Sivia berdoa agar ucapannya bisa menjadi kenyataan. Ia sendiri ingin terlepas dari jeratan ini.





***






Waktu tak akan pernah berhenti untuk berputar. Mengganti cerahnya langit menjadi begitu pekat. Andai waktu bisa diulang, semua orang yang ada di dunia pasti menginginkannya. Memperbaiki kesalahan di masa lalu.


Sivia duduk di sisi jendela kamarnya. Menyenderkan kepalanya di dinding sebelah jendela. Membiarkan tubuhnya di belai oleh angin malam yang berhembus secara kasar. Ia memeluk tubuhnya sendiri. Hanya memakai piama, tanpa memakai sweater atau jaket. Dinginnya udara malam ini begitu menusuk hingga rusuknya. Terasa menyakitkan. Terlebih jika….


Sivia menggeleng pelan. Cukup. Ia tak tahan dengan semuanya. Satu minggu sudah berlalu. Satu minggu ia tidak pernah tidur dengan nyenyak. Tidak pernah merasakan debaran jantungnya berdetak secara normal. Tidak pernah merasa lepas. Satu minggu itu penuh penyiksaan. Karena dia.


Rio. Membuatnya menjadi sebegitu buruk. Ia lelah untuk menanti Rio. Lelah menanti kapan Rio akan tulus memaafkannya. Lelah menanti sampai kapan ia dan Rio akan bersikap seperti ini. Ia tahu diri, ia hanya ingin berteman dengan Rio. Itu saja. Simple.


Angin malam yang berhembus, mengeringkan riak sungai yang membekas di pipi Sivia. Walau ia tahu, menangis tak akan pernah membuat masalah ini selesai, setidaknya ini bisa menguragi rasa sesak yang menyelimuti dadanya. Wanita menangis bukan karena dia lemah. Itu sarana untuk meluapkan emosinya.






***




Siapalah yang dapat mengetahui isi hati kecilmu, selain kau sendiri dan Tuhan yang Maha Mengetahui? Siapalah yang akan merasakan sakit yang kau rasa, akibat seseorang menggoreskan luka, secara sengaja, hingga membekas di dasar hati, yang melepuh jika kau melihat si pembuat luka?


Lelaki itu menatap kosong ke arah bentangan langit. Malam ini, langit begitu pekat. Tak ada setitik bintang pun yang muncul. Hanya cahaya bulan yang terus setia menerangi. Menemani dirinya, yang kini termenung sendiri.


Racun itu telah menggerogoti akal sehatnya. Dan perlahan, juga menggerogoti tubuhnya. Apa yang membuatnya bersikap seperti ini, ia sendiri tak tahu apa jelasnya. Yang ia tahu, secara pasti, ia tak ingin membuat seseorang itu merasakan luka yang ia rasakan.


Apakah ia tahu, bahwa dirinya sungguh amat keliru?


Dengan ragu, ia mulai menarikan jarinya di atas senar-senar gitar, yang sedari tadi hanya dipangkunya. Mulai mengekspresikan lara hatinya melalui gitar itu. Nada-nadanya membuat sebuah intro sebuah lagu. Lagu yang sedari dulu tetap bertahan, menjadi lambang kepedihan hatinya.






***






Terlarut dalam sebuah kepahitan bukan sesuatu yang baik. Bagaimanapun, kita harus terus bangkit. Menyongsong hidup yang telah menanti di depan. Menyambut cita-citamu dengan tangan terbuka. Gapai kebahagianmu kembali. Jangan pernah melepasnya. Genggam dengan tanganmu. Sekuat-kuatnya.


6 bulan sudah, Sivia dan Rio terus menyendiri. Memisahkan perasaan mereka berdua dengan ego yang mereka buat sendiri. Rio terus bersikap angkuh, tanpa memberikan Sivia peluang sedikitpun. Sedangkan Sivia, hanya memendamnya. Karena perasaan takut menjalari hatinya kuat-kuat.


“Vi, lo serius gak akan mau minta maaf lagi sama Rio?”


Sivia mendengus kencang mendengar pertanyaan Agni. Ia menghentikan aktifitasnya, yang sedari tadi hanya mengaduk jusnya menggunakan sedotan. “Gak tau!.” Jawabnya judes. Ia menopang dagunya menggunakan tangan kirinya.


Ify merangkul Sivia. Ikut merasakan apa yang selama ini sahabatnya rasakan. Sivia sudah berusaha melupakan ini sekuat tenaganya. Tapi ada dimana saat titik jenuhnya mulai menyeruak. “Jalanin aja yang ada di depan. Gak usah mikirin ini, oke?” kata Ify. Oik dan Agni ikut mengangguk. Sivia hanya diam. Mampukah ia bertahan lebih lama dengan keadaan seperti ini?






***






Sivia duduk di sisi koridor. Memandang ke arah lapangan. Melihat Riko, Cakka, Gabriel, Kiki, Septian, dan, ehm…Rio sedang bermain basket. Melakukan pertandingan three on three. Isitirahat kali ini ia pilih untuk duduk sendirian disini. Tepatnya, menyendiri. Ia hanya ingin mencoba untuk bersikap lebih dewasa.


Lelaki itu masih sama. Sangat sama. Caranya tertawa. Caranya mendribel bola. Caranya megelap peluh yang membasahi pelipisnya. Semuanya masih sama. Dan masih selalu Sivia ingat betul, secara detail. Yang Sivia simpan di dalam kotak hatinya yag paling rahasia. Tanpa satu orang pun yang tahu cara membukanya.


Seandainya waktu dapat di ulang….


Aaaah……… ia muak.


Seandainya semua permasalahan bisa di selesaikan dengan permintaan maaf. Mungkin, ini tak akan pernah terjadi. Mungkin saat ini, ia sedang duduk di samping Rio yang sedang duduk memijat lutunya sendiri, berusaha mengatur nafasnya yang terpenggal, menyodorkan sebotol air minum untuk Rio.


Aaahhhh….. menyakitkan. Itu tak akan pernah terjadi.


Sivia menggelengkan kepalanya cepat. Berusaha menghilangkan pikiran ini. Pikiran yang dapat membuat sikapnya berubah menjadi 180°.


“Jadi……gimana?” tanya seseorang, yang tiba-tiba sudah duduk di sisinya. Perlahan orang itu meneguk air dari botolnya.


Sivia menoleh. Menemukan Gabriel dengan keadaan keringat bercucuran dimana-mana. Padahal, ini masih istirahat. Walau istirahat kedua, tetap saja, mereka masih akan ada jam pelajaran. Walau hanya 1 jam saja.


“Gimana apanya?” kening Sivia berkerut. Sebenarnya ia mengerti. Sangat mengerti malah.


Gabriel terkekeh, mengalihkan pandangannya dari Sivia menuju lapangan, yang kini kosong. “Ya lo lah…sama Rio.” Kata Gabriel santai, kembali menatap Sivia, menyunggingkan senyum.


Sivia menarik nafas. Dadanya sedikit tercekat akibat memikirkan tentang Rio kembali. Ia mendesah pelan. “Gak tahu Yel, menurut lo…gue harus gimana?”


Gabriel menepuk bahu Sivia pelan, “Minta maaf, gak ada salahnya kok.”


“Kata lo waktu itu jangaaaaannn….” Kata Sivia heran, mengingat nasihat Gabriel waktu di kantin.


“Masalahnya, sekarang ini udah terlalu lama lo kayak gini. Menyiksa perasaan satu sama lain. Gue yakin, Rio sendiri ngerasa gak nyaman. Walau, lo udah berusaha ngelupai semua, dan bersikap seolah gak ada apa-apa, tapi lo pengen lah semuanya benar-benar kembali norman?” tutur Gabriel panjang. “gak akan bisa selesai kalau gak ada yang ngalah duluan.”


“Gue belum siap. Gue takut.” Kata Sivia, lalu menunduk.


“Kalau terus takut, kapan beraninya?” Gabriel kembali menepuk bahu Sivia, “ayolah. Lo pasti bisa kok. Rio juga gak akan ngapa-ngapain lo, kan?”


Sivia menoleh, menatap Gabriel yang tengah tersenyum. Memberinya sedikit semangat. Ia balas tersenyum, lalu mengangguk. “Besok yah Yel, anterin gue minta maaf.” Kata Sivia. Dalam hati, ia masih berharap, ini keputusan yang benar. Bukan keputusan yang nantinya akan kembali membuatnya kecewa. Gabriel mengacak pelan poni Sivia. Ia tahu, sahabatnya itu pasti bisa.






***






Hanya ditemani Cakka, Gabriel dan Mamah dari yang bersangkutan, Sivia terus berlari menyusuri koridor. Bau-bau khas tempat ini sudah sangat tercium jelas di hidungnya. Pikiran negative terus berkelabat dalam sukmanya. Membuatnya terus menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.


Mereka berhenti di depan sebuah ruangan. Di pintu ruangan, bertuliskan siapa pasien yang ada di dalam, beserta jam besuk yang secara khusus untuk pasien tersebut. Mamah membuka kenop pintu perlahan, menimbulkan suara decitan halus. Tak akan membangunkan siapapun.


Gabriel merangkul Sivia. Merasakan Sivia yang sudah mulai pucat dan bergemetar. Ia dan Cakka sendiri sudah tidak sanggup, jika apa yang sedari tadi mereka pikirkan, bahwa itulah sebuah kenyataan.


Dia tertidur. Belum terbangun. Hanya dibantu dengan beberapa alat medis yang tertempel di beberapa bagian tubuhnya, ia masih bisa bertahan. Mamahnya duduk di samping ranjangnya, menggenggam kuat jemarinya. Seakan berusaha mengirim seluruh kekuatan yang ia miliki, untuk seseorang yang ia genggam.


Gabriel melepas rangkulannya. Membiarkan Sivia berjalan mendekat. Terus mendekat. Hingga akhirnya menatap wajah orang itu dari dekat, secara jelas. Ia harap ini hanya sebuah mimpi buruk. Agar saat ia terbangun, semua akan baik-baik saja. Ia rela bermusuhan selamanya dengan seseorang yang tergoler lemah ini, dari pada harus melihat seseorang ini dengan keadaan sebegitu memilukan.


Sivia menarik bangku, duduk di samping ranjang. Ranjang Rio. Rio lah pasien itu. Pasien dengan keadaan mengenaskan. Sivia megusap lembut rambut Rio. Sekuat tenaga, ia terus mempertahankan beningnya, agar tak terjatuh begitu saja di pipinya. Sementara Cakka dan Gabriel, berdiri di kaki ranjang. Mereka sendiri masih sangat tidak percaya dengan ini semua.


“Udah 2 minggu Rio disini, dia koma.” Kata Mamahnya Rio. Perlahan ia menghapus jejak air mata yang membekas di pipinya. “Sebenarnya dari kemarin dia memanggil nama kalian bertiga, tapi tante baru ngeresponnya hari ini. Dan tante harap, dengan adanya kalian disini, bisa ngebantu Rio untuk sadar.” Mamahnya Rio kembali terisak. Ia duduk di sebrang Sivia, hanya di pisah oleh ranjang Rio.


“Emang Rio…sakit apa Tan?” tanya Sivia berhati-hati. Matanya sudah berkilau, menahan mutiaranya.


“Leukimia.” Jawab Mamah Rio. Sivia diam. Separah itukah?


“Dari kapan?” tanya Sivia lagi, ingin mengetahui secara jelas.


“Kami tahunya semenjak kami baru pindah ke manado. Rio yang minta pindah ke manado, dia ingin melupakan kenangan yang ada disini. Tapi gagal. Lalu tiba-tiba, dia meminta kami untuk kembali pindah ke Jakarta. Dan dia minta untuk di sekolahkan di sekolah yang sama dengan kamu.” Bening dari mata Mamahnya Rio kembali mengalir. Tanpa ada hasrat sedikitpun untuk diseka.


Pondasi pertahanan bening itu runtuh. Menyebabkan bening itu menyeruak keluar, membanjiri pipi Sivia. Membentuk aliran sungai kecil. Apakah yang ia dengar, dari ujung kalimat Mamahnya Rio benar? Lalu…mengapa Rio….


Cakka dan Gabriel memilih duduk di sofa. Terus memanjatkan do’a untuk sahabat mereka. Walau Cakka dan Rio baru berteman sekitar 8 bulan, rasa persahabatan mereka mulai terasa. Dan kini, ia merasa belum sempat kehilangan, jika Rio nantinya akan benaar-benar pergi.


“Rio menulis surat untukmu. Ia menulisnya saat ia baru pindah dari manado ke Jakarta, saat hari pertama. Dan dia menitipkannya ke tante, untuk di berikan kepada kamu jika….kondisinya seperti ini….” Mamahnya Rio menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Dadanya sesak. “Kamu mau lihat?” Sivia hanya mengangguk pasrah. Tak mampu untuk berkata apapun lagi. Ia sudah tak sanggup untuk menopang dirinya sendiri. Terlalu lemah.






***






Dear my sweetest ex girlfried.






Hahahaha. Sebenernya aku masih gak rela manggil kamu sebagai mantan aku. Karena kenyataannya, posisi kamu masih sama saat kamu masih jadi cewek aku. Kamu tau gak kenapa aku nulis surat ini? Karena aku sayang sama kamu. Aku sayang banget. Aku pengen ngejagain kamu semaksimal mungkin. Sekuat tenaga aku. Tapi itu gak bisa. Jujur, waktu kita putus di taman itu, saat aku ngeliat kamu berduaan sama Alvin, aku sakit. Sakit banget. Aku gak nyangka kamu bisa kayak gitu ke aku. Aku gak ngasih kesempatan ke kamu buat kamu ngejelasin ke aku, aku malah gak maafin kamu saat kamu minta maaf. Aku sebenarnya gak tega ngeliat kamu kayak gitu. Aku gak tega liat kamu nangis. Karena aku tahu, kamu udah menyesali semuanya. Tapi entah kenapa aku masih belum bisa buat maafin kamu. Karena gengsi kali ya? Entah ya aku gak tau. Pokoknya sampai sekarang aku masih sayang sama kamu. Aku udah maafin kamu, sebenarnya. Bahkan harusnya aku kali ya, yang harus minta maaf sama kamu? Okedeh, maafin aku ya karena aku udah gak maafin kamu. Aku nyeseeeeeeeel banget. Dan soal penyakit ini? Ehm…aku baru tau penyakit ini sekitaaaaar setahun yang lalu kali yak. Gak tau juga deh. Mungkin ini juga yang bikin aku gak bisa buat bersikap baik ke kamu. Karena aku takut, disaat kita udah baikan, kita jadi deket, entah sebagai teman, atau malah kita balikan, aku harus ninggalin kamu. Aku tau itu konyol. Itu terlalu kayak sinetron dan novel lainnya. Tapi memang iya. Aku lebih milih untuk nyakitin kamu untuk hal itu aja, sekali. Gak untuk kedua kali. Ah…aku juga hak ngerti apa kesimpulannya. Pokoknya, aku minta maaf, aku sayang kamu. Peluk cium aku buat kamu. Dan aku harap, kamu bisa cepet-cepet lupain ini. Ah, maksudnya nyimpen ini di kotak khusus kenangan kita berdua. Dia hati kamu. Jangan terus terpuruk. Oke? Peluk cium hangat dari aku buat kamu. Ohiya, bilangin ke Agni dan Ify, aku juga minta maaf karena udah nyakitin kamu, sahabat mereka. Buat Gabriel juga, aku makasih karena dia udah setia jadi sahabat aku. Buat Cakka juga. aku sayang kalian semua. Terlebih kamu. Jangan pernah lupain aku ya.






Mario.






***






Sivia duduk di bangku taman. Pakaiannya masih lengkap berwarna hitam. Ia tidak kuat untuk terus berada di dekat tempat peristirahatan terakhir Rio. Langit seakan ikut merasakan duka yang ia rasakan. Gerimis mulai tercipta. Menemani Sivia yang duduk sendirian di bangku itu. Tak peduli kilat yang terus menyambar.


Air matanya sudah menggering. Bahkan tak nampak, karena air hujan yang semakin deras, ikut membasahi tubuhnya. Hanya surat terakhir dari Rio yang ia selamatkan. Ia taruh di saku celananya. Berharap surat itu tak rusak sedikitpun. Hanya itu peninggalan terakhir dari Rio.


Tuhan, mengapa secepat ini? Mengapa kau tak memberikan satu hari saja, untuk Sivia meluapkan rasa rindunya kepada Rio? Mengapa hanya berjarak 8 jam, setelah jengukkan pertama Sivia di rumah sakit itu? Tuhan, apa lagi rencanamu?


Sivia hanya diam. Memandang kosong ke depan. Menikmati rintikkan hujan yang berjatuhan tepat di ubun-ubunnya. Biasanya ada Rio yang melarangnya untuk hujan-hujanan…..






***


OKE INI ANEH BANGET. NGAWUR. GAK JELAS. KOMENNYA YA. KARENA AKU TAU, INI SEMUA FREAK. HA HA HA. Aku tunggu setiap kritikan dari kalian.






Peaceloveandgaul


@dhitals

Friday, September 24, 2010

Pelagi Di Malam Hari (new version)

Pelangi di Malam Hari.

Halo! Ini cerpen perdana aku. Aku ambil dari laguna vidi aldiano yang judulnya sama kayak cerpen ini hehe dalem banget lagunya kan? Hehe langsung aja yah dibaca. Monggooooooooo! Maaf kalau jelek sebelumnya.

“Vi, pulang sekolah mau aku jemput gak?” Tanya Rio, lewat telefon, saat Sivia sedang istirahat. Rio adalah pacar Sivia. Mereka baru menjalin hubungan selama 3 bulan, tetapi masa pendekatan mereka terbilang terlalu lama. 6 bulan atau setengah tahun. Mungkin agar perasaan mereka lebih mantap dan menyatu. Rio, Mario Stevano. Anak SMP Citra mandiri. Duduk dikelas 3. Sedangkan Sivia, murid dari SMP Nusa Bangsa.
“Nggak usah Yo, masa kamu harus ke sekolah aku dulu terus pulang?” tolak Sivia halus. Padahal, letak sekolah mereka berdua terbilang cukup dekat.
“Nanti aku emang mau ada perlu dulu ama Gabriel, mau ngomongin basket. Jadi sekalian aja jemput kamu.”
“Yah aku kira kamu beneran mau jemput aku.” kata Sivia, nadanya dibuat-buat seperti orang marah, “yaudah nanti kesini aja.”
“Hehehe. Oke. Udah yah. Dadah.” Rio yang langsung memutuskan sambungan telfon.
Gemuruh suara kantin yang sangat ramai sangat terdengar jelas oleh Sivia, Agni, Ify, dan Gabriel. Ify dan Gabriel berpacaran. Mereka sedang menikmati waktu istirahat sekolah yang sangat sebentar ini.
“Yel, emang sekolah kita sama sekolah Rio mau tanding basket lagi?” Tanya Sivia pada Gabriel, lalu menghirup Jus Alpukatnya yang terakhir.
“Ngga kok.” jawab Gabriel, setelah menghabiskan isi mulutnya yang dipenuhi siomay. ”Cuma nanti bulan depan ada sparing semua sekolah di kota ini jadi sekolah kita kerja sama gitu buat latihan.”
“Oh gitu.” Sivia manggut-manggut, lalu melanjutkan memakan chikinya.

~
Bell pulang sekolah pun berdentang. Anak-anak mulai berkoor, meminta segera dipulangkan kepada guru yang sedang mengajar. Tampaknya guru yang sedang mengajar di kelas Sivia dan Ify tidak dapat di protesi, karena dia malah terus melanjutkan, ‘tanggung’, katanya. Ify dan Sivia tidak sekelas dengan Gabriel dan Agni, tetapi mereka berdua sekelas. Sekitar 5 menit kemudian, guru pengajar pun mengijinkan mereka untuk membereskan buku, bersiap-siap untuk pulang. Sivia dan Ify langsung berjalan ke kantin.
“Halo.” sapa Sivia, setelah berdiri di sisi meja yang sudah ditempati oleh Gabriel, Agni, dan Rio. Rio langsung menggeser tempat duduknya, memberi Sivia celah untuk duduk di sampingnya, Sivia pun duduk.
“Lama amat bubarnya?” Tanya Rio, padahal mereka pun baru berkumpul sekitar 5 menit yang lalu.
“Kenapa? Kangen yah?” kata Sivia, nadanya cukup menggoda. Rio hanya mengacak poni Sivia pelan, mereka sudah tidak bertemu sekitar satu minggu.
“Emang terakhir pelajaran siapa Fy?” Tanya Agni yang sedang asik memakan kacang kulitnya.
“Biasalah Bu Ira.”jawab Ify, lalu ikut memakan kacang kulit milik Agni. Agni melengos, Ify hanya tersenyum kuda.
Mereka pun berbincang cukup lama. Terutama Gabriel Rio dan Agni yang mengobrol seputar basket. Gabriel. kapten basket putra, sedang Agni kapten putrinya. Rio pun kapten di sekolahnya, SMA Citra Madiri. Tak terasa waktu terus berlalu. Kini jam di tangan kiri mereka sudah menunjukkan pukul 3, menjelang sore. Sekolah tidak sepi. Karena ada beberapa ekskul yang masih berlatih. Tetapi mereka memutuska untuk segera ulang, agar tidak terlalu sore. Sesuai janji di awal, Rio mengantar Sivia dengan motor andalannya, ke rumah
“Yo mampir dulu yu.” ajak Sivia setelah turun dari motor Rio. Dia kini tengah berdiri di sisi kiri motor Rio.
“Gimana yah?” kata Rio, berpura-pura mikir, “Boleh deh.” Sivia tersenyum. Rio pun turun dan mengikuti Sivia dari belakang, berjalan memasuki pekarangan rumah Sivia. Rio bersalamn terlebih dahulu dengan Mamahnya Sivia. Mamah Sivia memang sudah mengenal Rio, karena Sivia banyak bercerita tentang hubungan mereka. Mereka lalu ke teras belakang. Bermain laptop Sivia, bernyanyi, berbincang, bercanda. Melepas rindu yang terasa begitu menyesakkan di dada. Ketika jam sudah menunjukkan pukul 5.30, dan langit sudah mulai berwarna ke-oranye-oranye-an, Rio pun berpamitan pulang. Rumah Rio dan Sivia yang memang berada dalam satu komplek, walau berbeda blok -bisa dibilang berjauhan, membuat Rio santai untuk pulang jam berapapun dari rumah Sivia.

~

Matahari sudah nampak gagah. Mulai memasuki cahayanya menuju ruangan kecil. Kamar Sivia. Ini hari Sabtu. Weekend. Karena Sekolah Sivia libur, dia sengaja bermalas-malasan. Bangun siang. Lebih dari pukul 9. sivia terbangun karena mersakan ada sesuatu yang bergetar, ternyata ponselnya yang memang di taruh di sebelah bantalnya. Dia mengucek-ngecek pelan matanya, lalu mulai meraba, mencari ponsel.

From : Alvin Jonathan Sidunata
+62856XXXXXX
Vi, sekarang jalan yu!

Baru saja Sivia membaca nama si pengirim, jantung Sivia mulai berpacu 50 kali lebih cepat. Setelah membaca isi pesan itu, perutnya mulai melilit. Keningnya mengernyit, alisnya bertautan. Perasannya seperti nano-nano. Senang. Bingung. Heran.
Alvin, Alvin Jonathan. Lelaki bertubuh tegap, berkulit putih, mata sipit dan badan yang cukup berisi. Dia adaah salah satu lelaki yang ehm…cukup memiliki ruang khusu di hati Sivia. Alvin yang pertama kali membuat Sivia merasakan deburan ombak yang membasahi hatinya. Yang membuat pipi Sivia memerah setiap Alvin mengajaknya berbicara. Dan yang membuat Sivia berpikir, mungkin inilah cinta pertamanya. Walau hanya sebatas cinta monyet. Mereka kenal di salah satu tempat les khusus bahasa Inggris. Ketika mereka berdua duduk di bangku kelas satu SMP.

To : Alvin Jonathan Sidunata
+62856XXXXXX
Ngapain Vin?

From : Alvin Jonathan Sidunata
+62856XXXXXX
Main aja Vi, gw udah lama gak ketemu lu.

To : Alvin Jonathan Sidunata
+62856XXXXXX
Jam? Ke?

From: Alvin Jonathan Sidunata
+62856XXXXXX
Jam 11 gue jemput yah ke mana aja deh.

“Yaudah deh gak apa-apa. Gue juga kangen sama dia” batin Sivia, liar.

From : Alvin Jonathan Sidunata
+62856XXXXXX

Oke!

Walau matanya masih enggan untuk sepenuhnya terbuka, kepalanya yang masih betah diam di atas bantal, dan tubuhnya yang masih rindu kepada selimut yang menutupinya. Sivia memaksakan semuanya. Dia mulai bangkit, dan berjalan menuju kamar mandi. Walaupun dia berjalan dengan keadaan masih sempoyongan.
Tak cukup waktu satu jam, Sivia sudah terlihat rapih tetapi tetap menunjukkan sisi anggunnya. Dengan dibalut dress bermotif kembang kecil berwarna hijau muda, dan shall berwarna hitam-merah, membuat dia terlihat lebih segar. Setelah memastikan di depan cermin tak ada satupun yang menodai wajahnya, dia keluar dari kamar, menuruni tangga, menuju kamar Mamahnya, untuk berpamitan.
“Mah, Via mau main yah.” Katanya, I depan pintu kamar mamahnya. Mamahnya sedang menyisir rambutnya di depan meja rias.
Mamahnya menoleh, Sivia masuk, duduk di ranjang. “Mau main sama siapa? Udah rapih lagi.”
“Sama… Alvin Mah.” Jawab Sivia, sedikit ragu. “Boleh kan?” Mamah mengernyitkan kening.
“Alvin….temen les kamu itu?” ujar Mamah Sivia. Sivia mengangguk. “Rio tau?” kali ini Sivia menggeleng lemah. Mamah menghela nafas, “yaudah gak apa-apa. Mamah takutnya nanti Rio gimana lagi. Asal kamu jaga perasaan Rio aja.” Lalu, mamah Sivia melanjutkan menyisir rambutnya yang bergelombang, panjang sepinggang.
“Iya mah, Sivia juga tahu kok.”
“Emang di jemput jam berapa?” tanya Mamah, lalu mengerling pada jam yang kecil yang duduk di sudut meja riasnya.
“Setengah jam lagi sihhh……” Mamah Sivia hanya mengangguk.
“Makasih ya Mah….” Kata Sivia dengan nadanya yang manja. Lalu berjalan keluar, menuju ruang TV. Mamahnya hanya menggelengkan kepala. Melihat anak gadisnya yang sedang dalam masa pubertas.
Waktu setengah jam tidak begitu terasa karena Sivia menonton sebuah acara yang cukup menghibur. Dalam hati dia bertanya, mengapa dia sangat niat bertemu dengan Alvin, sampai sudah siap setengah jam sebelumnya. Biasanya, jika ia dan Rio akan jalan saja, Rio selalu dibuat menunggunya, yang terlalu santai dalam bersiap-siap.

“Pasti Alvin.” batin Sivia, ketika suara motor mulai terdengar menderu. Dia keluar rumah, menyembulkan kepalanya ke pintu rumah, “Masuk dulu Vin.” Katanya, melihat Alvin masih duduk di atas motornya. Alvin mengangguk, lalu segera turun dan memasuki pekarangan rumah Sivia. Sivia menyilahkan Alvin masuk, walau sedikit rasa canggung menyelimuti benaknya.
“Mah…ada Alvin.” Kata Sivia, setelah berada di ambang pintu kamar Mamahnya. Mamah mengangguk dan segera keluar, diikuti Sivia di belakangnya.
“Eh Alvin, apa kabar?” tanya mamah, ramah. Sebelumnya, Alvin memang suka main ke rumah Sivia. Tepatnya bukan main, dulu Alvin suka mengantar Sivia ketika pulang les.
“Baik tante.” Kata Alvin, yang duduk di sofa ruang tamu Sivia yang berwarna merah marun. Dia lalu bangkit, untuk bersalaman dengan mamah Sivia.
“Sivia nya aku pinjem dulu yah Tan…” kata Alvin sopan, seraya tersenyum. Hati Sivia sedikit liar melihat senyum Alvin yang sangat dirindukannya.
“Iya, ati-ati yah………”
Lalu, Alvin dan Sivia pun berangkat, setelah sebelumnya Sivia juga berpamitan dengan mamahnya. Dengan menggunakan motor yang sama seperti pertama kali Sivia di bonceng dengan Alvin, mengingatkan Sivia kembali pada masa-masa itu. Entahlah, dia sendiri bingung dengan perasaannya yang seperti ini.
Alvin melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Dadanya berdegup kencang. Degupan yang sangat ia rindukan. Entah mengapa, ini degupan yang hanya akan terjadi jika ia berada di dekat Sivia. Dia tahu, ini sebuah perasaan yang salah, karena seratus persen dia tahu, hati Sivia telah sepenuhnya milik orang lain. Tapi, aa benar hati Sivia tak meberikannya celah sedikit pun? Alvin mulai liar.

~

Di café yang bernuansa klasik, dengan sofa berwarna biru langit dan dindingnya yang di cat berwarna abu-abu muda, membuat kesan simple dan nyaman sangat terasa. Alvin dan Sivia memilih duduk di tempat yang berada di pojok ruangan. Setelah waitress datang, menanyakan menu apa yang akan mereka pesan, suasana canggung menyelimuti mereka. Sivia sibuk memainkan kukunya, sedangkan Alvin hanya mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. Sesekali pandangannya menyapu ruangan.
“Lo tambah cantik Vi.” puji Alvin saat waitress baru saja menaruh pesanan di hadapan mereka. Tanpa di sadari, wajah Sivia merona.
“Emang dari dulu gue cantik kali Vin.” jawab Sivia narsis, berusaha menyembunyikan nada gugupnya. Dalam hati dia berdoa agar suaranya tidak berubah menjadi suara kodok, apalagi menghilang.
“PD banget lo.” Sivia memajukan beberapa centi bibirnya. Alvin tertawa renyah, tawa yang mengundang Sivia untuk ikut tertawa sesaat. Lalu mereka pun menikmati pesanan mereka dengan kebisuan. Hanya dentingan suara piring yang beradu dengan sendok, garpu atau pisau.
“Gimana sekolah lo Vin?” Tanya Sivia ketika baru selesai menghabiskan pesanannya, dia lalu menyeruput minumannya.
“Ya…lumayan seru lah. tapi karena udah kelas 3 jadi lebih cape aja. Banyak pelajaran tambahan.” Jawab Alvin, sekenanya. Sivia manggut-manggut. “Lo juga kan?”
“Iya cape banget….”
“Lo masih les di tempat yang dulu?” kata Alvin, memainkan bibir gelas menggunakan jari telunjuknya.
“Udah nggak. Males. Gak ada waktu juga. lo juga kan?” kata Sivia, memain-mainkan sedotannya, lalu menghirup minumannya lagi.
“Iya…paling nanti udah SMA….” Sivia hanya mengangguk. Kebisuan mulai tercipta kembali. Tak ada yang terlalu berani bertanya lebih banyak. Mereka sama-sama diselimuti kecanggungan. Mungkin karena kenangan-kenangan yang dulu sempat mereka ciptakan. Sivia dan Alvin sendiri berusaha menetralkan perasaan hati masing-masing.
“Cowok lo siapa Vi?” tanya Alvin, dalam hati berharap pertanyaannya tak salah.
“Rio.” Jawab Sivia. “cewek lo siapa?”
Alvin menggeleng lemah, matanya menatap piring-piring kotor yang berada di hadapannya, “gak ada.” Katanya, lalu menghembuskan nafas berat.
“Yaaaah….cari dong Vin. Lo kan ganteng.” Kata Sivia, berusaha menghibur dengan sebuah kenyataan yang ada.
Alvin menatapnya, lalu tersenyum kecut, “cewek yang gue suka aja gak suka sama gue.”
“Kalau jodoh gak kenaman kok Vin. Santai aja….”
“Thanks Vi…” Sivia mengangguk.
Selanjutnya mereka menghabiskan waktu sekitar satu jam, untuk sekedar berbicang. Layaknya sahabat lama yang sudah lama tak berjumpa. Tak ada pembicaraan yang serius. Hanya membicarakan masa lalu, yang membuat hati mereka berdua sedikit membara. Sekitar jam 3, Alvin langsung mengantarkan Sivia pulang ke rumahnya.

***

Rupanya setelah pertemuan mereka di café, hunngan Sivia dan Alvin semakin dekat. Tanpa ada yang mengetahui hal itu. mereka sendiri pun tak tahu, apa maksut dari kedekatakn mereka ini. Apakah hanya kedekatan sahabat, atau…
2 minggu berlalu. Sivia menerima kedatangan Alvin yang mulai memasuki kehidupannya kembali. Dia rindu Alvin. Dalam 2 minggu semua terobati. Rio tak mengetahuinya. Sivia digelayuti perasaan bersalah. Hatinya kalut. Mengapa tiba-tiba tumbuh perasaan yang dulu pernah juga mengisi hati Sivia?
Sivia merasa telah membohongi Rio secara habis-habisan. Walau Rio tak pernah curiga, karena Rio sendiri disibukan dengan berbagai kegiatan di sekolahnya. Tapi apakah Sivia masih bisa disebut pacar yang baik, jika dia sendiri secara pelan-pelan telah menghianati Rio?
Sepertinya terlambat, perasaan antara Alvin dan Sivia sudah benar-benar di luar kontrol yang ada. Alvin secara terang-terangan, sekitar 3 hari yang lalu, mengaku pada Sivia bahwa hatinya masih terbawa pergi oleh Sivia. Masih menyimpan rasa padanya. Sivia tak munafik, dia senang, karena dia sendiri pun mulai merasakan bahwa dia mulai membalas perasaan Alvin. Liar dan salah. Sangat salah.
Hari ini, secara tiba-tiba - bagi Sivia, Alvin menjemputnya menggunakan motor andalan - dengan sejuta kenangan - itu. sivia yang heran, karena Alvin tidak memberitahu sebelumnya, akhirnya mengikuti ajakan Alvin. Tak jauh, Alvin hanya mengajaknya ke taman yang berada di komplek Sivia.
“Ngapain ngajak gue kesini Vin?” Tanya Sivia, saat mereka baru saja tiba di taman. Bukannya menjawab pertanyaan Sivia, Alvin malah terus berjalan menuju sebuah bangku yang berada di bawah pohon yang cukup rindang. Sivia hanya mengikutinya, duduk di bangku, di samping Alvin.
Alvin menghela nafas, menyenderkan tubuhnya ke punggung bangku, “Gue mau jujur,”ucap Alvin menggantung. Entah kenapa baru tiga kata yang teruca dari bibir Alvin, fikiran-fikiran di otak dan hati Sivia mencuat. Menemukan berbagai kemungkinan, hingga kemungkinan terburuk sekalipun, ”sebelumnya lo pasti udah tau dengan sikap gue ke lo kalau gue masih sayang sama lo, tapi gua juga sadar lo udah punya Rio. Rio lebih baik dari gue. Tapi gue kira selama 2 minggu belakangan lo kayak ngasih harapan ke gue.” Kata Alvin datar. Pandangannya lurus berusaha menerawang. Hatinya getir. Berharap ini waktu yang tepat dan semua yang terbaik. Dia sudah menerima semua resikonya. Semua resiko atas kelakuannya selama ini.
Sivia menunduk. Tak mampu menunjukan mukanya pada siapapun. Rasa bersalah kini berada di dasar hatinya. Terus menghantuinya. Otaknya berfikir 1oo kali lebih cepat. Aliran darah sangat terasa desirannya. Perlahan Sivia mengangguk, ikut menatap lurus, “Iya gue tau Vin… maaf.”
“Sorry gue udah lancang masuk ke kehidupan lo yang sekarang. Padahal gue tau jelas, ada Rio, pacar lo, yang jauh lebih baik dibanding gue. Dan, lo udah seneng dengan adanya dia.” Pernyataan Alvin membuat Sivia terenyuh. Dia sendiri sebagai kekasih Rio, seolah melupakan, bahwa Rio lah yang selalu membuatnya bahagia dan tersenyum.
“Ngga kok Vin.” kata Sivia. Alvin menoleh ke arahnya. Sivia tersenyum, melihat kening Alvin yang berkerut. “entah kenapa gue seneng lo masuk ke kehidupan gue lagi. Padahal gue tau jelas, semakin lama kalo di biarin ini semua tuh salah. Terlebih…waktu gue tau…ternyata perasaan yang dulu hadir lagi. Perasaan yang dari dulu berusaha gue hilangin, dan ketika gue udah berhasil, lo muncul lagi. Tapi gue sadar gue punya Rio. Tapi yah kan gue bilang, jodoh gak akan kemana kan?” lanjutnya tegas, seraya menundukkan kepalanya. menahan bening yang mulai terbit dari sudut matanya.
“SEKARANG LO MILIH SIAPA VI?” Tanya seseorang dari belakang. Nadanya tinggi dan, siapapun yang mendengarnya tahu, bahwa emosinya sedang di atas batas normal. Sivia dan Alvin langsung menoleh. Terlebih Sivia, dia sangat hafal suara ini. Rio. Rio yang sedari tadi diam-diam membuntuti mereka berdua. Rio yang sedari tadi hanya mendengarkan, menahan emosi yang kian meletup, sampai akhirnya tidak bisa tertahankan lagi.
“Ri…oooo. Kamu dari kapan……” ucap Sivia terbata, melangkah mendekati Rio yang berdiri sekitar 3 meter dari bangkunya. Alvin diam mematung. Merasa bersalah. Seandainya dia tidak mengajak Sivia kesini. Seharusnya dia mengajak Sivia ke tempat yang jauh. Bahkan jika bisa tempat yang tak berpenghuni. Agar tak ada siapapun yang mendengar bahkan mengetahui. Hanya Tuhan, mereka, dan malaikat.
“Gue dari tadi disini. Gue denger semuanya!” kata Rio, menunjuk-nunjuk Sivia dengan kasar. “Lo tega yah Viiiii……” Bening dari sudut mata Sivia sudah tak tertahankan, mengalir, mengikuti alur. Deras, membasahi pipi. Ingin sekali rio menghapus air mata perinya itu. melihatnya menitikan air mata setetes pun Rio tak tega. Apa lagi seperti ini. Tapi emosi mengalahkan semuanya. Rasa kecewa membuncah dalam benaknya. Tak percaya dengan semua ini. Rio dikhianati.
“Denger pejelasan gue dulu Yo. Sivia gak salah.” kata Alvin, meminta sedikit kelonggaran agar diberi kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Dia bersalah. Dia. Salah.
“Kalian berdua salah.” bentak Rio, memandang Sivia, -yang menunduk di hadapannya, dan Alvin secara bergantian. ,”dan lo Vi, gue kecewa sama lo. Kita putus!”
Rio langsung berlari. Meninggalkan taman. Berharap semua tertinggal dalam jejaknya. Dia masih tidak percaya.
Sivia merosot ke tanah. Darahnya membeku. Tak sanggup untuk menopang tubuhnya sendiri. Kemungkinan terburuk itu terjadi. Alvin membantu Sivia berdiri. Memapah Sivia menuju motor miliknya. Mengantarkannya pulang, setelah sebelumnya dia menghapus rinai air maa yang menganak sungai di pipi lembut Sivia. Sivia diam. Pandangannya kosong. Hatinya kalut. Menyesal.

~

Sivia berantakan. Kemarin, Mamah Sivia sempat marah kepada Alvin, tapi setelah Alvin menjelaskan semuanya, mamah Sivia hanya mengangguk. Berusaha mengerti masalah yang, wajar, dialami oleh para remaja.
Semalaman Sivia menangis. akhirnya Sivia tidak masuk sekolah. mamah Sivia telah membujuk Sivia untuk makan. Takut Sivia terserang sakit. Sivia berulang kali menolak. Dia hanya duduk di sudut ranjangnya, mendekap boneka pemberian Rio, menangis.
Pulang sekolah, Agni dan Ify mejenguk Sivia kerumah. Walaupun mereka berdua pun belum mengetahui secara jelas mengapa Sivia tidak masuk sekolah. Mamah Sivia menijinkan, dan langsung mempersilahkan mereka memasuki kamar Sivia.
“Vi…” ucap Ify di depan pintu kamar Sivia. Agni mengetuk pelan pintunya.
“Masuk.” Terdengar jawaban dari Sivia dengan suara tersendat. Via dan Agni membuka pintu kamar Sivia. Mereka kaget melihat kondisi kamar Sivia dan Sivia sendiri yang sudah sangat bernatakan. Mereka berhambur mendekati Sivia, duduk di samping ranjang Sivia.
“Lo kenapa Vi?” Tanya Agni dengan lembut. Sivia menggeser pelan duduknya, meminta Agni agar duduk di sampingnya. Agni pun duduk di sampingnya. Sivia menyenderkan kepalanya ke bahu Agni. Membiarkan air matanya membasahi bahu Agni.
“Lo cerita yah ke kita?” pinta Ify, yang duduk di hadapan Sivia.
“Gue bego. Gue tolol. Gue ngecewain Rio.” tangis Sivia kembali meledak, Agni mengelus lembut rambutnya, sedangkan Ify mengusap lembut tangannya.
“Coba lo ceritain semuanya.” pinta Ify lagi dengan lembut.
Sivia mengangguk. Dia mengangkat kepalanya dari bahu Agni. Mulai menjelaskan semuanya. Semua yang berawal dari SMS di sabtu siang. Walau nadanya tersenggal dengan isakannya. Kedua sahabatnya berusaha mengerti. Mencari kesimpulan dari semuanya.
“Lo jelasin semuanya sama Rio yah?” usul Agni dengan lembut.
Sivia menggeleng, “Gue salah Ag, gua sayang sama Alvin lagi. Itu salah banget!” kata Sivia membuat pernyataan. Agni dan Ify semakin bingung dengan semuanya.
“Lo tenangin diri lo dulu. Lo minta maaf sama Rio yah?” kata Agni, mengelus pelan pundak Sivia.
“Gue salah kan?” Tanya Sivia, menatap keduanya bergantian, dengan tatapan seolah berkata, ‘jawab jujur dong, gua salah kan?’
Agni menghela nafas berat, “Gue boleh ngomong jujur?” tanyanya, Ify menatapnya tajam. Agni tak menghiraukan.
“Jujur Ag, lo jujur gue bakal lebih enak.” Jawab Sivia, menghapus pipinya yang di keraki oleh sisa-sisa air mata.
Agni menepuk pelan pundak Sivia, “Menurut gue lo salah Vi, lo udah ada yang punya tapi kenapa lo ngeladenin Alvin? Dulu waktu kelas 1 lo tau kan Alvin cuma bilang suka lah sayang lah sama lo tapi apa buktinya? Nihil! Ada Rio yang sayang banget sama lo. Rio yang pujaan di sekolahnya.” tutur Agni jujur. Berusaha setiap kata-kata dari runtutan kalimatnya tak membuat Sivia semakin merasa bersalah atau menyakitit Sivia. Sivia tertegun, dia menundukkan kepala. Menahan air yang mulai di produksi dari balik matanya. ”Lo tau kan lo ngedapetin Rio dengan susah? Kalian sama-sama suah di dapetin! Dan lo tau kan lo cinta pertama Rio setelah Rio trauma atas kematian mantannya, semenjak kematian mantannya cuma lo yang bisa buka hati dia lagi. Kenapa lo kecewain dia Vi?” lanjutnya panjang lebar. Agni menggigit bibir bawahnya. Semoga dia tidak memperburuk keadaan.
Sivia tersenyum ke arah Agni, senyum tulus kepada seorang sahabat sejati. Ify dan Agni heran. “Thanks yah Ag lo udah ngomong jujur dan nyadarin gue.” Ucapnya, ”Mungkin gue emang cewek paling bego di dunia. Gue nyia-nyiain cowok kayak Rio. Gue emang bukan cewek yang pantes buat Rio.”
“Sorry yah Fy.” Kata Agni, mengelus pelan pundak Sivia.
“Sekarang gue baru sadar kalau gue sayangnya cuma sama Rio ! Gue cuma terobsesi sama Avin.” kata Sivia, menunduk.
“Sekarang lo minta maaf yah sama Rio?” kata Ify.
“Nanti yah. Gue belum siap.” jawab Sivia, pandangannya nanar. Ify hanya mengangguk. Tidak tega melihat kondisi sahabatnya.
“Kita pulang dulu yah. Tenangin diri lo.” Kata Agni, pamit. Sivia mengangguk.
“Thanks yah.” Agni dan ify hanya mengacungkan kedua jempol mereka. Lalu mereka berdua melangkah keluar. Untuk pulang.
Sivia masih terdiam. Berusaha mencerna semua perkataan Agni yang secara tepat sangat benar. Walau dia di pojokkan, tapi itulah kenyataan. Sivia menghela nafas, berat. Dadanya terhimpit. Dia berharap semua bisa berakir secara bahagia.

***
Dengan dada yang berdegup kencang, Gabriel tetap memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah Rio. Entah apa yang membuat dadanya berdegup kencang. Yang jelas, tujuannya hanya ingin membantu sahabatnya.
Baru 3 kali Gabriel mengetuk pintu, terdengar sahutan dari dalam. Lalu, selang beberapa detik, nampak Rio yang hanya memakai celana pendeka dan kaos santainya, membukakan pintu.
“Masuk Yel…” kata rio, mempersilahkan. Gabriel pun masuk, mengikuti Rio dari belakang. Lalu Gabriel duduk di sofa yang berada di sisi kiri Rio.
“Yo……” gumam Gabriel. Rio menleh, mengangkat dagu. Dari mimic mukanya saja kita dapat mengetahui betapa tingginya emosi dalam hati Rio. “Lo marah banget sama Sivia?” tanya Gabriel. Berbicara dengan nada yang sangat berhati-hati.
Rio berdecak. Dia menaikkan kedua kakinya ke atas meja. “Lo kesini Cuma buat ngebahas itu? udahlah Yel, gue males.” Katanya, tanpa sedikit pun menatap ke arah Gabriel.
“Seenggaknya lo bisa dengerin penjelasan Sivia dulu, Yo.”
Rio menatap Gabriel. Api di matanya semakin membara, “yel, coba kalau lo ada di posisi gitu? Apa lo gak akan ngelakuin hal yang gue lakuin ke dia juga? lo bakala sama kayak gue kan, Yel?” kata rio. Nadanya tinggi. Gabriel mengangguk, dia memahami betul posisi Rio sekarang.
Tiba-tiba saja, suara dehaman yang cukup keras, berasal dari pintu masuk rumah Rio. Rio dan Gabriel menoleh. Mereka tersentak melihat siapa ternyata yang sedang berdiri.
“Sivia gak salah, gue yang salah.” Katanya, ternyata Alvin. Dia masih tetap berdiri. Selah tak mempunyai rasa bersalah. Padahal diam-dia dalam hati dia berdoa agar desiran darahnya kembali normal.
“Udah deh, percuma lo mau ngebela diri atau ngebela Sivia juga. gue males.” Kata Rio, lalu pergi meninggalkan ruang tamu. Meninggalkan Alvin dan Gabriel. Meninggalkan suasana yang terasa semakin membeku. Gabriel menggaruk tengkuknya, bingung harus bagaimana. Alvin menunduk, tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan untuk menebus semua kesalahan, yang menurutnya akibat dirinya sendiri.
“Biarin Rio sendiri dulu. Lo juga, istirahat.” Kata Gabriel, mendekati Alvin, lalu menepuk-nepuk pundak Alvin seraya tersenyum.
Alvin menoleh dan balas tersenyum, “Thanks ya.” Gabriel hanya mengangguk, lalu melangkah pergi meninggalkan rumah Rio. Alvin menghela nafas, lalu ikut pergi. Fikirannya masih tak menentu. Berkecamuk. Tuhan, ternyata tak semua permasalahan bisa di selesaikan dengan kata maaf dan penjelasan.

***

Badannya panas. Menggigil. Mungkin akibat masalahnya sendiri. Walaupun sakit, fikiran tentang masalahnya itu tak pernah absent, selalu ada di dasar fikirannya. Sivia memijat-mijat keningnya sendiri.. berusaha menghilangkan rasa pening itu. dia menarik selimut, lebih erat. Untuk menghangatkan utubhnya yang terasa kian dingin. Walau begitu, ia masih saja menangis. tentang itu.
Butuh 2 hari, akhirnya Sivia sembuh dan masuk sekolah. walau tak ada gairah dari dalam dirinya, setidaknya lebih baik dari pada menyendiri di kamar. Terus memikirkan masalah itu. Gabriel, Ify, dan AGni menyambut hangat Sivia. Berusaha memberi Sivia kesibukan, agar ia tidak terus memikirkan masalah itu.
“Anter gue ke rumah Rio yuk.” Kata Sivia, saat suara gemuruh kantin berdengung di telinganya.
Agni mengangkat Alis, Gabriel sampai tersedak saat dia minum air, Ify membulatkan bola matanya. Sivia hanya tersenyum perih.
“Mau ngapain lagi…Vi?” tanya Gabriel, setelah menormalkan saluran kerongkongannya.
“Mau minta maaf. Senggaknya gue emang belum minta maaf secara resmi ke dia.” Kaa Sivia. Datar.
Gabriel mengangguk. Agni dan Ify kompak menghela nafas, “Yaudah oke.” Jawab Gabriel. Sivia tersenyum. Berharap ini memang waktu yang tepat. Siap atau tidak, ini harus dilakukan. Dari pada terus mengulur waktu. Memperpanjang masalahnya. Setidaknya, ini bisa lebih cepat. Agar hatinya pun tidak terus dipenuhi rasa menyesal.

***

Gabriel mengetuk pintu rumah Rio. Entah mengapa, hati mereka semua ketar-ketir. Apa lagi Sivia, keringat dingin sudah membasahi pelipisnya. Tak lama, pintu terbuka. Terlihat Rio yang masih memakai seragamnya, tersenyum remeh ketika melihat siapa yang datang.
“Ngapain lagi?” tanya Rio, tanpa mempersilahkan siapapun untuk masuk. Agni memegang kuat bahu Sivia. Sivia sendiri menunduk. Ify menggenggam erat tangan Sivia, ikut merasakan dinginnya tangan Sivia.
“Yo……” kata Gabriel, lemah. Berharap emosi Rio surut, walau hanya 5 menit.
“Aku mau minta maaf Yo…maaf…aku nyesel…….” Kata Sivia masih menunduk. Ucapannya menggantung. Dia menahan bening-bening air mata yang mulai terbit dari sudut matanya.
“Udahlah,percuma lo nyesel gak akan nyelesaian semuanya. Males gue denger kata maaf dari orang kayak lo.” Rio mencak-mencak. Dia langsung menutup pintu rumahnya. Tak memberi siapapun untuk bicara lebih panjang. Sivia terisak. Agni mengelus pundak Sivia.
Gabriel menepuk pelan puncak kepala Sivia, “udah udah. Jangan nangis.” Katanya. Ify tidak tega melihat Sivia.
Sivia prustasi. Ini menjadi beban hidupnya sampai Rio mau memaafkannya. Entah kapan, dia masih berdoa semoga waktu itu ada.
Gabriel, ify dan AGni mengantar Sivia pulang. Mengerti betapa rapuhnya benteng pertahanan Sivia. Betapa menyesalnya dia. Meeka pun ingin sekali membantu, tapi apa daya? Emosi Rio masih saja terus meletup. Tak bisa mengalahkan rasa egonya. Coba saja Rio bisa meredam amarahnya barang 5 menit, mereka yakin, masalah ini akan membaik.

***
Waktu tak pernah berhenti berputar. Jam terus berdetik. Dari detik ke menit lalu ke jam. Berusah menjadi hari. Menyulam hari menjadi sebuah bulan. Walau terasa lama, tapi ini nyata. Tak pernah bisa dihentikan.
5 bulan. Sudah 5 bulan semenjak insiden ‘di teras rumah Rio.’ . Perlahan Sivia mulai bangkit. Meredam semua keterpurukannya. Dia tahu, tak baik berlama-lama berkubang dalam kesedihan. Masih banyak yang mendukung dan sayang padanya.
Walau terkadang masih ada penyesalan yang tak pernah terobati, setidaknya Sivia merasa lebih tenang. Dia sudah meminta maaf kepada Rio. Baik melalui SMS sampai e-mail. Enthalah, dia berharap suatu saat hari Rio akan mencair. Memberikan sedikit ruang di hatinya untuk Sivia. Walau hanya sebatas teman.
Perasaan Sivia kembali teriris. Walau tak sepedih berbulan-bulan yang lalu. Tapi ini cukup membuatnya ingin menangis kencang. Dia mendapat kabar dari temannya yang memang satu sekolah dengan Rio, dia mengatakan, Rio baru saja mendapatkan kekasih baru.
Sivia masih saja sendiri. Masih terbayang-bayang tentang itu, walau tak terlalu sering. Sedangkan Rio, bisa melupakan semuanya dengan mudah, bahkan telah menemukan pengganti Sivia di hatinya. Sivia hanya bisa diam. Menelan ludah. Dan berdoa, itu bisa membuat Rio bahagia, walau tak bersamanya. Tapi, itu sangat menyakitkan.
Alvin sendiri tak bisa berbuat apa-apa. Sivia tidak menyalahkan Alvin. Toh mereka berdua memang bersalah. Tetapi pertemanan mereka tidak putus. Walau tidak dekat, setidaknya mereka masih menganggap teman satu sama lain.


Apa saja yang membuat mu bahagia,
Telah ku lakukan untukmu
Demi mengharapkan cintamu
Kini ku bagai menanti datangnya pelangi di malam hari yang sepi
Ku sadari yang telah ku lakukan
Membuat hatimu terpenjara dan tak kuasa ku membukanya
Walau seluruh dayaku ingin bersamamu
Kunci hatimu patah tak terganti
Cinta tak harus memiliki
Tak harus menyakiti
Cintaku tak harus mati
Oh cinta tak harus bersama
Tak harus menyentuhmu
Membiarkan dirimu dalam bahagia walau tak disampingku
Itu kerulusan cintaku

Sivia yakin, cepat atau lambat, dia akan menemukan kebahagiaan yang abadi. Yang membuatnya bisa benar-benar lupa dengan semua ini.

***

Any comment? Right. aku tahu, disini banyak banget pengulangan kata, yakan? Ada lagi gak? komentarnya dong, selalu ditunggu!!!!!!!!!

Peaceloveandgaul
@dhitals