Followers

Sunday, November 20, 2011

Selalu begitu. Ia pikir, dengan bersembunyi dibalik topeng bahagianya semua akan baik-baik saja. Semua akan berjalan sesuai dengan apa yang ia harapkan. Semua akan berjalan dengan kebahagian yang terpancar. Ternyata ia salah.

Selama menjadi sesorang yang selalu menyembunyikan jati dirinya di balik topeng, perlahan ia mulai tidak mengenal dirinya sendiri. Perlahan rasa di hatinya sudah terlalu kebal, hingga ia mati rasa. Sampai terkadang ada satu waktu dimana ia hanya bisa memeluk lutut di balik pintu kamarnya. Diam diantara kegelapan yang ada. Diam dengan kesunyian yang menemani.

Bukan keinginannya. Entah sampai kapan ini akan terjadi, ia sendiri tidak tahu. Andai ini bisa ia lepas, ia rela melempar ini sampai ke antartika sekalipun. Ia ingin membuang segalanya sejauh mungkin. Bahkan terkadang ia berpikir, ingin hilang ingatan.

3 tahun bukan waktu yang sebentar. 3 tahun dalam jeruji penyesalan terlalu menyesakkan. Sehingga membuatnya sendiri merasa mempunyai batasan untuk bernafas bebas. Sebenarnya, setiap hari pun ia sudah bersikap seolah-olah tidak pernah ada apa-apa dalam hidupnya. Memancarkan kebahagiaan untuk para teman dekatnya. Tapi di balik itu semua, rasa kesepian menguasai hatinya. Rasa kehilangan menggerogoti batinnya.

Ia ingin seperti yang lain. Tanpa topeng. Tanpa senyum palsu. Ingin tertawa dengan lepas, tanpa sesudahnya ada air mata yang terurai. Tapi ternyata sejauh ini, itu semua belum terwujud. Dia masih terjebak dan terus mengandalkan topengnya. Entah sampai kapan.

Ketika rasa kesepian itu muncul, bukan hanya masa lalu yang langsung hadir dalam ingatannya. Entah mengapa, rasa kesepian, membutuhkan seorang sahabat pun sangat membuat semuanya terasa semakin sepi.

Ia bersikap judes dan selalu asal-asalan sesungguhnya sangat berbanding terbalik dengan sikapnya yang sesungguhnya. Ia terlalu mengandalkan topeng itu. Mengira ia akan terus kuat dengan ini semua.

Perlahan tapi pasti, rasa lelah itu menyeruak. Menginginkan udara segar. Membuncah untuk keluar dari hatinya. Ia muak. Jengah. Malas. Lelah terus menanti kapan semua akan berkahir. Lelah, sampai kapan ia terus seperti ini?

Entah ia atau memang sebenarnya seperti ini. Ia selalu merasa tidak dibutuhkan. Merasa, semua akan baik-baik saja ada atau tanpa dia sekalipun. Merasa, dirinya hanyalah penyempit dunia ini. Merasa, jika ia menghilang pun tak akan ada yang menyadarinya.

Semua teman terdekat yang selalu berpikir mereka berlabelkan sahabat itu bohong. Entah ia yang tidak mau mengakui, tidak mau menyadari, atau semua yang ia rasakan itu benar. Ia merasa, teman terdekatnya belum berhak berbendrolkan sahabat. Mereka belum pantas untuk menjadi sahabatnya. Padahal, ia sendiri yang menginginkan sosok sahabat di sisinya. Sosok yang selalu mau menopang kepalanya di bahunya. Sosok yang rela meluangka waktunya untuk mendengar apapun keluh kisahnya. Sosok yang menerima segala kekurangannya.

Sebenarnya itu semua sudah ia dapati dari semua teman dekatnya. Tapi itu hanya terkadang. Terkadang tema dekatnya mau menopang bahunya, mau mendengar keluh kisahnya. Apa ia yang tak sadar, itu bukan terkadang, tetapi, karena ia yang selalu bersembunyi di balik topeng. Toh, bukankah teman dekatnya pun tak tahu itu, kan?

Ia merasa mempunyai 2 jiwa yang berbeda. Yang terkadang dalam waktu bersamaan bisa sebegitu berbanding terbalik. Ia ingin membuat segalanya berjalan normal, melepas topengnya. Pernah ia mencoba itu sekali. Tapi ternyata itu malah membuatnya menjadi cewek manja dan lemah. Dan ia benci itu. Padahal sesungguhnya, itulah yang ada dalam dirinya.

Bagaimanapun, dengan berjalannya waktu, ia menjadi dewasa. Harus menentukan mana yang terbaik dan ana yang buruk. Ia berusaha meyakinkan dirinya, semua akan baik-baik saja. Karena semua, sudah ada jalannya.

Ia tidak pernah lagi berharap. Mimpi yang dulu berkobar dalam dadanya sudah padam. Yang ada tinggal abu kenangan masa lalu. Tak bisa dibanguun lagi. Karena ia sendiri sudah tidak ingin untuk itu. ”Toh, mau berharap ataupun tidak, semua sudah ada jalannya, bukan?”

Hidup memang keras. Terlalu keras malah. Tapi apa salahnya untuk membangun puing puing harapan. Untuk sekedar membangkitkan asa yang runtuh dalam hati. Bukankah harapan berguna untuk membangkitkan segalanya, untuk berpikir optimis?

No comments:

Post a Comment