Followers

Thursday, May 27, 2010

Diary Sivia season 2

10 April 2009.
Aku lagi pengen ngebahas Alvin nih. Cukup lancangkah aku mencintainya? Mencintai seorang lelaki yang kutahu jelas sudah dimiliki seorang wanita? Mencintai seseorang yang menganggapku sebagai sahabat terbaiknya? Aku sendiri tak tahu mengapa Tuhan lagi-lagi memberiku cobaan begitu berat. Cobaan yang aku terlalu ragu untuk menjalaninya. Tuhan memberiku ‘sesuatu’ yang terlalu ‘wah’ karena aku sendiri belum yakin dengan perasaan ini. Anugrah yang terlalu berat untuk aku pikul. Sungguh aku tak pantas mendapat anugrah ini bahwa kenyataan hidupku tak lama lagi. Aku hanya ingin meminta kepada Tuhan, biat penyakit ini menjalari tubuhku, tapi hilangkangkanlah anugrah ini sebelum menjalari tubuhku lebih jauh. Perasaan ini lebih menyakitkan dari penyakit laknat ini.

***

30 April 2009

Dy maaf yah kamu lama aku tinggalin. Dy tau gak? Hari ini tepat 15 tahun aku sama Alvin nentuin hari persahabatan kita. Biasanya kita selelu ngerayain itu walau cuma jalan benataran. Tapi……… kali ini ngga. Tadi pagi padahal udah kita siapin, tapinya Ify ngajak Alvin jalan. Jadilah Alvin jalan sama Ify. Serius aku gak munafik aku benci sama Ify kalau gini caranya! Gue udah nyoba ikhlas ngerelain Alvin buat Ify, tapi apa ia aku gak boleh jalan sama Alvin lagi. Aku nangis Dy waktu itu. Terlebih waktu abis kejadian Alvin ninggalin aku, aku pingsan karena penyakit laknat itu. Untung ada Irsyad disitu yang langsung nelfonin mamah buat jemput aku. Tapi apa? Apa Alvin peduli saat aku baru ngalamin masa kritis gini? Oke aku koma cuma buat 4 jam, tapi waktu Alvin dikasih tau sama mamah kenapa dia gak nengokin aku malah tetep jalan sama ify? Untung ada iel yang nemenin aku dari tadi. Dia belum tau penyakit aku. Dia kira magh ku kambuh. Aduh Dy, udahan yah, darahnya keluar terus dari idung, jadi aja halaman kamu penuh darah. Aku nulis ini di rumah sakit nih besok pagi juga aku pulang hihi


***

“Vin hari ini jadi jalan kan? Ke café tempat biasa.”ujar Via setelah ia menghampiri Alvin di depan kelasnya. Alvin terlihat bimbang.
“Sorry Vi gue gakbisa.”ujar Alvin ragu, dia tak berani menatap mata Via karena dia merasa bersalah.
Tiba-tiba penyakit Via kambuh, rasanya sakit. Sangat sakit. Ia tahu bagaimana rekasi Alvin jika mengetahui apalagi reaksi yang ia keluarkan saat menahan sakit,”kena…pa Vin?”Tanya Via terbata menahan sakit.
“Gue mau cabut sama Ify, gak apa-apa kan?”Tanya Alvin tak enak hati. Via tersenyum miris.
“Gak apa-apa. Udah sana kasian Ify kayanya nunggu lo di parkiran deh.”jawab Via yang sebenarnya ingin Alvin segera meninggalkan dia.
“Maaf banget yah Vi.”pinta Alvin sekali lagi. Via mengangguk dan tersenyum sambil mendorong Alvin untuk segera pergi. Ketika terlihat Alvin sudah tak ada dari pandangannya. Dia terkulai lemas di bangku yang tadi Alvin duduki. Ia membiarkan darah mengalir dari hidungnya, lalu….dia pingsan. Untung Irsyad masih ada disekolah untuk mengurus futsal. Ia langsung meraih HP Via dan segera menelepon Mamah Via. Sekitar 10 menit kemudian Mamah Via datang dan membawa anak gadisnya itu ke rumah sakit. Waktu sudah menunjukan jam 6, sudah 3 jam Via koma. Tapi dia belum sadarkan diri. Kata dokter ini akibat terlalu banyak fikiran, bukan kelelahan fisik. Tak lama Via sadar.
“Mah.”ucap Via lirih memandangi seluruh penjuru kamarnya. Mamahnya yang sedari tadi menangisi Via langsung menghapus air mata dan segera tersenyum.
“Kamu udah sadar sayang?”Tanya Mamahnya yangtak bisa menyembunyikan rasa bahagia, Via mengangguk kecil diiringi senyuman tipis. “Sakit?”Tanya Mamahnya lagi. Via menggeleng.
“Mah telfonin Iel sama Alvin dong, Via bosen disini sendirian, Via pengen sama mereka disisa hidup Via.”ucap Via lirih. Mamahnya tambah menangis. Diraihnya HP Via yang tergoler disamping ranjang. Dicarinya kontak Alvin lalu langsung memencet tombol hijau. Sengaja tidak di loudspeaker karena Mamahnya masih menjaga privacy anaknya. Ia mendekatkan HP Via kearah telinganya.
“Halo Vin.”ucap Via dengan suara bergemetar setelah telefonnya diterima oleh Alvin.
“Kenapa Fy?”Tanya Alvin yang sebenarnya masih bersama Ify disebuah Mall. Tapi dia sengaja menjauh dulu dari tempatnya duduk bersama Ify
“Lo bisa nemenin gue ga? Gue dirumah sakit.”ujar Via langsung. Alvin mendengar itu langsung panik.
“Lo sakit apa Vi?”Tanya Alvin. Terdapat nada kekhawatiran. Via tersenyum mendapati Alvin mengkhawatirkannya.
“Cuma magh gue kambuh. Lo bisa kesini. Gue bosen.”pinta Via lagi dengan nada manja. Alvin melirik ke arah Ify yang sangat menikmati suasana mereka yang sedang berduaan. Bukan hal baru karena hampir setiap hari mereka selalu jalan. “Lo lagi sama Ify yah?”tebak Via, padahal hatinya ingin mendengar jawaban tidak.
“Iya Vi, sorry ya.”jawab Alvin, kedua kalinya dalam hari ini ia merasa tidak enak pada Via.
“Sorry Vi gue gak bisa nemenin lo padahal lo lagi dirawat. Padahal gue sama dia sering banget jalan tapi…..”
Via memutus ucapan Alvin,”Gue ngerti kok. Temenin Ify yah.”ujarnya lembut dengan suara lemas.
“Maaf yah Vi, gue gak bisa jauh-jauh sama Ify.”ujarnya. seketika Via langsung menggeleng dan membuat Mamahnya memencet tombol merah, mengakhiri telepon.
“Mamah ke kantin dulu ya, kamu gak apa-apa ditinggal?”Tanya Mamahnya yang memang belum makan dari tadi karena sibuk menangisi Via. Via menggeleng.”Mamah makan dulu aja. Tapi tolong sms ini Iel suruh kesini yah.”jawabnya. Mamah nya pun pergi meninggalkan Via.
Setelah Mamahnya menutup kenop pintu Via menangis. Menangis sejadi-jadinya. Alvin lebih memilih Ify dari pada dia. Saat sedang berusaha tersenyum kembali, pintu kamar Via diketuk oleh seseorang.
“Masuk”teriak Via. Si orang itupun masuk ke dalam ruangan dan tercengang melihat kondisi Via.
“Lo sakit apa Vi?”Tanya si pria yang sekarang sudah berdiri di sebelah ranjang Via.
“Magh gue kronis Yel, jadi ya gini.”alasan Via. Dia menutupinya. Untung Iel percaya.
“Alvin sama Ify gak kesini?”Tanya Iel yang melihat Via sendirian.
“Mereka lagi pacaran. Hahaha.”jawab Via dengan tawanya yang miris. Iel ikutan tertawa padahal ia sadar tawa Via dipaksakan. Tak lama Mamah Via pun datang dan akhirnya mereka bertiga mengobrol sampai jam setengah 9 malam Iel memutuskan untuk pamitan.

***
Masih terlihat jelas bekas darah di halaman itu. Warnanya merah pudar. Mungkin karena sudah lumayan lama. Alvin sekali lagi mengeluarkan air hangat dari balik matanya karena menyesali apa yang telah ia lakukan pada sahabatnya itu. Tapi…apakah perlu penyesalan itu jika semua sudah benar-benar terlambat?

8 Mei 2009.

HOW FUCK LIFE IS MY DIARY!!!!!!!!!. Lagi-lagi tadinya aku udah mau jalan sama Alvin . dia janji mau nganterin aku buat beli komik dan dia juga seneng banget pas aku tawarin karena dia mau beli komik juga. Tapi gara-gara Ify semuanya gagal! Well, aku jadi benci sama dia Dy, gak tau kenapa. Mungkin karena pas banget tiap aku punya rencana sama Alvin dia selalu aja dateng dan Alvin lebih milih sama dia dibanding ama ak Dyyyyyyyyyyyyyyyyy! Tapi aku gak berhak benci! Please God make me understand that Ify is Alvin’s girlfriend. Udah udah aku gak boleh benci sama dia karena dia ga salah! Emang Ify kan pacar Alvin. Iyakan? Jadi Alvin pengen ngelakuin yang terbaik buat Ify, iyatoh? toh kalau Alvin ada apa-apa juga Ify yang selalu ada buat dia bukan aku -sekarang, kalau dulu ya aku-. Tapi tadi pas di taman tiba-tiba Iel dateng Dy dan nyanyiin lagu buat aku. Ngena banget deh lagunya. Dia nyanyi sambil ngegitar. Pas banget kan? Kayaknya pas aku lari ke taman dia liat terus langsung ngambil gitar buat ngehibur aku *weleh aku PD banget yah Dy? Aku nangis dibahu dia. Untung dia gak nanya kenapa aku nangis. Iel emang sahabat yang teopebegete deh.

***

Via langsung bersiap-siap untuk pergi ketika melihat jam dindingnya sudah menunjukan pukul 13.12 . hari ini hari Minggu. Dia sudah janjian sama Alvin buat pergi ke Gramedia. Udah lumayan lama mereka gak jalan berdua -sebagai sahabat, pastinya. Setelah siap dia langsung kerumah Alvin yang notabene sebelah rumahnya. Diketuknya pintu rumah Alvin, tak lama Alvin keluar dengan wajah penuh penyesalan.
“Udah siap Vin?”Tanya Via tanpa aba-aba. Wajah Via terlihat ceria. Dia rindu hang out bersama sahabatnya satu ini.
“Sorry Vi, gue mau nganterin……”belum selesai Alvin berbicara sudah muncul Ify dari dalam rumah Alvin. Via menatap heran.
“Sorry banget yah Vi gue minta anter Alvin buat milihin kado buat Kaka gue, gak apa-apa kan Vi?”jelas Ify akhirnya dengan wajah penuh memelas, ‘dia lagi dia lagi huuuuuh sabar Vi’
“Oh. Iya gak apa-apa kok.”jawab Via sok kuat padahal hatinya ingin memberontak.
“Beneran gak apa-apa?”Tanya Alvin memastikan keadaan sahabat tersayangnya itu.
“Ya gak apa-apa lah. Kita kan jalan bisa nanti-nanti Vin.”ujar Via santai dimulut tak santai dihati.
“Kalo lo mau lo ikut aja Vi, kita jalan bertiga, gimana?”tawar Ify polos. Va mengernyitkan dahi. Alvin menatap Ify heran. Ify tidak bereaksi.
“Ngga gak usah. Udah yah gue duluan gue ke mau kerumah Ozy aja tadi dia minta gue temenin di rumahnya.”ucap Via beralasan. Ozy sepupu Via yang rumahnya sebelahan dengan rumah Iel.
“Maaf banget yah Vi gue jadi gak enak.”kata Alvin lagi sambil menepuk bahu Via.
Via tersenyum, rasanya Alvin telah memberi semangat pada Via saat dia menepuk bahunya , “Oke no problem. Bye.” Via melangkahkan kaki keluar rumah Alvin dan langsung menuju taman. Dijalan dia menahan tagisnya. Masa iya dia harus menangs dijalan seperti ini? Bisa dianggap orang gila dia. Dia berlari menuju taman. Tak kuat untuk lebih lama lagi membendung air mata ini. Setibanya ditaman dia langsung duduk di bawah pohon, padahal disitu ada kursi tapi ia memilik duduk dirumput.
Ia menangis. Menangis sejadi-jadinya. Semua yang ada dibemak ia keluarkan, tapi hasilnya, air mata yang keluar hanya 2 tetes. Ia berfikir terlalu picik menangis diatas kesenangan orang lain. Eh tapi hey? Bukankan terbalik? Terlalu picik jika kita bersenang di atas penderitaan orang? Begitukan? Tidak untuk Via. Dia harus ikutan senang pada sahabatnya walau hatinya meringis meminta ampun. Dia sekarang hanya melamun sambil bergumam yang tak jelas. Ia mencoba menangis lagi, tak ada air mata yang keluar. Ia takut untuk mengeluarkan air mata itu. Bimbang, itulah perasaannya. Apa yang Alvin katakan jika ia menangis sekarang ini? Tapi apa yang bisa hatinya katakan jika ia hanya menahan air mata ini? Ia merutuki dirinya sendiri, tanpa suara. Tiba-tiba seseorang dari arah belakang Via mengalunkan sebuah lagu diiringi dengan gitar.

Engkau yang sedang patah hati
Menangislah dan jangan ragu ungkapkan
Betapa pedih hati yang tersakiti
Racun yang membunuhmu secara perlahan
Engkau yang saat ini pilu
Betapa menanggung beban kepedihan
Tumpahkan sakit itu dalam tangismu
Yang menusuk relung hati yang paling dalam
Hanya diri sendiri yang tak mungkin orang lain akan mengerti
Disini ku temani kau dalam tangismu bila air mata dapat cairkan hati
Kan kucabut duri perih dalam hatimu
Agar ku lihat senyum ditidurmu malam nanti
Anggaplah semua ini satu langkah dewasakan diri
Yang tak terpungkiri juga bagi engkau yang hatinya terluka
Di peluk nestapa bercanpur derita
Seiring saat keringnya air mata
Tak mampu menahan pedih yang tak ada habisnya
Engkau yang sedang patah hati
(Last Child - Pedih, kalau mau download nih link nya http://4shared.com/audio/nUcwR7j6/Last_Child_-_Pedih.htm hehe sekalian promosi band kota ku wkwkwkw )
Orang itu bernyanyi seolah mengerti semua kegundahan hati Via. Via menikmati alunan musik itu. Sederhana tapi begitu menyayat. Akhirnya dia menengok pada si pelaku. Dilihatnya Iel sedang tersenyum kearahnya sambil memegang gitar. Via balas tersenyum padanya. Iel menghampiri Via dan duduk di samping Via.
“Gue gak tau jelas apa masalah lo. Tapi yang pasti kalau lo lagi nangis pasti lagi sakit hati kan? Sakit hati bukan karena cinta doang kan? Banyak kan?”Tanya Iel bertubi-tubi. Belum sempat Iel menjawab Via menyandarkan kepalanya dibahu Iel. “Nangis aja Vi, jangan ragu buat ngeluarin air mata lo. Nangis itu perlu kalau lo lagi bener-bener sedih. Jangan dipendem seterusnya. Keluarin semuanya.”lanjutnya. Iel dapat merasakan air hangat yang berjatuhan dari air mata Via. Ditengoknya Via sedang menangis. Menangis setangis-tangisnya.
“Thanks yah Yel, walaupun lo gak tau masalah gue apa.”ujar Via sembari tertawa kecil. Bukan tawa yang Iel dapat, tapi rintihan.
“Sama-sama Vi, sebagai sahabat gue harus selalu ada disamping lo lah.”jawab Iel enteng, padahal dalam hatinya ia ingin sekali menghapus air mata Via itu. Air mata yang mengotori kecantikan Via. Ia ingin menemani Via menanggung masalah ini. Ia ingin mengurangi beban Via. Tapi, siapa dia? Tak lebih dari seorang sahabat. Kurang lebih 5 menit mereka berdiam-diaman. Iel membiarkan Via menangis dulu. Sepuasnya. Sampai akhirnya Via bersuara kembali.
“Lo emang sahabat terbaik gue.”ujarnya setelah mengangkat wajahnya dan telah menghapus air matanya. Mencoba tersenyum, tapi kesan sedih malah yang terpancar.
“Bukannya Alvin?”Tanya Iel menggoda. Raut wajah Via yang tadinya mencoba tersenyum kembali lemas.
“Kalian bertiga,sama Ify, sahabat terbaik gue.”jawab Via segera. Tak ingin mendapat pertanyaan.
Iel mengangguk , “Alvin kemana Vi? Biasanya bareng mulu sama lo. Apalagi kalau lagi bertiga, gue lo dia, pasti gue dikacangin gara-gara kalian berdua mulu.”
Via nyengir, tapi kembali lemas.”Itu kan dulu beda sama sekarang.”kata Via. Dia bangkit dari duduknya disusul dengan Iel. “Gue balik yah. Thanks sekali lagi Yel.”ucapnya sabil berlalu meninggalkan Iel.
“Buat lo apa yang engga Vi.”ujar Iel lirih. Tak dapat di dengar siapapun. Dia pandangi Via dari belakang yang lama kelamaan menghilang, menjauh.
“Sorry Yel gue belum bisa ngebales perasaan lo.”batin Via.

***
13 Mei 2009.

Dy how beautiful life is! Hari ini….hari ini aku jadian sama Iel. J.A.D.I.A.N!!!!!!!!!! aku sendiri gak tau kenapa mutusin buat nerima dia sebagai pacar aku padahal jelas kalau aku cuma nganggep dia gak lebih dari sahabat aku. Perasaan lebih aku cuma buat Alvin huhu sedih banget harus ngakuin ini. Tapi ya hati nurani aku bilang apa salahnya nerima Iel toh dia baik banget sama aku? Dan aku sayang kan sama dia? Lagian gak ada alesan yang terlalu bisa menguatkan buat nolak dia. Huuuuuuuuuuu aku seneng banget deh Dy. Tapi tapiiiii Alvin ngedukung banget aku jadian. Sedikit sedih sih. Tapi buat apalah? Udah ada orang yang sayang sama aku apa perlu aku sia-siain gitu aja? Ngga kan? Dan aku mau makasih banget sama Allah, udah seminggu ini penyakit aku gak kumat seneng banget deh ihihi. Udahan yah Dy eh maaf tiap aku nulis gak pernah panjang. Thanks ^^

***

Via hari ini janjian sama Iel, hari ini hari Jum’at. Iel ngajakin Via buat ngelukis bareng di taman. Mereka emang punya hobi yang sama, yaitu ngelukis. Udah lumayan lama mereka gak ngelukis bareng, jadi ya Via ayo ayo aja waktu Iel ngajakin.
“Janjian jam setengah 4 aja yah Vi di taman.”ajak Iel ketika mereka sudah mau pulang sekolah. Alvin dan Ify berpandangan curiga. Iel yang menyadari itu angkat bicara, “kita cuma mau ngelukis bareng, iya gak Vi?”
Via mengangguk,”Emang kenapa sih kalau gue mau ngapa-ngapain sama Iel juga?”Tanya Via. Iel gelagapan. Alvin cuma cengengesan.
“Ya gak ada apa-apalah Vi.”jawab Ify.
“Yaudah yuk balik.”ajak Iel akhirnya. Seperti yang sudah-sudah, Ify dianter sama Alvin. Iel pulang sendiri naik motornya sedangkan Via bawa mobilnya. Padahal sebelum mobil Via sembuh dia selalu dianter jemput sama Iel.
Via menyiapkan peralatan lukisnya. Semua sudah lengkap. Dilihatnya jam sudah menunjukan pukul 3.25 menit. Dia pun langsung berpamitan ke Mamahnya buat ke taman. Sesampainya di taman sudah terlihat Iel yang lagi nyiapin alat lukisnya.
“Udah lama Yel?”Tanya Via dari belakang. Iel berbalik mengikuti langkah Via, lalu Via duduk disebelah Iel.
“Hem 5 menit lah.”jawab Iel enteng.
“Lo nya aja yang kecepetan.”ujar Via gak mau dibilang ngaret.
“Hehehe.”Iel nyengir.
“Eh tema nya apa nih ngelukisnya?”Tanya Via sembari mengeluarkan alat lukisnya.
“Kita kan belum pernah Vi ngelukis wajah, apalagi gak ada sketsa nya, gimana kalau kita ngelukis wajah seseorang yang paling kita sayang? Pasti paling diinget kan tuh?”ceroscos Iel, Via manggut-manggut mengerti.
“Oke. Kita misah yah. Gua disini lo di bangku.”jawabnya sambil menunjuk bangku yang berjarak 3 meter darinya. Via emang gak mau kalau lagi ngelukis dilihatin.
“Sip.”Iel pun memindahkan barangnya. Mereka berkutat dengan lukisan mereka masing-masing. Berfikir keras mengingat setiap lekuk wajah sang objek yang tak ada dihadapan mereka. Sejam kemudian mereka telah selesai.
“Selesai.”sorak Iel dan Via bersamaan. Mereka berpandangan sesaat lalu tertawa.
“Hahaha bareng.”ujar Via. Iel mengangguk dan menghampiri Via dengan keadaan menutupi lukisannya.
“Lo duluan dong Yel yang nunjukin lukisannya.”bujuk Via udah penasaran sama hasil lukisan Iel. Diintipnya lagi hasil karyanya, ‘lumayan’gumannya dalam hati.
“Ladies first dong.”ujar Iel. Alasan saja!
“Yaudah deh nih gue liatin.”jawab Via. Dia memperlihatkan lukisannya kepada Iel, tak jauh yang Via lukis adalah Mamahnya sendiri. “Nyokap gue. Pahlawan gue.”lanjutnya.
Iel menatap Via heran,”alesannya apa lo ngelukis nyokap lo?”
“Ya karena dia pahlawan gue, gimana sih?”jawab Via lagi,”Lo dong sekarang yang nunjukin.
Dengan berat hati Iel memperlihatkan hasil lukisannya,”Maaf Vi kalau jelek.”
“Kok gue Yel?”Tanya Via gak percaya. Dia mengelus lukisan Iel.
“Ya karena gue sayang sama lo.”jawab Iel enteng. Via menatap Iel kaku. “Gue sayang banget Vi sama lo, gue tau kita cuma sahabat. Tapi perasaan gak ada yang tau. Lama-lama gue jadi sayang sama lo. Dan itu lebih dari sahabat.”tuturnya jelas. Iel menghela nafas seolah semua beban yang dari tadi menimpanya sudah hilang. Via menatap Iel seolah ingin mendapat jawaban lebih,”Gue sayang sama lo Vi, dengan berjalannya waktu gue semakin sayang sama lo dan gue sendiri gak tau apa alesan yang tepat buat semuanya.”lanjutnya seolah memperjelas keingin tahuan Via.
“Lo serius Yel?”Tanya Via. Hanya itu yang mampu ia ucapkan.
“Emang muka gue keliatan lagi bercanda?” Iel menatap Via dengan tatapan lebih dalam. Via menggeleng. “Lo mau jadi cewek gue Vi?”
Via tertegun. Berusaha menyadarkan fikirannya bahwa apa yang baru ia dengar itu nyata, ‘gue cuma nganggep lo sebatas sahabt gue Yel. Lo baik banget sama gue dan gue sayang benget sama lo. Tapi ya itu tadi, hanya sebatas sahabat. Emang belakangan semenjak Alvin sama Ify jadian lo lebih ada buat gue, tapi gue masih ragu buat nerima lo. Tapi apa setega itu gue sama sahabat gue sendiri?’ucap Via dalam hati. Dia menunduk tak berani menatap wajah Iel.
“Gak apa-apa kok Vi kalau lo nolak gue. Kita masih tetep sahabatan kan?”ujar Iel mulai pasrah. Tiba-tiba entah ada anugrah dari mana Via mengangguk dan berkata, “iya, gue mau jadi cewek lo.” ‘gue gak mungkin setega itu sama sahabat gue, dan gue ingin belajar mencintai seseorang yang udah tulus cinta sama gue’ batin Via.
“Serius vi? Kamu mau jadi cewek aku?”Tanya Iel lagi, kali ini sudah ber aku-kamu.
“Iya Iel aku mau jadi pacar kamu.”jawab Via tegas dengan senyuman di bibirnya. Dia senang melihat sahabatnya senang karenanya. Hanya itu yang ingin ia lakukan di sisa hidupnya, membuat semua orang bahagia karenanya.
“Makasih yah Vi.”ujar Iel. Via mengangguk. Lalu mereka pun bersenda gurau di taman. Via berharap semua rasa sakit yang menerpanya hilang ketika ia sedang merasakan keindahan dicinta bersama Iel.

***

Alvin tersenyum membaca diary itu. Alvin senang ketika tahu kabar bahwa Iel sudah jadian sama Via. ‘gue tau Vi Iel lebih baik dari gue’ ujarnya pelan. Dilihatnya, tinggal 4 lembar? Dan terlihat tulisan tangan itu semakin lemah. Alvin melanjutkan membacanya.

22 Mei 2009

Hey Dy mau berbagi cerita menyenangkan nih. Hari ini pertama kalinya aku jalan sama Iel berdua sebagai sepasang kekasih. Iyuuuh geli sih kalo sadar. Tapi kan itu emang kenyataan kan? Yah dikit-dikit aku harap aku bisa ngelupain Alvin dan bakalan jadi sayang sama Iel. Amin. Tadi kita makan di café gitu terus dia nyanyi dy buat aku. Dia nyanyi di sidebar café gitu uhm sosweet baget! Aku malu banget diliatin semua orang yang ada di café. Tapi aku seneng bangetttttttttt! Makasih yah Yel buat semuanya. Betewe Alvin nih, semenjak aku jadian sama Iel, Alvin makin lengket deh Dy sama Ify. Emang sih disekolah kita selalu berempat tapi tetep aja mereka lebih deket iyuh aku aja ama Iel gak kayak gitu. Ehm well aku gak suka yang lebay hahahah tapi bodo amat lah yang ada tambah sakit hati kalau mikirin perasaan aku ke Alvin. Udah ada Iel ngapain masih mikirin yang gak ada ? iyakan? Hehe thanksyou Dy eh aduh maaf yah tulisan aku jelek banget akhir-akhir ini. Aku jadi susah buat ngegerakin tangan Dy, mungkin karena penyakit aku ini kali yah. Aku udah siap kok dy buat semuanya aku cuma gak siap sama mereka yang alu tinggalin. Papai :)

***

Via sudah siap dengan pakaiannya. Dia sudah terlihat cantik. Ya, dia memang sedang menunggu Iel menjemputnya untuk pergi. Baru saja turun dari kamarnya, suara mobil Iel sudah terdengar. Dengan gesit Via membuka pintu untuk menyambut sang pangeran.
“Udah siap?”Tanya Iel ketika diabaru saja melihat Via.
Via mengangguk sebari mengulaskan senyuman, “pamit dulu sama mamah.”ajaknya. Iel mengangguk. Dia pun mengikuti Via masuk ke dalam rumahnya.
“Maaaaah.”teriak Via dari ruang tamu karena tak tahu dimana posisi sang mamah. Tak lama si Mamah datang.
“Eh ada Iel.”ucap si mamah ketika sudah di ruang tamu. Iel tersenyum dan langsung mencium punggung tangan mamah Via.
“Via nya aku pinjem dulu ya Tan.”ijin Iel. Via terkekeh.
“Iya jagain yah Via nya jangan sampai lecet.”pesan Mamahnya sembari bercanda. “Via bawa obat yah.”lanjutnya sembari mengalihkan pandang menuju Via. Via terlihat kaku.
“Obat apa Tan?”Tanya Iel curiga.
“Obat Magh Yel biasa.”jawab Via gesit. Mamahnya menghela nafas. Iel manggut-manggut. “Bentar yah aku ngambil obat dulu.”pamitnya, Via langsung berlari ke kamar untuk mengambil obat penahan rasa sakitnya dari penyakit biadab itu.
“Yuk Yel berangkat.”ajak Via setelah mengambil obat.
“Tante kita pergi yah.”ucap Iel, mamah Via mengangguk tersenyum. Via mencium pipi sang Mamah lalu mengikuti Iel menuju mobilnya.
Akhirnya mereka pun sampai di café. Mereka pun memesan makanan dan memakannya. Tak ada percakapan yang terjadi disini. Iel seperti terkagum-kagum dengan penampilan Via yang sangat simple tapi membuatnya terlihat lebih cantik dan kalem.
“Vi kamu cantik banget.”puji Iel setelah mereka baru saja meletakkan sendok dan garpu, selesai makan.
Via mengangkat wajah lalu tersenyum, “kemana aja? Baru tau yah aku cantik?”ujarnya PD sembari terkekeh. Iel melengos.
“Aku puji bukannya bilang makasih.”jawabnya sembari pura-pura marah.
“Iya iya makasih yah Iel, kamu juga ganteng kok hari ini.”ucap Via geli.
“Nah gitu dong.”ucapnya lalu tersenyum kepada Via.
“Ye muji aku taunya pengen dipuji balik. Wuuu payah.”ledek Via sembari tertawa. Iel manyun.
“Ye gak gitu juga kali.”sanggah Iel lalu mengedarkan pandang ke seluruh penjuru café. “bentar yah.”pamitnya lalu beranjak pergi menuju panggung didalam café itu. Via heran melihat apa yang akan dilakukan pacarnya itu. Iel terlihat sedang berbisik dengan pemain band di café itu lalu dia duduk sembari memangku sebuh gitar. Diahadapkannya sebuah microfone ke arah mulutnya.
“Sore semua.”ujanya sopan, semua pengunjung café berkoor ’sore’. Lalu ia melemparkan senyuman. “Disini saya mau menyanyikan sebuah lagu untuk pacar saya yang paling saya sayangi.”lajutnya lalu menatap Via yang tengah duduk sendiri di ujung café. Wajah Via terlihat merah padam, lalu ia tersenyum pada Iel, “yaitu Sivia.”lanjutnya.
Dialunkannya sebuah nada dari gitar itu. Dengan intro yang cukup indah dan disusul dengan lagu yang cukup membuat semua orang menggoyangkan kaki.
Bersamamu adalah anugrah bagiku
Aku hanya ingin kau bahagia
Sudah cukup bagiku
Tuk mengerti dirimu selalu ku harap kau bisa mengerti aku
Ingin selalu denganmu warnai hidupku untuk selamanya
Dirimu yang aku cinta dirimu yang aku sayang
Berikan aku tulus cintamu
Cintaku takkan pernah hilang
Janjiku setia padamu
Kau selalu dalam hidupku
Sudah cukup bagiku
Tuk mengerti dirimu selalu ku harap kau bisa mengerti aku
Ingin selalu denganmu warnai hidupku ku ingin slamanya bersamamu
Dirimu yang aku cinta dirimu yang aku sayang
Berikan aku tulus cintamu
Cintaku takkan pernah hilang
Janjiku setia padamu
Kau selalu dalam hidupku
(sevensoul - bersamamu )
Bukan alunan lagu mellow yang romantis, cukup sebuah lagu yang membuat semua orang yang mendengar menikmati iringan nada dan suara si penyanyi itu. Semua orang bertepuk tangan setelah Iel menutup lagu itu. Dia membungkuk mengucap terimakasih. Via hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah pola kekasihnya itu.
“Keren.”komentar Via setelah Iel sudah duduk kembali di hadapannya.
“Kamu suka kan?”Tanya Iel, Via mengangguk dengan senyuman hangatnya. Ia menatap matanya lekat-lekat seolah berbicara , ‘makasih Vi, demi kamu apa sih yang ngga’. Setelah itu mereka langsung pulang. Tentunya Iel mengantar Via kerumahnya.
“Makasih banyak yah Yel buat hari ini.”ujar Via saat Iel baru saja memberhentikan mobilnya di depan rumah Via.
Iel menoleh dan tersenyum.”Sama-sama yah Vi. Aku sayang banget sama kamu.”ujarnya tulus.
Via mengangguk, “Aku juga sayang sama kamu.”balasnya,’maaf Yel aku belum sayang banget sama kamu.’ , “aku turun yah, kamu gak mampir?”lanjutnya.
Iel menggeleng, “Engga ah, salam buat Mamah kamu, istirahat jangan kecapekan.”pesan Iel. Via mengangguk lalu turun dari mobil. Iel pun segera melajukan mobilnya.

Diary Sivia season 1

Pemakaman telah usai. Liang lahat tempat peristirahatan terakhir ‘sang jenazah’ sudah dipenuhi oleh taburan bunga para pelayat. Di samping nisan tinggal ada 3 anak manusia yang masih belum rela kehilangan si saudara, kerabat, dan sahabatnya itu. Mereka bertanya pada Tuhan mengapa sisa waktu yang Ia berikan pada teman mereka hanya sampai kemarin? Kenapa tak bisa lebih lama? Mengapa harus teman mereka? Mengapa harus dengan cara seperti ini? Ketiga anak manusia itu terus bertanya-tanya dalam hati apa gerangan yang mmbuat Tuhan menyusun rencana seperti ini. Kini seorang wanita beserta seorang pria telah meredakan tangisnya. Mereka mencoba lebih kuat dan menerima semuanya. Toh ‘sang jenazah’ akan lebih tenang jika mereka yang ada di dunia melepas kepergiannya. Tetapi salah satu dari ketiga anak manusia itu tetap menangis dan enggan meninggalkan tempat itu. Dengan berat hati ia menuruti teman-temannya yang meminta dia agar pulang kerumah ‘sang jenazah’.
“Nak Alvin, baju kamu kotor, lebih baik pulang dulu. Kamu juga Iel sama Ify, makasih udah ngebantuin dari tadi. Tante masih belum sadar dari tadi.”ucap si Ayah ‘sang jenazah’ panjang lebar ketika mendapati ketiga anak manusia itu baru memasuki rumahnya.
“Kami boleh ke kamar Via gak Om?”pinta Alvin, dialah salah seorang manusia tadi yang tak hentinya menangis. Ify dan Iel memandang Alvin dengan heran.
“Boleh kok silahkan. Om juga ngerti kalian belum bisa nerima kepergian Via gitu aja.”jawab sang Bapak itu bijak walau dia sendiri masih menyembunyikan kegalauan hatinya.
“Terimakasih Om.”ucap Alvin sambil tersenyum lalu beranjak menuju kamar Via diikuti Ify dan Iel. Mereka membuka kenop pintu kamar Via dengan hati-hati. Tak mau mereka membuat barang-barang peninggalan Via ternodai sedikit pun apalagi rusak. Mereka masuk ke kamar Via. Masih tercium aroma tubuh Via yang biasanya mereka temui setiap hari. Dilihatnya dinding-dinding kamar Via yang penuh dengan foto-fotonya dengan lajunya usia. Tak ketinggalan foto mereka berempat. Semakin menyakitkan mendapati pemandangan seperti itu. Masih terukir jelas dalam benak mereka bagaimana seulas senyum Via, bagaimana susunan rapih giginya, bagaimana jentikkan jarinya, bagaimana uraian rambut indahnya, bagaimana sura yang menenangkan itu. Alvin tak lagi bisa menahan tangisnya. Tanpa isakkan, air matanya mengalir begitu saja padahal ia masih bediri di ambang pintu kamar Via. Ia masih memandangi semua penjuru kamar Via.
“Sorry yah gue cengeng banget. Mafin yah Fy udah nyuekin kamu, maafin yah Yel gue gini banget sama cewek lo.”ucap Alvin akhirnya sambil mendelik kearah Iel yang sepertinya sedikit janggal dengan tangisan Alvin itu. Memang Alvin dan Via bersahabat semenjak mereka masih dalam kandungan, tapi apa seberlebihan inikah? Iel saja yang kekasihnya tak selebih ini.
“Gak apa-apa kok Vin, gue ngerti. Lo kenal Via lebih lama dibanding kita.”jawab Iel mulai mengerti alasan Alvin. Mereka berdua tersenyum dan melangkahkan kaki untuk duduk diranjang Via.
Terlihat Ify sedang memeluki boneka-boneka Via yang biasa Via pakai untuk dipeluk. Ia mencoba merasakan kehangatan tubuh Via yang tertinggal dalam boneka itu dan aroma Via yang mungkin juga tertinggal. Bulir air matanya kini menghiasi pipinya. Iel memandangi foto-foto Via yang terpajang diseluruh penjuru ruangan. Ia tersenyum miris melihat senyuman Via yang begitu berbeda. Ia pun sama, air mata mengalir di pipinya. Alvin, Alvin kini merangkak ke meja belajar Via. Disitu ada tas, buku-buku, novel yang bisa digunakan oleh Via. Alvin tersenyum melihat barang-barang itu. Biasanya disini jika Via meminta Alvin memintanya memberi penjelasan jika diberi PR. Ia membuka laci Via , ingin tahu lebih dalam apa yang Via biasa taruh selama ini yang Alvin tak tahu. Di dapatinya diary berwarna ungu muda dengan hiasan pita disampul depan diary. Dengan ragu, Alvin meraih Diary itu. Hatinya menimang-nimang apakah pantas ia membaca suatu rahasia terbesar seorang manuisa? Lancangkah dia melakukan hal ini? Ia melihat kedua temannya yang lain. Mereka masih dalam keadaan menyedihkan. Mereka masih mengenang ‘sang jenazah’. Alvin tak kuat berada dalam ruangan itu. Akhirnya dengan pasti ia mengambil diary itu.
“Fy, Yel gue balik duluan yah.”pamit Alvin.”Yel nanti anterin Ify balik yah,”Fy, kamu pulang sama Iel yah?”lanjutnya sambil mengalihkan pandang dari Iel menuju Ify. Keduanya mengangguk. Alvin pun keluar dan langsung menuju rumahnya yang notabene sebelah rumah Via tanpa berpamitan. Ia menghempaskan tubuhnya diranjang. Omanya yang melihat mata Alvin yang sebegitu memilukan mengurungkan niatnya untuk bertanya. Ia memahami isi hati Alvin, sesungguhnya ia juga merasa kehilangan yang sangat mendalam atas kepergian gadis manis itu.
Alvin menghempaskan tubuhnya di kasur. Tak sempat ia mengganti pakaiannya, matanya mulai berekasi untuk mengeluarkan air mata yang sedari tadi dia tanam kuat-kuat tapi gagal. Ia masih mengenggam diary Via. Sesekali dia melirik itu sambil bertanya-tanya ‘buka jangan buka jangan?’ . dengan lemas ia membangkitkan posisinya yang semula tidur kini menjadi duduk dengan menyandar ke tembok dengan topangan bantal. Ia bertekad untuk membaca diary itu. Baru saja ia buka diary itu sepucuk surat terjatuh.

Buat siapapun yang ngeliat ini buku. Boleh baca kok. Toh nanti gue udah gak ada. Tapi jangan ketawa yah ^^v .

Alvin tersenyum perih. Seperti Via mengetahui isi hatinya lalu ia melemparkan surat dari atas sana. Ia membuka diary itu dan membaca dengan seksama.

14 February 2009.

Diary baru nih diary baru. Pertama kalinya aku punya diary nih. Eh kenalin, aku Sivia Azizah. Panggil aku Via. Oke? Hem namanya diary tempat kita cerita dong? Kamu itu kado dari Ify. Hari ini hari ulang tahun aku. Gak ada yang special sih, tapi cukup mengesankan. Semua orang yang aku sayang dateng. Kita cuma makan-makan disuatu café sederhana. Aku bahagia karena aku sama orang-orang yang aku sayang. Ada Ify, Alvin dan Iel. Yaiyalah aku seneng kayak aku masih punya banyak waktu buat berlama-lama sama mereka? Aku kan gak boleh menyepelekan momen apapun kalau lagi sama mereka. Ify ngasih kamu ke aku. Alvin ngasih jam tangan, lucu deh warnanya coklat. Kalau Iel ngasih shall gitu warna abu. Maniiiiis banget. Oh iya, aku sama Alvin itu sahabatan dari orok, moto persahabatan kita itu ‘berat sama dipikul ringan sama dijinjing’. Eh itu pribahasa yah? Bodo amat haha yang pasti artinya kita harus selalu berbagi dan selalu ada kalau sama-sama lagi butuh. Kalau aku Iel dan Alvin juga sahabatan, moto persahabatan kita, ‘hadapi dunia dengan senyuman.’ Jadi apapun yang terjadi kita harus selalu tersenyum biarpun hati kita menangis hehe. Kalau kita berempat, tepatnya di tambah ify sih gak ada hehe. Segini dulu yah? Aku bingung nih mau nulis apalagi. Bye ^-^.

Alvin tersenyum membaca diary itu. Itu tepat 6 bulan yang lalu Via tulis. Dia membuka lagi lembaran berikutnya.

16 February 2009.

Hey! Maaf aku gak rajin nulis ginian, maklum sibuk *gayaaaa* . hem hem tadi Alvin cerita kalau dia suka sama Ify. Ckckckckckc gak nyangka Alvin suka sama Ify. Padahal kan aku sama Alvin baru kenal Ify 2 minggu yang lalu. Emang sih kita langsung deket, tapi secepet itu Vin? Gaya lo deh udah suka-sukaan. Ify tuh jadi gini Dy, dia anak baru dikelas aku, Alvin, sama Iel. Dia pindahan dari bandung. Begitu masuk dia duduk disebelah aku. Jadi langsung deket deh sama aku. Terus aku kenalin sama Alvin yang sahabat aku dari orok. Juga Iel yang sahabat aku semenjak aku masuk SMA ini. Tapi kenapa yah aku sedikit sedih waktu dia bilang kalau dia suka sama Ify? Aku cemburu? Masa sih? Ngga kali. Mungkin aku takut Alvin nantinya jadi kurang perhatian sama aku. Jangan bilang siapa-siapa tapi yah. Ini rahasia. Oke? Udahan yah dadah diarykuuuuuuuuu!

Alvin lagi-lagi tersenyum. Ia mengingat ketika ia bercerita pada Sivia kala itu.

***
“Viaaaaaaaaaa.”teriak Alvin dari depan rumah Via. Ini memang kebiasaan mereka kalau mau main pasti manggil-manggil nama dari luar pagar. Tak lama Via keluar dengan wajah sehabis bangun tidur.
“Lo mau nyiksa gue Vin? Hari minggu nih ah.”keluh Via sambil berteriak di depan pintu rumahnya sembari ngucek-ngucek mata.
“Buruan cuci muka, ganti baju kita jogging.”ajak Alvin. Via cuma melengo.
“Ada angin apa lo ngajak gue jogging? Biasanya lo lebih kebo dari gue.”jawab Via sambil menghampiri Alvin yang masih berdiri di depan pagarnya.
“Udah buruan.”suruh Alvin.
“Iya iya. Lo masuk dulu aja.”ucap Via setelah membukakan gembok rumahnya. Alvin mengikuti Via masuk ke dalam rumah Via. Via langsung ke kamarnya untuk mengganti baju dan sikat gigi. Tak lama ia sudah siap dan segera menghampiri Alvin.
“Yuk.”ajak Via.
Mereka pun akhirnya berkeliling komplek. Bukan lari, cuma jalan-jalan aja. Sepanjang jalan mereka hanya berdiam-diaman. Tanpa terasa mereka sudah kali ketiga mengelilingi komplek.
“Duduk yuk Vi.”ajak Alvin yang sudah melihat peluh diwajah Via. Via pun mengangguk. Mereka duduk dibangku taman.
“Nih minum.”tawar Alvin sambil menyodorkan sebotol air mineral yang baru saja ia beli. Via menerima sebotol air itu.
“Hem Vi sebenernya ada tujuannya gue ngajak lo jogging.”ucap Alvin akhirnya jujur. Via tersenyum licik.
“Sudah gue duga Vin.”jawab Via sambil memainkan alisnya. “Ada apa?”
“Gue suka sama cewek Vi.”ujar Alvin malu-malu. Seketika pipinya memerah. Via langsung ketawa ngeliat perubahan rona pipi Alvin.
“Terimakasih ya Allah akhirnya sahabat ku yang satu ini normal.”celetuk Via seperti habis berdoa. Alvin meringis.
“Gue serius Vi.” Kata Alvin memandang Via serius.
“Iya iya oke. Siapa ceweknya? Jangan-jangan gue? Wah jangan! Kita kan sahabatan jangan. Hem siapa dong?”Via ngomong tanpa jeda sambil memegang dagunya bak memikirkan suatu penemuan. Alvin cumin geleng-geleng kepala.
“Gak mungkin deh gue suka sama cewek macem lo.”ledek Alvin sambil tersenyum jijik. Via langsung manyun.”Bercanda Via bercanda.”lanjutnya sambil menoel dagu Via.
“Terus siapa ceweknya?”Tanya Via yang udah penasaran.
“Ify.”jawab Alvin akhirnya. Entah apa yang terjadi pada Via, hatinya miris mendengar itu. Entah cemburu sebagai sahabat ataukah sebagai orang yang mencintai? Tetapi yang jelas perasaan Via seperti menolak kenyataan itu.
“Vi? Halo?”ujar Alvin sambil memainkan jarinya di depan wajah Via.
“Hah iya iya Vin.”jawab Via sambil mengumpulkan pikirannya.”Lo suka sama Ify? Deketin dong.”lanjutnya tanpa ekspresi.
Alvin heran dengan perubahan wajah Via, “lo kenapa Vi? Gak seneng?”
Via mencoba merubah mimik mukanya, “Kok gak seneng sih? Sahabat seneng gue harus seneng dong . iyakan?”
Alvin mencoba menghilangkan keganjalannya, “terus gue mesti gimana nih Vi biar Ify suka sama gue?”
“Lo jemput aja tiap hari, sms an sama dia, kasih dia perhatian lebih. Gitu deh.”nasihat Via. Sejujurnya hati Via sakit ketika mengatakan ini. Tapi demi sahabat?
“Oke oke. Kita balik yuk.”ajak Alvin akhirnya sambil menarik tangan Via.
“Gue cemburu Vin gue gak tau kenapa.”batin Via meringis. Ada sesuatu yang membuatnya tak bisa ikut senang ketika sang sahabat itu senang.

***

Tak terasa air mata sudah mulai menetes. Ia melanjutkan membuka diary itu.

21 February 2009.

Lama gak nulis. Maaf yah. Gini dy, maaf aku baru cerita. Yang tau cuma kamu, mamah, papah, si Mbo, sama Mas udin doang loh. Aku akhir-akhir ini sebuk check up (yang selalu aku lakuin tiap bulan). Ya ya ya, aku sakit dy. Ha! Ha! Ha! Aku sakit kanker, kanker otak tepatnya. Udah stadium 3. dokter memprediksi kurang lebih umur aku satu taun lagi. Aku udah tau ini dari lama kok. Ngga aku ngga sedih. Ngapain sedih toh gak ngilangin penyakit aku? Bukannya malah aku harus berjuang ngelawan penyakit aku? Aku gak mau khemo dan gak akan khemo. Nanti kalau aku botak gimana? Ennga deh makasih. Tadi aku check up gara-gara aku pingsan disekolah dikarenakan aku sama iel dihukum gara-gara kita malah main basket pas lagi jam kosong. Jadi deh aku tepar. Eh betewe, genjatan Avin mau pdkt sama Ify sukses tuh. Tapi lagi-lagi hati aku miris nih, gak rela gitu. Ah apaan sih Via ini? Ikutan seneng dong Vi! Udahan yah maaf kalau aku gak selalu nulis tiap hari.


Alvin tak sadar air matanya telah membasahi setengah halaman diary ini, ‘kenapa lo gak bilang dari awal sih Via mengenai ini?’ Alvin menangis. Menangisi keadaan Via. Ia tak bisa membayangkan sahabatnya itu menahan sakit yang luar biasa.
***
1 tahun yang lalu…

“Dok gimana hasil check up Via?”Tanya Mamah Via saat mereka sudah berada di ruangan Dokter Danu.
“Aku cuma kurang darah aja kan Dok?”Tanya Via memastikan sambil tersenyum. Dokter Danu tersenyum pahit melihat senyum Via yang begitu indah.
“Ini hasil lab yang baru keluar. Dan ibu bisa baca sendiri.”ucap Dokter Danu sembari menyodorkan secarik amplop besar.
“Aku duluan ya Mah yang baca.”pinta Via seteah merebut amplop itu dari genggaman Dokter Danu. Mamah Via mengangguk. Via membaca berulang kali isi amplop itu. Air matanya mengaliri pipinya. Mamahnya yang heran dengan reaksi Via langsung mengambil dan membaca amplop itu.
“Umur aku berapa lama lagi dok?”Tanya Via miris. Dokter itu tak tega menatap gadis yang sekarang menangis dihadapannya.
“Perkiraan medis umur kamu 1 tahun lagi, tapi kalau khemo umur kamu bisa lebih lama. Tapi ya tetap Tuhan yang menentukannya.”jelas Dokter Danu. Mamah Via pun menangis dengan terisak.
“Kamu khemo yah Vi?”tawar Mamahnya.
“Ngga ah Mah. Nanti Via jadi jelek.”jawab Via sembari tersenyum padahal air matanya terus mengalir. “Umur Via udah ada yang ngatur kok. Mamah tenang aja.”
Mamahnya tambah menangis. Dokter Danu tak tega melihat adegan sebuah keluarga ini, “Ibu bisa memberi Via dorongan yang kuat yang membuat kepercayaan Via akan sembuh bangkit. Percaya.”
“Terimakasih Dok.”jawab Mamahnya.

***


Dengan enggan ia melanjutkan membuka diary itu.

2 Maret 2009.

Dy,,,, Alvin jadian sama Ify :’( . eh ko nangis? Harusnya :) . tapi gak tau nih aku pengen nangis pas tau dia jadian. Sesi penembakan bisa dibilang standar sih. Tadi pas balik sekolah Alvin langsung nyegat Ify dan langsung ngomong gitu aja. Aku sama iel cuma cengengesan disitu ngeliat muka mereka berdua kayak kepiting rebus. Tapi kita langsung loncat pas Ify ngangguk. Walau seneng gak tau kenapa perasaan aku sedikit ngeganjel. Kenapa yah? Bukannya kalau sahabat seneng kita harus ikutan seneng. Semoga perasaan yang dulu aku kira bakalan tumbuh gak akan tumbuh. Jangan Via jangan! Aku berharap semoga mereka langgeng dan mulus. Amiiiin :D . udahan yah. Bye XD .

***

Via bersama Ify berjalan menuju gerbang sekolah untuk segera pulang. Ia tidak bersama Iel dan Alvin karena mereka sibuk degan OSIS. Tiba-iba saat mereka berjalan Alvin mencegat mereka.
“Ify.”ucap Alvin setelah berdiri di hadapan Via dan Ify. Via langsung nyenggol-nyenggol tangan Ify gajelas. Ify menatap Via dan Alvin bingung.
“Gue kesana dulu yah.”ujar Via meninggalkan mereka. Mengerti. Ia menghampiri Iel yang bersembunyi di balik pepohonan.
“Ada apa Vin?”Tanya Ify akhirnya walaupun hatinya ketar-ketir.
Alvin masih menunduk mengumpulkan semua tenaganya. Akhirnya ia menatap Ify tajam dan berkata, “Lo mau gak adi cewek gue?”tanyanya langsung. Via sama Iel yang ngedenger itu cuma cengengesan. Padahal hati Via sedikit gak nerima kenyataan ini. Ify langsung nunduk menghindari rona wajahnya yang benar-benar merah padam. “Fy?”lanjut Alvin.
“Eh iya Vin”jawab Ify gelagapan.
“Gimana?”Tanya Alvin lagi. Seperti menunggu sebuah kepastian yang teramat menyangkut nyawa. Seketika Ify mengangkuk pasti walau dia malu setengah mati.”serius Fy?”Tanya Alvin memastikan apa yang ia lihat tak salah.
“Iya Vin, gue mau.”jawab Ify malu-malu. Tiba-tiba Iel dan Via keluar dari tempat persembunyian.
“Ciheeeeeeeeeee. Pj dong.”celetuk Iel yang sekarang berdiri disamping Alvin. Ify cuma nunduk malu-malu sedangkan Alvin menggaruk kepalanya yang tak gatal. Via menahan tangisnya. Ia terlalu bodoh untuk menangis disaat seperti ini. Ia tak kuat akhirnya dia berpamitan pulang.
“Gue balik duluan yah.”pamit Via buru-buru langsung ke arah mobilnya diparkiran. Sesampai di mobil ia langsung melajukan mobilnya dengan pelan sambil menikmati alunan musik yang sangat serasi dengan hatinya

Dulu ku tak pernah percaya kan cinta yang tak harus memiliki
Pernah ku paksakan walau tak sejalan
Meski ku tahu ku salah
Dan ku coba tuk melupakanmu
Karena ku tahu kau bukan milikku
Dan ku berhenti berharap akan cintamu yang dulu ada dihati
Dan ku coba tuk bertahan
Walau berat kini ku berhenti berharap
Kini ku akui hatiku tak bisa selalu miliki dirimu
Pernah ku paksakan walau tak sejalan
Meski ku tahu ku salah
Dan ku coba tuk melupakanmu
Karena ku tahu kau bukan milikku
Dan ku berhenti berharap akan cintamu yang dulu ada dihati
Dan ku coba tuk bertahan
Walau berat kini ku berhenti berharap

Dia mengehentikan mobilnya disebuah taman yang biasa ia kunjungi bersama Alvin. Taman yang menjadi saksi bisu bagaimana persahabatannya dengan Alvin. Taman yang menjadi tempat ketika mereka sedang meluapkan emosinya. Dan Taman yang letaknya depan rumah Iel sekarang.
“Gue bukan sahabat yang baik buat lo Vin. Gue gak pantes jadi sahabat lo! Gue malah gak suka disaat lo udah nemuin putri lo! Gue malah cemburu ngeliat lo seneng-seneng sama cewek lain. Ini apa? Gue sayang sama lo? Bukannya sayang itu harus rela merelakan kalau orang itu bahagia walau bukan sama kita? Kita cuma sahabatan kan Vin? Perasaan kita sayang hanya sebatas sahabat kan? Tapi sorry Vin, perasaan gue melewati batas itu. Perasaan yang tanpa gue ketahui kapan melewatnya. Perasaan yang gue sendiri gak bisa ngontrolnya karena itu bukan milik gue. Perasaan itu milik sesorang yang amat gue sayang yang ngebuat perasaan itu bisa terkendali. Maaf Vin sekali lagi gue kayak gini. Tapi lo tenang aja, gue bakalan berusaha semampu gue buat bahagia kalau lo bahagia.” Via mengelap air mata itu. Lalu mencoba tersenyum dan langsung bangkit meninggalkan taman dan bergerak menuju rumahnya.

***

14 Maret 2009.

Aku mulai gak kuat ngehadepin penyakit aku ini. Aku capek Dy, aku capek harus ngerasain kayak gini. Kenapa harus aku ya Allah? Kenapa harus aku yang mendapat cobaan dari Engkau yang begitu sakit ini? Bukan hanya sakit yang mendera membuatku tersiksa, tapi kenyataan kalau aku gak akan lama lagi disini. Mungkin nanti kamu gak akan kamu tulisin lagi. Udah yah Via cantik gak boleh mikir kayak gitu. Nanti Allah marah loh. Terima dengan ikhlas semua cobaannya pasti semua bakalan terasa lebih mudah. Keep smiling :) .


***

20 Maret 2009.

Aku gak lama-lama kan ninggalin kamu? Aku takut kesempatan buat nulis kamu makin sedikit nih makanya aku rajin nulis walau gak tau nanti gimana. Eh Dy aku gak tau ini perasaan beneran atau ngga tapi jujur aku cemburu waktu ngeliat Alvin sama Ify gandengan tangan. Aku pengen aku yang digandeng sama Alvin. Gandengan tangan itu bakalan terasa berbeda kalau ditunjukkan buat orang terkasih. Alvin palingan cuma pernah ngerangkul aku aja. Itupun dia sering banget kayak gitu. Kayak ke Nova, Agni, Oik, Shilla, temen-temen sekelas kita deh. Dia emang cuek sama cewek. Santai aja gak masalahin semuanya. Jadi aku ngerasa aku pengen jadi sosok yang lebih special dihati Alvin. Kok gini sih? Entahlah, aku juga bingung sama hati aku.

***

Via sedang istirahat di perpusakaan. Gak tau kenapa dia lagi males buat ke kantin. Padahal dikantin ada ketiga sahabatnya. Dia lebih memilih buat baca buku di perpus padahal buku yang dia baca novel. Karena sedikit jenuh juga di perpus, akhirnya Via mutusin buat ke kantin. Posisi kantin yang emang bertolak belakan sama perpus, bikin orang harus muter-muter dulu. Saat menuju kantin, terlihat Alvin dan Ify yang sedang bergandengan tangan, mereka berjalan seperti akan kelapangan. Kini Via berdiri mematung melihat genggaman tangan Alvin dari belakang. Dia hanya melihat punggung dan genggaman sepasang kekasih itu. Dia berlari kembali ke perpus. Hatinya panas ketika melihat genggaman itu. Dia menangis disudut ruangan yang jarang ditempati pengunjung.
“Kok gue gini sih? Gue cemburu? Kenapa? Toh mereka kan pacaran Vi! Lo gak berhak kayak giini!”batin Via. Air mata perlahan jatuh membasahi pipinya, “kapan gue bisa merasakan gengaman itu? Gengaman hangat kepada seseorang yang special dari Alvin?” tak lama bell masuk membuyarkan lamunannya. Dengan tergesa ia balik ke kelasnya dengan keadaan mata yang sedikit merah sehabis menangis. Ify yang sudah duduk dibangku sebelah Via menatap Via heran.
“Lo kenapa Vi?”Tanya Ify, Via hanya menggelengkan kepala. “belum mau cerita mungkin.’ Batin Ify.
“Eh Fy, gue dikasih gantungan gantungan kuci loh sama Alvin, bentuknya penguin, lucu deh! Alvin tau aja gue suka banget sama pinguin.”cerita Ify sambil memamerkan gantungan kunci itu. Via tersenyum, dia mencoba tak ada kesan yang dipaksakan.
“Lucu banget Fy, ih Alvin baik banget yah jadi cowok, beruntung deh lo jadi ceweknya.”komentar Via sambil memandangi gantungan kunci itu sambil tersenyum, ‘gue gak masalahin ini, yang gue masalahin yang tadi pas isitirahat.’

***

Alvin tersenyum miris, “lo suka sama gue Vi?”tanyanya lirih dengan keadaan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya, sekali saja ia berkedip air mata itu akan membasahi diary Via.

28 Maret 2009.

Lumayan lama yah gak nulis? Biasalah aku sibuk dengan ‘penyakit’ku yang biadab ini. Lagian kalau ketemu kamu pasti bawannya melankolis. Maunya curhat muluuuuu. Yaiyalah, itukan fungsinya diary. Tapi aku juga kan gak mau kalau ceritanya sedih mulu. Aku mau cerita nih, entah aku aja yang ngerasa entah emang nyata. Aku ngerasa kok Iel main perhatian yah sama aku? Dia udah seminggu ini nganter jemput aku. Udah gitu kalau di sms pasti nanya , ‘udah makan belum vi?’ berasa anak kecil diperhatiin gitu. Eh bentar, tapi waktu Alvin ngedeketin Ify juga gini. Waduh aku GR nih. Jangan-jangan Iel ngedeketin aku? Yah Yel, aku kan sayangnya sama Alvin, gimana dong Dy? Kan kasian Iel. Entahlah, yang pasti aku pengen ngehapus semua perasaan aku sama Alvin. Kalau emang beneran Iel suka sama aku, yah mungkin nanti aku juga bakalan nyoba buat suka sama dia. Dan Alhamdulillah banget kalau nantinya perasaan aku ke Alvin ilang

***

Hari ini Via gak bawa mobil karena mobilnya lagi dibengkel. Niatnya mau nebeng ke Alvin, tapi Alvin nganterin Ify dulu. Jadi males aja kalau nanti dia malah jadi kambing congek di mobil Alvin ngeliatin dia sama Ify pacaran. Via diam di halte, nungguin bis. Padahal dia gak tau harus naik bis yang mana buat balik ke rumahnya.
“Naik Vi.”ucap si pengendara motor yang sekarang sudah berada di hadapan Via.
“Ngga ah Yel gue balik sendiri.”tolak Via halus.
“Gue gak setega itu Vi sama sahabat gue, ayo naik.”paksa Iel. Akhirnya Via langsung naik ke ninja hijau Iel itu. Dijalan mereka hanya diam-diaman.
“Thanks Yel.”ucap Via setelah sampai di depan rumahnya.
“Sama-sama. Mobil lo sampe kapan di bengkel?”Tanya Iel yang masih duduk di motornya sedangkan Via berdiri di sampingnya.
“2 minggu gitu Yel, parah banget rusaknya.”jelas Via.
“Yaudah nanti lo gue anter jemput aja.”ujar Iel dengan senyuman, Via mendongak.
“Gak usah Yel ngerepotin aja.”tolak Via.
“Lo nganggep gue sahabat lo gak sih?”ucap Iel bercanda, “pokoknya besok gue jemput yah jam 6.45 lo harus udah siap.”lanjutnya. belum Via menjawab dia sudah melajukan motornya. Via hanya melengos dan segera masuk kamarnya. Dia langsung ganti baju dan menghempaskan tubuhnya di kasur, dan terlelap.
Sekitar jam setengah 5 Via baru bangun, dia langsung ke kamar mandi untuk mandi dan sholat. Setelah itu dia langsung makan dan minum obat. Diraihnya HP yang sedari tadi lupa ia aktifkan. Dia pun mengaktifkan HP nya. Terdapat 5 SMS, smua dari Iel, ‘Alvin udah jarang banget sms gue’, batin Via. Dibacanya sms dari Iel.
From : Iel prikitiw
Viaaaaaa……

From : Iel prikitiw
Jahat banget smsm gua gak lo bales 

From : Iel prikitiw
Vi? Lo masih hidup kan? Bales sms gue.

From : Iel prikitiw
Lo abis pulsa atau gimana? Gue telfon yah?

From : Iel prikitiw
Ah gak bales lagi. Jahatnya gak bales sms gue.

Via cuma nyengir baca smsm dari Iel, dia langsung membalas sms itu kebut.

To : Iel prikitiw
Huuuuuuuuuuu sorry Yel gue baru bangun niwh hwheheheh ada apa sih sms gue? Tumbenan amat? Kangen yah sama gue?

Tak lama Via telah mendapat balasan.

From : Iel prikitiw
Pantes aja! Lo kan kalo udah molor kaya kebo. Wekekekeke. Kalo kangen gimana tuh Vi?

To : Iel prikitiw
Sialan lo :@ hem udah biasa sih yel gue dikangenin.

From : Iel prikitiw
Hehehehe canda Vi canda. Eh tapi beneran deh gue kangen sama lo. Hahahahaha

To : Iel prikitiw
Hueeeeeks! Gue gak suka digombalin Yeeeeeeeeeel huhuhu ada apa lo sms gue?

From : Iel prikitiw
Iya iya gue tauuu biar bikin lo jiji aja hehe. Gak ada apa-apa kk. Udah makan belum Vi? ^^

‘ni anak perhatian amat?’batin Via sambil tiduran di sofa ruang TV nya yang terus-terusan berkutat dengan HP nya.

To : Iel prikitiw
Udah dongggg baru aja beres. Lo? Kenapa? Mau numpang makan? Wgwgwgw

From : Iel prikitiw
Gue juga udah. Idih ngga deeeeeeeeh haha

SMS an mereka pun berlanjut. Semenjak itu Iel jadi lebih perhatian sama Via.

***

Alvin menahan tawa. Tawa keperihan. ‘Via lo kenapa gak pernah curhat sih sama gue? Gue jadi ngerasa bukan sahabat yang baik deh kalau cuma lo yang dengerin gue curhat’ ucapnya sendiri. Ia membalikan lagi halaman diary itu.

7 April 2009.

DY, AKU GAK KUT. SAKIIIIIIIIIIIT :’(. AKU GAK KUAT NANGGUNG PEYAKIT INI SENDIRIAN. TIAP MALEM AKU SUSAH TIDUR KARENA PENYAKIT INI. AKU CAPEK DY :’( . KENAPA HARUS AKU YA ALLAH? APA SALAH AKU? AKU RELA MELAKUKAN APAPUN ASAL PENYAKIT INI HILANG. TOLONG TUHAN AKU GAK MAU PENYAKIT INI TERUS MENERUS MENYIKSAKU, TERLEBIH KENYATAAN AKU HIDUP TAK LAMA LAGI. AKU GAK KUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAT!

***

“Mah sakiiiiiiiiiiiiiiiit.”rintih Via saat ia dan Mamahnya sedang menuju rumah sakit. Pak Udin, supir mereka sebentar-bentar menengok ke belakang karena tak tega melihat kondisi Via.
“Yang mana sayang yang sakit?”Tanya Mamahnya sambil mengelus rambut Via dengan air mata yang telah berlinang di kelopak matanya.
“Semuanya sakit Mah. Via gak kuat.”ucap Via lagi. Ia menggigit bibir bawahnya dan mengenggam erat tangan ibundanya, berharap rasa sakitnya segera menghilang.
“Tahan yah sayang. Sebentar lgi sampe.”ucap Mamahnya tak tega. Selang beberapa menit akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Via segera dibawa ke ICU untuk diperiksa oleh Dokter.
“Gimana dok keadaan Via?”Tanya mamahnya panik setelah dokter keluar dari ruangan.
“Keadaan Via masih sangat lemah. Karena tidak menjalani khemo membuat virus-virus penyakitnya menjalar luas.”jelas si dokter. Mamah Via tambah menangis. Dokter Danu iba melihat Mamah Via, “Ibu yang sabar yah, ibu berdoa saja kepada Tuhan, ibu boleh masuk dan menengok Via.” Mamah Via pun mangangguk dan masuk ke kamar Via. Via terlihat lebih mendingan dari tadi.
“Mah aku mau pulang. Kan udah gak sakit.”pinta Via manja, Ibu Via menggeleng, “Ayolah Mah, umur Via kan gak lama lagi, masa mamah tega sama Via?”lajutnya sambil tersenyum jahil. Mamahnya tambah menangis. “Mamh jangan nangis, Via tambah sakit nih kalau mamah nangis.” Mamah Via pun menghapus air matanya dan tersenyum ke arah Via, demi buah hatinya. “Ya mah ya Via boleh pulang?” Mamah Via tak bisa berkata apa-apa lagi. Tak tega dengan permintaan sang gadinya itu. Ia hanya mengangguk menuruti permintaan anaknya dengan berat hati.
***

Alvin menangis kembali. Ia tak bisa membyangkan wajah cantik Via yang berlesung pipit itu menangis karena penyakitnya.

Our Life, Our Destiny, and The Best for Us :) PART 15

Rio pun mengantar Ify ke sebuah Mall untuk mencetak foto . Setelah beres mencetak foto, sambil menunggu foto itu jadi Ify dan Rio makan dulu di sebuah tempat makan yang terkenal enak. Setelah memilih di mana enaknya posisi duduk, Mereka memilih di pojok ruangan dengan alasan sepi dan bisa langsung melihat ke luar , pemandangan yang indah.
“Pesen apa Fy?”Tanya Rio saat mereka sudah duduk dan si pelayan menghampiri mereka.
“Samain aja sama kamu.”jawab Ify sambil tetap melihat keluar jendela. Rio pun menyebutkan pesanannya dan si pelayan pun pergi.
“Sekarang jam berapa?”Tanya Ify pada Rio tanpa engalihkan pandangannya ke luar jendela.
“Masih jam 2, kenapa?”jawab Rio setelah melihat jam di HP nya.
Ify mengalihkan pandangannya dari jendela menuju Rio, “Yo, kok aku pusing yah?”Tanya Ify sambil memegangi kepalanya.
Rio yang duduk di depan Ify langsung panik ,”Mau pulang atau gimana?”
Ify diam sejenak sambil terus megangin kepalanya, setelah 2 menitan dia kembali menegakkan posisi duduknya, “Udah kok udah ngga gak usah pulang.”
“Bener?”Tanya Rio memastikan, takut terjadi apa-apa sama sang kekasih.
“Ngga kok kalau sakit lagi aku lapor sama kamu.”jawab Ify sambil tersenyum , Rio pun ikut tersenyum.
“Sakit kamu gimana?”Tanya Rio yang dari dulu pengen tahu gimana kelanjutan kondisi Ify, Ify diem, nunduk, “kamu mau khemo?”tanyanya lagi.
“Kemaren aku ke dokter dan katanya aku harus khemo biar cepet sembuh.”jelas Ify sambil berusaha natap mata Rio. Seolah-olah dia pengen Rio ngebacanya aja dari matanya gak usah dia jelasin. Dia gak kuat juga kalau harus ngejelasin.
“Kalau kamu mau khemo, kasih tau aku aja aku anter kok kamu.”ucap Rio sambil tersenyum. Sebenarnya dia sedih tapi ngeliat Ify yang masih bisa senyum dia jadi gak enak sendiri.
“Iya oke.”
Tak lama pelayan datang mengantarkan pesanan mereka. Setelah beres makan mereka pun langsung ke tempat foto buat ngambil cetakan dan segera pulang.
“Assalamualaikum.”salam Ify saat baru sampai rumah, Rio ngikutin Ify di belakangnya, dia mau pamit sama Mamahnya Ify.
“Waalaikum salam.”jawab mamahnya sambil berjalan menuju ruang tamu, sudah ada Rio dan Ify yang duduk disitu, “Eh ada nak Rio.”
Rio dan Ify pun salam, “Halo tante.”sapa Rio ramah.
Mamah Ify senyum, “Fy tadi mamah udah nemuin dokter Danang minta surat keterangan sehat sekalian tadi katanya kamu bisa mulai khemo mulai hari ini. Jam 4 sampai jam setengah 6, setiap hari selasa sama sabtu, kamu bisa kan nanti kesana sendiri?”ucap Mamah Ify yang sekarang duduk di hadapan Ify dan Rio.
“Biar saya aja tante yang nganterin Ify.”tawar Rio tulus. Ify masih diem aja.
“Ngga deh tante takut ngerepotin.”tolak Mamahnya halus.
“Ngga kok tante sama sekali ngga.”
“Yaudah tante nitip Ify yah Nak Rio. Kamu bisa pulang dulu nanti jam setengah 4 bisa jemput Ify buat khemo?”
“Siap tante. Aku pulang dulu yah.”pamit Rio sambil berdiri diikuti Mamah Ify dan Ify.
“Oh iyah, makasih yah Rio, tante masuk yah.”ucap mamah Ify sambil melangkahkan kaki masuk ke dapur. Ify sama Rio beriringan jalan ke teras rumah.
“Siap-siap yah nanti sejam lagi aku jemput kamu.”ucap Rio sambil tersenyum ke arah Ify sambil mamakai helmnya yang sudah duuk di atas motornya.
“Oke.”jawab Ify sambil hormat.
“Dadaaaaaaaaah!”pamit Rio. Rio pun melajukan kendaraannya. Ify masih memperhatikan Rio yang cuman terlihat punggungnya saja, “makasih yah Yo.”ucap Ify lirih.

***

Riko yang udah gereget sama Shilla pengen banget buat nembak Shilla, apa lagi Shilla yang udah ngasih sinyal positive kalau di deketin sama dia. Tapi dia masih belum siap buat jadian sama Shilla, yah karena penyakitnya. Padahal selama ini dia gak mau nyampurin hal pribadinya dengan penyakitnya ini. Akhirnya Riko ngajak Shilla ke Mall buat main game sebentar. Alasan Riko pengen ngajak Shilla ‘ udah lama gak main game’. Akhirnya Shilla pun meng-iyakan. Dan tak kurang dari setengah jam Riko menjemput Shilla dan mereka segera ke Mall.
“Langsung ke timezone (promosi ---“ ) ajah ya.”ucap Riko saat mereka sudah memasuki pintu masuk Mall.
“Gue ngikut aja deh.”jawab Shilla sambil tersentum ke arah Riko.
Riko dan Shilla pun langsung ke tempat permainan. Mereka membeli tiket dan bermain macam permainan yang gak bisa penulis jabarkan satu satu hehe. Intinya mereka seneng banget. Mereka main dari jam 2 hingga sekarang jam telah menunjukan pukul 5. Setelah puas main mereka minum dulu di café karena capek. Lalu mereka pun pulang.

***

Rio datang ke rumah Ify on time jam setengah 4. dia sama Ify pamit dulu ke Mamah Ify. Setelah itu mereka langsung ke rumah sakit. Ify pun langsung khemo. Rio ngeliatin Ify yang kadang kesakitan ngejalanin khemo. Dia terus ngasih semangat ke Ify. Terlihat Ify menahan sakitnya karena melihat senyuman Rio saat menyemangatinya.
Setelah sekitar setengah jam khemo berlalu, Ify dan Rio pun pulang. Rio langsung ngnterin Ify ke rumahnya dengan selamat sentausa mnegantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaannya (hah loh kok jadi UUD?).

***
Keesokan harinya Sivia bangun kesiangan. Padahal semalem dia tidur jam 8. karena nyenyak jadi lupa waktu. Walau waktu udah mepet banget, tetep aja bangun tidur dia harus nyapu dulu, kalau ngga, di semprot sama Mamah Tirinya. Sivia langsung nyapu semua bagian di rumah, kecuali kamar Mamahnya dan teras. Yah karena Via buru-buru. Sesudah itu dia langsung mandi dan segera siap-siap. Setelah siap dia langsung kebawah (kamar Via diatas). Gak lupa dia bawa berkas buat persyaratan RSBI.
“Kamu nyapu gak sih?”Tanya Mamahnya saat Via baru turun dari tangga dan duduk di meja depan TV
“Nyapu kok mah. Kenapa?”Tanya Via polos sambil memakai kaus kaki.
“Mending gak usah deh percuma kamu nyapu juga gak pernah bener. Teras gak kamu sapu. Kamu jadi anak cewek sama sekali gak bisa diandelin.”ucap Mamahnya dengan muka marah-marah sambil berlalu. Dia gamau ambil pusing, dia langsung pergi ke sekolah tanpa pamitan, dia cuma pamit sama Papahnya.
“Kenapa Vi?”Tanya Shila saat Via baru dateng mukanya udah ditekuk. Via naro tas dan gak meenjawab pertanyaan Shilla, dia malah menidurkan kepalanya di meja. Dia nangis, mukanya dia benamkan diantara kedua tangannya . Gak lama Ify datang.
“Via kenapa?”Tanya Ify pada Shilla saat dia baru naro tas di mejanya yang sebelahan sama Via, Shilla cuma angkat bahu.
“Vi, lo kenapa?”tanya Ify sambil ngelus rabut Via.
Via masih nunduk sambil ngelap air matanya,”Ngga kok gak apa-apa.”jawabnya sambil berusaha buat negakin wajahnya, tapi bekas nangis nya keliatan banget. Di meja pun basah sama air mata Via. Via nangis gara-gara ibunya, hari ini hari kedua buat daftar RSBI, dan berarti tinggal 2 hari lagi, kalau ibunya marah, gimana mau daftar? “emang udah gak peduli kan mereka sama gue.”batin Via dari tadi merutuki dirinya sendiri.
“Jangan bohong,”sanggah Shilla “meja basah, mata lo juga merah.”
“Ngga kok gak apa-apa.”jawab Via masih nyembunyiin semuanya. Ify sama Shilla gak maksa, paling nanti dia juga cerita.
“Kalau ada apa-apa, langsung cerita sama kita yah.”ucap Ify yang sebenarnya khawatir sama Via.
“Iya oke.”jawab Via berusaha tersenyum sambil mengangkat jempolnya.”Fy, nanti gue ke rumah lo ya.”
“Gue ikut dong.”ujar Shilla nimbrung dengan muka mupeng.
“Oke deh.”ucap Ify sambil mengacungkan jempol.
Bell pun berbunyi lalu mereka langsung ujian praktek. Jadwal praktek di kelas Ify hari ini English Conversation dan Fisika. Tapi yang pertama Fisika. Bu Ucie pun memasuki kelas. Seluruh murid langsung diam dan mengikuti pelajaran. Mereka langsung melaksanakan ujian praktek mereka, yaitu tentang listrik.
Bell tanda istirahat pun berbunyi. Tepat sekali ketika ujian praktek selesai. Murid-murid kelas 9 pun langsung menyerbu kantin dengan perut lapar.
“Gue ke toilet dulu yah.”ucap Via sambil melangkah meninggalkan kelas. Shilla sama Ify lagi beresin buku.
“Gue ikut dong Vi.”ucap Ify yang langsung lari nyusul Via.
“Lo gak ikut Shil?”Tanya Via sambil melongokan (ahelah ni bahasa) kepalanya kedalam kelas.
“Gue harus ngembaliin buku sama peralatan yang di meja bu Ucie dulu ke lab.”jawab Shilla yang masih sibuk membenahi peralatan bekas praktek. Dia memang sekertaris kelas. “nanti gue langsung ke kantin aja.” Mendengar itu Sivia dan Ify langsung ke toilet. Riko yang dari tadi lagi asik ngobrol sama Sion dikelas ngeliat Shilla kerepotan benahin peralatan habis praktek, terlebih barang-barangnya yang berat.
“Sini gue bantu.”tawar Riko yang sekarang udah diri di sebelah Shilla sambil bawa barang-barang yang nggak kebawa sama Shilla.
“Thankyou Ko.”jawab Shilla yang emang lagi butuh bantuan. Mereka pun langsung ke lab Fisika. Selama perjalanan (ceileh) ke lab , Shilla sama Riko diem-dieman. Gak kayak di chat yang biasanya mereka cerewet banget. Setelah itu mereka langsung ke kantin. Udah terlihat ada Ify yang dirangkul sama Rio dan Iel yang lagi adu mulut sama Via.
“Lo tuh rese banget sih Yel udah tau gue gak suka pedes kenapa malah dikasih sambel.”omel Via sambil melotot ke Iel yang bikin Iel ketawa. Ify sama Rio cuma cekikikan “malah ketawa lagi!.”
“Gue kan udah bilang sorry Viaaaaa gue gak tau kalau ternyata itu bakso lo! Gue kira itu bakso gue! Lagian tadi tahunya ketutup bihun jadi gak keliatan.”jelas Iel sambil nahan ketawa gara-gara Via melotot. Shilla sama Riko yang baru gabung cuma nontonin aja.
“Gue itu pesennya tahu putih!”ujar Via sambil nusuk tahu putih di mangkok yang ada di depan Iel dengan garpuhnya.”Bukan tahu coklat!”lanjutnya sambil nunjuk tahu coklat di dalam mangkok depan Sivia dengan telunjuknya. “Gak bisa ngebedain yah?”
“Ih rame banget sih cuma masalah bakso doang.”ucap Riko yang rada risih sama hal sepele ini.
“Hueee Riko ini itu BAKSO paling enak di dunia. Dan ni mangkok terkahhirrrrrrrrrrrrrrrr!.”jelas Via sambil geregetan ke arah Riko.
“Beli lagi aja susah amat. Gue beliin deh.”ceplos Riko ga sadar ama apa yang diomongin.
“Gue juga beliin!”ucap Ify, Rio, dan Iel barengan.
“Kan udah abis baksonyaaaaaaaaaaaaaa!”ucap Via masih jengkel.
“Yaudah besok ya Ko?”ucap Iel dengan tatapan merayu.
“Yah nasib gara-gara salah ngomong.”ujar Riko sambil garuk-garuk kepala.”iya besok gue traktir deh.”
“Umm maacih liko.”jawab Rio sok imut yang duduk di depan Riko sambil nyubitin pipi Riko.
“Jiji banget sih Yo.”keluh Riko sambil ngelap pipinya. Mereka cuma cekikikan”lo punya cowo diragukan nih Fy.”
“Wah Rikoooooo…….”
Mereka semua pun melanjutkan makannya. Iel sih makan bakso yang tadi dia pesen, sedangkan yang Via pesen? Malah dicomotin sama Rio, Rio, Ify dan Shilla. Mereka rebutan buat makan bakso yang masih penuh itu.
“Enak banget dah kalian gue yang beli kalian yang makan.”rengek Via yang cuma minum susu ultra nya.
“Mubazir Vi.”celetuk Shilla yang masih ngunyah bakso dan dianggukan oleh semuanya.
“Gue bagi deh Yel.”ucap Via polos yang langsung nusukin bakso di mangkok Iel dengan garpu, “bakso lo gak pake sambel kan?”tanyanya lagi sebelum menyuap bakso itu, Iel cuma bengong.
“Belum kok.”jawab Iel masih bengong,”Enak banget lo asal ngambil……”lanjutnya yang udah sadar.
“Yaelah Yel tibang satu bakso doang.”jawab Via yang udah nyuapin bakso ke dalam mulutnya. Iel cuma melengos dan lanjutkan makan. Riko, Shilla, Ify, Rio masih makanin bakso yang dibeli Via tadi.
Bell istirahat berbunyi. Mereka langung masuk kelas. Setelah melewati ujian praktek akhirnya mereka pun pulang.
“Jadi kerumah lo kan?”Tanya Shilla yang lagi benerin posisi tasnya.
“Jadi aja kalau pada jadi.”jawab Ify. Mereka pun langsung keluar kelas menuju gerbang sekolah buat nyari angkot.
“Fy bareng gak?”Tanya Rio yang baru aja nyampe depan kelas Ify.
“Mereka mau ke rumah aku hehe.”jawab Ify sambil melirik kedua sahabatnya sambil nyengir. Via sama Shilla malah unjuk gigi (senyum maksudnya)
“Oh yaudah ati-ati yah.”nasihat Rio sambil acak-acakin rambut Ify dan berlalu.
Ify Shilla dan Via langsung menuju ke rumah Ify. Sesampainya disana mereka langsung ngobrolin segala macem tetek begek yang males penulis jabarin hehehehe. Mereka juga ditawarin makan dan akhirnya makan bareng.
“Sepupu lo yang waktu itu kemana Fy?”Tanya Via saat mereka udah beres makan.
“Main sama Ozy paling.”jawab Ify sambil tiduran di kasurnya, “kenapa Vi? Naksir? Udah ada Iel juga.”godanya.
“Kok Iel?”Via pura-pura bingung.
Shilla ngedeketin Via dan tiduran di sebelahnya,”Gimana lo sama Iel? Berjalan lancar?”Tanya Shilla dengan tatapan ayolah-cerita-males-gue-bujuk-lo .
“Kok jadi ngomongin Iel?”Via mulai gak nyaman sama temen-temennya yang mulai ngejodoh-jodohin dia sama Iel.
“Cerita dong ama kita.”pinta Ify yang masih tiduran disebelah Via.
“Ya masih biasa aja sih. Tapi gue suka curhat ke dia dan dia enak diajak curhat dan anaknya pengertian banget.”jawab Via seadanya.
“Lo gak suka SMS-an atau chat gitu sama dia?”Tanya Shilla lagi yang gak percaya masa ia PDKT cuma gitu aja.
“Gue kan udah bilang, kita gak PDKT.”
Tiba-tiba HP shilla bunyi menandakan ada SMS.
“Fy gue balik yah. Udah dicariin sama nyokap.”jelas Shilla setelah membaca SMS nya, “lo mau balik bareng gak ama gue?”
“Gue gak mau balik.”ujar Via tiba-tiba. Inilah tujuan utama dia ke rumah Ify, gak mau pulang.
“Kenapa Vi?”Tanya Ify bingung , ‘pasti ada hubungannya sama tadi pagi’batinnya.
“Ngga mau!”ucap Via dengan nada sedikit tinggi.
Shilla kaget, dia ngelus pundak Via, “kalau orang tua lo nyariin gimana Vi?”
“Bodo amat.”jawabnya yang mulai kesel ditanyain masalah ini.
‘Gue sms Iel deh suruh jemput Via, biar di nasehatin’batin Ify. Dia langsung ngetik SMS

To : Gabriel S Damanik

K rumah gw sekarang! Via gamau balik dr rmh gw

SEND

“Ayo dong Via jangan kayak anak kecil gini.”bujuk Shilla walau dia masih belum tau penyebab Via kayak gini.
Via mulai nangis, “gue gak mau dirumah,”rintihnya. Dia meluk lututnya.
“Kenapa Vi? Cerita sama kita.”pinta Ify sambil mengusap halus rambut Via yang terurai panjang.
“Gue gak mau dirumah. Gue gak mau pulang. Gue takut pulang.”rintihnya, suaranya semakin kecil, tetapi masih terdengar jelas.
“Kenapa Vi?”pinta Shilla dengan lembut, dia gak sabar biar Via ngejelasin semuanya.
“Nyokap, bokap, kaka, udah gak ada yang peduli sama gue.”ucapnya to-the-point tapi ngena banget.
“Jangan ngomong gitu ah Vi.”ucap Ify, “semua sayang kok sama lo.”
Tak lama si Mbo, pembantu Ify manggil Ify bilang ada Iel. Via langsung bingung.
“Iel?”Tanya Via bingung yang langsung mengangkat wajahnya, bingung mendengar perkataan Mbok tadi.”ngapain Iel kesini Fy?”
“Tadi gue SMS dia biar dia ngebujuk lo buat pulang.”ucap ify lirih lalu menunduk.
Tak lama Iel udah ada di depan kamar Ify, kamar Ify pintunya emang kebuka.
“Lo kenapa Vi?”Tanya Iel yang kaget ngeliat Via matanya merah.
“Gue ceritain ditaman. Anterin gue balik.”jawab Via yang langsung menyambar tasnya, “gue balik yah Fy, Shil, thanks.”pamitnya lalu menarik tangan Iel langsung ke motornya. Iel cuma nurut dan langsung ngebawa Via ke taman. Via sendiri gak tau kenapa dia ngelakuin ini. Tapi dia udah bener-bener pengen cuhat masalah ini.
“Lo kenapa Vi?”Tanya Iel yang ngeliat Via udah nangis. Mereka sekarang duduk di taman, dirumput yang tebal.
“Gue cape Yel.”jawab Via masih nangis.
“Coba cerita sama gue.”pinta Iel, “lo sendiri kan bilang kalau ada apa-apa lo pasti langsung bilang ke gue.”
“Nyokap gue pagi-pagi udah marah aja sama gue cuma karena gue gak nyapu teras, sepele gak sih? Hari ini udah hari ke 2 pendaftaran RSBI dan berarti tinggal 2 hari lagi pendaftaran dibuka. Dan nyokap gue? Apa dia tau? Ngga Yel, bahkan mungkin dia gak mau cuma sekedar ngedaftarin gue.”cerita Via lirih. Iel reflek ngelus punggung Via lembut.
“Terus kenapa lo gak mau balik?”
“Gue takut buat nerima semua keadaan di rumah. Selama ini gue tahan semuanya. Gue pribadi ngerasa terasingkan kalau semua lagi ngumpul. Kadang mereka kesayikan ngobrol bahkan mereka lupa ada gue disitu. Gue makin nganggep kalau gue bener-bener gak dibutuhin Yel.”
“Menghindar bukan jalan yang terbaik loh Vi.”nasihat Iel yang sekarang menatap secara horizontal ke depan. “Lo gak balik ke rumah malah tambah bikin masalah. Mereka pasti nyariin lo Vi. Mereka sayang sama lo. Mereka peduli sama lo. Mereka khawatir sama lo. Mungkin mereka malahan bakal tambah marah kalu lo gak balik.”nasihatnya lagi.
“Kalau mereka sayang sama gue kenapa mereka gak pernah nanyain tentang sekolah gue Yel? Kalau mereka peduli sama gue kenapa mereka gak nanya saat gue sedih? Kalau mereka khawatir sama gue kenapa mereka gak penah nyariin gue kalau gue balik telat. Yang ada mereka cuma marah-marah kalau gue ngelakuin kesalahan. Gue masih remaja Yel, gue butuh bimbingan, mereka gak pernah ngebimbing gue. Mereka cuma pengen tau beres.”tangis Via meledak. Dia berhasil ngeluarin smua unek-uneknya yang dari dulu selalu dia kunci rapat-rapat di kotak dalam hatinya.
Tanpa sadar Iel meluk Via. Dia gak kuat ngeliat Via nangis segini histerisnya. Via juga balik meluk Iel, “gue cape Yel………”lanjut Via dipelukan Iel.
“Gue tau lo kuat Vi. Gue tau lo bisa ngadepin semuanya. Orang tua lo mungkin nunjukin cara mereka sayang sama lo dengan cara yang beda.”ucap Iel yang udah ngelepasin Via dari peluknya, dia pegang bahu Via kuat-kuat, “Tuhan gak muungkin ngasih kita cobaan diluar kendali kita Via. Lo salah satu orang yang Tuhan pilih buat ngejalanin cobaannya. Positive thinking yah Vi. Gue selalu ada buat lo.”lanjutnya sambil tersenyum.
Via menegadah mukanya lalu mengelap air matanya, “thanks yah Yel.”
“Balik yuk? Orang tua lo pasti nyariin lo.”ajak Iel. Via mengangguk dan langsung ke arah motor Iel buat pulang.

Our Life, Our Destiny, and The Best for Us :) PART 14

Mereka pun keluar dari ruangan Dokter Danang dan menuju parkiran, saat melewat ruangan kemotherapy Ify melihat seorang temannya keluar seperti habis di khemo, (yailah masa abis nyalon? Hemmmmm jayus –“). Ify langsung ngalihin pandangan buat meneliti muka orang itu. Itu temennya atau bukan. Ternyata ia. Gak mungkin salah. Ify yang ngeh langsung nyamperin si korban , loh? Maksutnya orang itu heheh,
“Riko?”Tanya Ify uang baru saja nyamperi temennya yang baru keluar dari ruangan khemo. “lo…..ngapain dari….ruangan, khemo?”Tanya Ify tersendat, takut terjadi sesuatu yang tidak ingin terjadi. Ify tau itu ruangan khemo karena ada tulisan di depan pintunya hahahahahaha ngga ngga wajtu Ify difonis kena kanker dokter nyaranin buat dia di khemo dan nunjukin ruangan buat khemo nya.
Riko langsung gelagapan begitu ketemu sama Ify, dia berusaha nyembunyiin semuanya tapi dalam hati dia juga udah gak mau nyembunyiin itu, “Ya…. Kaya yang lo liat.”jawab Riko enteng, Alvin dan Ozy nyamperin Ify, “gue abis di khemo.”lanjutnya.
Ify sedikit terngaga, “Lo gak sakit kan?”Ify masih nanya berusaha buat apa yang barusan dia denger gak beneran, “lo nganterin siapa?”
“Gue yang di khemo Fy.”jawab Riko enteng, “sorry gue gak pernah cerita.”
“Lo kenaaaa…..”Ify belum beres melanjutkan pertanyaannya. Terlalu takut buat nanya dan dapet jawabannya. Ify sama Riko emang deket tapi gak sedeket dia sama Iel. Riko cenderung lebih pendiem kalau sama cewek.
“Gue kena kanker hati Fy.”jawab Riko sigap.
Ify gak percaya dengan apa yang baru aja dia denger. Rasanya terlalu berat buat ngedenger salah satu sahabatnya yang emang gak gitu deket sama dia harus menderita penyakit ini, “udah stadium berapa Ko?”Tanya Ify berusaha ngumpulin tenaga buat nanya semuanya.
“3 Fy.”jawab Riko enteng, dia nahan nangis, tapi masa dia harus nangis di depan umum, depan cewek pula.
“Dari pada ngobrol disini, lo ikut kita aja ke mall. Lo gak nungguin siapa-siapa juga kan?”ajak Alvin yang sebenarnya dari tadi gak enak banget dengan posisinya. “Gue Alvin.”ucap Alvin sambil nyodorin tangannya buat salaman.
“Ngga kok gue sendiri kesini. Gue Riko.”Riko menjabat tangan.
“Aku Ozy kak.”ucap Ozy sok imut.
“Ini adek gue Ko.”ucap Ify sambil ngeloyor kepala Ozy.
“Halo Ozy.”sapa Riko ramah.
“Yaudah yuk kita ke mall.”ajak Alvin.
Alvin dan Ozy pun jalan duluan di susul dengan Ify sama Riko. Di mobil Ify duduk di depan sama Alvin, dibelakang ya sisanya. Mereka pun sampai Mall dan langsung ke café tempat biasa makan ice cream. Setelah memesan dan pesanan pun datang, sambil makan ice cream Ify melanjutkan pertanyaan yang tertunda.
“Lo kenapa bisa kenaaa….”ucap Ify, dia lagi-lagi gak tega nanyain semuanya. Walau Ify juga kena kanker otak, tapi kanker dia masih stadium 1 dan kesempatan buat sembuh masih besar, sedangkan Riko? Dia sudah parah, stadium 3.
“Hem gue juga gaktahu tapi dari kecil gue emang punya kelainan hati gitu . malah dari pas nyokap USG gue, udah ketauan. Terus waktu kecil gue udah sering sakit-sakitan. Awalnya dikira gue kelainan hati, tapi ternyata kanker.”cerita Riko panjang lebar. Ozy sedih ngedenger temen kakaknnya ini cerita. Gak sadar air mata Ozy ngalir itu aja. Namanya juga masih kelas 7 ;p. Alvin juga ngedengerin penjelasan Riko dengan baik. Ify yang duduk disebelah Ozy natap Ozy bingung, sebenarnya Ify juga sedih banget.
“Tapi penyakit lo masih bisa di sembuhin?”Tanya Alvin, kali ini dia ikut-ikutan nanya.
Riko menyuap ice cream rasa tiramisu nya, “bisa, tapi cuma kalau ada yang mau transfuse hatinya buat gue, kalo ngga….”jawabnya sambil tersenyum pahit. “gue tinggal nunggu Tuhan ngejemput gue.”
“Tapi kalau diusahain pasti bisa sembuh kan Ko?”ucap Alvin sambil mandangin Riko yang udah sedih banget.
“Tapi kan jarang banget Vin yang mau gitu aja transfuse in hati nya buat gue. Lagian kalau buat bertahan hidup aja gue capek dari pada nunggu yang mau transfuse, gue harus khemo lah cuci darah lah.” Jelas Riko lagi, emang semenjak Sivia, Riko, Ify, Rio, Shilla, Gabriel ngumpul bareng, dalam beberapa sekmen Riko suka izin buat gak ikutan, terlebih lagi itu 3 hari sekali. Paling alesan dia nganterin siapalah itu.


“Ko ikut gak?”Tanya Rio saat itu mereka mau ke bukit pelangi bareng bareng menghapus penat baru beres US.
“Ngga deh kayaknya.”jawab Riko. Wajah Shilla langsung cemberut.
“Kasian Shilla gak ada yang ngeboncengin.”celetuk Ify. Mereka emang udah ada boncengannya, tapi saat itu Iel bawa mobil soalnya mereka gak lagi pulang sekolah.
“Hem sorry yah Shil.”ucap Riko lirih sambil tersenyum ke arah Shilla. “lo sama Iel Via aja yah. Gue ada urusan nih. Penting.”
“Iya gak apa-apa.”ucap Shilla.
Akhirnya mereka pun pergi tanpa Riko. Mereka sama sekali gak curiga karena Riko gak ikut. Padahal Riko udah sering nolak buat jalan bareng.


“Lo sendiri ngapain Fy ke rumah sakit?”Tanya Riko yang kali ini udah bisa negakin wajahnya, Ify shock.
“Tadi gue cuman nebus obat buat bude gue.”ucap Ify beralasan. Alvin sama Ozy ngerti kalau Ify belum mau cerita sama siapapun.
“Oh gitu.”jawab Riko. Sebenernya dia curiga sama ekspresi Ify waktu ditanyain tentang itu. “Ozy, matanya kok merah?”Tanya Riko baru ngeh sama ekspresi Ozy.
“Ozy sedih ngedenger kisah Kak Rio.”jawab Ozy polos.
“Udah udah masa cowok cengeng?”hibur Riko. Mereka semua tertawa.
Mereka pun ngelanjutin makan ice cream nya. Setelah beres, Alvin Ozy Ify dan Riko balik lagi ke rumah sakit. Ternyata dari tadi Riko ninggalin motornya di rumah sakit, jadi terpaksa dia ikut lagi ke rumah sakit buat ngambil motor. Ify sebenarnya udah gak sabar buat tahu hasiil labnya.
Akhirnya Alvin, Ify sama Ozy sampai di raungan Dokter Danang buat nerima hasil lab.
“Ehm Fy.”ucap Dokter Danang sambil berdeham. “belakangan kamu terlalu capek yah?”
“Ngga kok Dok, tanya aja mereka.”jawab Ify sambil nunjuk kedua lelaki itu. Alvin sama Ozy langsung nyipitin mata mereka ke arah Ify, kalau Alvin sih gak usah wong udah sipit.
“Hemmmm.”ucap Dokter ngegantung, “penyakit kamu makin parah, apalagi kamu yang gak mau khemo membuat virus-virus makin menyebar dengan mudah.”jelas Dokter Danang yang membuat Ify Alvin dan Ozy tercengang.
“Kata Ozy juga apa. Kakak tuh harus ikut khemo biar cepet sembuh.”ucap Ozy sok nasehatin Ify , tergurat mimic kekhawatiran di wajah Ozy yang bikin Ify sadar kalau Ozy bener-bener sayang sama dia. Lama kelamaan Ozy menangis.
“Kalau kamu mau, kamu bisa mulai khemo besok. Besar kemungkinan buat kamu sembuh.”nasihat Dokter Danang, Ify yang ngedenger semuanya nyoba buat nahan kesedihannya dengan terus positive thinking.
“Emang kalau aku Kemo, aku bakalan sembuh?”Tanya Ify, gak bisa dipungkiri, sekarang air mata perlahan udah ngalir di pipi Ify, Alvin yang diri di sisi Ify cuma bisa ngelus-ngelus punggung Ify. Dia ngerti banget kondisi Ify.
Dokter Danang menghela nafas, “Kalau semangat kamu besar, saya yakin kamu sembuh.”ucap Dokter Danang sambil tersenyum.
“Kakak denger kan dari dokter? Kaka harus sembuh.”ucap Ozy masih dengan tangis. Sifat Ozy yang selama ini nyebelin di depan Ify hilang gitu aja waktu adiknya nangis karena perhatian sama dia.
“Ify tersenyum,”Kapan saya mulai bisa khemo Dok?”Tanya Ify sambil tersenyum. Dia ngusap air matanya dan air mata Ozy.
“Kalau kamu mau kamu bisa mulai besok. 4 hari sekali kamu bisa khemo. Kalau bisa besok sekalian sama orang tua kamu. Masih ada yang harus saya sampaikan.”terang Pak Danang. Karena semua sudah beres mereka semua pun pamit dari ruangan Dokter danang.
Ternyata dari luar ada seseorang yang mendengar semua percakapan Ify dengan Dokter Danang. Saat Ify membuka pintu, orang itu langsung senyum sama Ify. Ify yang kaget langsung berusaha nyembunyiin semuanya.
“Gue uda tau Fy. Semangat yah.”ucap si penguntit (gak enak yah? Berasa apa gitu)
“Riko? Lo masih disini?”Tanya Ify mengalihkan pembicaraan. Ya, orang yang mendengar semuanya adalah Riko.
“Ya.”jawab Riko enteng, dia melanjutkan, “gue penasaran ngapain lo kesini , diam-diam gue ikutin dan gue dengerin. Sorry kalau gue gak sopan, tapi lo juga sahabat gue, gue pengen tau.”
“Gak apa-apa ko Ko.. malah gue udah lumayan tenang kalau satu persatu temen gue udah tau.”jelas Ify sambil melangkahkan kaki duduk di kursi khusus yang buat nunggu. Riko, Alvin, Ozy duduk di sebelah Ify.
“Kapan lo mau ngasiih tau anak-anak tentang ini?”Tanya Ify pada Riko.
Riko tersenyum kecut, “Gak tau deh.”jawab Riko enteng, “lo sendiri?”Riko balik bertanya.
“Secepatnya.”jawab Ify tegas.
“Kita sama-sama Khemo yah Fy kita bareng-bareng berjuang buat hidup. Oke?”ucap Riko bersemangat, semuanya tersenyum, “Kita berjuang demi sahabat-sahabat kita, demi orang yang sayang sama kita.”tambah Riko.
“Semangat.”ucap Ify. Setelah itu mereka pun pulang. Sesampainya di rumah Ify langsung memberi tahu ibu dan ayahnya.

***

Keesokan harinya Sivia kembali melakukan pekerjaan. Ya, dia harus nyapu dulu sebelum berangkat ke sekolah. Maka dia harus bangun rada pagian biar gak kesiangan. Pembantu Via minta izin buat pulang kampun lagi karena ibunya masih sakit-sakitan di kampung.
Setelah beres menyapu, dia langsung mandi sholat dan beres-beres buat berangkat. Dia pun pamit. Dia berangkat naik angkot ke sekolah karena jarak rumah ke sekolah yang cuma 15 menit.
“Shil, Ify kembali ngaret?”Tanya Via saat baru datang melihat kursi sebelahnya masih kosong.
“Yah mungkin. Tapi dia gak akan kesiangan kayak dulu.”jawab Shilla sambil mendekati Via. Tak lama Ify datang.
“Panjang umur nih anak.”ceplos Via saat menyadari kehadiran Ify.
“Amin.”
“Eh hari ini praktek apa?”Tanya Shilla mengalihkan pembicaraan,dasar yah anak-anak males jadwal ujian praktek aja gak tau.
“Pertama agama, kedua TIK, tapi TIK kosong soalnya waktu itu kan udah.”jelas Ify. Karena Ify yang paling pinter diantara mereka, jadi dia tahu jadwal walaupun sebenernya dia males. Shilla manggut-manggut.
“Fy minta surat dan tetek bengek nya yuk ke Pak Oni.”ajak Via.
“Kayaknya belum dateng deh, nanti aja kalau udah agama.”
Bell tanda masuk pun berbunyi, Ify dkk langsung ke musholla buat praktek agama.

***

Praktek agama pun beres. Ify dan Via langsung bergegas ke ruangan Pak Oni. Shilla memilih buat gak ikut, jadinya di di kantin sama Riko, Rio, dan Iel. Setelah mendapat semua yang di butuhkan, Via dan Ify langsung nyusul ke kantin.
“Kalian gak praktek?”Tanya Via pada Rio dan Iel. Mereka kan gak sekelas sama Via.
“Gue praktek IPA, cuma ngumpulin ketan doang, itu pun bikin dirumah, jadi bebas.”jelas Rio , Iel ngangguk tanda setuju.
“Eh Vi berarti kita tinggal akte sama foto yah?”cap Ify ngalihin pembicaraan sama Via.
“Iya, sama surat keterangan sehat dari dokter.”jawab Via. Ify diam. ‘keterangan sehat? Gue? Sehat?’ ucap Ify dalam hati.
“Mau aku anter ke dokter buat minta surat keterangan sehat?”tawar Rio yang duduk di depan Ify, Ify nunduk gak kuat nahan rasa kesediha menyadari dia punya penyakit yang sangat serius. Riko ngerti banget apa yang ada di otak Ify.
“Aku nanti sama Mamah aja. Kamu nganterin aku nyetak foto aja yah.”jawab Ify sambil berusaha menegakkan badannya.
“Emang paling lambat kapan daftarnya?”Tanya Shilla akhirnya bersuara.
“Hari sabtu, tapi takut penuh Shil.”Via menjawab.
“Lo ngga ikutan kayak mereka?”Tanya Shilla sambil melihat Iel. Iel yang dari tadi cuma mainin es jeruknya kembali konsen.
“Smakbo gak usah pake gituan.”jawab Iel enteng, “Smanli masih regular kan?lo sama Riko kan?”
“Yap.”jawab Shilla dan Riko berbarengan.
Tak lama dariitu mereka pun pulang. Shila sama Via pulang bareng. Tadinya Riko nawarin Shilla buat bareng, tapi karena ga enak udah keseringan nebeng, Shilla pun nolak. Begitu pula Via dan Iel. Rio yang udah janji buat nganterin Ify pun ke nganterin Ify dulu ke rumahnya buat ngambil CD foto yang buat di cetak. Lalu mereka pun bergegas ke Mall buat nyetak foto.
***

Saat sampai rumah, Via langsung minta anter Mamahnya ke klinik buat minta surat keterangan sehat dengan memohon ke mamahnya akhirnya Mamahnya mau juga nganter Via.
Seberes dari klinik Via langsung nyetak foo di sebelah, kebetulan sebelah rumahnya tukang foto copy, jadi kalau buat nyetak foto close up doangan sih bisa. Sembari nunggu hasil cetakan dia nyari nyari akte. Setelah ketemu langsung dia fotocopy sembari ngambil foto.
“Beres juga persyaratannya.”ucap Via sambil bersihin telapak tangannya ketika semua persyaratan sudah terkumpul.”Sekarang tinggal ngingetin mamah buat besok.”ucap Via ngomong sendiri. Dia langsung nemuin mamahnya yang lag nonton di ruang TV sama Kak Zahra.
“Mah jangan lupa yah besok ke Smanti.”ucap Via mengingatkan, takut mamahnya lupa.
“Lo jadi serius mau tes Smanti?”Tanya Kak Zahra dengan nada merendahkan.
“Kenapa?”Tanya Via sambil duduk di sebelah mamahnya.
“Gue kira lo bercanda.”ucap Kak Zahra enteng, “nyali lo besar juga buat tes Smanti.”
“Gue bilang kan nyoba doang apa salahnya sih?”ucap Via gemes sama kakanya yang tukang ngerendahin.
“Palin pas pengumuman lo cuman kecewa karena gak keterima.”kata Kak Zahra. Ngeselin bener!
Via gak ngejawab. Dia tau kalau ngejawab gak bakalan berjenti juga. Jadi dia lebih milih diem.

Monday, May 10, 2010

Pelangi di Malam Hari

“Fy, pulang sekolah mau aku jemput gak?”Tanya Rio lewat telefon saat Ify sedang istirahat. Rio adalah pacar Ify. Mereka baru pacaran selama 3 bulan, tapi mereka PDKT sekitar setengah tahun Rio emang satu angkatan sama Ify, tapi mereka beda sekolah. Ify sendiri kenal sama Rio waktu sekolahnya sparing basket sama sekolah Rio, jadi mereka kenalan gitu. Ngerti kan? Masa harus aku terangin? Hehehe.
“Ngga usah Yo, masa kamu harus ke sekolah aku dulu terus pulang?”tolak Ify halus. Emang sekolah dia sama Rio cuma berbeda belokan. Kalau Ify dari jalan besar belok kiri, kalau Rio belok kanan.
“Nanti aku emang mau ada perlu dulu ama Iyel, mau ngomongin basket. Jadi sekalian aja jemput aku.”jawab Rio ngejelasin.
“Yah aku kira kamu beneran mau jemput aku.”ucap Ify pura-pura marah, “yaudah nanti kesini aja.”
“Oke. Udah yah. Dadah.”ucap Rio yang langsung memutuskan sambungan telfon.
Ify dikantin sama Agni, Sivia, dan Iyel. Sivia sama Iyel pacaran. Jadi dari pada dia jadi obat nyamuk mending sama Agni.
“Yel, emang sekolah kita sama sekolah Rio mau tanding basket lagi?”Tanya Ify pada Iyel sesuai dengan yang ia tahu dari pacarnya.
“Ngga kok.”jawab Iyel, lalu melanjutkan,”cuma nanti bulan depan ada petandingan persahabatan semua sekolah di kota ini jadi sekolah kita kerja sama gitu buat latihan.”
“Oh gitu.”ucap Ify lalu melanjutkan makannya yang tertunda karena tadi ada telfon dari Rio.

Pulang sekolah pun tiba. Kelas Ify dan Via paling lama bubarnya. Mereka gak sekelas sama Agni dan Iyel. Tapi Iyel sama Agni sekelas. Ify dan Via langsung ke kantin, tempat mereka janjian sama Agni. Disitu udah ada Iyel, Agni dan Rio yang ngomongin basket.
“Halo.”sapa Ify. Rio langsung ngegeser tempat duduknya biar Ify duduk sebelah dia. Lalu Ify pun duduk.
“Lama amat bubarnya?”Tanya Rio, padahal mereka baru ngumpul 5 menit yang lalu.
“Kenapa? Kangen yah?”goda Ify Rio cuma ngacak-ngacak rambut Ify, mereka udah gak ketemu sekitar seminggu.
“Emang terkahir pelajaran siapa Vi?”Tanya Agni pada Via.
“Biasalah Bu Ira.”jawab Via.
Mereka pun ngobrol lama. Terutama Iyel Rio dan Agni yang ngomongin basket. Iyel kapten basket putra, sedang Agni kapten putrinya. Rio juga kapten di sekolahnya, SMA Citra Madiri. Selesai ngobrolin basket , mereka ngobrol yang lain ampe gak kerasa waktu udah jam 3. mereka pun pulang. Sesuai janjinya, Ify dianterin sama Rio.
“Yo mampir dulu yu.”ajak Ify setelah turun dari motor Rio.
“Gimana yah?”ucap Rio pura-pura mikir, “Boleh deh.”Rio pun turun dan mengikuti Ify dari belakang. Mereka pun salaman sama Mamah Ify. Mamah Ify emang udah kenal sama Rio. Mereka ke teras belakang. Mereka mainin laptop Ify sambil ngobrol, nyanyi, melepas rindu lah, sampe gak kerasa udah jam 6. Rio pun pamit pulang.

Keesokan harinya hari Sabtu. Sekolah Ify setiap sabtu emang libur. Dia baru bangun jam setengah sembilan itupun karena ada SMS di HP nya, diraihnya HP yang ditaro di meja sebelah tempat tidur. Ternyata SMS.

From : Alvin Jonathan Sidunata
+62856XXXXXX
Fy, sekarang jalan yu!

Alvin adalah cinta pertama Ify. Bukan cinta sih tepatnya cinta monyet. Mereka saling suka tapi gak pernah jadian. Ify kaget baca SMS itu karena udah semenjak mereka masuk SMA gak pernah kontakan. Dulu mereka satu SMP. Sekarang mereka kelas 2 SMA, jelas?
“Ngapain si Alvin ngajak gue jalan?”batin Ify, bingung, pastinya.

To : Alvin Jonathan Sidunata
+62856XXXXXX
Ngapain Vin?

Send, tak lama ada balasan. Ify yang masih merem melek berusaha melek buat baca SMS.

From : Alvin Jonathan Sidunata
+62856XXXXXX
Main aja Fy gw udah lama gak ketemu lu.

To : Alvin Jonathan Sidunata
+62856XXXXXX
Jam? Ke?

From: Alvin Jonathan Sidunata
+62856XXXXXX
Jam 11 gue jemput yah ke mana aja deh.

“Yaudah deh gak apa-apa. Gue juga kangen sama dia”batin Ify.

From : Alvin Jonathan Sidunata
+62856XXXXXX

Oke!

Ify pun langsung mandi buat siap-siap. Karena sekarang gak sadar udah jam sepuluh kurang. Dia mandi, keramas. Lalu milih baju yang oke. Maklum ketemu first love gitu jadi harus oke dong. Lagian kan udah lama gak ketemu. Akhirnya Ify pake jeans pendek dengan kaos polos + kemeja yang panjangnya lebih dari celana pendeknya. Pokoknya oke deh ^^v . setelah beres dia makan dulu sekalian izin sama mamahnya. Mamah nya sih ngijinin. Seberes makan terdengar klakson motor di depan rumah Ify.
“Pasti Alvin.”batin Ify, dia langsng keluar , “hey Vin, masuk dulu yuk.”ajak Ify Alvin pun turun dari motornya dan masuk ke rumah Ify. Dia kenalan dulu sama Mamah Ify, dan mereka langsung pamit. Ify segera naik motor Alvin dan Alvin segera melajukan motornya ke sebuah café.
“Lo tambah cantik Fy.”puji Alvin saat mereka sudah mendapatkan pesanan mereka. Gak munafik, Ify seneng banget di puji sama Alvin.
“Emang dari dulu gue cantik kali Vin.”jawab Ify narsis, dia narsis takut ketauan salting.
“PD banget lo.” Mereka pun tertawa lalu melanjutkan makan pesanan mereka.
“Gimana SMA lo Vin?”Tanya Ify ketika baru beres makan lalu menyerudup minumannya.
“Seru kok. Tapi gak ada lo sama Iyel jadi berasa ada yang kurang. Sama Agni juga.”jawab Alvin. Dulu memang dia Alvin, Agni dan Iyel satu SMP bahkan selalu satu kelas. Alvin tidak satu SMA sama mereka karena keinginan ibunya masukin dia ke SMA Global.
“Tapi banyak yang seru kan disana?”
Alvin meneguk minumannya,”Iyalah.”jawabnya, “Lo gimana sama cowok lo? Siapa tuh?”
“Rio.”jawab Ify cepat.”Gue sama dia baik aja kok. Lo udah punya cewek?”Tanyanya.
“Belum nih Fy.”jawab Alvin.
“Cari dong Vin, yang mau sama lo banyak kan?”ucap Ify menyemangati.
“Sayangnya yang gue mau gak mau sama gue.”kata Alvin sambil tersenyum kecut.
“Yah sayang banget Vin.”jawab Ify terlihat lemes, “jodoh gak kemana kok Vin, tenang aja. Oke?” Alvin pun tersenyum.
Mereka pun berbincang-bincang sampai sekitar jam 2. setelah itu Alvin mengantar Ify pulang ke rumahnya.

***

2 minggu berlalu dari kejadian Alvin sama Ify jaan. Semenjak itu pula Ify belum ketemu Rio lagi karena Rio sibuk sama OSIS dan basketnya. Maklum, Rio kan wakil ketos sekaligus kapten basket. Selama itu pula Ify sama Alvin jadi sering jalan bareng. Yah sekitar 2 hari sekali lah mereka jalan. Ify ngerasa mulai dapet perhatian dari Alvin. Dan jujur jadi dulu Ify PDKT sama Rio karena Alvin baru jadian sama cewek lain. Jadi Rio, bisa dibilang, pelariannya Ify. Gak lama dari Rio sama Ify jadian, Alvin putus sama ceweknya. Lamanya masa PDKT Rio sama Ify bisa buat Ify lupa sama perasaannya terhadap Alvin dan mulai sayang sama Rio.
Ify mulai ngerasa perasaan yang dulu udah berhasil dia hilangkan muncul kembali. Gak munafik, Ify seneng sama kehadiran Alvin yang selalu ada buat dia belakangan ini. Bukannya Rio ngga, tapi karena Rio sibuk Ify ngerasa tersisihkan, tapi dia berusaha ngertiin Rio, kan setiap jam Rio selalu SMS in Ify buat nanya ‘lagi apa?’ ‘udah makan belum?’ ‘udah belajar?’ . dengan begitu Ify gak kekurangan perhatian dari Rio. Tapi tetap saja, Ify ngerasa kurang.
Ify gak tau kenapa dia pengen banget deket lagi sama Alvin. Dengan status Alvin yang ‘jomblo’ bikin Ify pengen jadian sama Alvin. Tapi apa dikata? Ify punya Rio. Apa lagi waktu itu Alvin sempet ngaku kalau dia sayang sama Ify (maaf yah ga aku ceritain detail, kan cerpen :p *alibi). Ify ngerasa seneng banget.
Hari ini Alvin ngajak Ify jalan bentar ke taman komplek. Ify sama Alvin beda komplek. Tapi kalau sama Rio sekomplek namun berjauhan.
“Ngapain ngajak gue kesini Vin?”Tanya Ify saat mereka ada di taman. Mereka duduk di bangku bawah pohon.
Alvin menghela nafas, “Gue mau jujur,”ucap Alvin menggantung.”sebelumnya lo pasti udah tau dengan sikap gue ke lo kalau gue masih sayang sama lo, tapi gua juga sadar lo udah punya Rio. Rio lebih baik dari gue. Tapi gue kira selama 2 minggu belakangan lo kayak ngasih harapan ke gue.”
AW! Alvin salah mengartikan. Tapi Ify mengakuinya. “Iya gue tau.”jawab Ify lirih.
“Sorry gue udah lancang masuk ke kehidupan lo yang sekarang. Lo udah seneng dengan adanya Rio.”jawab Alvin dengan lancar. Gak tau kenapa Alvin bisa lancar banget ngomongnya.
“Ngga kok Vin.”ujar Ify sambil tersenyum, “gue seneng lo masuk ke kehidupan gue. Gue juga ngerasa gue ada rasa lagi sama lo (aduh Ify nakal nih ;p). Tapi gue sadar gue punya Rio. Tapi yah kan gue bilang, jodoh gak akan kemana kan?”lanjutnya lirih sambil menunduk.
Ternyata dari tadi ada yang memperhatikan mereka. RIO! Rio dari awal udah ngebuntutin mereka dan ngedenger semuanya. Awalnya Rio tahan tapi sekarang dia langsung nyamperin mereka berdua.
“SEKARANG LO MILIH SIAPA FY?”Tanya Rio dari belakang yang bikin Ify sama Alvin kaget.
“Ri…oooo. Kamu dari kapan……”ucap Ify terbata. Dia takut Rio ngedenger semuanya. Alvin ngerasa bersalah.
“Gue dari tadi disini. Gue denger semuanya!”Rio ngomong dengan gak santai. Sekarang Rio udah diri di depan Ify.
“Denger pejelasan gue dulu Yo. Ify gak salah.”ucap Alvin yang ngerasa semua gara-gara dia.
“Kalian berdua salah.”bentak Rio sambil nunjuk-nunjuk,”dan lo Fy, gue kecewa sama lo. Kita putus!”
Rio langsung kabur. Ify lumpuh dari dirinya.
“Maafin gue Fy.”ucap Alvin. Ify masih nangis. Dia duduk di tanah sambil menangis. Alvin gak tega. Dia nganterin Ify pulang dan ngebiarin Ify nenangin dirinya dulu.
Keesokan harinya Ify gak mau masuk sekolah karena masih nangis aja di kamar. Akhirnya Mamahnya ngasih surat keterangan ke sekolah. Sepulang sekolah Sivia sama Agni ke rumah Ify buat ngedenger cerita dari Ify langsung. Sebelumnya Alvin udah SMS Iyel mengenai masalah ini. Jadi Iyel ke rumah Rio.
“Fy.”ucap Via di depan pintu kamar Ify. Agni ngetok kamar Ify.
“Masuk.”jawab Ify dengan suara tersendat. Via dan Agni buka pintu kamar Ify, mereka kaget ngeliat kondisi Ify yang ancur banget. Merak langsung duduk di tepian kasur Ify.
“Lo kenapa Fy?”Tanya Agni dengan lembut. Ify masih nangis, matanya bengkak.
“Lo cerita yah ke kita?”pinta Via sambil ngelus rambut Ify.
“Gue bego. Gue tolol. Gue ngecewain Rio.”tangis Ify meledak.
“Coba lo ceritain semuanya.”pinta Via lagi dengan lembut.
Ify menceritakan semuanya dari awal Alvin ngajak ketemuan 2 minggu lalu sampai kejadian kemarin dia masih nangis, bahkan makin keras.
“Gue bego Vi, gua bukan cewek yang baik buat Rio. Gue udah ngecewain Rio. Gue malah deketin Alvin. Gue bego.”Ify masih menangis. Dia membenamkan wajahnya di boneka beruang pemberian Rio.
“Lo jelasin semuanya sama Rio yah?”usul Agni dengan lembut.
“Gue salah Ag, gua sayang sama Alvin lagi. Itu salah banget!”pengakuan Ify pun keluar. Via dan Agni jadinya bingung.
“Lo tenangin diri lo dulu. Lo minta maaf sama Rio yah?”
“Gue salah kan?”Tanya Ify dengan tatapan seolah-olah ‘jawab jujur dong, gua salah kan?’
Agni menghela nafas, “gue boleh ngomong jujur?”tanyanya, Via mentap tajam ke arah Agni menandakan ‘jangan dong Ag!’
“Jujur Ag, lo jujur gue bakal lebih enak.”pinta Ify yang sudah menegakkan wajahnya.
“Menurut gue lo salah Fy, lo udah ada yang punya tapi kenapa lo ngeladenin Alvin? Dulu waktu SMP lo tau kan Alvin cuma bilang suka lah sayang lah sama lo tapi apa buktinya? Nihil! Ada Rio yang sayang banget sama lo. Rio yang pujaan di sekolahnya.”ujar Agni jujur, Ify tertegun, dia gak nangis,”Lo tau kan lo ngedapetin Rio dengan susah? Kalian sama-sama suah di dapetin! Dan lo tau kan lo cinta pertama Rio setelah Rio dapet trauma atas kematian mantannya, semenjak kematian mantannya cuma lo yang bisa buka hati dia lagi. Kenapa lo kecewain dia Fy?”lanjutnya panjang lebar.
Ify tersenyum ke arah Agni yang membuat Via dan Agni heran. “Thanks yah Ag lo udah ngomong jujur dan nyadarin gue.”ucapnya ”mungkin gue emang cewek paling bego di dunia. Gue nyia-nyiain cowok kayak Rio. Gue emang bukan cewek yang pantes buat Rio.”
“Sorry yah Fy.”ucap Agni merasa bersalah, takut Ify kesinggung.
“Sekarang gue baru sadar kalau gue sayangnya sama Rio doang! Gue cuma terobsesi sama Avin.”ucap Ify menunduk dia pengen nangis lagi tapi ditahan.
“Sekarang lo minta maaf yah sama Rio?”usul Via.
“Nanti yah. Gue belum siap.”jawab Ify. Via ngangguk.
“Kita pulang dulu yah. Tenangin diri lo.”pamit Agni. Ify ngangguk. Mereka pun keluar dari kamar Ify dan pulang.

***

Iyel yang udah sampai di rumah Rio ngeliat Rio baru pulang sekolah. Tapi mukanya kusut abis-abisan.
“Yo.”panggil Iyel dari pintu ruang tamu. Kelihatan dari situ Rio lagi duduk di ruang tamu.
Rio nengok,”Masuk Yel.”
Iyel masuk dan duduk di hadapan Rio, “gue udah denger semuanya. Dan tadi Ify gak masuk.”jelasnya to-the-point.
Rio melengos seolah gak mau peduli dengan semua yang terjadi pada Ify.
“Yo, lo marah banget sama Ify?”Tanya Iyel dengan muka innocent.
“Gue nanya deh. Kalau lo ada di posisi gue gimana?”Tanya Rio dengan nada suara ebih tinggi, “apa lo bakalan maafin dia? Dia sama aja selingkuh Yel!.”
“Tapi lo bisa denger penjelasan Ify dulu kan Yo?”usul Iyel dia masih lembut. Dia tau posisi Rio.
“Gak ada yang perlu di jelasin lagi Yel. Gue udah denger semuanya. Gue kecewa banget sama dia. Gue kira dia baik baik, dia yang bikin gue bangkit lagi, taunya? Dia bikin gue kecewa.”jawab Rio sambil memandang secara horizontal. “dia selingkuh.”tambahnya.
“Tapi mungkin Alvin bisa ngejelasin?”
Gak lama Alvin datang ke rumah Rio, sebenernya dia udah dari tadi di depan, tapi gak enak ngeganggu Iyel sama rio. Dia tau rumah Rio dari Agni.
“Yo, sorry.”ucap Alvin di pintu.
“Gak ada yang perlu diminta maafin.”jawab Rio tanpa noleh sedikit pun ke arah Alvin,”gue udah kecewa sama kalian.”
“Tapi yang salah bukan Ify, tapi gue.”lanjut Alvin. Rasa bersalah masih menyelimutinya
“Gue udah bilang kan sama lo dari kemaren? Kalian berdua salah!”bentak Rio.
“Yaudah. Dari pada mancing emosi disini gue pamit. Gue cuma sekali lagi bilang, sorry banget Yo.” Alvin meninggalkan rumah Rio. Iyel bagai menonton cuplikan adegan sineron secara live.
“Gue fikir lo harus nenangin diri lo dulu. Lo fikirin semuanya. Oke? Gue pamit.”ucap Iyel sambil bangkit dan menepuk pundak Rio tanda memberi semangat.
“Thanks Yel.”Rio tersenyum dan Iyel pun tersenyum dan langsung pulang.

***

2 hari kemudian Ify sudah mulai baikan dan masuk sekolah. Wajahnya lebih ceria dari 2 hari yang lalu walau masih jauh beda dari ceria biasanya. Saat istirahat dia minta sama Iyel, Agni, dan Via buat nganterin dia ke rumah Rio. Mereka pun mau.
Sepulang sekolah mereka ke kantin dulu . Ify mau nenangin diri lagi biar nanti rileks. Setelah setengah jam, baru mereka berangkat. Mereka berangkat naik mobil Iyel. Mereka akhirnya sampai di depan rumah Rio. Terlihat motor Rio tanda bahwa Rio sudah pulang sekolah.
“Permisi.”ucap Agni sopan di depan gerbang rumah Rio. Tak lama pembantu Rio membukakan pintu dan menyuruh mereka duduk di ruang tamu.
“Bentar yah saya panggilin dulu den Rio nya.”ucap si Mbo sopan, mereka mengangguk dan tersenyum. Tangan Ify berkeringat. Tak lama Rio pun datang. Sebenernya dia pengen balik lagi ke kamar saat tau ada Ify disitu. Tapi dia urungkan niat itu. Dia duduk di salah satu kursi yang masih kosong Ify makin gemeteran, dia nunduk.
“Mau ngomong apa? Langsung to-the-point. Gua masih banyak urusan.”ucap Rio dengan pandangan acuh tak acuh.
“Gue mau minta maaf Yo.”ucap Ify lancar. Perileksannya tadi di kantin berhasil.
“Gak perlu Fy. Lo mau minta maaf gimana juga gue masih tetep kecewa sama lo.”jawab Rio dingin. Ify menahan air matanya. Via sama Agni ngelus pundak Ify.
“Yo…..”ucap Iyel maksudnya ‘please dong Yo.’
“Tapi lo bisa maafin gue kan Yo?”Tanya Ify masih nunduk.
“Mungkin. Tapi lo jangan banyak berharap.”jawab Rio lagi. Rio sebenernya gak tega ngomong ini semua, tapi rasa kecewanya ngalahin semuanya.
“Kasih Ify kesempatan dong Yo.”pinta Agni, “toh dia udah nyeselin semuanya.”
“Penyesalan gak akan ada gunanya Ag.”ucap Rio cuek. Tessss…… air mata Ify menetes. Semakin deras.
“Gue ngerti Yo.”ucap Ify akhirnya menegadah wajahnya. “Sekali lagi maaf. Gue nyesel udah ngelakuin semunya. Gue harap suatu saat nanti lo mau maafin gue.”Ify langsung keluar dari rumah Rio dan langsung pulang. Setelah Ify cabut, Rio langsung masuk kamarnya. Iyel, Via, dan Agni bengong dan langsung pulang. Tadinya mau nyusulin Ify, tapi mereka tau, Ify butuh waktu.

***

Gak kerasa udah 5 bulan dari kejadian itu. Ify udah berusaha minta maaf lewat telfon SMS e-mail bahkan nyoba ke rumahnya tapi tetep gak di tanggepin sama Rio. Via, Iyel, Agni cuma ngasih saran yang sama “Lo jangan gini Fy, lo gak boleh minta maaf sama dia teterusan. Lo bisa dibilang cewek gak punya harga diri! Cukup sampai sini Fy!”nasihat mereka. Tapi Ify masih kepikiran terus. Rasanya semua itu beban paling berat.
Hari ini Ify dapet kabar dari temennya yang satu sekolah sama Rio. Katanya Rio baru jadian. Sama cewek namanya keke. Plaaaaaaaaang! Rasanya hati Ify baru dilempar sama serpihan piring. Via Agni Iyel berusaha nenangin Ify. Bikin Ify ikhlas. Ify masih nangis saat sampai di rumah. Besoknya lagi-lagi dia gak masuk sekolah. Via, Agni Iyel jenguk Ify. Dia tau kondisi Ify.
“Gue bahagia kok kalau dia bahagia.”ucap Ify saat mereka udah nasehatin Ify. “Mungkin dia lebih bahagia sama keke. Gue harap Keke gak sebodoh gue dan bisa ngejagain Rio.”ucapnya berusaha tersenyum dalam tangisnya. Via Agni sama Iyel bangga ngeliat Ify. Sekarang Ify udah mulai dewasa.
Sebulan berlalu, Ify mulai lebih ceria dan bahkan sudah kembali. Dia gak mau larut sama perasaannya. Dia mau ngubur semuanya dan gak mau ngungkit lagi. Dia endapin semuanya di lubang paliiiiiiiiiing dalam hatinya. Itu kenangan dan pelajaran berharga buat dia. Walau kadang kalau keingetan, Ify nangis dengan deras.
Malam ini 6 bulan pas Ify sama Rio putus. Ify masih ingat betul semunya. Dari jam sampai tanggal (weleh). Dia ke sekolah dengan wajah ceria, tapi waktu pulang dari sekolah dia sama Via ke McD dulu buat makan katanya Via lagi pengen McD, jadi Ify nganterin dan ikut makan. Tak disangka disana dia ketemu sama Rio.
“Fy, itu Rio!”ucap Via yang duduk berhadapan depan Ify dengan dagu yang nunuk ke belakang Ify. Sontak Ify langsung nengok, tapi gak lama, dia langsung balikin muka lagi. Tadi Rio sempet liat Ify, tapi dia buang muka dan natap Ify dengan tatapan jijik. (adeeeh maaf yah RISE Rio nya aku bikin jahat ^^v ).
“Sabar yah Fy.”ucap Via yang tadi ngeliat semunya. Ify langsung buru-buru beresin makanya dan langsung ngajak Via pulang sebelum ngeliat Rio lagi. Boro-boro mau senyum, natap aja Rio nya gak mau.
Malamnya Ify langsung nangis sambil muter lagu dari iPod nya, playlist nya langsung muterin lagu Vidi Aldiano.

Apa saja yang membuat mu bahagia,
Telah ku lakukan untukmu
Demi mengharapkan cintamu
(gue udah minta maaf sama lo lewat apapun Yo, tapi lo gak pernah mau tau itu!)
Kini ku bagai menanti datangnya pelangi di malam hari yang sepi
(kayaknya percuma gue minta maaf kayak gimanapun bahkan sampai mohonmohon, lo gak akan pernah maafin gue atau mau kenal gue lagi :’( )
Ku sadari yang telah ku lakukan
Membuat hatimu terpenjara dan tak kuasa ku membukanya
(sorry Yo gue nyesel banget udah ngecewain lo, gue selingkuh……..)
Walau seluruh dayaku ingin bersamamu
Kunci hatimu patah tak terganti
(lo gak akan pernah buka hati lo lagi buat gue Yo )
Cinta tak harus memiliki
Tak harus menyakiti
Cintaku tak harus mati
(gue ikhlas lo gak akan pernah bisa sama gue lagi, tapi gue mohon, jangan sakitin gue terus, cukup yang waku itu !)
Oh cinta tak harus bersama
Tak harus menyentuhmu
Membiarkan dirimu dalam bahagia walau tak disampingku
Itu kerulusan cintaku
(gue ikhlas banget lo sama Keke sekarang. Lo langgeng sama dia. Gue harap Keke lebih baik dari gue dan gak sebego gue.)
Ify menengarkan lagu itu dengan megutuki dirinya sendiri dalam hati.
Lama kelamaan setelah 1 bulan dari pertemuan itu Ify bertekad gak mau lagi nginget-nginget Rio. Toh Rio gak pernah inget kan sama dia, jadi yah percuma. Ify mulai menjalani hari-harinya seperti biasa. Dia yakin suatu saat pangerannya akan datang dan itu lebih baik dari Rio.