Showing posts with label cerbung :). Show all posts
Showing posts with label cerbung :). Show all posts

Saturday, August 14, 2010

Our Life, Our Destiny, and the Best for Us :) part 24 (LAST PART!)

***


Seolah ribuan Dewi Fortuna sedang berpihak kepada mereka, Ify, Riko, dan Via merasa merekalah manusia paling bahagia di muka bumi ini. Ta hentinya mereka mengucap syukur kepada sang pencipta. Tuhan
memang baik. Rencana-nya memang tak ada yang bisa menebak.

Via duduk di atas sofa ruang yang berada di hadapan TV, di rumahnya. Di tangan kanannya terdapat amplop coklat yang membuat seulas seyum masih terpatri jelas
di wajahnya. di samping kanannya, Papahnya sedang duduk, menepuk-nepuk puncak
kepalanya. Merasa bangga akan anaknya itu. sedangkan Mamah tirinya, baru saja
selesai menelefon Mamah kandung Via, memberitahu akan berita bahagia ini.
Tiba-tiba Via kembali memeluk Papahnya. Mungkin ini sudah keseratus kalinya dia
melakukan hal ini.

“Via bisa Pah… via bisa bikin kalian bangga…..” pekiknya dalam pelukan sang Papah. Papahnya mengelus rambut Via.

“Iya, Papah tau Via pasti bisa. Maafin Papah yah karena Papah pernah menyepelekan kamu.” Sahutnya, lalu menarik wajah Via dan memegang erat pundak Via dengan
kedua tangannya.

Via mengangguk, air mata haru kembali mengaliri pipinya, “Ini buat kalian.” katanya, mengangkat ke atas amplop berwarna coklat itu. Papahnya mengecup kening Via.

Tiba-tiba Kak Zahra baru saja menapakkan kakinya di anak tangga paling terkahir. Dengan sedikit heran, dia melangkah mendekati Via dan Papahnya berada.

“Lo keterima Vi?” tanya Kak Zahra, nada sinis terdengar jelas dari nada bicaranya.

Via mengangguk, “gue bisa ka……” pekiknya. Menatap kakanya dengan penuh harap. Berharap Kakak tirinya itu akan memeluknya.

Kak Zahra membuka tangannya, menyambut Via dalam pelukan, tak kurang dari 5 detik, ia dan Via sudah berpelukan. Sedikit rasa sesal memenuhi relung hati Zahra.
Harapan Via untuk memeluk Zahra akhirnya terkabul.

“Maafin gue yah Vi… pasti omongan gue selama ini nyakitin hati lo bangget.” Ujarnya dalam pelukan.

“Gak apa-apa kak, malah omongan lo jadi motivasi buat gue.” Sahut Via. kak Zahra melepaskan pelukannya dan menatap Via. rasa bangga terhadap adik tirinya
itu luar biasa besarnya.

“Gue bangga sama lo Vi. Mulai sekarang gue gak akan lagi ngejelek-jelekin lo Vi.” Katanya tulus. Via mengangguk lalu tersenyum. Papah dan Mamahnya yang melihat
itu hanya bisa tersenyum. Mereka juga sadar, bahwa mereka sangat kurang dalam
memperhatikan Via. mereka sangat cuek terhadap Via. Kini mereka akan lebih
memperhatikan Via, tanpa mengurangi perhatiannya kepada Zahra.


Tak jauh dengan Via, Ify pun sama. Keluarganya sedang diselimuti rasa bahagia. Bukan hanya di terimanya Ify di SMA Favorit, tapi juga kesempatan Ify untuk
sembuh. Orang tua Ify sudah menemui Dokter Danang dan setuju akan operasi itu.
Operasi pun akan di laksanakan 3 hari kemudian.


Ify, Rio, Via, Iel, dan Shilla tengah duduk di kursi tungu, yang berada di koridor dekat ruangan dimana Riko sedang melakukan
operasi. Wajah mereka pias, jari-jari mereka di ketuk-ketukkan ke pahanya
masing-masing. Sesekali mereka berjalan mondar-mandir. Seolah menunggu 150
menit itu bagaikan menunguu 20 tahun.

Orang tua Riko dan Keke pun tak kalah gelisahnya. Tapi yang jelas dalam hati mereka semua terpanjat do’a-do’a untuk keberhasilan operasi itu.

Detik demi detik berdenting, menit demi menit begulir, jam demi jam pun terus berputar, yang di tunggu pun akhirnya kelar dari ruangan yang mengerikan itu.
semua langsung mengerumuni dokter yang baru saja melepas maskernya.

“Operasinya………lancar dan berhasil.” Katanya. Dengan jedaan yang membuat mereka semua menunggu dengan hati yang sangat berdebar. Ucapan dokter tadi langsung membuat mereka memuji
syukur kepada Tuhan.

Seraya mengelap air mata haru dari sudut matanya, Mamah Riko bersalaman dengan Dokter, diikuti oleh Papah Riko juga. Keke masih dalam pelukan Shilla, tak mampu
membendung rasa bahagianya. Sedangkan Via, Iel, Ify, dan Rio
masih tak sadar karena terlalu larut dalam kebahagian. Seolah dunia hanya di
tempati oleh kebahagiaan merela. Dokter sendiri merasa puas dengan hasil
kerjanya. Usahanya mampu membuat orang disekitarnya tersenyum, bahkan menangis
haru.



Seminggu dari hari Operasi Riko, semua berjalan dengan sangat indah. Riko yang tidak lagi mempunyai beban apapun. Shilla yang tidak perlu merasa takut kehilangan
Riko Secara tiba-tiba, Via, Iel, Rio, dan Ify
yang tak perlu kehilangan sahabatnya nanti. 3 hari seusai operasi pun Riko
sudah diizikan pulang oleh pihak rumah sakit.

Kali ini Ify. Hari ini Ify akan menjalani operasi untuk penyembuhan kankernya. Sama seperti kejadian Riko saat di operasi, para sahabat pun setia menunggu.
Memanjatkan do’a. meminta yang terbaik kepada Tuhan.

Butuh waktu 3 jam untuk menyelesaikan operasi Ify. Para sahabat dan keluarga Ify dengan setia menanti. Menanti kabar dari Dokter yang
akan mengatakan bahwa operasi Ify berjalan lancar. Setiap detik terasa satu
jam. Sangat lama. Tapi tanpa lelah mereka terus menanti.

Suara kenop pintu ruang operasi terbuka. Semua yang asalnya berposisikan duduk langsung segera bangkit dan mengerumuni Dokter. Tersirat harapan yang sangat
besar dari pancaran mata mereka masing-masing.

“Operasinya….berjalan lancar.” Ujar Si Dokter, lalu tersenyum lebar. Semua yang ada disitu langsung mengucapkan syukur yang sebesar-besarnya kepada Tuhan. Mamah Ify pun sampai
meneteskan air mata kebahagiaan.



Suara sudah terdengar riuh. Para siswa dan siswi sudah berkumpul. Mendatangi acara pelepasan atau yang biasa disebut acara perpisahan
angkatan. Via yang mengenakan dress bermotif batik itu melangkahkan kakinya
untuk menuruni mobil. Cade clothes acara perpisahan kali ini memang batik. Baru
saja dia menutup pintu, sambutan hangat dari Shilla dan Ify yang langsung
menghampirinya langsung terdengar. Mamah tiri Via hanya tersenyum melihatnya. Via
memeluk hangat kedua sahabatnya itu.

“Mamah masuk duluan yah.” Kata Mamahnya setelah bersalaman dengan Shilla dan Ify. Via hanya mengangguk. Mamahnya pun berjalan memasuki gedung dimana acara dilaksanakan.

“Via cantik banget.” Puji Shilla tulus, seraya meperhatikan Via dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan kedua tangan memegangi kedua pundak Via.

Via tersenyum, “semuanya cantik ko.” Jawab Via.

“Ahhhh tapi lo emang paling cantik deh Vi……” timpal Ify, “nanti Iel tambah naksir tuh.” Godanya seraya mencuil dagu Via.

“Aih……kok jadi bawa-bawa Iel sih.” Via merasakan pipinya mulai bersemu. Shilla dan Ify hanya terkekeh.

“Yaudah yuk masuk. Dari tadi kita di paparazzi in nih sama tukang fotonya. Berasa artis aja.” Kata Shilla yang diberi anggukan oleh Ify.

“Foto dulu aja yuk yang bener minta ke tukang fotonya. 3 taun sekali.” Kata Via seraya terkekeh. Ify dan Shilla lalu menganggk. Memanggil salah satu tukang
foto dan langsung siap bergaya.

Via Shilla dan Ify sudah duduk manis di bangku dalam gedung. Di sebelah mereka juga duduk Iel, Rio dan Riko. Menikmati setiap
hiburan yang disajikan dalam acara ini. Ada
drama, tarian tradisional, nyanyi, band, modern dance, sampai penghargaan
kepada nilai terbaik. Suasananya sangat ramai. Mungkin bisa dibilang ini adalah
hari terakhir mereka berkumpul bersama.


Ify, Via, Shilla, Rio, Riko, dan Iel terjebak dalam derasnya hujan. Jam sudah menunjukan pukul 5 sore. Acara sudah selesai sejak
jam 2 tadi. Salahnya, mereka tidak langsung mengikuti ajakan orang tua untuk
segera pulang. Mereka memilih untuk bermain di taman sebelah gedung.
Menghabiskan waktu kebersamaan mereka. Mereka berenam berteduh di pos yang
berada di sudut taman. Sangat pas ukurannya dengan jumlah mereka.

“Ujannya udah agak reda. Tiggal gerimis kecil.” Kata Via, seraya menegadahkan tangannya ke langit. Merasakan tetes demi tetes air hujan yang membasahi telapak
tangannya.

“Tapi gerimis yang bikin pusing.” Timpal Riko yang duduk di sebelah Via, menggosok-gosoka telapak tangannya sendiri, menghangatkan tubuh. Via menoleh.

“Terus sampe kapan mau disini?” tanya Via, mulai putus asa. Sudah setengah jam mereka menunggu hujan benar-benar reda.

“Tunggu ajalah Vi, bentar lagi juga reda kok.” Sahut Shilla yang duduk di sebelah kanan Riko. Via mengangguk lalu tersenyum, kembali duduk.

“Ehm.” Rio yang duduk di depan Riko berdeham, semuanya langsung menatap Rio, “Guys……masalah gue pindah ke Surabaya……”
katanya, menggantungkan ucapan. Mereka semua teringatkan oleh hal ini. Seiring
berjalannya waktu dan sibuknya mereka, mereka sampai lupa kalau Rio akan pindah. Akan berpisah dari mereka. Oh….Ify
selalu mengingat hal ini. Hal yang tak ingin Ify terima. Sesuatu yang
benar-benar ingin Ify tolak, “Gue gak jadi pindah.” Seru Rio, lalu tersenyum
lebar menatap wajah sahabatnya bergantian. Ify yang semula hanya menunduk
akhirnya menatap Rio dengan senyuma yang
sangat merekah.

“Serius?” tanyanya. Suaranya tercekat. Rio mengangguk seketika lalu mengusap puncak kepala Ify. Ify menyenderkan kepalanya di bahu
kiri Rio.

“Akhirnya gak jadi pindahhh………” kata Iel yang dijawab oleh anggukan dari semuanya.

“Eh ujan-ujannan yuk!” ajak Via tiba-tiba. Lalu mulai bangkit dan keluar dari pos tanpa menunggu jawaban dari para sahabatnya. Via lalu berlari berputar di bawah
rintikan hujan. Kepalanya ia gadahkan ke langit, membiarka wajahnya di tetesi
oleh gerimis-gerimis kecil. Sahabatnya yang lain mengikuti. Menikmati hari ini.
Mungkin hari ini adalah puncak kebahagiaan dari hari-hari sebelumnya. Hari-hari
yang juga sangat menjadi hari mereka.

Iel membentangkan tangannya. Memikirkan sesuatu yang selama ini mengganjal di fikirannya. Haruskah ia ungkapkan hal itu sekarang? Disaat mereka akan
berpisah? Apakah ini tidak terlalu terlambat?

“Eh Shil, Ko……kalian jadinya sekolah dimana?” tanya Ify, ketika mereka masih berputar-putar di bawah hujan.

“Gue sama Riko udah lolos masuk SMA 5 lewat jalur prestasi.” Jawab Shilla sumringah, mengerling sesaat ke arah Riko, yang kini tengah mengenggam tangan kanannya.

“Selamat yaaaaa!” timpal Via, “lo gimana Yel di SMAKBO?” tanya Via, mengalihkan matanya menuju Iel.

Iel membuka matanya, menatap Via yang berdiri lurus di hadapannya, dengan jarak sekitar 2 meter, “Gue udah keterima di
SMA 5, gak jadi di SMAKBO, sama lewat japres.” Jawab Iel. Via dan Ify hanya
manggut-manggut. Rio sudah mengetahui hal ini
dari dulu.

“Wah bagus dong, berarti kita semua udah dapet SMA.” Kata Via semangat.

“Gue belum.” Sahut Rio, lalu sedikit memajukan bibirnya.

“Oh Iya, lo sekolah dimana Yo?” tanya Riko, yang sedang menumpangkan lengan kirinya ke bahu Rio.

“Gue masuk swasta, bagus kok sekolahnya.” Jawab Rio, lalu menjatuhkan bahunya, membuat Riko sedikit oleng. Rio tersenyum
puas. Riko hanya menggaruk kepalanya asal.

“Ehm Vi.” Iel berdeham. Membuat semuanya langsung menoleh ke arahnya. Iel menunduk, memainkan jemarinya. Dalam hati ia berdoa semoga ini adalah waktu yang paling
baik. Shilla dan Ify berdiri mendekat ke arah Via. Via menatap kedua sahabatnya
dengan heran. Shilla dan Ify kompak angkat bahu. Rupanya mereka sedikit
mengerti.

“Gue suka sama lo Vi.” Lanjutnya, setelah mengangkat wajahnya dan menatap Via tajam. Via menelan ludah. Keringat dingin mulai bercucuran, walau tak nampak karena
berpadu dengan air hujan yang telah menyatu dengan tubuhnya. Semu wajah
keduanya memerah. Rio Riko Shilla dan Ify tersenyum. Akhirnya waktu ini tiba.

“Gue sayang sama lo Vi….dari dulu….”gumamnya lagi. Mata mereka saling beradu. Membuat keduanya nyaman dengan keadaan seperti ini. Selama beberapa detik
keheningan terjadi. Membiarkan angin yang berhembus, membelai lembut bahu
mereka. Mebiarkan rintikan hujan turun, berharap air yang membasahi tubuh
mereka akan segera turun ke tanah, membawa semua asa yang mengganjal dihati.
Ify menggenggam tangan kiri Via,merasakan telapak tangan Via sudah dingin,
entah karena hujan atau rasa gugup. Sedangkan Shilla mengelus lembut bahu Via.
Riko dan Rio hanya melipat kedua tangan mereka
di dada, menyaksikan.

“Lo mau gak jadi cewek gue?” setelah beberapa detik keheningan tercipta, Iel kembali bersuara. Mengeluarkan ucapan yang lebih membuat gugup. Iel menunduk,
menyembunyikan rona wajahnya. Via pun sama, dia menggigit ujung bibir bawahnya.
Hatinya kalut seharusnya dari dulu dia sudah berfikir, cepat atau lambat hari
ini akan datang. Masihkah ia harus menyembunyikan semuanya di saat semua
seperti ini? Haruskah ia masih menymbunyikan perasaannya? Via berfikir keras.
Berusaha mencari jawaban agar tak ada pihak yang terluka. Dia ingin, tapi
bagian dari hatinya yang lain masih memilih untuk tidak memikirkan hal ini
dulu, lebih memilih untuk memikirkan masa depan yang harus ia genggam nantinya.
Sedangkan bagian hatinya yang lain sangat ingin. Ingin memiliki lelaki yang
baru saja menyatakan perasaan kepadanya.

Via mengangkat wajahnya. rupanya Iel sudah lebih dulu mengangkat wajah. Semua merasa gemetar, terutama Iel. Via menatap Iel lalu mengangguk pasti. Seraya
memejamkan matanya, berdoa agar ini adalah jawaban yang paling tepat. Rio Ify
Shilla dan Riko tersenyum seraya menghembuskan nafas lega.

“Serius Vi? Lo mau?” tanya Iel lagi. Hatinya kini dipenuhi oleh bunga yang baru saja bersemi. Berharap Via akan terus membuat perasaannya seperti ini.

“Iya..gue mau Yel….” Kata Via tegas lalu tersenyum.

“Thanks Vi………” ujar Iel lalu berjalan mendekat ke arah Via. membiarkan jarak mereka kini hanya 50 centimeter. Via terbahak, lalu mulai berlari menjauh.
Merentangkan tangannya. Hujan telah menjadi saksinya. Langit telah merekam
semuanya. Iel hanya terkekeh.

“Cieeeeeeeeeeeee………….PJ DONG!!!!!!!!” koor Rio Ify Riko dan Shilla kompak. Iel dan Via tidak menanggapi. Mereka berdua lalu membaringkan tubuh di rumput, dengan keadaan
masih terkekeh. Yang lainnya mengikuti. Akhirnya penantian panjang Iel
mendapatkan akhir yang sangat memuaskan.

****

Krik krik………………………………………………………………………. =___________=“” . maaf garing gak seru atau apapun. AKHIRNYA TAMAT!!!!!!!!!!! *menghempaskan tubuh ke tempat tidur* Makasih buat yang udah nngguin, nagih di twitter dan facebook. Maklum lama, baru merasakan
ejadi anak SMA dan tersenyata………….MELELAHKAN! tugas numpuk dimana-dimana. Gak
ada waktu buatngerjain ginian. Jangankan ngerjain, nyalain computer aja gak
sempet. Tapi yang penting beres kan?
Seru ga? Hahahahahahaha pokoknya makasih lah. kalau kangen(?) sama gue follow
twitter aja yah @dhitals . ehehehe. Betewe ning kapan tutup sih?
luvyeaaaaaaaaaaah :*******

Thursday, July 15, 2010

Our Life, Our Destiny, and the Best for Us :) part 23.

Cicitan burung sudah mulai berbunyi, nyaring. Menyambut terbitnya sang Matahari yang gagah, yang akan menemani aktifitas seluruh umat. Semua orang pasti berharap, hari ini akan lebih baik dari hari kemarin. Ini adalah hari yang dinanti oleh Ify dan Via, karena hari ini adalah pengumuman kelolosan test mereka. Awalnya mereka sempat ragu, karena mereka pesimis untuk mendapat keberhasilan. Tapi, mereka berusaha untuk se optimis mungkin.
Via menggeliat di atas tempat tidurnya. Diraihnya ponsel yang tergeletak di meja sebelah ranjangnya, sekedar melihat jam, sudah jam 6…gumamnya dalam hati. Pelan-pelan dia mendudukan posisi tubuhnya. Lalu sedikit memuta-mutar lehernya, melemaskan. Dengan lunglai, dia berjalan keluar kamar, menuju kamar mandi. Untuk sikat gigi dan mengambil wudhu, menjalankan sholat subuh.
Via baru saja selesai melipat mukenanya. Telah selesai menunaikan seruan dari Tuhan. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya sebentar, lalu mulai melangkah keluar dari Musholla yang letaknya berada di pojok lantai atas rumahnya, menuju lantai bawah. Menemui Mamah Tirinya. Baru saja dia menginjakkan kakinya di anak tangga paling bawah, Mamahnya melewat, sepertinya menuju dapur. Dengan cepat Via mencegatnya.
“Mah…” serunya, nadanya cukup keras. Mamahnya kontan menghentikan langkahnya dan menatap Via.
“Kenapa Vi? Tumben udah keluar kamar. Mau ke sekolah? kan sekarang sabtu. Bukannya libur?” tanya Mamahnya bertubi-tubi, heran. Alisnya sedikit terangkat.
Via berjalan agar lebih dekat dengan Mamahnya, kini ia sudah berdiri di samping Mamahnya, “Hari ini ke SMA tiga yah, ngambil pengumuman test. Sama orang tua.” jawab Via, raut wajahnya sedikit memohon.
Mamahnya sedikit menghela nafas, berat, “jam berapa?”
“Jam 8 Mah.”
“Yaudah. Sekarang masih jam 6 lewat ini.” kata Mamahnya, akhirnya setuju. Tidak biasanya. Mungkin Mamah tirinya itu sudah benar-benar ingin Via menjadi tanggung jawabnya, tidak lagi terbagi dua untuk Mamah kandungnya. Sedikit kejam memang. Tapi maksudnya bukan untuk memisahkan, hanya untuk lebih bertanggung jawab. Sampai saat ini Via masih di bebasi bertemu untuk Mamahnya.
Via mengangguk lalu tersenyum , “Makasih Mah.” ujarnya lalu meninggalkan Mamahnya, yang juga melanjutkan langkahnya menuju dapur. Via berjalan menuju ruang TV, dimana Kak Zahra sedang berduduk santai disitu, seraya terus-menerus memencet tombol remote, mengubah-ubah saluran TV.
“Jangan gossip ah.” kata Via setelah berhasil melandaskan (?) pantatnya di tempat kosong sebelah kak Zahra duduk, di sofa yang sama.
“Mau apa? Berita? Udah deh ini aja, si Ariel masuk penjara.” Jawab Kak Zahra lalu menaruh -lebih tepatnya menyembunyikan- remote di sebelah pantatnya, hampir di duduki. Karena di tahu, Via lebih suka menonton berita atau kartun dibanding gossip.
Via melengos, kesal. Lalu pasrah menonton apa yang disuguhkann acara TV di depannya kini.
“Eh NEM lo berapa?” tanya Kak Zahra, tanpa mengalihkan pandangannya dari TV -yang sedang asik membahas masalah Ariel-.
“37 koma-an.” jawab Via sedikit malas. Malas mendengar respon dari kakaknya.
“Murni hasil lo? Matematika lo berapa?” tuh kan, betul saja dugaan Via, kakaknya mencemoohnya.
“Iyalah. Masa lo yang ngerjain? Mate 9,6 . kenapa?” tanyanya, nadanya sedikit sinis.
Kak Zahra sedikit tidak percaya, terlihat dari ekspresinya yang sedikit memasang wajah sinis, “serius? Tumben lo pinter.” komentarnya, pedas. Via berdecak, sedikit menghentakkan kakinya pelan ke lantai. “Pengumuman test SMA 3 kapan?” lanjut kak Zahra.
“hari ini.lo jaga rumah yah sama si bibi berdua. Mamah nemenin gue.” jawab Via seadanya. Dia lalu bangkit dan berjalan menuju dapur.
“jangan nangis yah kalau hasilnya bener kata dugaan gue.” seru kak Zahra, yang masih duduk di sofa, kepada Via yang tidak menghiraukannya. Via berusaha tidak menanggapi. Dia lalu mulai membuat segelas susu, untuknya.

***

Via yengah berdiri di koridor SMA 3, sendiri. Orang tua para peserta test sedang diberi sedikit penjelasan mengenai system penerimaan murid. Menjelaskan kepada mereka bahwa peserta yang lolos benar-benar siswa yang unggul dan yang gagal pun tidak sedikit. Bisa berbanding 1 : 4, yang diterima dengan yang di tolak. Di maksudkan agar orang tua tidak memarahi atau merendahkan anaknya jika anaknya itu tidak lolos dalam test.
Penyuluhan pun usai. Kini semuanya, beserta para orang tua atau wali, tengah mengantri, di lokernya masing-masing. Berdsarkan nomer peserta. Via merasakan keringat dingin mulai mengucur, bergemetar. Tegang. Dia hanya menunduk. Akhirnya tiba lah bagian Via untuk menerima Surat Pengumuman itu.
Kini di tangan Via telah terdapat surat pengumuman itu. Tidak bohong, bagaikan gempa, tangan dan surat yang beramplop berwarna coklat itupun ikutan bergetar.
“Via, gimana? Keterima gak?” seru seseorang yang baru saja menghampiri Via.
Via menoleh lalu tersenyum ,”belum gue buka Va, takut.”
“Buka dong.” kata Irva seraya tersenyum.
Via menatap Mamahnya yang ada di hadapannya, yang tengah diam saja, “mah, bukain nih. Via takut.” ujar Via seraya menyodorkan surat itu. Mamah Via pun menerimanya, “lo keterima Va?” tanya Via seraya menoleh ke arah Irva.
Air muka Irva berubah sendu, bibirnya ia lengkungkan ke bawah, “Engga Vi, kurang 0,5 huhuhuh.” ujarnya, sedih.
Reflek Via memeluk Irva, menenangkannya “Sabar yah Va, bukan jodoh lo kali. Masih ada sekolah lain.” katanya, seraya melepaskan pelukannya.
“Iya thanks yah. Eh buka dong tante.” jawab Irva sembari menoleh ke arah Mamah tirinya Via.
Mamah tirinya Via yang sedari tadi terus berdiam ahirnya perlahan membuka amplop itu. Jantung Via sudah berdetak hebat. Darahnya berdesir kencang. Dia menutup matanya dengan jemarinya. Tak sanggup melihat atau membaca apa yang tertulis dalam surat itu.
Mamah tirinya Via membukanya, perlahan. Agar lebih menegangkan. Setelah terbuka, dia menarik kertas di dalam amplop itu, membukanya. Hingga benar-benar terbuka. Matanya sedikit ia besarkan, untuk memastikan apa yang ia baca tidak salah, “Alhamdulillah Vi keterima.” serunya seraya memeluk Via.
Via yang sedari tadi masih menutup matanya akhirnya melepaskan jermarinya dan balas memeluk mamahnya. Perasaannya sangat senang. Tidak percaya bahwa kata-kata yang sangat ia impikan akhirnya terdengar. “AAAAAH AKHIRNYA MAH!!!!!” seru Via yang masih memeluk Mamahnya.
“Selamat yah, kamu bisa nunjukin ke Mamah kalau kamu bisa.” ujar Mamahnya seraya melepaskan pelukannya. Via mengangguk lalu tersenyum.
“Gue keterima Irvaaaaaaaa!!!” seru Via, girang, lalu memeluk Irva yang masih berdiri di sisinya.
“Selamat yah Vi….gue tau lo pasti bisa.” Irva mengelus rambut Via perlahan. Ikut merasakan kesenangan salah satu teman terbaiknya.

***

Ify tengah duduk di bangku yang berada di sisi koridor SMAN 1. bukan hanya Ify yang duduk disitu. Semua peserta test SMAN1 juga tengah duduk disitu. Menunggu para orang tua mengakhiri penyuluhan yang lalu akan di bagikan amplop berisikan surat pengumuman. Ify terus menerus meremas tangan Gita, teman sekelasnya yang juga mengikuti test di SMA ini. Tidak jauh dengan Via, jantungnya berdetak cepat.
“Gitaa…gue takut gak keterima.” seru Ify , tertahan. Seraya menatap Gita yang duduk di sisi kanannya.
“Gue juga Fy, pengen nangis.” timpal Gita yang tanpa menoleh ke arah Ify.
“kalau gak keterima gimana dong?” kata Ify, yang sedikit pesimis.
“Optimis dulu ah.” kata Gita, tak mau memikirkan yang membuat mentalnya down. Ify hanya menagngguk.

***

Ify kini tengah memegang amplop itu. amplop yang seolah berisikan takdir hidupnya. Dia mendudukan tubuhnya di bangku yang berada di sisi lapangan SMAN1. dia menghembuskan nafasnya, kencang. Tangannya bergemetar.
“Maah aja deh yang buka.” kata Ify, mengangsurkan amplop itu kepada Mamahnya yang duduk di samping kirinya.
“Ye kamu. Buka ginian doang gak berani.” Jawab mamahnya, menerima amplop itu dan membukanya perlahan.
“Ih… ify takut.” kata Ify, nadanya sedikit manja.
Mamah Ify tidak menanggapi. Dia membuka dan membaca amplop itu. Ify sedikt berharap bahwa ekspresi Mamahnya itu mengatakan sesuatu kegemberiaan. Dan benar saja, tepat saat itu, Mamah Ify memeluk Ify.
“keterima Fy Alhamdulillah.” Katanya, mengucap syukur.
Ify sedikit merasakan sesak di dadanya. Perasaannya sedikit tidak percaya. Tapi ternyata itulah kenyataan. Tanpa disadari dia menitikan air mata, terharu. Dan membalas erat pelukan Mamahnya.
“Iya Mah Alhamdulillah akhirnya Ify bisa bikin mamah bangga sama Ify.”
“Mamah bangga sama kamu Fy…..” ujar Mamah Ify, seraya melepaskan pelukannya dari Ify. Mereka berdua tersenyum. Mengembang. Tak henti-hentinya mengucapkan syulur.

***

Rasa bahagia itu menyelimuti mereka berdua. Ke-empat sahabatnya yang lain pun ikut merasakan kebahagian yang mereka rasakan. Bukan hanya hal itu mereka senang, juga karena Riko akan segera sembuh dari penyakitnya. Bertambah sudah kegembiraan yang semakin membuncah di hati mereka.
Hari ini adalah jadwalnya Ify khemo. Seperti biasa, dengan setia Rio menemaninya khemoteraphy. Ify dan Rio kini tengah melangkah di koridor rumah sakit. Berjalan menuju ruang khemoteraphy. rasa gemetar menyerang Ify. Dia menggenggam erat lengan Rio, perlahan mengurangi rasa gemetarnya.
Khemoteraphy yang berlangsung selama 90 menit itu terasa sangat lama. Tak jarang Ify meronta-ronta, menahan sakit. Rio sendiri tidak tega melihat pacarnya kesakitan seperti itu. dengan setia, dia menghapus peluh yang mengaliri pelipis Ify.
Suster membantu Ify mendudukan posisinya yang semula berbaring. Walau khemoteraphy sudah selesai sekitar 15 menit yang lalu, tubuhnya masih merasakan sakit itu. pegal-pegal pun menyerang persendian Ify. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya. Perlahan Ify memijat pelipisnya menggunakan jarinya sendiri. Rio, yang berdiri di sebelah ranjang dimana Ify duduk memijit pelan bahu Ify.
“Ify……penyakit kamu sudah semakin membaik. Jika begini, kamu bisa melakukan operasi untuk benar-benar menyembuhkan penyakit kamu. Rumah sakit ini bisa melakukan operasi ini, dokter yang di menangani pun di datangkan langsung dari German, kamu mau ikut operasi itu?” tutur si Dokter, kala itu Ify dan Rio sudah duduk di hadapan Dokter.
Ify sendiri masih sedikit pusing. Samar-samar dia mendengarkan penjelasan dokter Danang. Yang pasti, dia yakin, bahwa dokter mengatakan bahwa dia akan segera sembuh, “Dokter yakin saya bisa sembuh?” tanya ify. Jemarinya masih memijat pelipisnya sendiri.
Dokter Danang mengangguk, “InsyaAllah kamu sembuh.”
Ify dan Rio berpandangan. Rasa senang, pastinya, menyelimuti perasaannya. Bukan hanya Riko, kini Ify pun akan segera sembuh dari penyakitnya.
“Kalau kamu mau mengikuti operasinya, silahkan orang tua kamu menemui saya besok.” tambah Dokter Danang.
Ify menatap Dokter Danang lalu mengangguk. Bibirnya menyunggingkan senyum. “terimakasih Dok.” kata Ify.
Kali ini Dokter danang yang mengangguk dan tersenyum. Dia juga turut bahagia atas kebahagian pasiennya.

Our Life, Our Destiny, and the Best for Us :) part 22

***


Riko tengah berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Tetapi dia tidak sendirian sepeerti biasanya. Kini, Shilla berada di sebelahnya, berjalan beriringan. Yak! Semenjak Riko dan Shilla
pacaran, Shilla selalu memaksa untuk menemani Riko khemoterapy, tapi selalu
Riko tolak. Gak tega kalau nanti Shilla malah nangis ngeliat Riko teriak-teriak
kesakitan pas khemo. Lagian, gengsi dong, Riko kan suka nangis kalau habis khemo gara-gara
sakit. Nanti Shilla liat, dibilang apa dia? Akhirnya setelah memaksa Riko, Riko
luluh juga, Shilla ikut menemani Riko untuk khemoterapy.

Riko dan Shilla telah duduk berdampingan di kursi yang disediakan di ruangan Dokter yang biasa menangani Riko, (namanya siapa ting? Gue lupa.). Riko berusaha sesantai mungkin.
Sedangkan Shilla, sedikit merinding, pertama kalinya masuk ke ruangan seperti
ini.

“Dok, kenalin ini Shilla, pacar saya hehe.”ujar Riko mengenalkan Shilla kepada dokter, karena si dokter sepertinya heran dengan kehadiran Shilla, tumben Riko khemo ditemenin..fikirnya. Riko dan
Shilla tampak malu-malu. Shilla tersenyum kepada dokter itu. Dokter pun balas
tersenyum seraya mengangguk.

“Riko, saya punya kabar baik buat kamu.”kata Dokter itu seraya menatap Riko, senyum mengembang terukir di wajah Dokter, membuat Shilla dan Riko penasaran.”Tadinya mau saya beritahu lewat
telefon, tapi berhubung kamu ada jadwal khemoterapy sekarang, ya sekalian saya
kasih tau langsung saja.”jelas Dokter itu.

“Apa Dok? Terus kok dari tadi khemo nya gak mulai?” Riko mulai heran. Rasa penasaran menggelayuti fikirannya. Habis, biasanya dia dateng langsung diajak khemo, lah ini, di ajak ngobrol
dulu.

“Saya rasa ini memang sudah keberuntungan untuk kamu. Ada yang bersedia donorin hati nya untuk kamu.” Akhirnya dokter itu menyebutkan hal
ini. Hal yang telah lama Riko tunggu ucapannya dari Dokter. Hal yang terlalu
mustahil untuk Riko agar terkabul. Tetapi sekarang… ah, senang sekali.

Shilla dan Riko saling berpandangan. Heran. Memastikan bahwa mereka berdua tidak salah dengar. Tiba-tiba Riko tersenyum, menatap Dokter itu lalu bertanya sekali lagi, “ada yang mau donorin
hati untuk saya dok?”, memastikan.

Dokter itu pun mengangguk dan tersenyum. Ikut merasakan kebahagiaan si pasien, “Iya Riko. Kamu akan segera sembuh.”katanya. meyakinnkan Riko.

Shilla menutup mulutnya, dengan tangan kanannya, yang terbuka saking girangnya. Matanya berbinar. Senang sekali. Tuhan memang adil. Dia belum bisa berkata apapun untuk mengungkapkan
kesenangannya.

Riko sendiri tak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Dia tertawa, bukan tersenyum. Dia merasa kini dialah orang yang paling bahagia seantero dunia, “siapa dok yang ngedonorrinnya?”tanya Riko
akhirnya, setelah dia meredam perasaan bahagianya. Dia juga ingin tahu,
siapakah dermawan itu.

“Ada pasien rumah sakit ini, namnya Septian. Dia sakit, parah. Jantungnya bocor (ada kan penyakit beginian? Soalnya almarhumah guru SD saya meninggal karena jantungnya
bocor D’: ), dia sudah sangat kritis. Dibantu hidup dengan alat medis, jika
alat medis dicopot, dia pun akan pergi. Sebelum dia kritis, dia bilang, dia
ingin menyumbangkan organ tubuhnya yang masih berguna untuk yang membutuhkan.
Waktu saya check hati dia sama hati kamu, ternyata cocok. Dan baru satu jam
yang lalu…..dia…..pergi.”jelas Dokter itu lagi, panjang lebar. Sedikit sedih
ketika harus mengingat pasiennya itu. Riko dan Shilla sendiri tersentak
mendegarnya. Tetapi rasa senang tertanam jelas dihati mereka. Kini Riko akan
segera sembuh dari penyakit laknatnya.

“Memang kapan Riko bisa operasi dok?”tanya Shilla akhirnya setelah dari tadi diam. Riko melirik Shilla lalu tersenyum.

Dokter itu megalihkan pandangannya dari Riko menuju Shilla, “2 hari lagi juga sudah bisa.”sahut Dokter itu.

“Sekarang saya jadi gak usah khemo dok?” Riko bertanya. Habis dari tadi khemo tidak juga dimulai.

Dokter itu menggeleng, “kamu istirahat saja dulu. Karena kondisi pasien yang mau operasi harus benar-benar tenang dan fit. Jangan lupa kabarin orang tua kamu yah.”

Riko mengangguk, paham. “Bisa saya bertemu dengan keluarga Septian?”tanyanya, “saya mau mengucapkan terimakasih.”lanjutnya.

“Beruntung mereka masih berada di rumah sakit karena jenazah septian masih harus ditangani. Mungkin mereka masih berada di paviliun mawar bernomor 412.”kata si Dokter itu.

“Terima kasih dok atas berita bahagianya. Saya mau bertemu keluarga Septian dulu.”ujar Riko yang dijawab oleh anggukan dan senyuman dari dokter itu. Riko pun bangun dari duduknya, di ikuti
Shilla. Dia manggandeng tangan Shilla, berjalan menuju pavuliun mawar yang
gedungnya bersebelahan dengan gedung dimana Riko berada sekarang.

“Selamat yah Ko.”kata Shilla lalu menoleh sebentar ke arah Riko, yang berjalan beriringan bersamanya.

“Iya Shil, aku juga gak nyangka ada orang yang baik banget. Aku berharap semoga Septian diberi tempat yang terbaik sama Tuhan.”ucap Riko, tulus.

Senang sekali perasaan Riko saat ini. Tak tahu harus mengucapkan apa untuk bisa mendeskripsikan perasaannya saat ini. Inilah yang selama sisa hidupnya ia tunggu. Seseorang yang mau mendonorkan
hatinya untuk Riko. Kini itu terwujud. Bukan lagi harapan belaka. Harapan yang
selalu Riko nanti-nanti. Dia sendiri bingung, bagaimana menjelaskan kepada orang
tuanya. Terlalu bersemangat dan senang.

Shilla mengenggam tangan Riko seraya terus berjalan di paviliun mawar. Kini mereka tengah menusuri tangga menuju lantai 3. dimana kamar Septian berada. Dia sendiri sangat senang. Akhirnya Riko
akan terbebas dari penyakit laknat itu.

Riko mengetuk pintu kamar bernomor 412 itu. Kamar dimana keluarga Septian sedang menunggu penanganan Septian. Baru 3 kali pintu diketuk, wanita paruh baya keluar. Lingkaran hitam mengelilingi
matanya. Matanya sembab. Habis menangis.Tampaknya dia juga sangat kelelahan.
Wanita itu memandang Riko heran.

“Maaf Bu, saya Riko ini Shilla. Apa benar ini em…..kamar Septian?”ucap Riko seraya tersenyum, sopan. Shilla mengikuti.

Ibu itu mengerutkan dahinya, “Iya ini kamar Septian. Kalian siapa? Kalian bukan temennya kan?”tanyanya.

“Saya memang bukan temen Septian Bu. Saya orang yang akan septian donorkan hatinya. Saya penerima hati Septian.”jelas Riko. Mereka masih berdiri di ambang pintu kamar Septian.

“Duduk dulu yah disitu, biar ngobrolnya enakan.”ajak Ibu itu seraya menunjuk jejeran kursi yang terdapat di depan kamar rawat inap. Shilla dan Riko mengangguk lalu berjalan dan duduk
disitu, mengikuti Ibu itu. “Oh, jadi kamu pasiennya Dokter Ganang (pis Nang
nama lo gue jadiin dokter!) ?”tanya ibu itu setelah berhasil duduk di bangku
sebelah Riko.

Riko mengangguk, “Iya Bu, apa keluarga sudah setuju kalau Septian mendonorkan hatinya untuk saya?”katanya berhati-hati. Takutnya Septian mendonorkan organ tubuhnya tanpa di ijinkan oleh
orang tua.

“Saya pribadi sebenarnya gak setuju. Tapi sebelum Septian kritis dan akhirnya pergi, dia memang ngomong sama saya. Dan ya…saya mengijinkannya.”jawabnya. air mukanya berubah sendu. Teringat
kembali akan buah hatinya itu.

“Ibu yang tabah yah. Tuhan gak mungkin ngasih cobaan ke umatnya di luar batas kemampuannya. Ini takdir bu, ini yang terbaik untuk kita. Tuhan pasti mencatat semua amal baik yang Septian
lakukan. Dia pasti berada di tempat yang sangat baik disana.” Kali ini shilla
yang duduk di sebelah Riko mengeluarkan kata-kata diplomatisnya. Dia tersenyum
ke arah Ibu itu. Dia mengerti bagaimana kacaunya perasaan Ibu itu. Karena
mereka sama-sama wanita.

Ibu itu mencoba tersenyum. Bening dari sudut matanya perlahan menyeruak keluar. Cepat-cepat dia menghapusnya, “saya sudah tabah. Saya ikhlas. Saya juga gak tega kalau ngeliat Septian
terus-terusan sakit. Emang begini kali baiknya buat dia.”katanya seraya terus
menerus menghapus air matanya sendiri, yang kini mengaliri pipinya.

“Tuhan pasti punya rencana indah kok Bu, hanya raganya Bu yang pergi, hatinya akan selalu ada di hati kita. Apa lagi hatinya kan
akan didonorin ke saya Bu.”timpal Riko, sedikit bercanda. Agar suasana tidak
terlalu menyedihkan. Ibu itu tersenyum lalu mengangguk. “Saya mau berterima
kasih sama ibu. Makasih banget nanti diijinin operasi pendonoran hati Bu.
Perlakuan Septian gak akan pernah saya lupa seumur hidup”lanjutnya. Lalu Shilla
dan Riko pun berpamitan setelah berulang kali mengucapkan terima kasih.

Riko mengjak Shilla ke taman yang berada di belakang rumah sakit. Awalnya Shilla bingung mau ngapain, Riko hanya menjawab, “mau ketemu malaikat kecil.” . dibuat heran lah Shilla oleh Riko.
Rupanya Riko teringat oleh malikat kecilnya itu.

Riko dan Shilla duduk di bangku taman. Bangku yang menjadi saksi bisu pertemuan singkat antara Riko dan malaikat kecilnya. Riko teringat janjinya pada Ourel untuk kembali kesini
dengan wajah ceria. Ourel lah yang membangkitkan semangatnya. Dan kini Riko
ingin membagi kabar gembira itu kepada Ourel.

Riko celingkukan mencari Ourel yang tak juga tampak. Sedangkan taman ini sudah penuh dengan pasien lainnya. Sudah hampir setengah jam mereka duduk disitu, dengan diam. Shilla sendiri heran
ngapain sih Riko malah diem aja disini? Celingukan gak jelas. Mana malaikatnya?....desis
Shilla dalam hati. Sedikit kesal.

Akhirnya Riko menghampiri suster yang sedang mengajak anak kecil bermain, anak kecil yang juga pasien rumah sakit itu. Shilla hanya diam ditempat, membiarkan Riko pergi.

“Sus, saya mau nanya. Pasien yang namanya Ourel kemana yah? Yang anak kecil itu. Apa udah sembuh?”tanya Riko setelah berdiri di depan suster yang tengah memangku anak lelaki di bangku taman.

Suster itu mendongak dan menatap Riko, “kamu siapanya Ourel?”tanya suster itu. Mimik mukanya berubah heran dan sedikit was-was.

“Saya..temennya. waktu itu dia menghampiri saya dan kita ngobrol dikit.”jawab Riko seadanya.

“Ourel…..dia sudah meninggal 4 hari yang lalu……” suster itu menunduk. Sedih mengingat Ourel. Gadis yang sangat ceria, pasien kesayangan suster disini.

Anak lelaki itu pun ikut manangis “ourel….ourel…Iyan kangen…”desisnya lalu mulai menangis. Suster itu memeluknya. Bagaimana tidak? Selama mereka dirawat disini mereka selalu bermain bersama.

Riko terpaku. Mulutnya menganga. Hari ini dia mendengar 2 kali berita duka. Dia lalu mengucapkan maaf dan terima kasih kepada suster itu lalu kembali ke bangkunya. Bangku dimana Shilla kini tengah mendumel
sendirian.

“Kamu tuh yah ninggalin aku sendirian. Mana malaikatnya?”pekik shilla ketika Riko baru saja kembali dan duduk disebelahnya.

“Malaikatnya udah pergi…..”jawab riko seraya menatap Shilla. Lalu dia menunduk. Tuhan, rancanamu memang tak bisa ditebak. Baru satu kali pertemuannya dengan Ourel, kenapa Ourel harus segera
pergi? Baru saja dia akan membagi ceritanya, kepada sosok yang sempat
membangkitkan semangatnya.

Shilla menatap Riko dengan panuh tanya, kemudian dia mengeryitkan keningnya, “hah? Maksudnya Ko?”tanyanya, nadanya sangat heran.

Riko mengangkat wajahnya lalu mulai menatap Shilla, dia menarik nafasnya lalu menghembuskannya pelan , “………, gitu deh….waktu aku tanya suster katanya dia…udah…pergi….” Riko baru saja
menceritakan pertemuan singkatnya dengan Ourel kepada Shilla. Lalu dia kembali
menundukan kepalanya lagi.

Shilla manggut-manggut. Mengerti. Dia pun ikutan kaget ketika ternyata Ourel pergi secepat itu. “Yah namanya takdir tuhan Ko, sekarang kamu semangat dong. Katanya dia malaikat kecil kamu.
Tunjukin ke dia, kalau kamu masih berjuang hidup disini. Dia pasti ngeliat kamu
kok dari sana.”ujar
Shilla seraya tersenyum dan menunjuk langit. Membangkitkan semangat Riko.

“Waktu itu kita janji, berdua, sama-sama berjuang untuk gidup. Tapi ternyata, dia pergi duluan. Belum sempet aku menuhin permintaannya, permintaan dia buat balik lagi kesini dengan wajah
ceria.”desis Riko, lirih. Dia sudah mulai balas menatap Shilla.

“Kalau sekarang kamu kayak gitu, nanti yang ada dia sedih ngeliat kamu kayak gitu.”

“Iya Shil, semoga dia bisa ikut seneng yah dari atas sana, senang karena akhirnya aku bisa terbebas dari penyait laknat ini.”jawab Riko
lalu tersenyum. Dia berdoa, semoga Ourel diberi tempat yang terbaik disisi
Tuhan. Anak kecil itutelah memberinya sebuah pelajaran berharga. Dia akan tetap
menjadi malaikat kecil Riko.


***

Our Life, Our Destiny, and the Best for Us :) part 21

***


Semua test SMA telah diikuti dengan baik oleh Via dan Ify walaupun mereka memendam perasaan pesimis. Mereka kurang yakin akan berhasil lolos dalam test seleksi
ini. Padahal, mereka juga sudah menguatkan diri’mereka untuk selalu optimis.
‘usaha gue juga kurang, jadi gak mustahil kalau gue gak lolos.’ Itulah yang Via
dan Ify ucapkan jika mereka berusaha untuk optimis. Sekarang, sepertinya mereka
hanya menunggu suatu keajaiban, keajaiban akan lolosnya mereka dalam test ini.

Hubungan Shilla dan Riko pun telah diketahui oleh semua sahabatnya. Mereka sedikit tidak percaya ketika Riko menceritakan ucapan Shilla saat dia menembaknya, ucapan
yang sangat diplomatis. Shilla sangat menikmati kehadiran Riko di sampingnya
kini. Dia tak perlu memendam perasaannya lagi akan rasa sayangnya kepada Riko,
sekarang semua bisa tercurahkan tanpa adanya rasa malu. Riko sendiri beruntung
memilih Shilla untuk menjadi pacarnya, Shilla yang sangat dewasa, yang mengerti
dan tidak pernah mengungkit tentang penyakit Riko dengan hubungannya. Tapi juga
Shilla yang sangat memperhatikan kondisi Riko.

Ify masih terus khemoterapy 2 kali dalam seminggu. Setiap kali khemo, Rio selalu bersedia menemani dan mengantarnya. Khemoterapy yang dilakukan semakin kesini semakin berdampak efeknya. Kondisi
Ify semakin membaik, virus mulai bekurang dan daya sebarnya melemah. Itu
membuat Ify sangat senang, karena kesempatannya untuk sembuh total semakin
besar. Rio juga tak kalah senangnya setiap
dokter membawa kabar baik setelah selesai khemo.

Jum’at ini keadaan semua sekolah sangat riuh. Tak hanya di kota ini, tapi diseluruh Negara ini. Bagaimana tidak, hari ini adalah hari pengumuman kelulusan semua murid SMP satu
Indonesia.
Pagi-pagi semua murid di negeri ini mungkin berbondong-bondong pergi ke tukang
Koran, membeli Koran, untuk melihat apakah nomer peserta ujiannya terdaftar
dalam murid yang lulus. Sebagian dari mereka langsung bersorak, senang ketika
mereka dinyatakan lulus. Tapi tak sedikit juga yang harus menelan pill pahit,
ketika mereka dinyatakan tidak lulus dan harus mengulang. Tak hanya kelulusan,
mereka juga akan dibagikan amplop yang berisikan NEM mereka.

Pagi ini, Via, Iel, Rio, Ify, Riko dan Shilla tersenyum. Mengembang. Ingin berteriak rasanya ketika mereka dinyatakan lulus.
Lulus dengan hasil yang sangat murni. Mereka juga mengetahuinya dari Koran kota. Cepat-cepat mereka
mandi dan bergegas menuju sekolah, untuk menerima hasil nilai ujian mereka. Tak
sabar rasanya untuk mengetahui jumlah ke-empat nilai itu.

Semua murid telah berbaris rapih di lapangan. Mendengar sang kepala sekolah berpidato. Padahal mereka tidak benar-benar mendengarkan. Sebagina mendumel,
‘banyak bacot nih, langsung aja nape bagiin nem nya…’ ada juga yang masih belum
siap menerima NEM mereka. Yang pasti, jantung mereka semua berdetak tidak
karuan.

Ify dan Via yang berbaris bersebelah saling berpegangan tangan, saling meremas tangan. Sedikit melampiaskan rasa gemeterannya. Wajah mereka pucat. Sedangkan
Shilla kini tengah mencubit-cubit pelan lengan Riko, yang baris disebelahnya.
Begitulah cara Shilla melampiaskan rasa gemetarnya. Riko hanya pasrah lengannya
dicubiti Shilla pelan, toh tidak sakit. Sedangkan Iel dan Rio
yang berbaris jauh dari barisan Shilla Riko Ify Via, hanya menunduk. Sama,
bergemetar.

Ke enam sahabat itu kini tengah berkumpul di kantin. Senyum penuh kegembiraan terukir jelas di wajah mereka. Senyum penuh kemenangan. Mereka tak
henti-hentinya mengucap syukur kepada Yanga Maha Kuasa. Mereka juga berulang
kali melihat hasil NEM mereka, takut-takut bahwa mereka salah lihat. Atau malah
nilai itu berubah angkanya.

Via mendapatkan NEM 37,45 dengan nilai tertinggi 9,60 pada mata pelajaran Matematika, pelajaran yang selalu mendapat cemoohan akan kemampuannya oleh Kak
Zahra . Sekarang dia bisa membuktikan pada Kakaknya bahwa dia bisa. Ify
mendapat NEM 38,20, dengan nilai IPA yang sempurna. Shilla mendapat NEM 37,00
dengan nilai tertinggi pada Bahasa Inggris, nilainya 9,8 . entah jodoh atau
bukan, NEM Riko, Rio, dan Iel sama. Tak ada
beda sedikit pun. 36,8. hanya saja nilai permata pelajaran mereka berbeda-beda.
Gabriel mendapat nilai sempurna di pelajaran Bahasa Inggris. Sedangkan Rio dan
Riko sekali lagi sejodoh, IPA mereka menempati nilai teringgi, 9,75.

“Bagus….”gumam Iel pelan , dia masih saja melihat kertas yang bertuliskan nilai-nilanya.

“Banget!”timpal Via yang duduk di sebelahnya. Saking senangnya, Via sampai menciumi kertas itu.

“Ahhh Bahasa Inggris gue nyaris 10.”desis Shilla, yang juga duduk disebelah Iel, sedikit kesal dengan nilaninya yang nyaris sempurna itu.

Riko yang duduk di depannya menatapnya lembut, “Udah, yang penting memuaskan.” ujarnya. lalu Shilla pun mengangguk.

“Ah masa gue sama nya 2 sih sama si Riko, amit-amit lagi kalau sejodoh.”dumel Rio seraya menunjuk-nunjuk nilanya yang sama dengan Riko.

“Ye emang gue mau? Najis amit deh.”timpal Riko seraya meneloyor pelan kepada Rio yang duduk di sebelahnya.

“Gue rasa gue gak peduliin ni nilai.”ujar Ify enteng lalu memasukkan kertasnya ke dalam amplop semula. Semua langsung menatap Ify, seolah ingin memakan Ify.

“Etdah, nilai lo bagus banget Fy, masa iya kagak peduli?”komentar Riko sedikit geram seraya menunjuk-nunjuk amplop yang dipegang Ify.

“Nih tukeran nilainya sama gue yuk Fy.”ajak Iel, konyol, seraya menyodorkan hasil NEMnya.

“Ah masalahnya mau segede apapun NEM gue gak ngarus buat masuk SMA 1.” rengeknya, segelas es jeruk dihadapannya ia aduk-aduk menggunakan sedotan.

“Tawakal Fy tawakal.” Shilla berusaha memperingatkan Ify, menabahkan.

Ify menatap Shilla lalu tersenyum walau sedikit dipaksakan, “iya Shil.”

“Pada balik deh yuk, gak sabar nunjukin NEM gue ke nyokap gue.”ajak Riko akhirnya. Semuanya lalu mengangguk mantap.

“Yah……gue balik sendiri deh.”seru Via dengan nada pura-pura kesal, sebelum ia dan yang lainnya bangun dari duduknya.

“Eh…..Ko, aku balik bareng Via aja yah.”tiba-tiba Shilla seperti menyadari bahwa perkataan Via menyindirnya.

“Hah ngga Shill gak usah. Udah lo sama Riko aja. Gue gak apa-apa.”jawab Via, tak enak hati dengan ucapannya barusan.

“Udah lo sama Riko, Via sama Iel. Beres.”celetuk Rio tiba-tiba. Nadanya sangat cuek.

“Ngga, gue balik sendiri aja.”tolak Via yang sebenarnya pipinya sedikit memerah karena sadar teman-temannya berusaha menjodoh-jodohkannya (lagi) dengan Iel.

Iel menoleh ke arah Via yang duduk di sebelahnya, “udah bareng gue aja Vi, lumayan kan ngirit ongkos.”ujarnya enteng. Padahal dia sendiri sedang berusaha mengontrol detak
jantungnya.

“Tuh kan Iel aja mau.”ceplos Rio lagi. Riko dan Shilla
terkekeh. Ify menyenggol-nyenggol kaki Via dari bawah meja.

Via merasa mati kutu dan risih dengan senggolan-senggolan kaki Ify, “Ye..gue mau juga kan
bukan apa-apa. Lumayan ngirit ongkos.”belanya.

“Bodo amat mau ngirit ongkos mau pdkt, ayodah balik sekarang.”ajak Riko lagi akhirnya lalu beranjak bangun. Via dan Iel merasakan pipinya memerah atas ucapan Riko
tadi. Akhirnya mereka berjalan beriringan menuju motor para lelaki itu di
parkirkan.

Riko dan Shilla yang paling pertama meninggalkan sekolah, kemudian Ify dengan Rio disusul Iel dan Via yang sebelumnya telah mengadakan cekcok mulut tentang
alasan mengapa Via mau saja Iel antar pulang. Ada rasa dilemma yang tertanam dihati Via
saat sedang dijalan, menuju rumahnya. Ia fikir sudah saatnya dia memastikan
perasaannya kini. Perasaan yang selama 9 bulan belakangan ini ia endapkan dan
pelan-pelan berusaha untuk menghilangkannya. Kini perasaan itu kembali
menyeruak dalam sukmanya.


***


Via menghempaskan secara kasar tubuhnya ke atas ranjang. Setelah sebelumnya dia tersenyum tidak jelas saat Iel mengajaknya untuk nonton di Mall, sore ini…….


“Thanks yah Yel tebengannya dan pengiritan ongkos gue.”ujar Via setelah turun dari motor Iel dan kini ia telah berdiri di samping Iel.

“Sama-sama Vi, tapi betewe, itu helm lepas dulu bisa kali.” Iel sedikit terkekeh ketika melihat Via yang masih mengenakan helm.

Via memegangi kepalanya, mengecek apakah ia masih memakai helm. Tiba-tiba Via nyengir, “eh sorry.”lalu cepat-cepat dia membuka helm itu dan diberikan
kepada Iel.

“Hem Vi…..” Iel menggantungkan ucapannya setelah berhasil menggantungkan helm yang barusan Via berikan ke pengait yang ada di motornya.

“Ya?” Via menjawab dengan alis terangkat sebelah.

“Nanti sore nonton yuk, gue pengen nonton fil nih, udah lama gak nonton.”ajak Iel tiba-tiba. Nadanya sangat cepat, Via sendiri masih tidak yakin bahwa apa yang
ia dengar itu benar.

“Nonton? Jam berapa?”tanya Via sekaligus memastikan. Hatinya degdeg-an tidak karuan. Tak tahu Via yang terlalu melebih-lebihkan atau memang begitu. Baru saja tadi dalam
perjalanan dia berfikir untuk menetapkan perasaannya, kini Iel kembali mengetuk
pintu hatinya. Seolah menyadarkan Via bahwa Iel tengah menantinya.

“Iya, jam 3 an gue jemput. Mau gak Vi?”nada suara Iel melemah. Seolah pasrah jika Via menolaknya. Dari pancaran matanya sangat tersirat bahwa dia sangat mengharapkan
Via.

“Boleh Yel. Gue tunggu yah.”jawab Via akhirnya. Dia lalu sedikit melukiskan senyuman di wajahnya.

“Thanks yah Vi…”

“Buat?” Via sedikit mengerutkan dahinya ketika mendengar Iel berterima kasih padanya. Harusnya dia yang berterima kasih pada Iel karena diajak nonton. Eh, atau emang
Iel yang yang harus makasih?

Iel sedikit kelabakan, dia menunduk sesaat lalu menatap Via lagi yang masih berdiri di sampingnya, “Mau gue ajak jalan.”katanya, sedikit demi sedikit rona pipinya
bersemu merah.

Via sendiri langsung salah tingkah, pipinya telah berhasil dengan sukses memerah, dia berusaha mencerna otaknya untuk mengolah kata yang lebih oke, untuk
mengembalikan kondisi menjadi santai, “Santai lah Yel, oke lah. Cuma nonton doang
kan?”ujarnya.

Sedikit teriris hati Iel ketika mendengar Via mengucapkan ‘Cuma nonton doang kan?’ , seolah itu belum cukup menunjukkan pada Via bahwa Iel memperlakukannya lebih, “Iya kok
Vi.”katanya akhirnya seraya sedikit terkekeh, “Eh gue balik yah. Inget, jam 3
harus udah siap.”

Via mengangkat jempolnya lalu berkata , “oke” . seketika motor Iel meluncur dari hadapan Via. Via lalu melangkahkan kaki untuk memasuki ruahnya.


Via masih terus menerus berguling-guling di atas tempat tidurnya dengan keadaan tangan memeluk guling kesayangannya. Dia belum sempat mengganti bajunya. Kini
ia masih berfikir, ajakan Iel tadi hanya sekedar ajakan atau genjatannya untuk
mendekatinya. Ah….Via menyesal karena terlalu mentup hatinya untuk masalah
sepeti ini terlalu lama. Kini ia seperti anak umur 11 tahun yang baru mengalami
cinta monyet yang betul-betul monyet di jaman SD. Setelah setahun kepergian
Cakka dari hidupnya, atau sudah hampir 10 bulan, Via tidak pernah mau mengurusi
masalah hatinya. Dia ingin fokus dalam sekolah dulu, walaupun ia tahu, ada Iel yang
menantinya semenjak 9 bulan lalu.

Via berfikir bahwa ini adalah salah satu genjatan Iel untuk mendekatinya, tapi dia sendiri tak mau banyak berharap kalau kalau perkiraannya salah dan ternyata ini
hanya ajakan biasa dari Iel. Akhirnya Via memilih mengalihkan fikirannya. Dia
lupa akan sesuatu. Dia meraih tas yang ia gantung di sudut tempat tidur, lalu
merogoh isinya, mencari sesutu yang tak lain adalah hasil ujiannya. Secepat
kilat ia bangun dan berlari menuju lantai bawah.

“Maaaaaaaaaaaaaaah.” Via berteriak seraya berlari menuju lantai bawah.

“Kenapa Vi? Jangan teriak-teriak gitu.” Mamahnya yang ternyata sedang duduk di ruang TV, yang ada di dekat tangga, sangat terganggu dengan teriaka Via yang sangat
kencang.

Via nyengir lalu duduk berjalan mendekati Mamahnya dan duduk di sebelah Mamahnya, “ini NEM Via.”ucapnya seraya menyodorkan amplop yang telah dibuka sebelumnya.

Mamah Via menerimanya lalu membuka isinya dan membaca tulisan yang ada di kertas itu. Perlahan ia mengangguk dan kembali memasukkan kertas itu kedalam amplopnya
,”Asli nih murni hasil kamu?”ujar Mamahnya. Nadanya menyindir. Lalu ia menaruh
amplop itu ke dalam laci meja di depan sofa tersebut.

“Asli lah. murni. Terus kalau gak murni itu hasil siapa?” Via merasa tersinggung dengan ucapan Mamah tirinya itu.

“Ya Mamah kira dapet contekan gitu”kata Mamahnya masih dengan nada menyindir. “Nanti Mamah aja yang ngasih tau Mamah kamu soal ini.”lanjutnya lagi. Via baru
sadar kalau dia belum memberikan kabar lagi untuk Mamahnya. Dia hanya
mengangguk lalu bergegas menuju kamarnya.

Via kembali berguling-guling di atas tempat tidurnya. Kini senyum tengah merekah di bibirnya. Syarafnya selalu berusaha menarik ujung-ujung bibirnya untuk
membentuk sebuah lengkungan. Via sendiri masih keheranan apa gerangan yang
membuatnya seperti ini. Lelah berguling-guling, dia meraih iPod yang ia taruh
di laci meja sebelah ranjangnya. Tanpa melihat playlist, dia langsung menekan
tombol play. Ternyata yang terputar adalah potongan lagu sebelumnya, yang belum
usai Via dengar.


Dia…..seperti apa yang slalu ku nantikan….ku inginkan

Dia….melihatku apa adanya…seakan ku sempurna..

Tanpa bual kata … kau curi hatiku

Dia tunjukan dengan tulus cintanya..

Terasa berbeda saat bersamanya, aku jatuh cinta….

Dia…..seperti apa yang slalu ku nantikan….ku inginkan

Dia….melihatku apa adany…seakan ku sempurna..

Dia bukakan pintu hatiku yang tlah lama tak bisa….

Ku percayakan cinta hingga dia disini…

Memberi cintaku harapan….


Via mendesah pelan lalu mencopotkan headsetnya, “etdah ni lagu, kaga ada lagu lain apa yah.”ujarnya sendiri. Sepertinya Via sangat menyadari bahwa lirk lagu tadi sepadan dengan hatinya. Dengan cepat dia
melihat-lihat isi playlist iPodnya, yang sesunggunya sudah lama sekali tidak di
update.

“Kucing garong…jablay….cinta terlarang…belahan jiwa…cinta mati….makhluk tuhan paling sexy…. Etdah, ini iPod gue bekas di pake ama siapa sih? Begini amat lagunya….” desahnya
lagi sambil terus menelusuri daftar lagu , “pantes aja, ini folder udah lama.
Ganti ah.”katanya lagi, masih berbicara sendiri dengan keadaan tangan memenceti
tombol-tombol sampai akhirnya dia memilih mendengarkan lagu ini…



Via membanting kasar iPodnya. Rasa-rasanya semua lagu serasi dengan perasaannya. Kini ia mencoba memejamkan matanya. Mencoba tidur sejenak. Toh sekarang masih
jam 12. masih 3 jam untuk Iel datang ke rumahnya.

Sivia menggeliat di atas ranjangnya. Matanya sedikit menyipit karena sorot lampu kamar yang membuatnya sedikit silau. Dia merogoh Hp yang ia simpan rapih di
meja sebelah ranjangnya.

“WAAAAAAAAAAAAAAA JAM 3” jeritnya ketika melihat jam di HP nya bertuliskan, ’14.59’ ,”Mampus ini gimana ini.”ujarnya lagi. Tanpa banyak bicara, dia langsung mengambil handuk
yang tergantung di belakang pintu kamarnya dan berlari ke kamar mandi yang
bersebelahan dengan kamarnya.

“Vi……ada temen kamu tuh yang cowok. Yang sodaranya Cakka itu”kata Mamahnya seraya mengetuk pintu kamar mandi. Mamahnya tahu karena sebelumnya Iel pernah mampir
ke rumah Via.

“Suruh tunggu Mah.”jawab Via lalu buru-buru melanjutkan mandinya. Setelah beres, Via langsung mengeringkan tubuhnya dan membalut badannya menggunakan handuk. Toh
kamar mandi sama kamarnya kan
sebelahan. Ketika membuka pintu dia sedikit kaget karena mendapati Mamahnya
masih berdiri di situ. “Loh, Mamah ngapain disini? Mau pipis? Kamar mandi bawah
emang kenapa?”tanyanya heran.

Mamah Via tidak mengubris pertanyaan Via, dia langsung melipat kedua tangannya di dada, “dia siapa Vi? Kok deket banget sama kamu?”tanya Mamahnya menyelidiki.

Via kaget, dia belum memikirkan secara matang apa akibat jika Iel datang lagi ke rumahnya, , “Anu Mah, dia temen biasa Via kok. Gak ada apa-apa. Beneran.” Via
berusaha meyakinkan Mamahnya. Tangannya memainkan ujung handuknya.

Mamahnya memegang kuat kedua pundak Via dengan tangannya, dia menatap anak tirinya itu dalam-dalam lalu tersenyum ,”Ngga apa-apa kok, Mamah ngerti. Sekarang kamu udah
mau SMA, tapi pesen Mamah ati-ati yah sama cowo, takutnya kamu malah kayak
Zahra yang diputusin sama Kiki nangisnya kejer-kejer. Ampe puasa satu
bulan.”katanya panjang lebar lalu melepaskan peganganya di pundak Via.

Via menatap Mamah Tirinya itu tidak percaya. Baru kali ini Via diperlakukan seperti ini. Via tersenyum ,”Makasih ya Mah, sekarang Via mau siap-siap dulu, Gak
apa-apakan Via jalan sama Iel?”ujarnya lalu tersenyum jahil

Mamahnya mengangguk lalu menjawil dagu Via pelan, “Boleh kok, sukses yah nge date nya. Kayaknya dia suka tuh sama kamu.” Mamah Via pun langsung meninggalkan Via yang
masih berdiri di ambang pintu. Berjalan menuruni tangga.

Via kini sudah siap. Dia sedikit berlari ketika menuruni tangga rumahnya. Sesaat dia mencari sepatunya di rak sepatu yang berada di bawah tangga, setelah
menemukan sepatu sendal yang cocok untuk warna baju yang ia kenakan, Via langsung
berlari menuju ruang tamu. Dimana Iel berada.

“Maaf Yel nunggu lama. Gue ketiduran hehe.”ujar Via seraya duduk di sofa depan Iel duduk, lalu memakai sepatu sendalnya.

Iel meneguk sirup cocopandan yang tadi di sajikan oleh Mamah Via lalu menjawab, “Bulukan nih gue nunggu lo. Kan
gua tadi bilang, jangan telat.” Iel sedikit bercanda, lalu tersenyum jahil
ketika mendapati Via sedikit manyun, “Udah jangan manyun. Jelek lo. Pamitan aja
langsung sama nyokap lo.”lanjutnya lagi. Via mengangguk dan berdiri. Lalu
melihat ke taman yang berada di depan rumahnya, Mamahnya sedang mengurusi
tanaman. Via pun berjalan mendahului Iel keluar dari rumahnya. Iel mengekor.

“Tante, Via nya saya bawa dulu yah..”pamit Iel sopan yang hanya dijawab anggukan Mamah Via lalu tersenyum dan melanjutkan meneliti bonsainya.

“Via berangkat Mah.”ucap Via, kali ini dia yang pamitan, tanpa menghampiri Mamahnya. Malas, Mamahnya berada di tengah taman, berarti dia harus menginjak tanah dulu,
bisa membuat sepatu sendalnya kotor. Via langsung mengajak Iel untuk segera
pergi.

***

Iel telah memegang 2 tiket menonton film Karate Kids. Mereka akan duduk di kursi

D4 dan D5. Iel yang membayar menontonnya. Awalnya Via menolak, berusaha menghalangi niat Iel untuk membayarinya. Tidak enak dan takut dikira cewek matre. Tapi Iel tetap bersikukuh untuk membayari Via,
‘sekali-kali nraktir’ ujarnya enteng. Malas berdebat terlalu lama, akhirnya Via
mengalah dan balas mentraktir Popcorn beserta minumnya. Iel akhirnya tidak
menolak.

Via dan Iel kini tengah duduk di kursi di dalam studio 3. Dimana film Karate Kids akan segera diputar. Via duduk di kursi nya, dia mengubah sebentar profile HP
nya menjadi ‘silent’. Iel sendiri memilih mematikan HP nya. Tak lama film pun
segera dimulai.

Jantung Iel berpacu cepat, aliran darahnya mulai teraduk tidak teratur. Keringat dingin mulai keluar dari telapak tangannya. Dia berusaha menikmati film bergenre
komedi di depannya ini. Tapi gagal. Rasa sesak kini menerpanya. Mengapa
perasaan ini muncul lagi? Bukankah sudah ia tanam dalam-dalam perasaannya ini?
Entahlah, yang pasti dia merasakan sensasi yang berbeda. Ketika dia duduk
berdua, bersampingan dengan Via. Melihat secara jelas apa yang dilakukan Via,
walaupun tidak ada lampu yang menerangi tetapi sepertinya kontak batin sangat
terjalin. Dia sendiri sirik, mengapa Via bisa sangat menikmati film ini? Sedari
tadi, tak hentinya dia tertawa, apakah dia benar-benar tak mempunyai perasaan
seperti dirinya? Apa memang dia saja yang terlalu berlebihan? Apa Via masih
tidak juga sadar bahwa dia mengajak Via nonton adalah langkah awal untuk pdkt?
Apa Iel yang terlalu cepat mengambil langkah?

Via melahap popcorn yang sedari tadi dia peluk rapat-rapat. Dia sangat menikmati film yang sekarang sedang di suguhkan di hadapkannya. Film yang sangat seru,
kocak, lucu, tetapi menyentuh ini membuatnya sejenak lupa dengan perasaan dan
fikiran yang tadi siang sempat menghampirinya. Eh…tunggu….perasaan tentang
seseorang yang kini duduk di bangku sebelahnya. Via merogoh HP nya yang ia
taruh di dalam tas kecilnya, melihat jam. Jam di HP itu menuliskan sekarang
masih jam 4.15. baru setengah jam dari film dimulai. Tapi mengapa rasanya
sangat lama? Via melirik ke arah Iel yang duduk di sebelah kanannya. Popcorn
nya masih utuh, tapi minumnya sudah habis. Via lalu mulai mengamati Iel.

“Yel….”bisik Via pelan, tepat dikuping Iel.

Iel sedikit terlonjak, hampir saja dia menjerit, dia menatap yang kini malah nyengir seraya menatapnya , “apaan?”tanya Iel, sedikit geram, padahal dia bukan
kaget atau kesal karena diganggu menonton, tapi karena sedari tadi memikirkan
Via.

“Lo kenapa sih? Popcorn lo utuh? Terus ini film kan lucu, kok lo dari tadi nontonnya serius banget.”ujar Via, suaranya sangat kecil. Hanya Iel yang mampu mendengarnya.
Lalu ia menyeruput Ice Lemon Tea yang tadi dia beli, dan ia taruh dia ujung
tangan kursi itu.

Mata Iel jelalatan mencari popcorn nya sendiri, ternyata masih tersimpan rapih di tempat penyimpanan makanan, di ujung tangan kursi, lalu dia mulai merauk
popcornnya , “kenapa emang? Nih gue makan….”katanya, mencoba santai seraya
memasuk-masukkan satu persatu popcorn kedalam mulutnya.

“Tapi dari tadi lo gak ketawa, dari tadi aja gue ngakak nonton ini film. Lo kenapa yel? Sakit?” nada suara Via masih sangat kecil. Sadar bahwa ini adalah bioskop.
Lalu dia menempelkan punggung tangannya ke kening Iel, mengecek kondisi Iel.

Iel sedikit melting saat tangan Via menempel di dahinya, beruntung gelap, mau semerah apapaun rona wajahnya tak akan terlihat. Setelah Via melepaskan
tangannya dari keningnya, Iel menjawab , “ngga kok gak apa-apa. Lanjutin
nontonnya.”

Via hanya mengangguk. Meraih kembali popcornnya yang tadi dia taruh sebentar di ujung tangan kursi. Rasa itu kembali menyergapnya. Percis seperti apa yang tadi
Iel rasakan. Dadanya sesak. Perasaannya digelayuti berbagai pertanyaan,
pertanyaan yang sebenarnya masih terlalu ragu untuk dia jawab secara mantap.
Via menghela nafasnya, berat. Kembali menfokuskan dirinya kepada film komedi di
depannya.

Satu jam kemudian film itu selesai. Via menggeliat sebentar di atas kursinya, sementara Iel yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya. Akhirnya mereka
beruda pun keluar dari studio itu. Iel sendiri sangat tidak menikmati film itu,
walau sesekali dia ikut tertawa, jika orang lain tertawa, tentunya.

“Mau kemana lagi Yel?”tanya Via setelah mereka berada di depan pintu bioskop.

Iel melihat jam yang melingkar di lengan kirinya, “jam 5 lebih, mau makan dulu?”tawarnya.

Via menggeleng lalu memegangi perutnya, “gue kenyang, minum coca cola satu kaleng, lemon tea satu gelas, popcorn satu bungkus.”ujarnya polos, Iel terkekeh, “tapi
kalau lo mau makan ayo aja gue temenin.”lanjutnya cepat. Takutnya pria
dihadapannya ini sangat lapar, dan mengurungkan niatnya ketika wanita yang ia
ajak menolak.

“Gue juga gak laper. Muter-muter aja yuk. Liat-liat, siapa tau ada yang bagus. Sekalian anterin gue pilihin kado buat sepupu gue, Bastian.”ujar Iel yang di
jawab oleh anggukan dari Via. Iel mulai melangkahkan kakinya, disertai Via yang
berjalan di sampingnya. Mereka berjalan memutari lantai tersebut, tanpa
mengucapkan sepatah katapun. Akhirnya Iel mengajak Via duduk di kursi yang
berada di tapi Mall itu.

“Vi, tadi itu nyokap tiri lo kan?”tanya Iel sedikit berhati-hati, ketika mereka sudah duduk berdampingan.

“Iya, kenapa emang Yel?”ujar Via santai, lalu membenarkan posisi tas nya.

“Ya gak apa-apa, tapi kayaknya baik deh.”

“Baik sih baik…tapi ya…..gitu deh.”kata Via seraya mengangkat bahu.

Iel merasa dia salah membawa topik obrolannya dengan Via, “ya selama dia baik sama lo, gak usah dimasukin hati lah Vi.”ujarnya.

“Iya sih.”kata Via sedikit malas.

Iel kini menatap Via lalu tersenyum ,”kalau lo butuh temen cerita, gue siap dengerin curhatan lo.”ucap Iel sepenuh hati.

Via balas menatap Iel, lalu tersenyum ,”Thanks yah Yel.”ujarnya. Iel mengangguk.

“Sama-sama Vi. Eh betewe, pengumuman test kapan?” Iel memulai topik barunya.

“Hari sabtu nih Yel, gue gemeteran. Takutnya gagal, puas deh Kakak gue ngatain gue.”jawabnya lalu tersenyum pahit.

Iel merasa kembali salah memilih topik obrolannya, “ya berdoa aja semoga masuk. Nyokap kandung lo sendiri gimana? Bokap lo?”tanyanya. menginginkan Via untuk
bercerita kepadanya. Ia sendiri kangen saat-saat Via curhat padanya.

“Gitu aja sih Yel. Nyokap masih selalu sms setiap hari nanya kabar gue gitu, tapi gak bertindak jauh, takutnya malah salah paham nyokap tiri guenya. Bokap…dia masih
di luar kota.”cerita
Via seadanya. Dia sendiri jadi kangen sama Mamahnya. Terakhir ketemu waktu
rapat sekolah itu. Mamah tirinya sebenarnya sudah tidak terlalu mau Mamah
kandung Via mencampuri urusan Via.

Iel mengangguk , “yang sabar yah Vi nikmatin aja semuanya.” Via mengangguk dan tersenyum ,”anter gue ke toko itu yuk. Beli kado buat sepupu gue.”lanjutnya seraya menunjuk salah
satu toko yang berada tak jauh dari tempat mereka duduk. Via mengangguk. Iel
berdiri dan diikuti Via.

Via melihat-lihat isi toko itu. Yang dominan berisikan barang untuk lelaki tapi tak sedikit barang untuk perempuan juga. Iel mencuil pelan bahu Via yang sedang
melihat-lihat robot-robottan cowok. Via menoleh.

“Gue kasih ini oke ga?”tanya Iel seraya megangsurkan robot berbentuk superman.

“Emang dia umur berapa?”tanya Via yang kini meneliti robot yang Iel pegang.

“4 tahun gitu deh…..”

“Dia sukanya apa?”

“Gue gak tau, gue gak deket ama dia, hehe.” Iel nyengir. Via melengos.

“Yaudah kasih ini aja atau gak mobil-mobillan, netral, semua anak cowok suka, eh tapi jangan mobil deh, ini aja, lucu.”kata Via. Iel mengangguk lalu berjalan menuju
kasir, Via mengekorinya.

“Adiknya Mas? Sedikit mirip sih.”ceplos sang pramuniaga lalu mengecek barang yang akan Iel beli melalui komputernya.

“Hah? Adek? Bukan mba! Temen!”ujar Iel dengan keadaan alis bertaut. Via terkekeh.

“Oh bukan. Berarti jodoh. Kan kata orang dulu kalau yang mirip tapi gak ada ikatan darah berarti jodoh” kata
pramuniaga itu yang masih mengecek kode barang yang dibeli Iel. Pipi Via dan
Iel sedikit memerah.

“Itu kan dulu, beda ama sekarang Iye gak Vi?”kata Iel seraya mengeluarkan uang untuk membayar robot itu lalu kembali memasukan dompetnya ke saku belakang celananya. Via hanya mengangguk.

Pramuniaga itu hanya tersenyum lalu menoyodorkan Iel sekantung plastik berisikan robot yang dibelinya tadi. Iel menerimanya lalu tersenyum, mengucapkan terimakasih, dan mengajak Via keluar.

“Mau kemana lagi?”tanya Via ketika mereka sedang berjalan di Mall itu, tanpa tujuan.

“Gue sih terserah lo.”jawab Iel enteng.

“Kan lo yang ngajak jalan, gimana sih.”gerutu Via, bercanda.

Iel melirik ke arah Via lalu mengacak poninya, Via cemberut lalu merapikan poninya. “minum dulu yuk di café coklat.”ajak Iel seraya menunjuk café yang lumayan
ramai pengunjung. Via mengangguk lalu berjalan diiringi Iel disebelahnya menuju
cafe itu.

Café yang dibalut cat berwarna abu-abu dan kursi-kursi tempat pengunjung yang berwarna biru laut itu tampak nyaman. Letaknya
yang berada di lantai 6 (kapan mall di bogor ampe lantai 6 yak -___- ) Mall itu
membuat pemandangan café itu menarik. Via dan Iel memilih duduk di pojok café,
dekat kaca agar bisa melihat langsung ke luar, pemandangan.

Setelah dipastikan mereka berdua duduk, waitress pun mengahmpiri. Via hanya memesan Chocolate Float, sedangkan Iel memesan milkshake strowberry yang ditambahkan
ice cream coklat di atasnya.

“Gue gak nyangka deh Riko bisa nembak Shilla.”ujar Iel, memecah keheningan antara dirinya dan Via.

Via menatap Iel lalu menangguk ,”Iya, gue juga awalnya takut Riko minder setelah kita tau mengenai penyakitnya.”sahut Via seraya memain-mainkan sendok yang
tergoler di meja dihadapannya.

“Gue juga mikir gitu. Salut deh gue ama Shilla. Dewasa fikirannya.” Iel menambahkan, seraya menyenderkan tubuhnya ke punggung kursi.

“Shilla sih emang paling dewasa di antara kita bertiga.”ujar Via yang sudah berhenti memainkan sendok. Dia hanya menatap Iel dengan tatapan tiada arti.

“Lo juga dewasa kali Vi.”kata Iel santai.

Via sedikit GR dibilang dewasa, eh…emang dibilang dewasa pujian ya? Fikirnya….”Hah gue dewasa? Childish gini masih cengeng.”jawabnya berusaha sebiasa mungkin.

“Cengeng kenapa?”tanya Iel penasaran, nadanya tidak sesantai tadi.

Via mengetuk-ngetukkan jarinya ke atas meja, “Ya cengeng kalau ada masalah, nyokap gue kakak gue…yaaaaaa…….”jawabnya. tak tahu harus meneruskan kalimatnya dengan
apa lagi. Karena sebetulnya dia bukan type cewek yang cengeng.

“Kata Cakka lo gak cengeng, malah lo lebih suka mendem semuanya. Terbukti kan kaya lo selalu pura-pura gak ada apa-apa di depan semuanya. Eh…tiba-tiba curhat deh ke gue
ampe nangis. Dan itu kayaknya lo jarang banget nangis sampai akhirnya lo
ngeluarin semuanya dalam satu waktu.”cerocos Iel panjang lebar. Sesuai dengan
yang ia tahu. Bagaimana Via dimatanya.

Via tertegun, dia menundukan kepalanya. Memainkan jarinya. Sebetulnya perkataan Iel memang benar. Dia jarang menangis. Karena menurutnya menangis tak akan
menyelesaikan masalaha. Dia lebih memilh untuk memendam perasannya. Akhirnya
dengan berani dia kembali mengangkat wajahnya, “Kok Cakka? Emang dia cerita apa
aja ke lo?”tanyanya, sedikit mengalihkan pembicaraan, yang memang sebenarnya
membuatnya aneh, mengapa Iel membawa nama Cakka?

“Ya…Cakka suka cerita aja waktu dia masih jadian sama lo. Katanya lo gak pernah nangis. Kalau udah kelewat kesel baru nangis. Tapi bukan nangis karena sedih.”jawab Iel
seadanya. Berusaha untuk jujur. Walaupun sebenarnya hatinya ketar-ketir.
Sesungguhnya, dialah yang suka meminta Cakka untuk menceritakan tentang Via,
“lo kenapa sih Vi gak suka nangis kayak cewe kebanyakan?’

Via berhenti menganggukan kepalanya, mengerti ucapan Iel barusan. Kemudian dia langsung mengangkat bahunya, menjawab pertanyaan Iel, “males aja gue nangis.
Gak akan nyelesaian masalah. Dan gue emang bukan cewek dikit-dikit nangis.
Mending sekaligus. Hehehehe.”katanya diselingi cengirannya.

“Bener juga sih. Tapi sekalinya nangis ituloh. Kejer banget. Gue aja ampe kaget.” Kata Iel, mengingat kejadian saat Via menariknya dari rumah Ify da menyuruhnya
langsung ke taman.

Via mengangkat jarinya dan membentuk tanda ‘peace’. “Udah ah gak usah ngomongin gue. Tadi kan
ngomongin Shilla sama Riko.”ucap Via, mengalihkan pembicaraan. Tiba-tiba
waitress datang dan menaruh pesanan mereka di hadapan mereka. Setelah
mengucapkan terima kasih, waitress itu pergi.

Iel mengaduk pelan Milkshake stroberry nya, “Males ah ngomongin mereka. Bikin envy aja mereka pacaran.”ceplos Iel, lalu pelan-pelan menghirup milkshake nya.

Via yang baru saja menyerudup Chocolate Float nya sedikit terkekeh mendengar ucapan Iel, “ya pacaran lah Yel.”sahutnya.

“Yah, ceweknya aja gak mau sama gue. Malah gak nyadar kali gue suka sama dia.”kata Iel setelah menyendokkan ice cream coklat diatas milkshakenya ke dalam
mulutnya. Ia sendiri tidak sadar dengan ucapannya. Jantungnya meulai berdetak tidak
karuan, darahnya berdesir cepat. Salah ngomong.

Via sendiri merasa bahwa ucapan Iel tadi dimaksudkan untuk dirinya. Pipinya sedikit memerah, malu. Ada
rasa bersalah di dalam dadanya. Dia menunduk seraya terus menyeruput ChocFloat
nya. Berusaha memikirkan apa yang harus ia jawab atas pertanyaa Iel. Dan,
mengapa jantungnya seperi berdetak 2km/detik? Apakah sebenarnya dia juga suka
kepada Iel?

Iel sendiri kikuk dengan keadaan seperti ini. Dia yang terakhir bicara. Dan Via tidak menyahut itu. Dia mengaduk-aduk milkshake nya. Menyibukkan dirinya.
Mengalihkan fikirannya. Keringat dingin perlahan mengucur dari telapak
tangannya. Suasana mereka dingin. Gara-gara salah ngomong nih…batin Iel
merutuki dirinya sendiri.

Akhirnya Via mengangkat wajahnya dan tersenyum, mencoba mengucapkan sesuatu yang sedari tadi dia rangkai habis-habisan. Agar tidak menimbulkan kekauan lagi , “Ah masa
sih Yel. Kali aja tuh cewek juga suka sama lo. Malu kali ceweknya. Hahahah eh
betewe, abis ini pulang yah.”sahutnya. ah…kok ngomong gitu? Itu sih gue
banget….fikir Via lalu menggigit bibir bawahnya.

Pipi Iel sedikit memerah. GeeR dengan ucapan Via tadi. Via sadar kali yah tadi itu omongan gue tentang dia? Terus dia jawab lagi secara langsung tentang dia ke
gue? Batinnya terus bertanya-tanya tanpa satupun ada yang terjawab. “Ya kali
aja yah Vi. Oke. Ini gue udah abis milkshake nya.”katanya lalu. Mulai
mengalihkan pembicaraan.

Via mengangguk. “gue juga udah abis nih.”katanya. Iel lalu emanggil waitress dan meminta bill. Via sempat memaksa untuk membayar minumannya sendiri. Tetapi Iel
terus menerus membayarkannya. Seperti kejadian di bioskop tadi. Akhirnya Via
mengalah. Mereka pun jalan beriringan menuju tempat Iel memarkirkan motornya.


***

Our Life, Our Destiny, and the Best for Us :) part 20

***


“Ya gitulah.”jawab Riko santai. Tak mungkin ia menceritakan semuanya “Waktu itu gue ketemu Ify disini, dia lagi nengok sodaranya, dan…dia liat gue keluar dari ruang khemo…ya gitu…”lanjutnya.
. Lalu ia kembali menatap Ify yang kini tersenyum.

“Stadium berapa Ko?”tanya Riko kini.

“Akhir.”

“Terus lo kenapa bisa disini? Kumat tiba-tiba? Gimana ceritanya?”Rio membujuk Riko untuk menceritakan semuanya. Riko mengangguk.

Riko menceritakan semuanya sampai akhirnya dia jatuh, tdia tidak menceritakan bagaimana dia bisa sampai dirumah sakit. Karena dia sediri tidak mengetahuinya. Sebenarnya ketika Riko terjatuh, Keke baru saja
pulang dari rumah Aren yang bertetanggan dengan Shilla, dan menemukan Riko
sudah tergeletak. Jadilah Keke langsung menghubungi Mamahnya dan membawa Riko
ke rumah sakit. Tapi, Riko tidak menceritakan bahwa rencananya adalah untuk
menembak Shilla. Semuanya mengangguk, mengerti.

“Lo khemo kan Ko?”Iel kini yang bertanya.

“Iyalah. Kalau kagak gue udah mati dari kemaren kali.”

“Hussh!” Via memperingati Riko agar tidak bicara sembarangan, Riko lalu nyengir.

“Umur….lo………”Rio mengataknnya dengan sangat berhati-hati, Ify yang ada disebelah Ify meninju pelan lengan Rio.

Riko terkekeh, “umur gue? Kata dokter sih ni kanker udah parah dan tinggal nunggu kalau kalau ada yang mau donorin, tapi jaman begini, mana ada sih orang yang rela gitu aja ngedonorin hatinya buat
gue?”jelas Riko. Pedih hatinya saat menjelaskan ini semua. Dia sadar, cepat
atau lambat sahabat-sahabatnya juga harus tau. Riko melirik sekilas ke arah
Shilla yang sedari tadi berdiri di sebelah ranjangnya, menunduk, menahan bening
dari sudut matanya.

“Yah umur kan udah ada yang ngatur Ko, santai aja lah. lo masih punya kita yang selalu ada dan nerima lo apa adanya.”timpal Iel seraya tersenyum dan disetujui oleh
semuanya melalui anggukan kecil.

Riko mengangguk dan tersenyum ke arah Iel, “thanks Yel semangatnya.”

Iel mengangguk,”ini gunanya sahabat.”

Riko tersenyum lalu menoleh ke arah Shilla, “Shil, kok dari tadi diem aja? Nunduk mulu gak pegel?”ujar Riko yang membuat Shilla gelagapan. Ify, Rio, Iel, dan Via hanya
tersenyum melihat Shilla yang sedikit melting.

Shilla mengangkat wajahnya dan berusaha mengukir senyum di wajahnya, “Ah engga ko, gimana keadaan lo? Mendingan?” nada Shilla sedikit bergemetar, mungkin masih sedikit kaget dengan sapaan Riko.

“Alhamdulillah udah lumayan lah.”jawab Riko “eh ya, kalian pada tau dari mana gue disini?”tanyanya lalu menatap wajah teman-temannya satu persatu.

“Si Deva gue suruh nanya ke Keke, terus Keke bilang ke Deva kalau lo disini. Jadi….kita kesini sekalian ngejenguk lo lah.” Iel menjelaskan sejujurnya kepada Riko. Riko mengangguk mengerti.

Semuanya pun larut dalam obrolah. Ada candaan di setiap percakapan. Shilla sudah bisa mengendalikan emosinya dan bersikap biasa saja kepada Riko seolah ‘rencana penembakan gagal’ itu hanyalah angin lalu. Rio pun sahut menyahut ketika mereka sedang bercanda. Ify
pun menghela nafas karena rahasianya tidak terbongkar secepat Riko. Via dan Iel
pun ikut terlarut dalam obrolah sahabat-sahabatnya itu.


***


Hari berjalan dengan cepat secepat angin yang berhembus dari Australia menuju Indonesia
(nah loh? Emang iya? Maaf kalau gue sotoy) . Riko telah pulih dari kedaannya
dan kini ia sudah bisa melakukan kegiatan sehari-harinya. Ify dan Via sibuk
mempersiapkan diri karena esok mereka akan test RSBI SMA. Mereka membaca ulang
semua materi yang guru-guru pernah ajarkan kepada mereka selama ini. Berharap
apa yang mereka pelajari akan keluar dalam soal test.

Karena Ify dan Via test SMA, otomatis mereka tidak masuk sekolah. Ahasil ke-empat sahabatnya yang lain pun memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Bukan bolos, karena mereka pun sudah bebas untuk ke sekolah.
Lagian, mereka pun memperhatikan kondisi Riko yang baru pulang dari rumah
sakit.

Akhirnya Via dan Ify pun selesai test RSBI SMA. Ada rasa pesimis yang tertanam dalam diri mereka setelah mendapati soal-soal test yang…ew….sama sekali berbeda dari apa yang mereka perkirakan. Ify dan Via hanya menunggu
keajaiban. Keajaiban akan jawaban mereka yang hitung kancing adalah jawaban
yang benar.

Test SMA terlaksana mulai dari hari Senin hingga Rabu. Rencananya Ify dan Via akan kembali bersekolah pada hari Kamis ini. Tapi setelah menghubungi sahabatnya yang lain, mereka sama-sama malas untuk
berangkat sekolah. Karena di sekolah pun mereka tidak akan belajar, sekedar
berkumpul. Via sebenarnya sedikit bosan, itu artinya dia akan diam di rumah
selama 4 hari ke depan hingga hari Senin tiba. Dan dia juga harus siap mental jikalau
Kakaknya mulai mengata-ngatainya lagi.


***


Hari senin pun tiba. Ke-enam sahabat itu telah sepakat untuk datang ke sekolah. sejujurnya mereka rindu karena telah satu Minggu tidak bertemu. Kecuali Rio, karena dia masih suka mengantar Ify untuk
khemoterapy.

Jam 8 mereka sudah sampai dan berkumpul di kantin. Keadaan sekolah luamayan ramai karena anak kelas 7 dan 8 tidak libur, mereka masih belajar seperi biasa. Anak kelas 9 pun banyak yang datang, untuk sekedar
bertemu teman yang lainnya. Ify asik mengunyah rotinya, Rio yang duduk
disebelah ify sibuk memainkan BB nya, Shilla duduk berhadapan dengan Riko
mengobrol enteng, Via sendiri sibuk memakan nasi goreng yang adi dia bawa dari
rumah, sedangkan Iel yang duduk di apit oleh Shilla dan Via hanya diam.

“Ah bete, pada sibuk sendiri.”celetuk Iel di tengah kesunyian. Via sedikit tersedak karena ucapan Iel yang mengagetkannya, lalu ia maninju pelan lengan Iel, Iel hanya tekekeh. Riko dan Shilla menoleh
kearah Iel lalu terkekeh, sedangkan Ify dan Rio
kompak angkat bahu.

“Bakar nih sekolah, rame dah.”ujar Rio jayus yang disambut dengan toyoran manis ala Riko (?).

“Lagian nih pada sibuk sendiri, dari tadi gue cengo……aja.”timpal Iel, kesal.

“Eh kalian yang pada test SMA begimana soalnye? Bisa kaga?” akhirnya Riko memulai suatu topik percakapan.

Via memegangi kepalanya sendiri, seolah tak ingin membahas itu lagi, “Wah Ko, jangan bikin gue inget itu lagi.”katanya lalu menutup tempat bekalnya yang isinya sudah habis.

“Gue apa lagi……gigit jari deh gue.”timpal Ify santai setelah menelan rotinya.

“Emang susah yah?”tanya Shilla polos.

Via dan Ify kompakan menjawab, “susah banget!!!!!!”

“Optimis dong.”sahut Rio sedikit memberi semangat, lalu mulai membuka ciki nya.

“Gimana mau optimis, jujur nih, usaha gue buat masuk SMA itu dikit baget, jadi kalau gagal juga normal.”kata Via santai, Ify mengangguk.

“Percaya gak percaya gue ngerjain soal IPA sampe nangis.”tambah ify.

“Gila! Lebay banget lo.”komentar Iel pada Ify lalu terkekeh. Ify menjulurkan lidah.

“Emang bener Yel, sumpedah!”

“Tawakal ajalah Fy, iyaga?”ujar Via.

“Kalau gak masuk berarti bukan jodohnya, kalau masuk ya emang jodoh kalian.”sahut Shilla diplomatis yang dijawab oleh acungan jempol kelima sahabatnya yang lain.

Mereka pun melanjutkan obrolan ringan mereka layaknya saabat-sahabat lainnya. Tak ada pembicaraan yang serius, semua diselingi dengan tawa mereka yang renyah.


***


Dari sepulang sekolah tadi, Shilla tak sabar ingin cepat-cepat jam 4. menyesal karena tadi di sekolah hanya sampai jam 11. harusnya tadi di sekolah yang lama, kalau kumpul kan waktu gak kerasa, lah kalau gini?
Sendirian, nunggu sejam berasa nunggu sehari….dumel Shilla dalam hati ketika
dia sedang membaca-baca majalahnya di ruang Tv . Sebenarnya jam 4 ini dia akan
jalan bersama Riko. Entah ada angin apa, dan memang sudah lumayan lama Riko
tidak mengajak Shilla jalan. Tadi sekitar jam setengah 1 Shilla dikirimi SMS
oleh Riko yang mengajaknya main di Timezone seperti kala itu. Tanpa pikir
panjang, Shilla meng-iya-kan ajakan Riko.

Shilla memtar-mutar Channel TV nya. Berusaha menemukan acara yang bagus. Tapi gagal. Acara yang disajikan oleh televisi tak jauh hanya kasus Ariel-Luna-Cuta Tari. Etdah……bosen gue nonton mereka bertiga
mulu yang nongol….batin Shilla. Akhirnya Shilla pun memutuskan untuk tidur
barang satujam, toh sekarang masih jam 1, dan Riko akan menjemputnya jam 4.

Shilla baru bangun dari tidur siangnya yang sangat nyenyak, lalu menggeliat di atas sofa ruang Tv nya. Mamahnya yang berada di meja makan, melihat kelakuan Shilla hanya menggeleng-gelengkan kepala lalu
masuk ke dalam kamarnya. Shilla mengerjap-ngerjapkan matanya. Sinar lampu cukup
membuatnya silau. Diliriknya jam yang tepat berada di dinding hadapannya, jam
3…. Shilla berusaha mengumpulkan nyawa. Dia mendudukan tubuhnya lalu meraih HP
nya yang tergoler di meja depan sofa. Hanya ada SMS dari operator….lama lama
gue pacarin nih operator, tiap hari sms mulu….

Shilla sudah selesai mandi, dan bersiap-siap. Kini ia tingggal memakai sepatu flat nya yang berwarna coklat. Sekarang sudah jam 4 kurang 5 menit. Tadi, jam setengah 4, Riko mengiriminya SMS lag, sekedar
mengingatkan bahwa jam 4 ia akan menjemputnya. Kini Shilla sedang duduk di
ruang Tv, memakai sepatunya. Tak lama kemudian, bunyi mesin motor Riko
berbunyi, Shilla ingat betul bunyi mesin itu. Bergantian dengan itu, bunyi bell
ruamh kini yang berbunyi. Cepat-cepat Via membukakan pintu, walaupun keadannya
masih memakai sepatu sebelah.

“Eh Riko.”sapa Shilla pura-pura kaget dengan kehadiran Riko setelah dia membuka lebar pintu rumahnya.

“Udah siap kan Shil?”kata Riko lalu tersenyum, “Eh itu, lo kok Cuma pake sepatu sebelah?”lanjutnya setelah melihat keadaan kaki Shilla.

Shilla mengintip kakinya lalu tersenyum ke arah Riko, “hehe tadi buru-buru bukain pintu, kirain orang penting.”jawab Shilla asal, “masuk dulu Ko”katanya lagi yang diiringi anggukan kecil dari Riko.
Shilla mempersilahkan Riko untuk duduk di ruang tamunya, sedangkan ia sendiri
melanjutnka memakai sepatu dan mencangklong asal tas tangannya.

“Izin dulu sama nyokap lo.”kata Riko setelah Shilla beres dan menghampirinya.

Shilla mengangguk lalu berjalan menuju kamar Mamahnya. Tak lama ia datang bersama Mamahnya, Mamahnya tersenyum melihat kedatangan Riko , “Riko yah?”sapa Mamah Shilla ramah.

Riko mendekati Mamah Silla lalu bersalaman dengannya, “Iya tante. Shilla nya saya pinjem dulu yah.”ujar Riko sopan seraya tersenyum.

“Iya…ati-ati yah…pulangnya jangan sampe lecet yah…”jawab Mamahnya diseligi candaan. Riko mengangguk. Shilla dan Riko pun akhirnya pamitan.

Tempat bermain Timezone seakan menjadi saksi bisu dimana derai tawa dari sepasang insan muda itu. Mereka sangat menikmati hari itu. Candaan selalu terlontar dari mulut mereka. Permainan tak mereka mainkan
secara serius, hanya untuk hiburan. Shilla dan Riko sangat menikmati keadaan
seperti ini. Menyenangkan. Melupakan segala beban yang ada. Mereka bersama-sama
bermain.

Setelah 3 jam bermain di timezone, Shilla dan Riko kelelahan. Shilla juga mengingtakan untuk selalu menjaga keadannya. Riko akhirnya mengajak Shilla mengakhiri bermainnya dan melanjutkan untuk makan di
café yang cukup cozy di mall itu. Shilla hanya menurut. Tanpa Riko sadari,
ketika ia dan Shla akan menuju ke sebuah café, tangan Riko menarik pergelangan
Shilla.

“Ehm…tangan gue Ko.”ujar Shilla,sedikit malu, ketika dia dan Riko akan duduk di café itu.

Riko melepaskan genggamannya dari tangan Shilla dengan cepat lalu menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, “sorry Shil, gak sengaja.”ujarnya.

“Santai lah.”jawab Shilla setelah berhasil duduk di hadapan Riko, seraya tersenym. Lalu waitress pun menghampiri mereka, mereka pun memesan beberapa makanan dan minuman. Selagi menunggu pesanan, mereka hanya
berdiaman, sampai akhirnya mereka memakan pesanan mereka, Riko baru bersuara

“Shil.”desis Riko pelan setelah berhasil menelan lembut steak tenderloin nya.

Shilla mengangkat wajah lalu menghirup Jus Jeruknya, “kenapa Ko?”

Riko meminum pelan Lemon tea nya, berusaha mengumpulkan tenaga, “lo…gak ngerasa aneh gitu…jala sama cowok lemah kayak gue? Cowok penyakitan….”tanyanya berhati hati sembari mengernyitkan keningnya.

Shilla mengunyah dan menelan beef burger terakhirnya dengan cepat, “ngapain haru aneh Ko?”ujarnya lalu meminum lagi Jus Jeruknya.

“Ya…gue kan cuma cowok lemah gitu. Penyakitan…umur gue gak lama lagi….”kata Riko berusaha santai saat mengucapkan itu padahal sebenarnya hatinya miris sendiri
mengucapkan hal itu.

“Stop Ko Stop! Gue gak mau ngebahas umur lo atau penyakit lo. Menurut gue ini emang udah takdirnya, dan ya…mau gak percaya segimanapun tapi tetep ini yang terjadi…sebagai sahabat yang baik gue bukan
type pemilih sahabat yang pas gue tau lo penyakitan gue ninggalin lo…dan
disitulah dimana persahabatan kita diuji. Gue yakin, dalam kondisi lo yang kaya
gini yang lo butuhin support dari orang-orang terdekat lo, Cuma mereka yang
bisa ngebangkitin semangat lo, dan salah satu dari mereka itu gue Ko. Gue
terima semuanya Ko.”ucap Shilla panjang lebar. Mengungkapkan segalanya yang ada
di benaknya untuk Riko. Untuk sahabatnya,yang paling ia sayangi.

Riko terhenyak mendengar ucapan Shilla yang sangat bijak, sesaat ia menunduk lalu menatap Shilla dalam-dalam, “itu kalau posisi lo sebagai sahabat? Apa lo mau kalau posisi lo lebih dari sahabat?” entah benar
atau tidak kondisi atau caranya, Riko hanya mengeluarkan ucapan yang terlintas
di otaknya. Ia harap ucapannya membuat Shilla mengerti sehingga ia tidak perlu
memutar-mutar otak untuk menemukan kata yang lebih ‘oke’.

“Maksud lo…..posisi yang lebih dari sahabat….?”tanya Shilla. Sesungguhnya dia masih tidak percaya dengan ucapan Riko tadi. Dia hanya tak ingin salah tanggap, maka dari itu ia menanyakan
langsung kepada Riko.

Riko menghela nafas “lo mau gak jadi cewek gue?”ujar Riko spontan yang membuat jantung Shilla berdebar tidak karuan. Bukan hanya Shilla, Riko pun begitu, darah mereka seolah teraduk, bukan mengalir, membuat perasaan
mereka tidak karuan, “hem gue sadar seharusnya gue gak boleh punya perasaan
lebih ke lo, kalau mengingat masalah penyakit dan umur gue ini..tapi ini
anugrahh dari Tuhan buat gue, dan gue cuma pengen jujur tentang perasaan gue,
gue gak maksain buat lo nerima gue, Karena gue tau diri dalam kondisi gue
seperti ini..lo tau lah….”

“Gue mau jadi cewek lo.”kata Shilla cepat, memotong ucapan Riko tadi. Pipinya bersemu merah. Dia hanya mampu menunduk, menyembunyikan rona merah di wajahnya. Jantungnya berdetak hebat, keringat
dingin perlahan mengucur di telapak tangannya.

Riko menegakkan duduknya yang sedari tadi bersender pada punggung kursi, dia menatap Shilla di depannya yang sedang tertunduk ,”hah? Mau Shil? Gak salah denger? Kamu mau nerima aku dalam kondisi
aku yak kayak gini?”katanya. nadanya terlalu bersemangat tetapi sedikit ragu.

Shilla mengangkat wajahnya, menatap Riko, lalu mengangguk sekilas, tanpa berbicara apapun. Senyum berkembang terulas di awajahnya.

Rio sedikit mengambil nafas lalu ia hembuskan perlahan, “tapi aku takut ngecewain kamu…aku takut tiba-tiba ninggalin kamu, takutnya saat itu kamu lagi butuh aku.”ujarnya pelan, tetapi
matanya masih menatap mata Sihlla yang bening.

Shilla tersenyuh ketika benar-benar mendapatkan tetapan yang mata dalam dari seorang Riko, seseorang yang selama ini ia beri perasaan lebih, Shilla menikmati sejenak kehangatan tatapan itu, lalu menjawab
, “aku gak mau mikirin itu, itu gimana nanti, yang aku mau sekarang ngejalanin
yang udah ada. Semua udah ada jalannya Ko, dan semua itu yang terbaik. Kamu
percaya kan?”lagi-lagi
ucapan Shilla sangatlah bijak dan membuat Riko semakin mengagumi wanita di
depannya ini. Wanita yang kini sepenuhnya telah memiliki hatinya, dan wanita
yang juga ia miliki hatinya.


***

Monday, June 21, 2010

Our Life, Our Destiny, and the Best for Us :) part 19

***

Shilla yang mendapat SMS dari Ify yang mengajaknya bertemu di taman komplek membuat dia sedikit heran. Tapi ia segera merapikan penmapilanya. Setelah siap, dia pun pergi menuju taman, yang berada tak jauh dari rumahnya.

Shilla duduk di bangku taman. Tangannya diketuk-ketukkan ke bangku taman, dia menggigit bibir wajahnya, lalu sesekali membuang pandangannya ke seluruh penjuru taman. Dia mulai berdiri. Sekarang sudah jam setengah 3. telat setengah jam dari waktu
yang sudah Ify janjikan. Dia mondar-mandir, terlihat dari semua gerak-geriknya
bahwa dia kesal karena lama tapi juga khawatir karena sedari tadi dia mempunyai
firasat yang tidak mengenakkan.

Ify, Iel, Via dan Rio baru saja tiba di taman. Mereka bersembunyi di warung yang berada tak jauh dari taman. Mereka mengawasi Shilla dari jauh, dilihatnya Shilla yang hanya sendirian.

“Riko kemana? Kok belum dateng?”Tanya Via sembari mengintip-ngintip ke arah Shilla yang masih duduk sendirian.

Iel mendekati Via dan ikutan mengintip, diliriknya arloji miliknya, “udah jam 3.45, tapi kok belum dateng yah?”ujar Iel juga tak kalah bingungnya dengan Via.

“Samperin aja deh kalau gitu Shilla nya. Riko payah nih.”ajak Rio lalu mulai keluar dari warung. Ify Iel dan Via hanya mengekor.

Shilla masih mamandangi rerumputan dengan perasaan geram. Tak mengerti apa maksud Ify kali ini. Dia memukul-mukul bangku tangan dengan kepalan tangannya. Berusaha melampiaskan kesalnya. Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara langkah
kaki, dengan segit Shilla menoleh.

“IFY! Lo kemana aja sih? Hampir sejam gue nungguin lo disini!!!!”omel Shilla tak beranjak dari bangkunya. Ify hanya menggigit bibir bawahnya lalu duduk di sebelah Shilla.

“Hem…anu Shilll…….sebenernya…..” Ify gelagapan. Dia menunduk sembari berusaha memikirkan apa alasan yang tepat. Apakah dia harus jujur? Dia menoleh ke arah Via yang berdiri tak jauh dari bangku itu.

“Sebenernya kita punya rencana Shil.”ceplos Via langsung. Iel, Rio, Ify, dan Shilla langsung menoleh ke arah Via sembari mengernyitkan dahi. Tak mengerti. Via berjalan mendekati bangku diikuti Iel dan Rio.
“lo yang jelasin aja Fy, semuanya.”lanjut Via tanpa beban.

“……jadi gitu, eh tahunya Riko gak dateng-dateng.” Ify mengakhiri ceritanya kepada Shilla. Cerita tentang rencana Riko akan menyatakan perasaannya. Pipi Shilla merona ketika mendengar cerita itu.

“Jadi……kemana Riko sekarang??”Tanya Iel akhirnya. Mereka juga pastinya bingung mengaa Riko bisa sebegini pengecutnya, menggagalkan rencana acara penembakan ini.

“Perasaan gue gak enak deh.”ujar Via ragu. Dia takut terjadi apa-apa dengan salah satu sahabatnya itu.

“Gue juga nih.”timpal Rio setuju.

“Mending ke rumahnya aja deh. Gimana?”Tanya Ify lalu semuanya menganguk. Mereka pun berjalan beriringan menuju rumah Riko yang berada lumayan jauh dari taman. Shilla meremas-remas ujung bajunya. Tangannya terkepal. Tak henti-hentinya dia
menggigit bibirnya sendiri.

Akhirnya mereka pun tiba di depan rumah Riko. Sepi. Tak ada tanda-tanda adanya orang. Mereka berfikit paling sedang tidur siang, tetapi gerbangnya di gembok. Iel yang memeriksa gerbang itu hanya mengakat bahu. Sedangkan Ify yang sedari tadi
sudah puluhan kali memecet bell terlihat bingung.

“Kemana sih ini orang sekeluarga?”ujar Rio sedikit kesal lalu mulai menggedor-gedor gerbang.

“Rumah orang woy.” Via memperingati Rio. Rio hanya nyengir.

“Mungkin tiba-tiba ada urusan mendadak kali.”Shilla akhirnya buka suara. Via menolah kearah Shilla.

“Jangan sedih yah Shil, besok kita check lagi ke rumahnya.” Via mendekat ke arah Shilla sembari menegelus pelan punggung Shilla. Shilla tersenyum.

“Nanti gue marahin Shil si Riko gara-gara gak ngasih kabar. Tenang aja.” Kali ini Iel yang menennagkan. Shilla tersenyum, sahabat-sahabatnya begitu memeprhatikannya.

“Yaudah kalo gitu, balik aja yah?”usul Rio yang sebenarnya sudah lelah berdiri tidak jelas di depan rumah Riko. Shilla mengangguk, yang lain pun ikut mengangguk. Mereka pun pulang. Ify pulang
bersama Rio, sedangkan Via bersama Iel.
Sebenanrnya Via sudah menawarkan diri untuk mengantar Shilla, tapi Shilla
menolak dan ingin pulang sendiri.

Ada sedikit kekecewaan dalam benak Shilla. Keraguan atas perasaan yang Riko balas untuknya. Dia masih berfikir kenapa Riko bisa membatalkan rencana ini begitu tiba-tiba? Tanpa memberitahu siapapun. Dia berjalan menuju rumahnya --yang lumayan jauh dari
rumah Riko-- sembari menendang-nendang kerikil di jalanan. Tangannya
memelintir-lintir rambutnya. Matanya berkaca-kaca. Dia menunduk. Tapi dia
berusaha menepis fikiran negative nya terhadap Riko.


***


Iel yang baru tiba di rumahnya langsung menghempaskan tubuhnya di sofa yang terletak di ruang TV rumahnya. Deva yang sedang bermain PS-duduk di karpet- memandang Iel sebentar lalu kembai mengalihkan pandangannya menuju layar Televisi.

“Kenapa kak?”Tanya Deva tanpa mengalihkan pandangannya. Heran melihat kakaknya seperti terlilit hutang.

“Si Riko.”jawab Iel singkat lalu bangkit dari posisinya dan mendudukan tubuhnya.

“Kenaopa kak riko? Bukannya tadi pagi baru ketemu?”jawab Deva cuek.

“Gitu deh , tadi gue janjian sama anak-anak, sama Riko juga, eh dia gak dateng tanpa ngabarin ke kita.”jelas Iel singkat lalu bangun, berjalan menuju meja makan yang tak jauh dari situ untuk mengambil minum.

“Ada urusan mendadak kali, terus HP nya mati.”respond Deva singkat. Iel kembali duduk di tempat asalnya.

“Mungkin.”jawab Iel lalu menidurkan posisinya di sofa, “besok kan lo sekolah, lo tanya Keke dong. Oke?”lanjutnya.

“Oke.” Iel pun lalu meninggalkan Deva di ruang TV, bergegas menuju kamarnya, untuk tidur.


***


Keesokan harinya saat isitirahat di sekolah, Deva langsung menjalankan amanat dari Kakaknya. Dia langsung menemui Keke, yang notabene kelasnya bersebelahan dengan kelasnya.

“Ke…”seru Deva dari ambang pintu ketika melihat Keke sedang berbincang dengan Olivia.

Keke menolah lalu menunjuk dadanya sendiri, Deva mengangguk. Keke berjalan mendekati Deva, “Kenapa Dev? Mau minjem Pr ? atau catetan?”tanya keke yang sepertinya sudah hafal kebiasaan Deva menghampirinya ke kelasnya.

Deva nyengir lalu menggeleng, “gue cuma mau nanya, Kak Riko kenapa? Kata Kak Iel kemaren dia sama temen-temennya ke rumah lo, rumah lo sepi.”jawab Deva seadanya, tidak ingat betul cerita Kakaknya.

Keke menunduk, raut wajahnya berubah, dia mehanan nafas. Sesak jika mengingat Kakaknya, mungkin sekarang temen-temen kak Riko sudah harus tahu kondisi kak Riko…batin Keke gelisah.“bilang ke kaka lo, temuin kak Riko di rumah sakit harapan
kamar nomer 312.”jawab Keke setelah sebelumnya menghembuskan nafas.

Deva membulatkan matanya yang memang sudah bulat, “ada apa?”tanya Deva polos.

Keke sedikit geram, malas memikirkan kondisi kakanya, “udah deh, udah gue kasih tau kan? Masih nanya lagi. Bilangin aja gitu.”jawab Keke lalu pergi meninggalkan Deva, kembali ke tempatnya. Deva hanya menggaruk belakang kupingnya dan berjalan menuju
kelasnya.


To : kak Iel

Kak, kata keke lo disuruh ke rs harapan komer nomer….300 berapa yah gue lupa. Katanya disitu ada kak riko.


From : kak Iel

Hah? Riko knp? Aduh bego! Tanya keke lg kamar nmr brpnya


To : kak Iel

ye gatau ah. Mash untung gw baik mau nanyain. Udah yah gw mau bljr.


Deva memasukan Hp nya ke dalam tas, setelah terdengar bunyi selop si guru, Bu Winda.


***


Setelah mendengar berita dari Deva, Iel langsung memberitahu ke-empat sahabatnya yang lain. Menyuruh mereka untuk datang ke rumahnya. Dia sengaja tak memberitahukan tujuannya. Lebih baik setelah berkumpul, selain irit bicara, agar semua lebih
jelas juga.

“Riko dimana Yel?”tanya Shilla setelah mereka sudah berkumpul di ruang keluarga Iel, nada bicara Shilla sangat khawatir.

Iel meminum jus jeruknya lalu menjawab pertanyaan Shilla, “tadi gue dapet SMS dari Deva, dia kan satu sekolah sama adeknya Riko, kata adeknya Riko sih, itu si keke, Riko ada di rumah sakit harapan kamar nomer 300 berapanya Deva lupa.”jelas
Iel serius. Via dan Rio manggut-manggut,
paham. Shilla masih berfikir sejenak, menepis fikiran-fikiran negative yang
menimpanya. Sedangkan Ify menggigit bibir bawahnya, ‘jangan-jangan kanker dia
kambuh lagi? Aduh bego banget sih gue, lupa kalau dia penyakitan.’ Batin Ify,
masih belum berkonsentrasi.

“Jadi……Riko sakit?”tanya Via berhati-hati.

Rio menyubit pelan lengan Via,”jangan mikir gitu dulu.” Via hanya manyun.

Iel melirik Shilla yang benar-benar khawatir, “bukannya gue negative thinking. Perasaan gue bener-bener gak enak. Dan kalau mungkin dia nengokin keluarganya mungkin di rumah sakit, apa sampe lupa ngasih kabar ke kita? Dan ya…..” Iel
sendiri menggantungi ucapannya. Dilihatnya Shilla yang sudah sangat pias.

“Dari pada nebak-nebak gak jelas, langsung ke rumah sakit aja deh.”timpal Ify setelah berhasil menghilangkan fikiran negative nya.

“Yaudah, pake mobil gue aja. Motor lo ditinggal disini aja Yo, supir lo suruh balik aja Shil.” Iel memberi arahan. Mereka mengangguk lalu berjalan menuju garasi, menuju mobil Iel -mobil keluarga Iel-.

Rio yang duduk disamping tempat Iel menyetir melihat jelas mimik muka dari semuanya bhawa mereka semua sedang panik. Panik memikirkan sahabatnya yang lain. Terutam Shilla dan Ify. Sempat Rio heran dengan Ify yang mendadak lebih diam, tidak ikut bergabung dalam percakapan Via
dan Shilla yang sebenarnya sedang mengalihkan fikiran mereka.

Bau khas rumah sakit sangat menyengat ketika mereka berlima telah sampai di lobby rumah sakit. Mereka langsung menemui meja tempat para receptionist , untuk menanyakan kamar Riko yang sebenarnya.

“Sus, ada pasien yang bernama Riko Anggara?”tanya Iel.

“Sebentar yah..”jawab si suster lalu melai mengecek melalui komputernya, “kamarnya nomer 312.”jawab Suster sembari tersenyum. Mereka semua lalu mengangguk dan megucapkan terima kasih. Saat baru saja mereka akan menaiki lift, menuju kamar
Riko, Shilla mengentikan langkahnya. Via yang sedari tadi menggandeng Shila
merasakan itu.

Via menoleh, “kok berhenti Shil?”tanya Via yang membuat semuanya juga berhenti, mengurungkan niat menaiki lift.

“Gue takut.”jawab Shilla simple.

“Takut kenapa?”

“Gue takut kayak di sinetron-sinetron gitu.” Via dan yang lainnya hanya menggelengkan kepala.

“Lo khawatir sama Riko?”tanya Rio yang sudah berdiri di sebelah Shilla.

Shilla menoleh lalu mengangguk, “tapi nanti jangan ngebahas ini di depan dia yah. Kita bahas tentang sakitnya aja. Oke?”pinta Shilla, rona wajahnya memerah. Semuanya malah terkekeh mendengar pernyataan Shilla.

“Yaelah kira gue kenapa. Santai lah Shil.”timpal Iel yang mendapat pukulan kecil dari Shilla di lengannya. Lalu mereka pun melanjutkan menuju kamar Riko.

Ify sibuk sendiri dengan fikirannya, tangannya masih bergandengan dengan Rio, tetapi fikirannya sedang sibuk sendiri, ‘kalau Riko ngebeberin penyakitnya, apa gue perlu ngebeberin penyakit gue juga?’ kalimat yang berupa pertanyaan itu terus saja melayang layang di otak Ify, meminta
kepastian.

Setelah sampai menemukan kamar bernomerkan 312, dengan berani Iel mengetuk pintu kamar itu. Tak lama sosok waanita paruh baya keluar, Mamahnya Riko.

“Siang Tante,”sapa kelima sahabat Riko itu sembari bergantian bersalaman dengan Mamah Riko. Mamah Riko tersenyum.

“Riko…di dalem tan?”tanya Iel hati-hati. Ahilla menunduk, tangan Via terus mengenggam pergelangan tangan Shilla. Rio merangkul Ify, sedangkan Iel menunggu jawaban dari mamah riko.

Mamah Riko mengangguk,”kalian ini sahabat-sahabat Riko ya? Yang sering Riko certain?”tanya Mamahnya, mereka mengangguk, “Riko di dalem. Lagi koma.”lanjutnya lagi, sembari berusaha tersenyum. Sebenarnya sudah tak mau membahas penyakit
anaknya. Semua sahabatnya disitu tercengang mandengar pernyataan dari Mamah
Riko.

“Riko sakit apa Tan?”tanya Via polos tetapi juga sebuah pertanyaan dalam benak sahabatnya yang lain, kecuali Ify, tentunya.

“Nanti juga Riko cerita ke kalian. Yuk masuk, nunggu di dalem aja. Sekalian tante mau pulang dulu, jadi tante tenang nitipin Riko ke kalian.”jawab mamahnya sembari memasuki ruangan kamar Riko. Iel dan yang lainnya membuntuti lalu duduk di sofa
yang ada disitu. Setelah mereka duduk, Mamah Riko berpamitan untuk pulang dulu
sekaligus menitipkan Riko pada mereka. Mereka mengangguk, karena mereka juga
ingin menjaga sahabatnya itu.

Shilla berjalan mendekati ranjang Riko. Wajah Riko pucat, selang dan beberapa alat medis tertempel di badannya. Koma. Keadannya koma. Diambang hidup dan mati. Shilla duduk di kursi sebelah ranjang Riko. Matanya mulai berkaca-kaca.
Perlahan dia mengelus lembut telapak tangan Riko, air mata jatuh membasahi
tangan Riko. Cepat-cepat dia menghapusnya.

Ify duduk disebelah Rio yang kini tengah merangkulnya. Dia menunduk. Tak tega melihat kondisi Riko. Sesungguhnya penyakit Riko jauh lebih parah dibanding penyakitnya. Dia hanya mampu berdoa pada Tuhan,
agar Riko diberi kejaiban.

Rio merangkul Ify, dia menatap ubin ruangan itu. Sejumlah pertanyaan menggelayuti pikirannya. Pertanyaan tentang apa yang terjadi pada sahabatnya ini? Sakit apa dia? Separah apa? Sejak kapan? Dan, kenapa disembunyikan? Dia hanya mampu menunggu Riko sadar agar semua pertanyaan itu ia
ajukan, dan Riko jawab.

Via berjalan mendekati Shilla, mengelus lembut rambut Shilla. Mengajaknya duduk di sofa satunya lagi. Shilla menurut. Lalu mereka berdua duduk di sofa. Air mata di pipi Shilla belum dihapus. Via menggenggam tangan Shilla, dia mengerti
bagaimana perasaan sahabatnya kini. Terpukul dan tidak percaya akan semuanya.
Via sendiri sangat tidak mempercayai apa yang kini dilihatnya.

Iel duduk, termenung. Tak henti-hentinya memanjatkan doa, meminta kesembuhan akan sahabatnya ini.


***


Sudah 4 jam mereka menunggui Riko. Mamah Riko pun sudah datang kembali ke rumah sakit. Mereka masih berdiaman. Saling memanjatkan doa. Ketika Shilla baru akan menuang minum, untuk dirinya, dia melihat jari-jari Riko bergerak, dia
mendekati ranjang Riko, mengurungka niatnya untuk menuang minum, dia lihat
lebih cermat, memastikan bahwa itu gerakan dari tangan Riko.

“Tan, tangan Riko gerak!”seru shilla kegirangan. Semuanya mendekat ke arah ranjang. Iel langsung memencet bell ruamh sakit.

Tak lama dokter dan para suster pun datang, Iel dan lainnya menunggu diluar kamar Riko, beserta Mamah Riko juga. Dokter dan susternya sedang memeriksa keadaan Riko. Mereka menunggu dengan harap-harap cemas. Ketika pintu kamar Riko
terbuka, Mamah Riko langsung menghampiri dokter itu.

“Bagaimana keadaan anak saya Dok?”tanya Mamahnya panik.

Dokter menghela nafas, berat, lalu sedikit tersenyum, “keadaan Riko membaik, sekarang sudah sadar. Tapi jangan membuat dia banyak beraktifitas.”jelasnya lalu meninggalkan semuanya. Mereka pun masuk ke dalam kamar Riko. Terlihat Riko yang
kini tersenyum, senyum karena teman-temannya datang dan ada untuknya.

Mamah Riko membisikan sesuatu kepada Riko lalu mencium kening Riko dan tersenyum. Riko menatap Mamahnya lalu mengangguk dan juga tersenyum. Tiba-tiba Mamah Riko meningglkan mereka, keluar dari ruangan. Iel menghampiri Riko lalu duduk
disamping ranjang Riko.

“Lo kenapa Ko?”tanya Iel serius, sebenarnya kegembiraan tertanam jelas dari mimik wajahnnya.

Riko menatap Iel lalu tersenyum, “sakit.”jawabnya.

Iel melengos, “sakit apa?”

Riko menatap semua teman-temannya bergantian, yang kini mengelilingi ranjangnya,”gue….kanker….”jawabya terbata-bata. Lalu dia menutup perlahan kelopak matanya. Shilla mengenggam tangan Via, keras. Via dapat merasakan bahwa Shilla
ingin menangis, tetapi ia lampiaskan pada cengkraman itu. Rio
menatap Riko seolah tak percaya, begitu pula Iel, “Ify udah tau kok.”lanjut
Riko lalu menatap Ify, semua langsung menoleh ke arah Ify, Ify mengangguk lalu
tertuduk, “tapi gue yang minta nyembunyiin semuanya” semua lalu kembali menatap
Riko.

“Kok, Ify bisa tau Ko?”tanya Via, lalu menatap Ify, yang masih menunduk, dan Riko bergantian. Ify berikir, “apa harus Riko menceritakan kejadian di rumah sakit itu? Berarti sakit yang gue derita selama ini pun akan terbongkar….”batin Ify,
keringat dingin mulai keluar, dia gelisah.


****