Followers

Monday, May 10, 2010

Our Life, Our Destiny, and The Best for Us :) PART 7

Mereka berdua tetap membuka Diary Sivia tetapi perasaan Iyel tetap tidak mau membukanya. Tapi rasa penasarannya mengalahkan semuanya dan membuat ia ingin sekali membacanya. “siapa tau ada nama gue.”batin Iyel PD. Mereka pun membuka Diary Sivia, pertama kali ia menulisnya pada tanggal 28 November 2008, disitu menceritakan pertama kali dia dan Cakka jalan bersama lalu Cakka memberi Diary itu padanya. Lembar kedua saat ia dan Cakka sudah 6 bulan jadian. Lembar ketiga ketika Cakka harus pergi ke Singapore dan memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Disitu tertulis,
‘Hua Diary, aku sedih banget harus ngakhirin semuanya sama Cakka. Aku kan masih sayang banget sama dia. Kenapa kita gak LDR aja coba? Yang penting kan gak putus. Mana dia lama banget lagi di Singapore. Aku gatau deh bakalan tahan atau engga’ hanya sampai situ Iyel membacanya. Ia terlanjur cemburu, Cakka yang menyadari itu langsung menenangkan sepupunya itu, “Santai sob, ini tuh 1 tahun setengah yang lalu. Oke?” Iyel pun kembali tersenyum. Halaman selanjutnya ketika Sivia berulang tahun. Dia mendapat kejutan dari teman-temannya termasuk Iyel.
‘Diary, tau ga? Dari tadi pagi aku dibuat kesel sama temen-temen sekelas, bahkan sama guru juga aku dimarahin padahal aku gak salah apa-apa, taunya pas mau pulang semuanya nyanyiin Happy Birthday ke aku. Ya ampun seneng banget. Dan yang ngerancanain itu semua siapa coba? Gak lain dan gak bukan Shilla dan Ify!!!!!!!!!! Ditambah Rio dan Iyel. Awalnya aku sedih banget mereka gak inget sama sekali sama ulang tahun aku, malah bikin marah. Eh taunyaaaaa.”hanya sampai situ lagi Iel dan Cakka membacanya, Cakka tersenyum “ternyata Sivia bisa bahagia tanpa gue.”batinnya. dah halaman seljutnya dalah masalah-masalah keluarganya yang ia ceritakan ke Iyel. Lembaran selanjutnya ketika satu tahun ia pegat dengan Cakka,
‘Hei Di, udah lumayan lama yah aku gak nulis? Tau gak? Hari ini tepat setahun aku putus sama dia loh! Dan harusnya juga sekarang tepat aku 1 tahun 9 bulan sama dia. Sedih sih, tapi mau gimana lagi?’ mereka melanjutkannya, laman selanjutnya ketika Sivia mendapat masalah keluarga, sampai sepuluh halaman berisi masalah keluarga. Selanjutnya ia bercerita betapa senangnya dia akhirnya bisa bertemu dengan Cakka lagi. Dan sekarang halaman terakhir yang ia isi. Iyel sangat antusias ingin membacanya.
‘Di, aku baru mau cerita yang sebenernya nih. Awalnya aku ragu buat nulis semua ini. Tapi makin lama aku makin yakin kalau perasaan ini beneran! Aku….aku suka sama………….aku suka sama IYEL! Awalnya aku gak nyangka. Selama ini aku nganggep dia sahabat aku. Terlebih dalam kenyataan Iyel sepupuan sama Cakka. Padahal selama ini aku ngerasa masih ngarepin Cakka walau, well. Gak mungkin. Lalu waktu aku cerita sama sahabatku, aku yakin kalau aku SUKA SAMA IYEL! Ssst, diem yah jangan bilang-bilang. Apalagi sampai orangnya tau.’ Baru sampai situ merek membacanya Iyel langsung locat loncat dengan muka gembira.
“HOREEE AKHIRNYA PERASAAN GUE DIBALES!!!!!!!!!!”teriak Iyel saking girangnya.
“WOY! Udah malem jangan teriak-teriak.”ucap Cakka yang risi sama tingkah sepupunya.
“Iya iya hehe kelewat seneng nih gue.”
Tak lama HP Iyel berdering, ada telpon dari Sivia, dengan segit ia mengangkatnya.
“Halo?”Tanya Sivia di ujung sana.
“Ya Vi? Ada apa?”Tanya Iyel bersikap biasa.
“Diary gue gak lo baca kan? Awas aja ampe dibaca!”ancem Sivia yang membuat Iyel tegang gak karuan.
“Iya tenang aja, niat pan gue baca diary lo.”ujar Iyel berbohong.
“Sip deh. Yaudah bye.”
“Salam gak nih buat Cakka?”goda Iyel agar tida diketahui kalau ia tau semuanya.
“Di salamin awas aja ya.”
“Cakka salam dari Via.”teriak Iyel, lalu ada suara yang menjawab “Salam balik buat Via. Besok dia kesini kan?”teriak Cakka.
“Denger kan lo?”ucap Cakka.
“Ah rese. Iya besok gue dateng. Yaudah bye.”klik. telpon terputus. Iyel kembali duduk disebelah Cakka.
“Lo tuh suka sama dia, tapi kenapa lo gitu ke dia?”Tanya Cakka heran.
“Gitu gimana?”Tanya Iyel gak ngerti.
“Pake acara pura-pura mau ngedeketin gue ama dia.”
“Hahahaha cara gue kan beda buat ngedeketin dia. Gue lebih seneng ngejailin dia.”
“Gimana lo aja. Gue mau tidur.”Cakka pun langsung pergi menuju kamarnya. Iyel pun langsung tidur berharap Sivia akan menghiasai mimpinya (ceileh).

Di rumah Sivia.

Sivia dari tadi panik karena takut Iyel membaca diary nya.
“Semoga engga semoga engga.”batinnya meyakinkan. “Tapi kalau dibaca gimana? Muka gue ditaro dimana? Aduh!”batinnya melanjutkan. “Bodo ah dari pada pusing mending tidur.” Sivia pun langsung menuju tempat tidurnya dan tidur.
Keesokan harinya ia bangun agak telat karena semalam ia tidur tidak begitu nyenyak.
“Gak sarapan dulu Vi?”Tanya Mamah Indah, ibu tiri Sivia.
“Ngga mah aduh aku telat.”ujar Sivia sambil buru-buru pake sepatu.
“Mau di anter Pak Joe?”tawar Mamah, Pak Joe adalah supir keluarga Sivia.
“Ngga deh mah kayaknya. Sama aja bakal kejebak macet. Kasian papah nanti kesiangan. Aku berangkat ya mah. Dadah!”ujar Sivia sambil salam.
Di depan komplek Sivia celingukan nyari angkot, dari tadi angkot yang lewat penuh terus, “nyesel nih tadi nolak tawaran mamah.”batin Sivia. Tak lama kemudian ada sebuah motor yang datang menghampirinya.
“Naik Siv.”tawar si pengendara.
“Iya deh dari pada gue telat.”ujar Sivia sambil naik motor itu. Dijalan mereka berdua diem-dieman. Lagian percuma mau ngobrol juga, kan ceritanya bawa motornya kenceng gara-gara takut telat. Sayangnya dewi fortuna tidak memihak kepada mereka, mereka tetap telat dateng ke sekolah.
“Ayolah pak bukain gerbangnya. Cuma telat 3 menit doangan.”bujuk Sivia pada Pak Dave.
“Kamu mau ngerayu saya gimana juga gak akan saya bukain. Bentar saya panggil Bu Ira dulu. Biar kalian di hukum.”ejek Pak Dave sambi berlalu.
“Sorry ya Yel, gara-gara gue lo ikutan di hukum.”ujar Sivia merasa tidak enak.
“Iya gak apa-apa kok. Oh iya ini diary lo.”ucap Iyel sambil memberikan Diary Sivia yang tadi ada di dalam tasnya.
“Gak lo baca kan?tanya Sivia dengan tatapan penuh menyelidik.
“Ngga lah. Gak percaya banget sih lo sama gue.”baru beres Iyel menjawab, Bu Ira sudah datang.
“Kalian kenapa terlambat?”Tanya Bu Ira tegas.
“Kalau saya gara-gara tadi ban motor saya kempes bu.”ujar Iyel dengan seribu alas an.
“Kamu kenapa?”Tanya Bu Ira sambil menunjuk Sivia.
“Lah kan saya tadi bareng sama dia. Jadi ikutan deh bu.”jawab Sivia enteng.
“Kalian ini ada saja alasannya. Sekarang hormat di depan tiang bendera sampai pelajaran ke 2 selesai.”suruh Bu Ira dengan tegas yang membuat muka Sivia sdan Iyel lemas. Mereka berdua pun langsung ke lapangan upacara.
“Adu maaf yah Yel, maaf banget. Gue jadi gak enak.”ucap Sivia sekali lagi minta maaf sambil terus hormat.
“Enakin aja.”jawab Iyel enteng yang juga tetap hormat.
“Yaudah deh.” Lama-lama pandangan mata Sivia kabur. Lama-lama menjadi hitam, dan. BRUKKKKK! Sivia pingsan, akibat tidak sarapan tadi pagi.
“Eh eh Siv,”ucap Iyel bingung. Tanpa ribet, Iyel langsung menggendong Sivia dan membawanya ke UKS. Ditidurkannya Sivia di ranjang dan ia langsung menemui Bu Ira.
“Bu, Sivia pingsan.”ucap Iyel saat memasuki ruangan Bu Ira.
“Waduh. Ya sudah kamu panggil anak PMR, hukuman saya hentikan.”
“Terimakasih bu.”kata Iyel sambil kembali ke ruang UKS.
“Yang piket hari ini, Osa, Oik, Ourel (pas banget o semua ;p). kelas 8 semua lagi. Malesin banget.”ujar Iyel. “dari pada manggil mereka, gue aja deh yang nungguin Sivia.”ujar Iyel ngomong sendiri. Lalu Iyel pun membeli roti dulu untuk dia dan Sivia jika ia sudah bangun. Iyel memberi kayu putih pada ubun-ubun dan telapak tangan Sivia. “Manis banget sih lo.”lirih Iyel. Tak lama Sivia bangun.
“Gue dimana?”Tanya Sivia masih linglung.
“Di UKS tadi lo pingsan.”jelas Iyel.
“Oh iya. Pasti gara-gara tadi pagi gue ga sarapan.”batin Sivia.
“Nih teh anget buat lo. Dan ni rotinya.”ujar Iyel sambil meyodorkan roti dan cangkir berisi teh.
“Thanks yah.”jawab Sivia dengan senyuman sangat manis.
“Bisa-bisa pingsan nih gue liat senyumnya.”batin Iyel.
Mereka sudah cukup lama berada di UKS, saat pelajaran ke 3-4 merek baru masuk ke kelas. Alasannya karena takut Sivia masih pusing. Setelah beres pelajarang ke 3-4. bell istirahat pun berbunyi. Shilla, Ify, dan Sivia pun langsung caw ke kantin. Mereka langsung gabung dengan Rio, Iyel, dan Riko.
“Udah enakan Vi?”Tanya Iyel so perhatian.
“Ciheeee perhatian nih.”goda Riko.
“Gue kan kasian aja tadi dia sama gue dihukum.”jawab Iyel dengan wajah merona.
“Oh iya Vi, lo tadi kenapa kesiangan?”Tanya Ify yang masih belum tau alasannya.
“Semalem gue gak bisa tidur takut Diary gue dibaca Iyel.”ujar Sivia polos.
“Ya Tuhan. Lo masih gak percaya sama gue? Gak gue baca kok. Swear!”ucap Iyel sambil membentuk V ditangannya.
“Iya gue percaya.”ucap Sivia.
“Eh nanti pada jadi kan ke rumah Cakka?”Tanya Iyel memastikan.
“Jadi dong.”jawab mereka semua kompak.
“Tapi nanti jangan terlalu lama yah.”kata Sivia.
“Kenapa? Takut yah ketemu Cakka?”goda Riko.
“Sok tau lo! Gue mau les jam set 4 an.”ujar Sivia, memang benar, karena seminggu lagi mereka ujian, tempat bimbel Sivia mengadakan jam lebih.
“Oh yaudah. Nanti gue anterin Vi, tenang aja”ujar Iyel santai tak tahu apa pengaruhnya bagi teman-teman.
“Ngek? Ceileh Iyel perhatian banget sama Sivia?”goda Rio kepada Iyel.
“Gue kan sebagai teman yang baik aja.”
“Yep.”
“Temen apa temen? Lama-lama demen.”celetuk Shilla yang membuat mereka semua tertawa. Bell tanda selsesai istirahat pun selesai, mereka semua berpencar menuju kelas masing-masih. Kantin yang 5 detik lalu ribut seperti pasar malam seketika hening seperti di lalap tornado (????).
Sepulang sekolah mereka berkumpul lagi karena akan bareng-bareng berangkat ke rumah Cakka yang tak lain rumah Iyel juga. Karena semua sudah dapet boncengan, terpaksa Sivia di bonceng Iyel. “aduh kok makin deg-degan? Jangan-jangan beneran suka? Aduh”batin Sivia. Akhirnya mereka berenam sampai di rumah Iyel dan Cakka.
“Hey kawan lamaku. Pasti pada kangen yah sama gue?”ujar Cakka yang dari tadi nungguin mereka semua di teras.
“Ya Tuhan Cak, ini bener-bener lo? Beda banget!!!!!!!!!!!”ujar Ify sambil muter-muter badan Cakka.
“Yaiyalah Fy, tambah cakep yah gue?”Tanya Cakka PD.
“Bukan Cak, tapi tambah dewasa aja gitu.”ujar Shilla tepat. Sivia yang ada disitu hanya terdiam.
“Eh Sivia, apa kabar neng?”ujar Cakka yang mengagetkan Sivia.
“Baik kok Cak hehe.”jawab Sivia sebiasa mungkin dengan senyum khasnya.
“Tetep deh yah senyum lo kaga berubah dari dulu.”
“Ceileh, in memoriam.”ujar Riko. Iyel yang dari tadi diam akhirnya bicara.
“Masuk dulu kek gak enak banget ngobrol diluar, panas, berdiri lagi.”Teman-teman yang mendengar itu langsung mengikuti Iyel masuk ke dalam rumah. Mereka semua duduk di kursi yang ada di ruang keluarga. Pembantu rumah tangga Iyel dengan segit memberi mereka minuman.
“Makasih bi.”ucap semuanya hampir bersamaan.
“Sama-sama. Diminum dulu.”jawab si tunawisma. Mereka menjawabnya dengan senyuman. Si bibik pun balik ke dapur. Mereka semua diam. Tak ada yang bicara. Sivia yang biasanya pandai mencairkan Susana, kali ini tidak, “gue takut salting depan Cakka.”gumannya. akhirnya Ify angkat bicara.
“Jadi lo ngundang kita ke sini buat?”Tanya Ify yang sebenernya dia udah tau jawabannya.
“Gue pengen kumpul aja.”jawab Cakka enteng. Ternyata jawabannya bukan yang seperti Ify prediksi.
“Lo gak balik ke Singapore?”Tanya Ify lagi.
“Ngga, gue bakalan stay lagi di sini. Kenapa?”Tanya Cakka yang membuat semuanya diam.
“Emang lo gak ujian?”Tanya Shilla heran, minggu depan mereka kan UN.
“Di Singapore udah kok. Malah tinggal nunggu hasil, keluarnya minggu depan.”jelas Cakka.
“Terus jadi lo nganggur selama 3 bulanan? Enak bener”celetuk Riko.
“Iya dong Ko. Haha eh Fy, lo udah jadian sama Rio?”Tanya Cakka.
“Hehe iya udah.”jawab Ify sembari nyengir.
“Kapan? Pj dong.”
“Hem 2 hari yang lalu haha. Minta aja noh ke dia.”ucap Ify sambil nunjuk Rio.
“Ngga ngga ngga. Bangkrut gue dari kemarin nraktir mulu.” Mereka semua tertawa.
“Lo kapan nih Yel sama Via? Lo juga Ko sama hem siapa? Sama Shilla lagi?”goda Cakka santai.
“Ngeee? Kok?”ucap Sivia heran.
“Kenapa Vi? Tumben dari tadi lo diem aja?”ujar Cakka.
“Ngga gapapa.”jawab Sivia simple.
“Ya karena ada lo lah Cak, dia takut salting.”goda Shilla.
“Masa sih? Hahahahahahahahahahahahaha . kita kan sekarang temen. Iya gak Vi?”Cakka bersikap sebiasa mungkin.
“Hah? Emang udah ngomong?”ucap Sivia tengil.
“Yaudah kalau gamau temenan sama gue.”
“Iye iye hehehe.” Mereka pun mengobrol sekitar 1 setengah jam. Saat sadar itu sudah jam stengah 4 . dia harus segera pergi ke tempat bimbel.
“Eh gue duluan yah. Gue ada bimbel.”ujar Sivia terburu-buru sambil membenahi barang-barangnya.
“Yah Vi, cabut aja (kebiasaan penulis nih ;p)”bujuk Ify, aliran sesat memang.
“Nenek lo cabut. Minggu depan UN gini.”protes Sivia sambil memakai sepatu.
“Hahahahahaha. Mau dianter gak Vi?”tawar Shilla sperti memberi kode kepada Iyel.
“Mau sih, tapi ama siapa?”Tanya Sivia yang sebenrnya ngarep Iyel mau nganterin.
“Tuh sama si Iyel aja.”celutuk Cakka , Via langsung nengok kearah Cakka dan Iyel.
“Mending mau.”lirih Via.
“Yaudah deh amal nganterin anak orang.”ujar Iyel ngegoda Via.
“Kalo gak ikhlas gak usah.”ucap Via sambil berjalan keluar rumah Cakka.
“Semuanya gue duluan yah. Cakka, bye!”ucap Sivia pamit dia berharap Iyel menyusulnya. Ketika Via sudah mulai jauh, semua teman-temannya membujuk Iyel.
“Buruan Yel nanti keburu jauh!”ujar semuanya kompak. Akhirnya Iyel menyusul Via dengan motor ninjanya.
“Heh buruan naik.”ucap Iyel saat ketemu Via di pinggir jalan lagi nunggu angkot.
“Ogah.”ujar Via jutek.
“Ye ngeyel ni anak. Ampe Gus Dur bangkit dari kubur juga gak akan ada angkot.”ujar Iyel yang masih membuntuti Via.
“Yaudah deh.”Via pun langsung naik, “dari pada gue telat.”batin Via.
“Dari tadi kek Neng. Lo bimbel dimana?”
“Di PG depan PDAM (promosi tempat ;p)”jelas Via.
“Oke capcus!”Iyel langsung membawa motornya ke tempat bimbel Via, akhirnya mereka pun sampai.
“Thanks Yel.”ujar Via sambil turun dari motor Iyel.
“Oke. Eh Diary lo kok keliatannya kosong. Keliatannya bukan kenyataannya.”ujar Iyel.
“Lo gak ngintip kan?”selidik Sivia.
“Kagak Vi ampun dah.”ujar Iyel meyakinkan “bego deh gue bahas ini segala.”batin Iyel
“Oke. Gue males nulis begituan haha. Gue masuk yah. Nye. Thanks loh Yel tumpangannya.”Sivia pun langsung masuk ke dalam ruko tempat bimbelnya itu. Tak lama ia keluar lagi. Untung saja Iyel masih disitu nunggu jalan sepi buat ngeluarin motornya.
“Yel gue lupa. Hari ini bimbel gue libur. Kan persiapan buat UN, mulai lagi nanti senin seminggu full.”jelas Via setelah menghampiri motor Iyel.
“Bego lo. Tau gitu gak usah cape-cape gue nganter lo.”ujar Iyel sambil bercanda.
“Tuh kan, kalo gak ikhlas kan gue bilang tadi gak usah. Lo yang maksa . wleeek!”ujar Via sambil menjulurkan lidah yang masih ada disamping motor Iyel.
“Yaudah deh. Terus sekarang kemana? Mau gue anter balik?”tawar Iyel.
“Kemana aja deh. Jangan balik dan jangan ke rumah lo lagi.”jelas Via.
“Terus kemana?”
“Kemana-mana hatiku senang.”jawab Via jayus. Iyel pun menjalankan motornya menuju sebuah tempat. Mereka pergi ke Mall, Botani Square. Iyel juga sebenerya bingung mau kemana. Karena ini Bogor, Mall pun terbatas (huhu Bogor parah yah?)
“Ngapain ke botani Yel?”Tanya Via heran.
“Abis gue bingung mau kemana lagi. Yaudah kesini aja. Temenin gue makan. Gue laper. Lo, gue traktir.”jelas Iyel yang membuat Via tersenyum genit.
“Geli gue liatny. Yuk masuk.”ucap Iyel setelah memarkirkan motornya. Tanpa sadar Iyel menggenggam tangan Sivia karena tadi ia menariknya, “Yatuhan, terapi jantung geratis ini sih.”batin Via saat menyadari tangannya di gandeng Iyel. Sebenernya Iyel tahu ia reflek menggandeng tangan Via, tapi biar gak keliatan canggung, dia pura-pura gak tau.
“Makan dimana Yel?”Tanya Via bersikap biasa.
“Maunya dimana? Hem, Superbowl aja? Apa Solaria?”tawar Iyel dengan keadaan masih menggandeng tangan Via.
“Lo yang traktir nih. Terserah lo dong.”
“Yaudah kita ke Solaria yang diatas aja.”ajak Iyel yang lagi-lgi narik tangan Via untuk naik escalator. Saat di escalator sebenernya Iyel ingin melepaskan genggaman tangnnya dari Via, tapi dia prediksi pasti nanti bakal canggung. “Mending nanti pas mau duduk aja” batin Iyel. Gak tau kenapa Sivia merasa ganggaman itu hangat. Beda dari biasanya, sehangat waktu dia sama Cakka.

No comments:

Post a Comment