Followers

Friday, September 24, 2010

Seandainya Aku Tahu

Finished : September, 18th 2010. 12.19 p.m

Air mata terus menganak sungai di pipiku. Aku semakin mengencangkan pelukanku ke lututku sendiri. Dengan membenamkan wajah, membuat air mata setetes demi setetes jatuh membasahi pahaku. Badanku semakin bergetar. Perlahan aku mengangkat wajahku. Menyenderkannya ke dinding yang berada tepat dibelakangku. Kuhirup angin malam yang masuk melalui jendela kamar yang sengaja aku buka. Aku menatap langit, memandangi ribuan bintang yang bertaburan di bentangan langit. Sesaat hening. Menikmati aku yang sendiri. Hanya ditemani angin yang perlahan mengusap bahuku. Ditemani bulan yang seolah tersenyum, menguatkanku. Ditemani bintang yang berkelip, menghiburku.
Aku mengangguk mantap. Entahlah, ini sudah keberapa kali aku mengangguk mantap. Tetapi sedari tadi anggukan itu runtuh dengan air mata yang juga ikut terbit. Kali ini aku harus bisa menahan bening itu. Aku harus kuat. Tuhan tak akan suka melihat hambanya menjadi lemah seperti ini. Aku harus tersenyum.
Ingatanku terus berputar. Terus berputar. Memutar kenangan kita. Kenangan terindah yang pernah aku miliki. Kenangan yang membuat hidupku semakin berarti dan berwarna.
Ini yang aku benci. Perpisahan. Mengapa harus ada perpisahan? Mengapa aku tak menyadarinya dari dulu bahwa setiap pertemuan akan berujung pada perpisahan? Mengapa perpisahan harus menghampiriku juga? Mengapa perpisahan harus dihiasi dengan air mata? Mengapa perpisahan begitu menyakitkan? Mengapa perpisahan….tak bisa kuterima dengan ikhlas?

~

Matahari mengintipku mlelalui celah-celah gorden dan jendelaku. Perlahan sinar hangatnya membelai lembut rambutku. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Membuat pandanganku agar lebih jelas. Dengan malas aku bangkit dari tempat tidurku. Berjalan menuju kamar mandi. Semalas apapun aku, tak sampailah hatiku untuk berbolos sekolah.
Tak sampai satu jam, aku sudah duduk manis di meja makan. Semua sudah rapih. Pakaian dan perlengkapanku sudah lengkap. Aku tengah asik mengunyah nasi goreng yang tersaji di depanku. Buatan Mamah. Kesukaanku.
“Besok Gabriel ulang tahun yah?” tanya Kak Kiki, yang duduk di depanku. Aku sedikit kaget. Aku menatapnya seraya mengangguk. Kak Kiki, kakakku satu-satunya, lelaki yang berjarak 2 tahun di atasku. Kini, dia tengah menempuh bangku kuliah, semester 1. Dia mengambil jurusan kedokteran. Cita-citanya ingin menjadi dokter gigi.
“Kok tau?” tanyaku, setelah meminum seteguk air putih, untuk sekedar melancarkan nasi yang berada di kerongkonganku.
“Iyalah. Udah 2 tahun masa iya gue gak apal. Ingatan gue gak seburuk itu juga kaleeee..” jawab Kak Kiki. Setelah mengunyah habis suapan terakhir nasi gorengnya. Aku terkekeh. Mamah dan papah yang melihat hanya tersenyum.
“Kali ini kamu mau ngasih apa Vi buat Gabriel?” tanya Papah, lalu mengelap mulutnya menggunakan serbet.
Aku mengunyah suapan terakhir nasiku, setelah ditelan dengan lanar, aku menjawab, “Ya…kayak biasa Pah…surprise kayaknya. Tapi taun ini kan Gabriel sweetseventeen, sama orang tuanya juga mau di rayain.” Jelasku, membuat sedikit pernyataan. Yang lain -Mamah, Papah, Kak Kiki, mengangguk.
“Terus lo gak ngasih kado, gitu?” tanya Kak Kiki. Keningnya mengernyit.
“Mau sih ngasih, tapi gue gak tau apaan”
“Ah cupu lo jadi cewek.” Kata Kak Kiki, melempar potongan tissue bekasnya ke arahku. Dengan sigap aku menangkapnya. Bibirku maju beberapa centi.
“Sudah. Pagi-pagi juga udah ribut aja.” Kata Papah, menengahi. Kak Kiki menunduk. Aku tersenyum puas. Kak Kiki mencibirku. Tak lama, terdengar suara deru mobil yang sudah sangat kuhafal. Perlahan suara mesin itu menghilang, terdengar suara pintu terbuka. Dalam hitungan detik, suaranya bergantian dengan suara bell rumah yang berbunyi.
“Gabriel dateng tuh.” Kata Kak Kiki.
Aku langsung menyangkutkan tasku di bahu, lalu mencium kening Papah dan Mamah bergantian. Ritualku setiap pagi. Kak Kiki yang melihat hanya menggelengkan kepala. Bilang saja dia sirik. Baru saja aku berbalik, hendak melangkah,ternyata Gabriel sudah berdiri di ujung sudut meja makan. Aku tersenyum. Gabriel berjalan mendekat, menyalami kedua orang tuaku, lalu ber-toast dengan kak Gabriel.
“Pagi Tante, Om…” sapa Gabriel ramah, menyunggingkan senyum andalannya.
“Pagi Yel…sarapan bareng ,yuk.” Mamah menawari. Gabriel menggeleng.
“Nggak usah tan, tadi udah sarapan kok dirumah.” Jawab Gabriel. “Via nya dibawa ke sekolah bareng aku yah Tan, Om….”
“Kamu ini kayak baru pertama kali aja.” Kata papah, diiringi tawa renyahnya. “Hati-hati yah.” Gabriel mengangguk.
“Berangkat yah Mah, Pah….” Kataku. Gabriel tersenyum sekali lagi ke arah orang tuaku. Sikapnya yang ramah dan sedikit dingin membuatnya lebih sepsial dimataku. Aku dan Gabriel pun beriringan berjalan keluar dari rumah. Menuju Picanto hitam metalic milik Gabriel.
Jalanan yang sudah lumayan ramai tidak membuat fikiranku buyar. Aku masih terus memikirkan kado apa yang harus diberikan kepada lelaki berkulit hitam manis dan berperawakan kurus yang duduk disebelahku kini. Mataku memandang lurus ke depan. Aku masih belum mendapatkan ide.
Lagu mengalun pelan pelan dari radio yang sengaja Gabriel nyalakan. Senandungnya tak bisa membuat diriku diam. Ini membuahkan sesuatu untukku. Dalam hitungan detik, aku menghentak-hentakkan kaki, mengikuti beat lagu. Kepalaku mengangguk-ngangguk pelan. Dapat kulihat dari ujung mataku Gabriel menoleh ke arahku, lalu tersenyum. Dia lalu membesarkan volume suara, kami menyenandungkan lagu bersama.

Kan kujalin lagu
Bingkisan kalbuku
Bagi insan dunia
Yang mengagungkan cinta
Betapa nikmatnya
Dicumbu asmara
Bagai embun bagi
Yang menyentuh rerumputan
Cinta akan kuberikan bagi hatimu yang damai
Cintaku gelora asmara
Seindah lembayung senja
Tiada ada yang kuasa
Melebihi indahnya nikmat bercinta

Setiap kata demi kata yang aku nyanyikan, dalam diam aku memanjatkan doa kepada Tuhan. Doa yang cukup sederhana tetapi ini salah satu harapan terbesarku. Aku harap aku bisa bernyanyi seperti ini dengan Gabriel selamanya. Sampai rasa ini habis ditelan jaman.
Kami tertawa nyaring seusai kami berbunyi. Terus begitu jika radio memutar lagu lainnya. Aku menikmati saat-saat ini. Dengannya. Dia melihatku seperti aku yang sempurna. Karena cinta, menyempurnakan semuanya. Walau aku tak sempurna, aku mencintainya secara sempura.

~

Aku duduk di mejaku. Disampingku, Shilla sedang sibuk dengan iPodnya. Mendengarkan lagu dengan mata terpejam. Kepalanya ia rebahkan diatas meja yang beralaskan tangan kirnya. Aku menjawil bahunya. Tampak Shilla yang sangat kaget langsung melepas iPodnya.
“Ah elo, ngagetin aja. Kenapa?” tanya Shilla, setelah menyimpan iPodnya ke dalam tas.
Aku terkekeh, “Besok Gabriel ulangtahun.” Jawabku langsung menuju topik pembicaraan. Shilla mengangguk, “gue bingung mau ngasih apa. Lagian, besok kan sabtu, sekolah libur. Biasanya, kalau ngasih surprise selama 2 tahun kemarin kan gue kerjain dia di sekolah. kalau besok?” jelasku, seraya mengangkat bahu.
Shilla mengangguk lagi, “ke rumahnya aja, tepat jam 12, gimana?” kata Shilla, memberi ide. Ehm…sebenarnya bukan memberi, tetapi meyakinkan ideku.
“Gue juga udah mau mikir kayak gitu. Tapi gue juga bingung mau ngasih kado apa ke dia.” Tambahku lagi. Aku menidurkan kepalaku, persis seperti apa yang tadi pertama Shilla lakukan.
“Yang pasti sih….sesuatu yang beda. Cuma ada satu di dunia ini. Gak ada yang bakalan punya selain dia.” Terang Shilla, dia menatapku.
“Lo anterin gue ke rumahnya yah?” pintaku, sedikit merengek. Lalu membangunkan kepalaku, bersikap manja kepada Shilla dengan memelintir-lintir rambutnya yang tergerai panjang ke depan.
Shilla berdecak, memutar bola matanya, aku sedikit memanyunkan bibirku. Akhirnya Shilla pun mangangguk, “Iya deh iya. Tapi lo jemput gue ke rumah yah.”
Aku mengacungkan jempolku, lalu tersnyum puas, “Eh tapi gue bawa apa aja nih ke rumah dia?”
“Bawa kue aja, kayak biasa. Sama apa kek bunga apa gitu, sama kadonya.” Terang Shilla seraya memainkan tangannya. Sekali lagi, aku mengangguk.

~

Dengan izin dan dukungan dari Mamah, papah, dan Kak Kiki, aku melajukan mobil menuju rumah Shilla. Semua peralatan yang tadi pagi di kelas Shilla sebutkan sudah aku siapkan. Kue yang tadi sepulang sekolah aku dan dibantu Mamah yang membuat, serta kado, yang Shilla bilang harus yang benar-benar spesial. Aku fikir ini sudah cukup spesial, dalam jangka waktu yang cukup singkat ini.
Rumah Shilla yang satu perumahan denganku, hanya berbeda cluster denganku, membutuhkan waktu tak sampai 10 menit untuk sampai di rumahnya. Baru saja aku hendak turun keluar dari mobil, Shilla sudah keluar dari pagar rumahnya, lengkap memakai sweater yang sangat tebal. Dia sedikit berlari ketika akan memasuki mobilku…errr….ralat. mobil Kak Kiki yang aku pinjam dengan sogokan kue bolu.
“Eitsss…awas ada kue enak tuh.” Kataku, menahan Shilla yang hendak menduduki kursi. Kue -yang di tempatkan di sebuat kotak berwarna biru laut- memang aku simpan di kursi depan, agar tidak jatuh.
Shilla tertahan. Dia mengangkat kue itu, duduk, dan memangku kue tersebut. “Bikinan siapa nih?” tanya Shilla, mengintip kue itu dari tutup tempat kue yang transparant.
“Ya kayak biasa, bikinan gue sama nyokap gue.” Jawabku, lalu mulai memasukkan porsneling, dan menginjak pedal gas. Mulai melaju menuju rumah Gabriel yang harus menempuh waktu 15 menit dari perumahanku.
Shilla hanya mengangguk, “nanti gue dikasih kan?” tanyanya. Kulihat wajahnya dari sudut mataku. Wajahnya sudah sangat ingin menimati kue itu. Aku sendiri sudah susah payah menahan nafsu untuk memakan barang satu iris
“Iya nanti kalau Gabriel udah tiup lilin.” Jawabku.
“Oke.”
Lalu aku mulai serius mengendarai mobil di tengahnya malam. Membuat mataku harus sangat berhati-hati. Walau sudah malam, kawasan di Jakarta ini cukup ramai. Lampu-lampu kota menyala benderang. Membuat polusi cahaya, alhasil, bintang-bintang yang sebenarnya hadir menghiasi langit gelap tak nampak sedikit pun. Tertutup oleh cahaya-cahaya dari gedung-gedung bertingkat juga jalanan dan lampu kendaraan.
“Pertama gimana nih Shil?” tanyaku, ketika aku baru saja mengangkat rem tangan. Kami sudah sampai di depan rumah Gabriel. Gelap. Hanya lampu teras dan taman yang menyala.
Shilla berdeham, aku menoleh ke arahnya, tampak dia sedang mengetuk-ngetukkan jarinya ke kening, “Gue yang bawain kue, lo bawa kadonya.” Kata Shilla. Mengemukakan hasil pemikiran singkatnya barusan.
“Kado gue bukan berupa benda besar.” Jawabku. Shilla tampak keheranan, keningnya berkerut, membuat alisnya tampat bertautan.
“Yaudah kalau gitu lo yang bawa kue, gue cuma ngintilin aja dari belakang.” Ujar Shilla lalu terkekeh pelan. Aku melengos. “Lo punya nomor orang tua Gabriel kan?” Aku mengangguk, “udah bilang ke mereka tentang ini?” Sekali lagi, aku mengangguk. ”terus gimana?”
“’Kunci cadangan mereka taro di bawah pot.” Jawabku seadanya. Akhirnya shilla mengacungkan jempolnya, seraya tersenyum. Kami pun turun dari mobil, setelah sebelumnya kue untuk Gabriel berpindah posisi dari tangan Shilla menuju tanganku.

~

“Happy birthday Iel… Happy birthday Iel…” kataku dan Shilla semangat, setelah membuka pintu kamar Gabriel, yang entah kebetulan atau tidak, pintunya tak terkunci. Shilla lalu menyalakan lampu. Tampak Gabriel yang masih tidur, malah menarik wajahnya ke bawah selimut. Mungkin dia fikir dia masih mengigau.
“Happy birthday Iel…. Happy birthday happy birthday… happy birthday Ieeeeeeeel.” Tambahku lagi bersama Shilla. Nada suara kami tinggikan. Seperti anak kecil, tetapi selalu saja senang dan bahagia jika menyanyi lagu ini. Kami berjalan mendekati ranjang Gabriel. Gabriel membuka selimutnya. Matanya masih menyipit. Wajahnya masih khas wajah bantal. Dia mengerjap-ngerjapkan mata,lalu sedikit meregangkan tubuh.
“Cieee yang ulang tahun.” Kata Shilla, terkekeh. Gabriel tersenyum. Lalu mendudukan posisinya.
“Yaampun ngagetin aja ihh……gue kira tadi tuh mimpi ada kalian.” Gabriel mengungkapkan perasannya. Tak bisa ia sembunyikan rasa senangnya, senyum merekah dari bibirnya. “Makasih yah Shil…Vi…” tambah Gabriel. Aku mengangguk, tersenyum, seraya duduk di samping Gabriel. Shilla menarik kursi belajar Gabriel, duduk di hadapan kami.
“Cepet tipu lilinnya. Gue udah ngiler pengen makan tuh kue.” Shilla mencak-mencak. Walaupun bercanda. Gabriel memandangnya sinis.
“Emang lo bakal gue bagi?” katanya. Aku tertawa pelan. Aku suka ketika Shilla dan Gabriel mulai bercanda seperti ini. Apalagi jika ada Cakka, kekasih Shilla. Rasanya kebahagiaanku lengkap.
“Sialan lo. Bukannya makasih.” Sungut Shilla, seraya mengepalkan tangannya ke hadapan Gabriel. Gabriel menangkisnya.
“Santai mba hahaha iya tenang aja kali. Cakka gak ikut?”
Shilla menggeleng, “jam 8 aja dia udah jadi kebo gimana jam segini.” Jawabnya, sedikit menggerutu. Aku dan Gabriel tertawa.
“Udah-udah pegel nih gue megang kue nya mulu.” Kataku lalu. Shilla membantuku melepas kue dari tempatnya. Lalu menempelkan lilin yang berbentuk angka 1 dan 7. Selanjutnya Shilla menyalakan lilin dengan korek yang sedari tadi aku kantongi di saku sweater bermotif bunga punyaku.
“Tiup lilinnya tiup lilinnya..tiup lilinnya sekarang jugaaaa…” kataku dan Shilla ceria. Shilla sampai bertepuk-tepuk tangan kecil.
“Make a wish duluuuuuu……” tambahku, ketika Gabriel sudah siap meniup lilin. Gabriel mengangguk lalu memejamkan matanya. Tampak khusyu. Lalu dia meniup lilin itu.
Setiap lilin yang ditiup aku atau Gabriel mungkin menjadi saksi berapa lamanya kami bersama. Sudah 4 tahun hubungan kami bersama, dan ini ke tiga kalinya aku memberi Gabriel kejutan. Kedamaian ketika aku melihat Gabriel meniup lilin atau ketika aku sendiri yang meniupnya tak akan pernah terganti. Terlebih ketika kami sedang meminta permohonan. Mungkin, satu hal yang kami minta dari dulu hingga kini masih sama.
Malam itu, aku, Gabriel dan Shilla saling bercanda. Menikmati hari seperti tahu-tahun sebelumnya. Mencorat-coret wajah dengan krim yang menghiasi kue. Orang tua Gabriel bahkan sampai terbangun, dan ikut bersama kami menikmati malam itu. memakan kue bersama. Semua menikmati malam ini.

~

Aku menyenderkan kepalaku ke bahu Gabriel, memandang bentangan langit yang terpampang luas di hadapanku. Shilla sudah pulang, diantar oleh Obiet tadi, sepupu Gabriel yang tinggal di rumah Gabriel. Kini, aku dan Gabriel berada di halaman belakang rumah Gabriel. Duduk di rerumputan. Tak peduli rumput yang masih basah akibat air hujan yang baru saja reda sekitar jam 11 tadi.
Dalam hati aku terus berdoa agar bisa terus menikmati malam ini. Kehangatan yang aku rasakan ketika berada di samping Gabriel, semoga dapat kurasakan selamanya. Mungkin ini yang namanya cinta sesungguhnya. Aku takkan pernah mampu kehilangannya.
“Yel….” Kataku, teringat akan sesuatu. Gabriel mgnintipku melalui sudut matanya. Aku mengangkat wajahku, merogoh iPod yang berada di saku sweaterku. “Ini kado dari aku buat kamu” kataku, mulai memasangkan sebelah headset iPod ke telinga kanan Gabriel, lalu menempelkan sebelahnya ke telinga kiriku. Dia tampak kebingungan. Tanpa banyak waktu, aku segera memencet sejumlah tombol. Membuat kado dariku segera terjawab.

Cruising when the sun goes down
Cross the sea
Searching for something inside of me
I would find all the lost pieces
Hardly feel deep in real
I was blinded now I see
Hey hey hey you’re the one
Hey hey hey you’re the one
Hey hey hey I can’t live without you
Take me to your place
Where our hearts belong together
I will follow you
‘cause you’re the reason that I breath
I’ll come running to you
Fill me with your love forever
Promise you one thing
That I would never let you go
‘cause you are my everything
You’re the one, you’re my inspiration……..

Lagu yang sengaja aku buat untuknya. Lagu yang hanya aku buat dalam waktu satu jam. Yang aku masukkan ke dalam iPodku. Yang Kak Kiki iringi dengan gitarnya. Lagu yang mungkin merupakan isi hatiku untuknya. Dia segalanya untukku.
Kami masih duduk berhadap-hadapan. Gabriel nampak tersenyum, tak percaya. Saat lagu selesai, dia langsung mendekapku. Aku balas mendekapnya. Hangat. Hanya aku termukan dalam dekapannya.
“Makasih yah…makasih banget…..” katanya setelah melepas dekapannya. Aku mengangguk, bening dari sudut mataku hampir terbit. Air mata bahagia dan haru.
“Buat kamu….kamu segalanya buat aku….” Jawabku. Menambah keindahan malam ini.
Gabriel mengecup keningku. Lagi-lagi,kedamaiann yang hanya akan aku dapatkan ketika Gabriel mengecup keningku.
“Kamu tuh paling bisa bikin aku seneng kayak gini……” ujarnya, lalu mengacak lembut puncak kepalaku. Air mata bahagiaku leleh, aku tersenyum menatapnya.
“Cengeng, mau seneng mau sedih, nangis mulu.” Gabriel mengusap pipiku, menghapus titik air mata. Aku tersenyum.
“Aku sayang sama kamu Yel….” Kataku, tulus dari dasar hatiku.
“Aku sayang sama kamu lebih dari kamu sayang ke aku….” Balas Gabriel, tepat di telingaku. Dia lalu kembali mendekapku.
Malam itu terus berlanjut. Waktu tak akan pernah berhenti berputar. Terus berjalan, mengikuti putaran arah jarum jam. Biar alam yang menyimpan semua kenangan ini, agar tak pernah terlupakan. Terkenang sampai kapanpun.
Entah mengapa aku merasa malam ini adalah malam paling indah, dibandingkan malam-malam jika aku atau Gabriel berulang tahun lainnya. Ini ulangtahun paling beda dan spesial.

~

Aku terbangun karena seseorang telah menelefon ponselku. Semalam, aku pulang pukul 4 subuh. Errr…oke itu bukan malam. Malam itu, aku da Gabriel terus bercerita, memutar kemali memori-memori kita tentang semuanya yang sudah kami lalui selama satu tahun belakangan. Diiringi seringaian tawa renyah yang hadir dari mulut kami berdua.
“Halo…” kataku, masih belum sepenuhnya sadar ketika mengangkat telefon di ponselku.
“Vi…bisa ke rumah sakit harapan sekarang?” suara Tante Nita, Mamah Gabriel terdengar panik. Aku langsung duduk, kaget.
“Kenapa Tan?” tanyaku, dalam hitungan detik wajahku berubah pucat.
“Gabriel…” Tante Nita menggantungkan kalimatnya. Membuat keringat dingin mulai membasahi pelipisisku.
“Kamu cepetan kesini nanti tante jelasin lebih jelas.” Tambahnya. Aku langsung membanting ponsel, bangkit dan segera bersiap-siap menuju rumah sakit. Aku tidak mandi. Hanya menyikat gigi dan membasuh wajah. Aku tak peduli seburuk apapun penampilanku. Yang aku fikirkan hanya Gabriel sekarang. Gabriel. Gabriel.

~

“Gabriel menderita penyakit kelainan jantung……” kata Tante Nita. Kini aku sudah duduk di bangku yang berada di depan kamar Gabriel. Kak Kiki dan orang tuaku sedang di perjalanan, menyusul. Shilla dan Cakka pun sama. Mereka sama-sama kaget dan panik ketika Tante Nita memberi kabar Gabriel di rumah sakit, dan….koma.
Rahangku mengeras, tulang-tulangku serasa lepas dari sendinya. Darahku memebeku. Mataku susah berkedip. Bahkan nafasku sangat berat. “Tan……dari kapan….?” Tanyaku lirih, mulai meremas tangan Tante Nita.
“Dari kecil dia memang sudah menderita itu. tapi parahnya ketika dia mulai masuk SMA.” Jawab Tante Nita ditengah isakannya yang lalu semakin mengeras. Aku memeluknya. Ikut merasakan perih hatinya.
“Tan…kenapa gak ceria ke Via? saat itu Via udah sama Gabriel, kan?” kataku lirih. Air mataku leleh. Langsung banjir, menganak sungai di pipiku. Dadaku sesak. Semua seperti mimpi buruk. Aku harap ini memang hanya mimpi buruk.
“Iel gak mau sapapun tau…termasuk kamu….” Tante Nita mlepas pelukanku, “ketika di perjalanan menuju rumah sakit, ketika dia belum koma, masih setengah sadar dia bilang sayang banget sama kamu dan gak mau liat kamu nangis karena dia. Begiu pula ke tante…dia juga bilang seperti itu…” tangisku pecah. Semakin keras dan terisak. Tak hanya aku, tante Nita pun histeris. Mungkin perh yang dirasakan seorang Ibu dibanding sakit yang dirasakan oleh sang kekasih beda. Yang, memang berbeda.
“Tante gak mau kehilangan Iel……”
“Via juga gak mau Tan……sampai kapanpun gak akan mau…… sekarang kita sama-sama berdoa ya Tan, semoga Iel bisa sembuh.” Kataku, berusaha menenangkan Tante Nita. Sebenarnya berusaha menenangkanku juga. Tante Nita mengangguk. Kami kembali masuk ke dalam kamar Gabriel, terlihat Obiet yang duduk di samping ranjang Gabriel, tengah menundukan kepala. Sepertinya dia sedang berdo’a dengan khusyu. Aku dan Tante Nita duduk di sofa, lalu terdiam. Hening. Hanya isakan yang terdengar di antara kita.
Shilla, Cakka, Kak Kiki dan orang tuaku baru saja datang. Orang tuaku dan Kak Kiki duduk di sofa yang berada di seberang sofaku, Shilla duduk di sampingku, merangkulku. Berusaha menangkanku yang tak hentinya menitikkan air mata. Cakka duduk di kursi yang berada di sisi kanan Gabriel.
Hidup memang tak pernah bisa ditebak. Baru sekitar 8 jam yang lalu aku masih dalam dekapan Gabriel. Bercanda. Tertawa. Bercerita. Bersenandung. Semuanya. Entahlah apa yang sedang Tuhan rencanakan untukku dan kami semua. Aku masih tidak mengerti, mengapa seperti ini. Membuatku tidak percaya. Tak pernah terlintas dibenakku barang sedetik, bahwa semuanya akan seperti ini.
Aku tak siap kehilangan Gabriel. Doa yang selalu kami panjatkan berdua mungkin hanya sampai sini. Tak sepenuhnya terkabul. Kami tak bisa bersama selamanya. Tapi, aku harap, rasa cinta dan sayang kami akan selalu selamanya. Aku masih berdoa dengan teguh, agar Gabriel sadar dan ini hanya mimpi buruk. Atau juga Gabriel bisa segera sembuh dan seperti biasa lagi.

~

Seandinya aku tahu dari dulu, bahwa semalam, adalah pertemuan kita secara nyata untuk terakhir kalinya, apakah aku masih akan seperti ini? Terus menangis. Tidak menerima sebuah takdir yang tanpa disadari ini adalah bagian hidupku.
Seandinya aku tahu dari dulu, semalam adalah terakhir kalinya kau mendekapku. Mungkin aku takkan pernah rela melepaskan pelukanku. Aku akan terus memelukmu, membiarkan kehangatan yang khas itu menjalari tubuhku. Bila perlu sampai kau akhirnya pun tiada.
Seandinya aku tahu dari dulu, kata-kata manis yang kau bisikkan tepat ditelingaku semalam, yang mampu membuat buku kudukku meremang dan jantungku berpcau lebih cepat. Itu adalah yang terakhir kalinya. Mungkin saat itu aku tak akan pernah berhenti bergumam bahwa aku menyayangi dan mencintaimu lebih dari yang kau tahu. Lebih dari bagaimana aku menyayangi diriku sendiri.
Seandainya aku tahu dari dulu, belaian hangat dari mu, usapan tanganmu yang perlahan mengacak rambut di puncak kepalaku. Itu tak akan pernah ku dapat lagi, aku akan minta kepadamu, agar terus membelaiku, mengusapku. Hingga aku merasa puas. Merasa sudah cukup. Tapi apakah kau tahu? Itu takkan pernah cukup.
Seandainya aku tahu dari dulu, saat kau menghapus air mataku, air mata haruku di taman belakang rumahku, itu adalah yang terakhir kalinya. Aku berjanji akan terus menangis saat itu. Aku suka saat kau menghapus bening dari sudut mataku. Membuatku merasa istimewa.
Tak pernah terlintas dalam benakku bahwa semuanya adalah yang terakhir. Terlebih ketika aku melihatmu dimasukkan kedalam liang lahat. Menyakitkan. Dadaku sesak, bahkan tubuhku meleleh. Tak sanggup menerima kenyataan. Tak sanggup tanpa kehadiranmu disisiku seperti biasanya. Tuhan…. Mengapa begitu memilukan? Bisakah kejadian tadi malam terus aku putar ulang?
Aku memandangi layar iPodku, menekan sebuah tombol yang memutar laguku untukmu semalam.

Cruising when the sun goes down
Cross the sea
Searching for something inside of me
I would find all the lost pieces
Hardly feel deep in real
I was blinded now I see
Hey hey hey you’re the one
Hey hey hey you’re the one
Hey hey hey I can’t live without you
Take me to your place
Where our hearts belong together
I will follow you
‘cause you’re the reason that I breath
I’ll come running to you
Fill me with your love forever
Promise you one thing
That I would never let you go
‘cause you are my everything
You’re the one, you’re my inspiration……..

Aku membiarkan bening itu meleleh. Membanjiri pipiku. membuat mataku sembab dan hampir bengkak. Pandanganku kosong. Menatapi langit siang yang masih terang. Matahari terus menyinari. Tak merasakan duka yang aku rasakan. Aku menyenderkan tubuhku ke sudut jendela. Terdiam. Terus begitu sampai keesokannya.

~

Aneh? Iya aku tahu kok. Ini proyek gagal yang sayang kalau di diemin. Jadi aku bikin seadanya aja. Jangan tanya kenapa kalau cerpen aku selalu endingnya mati. Oke? Tinggalkan komen, kau akan bahagia dunia akhirat.

Peaceloveandgaul
@dhitals gabrielFC 1h1f

No comments:

Post a Comment