Followers

Monday, June 21, 2010

Our Life, Our Destiny, and the Best for Us :) part 18

Akhirnya Via telah meminta Mamah tirinya untuk mendaftarkannya di SMA impiannya. Tetapi Kakaknya lagi-lagi hanya mencemoohnya. Sedangkan Shilla dibuat malu lagi karena Iel, Via, Rio,
dan Ify menggodaanya terus. Menggoda tentang kelanjutan hubungannya dengan
Riko. Akhirnya teman-teman Shilla memutuskan untuk membujuk Riko untuk segera
menyatakan perasaannya. Lain dengan Ify, dia merasa senang karena penyakitnya
kali ini sudah membaik. Pada hari Minggu, pagi-pagi sekali, Deva sudah mengajak
Iel untuk jogging, Iel merencanakan sesuatu dan akan menemui Riko. Bagaimana
kelanjutannya?


***


Iel masih terus mencari-cari rumah Riko bersama Deva. Dia sendiri lupa yang mana rumah Riko. Deva juga terlihat bingung sembari terus melihat-lihat rumah di
komplek itu.

“Lo tau gak rumah Keke yang mana?”Tanya Iel akhirnya tanpa mengalihkan pandang terus mencari-cari.

“Kok ke rumah Keke? Bukannya ke rumah Kak Riko?”Tanya Deva heran lalu menggaruk kepalanya.

“Bego.”ujar Iel santai lalu meneloyor kepala Deva, Deva manyun,”Riko sama Keke kan adik kakak, ya serumahlah.”lanjutnya.

Deva mengangguk, baru paham.”Oh iya hehe. Gue juga gak tau kak. Lupa.”jawab Deva lalu nyengir. Iel tidak menanggapi. Lalu mereka pun terus menelusuri perumahan itu.

“Eh Kak itu Keke.”seru Deva sembari menunjuk seorang gadis yang sedang menemani ibunya membeli sayuran di depan rumah.

“Yakin? Masa emak-emak gitu?”Tanya Iel ragu. Dia mengartikan tunjukkan Deva.

“Yeee….bukan yang pake baju merah. Yang masih pake piyama. Yang lagi megangin bayem.”jelas Deva sambil terus menunjuk-nunjuk. Iel mengangguk.

“Yaudah samperin.” Mereka pun menghampiri Keke. Terlihat Keke yang masih belum sadar dengan kehadiran Deva dan Iel.

“Hello Keke.”sapa Deva manis setelah berdiri di belakang Keke. Keke menoleh lalu menampakan tampang heran.

“Eh Deva?” ujar keke kaget, “ada apa?”

“Gak apa-apa kok. Lagi apa Ke?”Tanya Deva basa basi.

“Nemenin Mamah belanja sayuran.”jawab Keke lalu menaruh bayem yang sedari tadi dia pegang ke gerobak sayur. “Aduh maaf yah Keke belum mandi.”

“Kacang garing….”celetuk Iel cuek. Deva menoleh kearah Kakaknya.

“Eh ada Kak Iel, mau ketemu Kak Riko?”Tanya Keke ramah sembari tersenyum.

“Udah bangun kan Riko nya?”

“Udah Kok Kak, masuk aja.”tawar Keke. Deva dan Iel pun mengangguk.

Belum sempat melangkah,Mamah Keke menghampiri Keke, “ini siapa Ke?”tanyanya.

“Saya Deva tante, temen Keke yang paling ganteng.”ujar Deva narsis lalu bersalaman dengan Mamah Keke. Keke dan Mamahnya hanya tersenyum.

“Saya Iel, kakaknya Deva sekaligus temen Riko tante.”kali ini Iel yang memperkenalkan diri lalu menyalami Mamah Riko.

“Oh iya. Ajak masuk dulu Ke. Mamah masih mau belanja.”ujar Mamah Keke. Keke pun mengangguk lalu berjalan masuk diikuti Deva dan Iel dibelakangnya.

“Bentar ya Kak Iel dipanggil dulu Kak Riko nya.”ucap Keke setelah menyilakan Deva dan Iel duduk. Iel mengangguk sesaat, Keke pun berjalan menuju kamar Riko.

“Kak Riko ada Kak Iel.”ujar Keke dari balik pintu sembari mengetuk.

Riko yang kaget mendengar nama Iel langsung membuka pintu, dia baru saja beres mandi. Rencananya mau khemoterapy.”ngapain?”tanyanya sembari terus mengeringkan rambutnya menggunakan
handuk. Keke hanya angkat bahu lalu meninggalkan Riko. Riko langsung mengikuti
Keke.

“Hey Yel.”sapa Riko lalu duduk di sebelah Iel, “tumben kesini. Ada apa?”Tanyanya. Deva dan Keke sudah larut dengan percakapannya.

“Ngomong di kamar lo bisa kan? Ada bocah ni.”jawab Iel sedikit berbisik. Tetapi Deva masih bisa mendengar, lalu melirik sinis ke arah Iel karena merasa dibilang bocah.

“Yaudah yu.”ajak Riko. Lalu mereka pun bergerak menuju kamar Riko.

“Ada apa emang Yel? Serius amat?”Tanya Riko setelah mereka duduk di kasur Riko.

“Ngga juga sih. Emang lo mau kemana? Pagi-pagi udah mandi. Baru juga setengah 9.”bukannya menjawab pertanyaan Riko, Iel malah balik bertanya.

Riko berfikir sesaat untuk memikirkan alasan, tak mungkin dia jujur kepada iel, “Ya..gue emang rajin kali pagi-pagi mandi.”alibi Riko, untung saja Iel tak begitu mementingkan jawaban Riko,
“jadi ada apa lo kesini Tuan , Iel?”Tanya Riko yang sebenarnya sudah mulai
penasaran. Dia merapatkan duduknya ke Iel.

“Geseran ah ngapain sih deket-deket.”ujar Iel risi lalu mendorong pelan bahu Riko.

“Yeee abis lo lama banget ngomongnya.”jawab Riko sesudah menjauhkan duduknya dari Iel.

“Gimana gimana ama…..itutuhh.”goda Iel lalu merebahkan tubuhnya di ranjang Riko, melirik ke arah Riko dengan senyum jahil.

“Siapa?”Tanya Riko pura-pura gak ngerti. Iel terkekeh.

“Shilla lah, siapa lagi? Emang banyakk? Sok laku lo.”jawab Iel sekaligus meledek. Riko melempar gulingnya ke arah Iel, berhasil Iel tepis.

“Ya gak gimana-gimana.”jawab Riko enteng lalu menidurkan tubuhnya disamping Iel.

“Ah elo Ko suka bohong gitu sama sahabat sendiri. Ceritalah.”bujuk Iel yang masih mengawasi Riko dengan matanya.

“Ya gimana ya Yel, belum tentu juga dia suka sama gue.”curhat Riko pendek. Iel tertawa kecil.

“Lo bego atau sarap sih. Selama ini masa lo pdkt gak dapet respon apa-apa?”Iel mulai kesel, lalu dia mengubah posisinya menjadi duduk dan menghadap ke Riko.

“Ya gue gak mau banyak ngarep juga Yel, takut jatoh.”kata Riko simple tapi nyentuh.

“Shilla tuh nungguin elo tau gak.”Riko yang mendengar itu malah melengos.

“Ngapain cowok kayak gue di tungguin?” Iel menatap sahabatnya itu dengan tatapan -emak-lo-ngidam-apaan-anaknya-bego-amat !!!!!!!!!!

“Ya namanya cinta kan buta Ko, BUTA.”jelas Iel dengan enekanan di kata BUTA.

“Terus sekarang lo mau gue ngapain?”kali ini Riko mulai serius.

“Ya tembak dia lah Ko.”jawab Iel santai.

“Kalo gue ditolak lo mau ngegantiin posisi gue atas betapa malunya gue?”

“Yah Ko, ngga akan deh. Dia aja curhat kali ke gue. Tega lo ngebiarin anak orang nungguin cowok kayak lo lama-lama.”

Akhirnya Riko mengangguk dan berkata dengan pasti, “oke, tunggu tanggal mainnya.” Iel hanya meneloyor Riko. Lalu mereka pun harus berpisah karena Deva sudah minta pulang. Iel dan Deva pun
pulang. Tak lupa mereka pamit dengan Mamahnya Riko. Saat dijalan Deva dan Iel
hanya diam. Berkutat dengan fikirannya sendiri. Deva, tak ada yang harus ia
fikirkan, dia sendiri bingung karena tumben Kaka semata wayangnya ini tidak
mengucapkan sepatah katapun saat ini, ternyata relung Iel sedang membatin,
‘kapan yah gue nembak Via?’. Dia hanya tersenyum, lalu mengusir fikiran itu
jauh-jauh.


***


Suara jeritan terdengar jelas di ruangan itu. Jeritan meronta-ronta. Meminta ampun. Menahan sakit. Jeritan disertai bulir air mata yang perlahan membasahi pipi. Seseorang yang menjerit
hanya mampu berteriak dan menangis, berharap dengan itu rasa sakit perlahan
menghilang. Terkadang dia menjambak-jambak rambutnya sendiri, karena kesal.
Sang Dokter terus melakukan tugasnya tanpa mempedulikan kesakitan pasien itu

Khemoterapy terus berlangsung, kini Riko hanya bisa pasrah. Rasa sakit khemoterapy sangat menguras tenaganya. Belum selesai khemoterapy itu, suaranya sudah habis. Habis
karena sedari tadi sudah menjerit menahan sakit. Riko tergoler, beruntung
khemoterapy sudah selesai. Dokter menatap Riko dengan tatapan meminta maaf.
Maaf karena sebagai dokter inilah kewajibannya, membuat semua orang terlepas
dari penyakitnya, sesuai kemampuannya.

Riko mulai mengumpulkan nyawa. Suster membantu menghapus keringat dan peluhnya. Setelah usai, dia duduk di kursi, dibantu dengan suster lainnya, yang
disediakan dokter tepat di depannya. Kursi untuk para pengunjungnya.

“Penyakit kamu kembali parah.”ucap si Dokter, lirih. Sangat tak tega menyampaikan berita sebegini tragis ke seorang remaja. Riko yang mendengarnya hanya tersenyum, dia sendiri
tak tahu apa yang reaksi yang harus ia keluarkan, mungkin karena terlalu lelah,
dia sendiri lupa bagaimana mengeluarkan berbagai ekspresi. Dokter menghela
nafas, “tapi kamu jangan patah semangat, keajaiban semoga datang padamu. Saya
yakin itu ada.”lanjutnya. memberi semangat. Dokter pun sadar di saat seperti
ini hanya semangat yang pasien butuhkan.

“Makasih dok.”jawab Riko datar. Mimik dan nada suaranya datar. Tanpa ekspresi. Dia menjabat tangan si dokter dengan lemah. Sesungguhnya energinya belum terkumpul, sisa-sisa rasa
sakit masih tertinggal jelas dalam tubuhnya. Si dokter tersenyum, Riko berdiam
sebentar di kursi dokter itu, mengumpulkan tenaganya, lalu meninggalkan ruangan
tersebut. Dia berjalan menuju taman yang masih berada di lingkungan rumah
sakit. Langkahnya gontai. Kakinya lemas. Matanya sudah menyusut, ingin merapat.
Tangannya terombang-ambing, seolah ingin memisahkan dirinya dari tubuh Riko.
Badannya sakit karena khemo dan juga lelah untuk terus brtahan menopang seluru
penyakitnya.

Riko duduk di bangku taman. Sudah sangat sering ia kesini. Dia kesini setiap sehabis khemoterapy, apa lagi berita yang dokter bawa adalah berita yang sangat buruk.
Sama halnya sewaktu dia baru mengetahui terserang penyakit kanker hati. Gadis
kecil menghampirinya, gadis manis berambut ikal, giginya ompong, badannya kecil,
sangat kecil. Tanpa aba-aba dia duduk disamping Riko, Riko tak bereaksi. Dia
masih menatap langit dengan tatapan kosong.

“Kakak kenapa?”Tanya si gadis kecil itu. Dia memandangi wajah Riko yang basah, entah keringat atau air mata.

Riko menatap sesaat gadis itu. Lalu kembali mengalihkan pandangannya menuju langit, “kenapa apanya?”Tanya Riko akhirnya, santai. Dia sendiri sebenarnya masih tak kuat untuk banyak
bergerak, efek khemo masih berlanjut.

“Kakak wajahnya pucet banget, jalan kayak diseret.”komentar si gadis kecil yang masih menatap Riko, “kaka ada masalah? Kakak sakit ya?”tebaknya sok tahu. Lalu dia tersenyum.

“Kamu sendiri ngapain disini?”Bukan menjawab pertanyaan, malah bertanya balik.

“Aku Ourel kak, aku sakit kelainan jantung, jadi aku harus dirawat disini.”jelas Ourel santai, lagi-lagi diiringi senyuman manis khas anak kecil.

Akhirnya Riko menengok dan menatap wajah Ourel, “Aku Riko, aku juga sakit.”jawab Riko, dia mulai tersenyum ditatapnya gadis polos situ. Begitu kecil tapi sangat tegar, tak seperti dirinya,
bentar-bentar sudah mengeluh.

“Kakak sakit apa? Parah juga kayak aku?” Ourel bertanya dengan wajah serius. Seolah ingin Riko menceritakan semua padanya.

Riko tersenyum lalu mengelus lembut ubun-ubun kepala Ourel, “Aku kena kanker hati, udah stadium akhir, dan kesempatan aku hidup sebentar lagi, aku cuma tinggal nunggu Tuhan jemput aku.
Aku harap aku dijemput saat orang-orang yang aku sayangin mengeliligi
aku.”jelas Riko akhirnya.

Ourel mengangguk, seolah dia menjadi seorang gadis yang sudah dewasa, dia mulai menceramahi Riko, “Kakak gak boleh gitu, siapa bilang Kakak tinggal nunggu Tuhan ngejemput Kakak? Kakak
mau? Keajaiban pasti datang ke semua orang yang benar-benar patut
mendapatkannya. Tuhan menyiapkan segala rencananya dengan indah. Semua datang
ketika kita benar-benar gak nyangka kehadiran itu akan datang. Aku juga sakit
kok Kak, aku bahkan udah difonis dokter kalau umurku tinggal 2 bulan lagi, tapi
karena aku masih punya impian dan kepercayaan yang kuat, aku yakin, aku pasti
bisa menghadapi semuanya dengan kuat. Ini semua udah takdir hidup kita, takdir
yang Tuhan berikan untuk kita. Kakak percaya kan kalau takdir itu yang terbaik untuk
kita?” ourel berbicara panjang lebar. Omongannya sangat bijak. Bukan seperti
percakapan dengan gadis berumur 7 tahun ini.

Riko tersenyum dan mengagumi ucapan Ourel tadi. Dia tidak menyangka anak sekecil ini sudah berfikit sebegini dewasanya. Dia kalah total jika dibandingkan dengan bocah
ini, “makasih yah atas semangatnya. Kita sama-sama berjuang untuk hidup.”jawab
Riko lalu mengelus rambut Ourel dengan lembut.

Ourel tersenyum. Senyum yang mengembang, “sama-sama Kak, lain kali ketemu lagi yah disini, tapi Kakak janji harus datang kesini dengan wajah ceria.” Ourel terlihat manja kali ini,
Riko mengangguk dengan senyman tipis, “Ourel pergi dulu ya Kak, udah waktunya
minum obat. Dadah kak Riko.”pamit Ourel lalu berjalan menjauh dari tempat Riko
duduk.

“dia…malaikat kecil yang Tuhan kirim untukku.”batin Riko


***


Riko baru tiba di rumahnya. Dia langsung menghempaskan tubuhnya di ranjangnya. Dia menatapi langit-langit kamarnya dengan senyum yang tergores di wajahnya. Masih
memikirkan ucapan Ourel tadi, malaikat kecil yang penuh semangat menjalani
hidup. Juga malaikat yang membangkitkan semangatnya yang semula runtuh.

Riko bertekad untuk tidak mengeluh lagi untuk masalah ini. Dia yakin, semua akan berjalan dengan sendirinya, dan dengan indah, pastinya. Saat baru saja akan
memeluk guling, ponsel nya berbunyi, bunyi tanda seseorang menelefonnya. Dia
raih ponsel itu yang semula ia simpan di meja sebelah ranjangnya. Ify…..dengan
heran dia mengangkat telefon itu.

“Kenapa Fy?”Tanya Riko bergitu telefon di angkat.

“Hem Ko, kita, maksudnya gue Rio sama Iel udah punya rencana buat lo nembak Shilla, gimana? Mau?”cerocos Ify langsung to
the-point. Dia berbicara tergesa-gesa.

Riko yang mendengarkan ucapan Ify langsung menernyitkan keningnya, berusaha mencerna lebih jauh apa yang baru saja Ify bicarakan, “maksud lo gue nembak Shilla nih?”
kapan?”tanyanya, masih bingung.

“Iyalah, masa nembak Via? Bisa-bisa Iel ngamuk.”jawab Ify sembari melirik Iel. Ya, kini Ify, Iel dan Rio sedang berada di rumah Ify,
merencanakan sesuatu untuk Riko dan Shilla. Iel yang mendengar kalimat terakhir
dari Ify langsung melototi Ify, Ify terkekeh. “gimana? Mau gak?”lanjut Ify.

“Emang kapann? Dimana? Gimana juga?”Tanya Riko lagi, penasaran tingkat tinggi.

“Sekarang kan masih jam 12, nanti jam 2 an, gimana?”jawab Ify.

Riko tersentak mendengar jawaban Ify, “buset, hari ini? Gila lo! Gue belum ada persiapan.”tolak Riko cepat. Wajahnya panik.

“Yaelah nembak doang pake rencana segala. Ayolah Ko, kasian Shilla.”bujuk Ify dengan nada memelas.

Riko menggaruk belakang kupingnya, “Iyadeh, dimana emang?”

“Yeeeeeeeeee thanks Ko.”teriak Ify, senang, Riko menjauhkan speaker ponsel nya, menghindari suara keras Ify itu. Iel dan Rio ikut-ikutan
Toast. “lo dateng jam 2 ke taman komplek lo. Udah semuanya kita yang atur.”

“Iya deh. Udah kan? Gue mau mandi nih.”

“Oke Riko, byeeeee.” Klik. Telfon terputus. Riko menghela nafas. Tak mengerti bagaimana jalan fikiran sahabat-sahabatnya itu. Dia hanya bisa menjalani semua
keputusannya, tanpa berhenti meminta bimbingan dari Yang Kuasa.


***


Ify Rio dan Iel sedang bermusyawarah. Mematangkan rencananya. Mereka mmbicarakan semuanya sambil sesekali mencomot cemilan yang
disediakan oleh Ify.

“Oke, nanti tinggal gue telefon si Shilla biar dateng ke taman juga.”ujar Iel bersemangat. Lalu ia meneguk jus Jeruk yang sedari tadi disediakan oleh Ify.

“Jadi kita cuma nemuin mereka berdua di taman? Gitu aja? Udah? Terus maksud kita ke Riko mau nyiapin semuanya apa?” Rio mulai tak
mengerti. Dia menanyakan semuanya yang membuat dia bingung.

Iel menepuk jidatnya lalu meneloyor kepala Rio, pelan, “Isssshhhh ya emang gitu aja, tapi lo kayak gak tau aja Riko sama Shilla
tuhkan malu tapi mau.”jawab Iel. Kini Rio mengangguk paham.

“Kayaknya ada yang kurang deh…..”kata Ify sambil memandangi semua ruangan tempat ia berada, “Oh iya, kita belum ngasih tau Via.”lanjutnya, lalu buru-buru meraih
ponselnya.

“Gue aja yang ngasih tau.” Iel lalu mengambil ponselnya, Ify menaruh kembali ponselnya.

“Oh iya, lo sendiri kapan ih sama Via?”Tanya Rio akhirnya. Ify mengangguk.

Iel belum menjawab, karena masih sibuk mengetik SMS untuk Via, tak lama setelah dikirim Via membalas hanya dengan jawaban ‘okelah’ . Iel mendongakkan wajahnya,
“kenapa?”tanyanya.

Rio melengos, “lo kapan sama Via?”

“Doain aja.”jawab Iel enteng.


***


Riko sudah siap. Dia telah memakai kaos Converse nya dan memakai celana jeans pendek ripcurl nya. Memakai celana pendek agar terlihat lebih santai. Dia berpamitan
dengan Mamahnya, lalu mulai melaju dengan motornya menuju taman. Rumah Riko
berada di jajaran depan perumahn, sedangkan taman posiinya berada di pojok
perumahan. Menjadikan Rio harus menggunakan motor untuk ke taman, kalau jalan
kaki bisa menghabiskan waktu setengah jam. Lagian, cuaca juga sangat panas.

Kepala Riko mulai sakit, dadanya juga begitu, pandangannya perlahan kabur. Dia mengerjap-kerjapkan kelopak matanya guna mengembalikan penglihatannya.
Terlambat, kerana terlalu sakit dan tak kuat. Kini ia sudah terjatuh dari
motor. Dia tergoler lemah di samping motornya.


***

No comments:

Post a Comment