Followers

Monday, May 10, 2010

Aku Bisa

Aku duduk di bangku taman. Taman yang menghadap ke sebuah rumah teramat luas dan indah. Rumah yang menjadii bulan-bulnan semua orang. Aku duduk menatap rumah itu. Ingin rasanya aku kembali masuk ke rumah itu, tapi….aku belum siap. Aku tak tahu apa yang akan mereka lakukan ketika aku masuk. Apa yang akan mereka katakan ketika melihatku. Jadi aku hanya memandangi rumah itu dari tempatku duduk disini. Terlalu banyak kenangan yang tertanam didalamnya. Dia menjadi saksi bisu kisah hidup sebuah keluarga. Cukup mungkin aku memandangi rumah itu. Hanya 15 menit. Aku kembali berjalan melangkahkan kaki menuju tempat aku memarkir motorku.aku melajukan motorku menuju kost-an ku. Hanya sebuah ruangan kecil yang terdapat 1 kamar 1 kamar mandi dan 1 dapur. Tapi sangat cukup nyaman. Letaknya lumayan jauh dari ‘rumah’ tadi. Setibanya dikostan, aku melihat sesosok pria yang sepertinya menunggu kedatangan seseorang si empunya rumah. Aku menghampiri dan menepuk halus pundaknya.
“Kamu dari mana aja Fy?”tanyanya. aku tersenyum. Dia kekasihku.
“Aku dari taman kok Yel, kenapa?”tanyaku sambil melangkah untuk membuka pintu kost an ku. Aku masuk, si lelaki mengikutiku.
“Kamu ngeliatin rumah itu kembali?” aku tersenyum lalu masuk ke dalam kost-an diikuti olehnya. Sepertinya dia sudah mulai hafal semua yang biasa aku lakukan.

***

Aku Alyssa Syaufika Umari. Panggil aku Ify. Aku sedang menempuh bangku kuliahku. Aku kuliah di salah satu kampus ngegeri favorit. Aku baru duduk di semester 4. Aku hidup sendiri. Well, jangan kaget. Aku hanya ‘pergi’ dari rumah saat aku kelas lulus SMA. Mungkin sama saja dengan minggat? Oh tidak. Bukan. Aku hanya ingin tinggal sendiri. Aku hanya ingin membuktikan kepada mereka bahwa aku bisa. Aku pergi karena aku sudah cukup tak kuat menahan semuanya. Menahan semua perlakuan ayah dan ibu tiriku yang selalu merendahkanku. Aku sudah terlalu lelah tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari sepasang orang tua. Seperti hidup sendiri menurutku. Hanya bedanya aku dibiayai. Walau aku dibiayai, tapi aku merasa mereka hanya membiayai ku karena aku anak mereka bukan tulus mereka menyayangiku. Sahabatku selalu marah jika aku membicarakan hal ini. Katanya aku yang berlebihan. Tapi tidak aku hanya jujur.
Aku kabur saat kelulusan. Aku capek. Aku mendapat peringkat ke 3 nem terbesar se Indonesia. Bukankah itu cukup memuaskan? Aku sangat senang karena semua yang aku kerjakan saat ujian murni nilaiku sendiri, aku kira aku bisa membuat mereka bangga dan lebih memperhatikanku. Tapi tidak. Mereka malah mecemoohku. Mengataiku. Bilang hanya kebetulanlah, bahkan mereka bilang aku tak pantas mendapat nilai sebagus itu karena mereka fikir aku hanya menyontek. Dan lagi karena nem ku yang sangat cukup memuaskan aku mendapat beasiswa kuliah disalah satu perguruan tinggi di Jakarta. Aku tak bisa menolaknya. Tapi apa? Orang tuaku semakin menyepelekanku. Mereka bilang aku tak pantas! Tuhan, cukup sakit diperlakukan seperti itu. Kesabaranku sudah cukup memiuncak. Aku tak mau lagi hidup dalam kecemoohan yang bisa direndahkan mereka begitu saja. Selesai kelulusan, malamnya aku mengambil tabunganku selama ini di bank. Totalnya ada sekitar 26juta. Aku membawa uang itu pulang. Aku mengemasi barang-barangku, dan malam harinya aku pergi dari rumah. Malam pertama aku masih menginap dirumah Agni, sahabatku. Dia menasihatiku panjang lebar. Aku tahu, hanya dia yang tulus menyayangiku setelah ibu asli ku dan kekasihku.
Keesokan harinya aku ditemani Agni mencari kost an. Akhirnya ketemu. Letaknya lumayan dekat dengan kampus yang nanti akan selalu aku datangi sebagai mahasiswa. Kost an yang sampai sekarang masih aku tempati. Aku memindahkan barang-barang yang semula aku titipkan dahulu dirumah Agni menuju kost-an. Agni sangat menyayangiku, terlihat dari sorot matanya ketika dia menasihatiku akan keputusanku ini. Tapi aku malah puas dengan keputusanku ini. Selama ini yang aku mau akhirnya bisa terkabul. Aku bisa keluar dari rumah itu tanpa merepotkan mereka.
Saat hari pertama aku kabur itu, aku langsung menggati nomer ponselku. Tujuannya hanya agar mereka tak bisa menghubungiku. Tapi tidak, aku bukan anak sedurhaka itu ,aku langsung memberi tahu ibu kandungku. Yang selama ini orang yang selalu mendukungku setelah Agni dan Iel. Dia marah padaku saat aku beritahu, tapi aku berulang kali meyakinkannya bahwa aku tidak apa-apa. Aku berjanji setiap hari aku akan memberi kabar untuknya. Perlahan dia membiarkanku dengan pilihanku. Bagaimana dengan ayah kandung dan ibu tiriku? Mereka mencariku. Aku tak menyangka. Tapi sekitar sebulan aku akhirnya tidak ditemukan. Jadilah mereka menyerah dan mengikhlaskanku. Hey! Ikhlas? Sejak kapan? Aku rasa mereka senang dengan menghilangnya aku! Aku mendapat kabar dari ibuku. Oh iya. Ayah dan Ibuku sudah bercerai semenjak aku kelas 1 SD, lalu aku memulai hidup baru yang amat menyedihkan. Ayahku menikah lagi. Aku tak bisa mengelaknya. Hingga akhirnya aku kabur.
Pada saat awal masuk kost-an,aku membayar uang kost-anku untuk 6 bulan kedepan dengan uang tabunganku itu. Untung ibu pemilik kost-an sangat baik. Karena aku hanya seorang mahasiswi aku diberi harga special. Kala itu masih tersisa sekitar 22juta, aku membelikannya untuk peralatan yang aku butuhkan di kost-an. Aku membeli tempat tidur, TV, kompor, dan semacamnya. Lumayan sisanya masih ada 16 juta, aku membelikannya untuk motorku. Motor yang aku fikir sangat akan dibutuhkan. Sisa dari semuanya aku tabungkan kemballi.
Aku sudah mempunyai pekerjaan tetap, walau hanya sebagai penjaga toko disebuah mall ternama. Gajinya sangat mencukupi untuk menghidupiku. Aku juga mengajar sebagai guru private, tak salah dulu aku memaksa ayahku untuk mengeleskanku di tempat les yang bermutu waalau aku tahu dia sedikit tidak ikhlas. Gaji dari mengeleskan anak-anak SMP dan SD sangat besar.Dan sampai sekarang aku masih bisa hidup dengan segala yang aku miliki dan kemandirianku. Tanpa merepotkan siapapun..

***

“Kamu belum mau balik kerumah kamu?”Tanya Gabriel, atau yang sering disapa Iel.
“Belum ada satupun yang bisa aku tunjukin sama mereka.”jawabku. aku duduk disebelah Iel yang kini duduk di tempat tidurku.
“Selama ini apa? Kamu udah bikin kampus kita bangga sama kamu. Kamu bikin film documenter yang bisa dibawa ke internasional, itu apa?”Iel merasa geregetan dengan sikapku. Ya, aku dari SMP sangat ingin menjdai sutradara. Dari dulu aku selalu mengikuti ekskul yang berhubungan dengan film. Sampai akhirnya saat aku kuliah aku semakin mengasah kemampuanku dengan mengambil jurusan perfilman. Jurusan ini menjadi impian semua orang, karena hanya orang terpilih yanghg bisa masuk ke jurusan ini.
“Aku belum menjadi sutradara seutuhnya.”jawabku sambil tersenyum. Iel tahu bahwa aku memang keras kepala.
“Tapi apa kamu gak kangen sama keluarga kamu?”tanyanya lagi.
“Kangen sih, tapiii….percuma dong aku kabur kalau hasilnya nihil?”Iel hanya tersenyum mulai mengerti. Lalu ia mengajakku berkeliling kota menggunakan mobilnya yang sangat gagah. Iel salah satu anak konglomerat di Negara ini. Aku sendiri tak tahu mengapa dia memilihku yang notabene bukan siapa-siapa dibadingkannya. Oops! Kalau aku masih dengan Ayah dan Ibu tiriku baru aku bisa disejajarkan dengannya. Ayahku seorang pengusaha ternama, walau tak sesukses orang tua Iel. Tapi itu sangat membuat banyak orang ingin memiliki jabatan setinggi ayahku. Tak sedikit dari teman-temanku saat SD SMP maupun SMA yang iri pada kehidupanku yang glamour, tapi hallo? Aku yang iri pada kalian karena kalian masih memilikki kebahagian dan kehangatan sebuah keluarga.
Kami turun di sebuah sekolah kecil. Aku, Agni, Cakka, dan Iel yang membuat sekolah ini. Sekolah untuk anak-anak yang tidak mampu. Aku datang kesini hanya pada hari senin dan sabtu untuk mengajari mereka, sisanya tidak bisa keran aku harus bekerja, sedangkan yang lain hampir setiap hari kesini untuk mengajar jika mereka tidak ada kegiatan.
Aku dan Iel mulai mengajari sekitar 15 anak-aak kecil yang tidak bersekolah. Jika mereka bersekolah mungkin mereka sekarang duduk dikelas 3 SD. Kami menghibur mereka dan mengejari mereka dengan senang. Tampak raut kegembiraan dari wajah anak-anak itu. Aku dan Iel hanya tersenyum puas mendapati bahwa kami bisa berbagi kebahagiaan.

Hari ini pagi-pagi sekali aku bangun aku mngembil wudhu dan solat subuh. Aku menghubungi Ibuku yang berada di bandung. Aku yakin dia pasti sudah bangun dan sedang memberexkan rumah. Ibuku menjadi wanita karier di bandung.
“Hallo mah.”ucapku di telepon saat kudengar nada bahwa teleponku sudah diangkat.
“Fy, gimana keadaan kamu?”Tanya Ibuku, terdengar nada khawatir. Ibuku ada-ada saja. Padahal setiap pagi aku selalu menghubunginya.
“Alhamdulillah mah, baik kok. Mamah gimana?”tanyaku balik.
“Syukurlah. Mamah baik-baik aja kok. Kamu jangan lupa jaga kondisi badan. Jangan kecapekan.”nasihat si mamah. Aku tersenyum. Mungkin sudah keseribu kalinya Mamah menasihatiku seperti ini.
“Iya mamah.”jawabku manja.
“Fy papah sama mamah tiri kamu nanyain kamu.”ucap mamah yang bikin aku jadi gak mood. Mamah sepertinya tahu bagaimana reaksiku saat mendengar iu.”Fy.”ucapnya memecah keheningan karena sedari tadi aku tak menjawab.
“Yah Mah iya.”aku berusaha menyadarkan diri. “Ngapain mereka nanyain aku?”tanyaku ketus.
“Mereka kangen Fy sama kamu. Udah 2 tahun kamu gak pulang-pulang, bahkan gak ngasih kabar.”jelas mamah. Tentu mamah tak serindu itu padaku, setiap lebaran aku pulang ke bandung walau hanya sehari. Tapi tak berniat aku menengok Ayah dan ibu tiriku.,”biar bagaimanapun mereka pasti sayang kok sama kamu.”lanjutnya.
“Yah Mah suatu saat nanti aku pasti bakalan balik kok kesana.”ujarku. niatnya mau memberi mamah ketenangan, tapi Mamah terdengar menghembuskan nafasnya tanda menyerah.
“Terserah kamu aja.”jawab mamah akhirnya.
“Udah dulu ya mah. Assalamualaikum.”ucapku mengakhiri telefon ini yang sudah tidak jelas arahnya.
“Waalaikum salam.” Klik. Telfon terputus. Aku menghempaskan tubuhku di tempat tidur. Aku memandang langit-langit kamar. Lalu aku mengintip jam weker yang terletak di atas meja sebelah tempat tidurku. Masih jam setengah 7. aku memutuskan untuk membenahi ruangan kost-an ku ini. Setelah usai, aku memasak untuk aku sarapan dan untuk aku makan malam. Biasanya Agni dan Cakka suka kerumah kalau mereka lagi bokek, numpang makan siang dikost-anku ini yang notabene dekat dengan kampus. Aku memasak semur. Kesukaanku. Setelah beres memasak aku mandi dan makan. Sekitar jam 8 semuanya beres. Aku bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Aku ada jam pelajaran di jam setengah 9. baru saja aku membuka pintu kost-an ku, sudah ada Iel disitu yang tersenyum kearahku.
“Pagi-pagi udah kesini.”ujarku sambil tersenyum.
“Hehe.”dia malah nyengir. Aku menatapnya dengan curiga.” Kamu ada jam kan jam setengah 9? Aku juga ada.”jelasnya. Aku dan dia memang tidak satu angkatan. Sekarang dia sudah semester 6. kita satu jurusan.
“Kok kamu tau?”tanyaku sambil duduk di kursi depan kost an ku. Dia mengikuti duduk di kursi sebelahnya.
“Aku gitu loh.”ujarnya PD sambil menaikkan kerahnya. “Aku mau makan dong.”akhirnya dia mengaku sambil tersenyum kuda.
“Ye kira aku ada apa. Ayo masuk.”ajakku. dia mengikuti ku masuk dan duduk di kursi makan yang sangat sederhana di dapur.”untung tadi aku masak.”lanjutku sambil membawa piring ke meja. Iel mengambil semur yang tadi aku masak.
“Enak nih.”katanya yang sekarang sudah siap untuk menyantap makanan.”Kamu gak makan?”
“Tadi udah. Kamu makan aja.”jawabku lalu dia tersenyum dan melahap makanannya.”Enak?”tanyaku saat melihat dia makan begitu semangat.
“Masakan kamu apa sih yang ngga enak.”godanya. lalu ia melanjutkan makan.
Selesai makan kita langsung pergi kekampus. Sebelumnya aku memasukkan motorku dulu ke dalam kost-anku karena aku kan mau bareng berangkatnya sama Iel. Padahal jarak dari kost an sampai kampus hanya 10 menit, jalan juga bisa. Lah ini repot-repot pake mobil segala.
“Kamu mau ikut lomba ini gak?”Tanya Iel saat sedang menyetir dia menyodorkan brosur. Aku membacanya, ‘lomba membuat film documenter atau musical. Bagi pemenang berhak melanjutkan kuliah di America University (ngasal abisssss!). aku tersenyum mebacanya.
“Kamu yakin aku bisa?”tanyaku sambil menatapnya yang sedang menyetir. Ia menoleh ke arahku sebentar.
“Aku yakin kamu bisa.”ujarnya dengan pandangan lurus kedepan.
“Kamu gak ikutan?”
“Ikut dong. Cakka Agni juga ikutan. Tapi kita sih nyoba-nyoba aja. Kalau kamu aku yakin pasti bisa.”ujarnya bersemangat. Aku tersenyum.
“Oke aku ikut.”jawabku akhirnya.
Kita pun sampai di kampus. Semua orang pastinya memandang Iel yang baru turun dari mobilnya bersama aku. Siapa sih yang gak kenal Iel di kampus ini? Iel merangkulku sampai aku tiba di depan kelas. Sebelum dia meninggalkanku dan melanjutkan ke kelasnya, dia mencium keningku dulu. Ungkapan bahwa dia menyayangiku. Aku pun masuk ke kelas. Terlihat sudah ada Agni.
“Fy jadi ikut lombanya?”tanyanya saat aku baru saja duduk di kursiku.
“Jadi dong.”jawabku tersenyum.
“Lo pasti menang deh Fy.”katanya memberiku semangat. Aku hanya tersenyum karena saat itu dosen masuk ke kelas kita.

Seberes semua mata kuliah, Agni, Cakka, dan Iel singgah ke kost an ku. Mereka sudah sering melakukannya. Kali ini lagi-lagi mereka mau numpang makan. Tentu saja aku tidak keberatan, dengan senang hati aku menyediakannya.
“Pada tunggu disini dulu aja, gue mau nambah masakan.”ucapku saat mereka sedang asik nonton TV.
“Gue ikutan.”ujar Agni sambil berjalan ke arahku yang sudah mau ke dapur.
“Emang lo bisa masak?”goda Iel, Agni hanya melotot tajam. Iel terkekeh.
“Biar tomboy kayak gitu cowok gue kadang jadi cewek tulen.”timpal Cakka. Kami semua tertawa.
Aku dan Agni memasak sayur bayam. Sayur kesukaan kita semua. Seberes masak, aku langsung menyiapkan nasi dan laukya sambil dibantu Agni.
“Enak Fy enak.”puji Cakka.
“Ye udah sering numpang makan mujinya baru sekarang.”ledekku. Cakka meyeringai. Kami semua pun makan. Seberes makan mereka semua pulang dan mengucapkan terimakasih sudah dikasih makan. Saat mereka pulang aku langsung mencuci piring sebekas tadi. Kulihat jam di dinding, sudah jam 4, waktunya aku berangkat ke tempat Oik untuk mengajar. Muridku kini yang tersisa hanya Oik, Ourel, dan Bastian. Yang lain sudah berhenti karena mereka sudah melewati ujian. Dengan sigap aku mandi dan bersiap lalu melajukan motorku ke rumah Oik. Untung rumahku ke rumah Oik hanya butuh waktu 15 menit mengunakan motor. Aku pun sampai dan langsung mengajari Oik Bahasa Inggris. Aku sangat senang melihat perkembangan murid didikku yang lumayan pesat. Aku mengajar selama 1 jam. Seberes dari rumah Oik aku langsung ke Mall untuk menjaga toko. Oh iya, aku hanya menjaga toko dari jam setengah 6 sampai setengah 11 malam. Melelahkan tapi membuatku senang.

***

Aku berjalan sendirian menuju kantor Pak Joe, dosen yang sangat menyayangiku. Beliau memanggilku.
“Kamu ikut lomba itu?”Tanya Pak Joe saat aku sudah duduk dihadapannya.
“Ikut kok Pak.”jawabku. Pak Joe tersenyum puas.
“Mau documentary lagi atau musical?”tanyanya. aku menimang-nimang sebentar.
“Kayaknya aku butuh yang baru, musical aja pak.”jawabku.
“Kamu satu-satunya mahasiswa yang kami andalkan di kampus ini. Saya harap kamu bisa memberikan yang terbaik.”ujar Pak joe.
“Saya akan berusaha semampu saya.”
Tak lama aku pergi meninggalkan kelas dan menuju kafetaria dimana Iel, Agni, dan Cakka telah menungguku. Kami makan dan bersenda gurau. Aku selalu senang momen seperti ini. Lupa kalu aku punya masalah besar dalam keluarga.

Aku memberi semangat kepada murid didikku yang besok akan melangsungkan ujian. Artinya hari ini hari terkahir aku mengajar mereka. Hari ini hari minggu. Jadwal pertama jam 10 mengajar Ourel, jam 2 kerumah Bastian, jam 4 ke rumah Oik. Kususun rencana itu dengan rapih. Sedih rasanya harus mengakhiri mengajar mereka. Sudah hampir 2 tahun aku selalu mengajar mereka. Sudah kuanggap adik-adikku sendiri. Orang tua mereka pun tak sungkan padaku. Hari ini mereka memberiku uang tambahan karena terkahir kalinya. Aku membuka 3 buah amplop tesebut saat aku sudah berada dirumah. Digabung ketiganya menjadi 1.500.000 . aku tersenyum puas. Uang ini sebagian akan aku tabung dan sebagian untung memenuhi kebutuhan hidup.
Hari ini aku merasa sangat fit. Dan selama anak-anak yang pernah diajar olehku ujian, aku selalu menanyai mereka tentang ujian mereka. Ada yang mengeluh ada yang senang karena apa yang aku ajarkan keluar. Senangnya. Terlebih hari ini aku harus memulai project ku membuat film musical. Tak hanya aku yang sibuk, Agni, Cakka, dan Iel pun sibuk membuat film untuk dilombakan. Aku mengelilingi kota Jakarta dengan motorku untuk mendapat tempat yang pas untuk kujadikan film. Setelah 2 jam aku berkeliling akhirnya aku menemukannya. Tempat dengan lahan yang sangat luas. Aku memasuki areal tersebut. Anak-anak kecil langsung menyerbuku.
“Kaka siapa?”Tanya si anak kecil yang menggunakan baju kuning.
“Kaka wartawan yah bawa kamera kayak gitu?”Tanya anak laki-laki satunya lagi sambil menunjuk handycam ku. Aku belum mampu membeli kamera mahal.
Aku jongkok agar sepantar dengan mereka. “Ngga kok, kaka boleh gak minta tolong?”tanyaku ramah sambil tersenyum.
“Boleh.”jawab mereka semua. Mereka mengajakku ke sebuah bangku yng besar yang terbuat dari potongan kayu. Kami duduk bersama semua disana. Aku menuturkan apa yang harus mereka lakukan beserta para orang tua mereka. Tema film musical ku tentang pendidikan dan keceriaan anak kecil. Pasaran memang, tapi aku ngin membuat lebih beda dari orang lain. Setelah sekitar 3 jam aku merekam mereka semua sesuai dengan gerakan yang aku minta, selesai semuanya. Aku berpamitan dan mengucapkan terimakasih. Saat berjalam menghampiri motor, aku mengelap peluh keringatku. Lelah tapi memuaskan. Aku intip jam di poonselku, jam 6 sore.
Sampai dirumah aku langsung mandi solat dan makan. Seberes itu aku langsung menyambar notebookku yang dulu dibelikan oleh ibuku. Aku mulai berkutat dengannya dan menjalankan projectku. Akhirnya sudah setengah jadi. Aku mengakhirinya karena lelah, tak lama Iel datang ke rumahku.
“Kamu udah bikin film?”tanyanya. aku mengangguk.
“Kamu emang belum?”tanyaku balik. Kami sedang ditaman dan memakan roti bakar.
“Lagi bikin juga sama.”jawabnya sambil menyantap roti bakarnya. Setelah selesai memakan roti bakar, aku dan Iel duduk di ayunan yang berada ditaman.
“Fy.”ucap iel memecah keheningan. Aku yang sedang berayun menghentikannya dan menatap padanya.
“Apa?”tanyaku dengan senyuman.
“Kamu gak kangen sama ayah dan ibu tiri kamu?”tanyanya. aku yakin awalnya dia ragu-ragu untuk bertanya. Ahhh, pertanyaan yang membuat ku bad mood. Aku kembali mengayun ayunanku. Iel hanya duduk menatap secara horizontal seperti menunggu jawabanku.
Aku pun menghentikan lagi ayunannya. Menatap iel,“kan aku udah bilang, aku kangen sama mereka. Kangen banget malah. Aku gak mau dibilang anak durhaka atau apalah itu. Aku Cuma pengen nunjukin aku bisa menjadi ‘siapa’ tanpa mereka.”jawabku. Iel belum menatap wajahku.
“Kamu sama sekali gak ngehubungin mereka loh Fy. Udah 2 tahun.”
Aku bersandar di pegangan ayunan, “Aku takut bakalan diperlakukan kayak apa kalau mereka tau aku pulang.”
“Aku Cuma kasian aja ama orang tua kamu, bagaimanapun mereka orang tua kamu. Mereka pasti bangga banget kalau mereka tau kamu kayak sekarang. Orang yang banyak menyumbangkan prestasi untuk kampus kita.”jelasnya, aku membuang tatapanku dari hadapan mukanya.
“Ngga, mereka belum bangga sama aku yang sekarang. Aku udah ngerasain pahit yang begitu mendalam Yel. Aku berjuang mati-matian biar dapet NEM bagus dan murni , akhirnya nem ku tertinggi ketiga se Indonesa, tapi apa? Mereka malah menuduh aku yang ngga-ngga.”kenangku. aku menahan laju air mata yang sudah menumpuk di pelupuk mataku. Iel kini berdiri di depanku duduk dan menyandarkan kepalaku di dadanya. Sudah sering sekali semenjak aku pacaran dengannya hal ini terjadi. Aku mengerti kenapa dia menanyaiku seperti terus.
“Aku Cuma gak mau nantinya malah jadi beban buat kamu kalau kamu belum jadi seseorang. Mereka bakalan nerima kamu yang kayak sekarang ini kok.” Ucapnya bijak sambil mngelus rambutku. Tak pernah sedikit air mata yang aku keluarkan jika aku dan dia sedang membicarakan hal ini.
Aku mengangkat kepalaku, da Iel mengusap air mataku dengan ujung jarinya. Aku tersenyum.”Yang penting sekarang berjuang buat lomba!”ujarku bersemangat. Iel menggandeng tanganku dan mengajakku pulang.
Aku sedang menyelesaikan film musical ku yang sudah tinggal 3 hari lagi dikirim. Sambil menunggu jam kerja menjaga toko, aku menyelesaikan film ini. Aku buat menjadi 3 bahasa. Inggris, Indonesia, dan Perancis. Lalu aku buat seperti menjadi 3 zaman. Saat masa pemerintahan colonial, saat baru merdeka dan saat masa globalisasi ini. Kesan yang mereka dapatkan, aku harap, seperti menonton lajunya zaman terhadap kehidupan anak-anak dan pendidikan mereka yang sangat akrab dengan musik.
Sudah jam setengah 4, tinggal 1/5 bagian yang belum aku selesaikan. Tapi aku harus bekerja menjaga toko. Aku tinggalkan kegiatan itu dan bersip-siap ke mall. Dengan kecepatan 60km/jam akhirnya dalam kurun waktu 15 menit aku sampai mall menggunakan motorku. Aku berganti shift denga salah penjaga, Shilla. Aku menjaga toko hingga pukul setengah 11 malam. Iel sudah melarangku bekerja dsini dengan alasan pulang terlalu malam. Tapi…..hello? mencari pekerjaan bukan perkara yang mudah. Selesai pekerjaanku. Aku pulang. Mengendarai motorku dengan hati-hati. Sampai kost-an aku langsung mandi mandi sholat dan tidur.
Hari ini penyerahan film yang akan dilombakan. Semua film yang kita buat kita burn ke dalam CD. Aku sudah menyelesaikannya dengan apik. Aku harap aku bisa menjuarainya. Iel Agni da Cakka lebih memilih documenter karena alasan lebih simple. Menurutku biasa saja.
“Optimis menang Fy.”ucap Cakka memberi semangat saat kami sedang berada di kafetaria.
Aku tersenyum, “lo juga dong optimis.”
“Kalau saingannya elo sih berabe Fy.”timpal Agn setelah meminum es jeruknya. Aku tersenyum.
“Kita semua disini lawan loh. Kemungkinan buat menang ada.”ucapku memberi semangat buat mereka.
“Kalau menang, lo mau ke America?”Tanya Cakka. Iel terssedak dari makannya.
“Hati-hati Yel.”ucapku memberinya minum sambil mengusap pelan punggungnya.
“Ke America Fy?”Tanya Cakka sekali lagi.
Aku melirik ke arah Iel. Aku mengerti. Jika aku ke America aku akan long distance dengan Iel. Tetapi Iel tersenyum.
“Yah kalau rejeki kenapa ditolak?”ucapku enteng. Iel mengacak rambutku.
“Kapan lagi dapet beasiswa ke Ameica geratis?”Tanya Iel. Cakka dan Agni mengangguk. Maaf Yel aku baru kepikiran sekarang tentang hubungan kita kalau aku ke America.

Hari ini lomba dilaksanakan mulai jam 10 pagi sampai larut malam. semua peeta lomba berkumpul di Balai Sarbini. Tadi tentu saja Iel menjemputku kerumah. Sampai disana kulihat para peserta yang sangat banyak. Aku lupa! Ini tingkat nasional dari seluruh lapisan mahasiswa di Indonesia. Aku melambai-lambaikan tangan ketika melihat Agni dan Cakka. Aku dan Iel pun menhampiri mereka. Kami duduk berdampingan. Bersiap-siap maju kedepan untuk mempresentasikan mengapa kita memilih tema itu dan bagaimana kita membuatnya. Aku mendapat nomer urut 128 Iel mendapat 132, Agni, 143, dan Cakka 148. Semuanya, harus kuakui sangat menakjubkan. Kami terbengong-bengong menonton film film yang mereka rangkai sendiri. Dan kini……giliran aku. Agni Cakka dan Iel menyemangatiku. Terlihat Pak Joe dan Bu Ucie pun memberi semangat padaku sat aku menuju panggung. Film disetel. Sekitar 5 menit sekali film dipause dan kami disuruh menjelaskan lalu para juri memberi pertanyaan. Panjang film maksimal yang dibut hanya 20 menit. Film ku 17 menit. Saat mempresentasikan dan menjawab pertanyaan aku berusaha sesantai mungkin, hasilnya? Para juri tersenyum puas. Seberes mempresentasikan semuanya, semua yang ada di audium bertepuk tangan sampai meriah, aku membungkuk berterima kasih. lalu aku kembali duduk ditempat sebelumnya. Pak Joe tersenym ke arahku dan berkata , “memuaskan.” Aku hanya tersenyum sembari mengangguk. Saat aku duduk disebelah Iel, Agni, Cakka dan dia pun memberiku pujian. Aku sangat puas dengan hasil karyaku. Lalu giliran Iel yang maju, kami memberinya semangat. Dia mengambil tema tentang seorang anak yang memperjuangkan hidupnya karena menderita penyakit kelainan pada hati. Hingga karena keteguhan dan kepercayaan anak itu pada kesembuhan akhirnya anak itu sembuh. Aku cukup tertarik dengan film documenter pacarku ini. Tak sedikit yang bertepuk tangan untuknya. Sempurna. Menurutku karyanya sempurna. Baru kali ini aku melihat karyanya. Setelah itu tinggal menunggu penampilan Agni dan cakka. Agni pun dipanggil untuk mempresentasikan karyanya. Cukup bagus. Dia mengambil tema kehidupan social para pemulung yang sangat kurang diperhatikan oleh pemerintah. Menurutku cukup bagus hanya ada yang kurang, kurang ada sesautu yang menyentuh kedalam jiwa. Hanya itu. Sekarang Cakka, dia mengambil tema tentang kehidupan seorang buruh. Dan lalu aku suka pada karyanya.
Akhirnya lomba pun usai. Kami pulang. Aku diantar pulang oleh Iel, saat sampai kekost-an tentunya aku menawarinya mampir dulu. Dia mengiyakan.
“Fy.”ucapnya ketika kita baru saja duduk di karpet yang tergelar disebelah tempat tidurku.
Aku mendongak, “kenapa Yel?”tanyaku sambil tersenyum manis.
“Kalau kamu menang, kamu bakal nerima beasiswa itu? Kamu bakal ke amerika?”ucapnya lirih. Aku lupa, aku belum pernah membahas ini sebelumnya.
“Kamu keberatan Yel?”tanyaku. bodoh, kenapa aku menjawab seperti ini?
“Ngga kok ngga. Aku selalu ngedukung apa yang kamu lakuin selagi itu terbaik buat kamu.”jawabnya. aku terenyuh.
“Tapi nanti kita gak bakal ketemu selama 3 tahun loh.”
Dia tersenyum. “Nggak apa-apa, setelah kamu kembali aku bakalan lebih puas sama gelar yang udah kamu raih.”
“Maaf yah Yel, aku egois. Cuma mikirin apa yang aku mau. Aku lupa sama hubungan kita. Aku lupa kalau nanti aku ke amerika aku bakalan ninggalin kamu….”belum selesai aku berbicara aku menangis, Iel mendekapku.
“Ngga kok aku seneng pacar aku bisa ke Amerika karena beasiswa yang emang sangat diimpikan semua orang.”jawabnya. dia mengangkat bahuku dan menatapku.
“Kamu pasti bisa kok.”aku ikutan tersenyum.

Hari ini hari pengumuman lomba. Semenjak bangun tidur aku mersakan getaran hebat. Aku takut untuk kalah. Tapi namanya kompetisi pasti ada menang ada juga kalah. Aku sudah berada di mobil Iel bersama Agni dan Cakka juga. Semua peserta lomba harus datang lagi ke Balai Sarbini. Tak ada raut ketegangan diwajah mereka.
“Tegang banget Fy.”ceplos Agni saat aku terus terusan berkomat-kamit, berdoa.
“Gue takut gak menang.”jawabku sambil terus menggosok-gosok tanganku.
“Optimis dong Fy.”timpal Cakka sambil menengok ke belakang. Aku dan Agni duduk dibelakang. Sedang cakka duduk disebelah Iel yang sedang menyetir.
“Kok kalian gak tegang?”tanyaku.
“Kita kan udah bilang, di lomba ini kita Cuma pengen ngukur kemampuan kita, bukan untuk menang.”jawab Agni.
Akhirnya kita sampai di Balai Sarbini. Sudah ramai dan tinggal 5 menit lagi acara dimulai. Pembukaan dibuka oleh pidato dari penyelenggara, setelah itu pidato dari sponsor yang mendukung acara ini. Selnjutnya dari bapak Presiden. Waw! Presiden pun datang. Lalu barulah perincian tentang lomba ini. Aku dan Iel menyaksikan dengan seksama. Agni malah tertidur di bahu Cakka, dan Cakka tertidur juga dan meletakkan kepalanya dia atas kepala Agni. Aku dan Iel tertawa melihat mereka.
Tiba pada pengumuman sang peenang dan hadiah-hadiahnya. Juara pertama uang 50.000 dolar dan beasiswa ke Amerika. Juara kedua uang 30.000 dolar dan beasiswa ke Inggris, juara ketiga uang 20.000 dolar dan beasiswa ke Jepang.. Beruntung sekali yang juara, aku harap aku salah diantara mereka. Agni dan cakka terbangun setelah mendengar bahwa pengumuman pemenang akan di umumkan. Aku mengenggam tangan Iel kencang. Iel mengelus tanganku seolah meringankan keteganganku. Aku bergemetar.
“Juara ketiga, Sivia Azizah dari Universitas Makassar.” Si orang yang dipanggil namanya pun maju dan tersenyum bangga. Bahkan dia menitikan air mata. Selamat kawan.
“Juara kedua, Zahra Damariva dari Universitas Semarang,” dia pun maju dengan senyum yang merekah di bibirnya. Keteganganku semakin memuncak. Aku memejamkan mata tak berani melihat atau mendengar semuanya.
“Juara pertama Aren Nadya dari Universitas Bali.” Dia maju. Aku menangis. Selamat Aren. Iel langsung menyandarkan kepalaku di dadanya. Agni terus menyemangatiku dan juga Cakka terus menghiburku dengan leluconnya. Tapi aku tetap menangis. Aku seharusnya tak banyak berharap dalam perlombaan ini, banyak yang lebih hebat dariku.
“Para hadirin, selamat untuk yang sudah menang dan jangan berkecil hati bagi yang belum menang. Saya akan memberitahu bahwa ada tambahan hadiah. Satu peserta mendapat hadiah special dari sang presiden langsung. Sang presiden sangat menyukai film sang peserta. Hadiahnya sama seperti juara satu, yaitu beasiswa 50.000 dolar dan melanjutkan perguruannya di America, dan yang berhak mendapatkannya adalah…”terang si penyelenggara acara. Aku tak mau berharap bahwa aku yang akan menerima hadiah itu.
“Alyssa Syaufika Umari dari Universitas Jakarta.”aku tercengang. Agni memelukku dan Cakka terus menyalamiku. Aku masih belum percaya. Iel tersenyum seolah berkata,’aku bilang juga apa’. Setengah sadar aku maju ke atas panggung dan menerima hadiah. Tuhan, terimakasih atas anugrahmu ini.

Hari ini aku membuka mataku dengan pebuh keceriaan. Aku telah memberitahu ibu di bandung bahwa aku akan ke Amerika dengan beasiswa, ternyata acara kemarin diliput salah satu satsiun televisi. Ibu sudah tahu. Sepertinya Ibu sedikit sedih bahwa artinya aku akan meninggalkannya. Tetapi ibu terus mendukungku.
Aku mengemasi barang-barang yang akan aku bawa. Ya, hari ini hari keberangkatan ku. Agni Iel dan Cakka sudah datang dari tadi pagi untuk membantuku menyiapkan segalanya. Setelah beres mmpersiapkan semuanya, kami berfoto sejenak untuk kenang-kenangan. Terutama Aku dan Iel. Ada sedikit rasa takut untuk meninggalkan Iel, tapi dukungannya terhadapku sangatlah besar. Jadi aku bisa tenang meninggalkannya.
Aku diantar oleh mereka ke bandara. Semua pemenang sudah berkumpul bersama para panitia.
“Cak, Ni, gue nitip Iel yah.”pesanku. Iel malah mengacak rambutku.
“Emang aku barang.”ucapnya sambil merangkulku.
“Tenang Fy, kalau dia nakal bakal gue pites langsung dia.”jawab Agni, aku terkekeh.
“Jaga kesehatan disana Fy.”pesan Cakka, aku mengacungkan jempolku.
“Jangan selingkuh.”pesan iel dengan nada tidak biasa.
“Ya sekali-kali boleh lah cuci mata.”jawabku jahil. Iel mencubit hidungku pelan.
“Awas aja yah.”
“Tenang, aku setia kok. Kamu juga awas.”ucapku balik menantang.
“Jangan lupa kasih kabar Yah.”pesan Agni. Tak lama suara akan keberangkatan ku terdengar. Dengan enggan aku meninggalkan mereka setelah berpelukan lama dengan mereka semua.

3 tahun kemudian.

Aku pulang! Aku sudah wisuda dan aku mendapat gelar the best movie maker. Dan aku diangkat sebagai salah satu pengurus PH disana yang baru membuka cabang di Indonesia. PH yang sangat terkenal. Tentu aku sangat senang. Aku bekerja langsung sebagai sutradara. SUTRADARA! Tuhan, impianku sudah terwujud. Kini aku resmi menjadi sutradara. Aku keluar dari pesawat dan langsung berjalan menuju tempat para penjemput. Sudah terlihat Agni, Iel dan cakka. Aku langsung memeluk mereka bertiga sekaligus. Sebelumnya kami memang sering webcaman, tapi ini nyata. Aku menangis terharu. Aku lihat Iel yang sudah semakin gagah. Sekarang dia menjadi salah satu produser. Sedangkan Agni dan cakka masih magang di salah satu perusahaan.
Aku amati mereka semua. Secara fisik mereka semua berubah drastis. Terutama Iel dan Cakka. Mereka tampak lebih dewasa. 3 tahun tak bertemu membuat mereka berubah luar biasa. Kami langsung pergi kesalah satu cafĂ© langganan kami. Aku rindu hiruk pikuk Jakarta yang tak pernah aku temui di America. Kami berbincang cukup lama. Aku juga mmberi mereka oleh-oleh yang selalu aku siapkan untuk dihadiahi kepada mereka. Sekitar setelah jam 7 kami pulang. Aku kembali ke kost-an lamaku yang dulu ditinggal. Ibu yang punya kost tidak mengijinkan siapapun menyewa kamar iTu dengan alasan itu sudah menjadi hak milikku. Dasar. Aku kembali kesana diantar iel. Dia tidak mampir dulu karena capek dan sudah laruT. Dia mendartkan kecupan di keningku. Kecupan yang sangat aku rindukan kehangatannya. Baru aku membuka pintu kost-an . di dalamnya sudah ada ibu kost dan…..MAMAH! aku langsung memeluk mereka berdua dan menjatuhkan barang-barang yang aku bawa.aku menagis terharu. Mamah terus terusan memelukku. Ibu kost terus-terusan menanyaiku tentang keadaan Amerika. Setelah beres berbincang cukup lama, Ibu Kost kembali pulang kerumahnya, Mamah akan menginap di kost-an ku. Aku rindu semuanya.
“Fy kamu udah dapetin apa yang kamu mau. Kamu mau kembali ke papah dan mamah tiri kamu?”Tanya mamah saat kami sedang sarapan. Oh Tuhan, sudah lama aku tidak memikirkan mereka. Aku sibuk menggapai mimpiku. Padahal mimpiku kan untuk mereka.
“Menurut mamah aku udah cukup untuk dibanggakan?”
“Banget dong. Mamah bangga banget sama kamu.”
“Oke, aku pulang kerumah Papah.”jawabku spontan tetapi mantap.
Aku dan mamah bersiap untuk ke rumah Ayah. Mamah tau aku bergeetar. Tetapi dia berusaha meyakinkanku bahwa tak akan ada apapun. Aku sudah hampir 6 tahun meninggalkan mereka. Tolong Tuhan jangan cap aku sebagai anak durhaka.
“IFY!”jerit Ibu tiriku saat dia baru saja membukakan pintu. Dia langsung memelukku. “Kamu kemana aja Fy? Mamah putus asa buat ketemu kamu lagi. Terakhir mamah tau kamu menang dalam lomba membuat film.”ucap si mamh yang masih terus memelukku. Aku memeluknya balik.
“Maafin Ify ya mah Ify udah kabur dari rumah gitu aja.”jawabku.
“Ngga Fy kami minta maaf udah selalu ngerendahin kamu dan gak meduliin kamu.”ujarnya yang sekarang telah melepaskan pelukannya dariku. Kami berjalan kedalam, beserta mamah kandungku juga.
“Ngga apa-apa kok mah. Sekarang Ify udah bisa mamah sama papah banggain. Ify udah jadi sutradara.”jelasku sambil tersenyum. Mamah tiriku menangis terharu.
“Selamat yah Fy mama betul-betul salah menilai kamu.”ujarnya, aku tersenyum.
Tak lama Ayahku datang. Dia langsung memelukku dan menangis. Apa yang dia ucapkan sama seperti apa yang mamah tiriku ucapkan. Beliau juga sangat senang mendengar ketika kahirnya aku sudah menjadi sutradara.
“Maaf mas aku gak pernah mau ngasih tau keberadaan Ify sama kalian, tapi itu kemauan Ify.”ucap Mamahku merasa bersalah.
“Ngga kok mba kami gak nyalahin mba. Yang lalu biarin berlalu.”

Senang. bahagia. Semua kata yang sejenis itu ada di dalam hatiku sekarang. Sudah tak ada penat yang mengganjal. Aku sudah kembali tinggal bersama Ayah dan Ibu tiriku. Mamahku kembali ke bandung dengan pekerjaan nya sebagai psikolog. Aku dan Iel sudah bertunangan dan Iel sangat senang mendengar semua ceritaku. Agni dan Cakka sudah mempunyai pekerjaan tetap yang aku tak tahu namanya. Yang jelas mereka juga sudah bertunangan. Aku dan Iel kembali ke tempat anak-anak yang dulu pernah kami ajar. Mereka mnyambutku dan memelukku. Mereka memintaku menceritakan semua pengalamanku. Aku tersenyum bahagia ketika anak-anak melontarkan berbagai pertanyaan. Mereka sangat senang mendengar ceritaku. Iel yang sedari tadi duduk disampingku ikut mendengrkan kisahku saat aku berada di amerika. Terima kasih Tuhan. Engkau selalu tahu apa yang kami butuhkan.

No comments:

Post a Comment