Followers

Thursday, September 2, 2010

Late

Late

Dalam diam aku terpaku. Hanya mampu berdiri mematung di sudut ruangan. Apakah yang aku lihat ini adalah kenyataan? Bukan sebuah mimpi buruk yang kemudian disaat aku terbangun nanti semua akan baik-baik saja. Aku merosot. Terduduk lemah di sudut yang sama. Ini semua nyata. Tak akan bisa diubah atau sekedar diulang. Ini tidak bisa dihentikan. Waktu terus berjalan. Jam pun terus berputar.
Air mata mulai terbit dari sudut mataku. Ingin menghapusnya, tapi percuma. Akan terus mengalir deras. Aku membiarkannya mengalir hingga menganak sungai di pipiku. Aku memeluk lutuku, membenamkan wajahku. Aku tahu ini bukan tempat yang tepat, tapi masihkah aku harus peduli jika semua sudah seperti ini?
“Shil…..masuk ke dalem. Jangan disini terus. Ayo ganti baju.” Aku mengangkat wajahku, memastikan siapa yang berbicara. Ternyata Kak Gabriel yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapanku seraya mengulurkan tangannya, untuk aku raih. Dia sudah berpakaian lengkap berwarna hitam.
Aku mengusap pipiku, menghapus sisa-sisa air mata yang membasahi. Setelah dipastikan sudah tidak tersisa, aku meraih tangan Kak Gabriel dan berdiri, walau sedikit dalam hatiku belum rela untuk bergerak sedikitpun.
“Gak ada yang perlu di tangisin. Percuma kamu nangis juga, gak akan ngembaliin keadaan.” Nasihat Kak Gabriel, seraya berjalan beriringan bersamaku menuju lantai atas. Lalu dia mengusap puncak kepalaku. Memberiku sedikit kedamaian. Aku mengangguk kecil, lalu mencoba untuk tersenyum. Kak Gabriel tersenyum puas dan merangkulku.

Aku duduk di tempat pertama kali aku menangis. tapi kali ini aku bukan sedang menangis. di kedua tanganku terbuka Buku Yassin. Aku mengaji bersama semua saudaraku. Mulai dari saudara dekat hingga saudara jauh. Semua berkumpul disini. Di sebelahku duduk sepupuku, Sivia. Dia juga sedang mengaji.
Walau dengan isakan, aku terus mengaji. Dan air mata pun terus turun dan membasahi buku itu. Aku masih belum bisa menerima ini. Sivia menggenggam tanganku erat. Sepertinya dia mendengar isakanku. Dia menoleh ke arahku lalu tersenyum dan berkata, “Sabar Shil…stop nangisnya. Sekarang kita ngaji dulu.” Aku mengangguk. Sivia kembali melanjutkan membaca surat Al-Quran itu. Sebelum melanjutkan membaca, aku menyapu pandanganku ke seluruh ruangan. Aku tak menemukan Ibu dan Kak Angel.
“Vi…Ibu sama kak Angel mana?” tanyaku, berbisik.
“Tante Lidya pingsan Shil…tapi ditemenin Kak Angel kok. Kamu disini aja…” jawab Sivia. Aku panik. Ingin ke kamar Ibu dan segera menemaninya. Tapi aku harus disini. Terus berdoa untuk Ayahku. Aku terus mengaji. Meminta agar Tuhan tidak menghukum Ayahku. Agar Tuhan membawa Ayahku ke tempat yang tenang.

Di sudut kamar yang sengaja aku padamkan lampunya, aku memeluk lutut. Bersandar ke jendela, memandangi bintang. Biarlah cahaya bulan dan bintang yang menerangi ruanganku ini. Bintang mulai berkelip. Aku harap satu dari ribuan bintang itu Ayahku. Ayah yang kini sangat aku inginkan kehadirannya.
Disamping kiriku tergoler amplop berwarna coklat yang aku terima saat aku baru pulang sekolah tadi. Jangankan membacanya lebih jelas, memegangnya saja sudah tak ada hasrat. Aku menarik nafas, dan menghembuskannya perlahan. Nafasku mulai tersenggal akibat dada yang semakin terhimpit. Aliran bening ini pun semakin deras. Tuhan, aku lelah. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Aku lupa menguncinya. Lampu kamarkupun menyala, aku menyipitkan mataku, seraya melihat siapa yang masuk. Ternyata Kak Gabriel. Tanpa aba-aba, dia langsung duduk di sisi kiriku. Setelah sebelumnya menyingkirkan amplop coklat itu menjauh.
“Udah dong Shill….jangan nangis.” Katanya seraya menatapku. Perlahan dia mengusap pipiku. menghapus air mataku. Aku mengalihkan pandangan, kembali menuju langit. Percuma, air mata turun kembali.
“Ayah gak akan tenang kalau kamu kayak gini terus…..” kata Kak Gabriel, yang lalu -sepertinya- ikut menatap bintang.
Aku menyenderkan kepalaku dibahunya, badanku bergetar. Kak Gabriel mengusap bahuku, “aku nyesel ka……… aku bukan anak yang baik…” kataku lirih.
“Percuma kamu nyesel, gak akan ngembaliin semuanya. Ini udah jalan hidup kita Shil…”
“Tapi aku bener-bener bukan anak yang baik. Disaat Ayah sakit aku malah keluyuran, balik malem dengan segudang alesan. Padahal itu cuma alesan karena aku males dirumah. Males ikut ngurusin Ayah bareng Ibu! Waktu Ayah minta aku buat nemenin dia, aku malah pura-pura tidur atau ngerjain PR. Atau giliran aku lagi nemenin Ayah cuma sekedar duduk disampingnya, aku ngeluh setengah mati! Aku anak duurhaka ka…..” air mata bertambah deras. Perlahan Kak Gabriel memelukku, membuatku sedikit hangat dan nyaman.
“Aku belum sempet minta maaf ke Ayah…..” lanjutku.
“Tanpa kamu minta Ayah pasti udah maafin kamu kok Shil….” Ucap Kak Gabriel menenangkanku. Perlahan megendurkan pelukannya.
“Disaat-saat terakhir Ayah aja aku gak ada….”
“Udah Shil…stop… Ayah gak akan suka kalau kamu kayak gini terus…” nada suara Kak Gabriel sedikit meninggi. Dia menatapku tajam. Sepertinya di benar-benar tidak suka dengan kelakuanku yang seperti ini. Aku mengalihkan pandanganku menuju langit kembali.
“Kalau Ayah ada disini, aku pengen meluk dia deh Kak, yang erat. Aku pengen dicium Ayah.” Kataku. Tak menghiraukan seluruh ucapan kak Gabriel. Aku masih terlarut dalam keadaan. “Aku belum pernah bilang ke Ayah langsung kalau Aku sayang Ayah. Pasti Ayah semakin ngira aku anak durhaka…….” Aku mengusap pipiku yang benar-benar basah oleh air hangat itu. Perlahan aku menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. “Asal Ayah tau, aku sayang banget sama dia. Sayang banget. Lebih dari siapapun yang sayang sama Ayah. Andai aku dikasih satu kesempatan satu jam aja sama Ayah, aku bakalan meluk Ayah terus, gak akan aku lepasin.”
Kak Gabriel kembali merengkuhku. Aku semakin terisak. Tuhan….. mengapa penyesalan selalu datang terakhir? Mengapa rasa kehilangan benar-benar nyata disaat orang itu sudah benar-benar menghilang? Kenyataan ini begitu pahit untuk dijalani. Apa lagi rencanamu untukku? Kak Gabriel mengusap-usap bahuku. Aku menangis dalam bahunya.
“Kak…..Ayah sayang gak yah sama aku?” tanyaku. Nada bicaraku betul-betul datar. Sebenarnya ini pertanyaan terbesar dalam hidupku.
“Pasti dong Shil….. Ayah sayang sama semua anaknya, keluarganya, temennya, semuanya……” jawab Kak Gabriel, badannya pun ikut bergetar. Aku tahu, pasti ia sedang menahan air matanya. Dia lelaki. Harus tampak kuat. Aku mengangkat kembali kepalaku dari bahunya.
“Tapi Ayah kadang selalu ngekang aku. Terlalu mengekang. Aku juga butuh kebebasan kak….” Aku menunduk. Kembali membiarkan bening air mata mengalir seiring dengan perihku yang semakin menjadi.
“Cuma karena itu kamu beranggapan Ayah gak sayang sama kamu? Itu justru karena Ayah sayang banget Shil sama kamu. Kamu anak bungsu.”
Aku termenung. Tuhan, bertambahlah kadar durhakaku ini. Aku sudah menuduh Ayah yang tidak-tidak.
“Kak, kalau kakak mau nangis keluarin semuanya. Nangis juga ada waktunya kok Kak…” kataku, seraya meliriknya dari sudut mataku. Kak Gabriel menatapku dan tersenyum.
“Aku cuma sedih……belum bisa bikin Ayah bangga sama aku…… aku belum bisa bikin Ayah tersenyum bangga karena aku… dulu aku masih mikir aku masih punya banyak waktu buat bikin Ayah sama ibu bangga, tapi ternyata waktunya salah….” kata Kak Gabriel seiring dengan tumpahnya air matanya. Aku mengenggam erat tangannya. Ikut merasakan pedih yang ada dihatinya. Itu pula yang ada dalam benakku saat ini.
“Kita bikin Ayah bangga sama kita sama-sama yah Ka, kita lakuin untuk Ayah sama Ibu…” kataku berusaha menyemangati Kak Gabriel. Tepatnya menyemangati diriku sendiri juga. Kak Gabriel tersenyum dan mengangguk. Aku mengangkat kepalaku dan kembali memandangan bintang yang cahayanya semakin terang. Berkelip, seolah mengerti asa yang mengganjali hatiku.
Hening
Tak ada suara yang aku atau kak Gabriel ciptakan. Kami kembali terlarut dalam fikiran kami masing-masing, disaksikan oleh malam yang pekat ini.
“Shil, tadi amplop coklat itu isinya apa?” Aku menoleh ke arah ka Gabriel. Aku lupa tentang itu. tiba-tibaaku tersenyum dan segera merangkak untuk mengambil amplop yang tadi Kak Gabriel singkirkan menjauh. Setelah dapat aku langsung menyerahkannya ke kak Gabriel. Dengan tatapan heran, dia menerimanya.
“Buka. Baca.” Suruhku. Senyumku masih sangat lebar. Kak Gabriel mengernyitkan dahi, membuat alisnya bertautan. Dia menuruti perintahku. Perlahan membuka amplop itu -yang sebelumnya sudah aku buka. Kak Gabriel membaca suratnya dengan serius -dapat kubaca dari matannya yang membesar. Dia nampak kaget sepertinya. Setelah tenggelam dari balik surat itu dia langsung tersenyum ke arahku dan memelukku tiba-tiba. Aku kaget. Dadaku sesak karena kak Gabriel memelukku sangat erat.
“Aku bangga sama kamu Shil….” Serunya tertahan. Tak bisa meyembunyikan perasaan bahagia.
Aku terkokoh, pelan-pelan aku memukuli pundak kak Gabriel, “kak, aku sesek nih….” Aku meronta. Kak Gabriel langsung melepas pelukannya. Dia memegangi kedua pundakku dengan senyum yang sangat terukir di wajahnya.
“Tapi semuanya terlambat kak…..” kataku. Tiba-tiba aku teringat oleh waktu. Aku terlalu terlambat. “Ayah keburu gak ada. Aku maunya masih ada ayah yang bakal meluk aku karena bangga.” Aku menunduk. Tuhan, aku kembali mengingatnya. Aku menhahan air mataku. Aku harus kuat. Sudah cukup dari tadi aku menangis.
Kak Gabriel mengangkat wajahku menggunakan telunjuknya. Dia tersenyum ke arahku seraya menggeleng kecil, “Semua gak ada yang terlambat. Dengan gini aja kamu udah bikin Ayah bangga di atas sana. Ayah gak pernah gak ada. Mau kemanapun dia pergi. Dia akan selalu disini.” Kak Gabriel menunjuk dadanya sendiri. Aku mengangguk. Beruntungnya aku mempunyai Kakak sedewasa dan sebaik Kak Gabriel.
“Nanti kakak, Kak Angel sama Ibu harus dateng loh.” Kataku, seraya tersenyum jahil. Perlahan aku mulai memendam perasaan sedihku. Yang seharusnya bisa aku hilangkan perlahan. Aku harus mulai terbiasa dengan semuanya.
“Apa sih yang nggak buat adikku tersayang ini.” Jawab kak Gabriel, mencubit cuping hidungku. Aku memajukan beberapa centi bibirku. Kak Gabriel tertawa renyah. Di malam itu, aku tak lagi memikirkan kesedihanku. Aku dan kak Gabriel sibuk membicarakan mengenai mimpi-mimpi kita. Megenai rencana kita untuk membuat Ayah dan Ibu tersenyum. Dalam hati aku masih berdoa pada Tuhan agar hari ini hanya mimpi buruk.

***

“Shil……ayo berangkat. Nanti telat.” Seru Kak Angel dari luar kamarku. Aku segera mempercepat gerakanku.
“Iya sebentar lagi Kak.” Jawabku seraya menyemprotkan parfum ke beberapa bagian tubuhku. Aku meraih tasku dan mengaitkannya di pundak. Sekali lagi aku mengecek penampilaku, agar tak ada satupun yang kurang. Rasa gugup menyelimutiku. Aku manrik nafas dan menghembuskannya perlahan.
“Tenang Shil….semua bakal baik-baik aja.” Hiburku sendiri. Aku langsung keluar kamar dan berlari menuju halaman depan rumah, untuk memakai sepatuku. Kak Gabriel, ibu, dan kak Angel yang ternyata sudah duduk manis di dalam mobil hanya mendecakkan lidah melihatku -aku dapat melihatnya karena jendela mobil yang terbuka. Aku terkekeh ke arah mereka lalu segera masuk ke dalam mobil setelah selesai memakai sepatu.

***

Dapat kulihat dari luar gedung bahwa suasana di dalam sangat ramai. Kak Gabriel baru saja memarkirkan mobil tak jauh dari pintu masuk gedung. Aku membuka pintu mobil, melangkahkan kakiku untuk turun. Rasa gugup bertengger dalam benakku.
“Tenang Shil……ngapain mesti gugup sih?” kata Kak Angel yang sudah berdiri di sampingku. Rupanya kegugupanku sangat tampak. Aku tersenyum seraya mengangguk.
Dengan menggunakan dress polos berwarna hitam dengan pita di belakangnya dan sepatu hihgheels yang cukup membuat kakiku pegal, aku, Kak Angel, kak Gabriel dan Ibu memasuki gedung itu. kami disambut ramah oleh penjaga tamu. Bahkan beberapa ada yang ehm……sok kenal denganku. Kami langsung mencari tempat duduk. Sudah sangat ramai. Setelah mencari-cari, akhirnya kami mendapat tempat duduk. Di barisan ke 4 dari depan. Lumayan, tidak terlalu belakang.
“Kamu udah menang, ngapain masih gugup sih?” tanya kak Gabriel, yang kini tengah duduk disisi kananku.
Aku menggeleng, “Gak tau, tetep aja gugup. Kalau kakak ada di posisi aku emang kakak gak akan gugup?” aku balik bertanya. Sepertinya ini sedikit menantang.
“Gugup boleh, tapi gak usah sampai pias gitu kali shil…” timpal kak Angel yang duduk di sisi kiriku. Dia terkekeh. Aku tersenyum lalu mengangguk. Perlahan menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Cukup membuatku sedikit lebih tenang.


***

Semua acara penyambutan dan segalanya sudah terlaksana. Kini tinggal penyerahan tanda bukti beserta trophynya. Tak ada rasa gemetar karena sebelumnya kita semua menang sudah diberi tahu apakah kita menang atau tidak. Tapi entah kenapa, walau aku tahu aku menang, aku masih saja bergemetar.
Juara harapan 3,2 dan 1 sudah diumumkan. Kini tinggal juaranya. Aku memejamkan mata. Semoga ini semua kenyataan dan buka sekedar mimpi indah yang saat aku terbangun semua kembali.
“Juara 2, Ashilla Zahrantiara……dengan cerita berjudul ‘Andai Air Dapat Ku Genggam’ ……” seru pembawa acara heboh. Seperti tadi, tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan. Aku menyiapkan diriku untuk segera melangkah maju ke depan. Walau hanya juara 2, kepuasan yang mendalam terukir jelas di hatiku.
“Juara satu dua dan tiga akan mendapatkan kontrak dan uang tunai dari penerbit buku.” Kata pembawa acara, masih heboh. Ketika aku sudah berdiri di atas panggung lengkap sudah memegang piala dan trophynya. Aku tersenyum. Rasa bangga terhadap disi sendiri sangat nyata berada dalam sukmaku.
“Maafin aku pah setiap malem main computer melulu samapi rusak. Bukannya nemenin papah yang lagi sakit. Aku ngerjain ini Pah, ini semua untuk papah.” Batinku, dengan mata terpejam. Air mata menetes. Air mata haru. Aku tersenyum dan buru-buru menghapusnya. Aku melihat ke arah Ibu, matanya berair, sepertinya dia sehabis menangis. Kak Angel dan Kak Gabriel merangkulnya. Aku tersenyum ke arah mereka, mereka membalasnya. Kak Angel mengacungkannya jempolya untukku. Kebahagiaan tiada tara ketika kita mampu membuat orang tua kita tersenyum bangga terhadap kita.

***

No comments:

Post a Comment