Followers

Monday, May 10, 2010

Our Life, Our Destiny, and The Best for Us :) PART 3

“kenapa? Gue berubah? Tambah ganteng ya?”Cakka narsis
“Ngga kok. Gak apa-apa. Lo ko disini?”
“kacang garing.”ujar Iyel merasa di cuekin oleh sepasang mantan kekasih ini.
“Dih pundung lo.”kata Sivia mencibir Iyel
“Yaudah buru masuk. Mau nebeng ga?”Tanya Iyel
“Gak usah deh.”tolak Sivia
“takut salting yah ada Cakka?”celetuk Iyel yang membuat pipi Sivia memerah, tetapi tidak untuk Cakka.
“Cepetan gak lo masuk? Apa harus gue pake pemaksaan?”paksa Iyel sambil melotot
“Iya deh iya lumayan dari pada lomanyun.”
“Tengill nih.”
Sivia pun masuk ke dalam mobil Cakka, di dalam mobil keadaan begitu hening. Tak ada yang berbicara. Hanya lagu-lagi Seconhand Serenade yang berdendang.
“berasa di kuburan nih gue.”ceplos Iyel memcah keheningan.
“Lo mayatnya.”ujar Sivia
“Lo mak lampir nya. Weeee.”canda Iyel sambil menjulurkan lidah
“Gua apa?”Tanya Cakka merasa didiemin.
“Apa aja boleh.”ujar Sivia bersikap sebiasa mungkin.
“Makin tengil nih si Sivi.”ujar Cakkka
“Makin cantik juga kan?”Tanya Sivia PD
“Emang udah cantik kok lo Vi.”ucap Iyel yang mebuat Cakka berdeham dan pipi Via merah.
“makasih Iyel yang baik, tapi sayang, gue gak minta pendapat lo.”ujar Sivia yang membuat Iyel bagai diganjal oleh batu raksaksa. Akhirnya mereka pun sampai di depan rumah Sivia.
“Thanks yah. Gak mampir?”ucap Via basa-basi
“Ngga deh. Bye.”
Cakka pun langsung melajukan mobilnya. Sivia langsung lari kedalam rumah karena terlalu senang baru saja bertemu dengan Cakka, tapi gak tahu mengapa perasaan dia saat bertemu Cakka tak bergetar sama sekali. Malahan sekarang ia sedikit gemetar jika dekat dengan Gabriel. “jangan-jangan gue suka sama Iyel? Waduh gawat nih.”batin Sivia. Sampai dirumah ia langsung mandi dan solat lalu makan. Ia mengadakan conference call bersama Ify dan Shilla.
“Tau gaaaaaaaaaaa?”ujar Sivia membuat kedua sahabatanya penasaran.
“Nggaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”teriak Ify dan Shilla kesal.
“Cerita langsung to-the-point!!!!.”pinta Shilla.
“Iya iya. Tadi gue pulangnya dianter Cakkaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”ujar Sivia girang.
“Nah loh? Kok bisa?”Tanya Ify tak mengerti
“Bisa dong!”
Akhirnya Sivia menceritakan bagaimana kronologi kejadian tadi siang. Dan ia menceritakan semua perasaannya saat bertemu dengan Iyel dan Cakka.
“itu artinya lo udah biasa aja sama Cakka. Dan sekarang lo suka sama Iyel. Udah ngaku aja.”ceplos Ify yang membuat Sivia berfikir sebentar untuk mencerna kata-kata Ify.
“Lama kan lo mikirnya.”ucap Shilla.
“Tapi gak mungkin gue suka sama Iyel. Jelas-jelas gue masih ngarepin banget Cakka.”ujar Sivia ngotot.
“Kenapa gak mungkin? Lo bilang sndiri kan gak ada yang gak mungkin?”kata Ify.
“Tapi gue rasa gua masih sayang sama Cakka, dan gue biasa aja sama Iyel.”
“Itu menurut lo kan? Apa itu menurut hati lo? Hati yang ngerasain itu semua. Lo Tanya hati lo sendiri. Gue yakin lo udah gak ada rasa sama Cakka dan sekarang pindah ke Iyel.”cerocos Shilla panjang lebar.
“yah syukur deh lo udah gak ada rasa sama Cakka. Bisa gila lo kalau masih suka sama dia.”ujar Ify
“Tapi….. apa mungkin gue suka sama Iyel?”Sivia masih gak percaya.
“kenapa gak mungkin? Semenjak Cakka pindah 1 setengah tahun yang lalu dan saat itu pula lo putus sama Cakka, Iyel selalu ada kan buat lo? Dia kan yang ngehibur lo walau secara gak langsung? Belakangan ini juga kita dan terutama lo deket kan sama Iyel, dan Rio.”ucap Ify merendahkan suaranya saat mengucap nama Rio.
“Tapi, ah masa sih? Gue masih gak percaya?”ujar Sivia tetap mengelak
“Tapi apalagi sih vi. Udah jelas kan hampir semua anak di sekolah tau Iyel suka sama lo.”ucap Shilla sedikit geram.
“Masalahnya gini loh . hey, Cakka sama Iyel tuh sepupuan.”ujar Sivia menjelaskan.
“Terus kenapa? Apa masalanhnya?”Tanya Ify masih bingung dengan jalan fikiran Sivia
“Ya… gue takut Iyel gak enak sama Cakka atau sebaliknya. Siapa tau yah siapa tau Cakka masih sayang sama gue?”
“emm maunya hahaha.”
“Udahan dulu deh yah, gue mau belajar.”
“Dadaaaaah!”ujar Shilla dan Ify berbarengan
Sivia pun langsung menuju meja belajarnya dan belajar. Seusai belajar, ia membereskan buku-bukunya dam menemukan rapotnya. “bilang deh ke mamah minta di tanda tangan.”batin Sivia. Dia pun berlari menuju ruang TV dimana keluarganya berkumpul.
“Mah, nih tanda tangan rapot aku. Lupa terus mau minta tanda tangan.”ucap Sivia sedikit basa-basi.
Ibu Sivia tidak menggubris ucapan Sivia. Ia tetap menonton. Padahal ia jelas mendengar apa yang baru saja Sivia ucapkan. Melihat itu, sivia langsung berlari menuju kamarnya. Di kamarnya ia menangis. Ia sedikit protes kepada sang pencipta.
“Ya Allah, apa salah aku sampai aku menerima cobaan sebesar ini? Kenapa sih aku gak pernah bahagia seutuhnya sehariii aja. Baru aja aku seneng tadi siang, sekarang aku udah kaya gini lagi? Apa ada orang yang sama kurang beruntungnya kayak aku? Apa ada yang lebih menderita dari aku? Ya Allah, aku capek! Aku pengen merasakaan bahagia seutuhnya. Aku sirik sama temen-temen aku!” tak hentinya Sivia menangis. Ia menangis cukup larut. Lalu pada akhirnya ia mencoba menghibur dirinya sendiri “Hem Siv gak boleh cengeng ah. Allah gak suka ngelihat hambanya ngeluh. Ini jalan hidup lo dan ini yang terbaik buat lo! Positive thinking ayolah Siv! Positive thinking!”ujar Sivia geram. Tiba-tiba ia menangis lagi, “Gue cape positive thinking terus!!!!!!!!! Gue pengen jadi orang jahat aja! Percuma gue jadi orang baik tapi keluarga gue sendiri gak pernanh ngerasa ngebutuhin gue…..”Sivia terdiam. Sudah kesekian kalinya ia bersikap seperti ini. Tak lama Hp nya berbunyi, ada telefon, dari…. Iyel!

“Ha….halo Yel, a…ada a….apa?”ujar Sivia terisak tangis
“Lo kenapa Vi? Lo habis nangis?”tanyaIyel panik.
“Ngga ko Yel. Ada perlu apa telfon gue malem-malem?”Tanya Sivia yang sudah mulai tidak terisak lagi.
“Jangan bohong lo. Coba Vi cerita sama gue. Siapa tau gue bisa Bantu.”pinta Iyel.
“Gueeee…..hua Iyel gue gakuaaaat!”tangis Sivia lagi-lagi meledak
“Iya kenapa Sivia? Cerita sama gue biar gue ngerti”
Akhirnya Sivia pun menceritakan semua keluarganya dan semua yang ada di dalam hatinya.
“gue rasa keluarga gue gak sayang sama gue Yel.”ucap Sivia lirih
“kenapa lo mikir gitu?”
“Lo dari tadi dengerin gue curhat gak sih? Ya karena itu lah Yelll!”ucap Sivia sedikit kesal.
“Iya gue ngerti. Mana ada sih Siv orang tua yang gak sayang sama anaknya? Sejahat-jahatnya orang tua sama anaknya pasti sayang sama anaknya. Lo ngerasa lo orang yang paling menderita? Itu salah Siv! Lo jangan ngeliat keatas. Lo liat kebawah. Masih banyak orang yang lebih kurang beruntung dari lo. Mereka kehilangan orang tua mereka. Tapi mereka ngejalanin hidup mereka dengan ceria. Jalanin hidup lo apa adanya. Jangan ada paksaan. Biar mengalir kaya air. Ini hidup lo ini takdir lo! Dan ini yang terbaik buat lo! Jangan pernah capek buat selalu positive thinking. Jangan Cuma disekolah lo terlihat sangat ceria. Di rumah pun lo harus ceria, oke? Janji sama gue?”hibur Iyel.
“Thanks banget yah Yel, ternyata lo baiik banget. Iya gue janji. Udah dulu yah gue mau tidur.”
“Iya sama-sama. Jadi selama ini lo ngira gue jahat?”
“Ngga ko ngga Yel ih pundung banget sih lo jadi cowo. Oh iya ada apa lo nelfon gue?”
“ngga kok, tadi Cuma iseng aja.”
“ye kira gue ada ap. Udah dulu yah. Dadaaaaaaaaah!”klik. telefon terputus.
“Semakin nyata perasaan ini. Apa jangan-jangan gue beneran sukasama dia?”batin Sivia. Sivia pun langsung tidur ingin cepat-cepat besok di sekolah.

Di rumah Iyel

“abis nelpon siapa lo tadi? Serius banget kedengerannya.”Tanya Cakka penasaran. Selama Cakka pulang ke Indonesia dia belum pernah pulang ke rumahnya. Dia malah langsung datang ke rumah Iyel, sepupunya.
“Fudul (red : mau tau aja) ah lo.” Jawab Iyel tengil.
“Dih? Tengil banget lo? Mulai yah rahasia-rahasia an sama gue.”
Belum sempat Iyel menjawab teriakan seorang anak kecil mendului
“Kak Iyeeeeeeeeeeeeeeeel. Ka Cakka adagaaaaaaaaaaa?”teriak sang anak kecil.
“Woy. Slow aja kali lo ngomongnya. Rumah gue bukan utan.”jawab Iyel sambil menghampiri bocah itu tanpa Cakka.
“Hehehehe. Kak Cakka ada gak? Dia ke Indo tapi bukan langsung ke rumah malah ke rumah lo ka.”ucap Ray, adik Cakka yang tetap tinggal di Indonesia bersama Oma nya. Iya tidak ikut dengan Cakka, Ayah, dan Ibunya. Ia lebih memilih tetap tinggal di Indonesia walau dengan Omanya.
“Ada kok. Masuk aja. Tapi nyokap lo langsung nemuin lo kan?”Tanya Iyel.
“Iya lah ka. Mana betah dia ninggalin gue yang ganteng ini. Pasti langsung kangen deh baru ninggalin gue semenit juga.”ucap Ray narsis.
“Tapi kok gue belum pernah kangen sama lo ya Ray?”ujar Iyel yang membuat Ray cemberut.
“Hahahah bercanda. Cowo-cowo cengeng lo. Ih ngegemesin banget sih lo!”kata Iyel sambil mencubit pipi Ray.
“Hua Kak Iyel sakit!”Ray meringis kesakitan.
“Ebuset dah berisik amat sih. Sejak kapan rumah lo berubah jadi pasar malem?”ujar Cakka yang berjalan menghampiri Ray dan Iyel.
“Ya Allah Kak cakka tambah tinggi ya lo!”ucap Ray yang membuat hidung Cakka terbang. Maklum, Ray sudah satu-setengah tahun tidak bertemu dengan Cakka.
“tambah ganteng juga kan?”
“Iya sih. Tapi tetep gantengan gue lah.”
“Idih lo bocah.”ucap Cakka sambil meneloyor kepala Ray.
“Kata Mamah balik ke rumah Oma. Lo belum sungkem juga sama Oma. Pulang bukan balik ke rumah malah ke rumah sodara. Malu-maluin aja kaya gak punya rumah.”Ray berbicara panjang lebar seperti orang dewasa.
“hahahahaha ngapalin tu teks berapa lama lo ray?”ucap Iyel dengan tawa lepasnya melihat Ray yang sok dewasa.
“Iya nanti gue balik. Udah sana lo pergi. Nanti gue beliin permen deh.”rayu cakka.
“Ogah ah. Tega bener kaka kandung gue sendiri ngusir gue. Gue mau ketemu Deva aja deh. Mana Kak Iyel si Deva?”Tanya Ray. Ya, Deva adik semata wayang Iyel.
“Ada tuh di kamarnya.”jawab Iyel. Ray pun langsung berlari ke kamar Deva.
“Urusan kita belum beres bray.”ucap cakka.
“Urusan?”Tanya Iyel heran
“Iya tadi lo abis nelpon siapa?”Tanya Cakka tetap penasaran.
“Siapa aja yang penting gue seneng.”mendengar pernyataan itu , Cakka langsung merebut HP Iyel
“Ketauan tadi abis nelpon Sivia. Udah deketin aja. Gue support lo seratus-persen!!!!!”ucap Cakka memberi semangat.
“Ah lo asal rebut aja. Masalahnya bukan gitu aja Cak. Dia tuh kayanya masih ada rasa sama lo.”jelas Iyel.
“Emang pesona gue tak terkalahkan oleh siapapun.”kata Cakka PD
“Ye dengerin dulu napa. Dan satu lagi, gue kasian sama keluarganya.”
“Oh iya gue tau. Gue pernah diceritain. Emang kasian banget. Gue salut sama dia. Dia gak pernah keliatan sedih di depan temen-temennya. Dia selalu ceria di depan kita. Itu yang bikin gue suka banget sama dia.”kata-kata terakhir Cakka yang membuat Iyel menunduk.
“Tenang Bro. gue udah punya cewek di Singapur sana. Lo deketin aja terus dia. Bikin dia semangat. Gue dukung kok. Oke? Tapi jangan sampe lo nyakitin dia. Awas aja!.”ujar Cakka memberi Iyel semangat 45!
“Oke deh.” Merekapun melanjutkan aktifitasnya.

Di Rumah Rio.

“telfon jangan telfon jangan telfon jangan telfon jangan telfon jangan aaaaah. Telfon deh telfon. Eh jangan. Eh telfon. Udah, TELFON!”ujar Rio bimbang. Dia pun langsung memutar nomer telfon Ify.

No comments:

Post a Comment