Followers

Monday, June 21, 2010

Our Life, Our Destiny, and the Best for Us :) part 19

***

Shilla yang mendapat SMS dari Ify yang mengajaknya bertemu di taman komplek membuat dia sedikit heran. Tapi ia segera merapikan penmapilanya. Setelah siap, dia pun pergi menuju taman, yang berada tak jauh dari rumahnya.

Shilla duduk di bangku taman. Tangannya diketuk-ketukkan ke bangku taman, dia menggigit bibir wajahnya, lalu sesekali membuang pandangannya ke seluruh penjuru taman. Dia mulai berdiri. Sekarang sudah jam setengah 3. telat setengah jam dari waktu
yang sudah Ify janjikan. Dia mondar-mandir, terlihat dari semua gerak-geriknya
bahwa dia kesal karena lama tapi juga khawatir karena sedari tadi dia mempunyai
firasat yang tidak mengenakkan.

Ify, Iel, Via dan Rio baru saja tiba di taman. Mereka bersembunyi di warung yang berada tak jauh dari taman. Mereka mengawasi Shilla dari jauh, dilihatnya Shilla yang hanya sendirian.

“Riko kemana? Kok belum dateng?”Tanya Via sembari mengintip-ngintip ke arah Shilla yang masih duduk sendirian.

Iel mendekati Via dan ikutan mengintip, diliriknya arloji miliknya, “udah jam 3.45, tapi kok belum dateng yah?”ujar Iel juga tak kalah bingungnya dengan Via.

“Samperin aja deh kalau gitu Shilla nya. Riko payah nih.”ajak Rio lalu mulai keluar dari warung. Ify Iel dan Via hanya mengekor.

Shilla masih mamandangi rerumputan dengan perasaan geram. Tak mengerti apa maksud Ify kali ini. Dia memukul-mukul bangku tangan dengan kepalan tangannya. Berusaha melampiaskan kesalnya. Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara langkah
kaki, dengan segit Shilla menoleh.

“IFY! Lo kemana aja sih? Hampir sejam gue nungguin lo disini!!!!”omel Shilla tak beranjak dari bangkunya. Ify hanya menggigit bibir bawahnya lalu duduk di sebelah Shilla.

“Hem…anu Shilll…….sebenernya…..” Ify gelagapan. Dia menunduk sembari berusaha memikirkan apa alasan yang tepat. Apakah dia harus jujur? Dia menoleh ke arah Via yang berdiri tak jauh dari bangku itu.

“Sebenernya kita punya rencana Shil.”ceplos Via langsung. Iel, Rio, Ify, dan Shilla langsung menoleh ke arah Via sembari mengernyitkan dahi. Tak mengerti. Via berjalan mendekati bangku diikuti Iel dan Rio.
“lo yang jelasin aja Fy, semuanya.”lanjut Via tanpa beban.

“……jadi gitu, eh tahunya Riko gak dateng-dateng.” Ify mengakhiri ceritanya kepada Shilla. Cerita tentang rencana Riko akan menyatakan perasaannya. Pipi Shilla merona ketika mendengar cerita itu.

“Jadi……kemana Riko sekarang??”Tanya Iel akhirnya. Mereka juga pastinya bingung mengaa Riko bisa sebegini pengecutnya, menggagalkan rencana acara penembakan ini.

“Perasaan gue gak enak deh.”ujar Via ragu. Dia takut terjadi apa-apa dengan salah satu sahabatnya itu.

“Gue juga nih.”timpal Rio setuju.

“Mending ke rumahnya aja deh. Gimana?”Tanya Ify lalu semuanya menganguk. Mereka pun berjalan beriringan menuju rumah Riko yang berada lumayan jauh dari taman. Shilla meremas-remas ujung bajunya. Tangannya terkepal. Tak henti-hentinya dia
menggigit bibirnya sendiri.

Akhirnya mereka pun tiba di depan rumah Riko. Sepi. Tak ada tanda-tanda adanya orang. Mereka berfikit paling sedang tidur siang, tetapi gerbangnya di gembok. Iel yang memeriksa gerbang itu hanya mengakat bahu. Sedangkan Ify yang sedari tadi
sudah puluhan kali memecet bell terlihat bingung.

“Kemana sih ini orang sekeluarga?”ujar Rio sedikit kesal lalu mulai menggedor-gedor gerbang.

“Rumah orang woy.” Via memperingati Rio. Rio hanya nyengir.

“Mungkin tiba-tiba ada urusan mendadak kali.”Shilla akhirnya buka suara. Via menolah kearah Shilla.

“Jangan sedih yah Shil, besok kita check lagi ke rumahnya.” Via mendekat ke arah Shilla sembari menegelus pelan punggung Shilla. Shilla tersenyum.

“Nanti gue marahin Shil si Riko gara-gara gak ngasih kabar. Tenang aja.” Kali ini Iel yang menennagkan. Shilla tersenyum, sahabat-sahabatnya begitu memeprhatikannya.

“Yaudah kalo gitu, balik aja yah?”usul Rio yang sebenarnya sudah lelah berdiri tidak jelas di depan rumah Riko. Shilla mengangguk, yang lain pun ikut mengangguk. Mereka pun pulang. Ify pulang
bersama Rio, sedangkan Via bersama Iel.
Sebenanrnya Via sudah menawarkan diri untuk mengantar Shilla, tapi Shilla
menolak dan ingin pulang sendiri.

Ada sedikit kekecewaan dalam benak Shilla. Keraguan atas perasaan yang Riko balas untuknya. Dia masih berfikir kenapa Riko bisa membatalkan rencana ini begitu tiba-tiba? Tanpa memberitahu siapapun. Dia berjalan menuju rumahnya --yang lumayan jauh dari
rumah Riko-- sembari menendang-nendang kerikil di jalanan. Tangannya
memelintir-lintir rambutnya. Matanya berkaca-kaca. Dia menunduk. Tapi dia
berusaha menepis fikiran negative nya terhadap Riko.


***


Iel yang baru tiba di rumahnya langsung menghempaskan tubuhnya di sofa yang terletak di ruang TV rumahnya. Deva yang sedang bermain PS-duduk di karpet- memandang Iel sebentar lalu kembai mengalihkan pandangannya menuju layar Televisi.

“Kenapa kak?”Tanya Deva tanpa mengalihkan pandangannya. Heran melihat kakaknya seperti terlilit hutang.

“Si Riko.”jawab Iel singkat lalu bangkit dari posisinya dan mendudukan tubuhnya.

“Kenaopa kak riko? Bukannya tadi pagi baru ketemu?”jawab Deva cuek.

“Gitu deh , tadi gue janjian sama anak-anak, sama Riko juga, eh dia gak dateng tanpa ngabarin ke kita.”jelas Iel singkat lalu bangun, berjalan menuju meja makan yang tak jauh dari situ untuk mengambil minum.

“Ada urusan mendadak kali, terus HP nya mati.”respond Deva singkat. Iel kembali duduk di tempat asalnya.

“Mungkin.”jawab Iel lalu menidurkan posisinya di sofa, “besok kan lo sekolah, lo tanya Keke dong. Oke?”lanjutnya.

“Oke.” Iel pun lalu meninggalkan Deva di ruang TV, bergegas menuju kamarnya, untuk tidur.


***


Keesokan harinya saat isitirahat di sekolah, Deva langsung menjalankan amanat dari Kakaknya. Dia langsung menemui Keke, yang notabene kelasnya bersebelahan dengan kelasnya.

“Ke…”seru Deva dari ambang pintu ketika melihat Keke sedang berbincang dengan Olivia.

Keke menolah lalu menunjuk dadanya sendiri, Deva mengangguk. Keke berjalan mendekati Deva, “Kenapa Dev? Mau minjem Pr ? atau catetan?”tanya keke yang sepertinya sudah hafal kebiasaan Deva menghampirinya ke kelasnya.

Deva nyengir lalu menggeleng, “gue cuma mau nanya, Kak Riko kenapa? Kata Kak Iel kemaren dia sama temen-temennya ke rumah lo, rumah lo sepi.”jawab Deva seadanya, tidak ingat betul cerita Kakaknya.

Keke menunduk, raut wajahnya berubah, dia mehanan nafas. Sesak jika mengingat Kakaknya, mungkin sekarang temen-temen kak Riko sudah harus tahu kondisi kak Riko…batin Keke gelisah.“bilang ke kaka lo, temuin kak Riko di rumah sakit harapan
kamar nomer 312.”jawab Keke setelah sebelumnya menghembuskan nafas.

Deva membulatkan matanya yang memang sudah bulat, “ada apa?”tanya Deva polos.

Keke sedikit geram, malas memikirkan kondisi kakanya, “udah deh, udah gue kasih tau kan? Masih nanya lagi. Bilangin aja gitu.”jawab Keke lalu pergi meninggalkan Deva, kembali ke tempatnya. Deva hanya menggaruk belakang kupingnya dan berjalan menuju
kelasnya.


To : kak Iel

Kak, kata keke lo disuruh ke rs harapan komer nomer….300 berapa yah gue lupa. Katanya disitu ada kak riko.


From : kak Iel

Hah? Riko knp? Aduh bego! Tanya keke lg kamar nmr brpnya


To : kak Iel

ye gatau ah. Mash untung gw baik mau nanyain. Udah yah gw mau bljr.


Deva memasukan Hp nya ke dalam tas, setelah terdengar bunyi selop si guru, Bu Winda.


***


Setelah mendengar berita dari Deva, Iel langsung memberitahu ke-empat sahabatnya yang lain. Menyuruh mereka untuk datang ke rumahnya. Dia sengaja tak memberitahukan tujuannya. Lebih baik setelah berkumpul, selain irit bicara, agar semua lebih
jelas juga.

“Riko dimana Yel?”tanya Shilla setelah mereka sudah berkumpul di ruang keluarga Iel, nada bicara Shilla sangat khawatir.

Iel meminum jus jeruknya lalu menjawab pertanyaan Shilla, “tadi gue dapet SMS dari Deva, dia kan satu sekolah sama adeknya Riko, kata adeknya Riko sih, itu si keke, Riko ada di rumah sakit harapan kamar nomer 300 berapanya Deva lupa.”jelas
Iel serius. Via dan Rio manggut-manggut,
paham. Shilla masih berfikir sejenak, menepis fikiran-fikiran negative yang
menimpanya. Sedangkan Ify menggigit bibir bawahnya, ‘jangan-jangan kanker dia
kambuh lagi? Aduh bego banget sih gue, lupa kalau dia penyakitan.’ Batin Ify,
masih belum berkonsentrasi.

“Jadi……Riko sakit?”tanya Via berhati-hati.

Rio menyubit pelan lengan Via,”jangan mikir gitu dulu.” Via hanya manyun.

Iel melirik Shilla yang benar-benar khawatir, “bukannya gue negative thinking. Perasaan gue bener-bener gak enak. Dan kalau mungkin dia nengokin keluarganya mungkin di rumah sakit, apa sampe lupa ngasih kabar ke kita? Dan ya…..” Iel
sendiri menggantungi ucapannya. Dilihatnya Shilla yang sudah sangat pias.

“Dari pada nebak-nebak gak jelas, langsung ke rumah sakit aja deh.”timpal Ify setelah berhasil menghilangkan fikiran negative nya.

“Yaudah, pake mobil gue aja. Motor lo ditinggal disini aja Yo, supir lo suruh balik aja Shil.” Iel memberi arahan. Mereka mengangguk lalu berjalan menuju garasi, menuju mobil Iel -mobil keluarga Iel-.

Rio yang duduk disamping tempat Iel menyetir melihat jelas mimik muka dari semuanya bhawa mereka semua sedang panik. Panik memikirkan sahabatnya yang lain. Terutam Shilla dan Ify. Sempat Rio heran dengan Ify yang mendadak lebih diam, tidak ikut bergabung dalam percakapan Via
dan Shilla yang sebenarnya sedang mengalihkan fikiran mereka.

Bau khas rumah sakit sangat menyengat ketika mereka berlima telah sampai di lobby rumah sakit. Mereka langsung menemui meja tempat para receptionist , untuk menanyakan kamar Riko yang sebenarnya.

“Sus, ada pasien yang bernama Riko Anggara?”tanya Iel.

“Sebentar yah..”jawab si suster lalu melai mengecek melalui komputernya, “kamarnya nomer 312.”jawab Suster sembari tersenyum. Mereka semua lalu mengangguk dan megucapkan terima kasih. Saat baru saja mereka akan menaiki lift, menuju kamar
Riko, Shilla mengentikan langkahnya. Via yang sedari tadi menggandeng Shila
merasakan itu.

Via menoleh, “kok berhenti Shil?”tanya Via yang membuat semuanya juga berhenti, mengurungkan niat menaiki lift.

“Gue takut.”jawab Shilla simple.

“Takut kenapa?”

“Gue takut kayak di sinetron-sinetron gitu.” Via dan yang lainnya hanya menggelengkan kepala.

“Lo khawatir sama Riko?”tanya Rio yang sudah berdiri di sebelah Shilla.

Shilla menoleh lalu mengangguk, “tapi nanti jangan ngebahas ini di depan dia yah. Kita bahas tentang sakitnya aja. Oke?”pinta Shilla, rona wajahnya memerah. Semuanya malah terkekeh mendengar pernyataan Shilla.

“Yaelah kira gue kenapa. Santai lah Shil.”timpal Iel yang mendapat pukulan kecil dari Shilla di lengannya. Lalu mereka pun melanjutkan menuju kamar Riko.

Ify sibuk sendiri dengan fikirannya, tangannya masih bergandengan dengan Rio, tetapi fikirannya sedang sibuk sendiri, ‘kalau Riko ngebeberin penyakitnya, apa gue perlu ngebeberin penyakit gue juga?’ kalimat yang berupa pertanyaan itu terus saja melayang layang di otak Ify, meminta
kepastian.

Setelah sampai menemukan kamar bernomerkan 312, dengan berani Iel mengetuk pintu kamar itu. Tak lama sosok waanita paruh baya keluar, Mamahnya Riko.

“Siang Tante,”sapa kelima sahabat Riko itu sembari bergantian bersalaman dengan Mamah Riko. Mamah Riko tersenyum.

“Riko…di dalem tan?”tanya Iel hati-hati. Ahilla menunduk, tangan Via terus mengenggam pergelangan tangan Shilla. Rio merangkul Ify, sedangkan Iel menunggu jawaban dari mamah riko.

Mamah Riko mengangguk,”kalian ini sahabat-sahabat Riko ya? Yang sering Riko certain?”tanya Mamahnya, mereka mengangguk, “Riko di dalem. Lagi koma.”lanjutnya lagi, sembari berusaha tersenyum. Sebenarnya sudah tak mau membahas penyakit
anaknya. Semua sahabatnya disitu tercengang mandengar pernyataan dari Mamah
Riko.

“Riko sakit apa Tan?”tanya Via polos tetapi juga sebuah pertanyaan dalam benak sahabatnya yang lain, kecuali Ify, tentunya.

“Nanti juga Riko cerita ke kalian. Yuk masuk, nunggu di dalem aja. Sekalian tante mau pulang dulu, jadi tante tenang nitipin Riko ke kalian.”jawab mamahnya sembari memasuki ruangan kamar Riko. Iel dan yang lainnya membuntuti lalu duduk di sofa
yang ada disitu. Setelah mereka duduk, Mamah Riko berpamitan untuk pulang dulu
sekaligus menitipkan Riko pada mereka. Mereka mengangguk, karena mereka juga
ingin menjaga sahabatnya itu.

Shilla berjalan mendekati ranjang Riko. Wajah Riko pucat, selang dan beberapa alat medis tertempel di badannya. Koma. Keadannya koma. Diambang hidup dan mati. Shilla duduk di kursi sebelah ranjang Riko. Matanya mulai berkaca-kaca.
Perlahan dia mengelus lembut telapak tangan Riko, air mata jatuh membasahi
tangan Riko. Cepat-cepat dia menghapusnya.

Ify duduk disebelah Rio yang kini tengah merangkulnya. Dia menunduk. Tak tega melihat kondisi Riko. Sesungguhnya penyakit Riko jauh lebih parah dibanding penyakitnya. Dia hanya mampu berdoa pada Tuhan,
agar Riko diberi kejaiban.

Rio merangkul Ify, dia menatap ubin ruangan itu. Sejumlah pertanyaan menggelayuti pikirannya. Pertanyaan tentang apa yang terjadi pada sahabatnya ini? Sakit apa dia? Separah apa? Sejak kapan? Dan, kenapa disembunyikan? Dia hanya mampu menunggu Riko sadar agar semua pertanyaan itu ia
ajukan, dan Riko jawab.

Via berjalan mendekati Shilla, mengelus lembut rambut Shilla. Mengajaknya duduk di sofa satunya lagi. Shilla menurut. Lalu mereka berdua duduk di sofa. Air mata di pipi Shilla belum dihapus. Via menggenggam tangan Shilla, dia mengerti
bagaimana perasaan sahabatnya kini. Terpukul dan tidak percaya akan semuanya.
Via sendiri sangat tidak mempercayai apa yang kini dilihatnya.

Iel duduk, termenung. Tak henti-hentinya memanjatkan doa, meminta kesembuhan akan sahabatnya ini.


***


Sudah 4 jam mereka menunggui Riko. Mamah Riko pun sudah datang kembali ke rumah sakit. Mereka masih berdiaman. Saling memanjatkan doa. Ketika Shilla baru akan menuang minum, untuk dirinya, dia melihat jari-jari Riko bergerak, dia
mendekati ranjang Riko, mengurungka niatnya untuk menuang minum, dia lihat
lebih cermat, memastikan bahwa itu gerakan dari tangan Riko.

“Tan, tangan Riko gerak!”seru shilla kegirangan. Semuanya mendekat ke arah ranjang. Iel langsung memencet bell ruamh sakit.

Tak lama dokter dan para suster pun datang, Iel dan lainnya menunggu diluar kamar Riko, beserta Mamah Riko juga. Dokter dan susternya sedang memeriksa keadaan Riko. Mereka menunggu dengan harap-harap cemas. Ketika pintu kamar Riko
terbuka, Mamah Riko langsung menghampiri dokter itu.

“Bagaimana keadaan anak saya Dok?”tanya Mamahnya panik.

Dokter menghela nafas, berat, lalu sedikit tersenyum, “keadaan Riko membaik, sekarang sudah sadar. Tapi jangan membuat dia banyak beraktifitas.”jelasnya lalu meninggalkan semuanya. Mereka pun masuk ke dalam kamar Riko. Terlihat Riko yang
kini tersenyum, senyum karena teman-temannya datang dan ada untuknya.

Mamah Riko membisikan sesuatu kepada Riko lalu mencium kening Riko dan tersenyum. Riko menatap Mamahnya lalu mengangguk dan juga tersenyum. Tiba-tiba Mamah Riko meningglkan mereka, keluar dari ruangan. Iel menghampiri Riko lalu duduk
disamping ranjang Riko.

“Lo kenapa Ko?”tanya Iel serius, sebenarnya kegembiraan tertanam jelas dari mimik wajahnnya.

Riko menatap Iel lalu tersenyum, “sakit.”jawabnya.

Iel melengos, “sakit apa?”

Riko menatap semua teman-temannya bergantian, yang kini mengelilingi ranjangnya,”gue….kanker….”jawabya terbata-bata. Lalu dia menutup perlahan kelopak matanya. Shilla mengenggam tangan Via, keras. Via dapat merasakan bahwa Shilla
ingin menangis, tetapi ia lampiaskan pada cengkraman itu. Rio
menatap Riko seolah tak percaya, begitu pula Iel, “Ify udah tau kok.”lanjut
Riko lalu menatap Ify, semua langsung menoleh ke arah Ify, Ify mengangguk lalu
tertuduk, “tapi gue yang minta nyembunyiin semuanya” semua lalu kembali menatap
Riko.

“Kok, Ify bisa tau Ko?”tanya Via, lalu menatap Ify, yang masih menunduk, dan Riko bergantian. Ify berikir, “apa harus Riko menceritakan kejadian di rumah sakit itu? Berarti sakit yang gue derita selama ini pun akan terbongkar….”batin Ify,
keringat dingin mulai keluar, dia gelisah.


****

No comments:

Post a Comment