Followers

Thursday, May 27, 2010

Our Life, Our Destiny, and The Best for Us :) PART 15

Rio pun mengantar Ify ke sebuah Mall untuk mencetak foto . Setelah beres mencetak foto, sambil menunggu foto itu jadi Ify dan Rio makan dulu di sebuah tempat makan yang terkenal enak. Setelah memilih di mana enaknya posisi duduk, Mereka memilih di pojok ruangan dengan alasan sepi dan bisa langsung melihat ke luar , pemandangan yang indah.
“Pesen apa Fy?”Tanya Rio saat mereka sudah duduk dan si pelayan menghampiri mereka.
“Samain aja sama kamu.”jawab Ify sambil tetap melihat keluar jendela. Rio pun menyebutkan pesanannya dan si pelayan pun pergi.
“Sekarang jam berapa?”Tanya Ify pada Rio tanpa engalihkan pandangannya ke luar jendela.
“Masih jam 2, kenapa?”jawab Rio setelah melihat jam di HP nya.
Ify mengalihkan pandangannya dari jendela menuju Rio, “Yo, kok aku pusing yah?”Tanya Ify sambil memegangi kepalanya.
Rio yang duduk di depan Ify langsung panik ,”Mau pulang atau gimana?”
Ify diam sejenak sambil terus megangin kepalanya, setelah 2 menitan dia kembali menegakkan posisi duduknya, “Udah kok udah ngga gak usah pulang.”
“Bener?”Tanya Rio memastikan, takut terjadi apa-apa sama sang kekasih.
“Ngga kok kalau sakit lagi aku lapor sama kamu.”jawab Ify sambil tersenyum , Rio pun ikut tersenyum.
“Sakit kamu gimana?”Tanya Rio yang dari dulu pengen tahu gimana kelanjutan kondisi Ify, Ify diem, nunduk, “kamu mau khemo?”tanyanya lagi.
“Kemaren aku ke dokter dan katanya aku harus khemo biar cepet sembuh.”jelas Ify sambil berusaha natap mata Rio. Seolah-olah dia pengen Rio ngebacanya aja dari matanya gak usah dia jelasin. Dia gak kuat juga kalau harus ngejelasin.
“Kalau kamu mau khemo, kasih tau aku aja aku anter kok kamu.”ucap Rio sambil tersenyum. Sebenarnya dia sedih tapi ngeliat Ify yang masih bisa senyum dia jadi gak enak sendiri.
“Iya oke.”
Tak lama pelayan datang mengantarkan pesanan mereka. Setelah beres makan mereka pun langsung ke tempat foto buat ngambil cetakan dan segera pulang.
“Assalamualaikum.”salam Ify saat baru sampai rumah, Rio ngikutin Ify di belakangnya, dia mau pamit sama Mamahnya Ify.
“Waalaikum salam.”jawab mamahnya sambil berjalan menuju ruang tamu, sudah ada Rio dan Ify yang duduk disitu, “Eh ada nak Rio.”
Rio dan Ify pun salam, “Halo tante.”sapa Rio ramah.
Mamah Ify senyum, “Fy tadi mamah udah nemuin dokter Danang minta surat keterangan sehat sekalian tadi katanya kamu bisa mulai khemo mulai hari ini. Jam 4 sampai jam setengah 6, setiap hari selasa sama sabtu, kamu bisa kan nanti kesana sendiri?”ucap Mamah Ify yang sekarang duduk di hadapan Ify dan Rio.
“Biar saya aja tante yang nganterin Ify.”tawar Rio tulus. Ify masih diem aja.
“Ngga deh tante takut ngerepotin.”tolak Mamahnya halus.
“Ngga kok tante sama sekali ngga.”
“Yaudah tante nitip Ify yah Nak Rio. Kamu bisa pulang dulu nanti jam setengah 4 bisa jemput Ify buat khemo?”
“Siap tante. Aku pulang dulu yah.”pamit Rio sambil berdiri diikuti Mamah Ify dan Ify.
“Oh iyah, makasih yah Rio, tante masuk yah.”ucap mamah Ify sambil melangkahkan kaki masuk ke dapur. Ify sama Rio beriringan jalan ke teras rumah.
“Siap-siap yah nanti sejam lagi aku jemput kamu.”ucap Rio sambil tersenyum ke arah Ify sambil mamakai helmnya yang sudah duuk di atas motornya.
“Oke.”jawab Ify sambil hormat.
“Dadaaaaaaaaah!”pamit Rio. Rio pun melajukan kendaraannya. Ify masih memperhatikan Rio yang cuman terlihat punggungnya saja, “makasih yah Yo.”ucap Ify lirih.

***

Riko yang udah gereget sama Shilla pengen banget buat nembak Shilla, apa lagi Shilla yang udah ngasih sinyal positive kalau di deketin sama dia. Tapi dia masih belum siap buat jadian sama Shilla, yah karena penyakitnya. Padahal selama ini dia gak mau nyampurin hal pribadinya dengan penyakitnya ini. Akhirnya Riko ngajak Shilla ke Mall buat main game sebentar. Alasan Riko pengen ngajak Shilla ‘ udah lama gak main game’. Akhirnya Shilla pun meng-iyakan. Dan tak kurang dari setengah jam Riko menjemput Shilla dan mereka segera ke Mall.
“Langsung ke timezone (promosi ---“ ) ajah ya.”ucap Riko saat mereka sudah memasuki pintu masuk Mall.
“Gue ngikut aja deh.”jawab Shilla sambil tersentum ke arah Riko.
Riko dan Shilla pun langsung ke tempat permainan. Mereka membeli tiket dan bermain macam permainan yang gak bisa penulis jabarkan satu satu hehe. Intinya mereka seneng banget. Mereka main dari jam 2 hingga sekarang jam telah menunjukan pukul 5. Setelah puas main mereka minum dulu di café karena capek. Lalu mereka pun pulang.

***

Rio datang ke rumah Ify on time jam setengah 4. dia sama Ify pamit dulu ke Mamah Ify. Setelah itu mereka langsung ke rumah sakit. Ify pun langsung khemo. Rio ngeliatin Ify yang kadang kesakitan ngejalanin khemo. Dia terus ngasih semangat ke Ify. Terlihat Ify menahan sakitnya karena melihat senyuman Rio saat menyemangatinya.
Setelah sekitar setengah jam khemo berlalu, Ify dan Rio pun pulang. Rio langsung ngnterin Ify ke rumahnya dengan selamat sentausa mnegantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaannya (hah loh kok jadi UUD?).

***
Keesokan harinya Sivia bangun kesiangan. Padahal semalem dia tidur jam 8. karena nyenyak jadi lupa waktu. Walau waktu udah mepet banget, tetep aja bangun tidur dia harus nyapu dulu, kalau ngga, di semprot sama Mamah Tirinya. Sivia langsung nyapu semua bagian di rumah, kecuali kamar Mamahnya dan teras. Yah karena Via buru-buru. Sesudah itu dia langsung mandi dan segera siap-siap. Setelah siap dia langsung kebawah (kamar Via diatas). Gak lupa dia bawa berkas buat persyaratan RSBI.
“Kamu nyapu gak sih?”Tanya Mamahnya saat Via baru turun dari tangga dan duduk di meja depan TV
“Nyapu kok mah. Kenapa?”Tanya Via polos sambil memakai kaus kaki.
“Mending gak usah deh percuma kamu nyapu juga gak pernah bener. Teras gak kamu sapu. Kamu jadi anak cewek sama sekali gak bisa diandelin.”ucap Mamahnya dengan muka marah-marah sambil berlalu. Dia gamau ambil pusing, dia langsung pergi ke sekolah tanpa pamitan, dia cuma pamit sama Papahnya.
“Kenapa Vi?”Tanya Shila saat Via baru dateng mukanya udah ditekuk. Via naro tas dan gak meenjawab pertanyaan Shilla, dia malah menidurkan kepalanya di meja. Dia nangis, mukanya dia benamkan diantara kedua tangannya . Gak lama Ify datang.
“Via kenapa?”Tanya Ify pada Shilla saat dia baru naro tas di mejanya yang sebelahan sama Via, Shilla cuma angkat bahu.
“Vi, lo kenapa?”tanya Ify sambil ngelus rabut Via.
Via masih nunduk sambil ngelap air matanya,”Ngga kok gak apa-apa.”jawabnya sambil berusaha buat negakin wajahnya, tapi bekas nangis nya keliatan banget. Di meja pun basah sama air mata Via. Via nangis gara-gara ibunya, hari ini hari kedua buat daftar RSBI, dan berarti tinggal 2 hari lagi, kalau ibunya marah, gimana mau daftar? “emang udah gak peduli kan mereka sama gue.”batin Via dari tadi merutuki dirinya sendiri.
“Jangan bohong,”sanggah Shilla “meja basah, mata lo juga merah.”
“Ngga kok gak apa-apa.”jawab Via masih nyembunyiin semuanya. Ify sama Shilla gak maksa, paling nanti dia juga cerita.
“Kalau ada apa-apa, langsung cerita sama kita yah.”ucap Ify yang sebenarnya khawatir sama Via.
“Iya oke.”jawab Via berusaha tersenyum sambil mengangkat jempolnya.”Fy, nanti gue ke rumah lo ya.”
“Gue ikut dong.”ujar Shilla nimbrung dengan muka mupeng.
“Oke deh.”ucap Ify sambil mengacungkan jempol.
Bell pun berbunyi lalu mereka langsung ujian praktek. Jadwal praktek di kelas Ify hari ini English Conversation dan Fisika. Tapi yang pertama Fisika. Bu Ucie pun memasuki kelas. Seluruh murid langsung diam dan mengikuti pelajaran. Mereka langsung melaksanakan ujian praktek mereka, yaitu tentang listrik.
Bell tanda istirahat pun berbunyi. Tepat sekali ketika ujian praktek selesai. Murid-murid kelas 9 pun langsung menyerbu kantin dengan perut lapar.
“Gue ke toilet dulu yah.”ucap Via sambil melangkah meninggalkan kelas. Shilla sama Ify lagi beresin buku.
“Gue ikut dong Vi.”ucap Ify yang langsung lari nyusul Via.
“Lo gak ikut Shil?”Tanya Via sambil melongokan (ahelah ni bahasa) kepalanya kedalam kelas.
“Gue harus ngembaliin buku sama peralatan yang di meja bu Ucie dulu ke lab.”jawab Shilla yang masih sibuk membenahi peralatan bekas praktek. Dia memang sekertaris kelas. “nanti gue langsung ke kantin aja.” Mendengar itu Sivia dan Ify langsung ke toilet. Riko yang dari tadi lagi asik ngobrol sama Sion dikelas ngeliat Shilla kerepotan benahin peralatan habis praktek, terlebih barang-barangnya yang berat.
“Sini gue bantu.”tawar Riko yang sekarang udah diri di sebelah Shilla sambil bawa barang-barang yang nggak kebawa sama Shilla.
“Thankyou Ko.”jawab Shilla yang emang lagi butuh bantuan. Mereka pun langsung ke lab Fisika. Selama perjalanan (ceileh) ke lab , Shilla sama Riko diem-dieman. Gak kayak di chat yang biasanya mereka cerewet banget. Setelah itu mereka langsung ke kantin. Udah terlihat ada Ify yang dirangkul sama Rio dan Iel yang lagi adu mulut sama Via.
“Lo tuh rese banget sih Yel udah tau gue gak suka pedes kenapa malah dikasih sambel.”omel Via sambil melotot ke Iel yang bikin Iel ketawa. Ify sama Rio cuma cekikikan “malah ketawa lagi!.”
“Gue kan udah bilang sorry Viaaaaa gue gak tau kalau ternyata itu bakso lo! Gue kira itu bakso gue! Lagian tadi tahunya ketutup bihun jadi gak keliatan.”jelas Iel sambil nahan ketawa gara-gara Via melotot. Shilla sama Riko yang baru gabung cuma nontonin aja.
“Gue itu pesennya tahu putih!”ujar Via sambil nusuk tahu putih di mangkok yang ada di depan Iel dengan garpuhnya.”Bukan tahu coklat!”lanjutnya sambil nunjuk tahu coklat di dalam mangkok depan Sivia dengan telunjuknya. “Gak bisa ngebedain yah?”
“Ih rame banget sih cuma masalah bakso doang.”ucap Riko yang rada risih sama hal sepele ini.
“Hueee Riko ini itu BAKSO paling enak di dunia. Dan ni mangkok terkahhirrrrrrrrrrrrrrrr!.”jelas Via sambil geregetan ke arah Riko.
“Beli lagi aja susah amat. Gue beliin deh.”ceplos Riko ga sadar ama apa yang diomongin.
“Gue juga beliin!”ucap Ify, Rio, dan Iel barengan.
“Kan udah abis baksonyaaaaaaaaaaaaaa!”ucap Via masih jengkel.
“Yaudah besok ya Ko?”ucap Iel dengan tatapan merayu.
“Yah nasib gara-gara salah ngomong.”ujar Riko sambil garuk-garuk kepala.”iya besok gue traktir deh.”
“Umm maacih liko.”jawab Rio sok imut yang duduk di depan Riko sambil nyubitin pipi Riko.
“Jiji banget sih Yo.”keluh Riko sambil ngelap pipinya. Mereka cuma cekikikan”lo punya cowo diragukan nih Fy.”
“Wah Rikoooooo…….”
Mereka semua pun melanjutkan makannya. Iel sih makan bakso yang tadi dia pesen, sedangkan yang Via pesen? Malah dicomotin sama Rio, Rio, Ify dan Shilla. Mereka rebutan buat makan bakso yang masih penuh itu.
“Enak banget dah kalian gue yang beli kalian yang makan.”rengek Via yang cuma minum susu ultra nya.
“Mubazir Vi.”celetuk Shilla yang masih ngunyah bakso dan dianggukan oleh semuanya.
“Gue bagi deh Yel.”ucap Via polos yang langsung nusukin bakso di mangkok Iel dengan garpu, “bakso lo gak pake sambel kan?”tanyanya lagi sebelum menyuap bakso itu, Iel cuma bengong.
“Belum kok.”jawab Iel masih bengong,”Enak banget lo asal ngambil……”lanjutnya yang udah sadar.
“Yaelah Yel tibang satu bakso doang.”jawab Via yang udah nyuapin bakso ke dalam mulutnya. Iel cuma melengos dan lanjutkan makan. Riko, Shilla, Ify, Rio masih makanin bakso yang dibeli Via tadi.
Bell istirahat berbunyi. Mereka langung masuk kelas. Setelah melewati ujian praktek akhirnya mereka pun pulang.
“Jadi kerumah lo kan?”Tanya Shilla yang lagi benerin posisi tasnya.
“Jadi aja kalau pada jadi.”jawab Ify. Mereka pun langsung keluar kelas menuju gerbang sekolah buat nyari angkot.
“Fy bareng gak?”Tanya Rio yang baru aja nyampe depan kelas Ify.
“Mereka mau ke rumah aku hehe.”jawab Ify sambil melirik kedua sahabatnya sambil nyengir. Via sama Shilla malah unjuk gigi (senyum maksudnya)
“Oh yaudah ati-ati yah.”nasihat Rio sambil acak-acakin rambut Ify dan berlalu.
Ify Shilla dan Via langsung menuju ke rumah Ify. Sesampainya disana mereka langsung ngobrolin segala macem tetek begek yang males penulis jabarin hehehehe. Mereka juga ditawarin makan dan akhirnya makan bareng.
“Sepupu lo yang waktu itu kemana Fy?”Tanya Via saat mereka udah beres makan.
“Main sama Ozy paling.”jawab Ify sambil tiduran di kasurnya, “kenapa Vi? Naksir? Udah ada Iel juga.”godanya.
“Kok Iel?”Via pura-pura bingung.
Shilla ngedeketin Via dan tiduran di sebelahnya,”Gimana lo sama Iel? Berjalan lancar?”Tanya Shilla dengan tatapan ayolah-cerita-males-gue-bujuk-lo .
“Kok jadi ngomongin Iel?”Via mulai gak nyaman sama temen-temennya yang mulai ngejodoh-jodohin dia sama Iel.
“Cerita dong ama kita.”pinta Ify yang masih tiduran disebelah Via.
“Ya masih biasa aja sih. Tapi gue suka curhat ke dia dan dia enak diajak curhat dan anaknya pengertian banget.”jawab Via seadanya.
“Lo gak suka SMS-an atau chat gitu sama dia?”Tanya Shilla lagi yang gak percaya masa ia PDKT cuma gitu aja.
“Gue kan udah bilang, kita gak PDKT.”
Tiba-tiba HP shilla bunyi menandakan ada SMS.
“Fy gue balik yah. Udah dicariin sama nyokap.”jelas Shilla setelah membaca SMS nya, “lo mau balik bareng gak ama gue?”
“Gue gak mau balik.”ujar Via tiba-tiba. Inilah tujuan utama dia ke rumah Ify, gak mau pulang.
“Kenapa Vi?”Tanya Ify bingung , ‘pasti ada hubungannya sama tadi pagi’batinnya.
“Ngga mau!”ucap Via dengan nada sedikit tinggi.
Shilla kaget, dia ngelus pundak Via, “kalau orang tua lo nyariin gimana Vi?”
“Bodo amat.”jawabnya yang mulai kesel ditanyain masalah ini.
‘Gue sms Iel deh suruh jemput Via, biar di nasehatin’batin Ify. Dia langsung ngetik SMS

To : Gabriel S Damanik

K rumah gw sekarang! Via gamau balik dr rmh gw

SEND

“Ayo dong Via jangan kayak anak kecil gini.”bujuk Shilla walau dia masih belum tau penyebab Via kayak gini.
Via mulai nangis, “gue gak mau dirumah,”rintihnya. Dia meluk lututnya.
“Kenapa Vi? Cerita sama kita.”pinta Ify sambil mengusap halus rambut Via yang terurai panjang.
“Gue gak mau dirumah. Gue gak mau pulang. Gue takut pulang.”rintihnya, suaranya semakin kecil, tetapi masih terdengar jelas.
“Kenapa Vi?”pinta Shilla dengan lembut, dia gak sabar biar Via ngejelasin semuanya.
“Nyokap, bokap, kaka, udah gak ada yang peduli sama gue.”ucapnya to-the-point tapi ngena banget.
“Jangan ngomong gitu ah Vi.”ucap Ify, “semua sayang kok sama lo.”
Tak lama si Mbo, pembantu Ify manggil Ify bilang ada Iel. Via langsung bingung.
“Iel?”Tanya Via bingung yang langsung mengangkat wajahnya, bingung mendengar perkataan Mbok tadi.”ngapain Iel kesini Fy?”
“Tadi gue SMS dia biar dia ngebujuk lo buat pulang.”ucap ify lirih lalu menunduk.
Tak lama Iel udah ada di depan kamar Ify, kamar Ify pintunya emang kebuka.
“Lo kenapa Vi?”Tanya Iel yang kaget ngeliat Via matanya merah.
“Gue ceritain ditaman. Anterin gue balik.”jawab Via yang langsung menyambar tasnya, “gue balik yah Fy, Shil, thanks.”pamitnya lalu menarik tangan Iel langsung ke motornya. Iel cuma nurut dan langsung ngebawa Via ke taman. Via sendiri gak tau kenapa dia ngelakuin ini. Tapi dia udah bener-bener pengen cuhat masalah ini.
“Lo kenapa Vi?”Tanya Iel yang ngeliat Via udah nangis. Mereka sekarang duduk di taman, dirumput yang tebal.
“Gue cape Yel.”jawab Via masih nangis.
“Coba cerita sama gue.”pinta Iel, “lo sendiri kan bilang kalau ada apa-apa lo pasti langsung bilang ke gue.”
“Nyokap gue pagi-pagi udah marah aja sama gue cuma karena gue gak nyapu teras, sepele gak sih? Hari ini udah hari ke 2 pendaftaran RSBI dan berarti tinggal 2 hari lagi pendaftaran dibuka. Dan nyokap gue? Apa dia tau? Ngga Yel, bahkan mungkin dia gak mau cuma sekedar ngedaftarin gue.”cerita Via lirih. Iel reflek ngelus punggung Via lembut.
“Terus kenapa lo gak mau balik?”
“Gue takut buat nerima semua keadaan di rumah. Selama ini gue tahan semuanya. Gue pribadi ngerasa terasingkan kalau semua lagi ngumpul. Kadang mereka kesayikan ngobrol bahkan mereka lupa ada gue disitu. Gue makin nganggep kalau gue bener-bener gak dibutuhin Yel.”
“Menghindar bukan jalan yang terbaik loh Vi.”nasihat Iel yang sekarang menatap secara horizontal ke depan. “Lo gak balik ke rumah malah tambah bikin masalah. Mereka pasti nyariin lo Vi. Mereka sayang sama lo. Mereka peduli sama lo. Mereka khawatir sama lo. Mungkin mereka malahan bakal tambah marah kalu lo gak balik.”nasihatnya lagi.
“Kalau mereka sayang sama gue kenapa mereka gak pernah nanyain tentang sekolah gue Yel? Kalau mereka peduli sama gue kenapa mereka gak nanya saat gue sedih? Kalau mereka khawatir sama gue kenapa mereka gak penah nyariin gue kalau gue balik telat. Yang ada mereka cuma marah-marah kalau gue ngelakuin kesalahan. Gue masih remaja Yel, gue butuh bimbingan, mereka gak pernah ngebimbing gue. Mereka cuma pengen tau beres.”tangis Via meledak. Dia berhasil ngeluarin smua unek-uneknya yang dari dulu selalu dia kunci rapat-rapat di kotak dalam hatinya.
Tanpa sadar Iel meluk Via. Dia gak kuat ngeliat Via nangis segini histerisnya. Via juga balik meluk Iel, “gue cape Yel………”lanjut Via dipelukan Iel.
“Gue tau lo kuat Vi. Gue tau lo bisa ngadepin semuanya. Orang tua lo mungkin nunjukin cara mereka sayang sama lo dengan cara yang beda.”ucap Iel yang udah ngelepasin Via dari peluknya, dia pegang bahu Via kuat-kuat, “Tuhan gak muungkin ngasih kita cobaan diluar kendali kita Via. Lo salah satu orang yang Tuhan pilih buat ngejalanin cobaannya. Positive thinking yah Vi. Gue selalu ada buat lo.”lanjutnya sambil tersenyum.
Via menegadah mukanya lalu mengelap air matanya, “thanks yah Yel.”
“Balik yuk? Orang tua lo pasti nyariin lo.”ajak Iel. Via mengangguk dan langsung ke arah motor Iel buat pulang.

No comments:

Post a Comment