Followers

Friday, September 24, 2010

Pelagi Di Malam Hari (new version)

Pelangi di Malam Hari.

Halo! Ini cerpen perdana aku. Aku ambil dari laguna vidi aldiano yang judulnya sama kayak cerpen ini hehe dalem banget lagunya kan? Hehe langsung aja yah dibaca. Monggooooooooo! Maaf kalau jelek sebelumnya.

“Vi, pulang sekolah mau aku jemput gak?” Tanya Rio, lewat telefon, saat Sivia sedang istirahat. Rio adalah pacar Sivia. Mereka baru menjalin hubungan selama 3 bulan, tetapi masa pendekatan mereka terbilang terlalu lama. 6 bulan atau setengah tahun. Mungkin agar perasaan mereka lebih mantap dan menyatu. Rio, Mario Stevano. Anak SMP Citra mandiri. Duduk dikelas 3. Sedangkan Sivia, murid dari SMP Nusa Bangsa.
“Nggak usah Yo, masa kamu harus ke sekolah aku dulu terus pulang?” tolak Sivia halus. Padahal, letak sekolah mereka berdua terbilang cukup dekat.
“Nanti aku emang mau ada perlu dulu ama Gabriel, mau ngomongin basket. Jadi sekalian aja jemput kamu.”
“Yah aku kira kamu beneran mau jemput aku.” kata Sivia, nadanya dibuat-buat seperti orang marah, “yaudah nanti kesini aja.”
“Hehehe. Oke. Udah yah. Dadah.” Rio yang langsung memutuskan sambungan telfon.
Gemuruh suara kantin yang sangat ramai sangat terdengar jelas oleh Sivia, Agni, Ify, dan Gabriel. Ify dan Gabriel berpacaran. Mereka sedang menikmati waktu istirahat sekolah yang sangat sebentar ini.
“Yel, emang sekolah kita sama sekolah Rio mau tanding basket lagi?” Tanya Sivia pada Gabriel, lalu menghirup Jus Alpukatnya yang terakhir.
“Ngga kok.” jawab Gabriel, setelah menghabiskan isi mulutnya yang dipenuhi siomay. ”Cuma nanti bulan depan ada sparing semua sekolah di kota ini jadi sekolah kita kerja sama gitu buat latihan.”
“Oh gitu.” Sivia manggut-manggut, lalu melanjutkan memakan chikinya.

~
Bell pulang sekolah pun berdentang. Anak-anak mulai berkoor, meminta segera dipulangkan kepada guru yang sedang mengajar. Tampaknya guru yang sedang mengajar di kelas Sivia dan Ify tidak dapat di protesi, karena dia malah terus melanjutkan, ‘tanggung’, katanya. Ify dan Sivia tidak sekelas dengan Gabriel dan Agni, tetapi mereka berdua sekelas. Sekitar 5 menit kemudian, guru pengajar pun mengijinkan mereka untuk membereskan buku, bersiap-siap untuk pulang. Sivia dan Ify langsung berjalan ke kantin.
“Halo.” sapa Sivia, setelah berdiri di sisi meja yang sudah ditempati oleh Gabriel, Agni, dan Rio. Rio langsung menggeser tempat duduknya, memberi Sivia celah untuk duduk di sampingnya, Sivia pun duduk.
“Lama amat bubarnya?” Tanya Rio, padahal mereka pun baru berkumpul sekitar 5 menit yang lalu.
“Kenapa? Kangen yah?” kata Sivia, nadanya cukup menggoda. Rio hanya mengacak poni Sivia pelan, mereka sudah tidak bertemu sekitar satu minggu.
“Emang terakhir pelajaran siapa Fy?” Tanya Agni yang sedang asik memakan kacang kulitnya.
“Biasalah Bu Ira.”jawab Ify, lalu ikut memakan kacang kulit milik Agni. Agni melengos, Ify hanya tersenyum kuda.
Mereka pun berbincang cukup lama. Terutama Gabriel Rio dan Agni yang mengobrol seputar basket. Gabriel. kapten basket putra, sedang Agni kapten putrinya. Rio pun kapten di sekolahnya, SMA Citra Madiri. Tak terasa waktu terus berlalu. Kini jam di tangan kiri mereka sudah menunjukkan pukul 3, menjelang sore. Sekolah tidak sepi. Karena ada beberapa ekskul yang masih berlatih. Tetapi mereka memutuska untuk segera ulang, agar tidak terlalu sore. Sesuai janji di awal, Rio mengantar Sivia dengan motor andalannya, ke rumah
“Yo mampir dulu yu.” ajak Sivia setelah turun dari motor Rio. Dia kini tengah berdiri di sisi kiri motor Rio.
“Gimana yah?” kata Rio, berpura-pura mikir, “Boleh deh.” Sivia tersenyum. Rio pun turun dan mengikuti Sivia dari belakang, berjalan memasuki pekarangan rumah Sivia. Rio bersalamn terlebih dahulu dengan Mamahnya Sivia. Mamah Sivia memang sudah mengenal Rio, karena Sivia banyak bercerita tentang hubungan mereka. Mereka lalu ke teras belakang. Bermain laptop Sivia, bernyanyi, berbincang, bercanda. Melepas rindu yang terasa begitu menyesakkan di dada. Ketika jam sudah menunjukkan pukul 5.30, dan langit sudah mulai berwarna ke-oranye-oranye-an, Rio pun berpamitan pulang. Rumah Rio dan Sivia yang memang berada dalam satu komplek, walau berbeda blok -bisa dibilang berjauhan, membuat Rio santai untuk pulang jam berapapun dari rumah Sivia.

~

Matahari sudah nampak gagah. Mulai memasuki cahayanya menuju ruangan kecil. Kamar Sivia. Ini hari Sabtu. Weekend. Karena Sekolah Sivia libur, dia sengaja bermalas-malasan. Bangun siang. Lebih dari pukul 9. sivia terbangun karena mersakan ada sesuatu yang bergetar, ternyata ponselnya yang memang di taruh di sebelah bantalnya. Dia mengucek-ngecek pelan matanya, lalu mulai meraba, mencari ponsel.

From : Alvin Jonathan Sidunata
+62856XXXXXX
Vi, sekarang jalan yu!

Baru saja Sivia membaca nama si pengirim, jantung Sivia mulai berpacu 50 kali lebih cepat. Setelah membaca isi pesan itu, perutnya mulai melilit. Keningnya mengernyit, alisnya bertautan. Perasannya seperti nano-nano. Senang. Bingung. Heran.
Alvin, Alvin Jonathan. Lelaki bertubuh tegap, berkulit putih, mata sipit dan badan yang cukup berisi. Dia adaah salah satu lelaki yang ehm…cukup memiliki ruang khusu di hati Sivia. Alvin yang pertama kali membuat Sivia merasakan deburan ombak yang membasahi hatinya. Yang membuat pipi Sivia memerah setiap Alvin mengajaknya berbicara. Dan yang membuat Sivia berpikir, mungkin inilah cinta pertamanya. Walau hanya sebatas cinta monyet. Mereka kenal di salah satu tempat les khusus bahasa Inggris. Ketika mereka berdua duduk di bangku kelas satu SMP.

To : Alvin Jonathan Sidunata
+62856XXXXXX
Ngapain Vin?

From : Alvin Jonathan Sidunata
+62856XXXXXX
Main aja Vi, gw udah lama gak ketemu lu.

To : Alvin Jonathan Sidunata
+62856XXXXXX
Jam? Ke?

From: Alvin Jonathan Sidunata
+62856XXXXXX
Jam 11 gue jemput yah ke mana aja deh.

“Yaudah deh gak apa-apa. Gue juga kangen sama dia” batin Sivia, liar.

From : Alvin Jonathan Sidunata
+62856XXXXXX

Oke!

Walau matanya masih enggan untuk sepenuhnya terbuka, kepalanya yang masih betah diam di atas bantal, dan tubuhnya yang masih rindu kepada selimut yang menutupinya. Sivia memaksakan semuanya. Dia mulai bangkit, dan berjalan menuju kamar mandi. Walaupun dia berjalan dengan keadaan masih sempoyongan.
Tak cukup waktu satu jam, Sivia sudah terlihat rapih tetapi tetap menunjukkan sisi anggunnya. Dengan dibalut dress bermotif kembang kecil berwarna hijau muda, dan shall berwarna hitam-merah, membuat dia terlihat lebih segar. Setelah memastikan di depan cermin tak ada satupun yang menodai wajahnya, dia keluar dari kamar, menuruni tangga, menuju kamar Mamahnya, untuk berpamitan.
“Mah, Via mau main yah.” Katanya, I depan pintu kamar mamahnya. Mamahnya sedang menyisir rambutnya di depan meja rias.
Mamahnya menoleh, Sivia masuk, duduk di ranjang. “Mau main sama siapa? Udah rapih lagi.”
“Sama… Alvin Mah.” Jawab Sivia, sedikit ragu. “Boleh kan?” Mamah mengernyitkan kening.
“Alvin….temen les kamu itu?” ujar Mamah Sivia. Sivia mengangguk. “Rio tau?” kali ini Sivia menggeleng lemah. Mamah menghela nafas, “yaudah gak apa-apa. Mamah takutnya nanti Rio gimana lagi. Asal kamu jaga perasaan Rio aja.” Lalu, mamah Sivia melanjutkan menyisir rambutnya yang bergelombang, panjang sepinggang.
“Iya mah, Sivia juga tahu kok.”
“Emang di jemput jam berapa?” tanya Mamah, lalu mengerling pada jam yang kecil yang duduk di sudut meja riasnya.
“Setengah jam lagi sihhh……” Mamah Sivia hanya mengangguk.
“Makasih ya Mah….” Kata Sivia dengan nadanya yang manja. Lalu berjalan keluar, menuju ruang TV. Mamahnya hanya menggelengkan kepala. Melihat anak gadisnya yang sedang dalam masa pubertas.
Waktu setengah jam tidak begitu terasa karena Sivia menonton sebuah acara yang cukup menghibur. Dalam hati dia bertanya, mengapa dia sangat niat bertemu dengan Alvin, sampai sudah siap setengah jam sebelumnya. Biasanya, jika ia dan Rio akan jalan saja, Rio selalu dibuat menunggunya, yang terlalu santai dalam bersiap-siap.

“Pasti Alvin.” batin Sivia, ketika suara motor mulai terdengar menderu. Dia keluar rumah, menyembulkan kepalanya ke pintu rumah, “Masuk dulu Vin.” Katanya, melihat Alvin masih duduk di atas motornya. Alvin mengangguk, lalu segera turun dan memasuki pekarangan rumah Sivia. Sivia menyilahkan Alvin masuk, walau sedikit rasa canggung menyelimuti benaknya.
“Mah…ada Alvin.” Kata Sivia, setelah berada di ambang pintu kamar Mamahnya. Mamah mengangguk dan segera keluar, diikuti Sivia di belakangnya.
“Eh Alvin, apa kabar?” tanya mamah, ramah. Sebelumnya, Alvin memang suka main ke rumah Sivia. Tepatnya bukan main, dulu Alvin suka mengantar Sivia ketika pulang les.
“Baik tante.” Kata Alvin, yang duduk di sofa ruang tamu Sivia yang berwarna merah marun. Dia lalu bangkit, untuk bersalaman dengan mamah Sivia.
“Sivia nya aku pinjem dulu yah Tan…” kata Alvin sopan, seraya tersenyum. Hati Sivia sedikit liar melihat senyum Alvin yang sangat dirindukannya.
“Iya, ati-ati yah………”
Lalu, Alvin dan Sivia pun berangkat, setelah sebelumnya Sivia juga berpamitan dengan mamahnya. Dengan menggunakan motor yang sama seperti pertama kali Sivia di bonceng dengan Alvin, mengingatkan Sivia kembali pada masa-masa itu. Entahlah, dia sendiri bingung dengan perasaannya yang seperti ini.
Alvin melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Dadanya berdegup kencang. Degupan yang sangat ia rindukan. Entah mengapa, ini degupan yang hanya akan terjadi jika ia berada di dekat Sivia. Dia tahu, ini sebuah perasaan yang salah, karena seratus persen dia tahu, hati Sivia telah sepenuhnya milik orang lain. Tapi, aa benar hati Sivia tak meberikannya celah sedikit pun? Alvin mulai liar.

~

Di café yang bernuansa klasik, dengan sofa berwarna biru langit dan dindingnya yang di cat berwarna abu-abu muda, membuat kesan simple dan nyaman sangat terasa. Alvin dan Sivia memilih duduk di tempat yang berada di pojok ruangan. Setelah waitress datang, menanyakan menu apa yang akan mereka pesan, suasana canggung menyelimuti mereka. Sivia sibuk memainkan kukunya, sedangkan Alvin hanya mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. Sesekali pandangannya menyapu ruangan.
“Lo tambah cantik Vi.” puji Alvin saat waitress baru saja menaruh pesanan di hadapan mereka. Tanpa di sadari, wajah Sivia merona.
“Emang dari dulu gue cantik kali Vin.” jawab Sivia narsis, berusaha menyembunyikan nada gugupnya. Dalam hati dia berdoa agar suaranya tidak berubah menjadi suara kodok, apalagi menghilang.
“PD banget lo.” Sivia memajukan beberapa centi bibirnya. Alvin tertawa renyah, tawa yang mengundang Sivia untuk ikut tertawa sesaat. Lalu mereka pun menikmati pesanan mereka dengan kebisuan. Hanya dentingan suara piring yang beradu dengan sendok, garpu atau pisau.
“Gimana sekolah lo Vin?” Tanya Sivia ketika baru selesai menghabiskan pesanannya, dia lalu menyeruput minumannya.
“Ya…lumayan seru lah. tapi karena udah kelas 3 jadi lebih cape aja. Banyak pelajaran tambahan.” Jawab Alvin, sekenanya. Sivia manggut-manggut. “Lo juga kan?”
“Iya cape banget….”
“Lo masih les di tempat yang dulu?” kata Alvin, memainkan bibir gelas menggunakan jari telunjuknya.
“Udah nggak. Males. Gak ada waktu juga. lo juga kan?” kata Sivia, memain-mainkan sedotannya, lalu menghirup minumannya lagi.
“Iya…paling nanti udah SMA….” Sivia hanya mengangguk. Kebisuan mulai tercipta kembali. Tak ada yang terlalu berani bertanya lebih banyak. Mereka sama-sama diselimuti kecanggungan. Mungkin karena kenangan-kenangan yang dulu sempat mereka ciptakan. Sivia dan Alvin sendiri berusaha menetralkan perasaan hati masing-masing.
“Cowok lo siapa Vi?” tanya Alvin, dalam hati berharap pertanyaannya tak salah.
“Rio.” Jawab Sivia. “cewek lo siapa?”
Alvin menggeleng lemah, matanya menatap piring-piring kotor yang berada di hadapannya, “gak ada.” Katanya, lalu menghembuskan nafas berat.
“Yaaaah….cari dong Vin. Lo kan ganteng.” Kata Sivia, berusaha menghibur dengan sebuah kenyataan yang ada.
Alvin menatapnya, lalu tersenyum kecut, “cewek yang gue suka aja gak suka sama gue.”
“Kalau jodoh gak kenaman kok Vin. Santai aja….”
“Thanks Vi…” Sivia mengangguk.
Selanjutnya mereka menghabiskan waktu sekitar satu jam, untuk sekedar berbicang. Layaknya sahabat lama yang sudah lama tak berjumpa. Tak ada pembicaraan yang serius. Hanya membicarakan masa lalu, yang membuat hati mereka berdua sedikit membara. Sekitar jam 3, Alvin langsung mengantarkan Sivia pulang ke rumahnya.

***

Rupanya setelah pertemuan mereka di café, hunngan Sivia dan Alvin semakin dekat. Tanpa ada yang mengetahui hal itu. mereka sendiri pun tak tahu, apa maksut dari kedekatakn mereka ini. Apakah hanya kedekatan sahabat, atau…
2 minggu berlalu. Sivia menerima kedatangan Alvin yang mulai memasuki kehidupannya kembali. Dia rindu Alvin. Dalam 2 minggu semua terobati. Rio tak mengetahuinya. Sivia digelayuti perasaan bersalah. Hatinya kalut. Mengapa tiba-tiba tumbuh perasaan yang dulu pernah juga mengisi hati Sivia?
Sivia merasa telah membohongi Rio secara habis-habisan. Walau Rio tak pernah curiga, karena Rio sendiri disibukan dengan berbagai kegiatan di sekolahnya. Tapi apakah Sivia masih bisa disebut pacar yang baik, jika dia sendiri secara pelan-pelan telah menghianati Rio?
Sepertinya terlambat, perasaan antara Alvin dan Sivia sudah benar-benar di luar kontrol yang ada. Alvin secara terang-terangan, sekitar 3 hari yang lalu, mengaku pada Sivia bahwa hatinya masih terbawa pergi oleh Sivia. Masih menyimpan rasa padanya. Sivia tak munafik, dia senang, karena dia sendiri pun mulai merasakan bahwa dia mulai membalas perasaan Alvin. Liar dan salah. Sangat salah.
Hari ini, secara tiba-tiba - bagi Sivia, Alvin menjemputnya menggunakan motor andalan - dengan sejuta kenangan - itu. sivia yang heran, karena Alvin tidak memberitahu sebelumnya, akhirnya mengikuti ajakan Alvin. Tak jauh, Alvin hanya mengajaknya ke taman yang berada di komplek Sivia.
“Ngapain ngajak gue kesini Vin?” Tanya Sivia, saat mereka baru saja tiba di taman. Bukannya menjawab pertanyaan Sivia, Alvin malah terus berjalan menuju sebuah bangku yang berada di bawah pohon yang cukup rindang. Sivia hanya mengikutinya, duduk di bangku, di samping Alvin.
Alvin menghela nafas, menyenderkan tubuhnya ke punggung bangku, “Gue mau jujur,”ucap Alvin menggantung. Entah kenapa baru tiga kata yang teruca dari bibir Alvin, fikiran-fikiran di otak dan hati Sivia mencuat. Menemukan berbagai kemungkinan, hingga kemungkinan terburuk sekalipun, ”sebelumnya lo pasti udah tau dengan sikap gue ke lo kalau gue masih sayang sama lo, tapi gua juga sadar lo udah punya Rio. Rio lebih baik dari gue. Tapi gue kira selama 2 minggu belakangan lo kayak ngasih harapan ke gue.” Kata Alvin datar. Pandangannya lurus berusaha menerawang. Hatinya getir. Berharap ini waktu yang tepat dan semua yang terbaik. Dia sudah menerima semua resikonya. Semua resiko atas kelakuannya selama ini.
Sivia menunduk. Tak mampu menunjukan mukanya pada siapapun. Rasa bersalah kini berada di dasar hatinya. Terus menghantuinya. Otaknya berfikir 1oo kali lebih cepat. Aliran darah sangat terasa desirannya. Perlahan Sivia mengangguk, ikut menatap lurus, “Iya gue tau Vin… maaf.”
“Sorry gue udah lancang masuk ke kehidupan lo yang sekarang. Padahal gue tau jelas, ada Rio, pacar lo, yang jauh lebih baik dibanding gue. Dan, lo udah seneng dengan adanya dia.” Pernyataan Alvin membuat Sivia terenyuh. Dia sendiri sebagai kekasih Rio, seolah melupakan, bahwa Rio lah yang selalu membuatnya bahagia dan tersenyum.
“Ngga kok Vin.” kata Sivia. Alvin menoleh ke arahnya. Sivia tersenyum, melihat kening Alvin yang berkerut. “entah kenapa gue seneng lo masuk ke kehidupan gue lagi. Padahal gue tau jelas, semakin lama kalo di biarin ini semua tuh salah. Terlebih…waktu gue tau…ternyata perasaan yang dulu hadir lagi. Perasaan yang dari dulu berusaha gue hilangin, dan ketika gue udah berhasil, lo muncul lagi. Tapi gue sadar gue punya Rio. Tapi yah kan gue bilang, jodoh gak akan kemana kan?” lanjutnya tegas, seraya menundukkan kepalanya. menahan bening yang mulai terbit dari sudut matanya.
“SEKARANG LO MILIH SIAPA VI?” Tanya seseorang dari belakang. Nadanya tinggi dan, siapapun yang mendengarnya tahu, bahwa emosinya sedang di atas batas normal. Sivia dan Alvin langsung menoleh. Terlebih Sivia, dia sangat hafal suara ini. Rio. Rio yang sedari tadi diam-diam membuntuti mereka berdua. Rio yang sedari tadi hanya mendengarkan, menahan emosi yang kian meletup, sampai akhirnya tidak bisa tertahankan lagi.
“Ri…oooo. Kamu dari kapan……” ucap Sivia terbata, melangkah mendekati Rio yang berdiri sekitar 3 meter dari bangkunya. Alvin diam mematung. Merasa bersalah. Seandainya dia tidak mengajak Sivia kesini. Seharusnya dia mengajak Sivia ke tempat yang jauh. Bahkan jika bisa tempat yang tak berpenghuni. Agar tak ada siapapun yang mendengar bahkan mengetahui. Hanya Tuhan, mereka, dan malaikat.
“Gue dari tadi disini. Gue denger semuanya!” kata Rio, menunjuk-nunjuk Sivia dengan kasar. “Lo tega yah Viiiii……” Bening dari sudut mata Sivia sudah tak tertahankan, mengalir, mengikuti alur. Deras, membasahi pipi. Ingin sekali rio menghapus air mata perinya itu. melihatnya menitikan air mata setetes pun Rio tak tega. Apa lagi seperti ini. Tapi emosi mengalahkan semuanya. Rasa kecewa membuncah dalam benaknya. Tak percaya dengan semua ini. Rio dikhianati.
“Denger pejelasan gue dulu Yo. Sivia gak salah.” kata Alvin, meminta sedikit kelonggaran agar diberi kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Dia bersalah. Dia. Salah.
“Kalian berdua salah.” bentak Rio, memandang Sivia, -yang menunduk di hadapannya, dan Alvin secara bergantian. ,”dan lo Vi, gue kecewa sama lo. Kita putus!”
Rio langsung berlari. Meninggalkan taman. Berharap semua tertinggal dalam jejaknya. Dia masih tidak percaya.
Sivia merosot ke tanah. Darahnya membeku. Tak sanggup untuk menopang tubuhnya sendiri. Kemungkinan terburuk itu terjadi. Alvin membantu Sivia berdiri. Memapah Sivia menuju motor miliknya. Mengantarkannya pulang, setelah sebelumnya dia menghapus rinai air maa yang menganak sungai di pipi lembut Sivia. Sivia diam. Pandangannya kosong. Hatinya kalut. Menyesal.

~

Sivia berantakan. Kemarin, Mamah Sivia sempat marah kepada Alvin, tapi setelah Alvin menjelaskan semuanya, mamah Sivia hanya mengangguk. Berusaha mengerti masalah yang, wajar, dialami oleh para remaja.
Semalaman Sivia menangis. akhirnya Sivia tidak masuk sekolah. mamah Sivia telah membujuk Sivia untuk makan. Takut Sivia terserang sakit. Sivia berulang kali menolak. Dia hanya duduk di sudut ranjangnya, mendekap boneka pemberian Rio, menangis.
Pulang sekolah, Agni dan Ify mejenguk Sivia kerumah. Walaupun mereka berdua pun belum mengetahui secara jelas mengapa Sivia tidak masuk sekolah. Mamah Sivia menijinkan, dan langsung mempersilahkan mereka memasuki kamar Sivia.
“Vi…” ucap Ify di depan pintu kamar Sivia. Agni mengetuk pelan pintunya.
“Masuk.” Terdengar jawaban dari Sivia dengan suara tersendat. Via dan Agni membuka pintu kamar Sivia. Mereka kaget melihat kondisi kamar Sivia dan Sivia sendiri yang sudah sangat bernatakan. Mereka berhambur mendekati Sivia, duduk di samping ranjang Sivia.
“Lo kenapa Vi?” Tanya Agni dengan lembut. Sivia menggeser pelan duduknya, meminta Agni agar duduk di sampingnya. Agni pun duduk di sampingnya. Sivia menyenderkan kepalanya ke bahu Agni. Membiarkan air matanya membasahi bahu Agni.
“Lo cerita yah ke kita?” pinta Ify, yang duduk di hadapan Sivia.
“Gue bego. Gue tolol. Gue ngecewain Rio.” tangis Sivia kembali meledak, Agni mengelus lembut rambutnya, sedangkan Ify mengusap lembut tangannya.
“Coba lo ceritain semuanya.” pinta Ify lagi dengan lembut.
Sivia mengangguk. Dia mengangkat kepalanya dari bahu Agni. Mulai menjelaskan semuanya. Semua yang berawal dari SMS di sabtu siang. Walau nadanya tersenggal dengan isakannya. Kedua sahabatnya berusaha mengerti. Mencari kesimpulan dari semuanya.
“Lo jelasin semuanya sama Rio yah?” usul Agni dengan lembut.
Sivia menggeleng, “Gue salah Ag, gua sayang sama Alvin lagi. Itu salah banget!” kata Sivia membuat pernyataan. Agni dan Ify semakin bingung dengan semuanya.
“Lo tenangin diri lo dulu. Lo minta maaf sama Rio yah?” kata Agni, mengelus pelan pundak Sivia.
“Gue salah kan?” Tanya Sivia, menatap keduanya bergantian, dengan tatapan seolah berkata, ‘jawab jujur dong, gua salah kan?’
Agni menghela nafas berat, “Gue boleh ngomong jujur?” tanyanya, Ify menatapnya tajam. Agni tak menghiraukan.
“Jujur Ag, lo jujur gue bakal lebih enak.” Jawab Sivia, menghapus pipinya yang di keraki oleh sisa-sisa air mata.
Agni menepuk pelan pundak Sivia, “Menurut gue lo salah Vi, lo udah ada yang punya tapi kenapa lo ngeladenin Alvin? Dulu waktu kelas 1 lo tau kan Alvin cuma bilang suka lah sayang lah sama lo tapi apa buktinya? Nihil! Ada Rio yang sayang banget sama lo. Rio yang pujaan di sekolahnya.” tutur Agni jujur. Berusaha setiap kata-kata dari runtutan kalimatnya tak membuat Sivia semakin merasa bersalah atau menyakitit Sivia. Sivia tertegun, dia menundukkan kepala. Menahan air yang mulai di produksi dari balik matanya. ”Lo tau kan lo ngedapetin Rio dengan susah? Kalian sama-sama suah di dapetin! Dan lo tau kan lo cinta pertama Rio setelah Rio trauma atas kematian mantannya, semenjak kematian mantannya cuma lo yang bisa buka hati dia lagi. Kenapa lo kecewain dia Vi?” lanjutnya panjang lebar. Agni menggigit bibir bawahnya. Semoga dia tidak memperburuk keadaan.
Sivia tersenyum ke arah Agni, senyum tulus kepada seorang sahabat sejati. Ify dan Agni heran. “Thanks yah Ag lo udah ngomong jujur dan nyadarin gue.” Ucapnya, ”Mungkin gue emang cewek paling bego di dunia. Gue nyia-nyiain cowok kayak Rio. Gue emang bukan cewek yang pantes buat Rio.”
“Sorry yah Fy.” Kata Agni, mengelus pelan pundak Sivia.
“Sekarang gue baru sadar kalau gue sayangnya cuma sama Rio ! Gue cuma terobsesi sama Avin.” kata Sivia, menunduk.
“Sekarang lo minta maaf yah sama Rio?” kata Ify.
“Nanti yah. Gue belum siap.” jawab Sivia, pandangannya nanar. Ify hanya mengangguk. Tidak tega melihat kondisi sahabatnya.
“Kita pulang dulu yah. Tenangin diri lo.” Kata Agni, pamit. Sivia mengangguk.
“Thanks yah.” Agni dan ify hanya mengacungkan kedua jempol mereka. Lalu mereka berdua melangkah keluar. Untuk pulang.
Sivia masih terdiam. Berusaha mencerna semua perkataan Agni yang secara tepat sangat benar. Walau dia di pojokkan, tapi itulah kenyataan. Sivia menghela nafas, berat. Dadanya terhimpit. Dia berharap semua bisa berakir secara bahagia.

***
Dengan dada yang berdegup kencang, Gabriel tetap memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah Rio. Entah apa yang membuat dadanya berdegup kencang. Yang jelas, tujuannya hanya ingin membantu sahabatnya.
Baru 3 kali Gabriel mengetuk pintu, terdengar sahutan dari dalam. Lalu, selang beberapa detik, nampak Rio yang hanya memakai celana pendeka dan kaos santainya, membukakan pintu.
“Masuk Yel…” kata rio, mempersilahkan. Gabriel pun masuk, mengikuti Rio dari belakang. Lalu Gabriel duduk di sofa yang berada di sisi kiri Rio.
“Yo……” gumam Gabriel. Rio menleh, mengangkat dagu. Dari mimic mukanya saja kita dapat mengetahui betapa tingginya emosi dalam hati Rio. “Lo marah banget sama Sivia?” tanya Gabriel. Berbicara dengan nada yang sangat berhati-hati.
Rio berdecak. Dia menaikkan kedua kakinya ke atas meja. “Lo kesini Cuma buat ngebahas itu? udahlah Yel, gue males.” Katanya, tanpa sedikit pun menatap ke arah Gabriel.
“Seenggaknya lo bisa dengerin penjelasan Sivia dulu, Yo.”
Rio menatap Gabriel. Api di matanya semakin membara, “yel, coba kalau lo ada di posisi gitu? Apa lo gak akan ngelakuin hal yang gue lakuin ke dia juga? lo bakala sama kayak gue kan, Yel?” kata rio. Nadanya tinggi. Gabriel mengangguk, dia memahami betul posisi Rio sekarang.
Tiba-tiba saja, suara dehaman yang cukup keras, berasal dari pintu masuk rumah Rio. Rio dan Gabriel menoleh. Mereka tersentak melihat siapa ternyata yang sedang berdiri.
“Sivia gak salah, gue yang salah.” Katanya, ternyata Alvin. Dia masih tetap berdiri. Selah tak mempunyai rasa bersalah. Padahal diam-dia dalam hati dia berdoa agar desiran darahnya kembali normal.
“Udah deh, percuma lo mau ngebela diri atau ngebela Sivia juga. gue males.” Kata Rio, lalu pergi meninggalkan ruang tamu. Meninggalkan Alvin dan Gabriel. Meninggalkan suasana yang terasa semakin membeku. Gabriel menggaruk tengkuknya, bingung harus bagaimana. Alvin menunduk, tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan untuk menebus semua kesalahan, yang menurutnya akibat dirinya sendiri.
“Biarin Rio sendiri dulu. Lo juga, istirahat.” Kata Gabriel, mendekati Alvin, lalu menepuk-nepuk pundak Alvin seraya tersenyum.
Alvin menoleh dan balas tersenyum, “Thanks ya.” Gabriel hanya mengangguk, lalu melangkah pergi meninggalkan rumah Rio. Alvin menghela nafas, lalu ikut pergi. Fikirannya masih tak menentu. Berkecamuk. Tuhan, ternyata tak semua permasalahan bisa di selesaikan dengan kata maaf dan penjelasan.

***

Badannya panas. Menggigil. Mungkin akibat masalahnya sendiri. Walaupun sakit, fikiran tentang masalahnya itu tak pernah absent, selalu ada di dasar fikirannya. Sivia memijat-mijat keningnya sendiri.. berusaha menghilangkan rasa pening itu. dia menarik selimut, lebih erat. Untuk menghangatkan utubhnya yang terasa kian dingin. Walau begitu, ia masih saja menangis. tentang itu.
Butuh 2 hari, akhirnya Sivia sembuh dan masuk sekolah. walau tak ada gairah dari dalam dirinya, setidaknya lebih baik dari pada menyendiri di kamar. Terus memikirkan masalah itu. Gabriel, Ify, dan AGni menyambut hangat Sivia. Berusaha memberi Sivia kesibukan, agar ia tidak terus memikirkan masalah itu.
“Anter gue ke rumah Rio yuk.” Kata Sivia, saat suara gemuruh kantin berdengung di telinganya.
Agni mengangkat Alis, Gabriel sampai tersedak saat dia minum air, Ify membulatkan bola matanya. Sivia hanya tersenyum perih.
“Mau ngapain lagi…Vi?” tanya Gabriel, setelah menormalkan saluran kerongkongannya.
“Mau minta maaf. Senggaknya gue emang belum minta maaf secara resmi ke dia.” Kaa Sivia. Datar.
Gabriel mengangguk. Agni dan Ify kompak menghela nafas, “Yaudah oke.” Jawab Gabriel. Sivia tersenyum. Berharap ini memang waktu yang tepat. Siap atau tidak, ini harus dilakukan. Dari pada terus mengulur waktu. Memperpanjang masalahnya. Setidaknya, ini bisa lebih cepat. Agar hatinya pun tidak terus dipenuhi rasa menyesal.

***

Gabriel mengetuk pintu rumah Rio. Entah mengapa, hati mereka semua ketar-ketir. Apa lagi Sivia, keringat dingin sudah membasahi pelipisnya. Tak lama, pintu terbuka. Terlihat Rio yang masih memakai seragamnya, tersenyum remeh ketika melihat siapa yang datang.
“Ngapain lagi?” tanya Rio, tanpa mempersilahkan siapapun untuk masuk. Agni memegang kuat bahu Sivia. Sivia sendiri menunduk. Ify menggenggam erat tangan Sivia, ikut merasakan dinginnya tangan Sivia.
“Yo……” kata Gabriel, lemah. Berharap emosi Rio surut, walau hanya 5 menit.
“Aku mau minta maaf Yo…maaf…aku nyesel…….” Kata Sivia masih menunduk. Ucapannya menggantung. Dia menahan bening-bening air mata yang mulai terbit dari sudut matanya.
“Udahlah,percuma lo nyesel gak akan nyelesaian semuanya. Males gue denger kata maaf dari orang kayak lo.” Rio mencak-mencak. Dia langsung menutup pintu rumahnya. Tak memberi siapapun untuk bicara lebih panjang. Sivia terisak. Agni mengelus pundak Sivia.
Gabriel menepuk pelan puncak kepala Sivia, “udah udah. Jangan nangis.” Katanya. Ify tidak tega melihat Sivia.
Sivia prustasi. Ini menjadi beban hidupnya sampai Rio mau memaafkannya. Entah kapan, dia masih berdoa semoga waktu itu ada.
Gabriel, ify dan AGni mengantar Sivia pulang. Mengerti betapa rapuhnya benteng pertahanan Sivia. Betapa menyesalnya dia. Meeka pun ingin sekali membantu, tapi apa daya? Emosi Rio masih saja terus meletup. Tak bisa mengalahkan rasa egonya. Coba saja Rio bisa meredam amarahnya barang 5 menit, mereka yakin, masalah ini akan membaik.

***
Waktu tak pernah berhenti berputar. Jam terus berdetik. Dari detik ke menit lalu ke jam. Berusah menjadi hari. Menyulam hari menjadi sebuah bulan. Walau terasa lama, tapi ini nyata. Tak pernah bisa dihentikan.
5 bulan. Sudah 5 bulan semenjak insiden ‘di teras rumah Rio.’ . Perlahan Sivia mulai bangkit. Meredam semua keterpurukannya. Dia tahu, tak baik berlama-lama berkubang dalam kesedihan. Masih banyak yang mendukung dan sayang padanya.
Walau terkadang masih ada penyesalan yang tak pernah terobati, setidaknya Sivia merasa lebih tenang. Dia sudah meminta maaf kepada Rio. Baik melalui SMS sampai e-mail. Enthalah, dia berharap suatu saat hari Rio akan mencair. Memberikan sedikit ruang di hatinya untuk Sivia. Walau hanya sebatas teman.
Perasaan Sivia kembali teriris. Walau tak sepedih berbulan-bulan yang lalu. Tapi ini cukup membuatnya ingin menangis kencang. Dia mendapat kabar dari temannya yang memang satu sekolah dengan Rio, dia mengatakan, Rio baru saja mendapatkan kekasih baru.
Sivia masih saja sendiri. Masih terbayang-bayang tentang itu, walau tak terlalu sering. Sedangkan Rio, bisa melupakan semuanya dengan mudah, bahkan telah menemukan pengganti Sivia di hatinya. Sivia hanya bisa diam. Menelan ludah. Dan berdoa, itu bisa membuat Rio bahagia, walau tak bersamanya. Tapi, itu sangat menyakitkan.
Alvin sendiri tak bisa berbuat apa-apa. Sivia tidak menyalahkan Alvin. Toh mereka berdua memang bersalah. Tetapi pertemanan mereka tidak putus. Walau tidak dekat, setidaknya mereka masih menganggap teman satu sama lain.


Apa saja yang membuat mu bahagia,
Telah ku lakukan untukmu
Demi mengharapkan cintamu
Kini ku bagai menanti datangnya pelangi di malam hari yang sepi
Ku sadari yang telah ku lakukan
Membuat hatimu terpenjara dan tak kuasa ku membukanya
Walau seluruh dayaku ingin bersamamu
Kunci hatimu patah tak terganti
Cinta tak harus memiliki
Tak harus menyakiti
Cintaku tak harus mati
Oh cinta tak harus bersama
Tak harus menyentuhmu
Membiarkan dirimu dalam bahagia walau tak disampingku
Itu kerulusan cintaku

Sivia yakin, cepat atau lambat, dia akan menemukan kebahagiaan yang abadi. Yang membuatnya bisa benar-benar lupa dengan semua ini.

***

Any comment? Right. aku tahu, disini banyak banget pengulangan kata, yakan? Ada lagi gak? komentarnya dong, selalu ditunggu!!!!!!!!!

Peaceloveandgaul
@dhitals

No comments:

Post a Comment